Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Perbedaan Kimia Urine Pada Ibu Hamil Trimester 3 dengan Menggunakan Metode Carik Celup dan Metode Otomatis Sari, Putri Sekar; Kesuma, Suryanata; Hartono, Agus Rudi
Borneo Journal of Science and Mathematics Education Vol 4 No 1 (2024): Borneo Journal of Science and Mathematics Education, Februari 2024
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training of UINSI Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/bjsme.v3i3.6868

Abstract

Pendahuluan: Urinalisa merupakan pemeriksaan laboratorium sederhana yang dapat dilakukan untuk skrining kesehatan secara umum Kehamilan merupakan sebuah proses terjadinya penyatuan antara spermatozoa dan ovum. Proses ini dimulai dari sel telur yang dibuahi oleh sperma, lalu diletakkan dalam lapisan rahim dan kemudian akan berkembang membentuk janin. Metode carik celup merupakan reagen strip yang interpretasinya dengan membandingkan pada skala rujukan yang ditempelkan pada bagian botol depan reagen strip. Metode otomatis merupakan alat yang digunakan untuk membantu proses pembacaan pada carik celup. Pembacaan hasil pada carik celup bisa dilakukan dengan menggunakan alat urine analyzer. Tujuan: untuk mengetahui perbedaan hasil kimia urine pada ibu hamil menggunakan metode carik celup dan metode otomatis.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif komparatif. dengan teknik Total Sampling yang dilakukan pada 40 sampel urine ibu hamil trimester 3 yang dianalisa di Laboratorium Kimia Klinik Poltekkes Kemenkes Kaltim dengan uji statistik mann whitney. Diskusi: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada parameter leukosit nilai Asymp. Sig 0,076 (Asymp. Sig > 0,05), nitrit nilai Asymp. Sig 1,000 (Asymp. Sig > 0,05), urobilinogen nilai Asymp. Sig 1,000 (Asymp. Sig > 0,05), protein nilai Asymp. Sig 0,162 (Asymp. Sig > 0,05), pH nilai Asymp. Sig 0,725 (Asymp. Sig > 0,05), darah nilai Asymp. Sig 0,162 (Asymp. Sig > 0,05), BJ nilai Asymp. Sig 0,020 (Asymp. Sig > 0,05), keton nilai Asymp. Sig 1,000 (Asymp. Sig > 0,05), bilirubin nilai Asymp. Sig 1,000 (Asymp. Sig > 0,05), glukosa nilai Asymp. Sig 1,000 (Asymp. Sig > 0,05) maka Ho diterima dan Ha ditolak, yang berarti tidak ada perbedaan hasil antara pada metode carik celup dan metode otomatis pada sampel urine ibu hamil trimester 3. Kata Kunci: Urinalisa, kehamilan, metode carik celup, metode otomatis
EVALUASI PEMERIKSAAN BILIRUBIN TOTAL MENGGUNAKAN MODEL SPECIMEN INSIGNIFICANT DAN MILD HEMOLYSIS: EVALUATION OF TOTAL BILIRUBIN EXAMINATION USING THE INSIGNIFICANT SPECIMEN AND THE MILD HEMOLYSIS MODELS Kesuma, Suryanata; Rodiyah, Siti; Maulida
GEMA KESEHATAN Vol. 15 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v15i2.428

Abstract

Bilirubin total merupakan salah satu pemeriksaan fungsi hati. Pemeriksaan bilirubin total umumnya menggunakan sampel darah yang tidak boleh hemolisis, sehingga sampel hemolisis menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan bilirubin total. Hemolisis dapat terjadi secara in vivo dan in vitro. Hemolisis secara in vitro menyebabkan kesalahan pemeriksaan bilirubin total. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil evaluasi pemeriksaan bilirubin total menggunakan model specimen insignificant dan mild hemolysis. Metode penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Pembuatan hemolisat menggunakan larutan aquadest. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 40 sampel. Pemeriksaan menggunakan metode kolorimetri pada alat fotometer DIRUI DR-7000D. Pemeriksaan hemoglobin digunakan untuk melakukan validasi specimen insignificant dan mild hemolysis. Hasil uji statistik one-way Anova didapatkan nilai Sig < 0.05. Hasil akurasi yang didapatkan adalah -1.83% dan -4.40% < 11.4%, presisi 22.0% dan 20.6% > 7%, TE 38.1% dan 38.5% > 20% TEa berturut-turut sampel insignificant dan mild hemolysis. Kesimpulan terdapat perbedaan secara statistik dan klinis pada hasil evaluasi pemeriksaan bilirubin total model specimen insignificant dan mild hemolysis. Kata kunci: Bilirubin Total,  Specimen Insignificant Hemolysis,  Specimen Mild Hemolysis   The total bilirubin is one of the liver function tests. The entire bilirubin test generally uses blood samples, which are one of the factors that can’t be hemolyzed, so hemolysis samples are one of the factors that can affect the result of the total bilirubin test. Hemolysis can occur in vivo and in vitro. Hemolysis in vitro causes an error in the entire bilirubin test. However, hemolysis specimens are still examined for total bilirubin under certain conditions. The evaluation aims to find out the results of natural bilirubin test specimens insignificant and mild hemolysis. This research method is quasi-experimental. They are making hemolysate using an aquadest solution. The number of samples in this research was 40, and examination was done using the colorimetric method on the DIRUI DR-7000D photometer. A hemoglobin test is used to validate specimens of insignificant and mild hemolysis. The one-way Anova statistical test results obtained a sig value < 0.05. Accuracy results were -1.83% and -4.40% < 11.4%, precision 22.0% and 20.6% > 7%, TE 38.1% and 38.5% > 20% TEa, respectively, samples of insignificant and mild hemolysis. The conclusion: statistical and clinical differences exist in evaluating total bilirubin test results in the tiny and soft hemolysis specimen models. Keywords: Insignificant Hemolysis Specimen, Mild Hemolysis Specimen, Total Bilirubin
PERBEDAAN AKTIVITAS ENZIM ASPARTATE AMINOTRANSFERASE (AST) PADA SERUM SEGERA DAN DITUNDA PEMISAHANNYA SELAMA 2 JAM Fera, Fera; Lamri, Lamri; Kesuma, Suryanata
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024): Volume 11 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i2.12132

Abstract

Abstrak: Perbedaan Aktivitas Enzim Aspartate Aminotransferase (AST) Pada Serum Segera Dan Ditunda Pemisahannya Selama 2 Jam. Pemeriksaan aktivitas enzim Aspartate aminotransferase merupakan salah satu pemeriksaan fungsi hati di laboratorium klinik. Pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium harus efisien dan efektif, namun banyaknya jumlah sampel maupun pengambilan sampel pada lokasi yang jauh dapat mengakibatkan ditundanya pembuatan serum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan aktivitas enzim AST pada serum segera dan ditunda pemisahannya selama 2 jam. Penelitian ini menggunakan metode  kuasi eksperimen menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok diberi perlakuan dengan dilakukan penundaan pemisahan serum dan tidak diberi perlakuan dengan tidak dilakukan penundaan pemisahan serum. Data dianalisis SPSS dengan uji paired sample t test untuk melihat perbedaan aktivitas enzim Aspartae aminotransferase pada serum segera dan ditunda pemisahannya selama 2 jam. Uji statistik paired sample t test didapatkan hasil nilai signifikan 0,002, diartikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil aktivitas enzim AST pada serum segera dipisah dan ditunda pemisahannya. Kesimpulan dari penelitian ini didapatkan hasil yang masih dalam nilai normal. Namun, terdapat penurunan kadar aktivitas enzim Aspartate aminotransferase yang signifikan pada serum yang ditunda pemisahannya selama 2 jam.
EVALUASI PENGGUNAAN SERUM DAN PLASMA YANG DISIMPAN PADA TABUNG CLOTING ACTIVATOR DAN NAF SELAMA 6 DAN 24 JAM PARAMETER GLUKOSA DARAH Prihandono, Dwi Setiyo; Kesuma, Suryanata; Widyadari, Effie Raissa
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 6, No 3 (2024): JULI: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/jjhsr.v6i3.21870

Abstract

Pemeriksaan laboratorium klinik akan memiliki mutu yang baik apabila ketepatan (akurasi) dan ketelitiannya (presisi) juga baik. Salah satu parameter pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium adalah pemeriksaan kadar glukosa darah. Kebaruan dari penelitian ini karena meneliti tentang evaluasi penggunaan serum dan plasma yang disimpan pada tabung cloting activator dan NaF selama 6 dan 24 jam parameter glukosa darah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis rata-rata persentase penurunan, akurasi, presisi, dan total error pada pemeriksaan glukosa menggunakan tabung cloting activator dan tabung NaF selama segera, 6, dan 24 jam. Sampel dalam penelitian ini adalah darah mahasiswa jurusan teknologi laboratorium medis Poltekkes Kemenkes Kaltim sebanyak 40 spesimen. Data hasil diolah menggunakan aplikasi Microsoft excel. Hasil penelitian ini didapatkan rata-rata persentase penurunan tabung cloting activator 6 dan 24 jam sebesar 17,2% dan 24%. Rata-rata persentase penurunan tabung NaF 6 dan 24 jam sebesar 14,3% dan 20,9%. Akurasi pemeriksaan glukosa menggunakan tabung cloting activator 6 jam terhadap tabung cloting activator segera, tabung cloting activator 24 jam terhadap tabung cloting activator segera, tabung NaF 6 jam terhadap tabung NaF  segera, tabung NaF 24 jam terhadap tabung NaF segera sebesar -17,2%, -24.1%, -14.4%, dan -21.0%. Presisi pemeriksaan sebesar 8,3%, 10,6%, 7,2%, dan 7,3%. Total error pemeriksaan sebesar 33,5%, 44,7%, 28,7%, dan 35,4%. Kesimpulan bahwa terdapat perbedaan klinis pada pemeriksaan glukosa menggunakan tabung cloting activator dan tabung NaF selama 6, dan 24 jam. 
Evaluasi Pemeriksaan Kreatinin Dengan Penundaan 12 Jam Pada Pasien Diabetes Melitus: Evaluation Of Creatinine Screening With 12-hour Delay In Diabetes Mellitus Patients Kesuma, Suryanata; Farpina, Eka; Sultan, Sultan
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 6 No. 2 (2024): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v6i2.7096

Abstract

Laboratorium klinik harus selalu memperhatikan mutu pelayanan dan mutu pemeriksaan. Laboratorium klinik akan memberikan informasi berupa hasil pemeriksaan kepada para klinisi sehingga dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis dan tindak lanjut pengobatan terhadap pasien. Para klinisi selalu mengharapkan hasil pemeriksaan merupakan hasil yang tepat dan akurat sesuai dengan kondisi pasien saat itu. Hasil pemeriksaan dan pengukuran yang tepat dapat memperkecil kesalahan dalam menentukan diagnosis penyakit yang diderita pasien saat itu. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan klinis penundaan pemeriksaan kreatinin segera dan ditunda 12 jam pada pasien diabetes melitus. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, spesimen yang digunakan adalah serum, teknik pengumpulan data menggunakan data primer, data diperoleh dengan melakukan pemeriksaan kadar kreatinin menggunakan alat Chemistry Analyzer Mindray BS240, pengolahan data pada penelitian ini menggunakan Microsoft Excel. Hasil dari penelitian ini didapatkan rata-rata pada pemeriksaan segera sebesar 0.9 mg/dL dan penundaan 12 jam sebesar 0.6 mg/dL. Akurasi (d%) pada pemeriksaan kreatinin segera terhadap penundaan 12 jam sebesar -24.8%. Presisi (CV%) pada pemeriksaan kreatinin segera terhadap penundaan 12 jam sebesar 20.0% dan total error pada pemeriksaan kreatinin segera terhadap penundaan 12 jam sebesar 64.8%. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa adanya perbedaan hasil secara klinis pada pemeriksaan kreatinin segera dan penundaan selama 12 jam.
HUBUNGAN KADAR KREATININ DAN MIKROALBUMIN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIDAK TERKONTROL DI KLINIK MEDIA FARMA SAMARINDA Suryanata Kesuma; Nurul Anggrieni; Nurul Alidasyah
Klinikal Sains : Jurnal Analis Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2022): Desember
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/klinikal_sains.v10i2.2695

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a non-communicable disease but is a fairly large health problem in Indonesia today. The HbA1C examination is the gold standard in measuring glycemic levels, while the examination of creatinine and microalbumin levels is one of the parameters used to assess kidney function or diabetic nephropathy. This study aims to determine the relationship between creatinine levels and microalbumin levels in patients with uncontrolled diabetes mellitus at the Media Farma Samarinda Clinic. This study used a cross-sectional design using the Spearman correlation test. The samples in this study were 107 samples with HbA1C levels > 7%. The sampling technique was carried out using quota sampling. The variables measured were levels of HbA1C, creatinine, and microalbumin. The results of this study indicate that the value of p = (0.589) > = (0.05) in the correlation of HbA1C > 7% with creatinine and the value of p = (0.085) > = (0.05) in the correlation of HbA1C > 7% with microalbumin and the value of p = (0.032) > (0.05) on the correlation of creatinine with microalbumin so that H0 is accepted and Ha is rejected. Based on the results of this study, it can be concluded that there is no relationship between creatinine and microalbumin levels in patients with uncontrolled diabetes mellitus at the Media Farma Samarinda Clinic.