Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Uji Diagnosis NS1, IgG dan IgM Dengue Metode Immunokromatografi dan Elisa Kesuma, Suryanata
Jurnal Analis Laboratorium Medik Vol 7 No 2 (2022): JURNAL ANALIS LABORATORIUM MEDIK
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jalm.v7i2.3374

Abstract

Dengue fever is a disease caused by the dengue virus (DENV). Detection of NS1 antigen can be useful for early confirmation of DENV infection. NS1 antigen can be detected from the first day of illness and lasts up to 9-10 days. Other supporting examinations are dengue virus IgG and IgM examinations. The purpose of this study was to review the sensitivity and specificity of the dengue virus NS1, IgG, and IgM tests through literature testing. This type of research is descriptive. The literature used is scientific journals which are the top journals searched using the google search engine and contains complete information and data related to the sensitivity and specificity of NS1, IgG, and IgM Dengue Virus examinations. Based on the review, it was found that the sensitivity of the NS1 antigen in the Rapid Immunochromatographic method was in the range of 48%-92% and specificity was 73%-100%, in the ELISA method the sensitivity range was 42%-84% and specificity was 89%-99%. In the examination of IgG and IgM antibodies using the Rapid Immunochromatography method, the sensitivity ranges from 6%-73% and specificity 36%-100%. Examination of IgG and IgM antibodies using the ELISA method obtained sensitivity in the range of 6%-58% and specificity 56%-100%. The results of the review conducted showed that the sensitivity of the NS1, IgG, and IgM tests for Dengue Virus with the Rapid Immunochromatography method was better than the ELISA method, but the specificity for the NS1, IgG, and IgM tests for Dengue Virus ELISA method was better than the Rapid Immunochromatography method. In addition, the Rapid Immunochromatography method of NS1 antigen examination showed higher accuracy than IgG and IgM antibodies in screening for dengue virus infection.
Perbedaan Kimia Urine Pada Ibu Hamil Trimester 3 dengan Menggunakan Metode Carik Celup dan Metode Otomatis Sari, Putri Sekar; Kesuma, Suryanata; Hartono, Agus Rudi
Borneo Journal of Science and Mathematics Education Vol 4 No 1 (2024): Borneo Journal of Science and Mathematics Education, Februari 2024
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training of UINSI Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/bjsme.v3i3.6868

Abstract

Pendahuluan: Urinalisa merupakan pemeriksaan laboratorium sederhana yang dapat dilakukan untuk skrining kesehatan secara umum Kehamilan merupakan sebuah proses terjadinya penyatuan antara spermatozoa dan ovum. Proses ini dimulai dari sel telur yang dibuahi oleh sperma, lalu diletakkan dalam lapisan rahim dan kemudian akan berkembang membentuk janin. Metode carik celup merupakan reagen strip yang interpretasinya dengan membandingkan pada skala rujukan yang ditempelkan pada bagian botol depan reagen strip. Metode otomatis merupakan alat yang digunakan untuk membantu proses pembacaan pada carik celup. Pembacaan hasil pada carik celup bisa dilakukan dengan menggunakan alat urine analyzer. Tujuan: untuk mengetahui perbedaan hasil kimia urine pada ibu hamil menggunakan metode carik celup dan metode otomatis.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif komparatif. dengan teknik Total Sampling yang dilakukan pada 40 sampel urine ibu hamil trimester 3 yang dianalisa di Laboratorium Kimia Klinik Poltekkes Kemenkes Kaltim dengan uji statistik mann whitney. Diskusi: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada parameter leukosit nilai Asymp. Sig 0,076 (Asymp. Sig > 0,05), nitrit nilai Asymp. Sig 1,000 (Asymp. Sig > 0,05), urobilinogen nilai Asymp. Sig 1,000 (Asymp. Sig > 0,05), protein nilai Asymp. Sig 0,162 (Asymp. Sig > 0,05), pH nilai Asymp. Sig 0,725 (Asymp. Sig > 0,05), darah nilai Asymp. Sig 0,162 (Asymp. Sig > 0,05), BJ nilai Asymp. Sig 0,020 (Asymp. Sig > 0,05), keton nilai Asymp. Sig 1,000 (Asymp. Sig > 0,05), bilirubin nilai Asymp. Sig 1,000 (Asymp. Sig > 0,05), glukosa nilai Asymp. Sig 1,000 (Asymp. Sig > 0,05) maka Ho diterima dan Ha ditolak, yang berarti tidak ada perbedaan hasil antara pada metode carik celup dan metode otomatis pada sampel urine ibu hamil trimester 3. Kata Kunci: Urinalisa, kehamilan, metode carik celup, metode otomatis
EVALUASI PEMERIKSAAN BILIRUBIN TOTAL MENGGUNAKAN MODEL SPECIMEN INSIGNIFICANT DAN MILD HEMOLYSIS: EVALUATION OF TOTAL BILIRUBIN EXAMINATION USING THE INSIGNIFICANT SPECIMEN AND THE MILD HEMOLYSIS MODELS Kesuma, Suryanata; Rodiyah, Siti; Maulida
GEMA KESEHATAN Vol. 15 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v15i2.428

Abstract

Bilirubin total merupakan salah satu pemeriksaan fungsi hati. Pemeriksaan bilirubin total umumnya menggunakan sampel darah yang tidak boleh hemolisis, sehingga sampel hemolisis menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan bilirubin total. Hemolisis dapat terjadi secara in vivo dan in vitro. Hemolisis secara in vitro menyebabkan kesalahan pemeriksaan bilirubin total. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil evaluasi pemeriksaan bilirubin total menggunakan model specimen insignificant dan mild hemolysis. Metode penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Pembuatan hemolisat menggunakan larutan aquadest. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 40 sampel. Pemeriksaan menggunakan metode kolorimetri pada alat fotometer DIRUI DR-7000D. Pemeriksaan hemoglobin digunakan untuk melakukan validasi specimen insignificant dan mild hemolysis. Hasil uji statistik one-way Anova didapatkan nilai Sig < 0.05. Hasil akurasi yang didapatkan adalah -1.83% dan -4.40% < 11.4%, presisi 22.0% dan 20.6% > 7%, TE 38.1% dan 38.5% > 20% TEa berturut-turut sampel insignificant dan mild hemolysis. Kesimpulan terdapat perbedaan secara statistik dan klinis pada hasil evaluasi pemeriksaan bilirubin total model specimen insignificant dan mild hemolysis. Kata kunci: Bilirubin Total,  Specimen Insignificant Hemolysis,  Specimen Mild Hemolysis   The total bilirubin is one of the liver function tests. The entire bilirubin test generally uses blood samples, which are one of the factors that can’t be hemolyzed, so hemolysis samples are one of the factors that can affect the result of the total bilirubin test. Hemolysis can occur in vivo and in vitro. Hemolysis in vitro causes an error in the entire bilirubin test. However, hemolysis specimens are still examined for total bilirubin under certain conditions. The evaluation aims to find out the results of natural bilirubin test specimens insignificant and mild hemolysis. This research method is quasi-experimental. They are making hemolysate using an aquadest solution. The number of samples in this research was 40, and examination was done using the colorimetric method on the DIRUI DR-7000D photometer. A hemoglobin test is used to validate specimens of insignificant and mild hemolysis. The one-way Anova statistical test results obtained a sig value < 0.05. Accuracy results were -1.83% and -4.40% < 11.4%, precision 22.0% and 20.6% > 7%, TE 38.1% and 38.5% > 20% TEa, respectively, samples of insignificant and mild hemolysis. The conclusion: statistical and clinical differences exist in evaluating total bilirubin test results in the tiny and soft hemolysis specimen models. Keywords: Insignificant Hemolysis Specimen, Mild Hemolysis Specimen, Total Bilirubin
PERBEDAAN AKTIVITAS ENZIM ASPARTATE AMINOTRANSFERASE (AST) PADA SERUM SEGERA DAN DITUNDA PEMISAHANNYA SELAMA 2 JAM Fera, Fera; Lamri, Lamri; Kesuma, Suryanata
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024): Volume 11 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i2.12132

Abstract

Abstrak: Perbedaan Aktivitas Enzim Aspartate Aminotransferase (AST) Pada Serum Segera Dan Ditunda Pemisahannya Selama 2 Jam. Pemeriksaan aktivitas enzim Aspartate aminotransferase merupakan salah satu pemeriksaan fungsi hati di laboratorium klinik. Pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium harus efisien dan efektif, namun banyaknya jumlah sampel maupun pengambilan sampel pada lokasi yang jauh dapat mengakibatkan ditundanya pembuatan serum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan aktivitas enzim AST pada serum segera dan ditunda pemisahannya selama 2 jam. Penelitian ini menggunakan metode  kuasi eksperimen menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok diberi perlakuan dengan dilakukan penundaan pemisahan serum dan tidak diberi perlakuan dengan tidak dilakukan penundaan pemisahan serum. Data dianalisis SPSS dengan uji paired sample t test untuk melihat perbedaan aktivitas enzim Aspartae aminotransferase pada serum segera dan ditunda pemisahannya selama 2 jam. Uji statistik paired sample t test didapatkan hasil nilai signifikan 0,002, diartikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil aktivitas enzim AST pada serum segera dipisah dan ditunda pemisahannya. Kesimpulan dari penelitian ini didapatkan hasil yang masih dalam nilai normal. Namun, terdapat penurunan kadar aktivitas enzim Aspartate aminotransferase yang signifikan pada serum yang ditunda pemisahannya selama 2 jam.
EVALUASI PENGGUNAAN SERUM DAN PLASMA YANG DISIMPAN PADA TABUNG CLOTING ACTIVATOR DAN NAF SELAMA 6 DAN 24 JAM PARAMETER GLUKOSA DARAH Prihandono, Dwi Setiyo; Kesuma, Suryanata; Widyadari, Effie Raissa
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 6, No 3 (2024): JULI: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/jjhsr.v6i3.21870

Abstract

Pemeriksaan laboratorium klinik akan memiliki mutu yang baik apabila ketepatan (akurasi) dan ketelitiannya (presisi) juga baik. Salah satu parameter pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium adalah pemeriksaan kadar glukosa darah. Kebaruan dari penelitian ini karena meneliti tentang evaluasi penggunaan serum dan plasma yang disimpan pada tabung cloting activator dan NaF selama 6 dan 24 jam parameter glukosa darah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis rata-rata persentase penurunan, akurasi, presisi, dan total error pada pemeriksaan glukosa menggunakan tabung cloting activator dan tabung NaF selama segera, 6, dan 24 jam. Sampel dalam penelitian ini adalah darah mahasiswa jurusan teknologi laboratorium medis Poltekkes Kemenkes Kaltim sebanyak 40 spesimen. Data hasil diolah menggunakan aplikasi Microsoft excel. Hasil penelitian ini didapatkan rata-rata persentase penurunan tabung cloting activator 6 dan 24 jam sebesar 17,2% dan 24%. Rata-rata persentase penurunan tabung NaF 6 dan 24 jam sebesar 14,3% dan 20,9%. Akurasi pemeriksaan glukosa menggunakan tabung cloting activator 6 jam terhadap tabung cloting activator segera, tabung cloting activator 24 jam terhadap tabung cloting activator segera, tabung NaF 6 jam terhadap tabung NaF  segera, tabung NaF 24 jam terhadap tabung NaF segera sebesar -17,2%, -24.1%, -14.4%, dan -21.0%. Presisi pemeriksaan sebesar 8,3%, 10,6%, 7,2%, dan 7,3%. Total error pemeriksaan sebesar 33,5%, 44,7%, 28,7%, dan 35,4%. Kesimpulan bahwa terdapat perbedaan klinis pada pemeriksaan glukosa menggunakan tabung cloting activator dan tabung NaF selama 6, dan 24 jam. 
Evaluasi Pemeriksaan Kreatinin Dengan Penundaan 12 Jam Pada Pasien Diabetes Melitus: Evaluation Of Creatinine Screening With 12-hour Delay In Diabetes Mellitus Patients Kesuma, Suryanata; Farpina, Eka; Sultan, Sultan
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 6 No. 2 (2024): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v6i2.7096

Abstract

Laboratorium klinik harus selalu memperhatikan mutu pelayanan dan mutu pemeriksaan. Laboratorium klinik akan memberikan informasi berupa hasil pemeriksaan kepada para klinisi sehingga dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis dan tindak lanjut pengobatan terhadap pasien. Para klinisi selalu mengharapkan hasil pemeriksaan merupakan hasil yang tepat dan akurat sesuai dengan kondisi pasien saat itu. Hasil pemeriksaan dan pengukuran yang tepat dapat memperkecil kesalahan dalam menentukan diagnosis penyakit yang diderita pasien saat itu. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan klinis penundaan pemeriksaan kreatinin segera dan ditunda 12 jam pada pasien diabetes melitus. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, spesimen yang digunakan adalah serum, teknik pengumpulan data menggunakan data primer, data diperoleh dengan melakukan pemeriksaan kadar kreatinin menggunakan alat Chemistry Analyzer Mindray BS240, pengolahan data pada penelitian ini menggunakan Microsoft Excel. Hasil dari penelitian ini didapatkan rata-rata pada pemeriksaan segera sebesar 0.9 mg/dL dan penundaan 12 jam sebesar 0.6 mg/dL. Akurasi (d%) pada pemeriksaan kreatinin segera terhadap penundaan 12 jam sebesar -24.8%. Presisi (CV%) pada pemeriksaan kreatinin segera terhadap penundaan 12 jam sebesar 20.0% dan total error pada pemeriksaan kreatinin segera terhadap penundaan 12 jam sebesar 64.8%. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa adanya perbedaan hasil secara klinis pada pemeriksaan kreatinin segera dan penundaan selama 12 jam.