Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Dentin

HUBUNGAN STUNTING TERHADAP KETERLAMBATAN ERUPSI GIGI KANINUS ATAS PERMANEN PADA ANAK USIA 11-12 TAHUN Tita Amanda Yudiya; Rosihan Adhani; Riky Hamdani
Dentin Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Stunting is a linear growth disorder that is not age-appropriate due to malnutrition. The causes of stunting is zinc deficiency. Reduce synthesis and secretion of IGF-I as the effect of GH metabolites inhibition. These substances are essential nutrients in growth, canine eruption which is delayed due to lack of arch length due to growth disorders. Purpose: to analyze the relation between stunting and  the delay of permanent upper canine teeth’s eruption in children aged 11-12 years at the Elementary School in Sungai Tiung Village. Materials and methods: The research method used observational analytic with cross sectional approach. The sample was selected using simple random sampling using the correlation analytic formula and the results obtained were 32 samples. Result: Based on this study, children who had very short and short stature were 71.9% and 28.1%, 25% had normal tooth eruption and 75% had no eruption. The Spearman test analysis showed that the significance value was 0.512 (p> 0.05) which meant there was no relationship between stunting and tooth eruption delay. Conclusion: There was no relationship between the incidence of stunting to the delay of eruption of the permanent upper canine teeth in Elementary School Cempaka District, Banjarbaru.Keywords:, Canine teeth, Stunting, Tooth eruptionABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah gangguan pertumbuhan linear yang tidak sesuai dengan umur karena terjadinya malnutrisi. Penyebab terjadinya stunting adalah defisiensi zinc, efek metabolit GH yang dihambat sehingga sintesis dan sekresi IGF-I menjadi berkurang. Zat tersebut merupakan zat gizi essensial dalam pertumbuhan, erupsi kaninus yang mengalami keterlambatan terjadi karena kurangnya panjang lengkung rahang akibat gangguan pertumbuhan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan stunting terhadap keterlambatan erupsi gigi kaninus atas permanen pada anak usia 11-12 tahun di SDN Sungai Tiung Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dipilih menggunakan simple random sampling menggunakan rumus analitik korelasi dan didapatkan hasil sebanyak 32 orang sampel. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian, anak yang memiliki tinggi badan sangat pendek (28,1%) dan pendek (71,9%) dan erupsi gigi normal (25%) dan tidak erupsi (75%). Analisis uji Spearman menunjukan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,512 (p > 0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan antara stunting dengan keterlambatan erupsi gigi. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara kejadian stunting terhadap keterlambatan erupsi gigi kaninus atas permanen pada anak SDN Kelurahan Sungai Tiung 1, 2, dan 3 Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru.Kata kunci :Erupsi gigi, Gigi kaninus, Stunting
HUBUNGAN STATUS GIZI TERHADAP MALOKLUSI (Literature Review) Melan Anisa; Diana Wibowo; Riky Hamdani
Dentin Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v6i1.6233

Abstract

ABSTRACT Background: Indonesia’s still has many health problems, two of them is undernutrition and overnutrition. The population of South Kalimantan has a prevalence of 15.1% underweight, 15% overweight, and 15.4% obese. Nutritional status can affect growth and development of children's teeth and jaws, which can cause malocclusion. Crowded teeth are the most common type of malocclusion, and it’s experienced by almost 2/3 of the human population. Purpose: The purpose of this literature review is to analyze the relationship between nutritional status and malocclusion in the relevant literature in the last 10 years. Method: This study uses literature review method with a narrative review procedure, which focuses on describe and explain the topic, and contains sources that are appropriate to the topic. All reviewed articles were obtained from searching at Pubmed, Science Direct, and Google Scholar data sources. Results: The highest prevalence of nutritional status was normal with a percentage of 60.1%. The prevalence of malocclusion is higher (65.70%) compared to normal occlusion (43.30%). The most common type of crowding is light crowding. The majority of literature states that there is a relationship between nutritional status and malocclusion. Conclusion: People are expected to take advantage from the results of this study as a reference so they pay more attention to a balanced nutritional intake and maintain their oral health. Keywords: Crowding teeth, Malocclusion, Nutritional statusABSTRAKLatar Belakang: Kondisi kesehatan masyarakat Indonesia masih memiliki banyak masalah dan salah satunya adalah gizi kurang dan gizi berlebih. Penduduk Kalimantan Selatan memiliki prevalensi berat badan kurus sebesar 15,1%, berat badan lebih 15%, dan obesitas 15,4%. Status gizi berpengaruh pada tumbuh kembang gigi dan rahang anak sehingga dapat mengakibatkan maloklusi. Gigi berjejal merupakan jenis maloklusi yang paling sering terjadi, bahkan kasus ini dialami hampir 2/3 populasi manusia. Tujuan: Tujuan literature review ini untuk menganalisis hubungan antara status gizi terhadap maloklusi pada literatur yang relevan 10 tahun terakhir. Metode: Penelitian menggunakan metode literature review dengan prosedur narrative review, yaitu melakukan penguraian dan penjelasan yang berfokus pada topik, dan memuat sumber-sumber yang sesuai topik tersebut. Semua artikel yang direview diperoleh dari pencarian sumber data Pubmed, Science Direct, dan Google Scholar. Hasil: Prevalensi Status gizi terbanyak adalah gizi normal sebanyak dengan persentase sebanyak 60,1%. Prevalensi maloklusi memiliki jumlah yang lebih banyak yaitu sebesar 65,70% dibandingkan oklusi normal yang hanya sebesar 43,30%. Hasil pengukuran maloklusi tipe gigi terbanyak adalah gigi berjejal ringan. Mayoritas literatur menyatakan terdapat hubungan antara status gizi terhadap maloklusi. Kesimpulan: Masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini acuan agar lebih memperhatikan asupan gizi yang seimbang dan menjaga kesehatan rongga mulutnya.Kata Kunci: Gigi berjejal, maloklusi, status gizi
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN TERHADAP TINGKAT KARIES PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA LANJUT USIA Rayhappyeni Rizkina Riani; Isnur Hatta; Riky Hamdani
Dentin Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v6i3.6825

Abstract

ABSTRACTBackground: Oral health problems are related to public ignorance and inability to maintain oral health. Type 2 diabetes mellitus causes dental caries. Objective: To analyze the relationship between knowledge, attitudes and actions of an elderly type 2 DM patients aged 45-74 years with the level of tooth damage due to caries. Methods: Observational research with a cross sectional study using purposive sampling as a sampling technique to determine the characteristics needed by type 2 DM patients according to the criteria. The research sample was 50 respondents with type 2 DM who came to the Cempaka Putih Health Center. Results: Knowledge, attitudes and actions for maintaining dental and oral health with sufficient categories as many as 43 people (86%), 35 people (70%), and 36 people (72%) and the level of tooth damage in the very high category 47 people (94%). Fisher exact test results showed no significant relationship between the level of tooth damage due to caries and knowledge of the elderly with type 2 diabetes mellitus (p=1,000), there was a significant relationship between the level of tooth damage due to caries and attitude of the elderly with type 2 diabetes mellitus (p=1,000). p = 0.023), and there is a significant relationship between the level of tooth damage due to caries on elderly with type 2 DM (p = 0.019). Conclusion: The level of tooth damage is very high with adequate knowledge, attitudes and actions, it is necessary to provide oral health education related to type 2 diabetes and it’s treatment. Keywords: Dental caries, Elderly, Type 2 diabetes mellitus. ABSTRAKLatar belakang: Masalah kesehatan gigi mulut berkaitan dengan ketidaktahuan masyarakat dan ketidakterampilan menjaga kesehatan gigi mulut. Diabetes melitus tipe 2 menimbulkan manifestasi rongga mulut salah satunya karies gigi. Tujuan: Menganalisis hubungan pengetahuan, sikap dan tindakan penderita diabetes melitus tipe 2 lanjut usia yang berusia 45-74 tahun terhadap tingkat kerusakan gigi karena karies. Metode: Penelitian observasional dengan studi cross sectional menggunakan purposive sampling sebagai teknik pengambilan sampel menetapkan karakteristik yang dibutuhkan penderita diabetes melitus tipe 2 sesuai dengan kriteria. Sampel penelitian 50 responden dengan populasi penelitian semua penderita diabetes melitus tipe 2 yang datang ke Puskesmas Cempaka Putih. Hasil: pengetahuan, sikap dan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan kategori cukup sebanyak 43 orang (86%), 35 orang (70%), dan 36 orang (72%) serta tingkat kerusakan gigi dengan kategori sangat tinggi 47 orang responden (94%). Hasil uji fisher exact menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat kerusakan gigi karena karies terhadap pengetahuan lanjut usia penderita diabetes melitus tipe 2 (p=1,000), terdapat hubungan bermakna antara tingkat kerusakan gigi karena karies terhadap sikap lanjut usia penderita diabetes melitus tipe 2 (p=0,023), dan terdapat hubungan bermakna antara tingkat kerusakan gigi karena karies terhadap tindakan lanjut usia penderita diabetes melitus tipe 2 (p=0,019). Kesimpulan: tingkat kerusakan gigi sangat tinggi dengan pengetahuan, sikap dan tindakan cukup, perlu penyuluhan kesehatan gigi mulut berkaitan diabetes melitus tipe 2 dan perawatan gigi bermasalah. Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, Karies gigi, Lanjut usia.
HUBUNGAN USIA, TINGKAT PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI, DAN PENGALAMAN KERJA TERHADAP PEMANFAATAN TELEDENTISTRY PADA DOKTER GIGI DI BANJARMASIN Muhammad Rifky Maulana; R Harry Dharmawan Setyawardhana; Riky Hamdani
Dentin Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v6i2.6387

Abstract

ABSTRACTBackground: Teledentistry is a virtual dental and oral health consultation or treatment. Teledentistry aims to improve the access to dental and oral health in the midst of high demand and limited services. Implementation of teledentistry is influenced by the age of the dentist, the level of use of information technology, and the work experience. Teledentistry-related research is still less observed in Indonesia, especially in Banjarmasin city there has never been any related research. Objective: To analyze the correlation between age, level of use of information technology and work experience on the use of teledentistry in dentists in Banjarmasin City. Methods: This analytic observational study with cross sectional design is using simple random sampling. Results: Dentists who practice in Banjarmasin City are mostly in early adulthood, which is 76 respondents (70.4%), the level of use of information technology is in the high category, which is 49 people (45.4%), lower work experience, which is 45 people (41.7%) and the use of teledentistry for dentists who practice in Banjarmasin City is mostly in the high category, which is 49 people (45.4%). Conclusion: There is a correlation between age, level of use of information technology, and work experience on the use of teledentistry. Keywords:   Age, Experience,Technology, TeledentistryABSTRAKLatar Belakang: Teledentistry adalah pelayanan virtual konsultasi atau perawatan kesehatan gigi dan mulut secara jarak jauh. Teledentistry bertujuan untuk meningkatkan akses kesehatan gigi dan mulut ditengah tingginya keperluan dan terbatasnya pelayanan. Pengunaan teledentistry dipengaruhi oleh usia dokter gigi, tingkat penggunaan teknologi informasi, dan pengalaman kerja dokter gigi. Penelitian terkait teledentistry masih sangat sedikit di Indonesia, khususnya di kota Banjarmasin belum ada penelitian terkait penggunaan teledentistry pada dokter gigi di Kota Banjarmasin Tujuan: Menganalisis hubungan usia, tingkat penggunaan teknologi informasi dan pengalaman kerja terhadap pemanfaatan teledentistry pada dokter gigi di Kota Banjarmasin. Metode: Jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional ini menggunakan teknik simple random sampling dalam pengambilan sampel. Hasil: Dokter gigi yang menjalankan praktik di Kota Banjarmasin sebagian besar termasuk dalam kategori usia, dewasa awal yaitu sebanyak 76 resonden (70,4%), tingkat penggunaan teknologi informasi termasuk kategori tinggi yaitu sebanyak 49 orang (45.4 %), pengalaman kerja termasuk kategori rendah yaitu sebanyak 45  orang (41.7 %) dan pemanfaatan teledentistry pada dokter gigi yang menjalankan praktik di Kota Banjarmasin sebagian besar termasuk kategori tinggi yaitu sebesar 49 orang (45.4 %). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara usia, tingkat penggunaan teknologi informasi, dan pengalaman kerja terhadap pemanfaaatan teledentistry   Kata kunci: Pengalaman kerja, Teknologi,Teledentistry, Usia
HUBUNGAN KADAR pH, MAGNESIUM, FLUOR DAN FERRUM AIR SUNGAI KONSUMSI TERHADAP INDEKS KARIES Adam Kevin; Rosihan Adhani; Riky Hamdani
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10749

Abstract

Latar Belakang: Di daerah sepanjang sungai, masih banyak masyarakat yang mengandalkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, seperti menyikat gigi, mandi dan minum air. Air sungai yang digunakan memiliki tingkat keasaman rata-rata sebesar 3,65 (rendah),adanya kandungan tinggi zat besi dan sulfat. Zat besi dan magnesium adalah mineral yang dapat menyebabkan perubahan warna gigi menjadi lebih gelap. Selain itu, mineral fluor  berperan penting dalam kesehatan gigi dan mulut gigi dengan merubah hidroksiapatit pada enamel menjadi fluoroapatit. Kekurangan fluor menyebabkan kerusakan, gigi yang rapuh, rentan terhadap karies gigi, perubahan warna pada gigi anak-anak, dan penipisan tulang. Tujuan: literature review ini untuk menganalisis pengaruh antara tingkat keasaman (pH), zat besi, magnesium, dan fluor dalam air sungai yang dikonsumsi terhadap indeks karies gigi berdasarkan literature yang relevan yang diterbitkan tahun 2015-2020. Metode: Penelitian menggunakan metode literature review dengan prosedur narrative review. Semua artikel yang dianalisis diperoleh dari pencarian sumber data Pubmed, Science Direct, dan Google Scholar. Hasil: penelitian ini menunjukkan bahwa indeks karies gigi termasuk dalam kategori tinggi, dengan indeks DMF-T sebesar 4,6. Kadar pH, magnesium, zat besi, dan fluor dalam air sungai berkisar antara 3,5-4,5 (pH asam), 0,013-9,90 mg/dl, 0,71-0,8023 (di atas kadar normal), dan 0,18-0,7 (di bawah kadar normal fluor dalam air minum). Adanya hubungan antara tingkat keasaman (pH), zat besi, magnesium, dan fluor dalam air sungai yang dikonsumsi dengan indeks karies gigi. Kesimpulan: terdapat hubungan antara tingkat keasaman (pH), zat besi, magnesium, dan fluor dalam air sungai yang dikonsumsi dengan indeks karies gigi.Kata kunci: Fluor, indeks DMF-T, magnesium, pH, Zat besi.
HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN DOKTER GIGI MUDA TERHADAP KEPUASAN PASIEN GIGI TIRUAN DI RSGM GUSTI HASAN AMAN BANJARMASIN Antung Lutfiliawan; Debby Saputera; Aulia Azizah; Rahmad Arifin; Riky Hamdani
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10745

Abstract

Latar Belakang: Keberhasilan pelayanan kesehatan adalah terpenuhinya harapan pasien akan mutu kualitas pelayanan. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas pelayanan adalah dengan mengukur kepuasan pasien. Kepuasan pasien merupakan baik atau buruknya pelayanan yang diterima pasien. Indikator kepuasan pasien dapat dilihat dari kualitas pelayanan dalam teori Parasuraman et.al (1998) yang dibagi menjadi lima dimensi, dimensi tampilan (tangible), kehandalan (reliability), ketanggapan (responsiveness), jaminan (assurance), dan perhatian (empathy). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas pelayanan dokter gigi muda terhadap kepuasan pasien gigi tiruan sebagian lepasan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien gigi tiruan sebagian lepasan dokter gigi muda sebanyak 38 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisi data menggunakan analisis univariat dan bivariate menggunakan aplikasi SPSS dengan metode somers’D Hasil: Hasil penelitian didapatkan kualitas pelayanan dokter gigi muda termasuk dalam kategori baik (81,6%), kepuasan pasien gigi tiruan sebagian lepasan termasuk dalam kategori puas (71,1%) dan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan pasien gigi tiruan sebagian lepasan di RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin (p = 0,000).Kesimpulan: Semakin  baik kualitas pelayanan dokter gigi muda yang diberikan maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan yang  dirasakan  pasien. Kata kunci: Gigi Tiruan Sebagian Lepasan, Kepuasan Pasien, Kualitas Pelayanan
HUBUNGAN PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN KEHILANGAN GIGI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEMANGAT DALAM Akhmad Akhdiannoor Ramadhan; Rahmad Arifin; Isnur Hatta; Riky Hamdani; Nurdiana Dewi
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10746

Abstract

Latar Belakang: Tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut berpengaruh pada perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut yang berujung pada kejadian karies dan penyakit periodontal. Selain perilaku menyikat gigi, usia juga berperan penting dalam faktor risiko terjadinya kehilangan gigi. Usia 35-44 tahun adalah usia yang ideal dilakukan pengawasan kesehatan gigi dan mulut. Tujuan: Menganalisis hubungan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kehilangan gigi di wilayah kerja Puskesmas Semangat Dalam (tinjauan pada masyarakat usia 35-44 tahun). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional dengan metode cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling  dengan teknik cluster sampling. Subjek penelitian adalah masyarakat usia 35-44 tahun yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Semangat Dalam sebanyak 107 responden. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan pemeriksaan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut menggunakan kuesioner dan pemeriksaan jumlah gigi yang hilang pada rongga mulut responden. Analisis data menggunakan dengan uji Somers’D. Hasil: Mayoritas masyarakat usia 35-44 tahun yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Semangat Dalam memiliki tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kategori sedang (57,94%) dan memiliki tingkat kehilangan gigi dengan kategori rendah (52,34%). Uji korelasi Somers’D menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kehilangan gigi (p=0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kehilangan gigi, Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut baik dapat membentuk perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut yang baik. Perilaku yang baik akan mengurangi terjadinya kehilangan gigi seseorang. Kata Kunci: Kehilangan Gigi, Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut
ANALISIS NILAI INDEKS DMF-T SISWA YANG MENGGOSOK GIGI MENGGUNAKAN AIR SUMUR DI WILAYAH PANTAI SWARANGAN Aida Yanti; Widodo Widodo; Ika Kusuma Wardani; Riky Hamdani; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi
Dentin Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i3.14227

Abstract

Background: Tooth decay, especially caries, is the most common disease and disrupts oral health in the community. The prevalence of people who have oral health problems in Indonesia is 45,3% with a percentage in South Kalimantan Province of around 46,9% in 2018 with a DMF-T index value of 7,2. Oral health problems in South Kalimantan Province with a high prevalence, one of which is in Tanah Laut District, most of the people in Swarangan Village, Tanah Laut District live on the coast and use dug well water to brush their teeth so that they have oral health problems with a high prevalence of 44,73%, the well water used by the community gets supply from the sea, so that it can interfere with the concentration of minerals in the water used. Objective: Analyze the DMF-T index value of SMPN 6 Jorong students who brush their teeth using dug well water based on a distance of 140-712 meters and a distance of 713-1.300 meters from the beach. Methods: This study used an analytic observational method with a cross sectional approach. Respondents and samples were taken with simple random sampling technique, the number of respondents in this study was 50 people. Results: The study shows the DMF-T index in students who brush their teeth using dug well water based on a distance of 140-712 meters is 6.0, while the DMF-T index in students who brush their teeth using dug well water based on a distance of 713-1.300 meters is 4,28 with the p value obtained is 0,182>0,05. Conclusion: There is no significant difference in DMF-T index values between students who use dug well water at a distance of 140-712 meters and a distance of 713-1.300 meters from the beach.Keywords: DMF-T, Distance of well from shore. ABSTRAK Latar belakang: Kerusakan gigi terutama karies adalah kondisi yang paling umum ditemui dan berpotensi mengganggu kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Pada tahun 2018, prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia mencapai 45,3%. Di Provinsi Kalimantan Selatan, angka ini mencapai 46,9%, dengan indeks DMF-T 7,2. Salah satu daerah dengan prevalensi tinggi adalah Kabupaten Tanah Laut, terutama di Desa Swarangan, dimana sebagian besar penduduknya tinggal di pesisir pantai dan menggunakan air sumur gali yang suplai airnya berasal dari laut. Kondisi ini dapat memengaruhi konsentrasi mineral dalam air yang digunakan untuk menggosok gigi, yang kemudian berkontribusi pada tingginya prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut mencapai 44,73%. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling, besar responden pada penelitian ini sebanyak 50 siswa. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai indeks DMF-T pada siswa yang menggunakan air sumur gali dalam rentang jarak 140–712 meter adalah 6,0. Sementara itu, pada siswa yang menggunakan air sumur gali dalam rentang jarak 713–1.300 meter memiliki rata-rata indeks DMF-T 4,28. Analisis statistik menunjukkan nilai p sebesar 0,182, > 0,05. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan nilai indeks DMF-T antara siswa yang menggunakan air sumur gali jarak 140–712 meter dengan jarak 713-1.300 meter dari pinggir pantai.
PERBEDAAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PASTA GIGI HERBAL DAN NON-HERBAL TERHADAP PENURUNAN INDEKS PLAK PADA PERMUKAAN GIGI PADA ANAK-ANAK Tiara Yustisia; Riky Hamdani; R. Harry Dharmawan Setyawardhana
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17917

Abstract

ABSTRACT Background: Indonesia’s dental and oral health problems is 57.6% and age 5-9 was the largest propostion reached 67.3%. The OHI-S index also reached  high number, 1.46 while the national target was  ≤ 1.2. One of the ways to prevent this problems is by brushing teeth with toothpaste to reduce plaque accumulation. There are alternative options in choosing toothpaste, herbal toothpaste and non-herbal toothpaste. Purpose: The study is aimed to analyze the effectiveness between herbal and non-herbal toothpaste in reduce score plaque on children’s teeth. Method: This study is used literature review method, which is to read, analyze, evaluated and summarizing a particular topic for synthesizing and analyzing arguments of others with a narrative review procedure. Literature was search used Google Scholar, Science Direct and PubMed. Results: Mean of herbal toothpaste is up to 37.5% with the smallest decrease is 5% by combination of akarkara and others and  the highest is 76.9% by combination of betel leaf and lime. Mean of non-herbal toothpaste is up to 32% with the smallest decrease is 7.71% by comersial toothpaste and the highest is 67.3% by fluor. The review showed that most of articles stated that there was a significant difference in ndex plaque between herbal and non-herbal toothpaste. Conclusion: The public is expected to use this study results as a consideration in choosing the appropriate toothpaste for children, it is recommencded to choose toothpaste with herbal ingredients because it  can reduce childrens’s plaque index more than toothpaste with non-herbal ingredients.Keywords: children, herbal toothpaste, non-herbal toothpaste, plaque index  ABSTRAKLatar Belakang: Masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia mencapai angka 57,6% dengan usia 5-9 tahun sebagai proporsi terbesar, yaitu 67,3%. Indeks OHI-S juga mencapai angka yang tinggi, yaitu 1,46 sedangkan target nasional OHI-S adalah ≤ 1,2. Masalah ini dapat dicegah salah satunya dengan cara menyikat gigi menggunakan pasta gigi untuk mengurangi penumpukkan plak. Terdapat pilihan alternatif dalam memilih pasta gigi, yaitu pasta gigi herbal dan pasta gigi non-herbal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efektivitas antara pasta gigi herbal dan non-herbal dalam menurunkan indeks plak pada permukaan gigi anak-anak. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode literature review, yaitu membaca, menganalisis, mengevaluasi dan meringkas materi ilmiah tentang topik tertentu dengan tujuan merangkum, mensintesis dan menganalisis argumen orang lain dengan prosedur narrative review. Penelurusan literatur menggunakan Google Scholar, Science Direct dan PubMed. Hasil: Pasta gigi herbal mampu menurunkan indeks skor plak rata-rata sebesar 37,5% dengan penurunan terkecil 5% oleh bahan kombinasi akarkara dan lain-lain, serta yang tertinggi sebanyak 76,9% oleh bahan kombinasi daun sirih dan jeruk nipis. Pasta gigi non-herbal mampu menurunkan indeks skor plak rata-rata sebesar 32% dengan penurunan terkecil 7,71% oleh pasta gigi komersial dan yang tertinggi sebesar 67,3% oleh fluor. Hasil review menunjukkan bahwa mayoritas artikel menyatakan bahwa terdapat perbedaan nilai plak secara signifikan antara pasta gigi herbal dan non- herbal. Kesimpulan: Masyarakat diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai pertimbangan dalam memilih pasta gigi yang sesuai untuk anak-anak, disarankan memilih pasta gigi dengan kandungan bahan herbal karena mampu menurunkan indeks skor plak lebih banyak pada permukaan gigi anak-anak. Kata Kunci: anak-anak, indeks plak, pasta gigi herbal, pasta gigi non-herbal
THE RELATIONSHIP OF PSYCHOLOGICAL AND PHYSICAL IMPACTS ON DRUG ABUSE TO ORAL AND DENTAL HYGIENE Indraswari Wahyu Pertiwi; Riky Hamdani; Galuh Dwinta Sari; Isnur Hatta; Irham Taufiqurrahman
Dentin Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i3.14224

Abstract

Background: Drug usage can have a negative psychological and physical influence on dental hygiene. Drug abusers' low priority for oral and dental health is linked to behavioral changes, needle phobia, and dread of the dentist, all of which are part of the psychological impact of drug usage. Poor dental and oral hygiene in drug users can be attributed to reduced motor function, which is part of the physical side effects of drug use. Objective: To analyze the psychological and physical impact of drug abuse on oral hygiene at IPWL Griya Pemberdayaan Banjarbaru city. Methods: Using an analytic observational study using a cross-sectional method and a basic random sample strategy. The population of drug users in the IPWL Griya Pemberdayaan Banjarbaru city was 50 persons, and a sample of 38 people was acquired. The WHOQOL-Bref questionnaire was utilized in this study to assess the psychological and physical effects of drug misuse, as well as the OHI-S index criteria to assess dental and oral hygiene status, which were then analyzed using the Spearman test. Results: The Spearman test showed that there is a relationship between the psychological impact of drug abuse on oral hygiene with a strong weak correlation, and there is a relationship between the physical impact of drug abuse on oral hygiene with a fairly strong correlation. Conclusion: it is necessary to improve dental and oral hygiene to reduce the psychological and physical impact of drug abuse.