Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengembangan Media Pembelajaran PaperFootball Game and UniteAR Card Pada Mata Pelajaran PJOK untuk Mengembangkan Aspek Spiritual Peserta Didik Kelas V SD Negeri 1 Karangtengah Bachtiar, Bachtiar Yusuf Rifai; Yudha Febrianta; Kusnandar
JSH: Journal of Sport and Health Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/jsh.v5i2.3844

Abstract

Media pembelajaran diharapkan dapat mengintegrasikan proses pembelajaran dalam berbagai aspek, salah satunya mengembangkan aspek spiritual peserta didik di daerah rawan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran Paper Football Game and UniteAR Card. Penelitian ini dilaksanakan di kelasn V SD Negeri 1 Karangtengah dengan subjek penelitian meliputi 29 peserta didik dan 1 guru PJOK. Metode penelitian menggunakan metode penelitian R&D berbasis model ADDIE (Branch). Hasil analisis data dapat diketahui dalam hasil validasi produk pengembangan terdiri dari validator ahli materi dan validator ahli media. Hasil validasi ahli materi mendapatkan skor dengan jumlah presentase 100% dengan kategori sangat valid. Hasil validasi ahli media mendapatkan skor dengan jumlah presentase 88% dengan kategori sangat valid. Hasil validasi pengembangan produk menunjukkan media pembelajaran Paper Football Game And UniteAR Card dapat digunakan dalam proses pembelajaran PJOK untuk mengembangkan aspek spiritual peserta didik di daerah rawan bencana. Hasil penelitian dapat dilihat dari hasil respon peserta didik dan respon guru PJOK. Hasil respon peserta didik menunjukkan bahwa skor yang diperoleh berjumlah 98% dengan kategori sangat menarik. Hasil respon guru menunjukkan bahwa skor yang diperoleh berjumlah 100% dengan kategori sangat menarik. Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran Paper Football Game And UniteAR Card sangat layak digunakan dalam pembelajaran di sekolah dasar dan peserta didik kelas V SD Negeri 1 Karangtengah sangat antusias dan aktif dalam mengikuti proses pembelajaran PJOK menggunakan media pembelajaran Paper Football Game and UniteAR Card.
Pengaruh Latihan Circuit Training Terhadap Tingkat Vo2max Atlet Sepakbola Pelajar Amar Ma'ruf; Didik Rilastiyo Budi; Panuwun Joko Nurcahyo; Kusnandar; Muhamad Syafei; Septi Mariasari
SPRINTER: Jurnal Ilmu Olahraga Vol. 4 No. 3 (2023): SPRINTER: Jurnal Ilmu Olahraga
Publisher : MAN Insan Cendekia Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46838/spr.v4i3.458

Abstract

Sepakbola merupakan permainan beregu dengan tujuan untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan. Waktu normal permainan sepakbola adalah 2x45 menit bahkan bisa lebih apabila dilakukan babak extra time selama 2x15 menit jika skor masing imbang. Untuk itu maka pemain sepakbola harus mempunyai daya tahan VO2Max yang baik. Salah satu metode latihan untuk dapat melatih VO2Max yaitu dengan circuit training. Penelitian ini menggunakan metode latihan circuit training yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan circuit training terhadap tingkat VO2Max peserta ekstrakurikuler sepakbola SMP Negeri 1 Baturraden. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan desain penelitian two group pretest and posttest design. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 48 responden yang dibagi menjadi dua kelompok menggunakan teknik ordinal pairing. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji Wilcoxon, nilai asymp. sig. (2-tailed) kelompok treatment sebesar 0,000 dan kelompok kontrol memperoleh nilai asymp. sig. (2-tailed) sebesar 0,347. Kesimpulan: Terdapat pengaruh dari latihan circuit training terhadap tingkat VO2Max peserta ekstrakurikuler sepakbola SMP Negeri 1 Baturraden. Selain itu, berdasarkan hasil rerata pretest dan posttest kelompok kontrol mengalami peningkatan namun tidak signifikan
Inventarisasi Sumber Informasi Dokumenter dan Non-Dokumenter untuk Dokumentasi Budaya Kusnandar; CMS, Samson; Rukmana , Evi Nursanti
KABUYUTAN Vol 1 No 3 (2022): Kabuyutan, November 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v1i3.74

Abstract

Sebagai ahli informasi, pustakawan dan arsiparis dapat berkontribusi dalam kegiatan dokumentasi budaya dengan cara memilih serta menyediakan sumber-sumber informasi dokumenter dan non-dokumenter yang kredibel terkait dengan suatu karya budaya. Melalui artikel ini, penulis bermaksud menyajikan tentang inventarisasi sumber informasi dokumenter dan non-dokumenter dengan penyajiannya mengacu pada beberapa pertanyaan berikut: Apa yang dimaksud dengan sumber informasi dokumenter dan non-dokumenter untuk dokumentasi budaya?; Bagaimana inventarisasi sumber informasi dokumenter untuk dokumentasi budaya?; dan Bagaimana inventarisasi sumber informasi non-dokumenter untuk dokumentasi budaya? Artikel ini disusun berdasarkan studi pustaka dari berbagai sumber bertema sumber informasi dokumenter dan non-dokumener. Adapun hasil studi pustaka tersebut adalah sebagai berikut: (1) Sumber informasi dokumenter merupakan sumber informasi tentang suatu karya budaya yang sudah tertuang dalam media rekaman. Sementara itu, sumber informasi non-dokumenter adalah sumber informasi tentang suatu karya budaya yang belum terekam dan diperoleh secara langsung dari sumber perorangan, kelompok atau pun lembaga. (2) Inventarisasi sumber informasi dokumenter dapat berupa Bibliografi Beranotasi dari sumber informasi primer dan sekunder. Pemilihan sumber informasi dokumenter yang kredibel menggunakan prinsip CRAAP (Currency, Relevance, Authority, Accuracy, and Purpose). (3) Inventarisasi sumber informasi non-dokumenter dapat berbentuk Profil Ahli Budaya dan Profil Lembaga Budaya. Selain itu, dapat juga menggunakan prinsip dan teknik Pemetaaan Budaya untuk menyusun profil sumber informasi non-dokumenter seraya menandai lokasi geografis dari sumber informasi tersebut di dalam sebuah peta bumi. Dalam menentukan kredibilitas sumber informasi non-dokumenter, perlu memperhatikan beberapa hal yaitu: (1) daftar karya tulis dari seorang Ahli/Pelaku Budaya Formal; (2) intesitas enkulturasi, sumber enkulturasi, motivasi enkulturasi, serta rekognisi dan otoritas sosial dari seorang Ahli/Pelaku Budaya Non-formal; (3) adanya kejelasan tujuan dan masa eksistensi yang cukup lama dari Lembaga Budaya Non-pemerintah. Sementara itu, Lembaga Budaya Pemerintah lazimnya memilki krebilitas yang tinggi sebagai sumber informasi mengingat adanya tuntutan akuntabilitas dan kinerja yang baik dalam pelayanan publik.
A systematic review of the application of augmented reality (AR) technology for the visualization and management of digital assets in libraries Farida, Ismi Anjar; Kurniasih, Nuning; Kusnandar
Record and Library Journal Vol. 11 No. 2 (2025): December
Publisher : D3 Perpustakaan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/rlj.V11-I2.2025.441-456

Abstract

Background of the study: In today’s libraries, increasing pressures on managing and visualizing digital collections in an efficient, interactive, and user-centered way continue to challenge the profession. Augmented Reality (AR) holds promise to facilitate spatial navigation, access to collections, and learning experiences in libraries. Purpose: The purpose of this research is to conduct a systematic review of the literature related to AR applications in library digital collections, visualization, and management. Method: Using a Systematized Literature Review (SLR) methodology, articles were found through the Publish or Perish software using Google Scholar as the primary search engine. A total of 100 articles were initially screened, and 36 articles that met predefined inclusion and exclusion criteria were selected for in-depth thematic analysis to uncover emerging patterns and research clusters. Findings: Five main themes were identified: 1) Augmented Reality (AR) for Library Navigation and Orientation, 2) AR for Visualization of Digital Assets: AR is increasingly investigated as a medium for the visualization of digital collections, 3) Integration of AR with Complementary Technologies, 4) Application of AR in Specialized Library Contexts, and 5) AR as a Facilitator of Educational Objectives. The most significant challenges identified include limited infrastructure, difficulties with system integration, and training/education issues for librarians. Conclusion: This review confirms the high potential for AR to improve user engagement, facilitate information connectivity, and enhance educational functions within libraries. However, the success of AR relies on broadband infrastructure, open content, and partnerships across community sectors, with implications for both theory and the development of immersive services.