Claim Missing Document
Check
Articles

DETEKSI DINI GANGGUAN METABOLISME GLUKOSA Tirtasari, Silviana; Nugroho, Dodo; Tjunaity, Stefany
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 1 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i1.29187

Abstract

Diabetes Mellitus is the cause of 1.5 million deaths, and 48% of all diabetes-related deaths occur in individuals under the age of 70. Monitoring blood glucose levels is a crucial part of preventive measures against diabetes mellitus. Many people are unaware of their blood sugar levels due to laziness and a belief that it is not important, as diabetes mellitus often shows no symptoms. Partners in this activity rarely undergo blood glucose checks due to their busy schedules and a perception that checking blood sugar levels is unnecessary when no symptoms of diabetes mellitus are present. Blood glucose testing is the initial step in early detection of diabetes mellitus and raising awareness about the importance of regulating blood sugar levels in partners. Based on the issues with the partners, the objective of the health service team from FK UNTAR is to increase awareness of blood glucose testing for early detection of diabetes mellitus. A total of 23 educators underwent testing. The fasting blood glucose results revealed that 17.4% of participants had levels in the range of 100-125 mg/dL, and 4.3% had levels ≥ 126 mg/dL (due to a history of diabetes). This activity was carried out as an early detection effort to prevent the development of diabetes mellitus in the future. Therefore, further activities are needed to assist educators with results falling into the prediabetes category, encouraging preventive measures to avoid the progression to diabetes mellitus, and for those with high results, immediate consultation with a doctor for further management.
EDUKASI PENCEGAHAN PENYAKIT INFEKSI CACING PADA SISWA-SISWI SEKOLAH DASAR Tirtasari, Silviana; Novendy; Nugroho, Dodo; Tjunaity, Stefany
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.31974

Abstract

Worm infections can cause symptoms but are more often asymptomatic in infected individuals. Worm infections are a significant health issue that needs serious attention, especially in tropical areas, because they are not well detected. Primary school children are the largest population affected by worm infections, particularly soil-transmitted helminths (STH). Children aged 6-12 years are in the age group that is most vulnerable and frequently infected by worms. Based on field surveys, partners recommend materials on the prevention of worm infections because this issue has never been addressed at the school in question. Therefore, it is crucial to conduct health service activities related to this issue, with the hope that children will not be infected with worms in the future. The method used in this community service activity is education through direct health education session. The success of the activity is measured by the increase in knowledge by comparing the pre-test and post-test results. This activity was attended by fourth and fifth-grade students. A total of 88 students completed both the pre-test and post-test comprehensively. The average pre-test score before the health education session activity was 48.86 points. The post-test results after the health education session activity showed an average score of 88.26 points, indicating an 80.64% increase in knowledge. From this activity, it can be concluded that there was a significant improvement in the knowledge of fourth and fifth-grade students regarding worm infections. With these results, it is hoped that primary school students will become more aware of worm infections, preventing the occurrence of worm infections in the future. ABSTRAK Penyakit cacing dapat menimbulkan gejala namun lebih sering tanpa gejala pada seseorang yang terinfeksi. Masalah penyakit cacing menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius terutama untuk daerah tropis karena tidak terdeteksi dengan baik. Anak usia sekolah dasar menjadi populasi terbesar dalam infeksi penyakit cacing terutama soil transmitted helminths (STH). Usia 6-12 tahun termasuk pada usia yang rentan dan tersering terinfeksi cacing. Berdasarkan survei lapangan mitra merekomendaikan materi mengenai pencegahan infeksi cacing karena masalah ini belum pernah dilaksanakan di sekolah tersebut. Maka sangat perlu dilakukan kegiatan bakti kesehatan terkait masalah ini, sehingga diharapkan anak-anak tidak terinfeksi dengan penyakit cacing dikemudian hari. Metode yang digunakan pada kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah edukasi dengan melakukan penyuluhan secara langsung. Keberhasilan kegiatan dinilai dengan ada tidaknya peningkatan pengetahuan dengan membandingkan hasil pretes dengan postes. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi kelas 4 dan 5. Total sebanyak 88 oarang siswa-siswa yang mengisi pretes dan postes secara lengkap. Rerata nilai pretes dari sebelum kegiatan penyuluhan adalah 48,86 poin. Hasil postes setelah dilakukan penyuluhan adalah 88,26 poin, sehingga terdapat peningkatan pengetahuan sebesar 80,64%. Melalui kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan yang sangat baik pada siswa-siswi kelas 4 dan 5 mengenai penyakit infeksi cacing, Dengan hasil tersebut diharapkan siswa-siswi sekolah dasar dapat semakin mengenali mengenai penyakit infeksi cacing sehingga jangan sampai timbul penyakit cacing dikemudian hari.
EDUKASI DAN PRAKTIK CUCI TANGAN SEBAGAI LANGKAH PENCEGAHAN PENYAKIT INFEKSI PADA ANAK USIA DINI Tirtasari, Silviana; Novendy; Tania Yumna Dzahabiyyah; Kintan Permata Hidayat
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i2.34934

Abstract

Health education on personal hygiene, particularly handwashing, is essential to be introduced from an early age, including at the kindergarten level. According to a 2019 report by UNICEF and WHO, nearly half of the schools worldwide still lack access to basic handwashing facilities with soap and water. Furthermore, the 2023 Indonesian Health Survey revealed that the proportion of proper handwashing behaviour among individuals aged ≥10 years remains relatively low, at only 51.1%. Initial observations from partner institutions showed that there was no specific program in place to teach the importance of routine handwashing with proper technique. Although handwashing facilities were available, their usage was not yet optimal. In response to this issue, the Faculty of Medicine, Universitas Tarumanagara health service team, conducted a health outreach activity focused on handwashing education and practice for children. The aim of this program was to build healthy habits from an early age, which in the long run can help prevent the spread of diseases and improve overall health quality. The activities included watching an animated video, singing, and playing a game to stick handwashing steps in order. A total of 44 children participated in the event. The children were highly enthusiastic while watching the video, singing, demonstrating the handwashing steps, and engaging in the game. The activity was carried out effectively and joyfully. By integrating animated videos, songs, and games, the children showed improved understanding and skills in maintaining hand hygiene, which is expected to support their overall health and well-being. ABSTRAK Pendidikan kesehatan tentang kebersihan diri, terutama cuci tangan, sangat penting diajarkan sejak usia dini, termasuk di Taman Kanak-Kanak. Laporan UNICEF dan WHO tahun 2019 mendapatkan bahwa hampir setengah sekolah di dunia masih kurang penyediaan fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun. Selain itu hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mendapatkan proporsi perilaku benar dalam cuci tangan pada penduduk usia ≥ 10 tahun masih tergolong rendah, yaitu hanya sebesar 51,1%. Hasil observasi awal dari mitra, ditemukan bahwa belum terdapat program khusus yang mengajarkan pentingnya cuci tangan secara rutin dengan teknik yang benar. Meskipun terdapat fasilitas cuci tangan, namun penggunaannya masih belum optimal. Berdasarkan permasalahan tersebut, Tim bakti kesehatan FK Untar melakukan kegiatan bakti kesehatan berupa edukasi dan praktik cuci tangan kepada anak-anak. Program ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan sehat sejak usia dini, yang berdampak jangka panjang dalam mencegah penyebaran penyakit dan meningkatkan kualitas kesehatan. Kegiatan dalam bakti kesehatan ini meliputi menonton video animasi, menyanyikan lagu cuci tangan serta permainan menempel langkah cuci tangan. Total sebanyak 44 orang anak mengikuti kegiatan ini. Anak-anak sangat antusias menonton video, ikut bernyanyi dan memperagakan langkah cuci tangan serta mengikuti permainan dengan baik. Kegiatan yang dilaksanakan telah berjalan dengan efektif dan menyenangkan. Dengan menggabungkan media video animasi, bernyanyi, serta bermain, anak-anak menunjukkan peningkatan dalam pemahaman dan keterampilan dalam menjaga kebersihan tangan. Sehingga diharapkan anak-anak selalu sehat dan terhindar dari penyakit.
Intervensi Diagnosis Komunitas dalam Upaya Menurunkan Kasus Baru Stunting di Desa Legok, Kabupaten Tangerang Nadhira Rachma Kamila; Wynne Pratiwi; Tomi Wijaya; Emia Debora P; Silviana Tirtasari
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24422

Abstract

ABSTRACT Stunting is a condition in which a child's height is below the standard for their age due to chronic nutritional deficiencies. In Indonesia, stunting remains a major health problem, with a prevalence of 21.5% in 2023, which is still far from the national target of 14% in 2024. In May 2025, the Legok Community Health Center recorded 60 new cases of stunting, with the highest number of new cases in Legok Village, highlighting the need for community diagnosis to understand the underlying causes and design more appropriate preventive measures. This program involves mothers of children under five through continuous improvement of their knowledge and skills in stunting prevention. The diagnosis process begins with the identification of various health problems, followed by prioritization using the USG (Urgency, Seriousness, Growth) method to determine the main problems that need to be addressed immediately To determine the contributing factors using the Blum Paradigm, prioritization using the non-scoring Delphi method, and searching for the root causes using Fishbone diagrams and 5 WHY analysis. Interventions were monitored using the PDCA (Plan-Do-Check-Act) cycle and evaluated using a systems approach. Interventions took the form of education about stunting, as demonstrated by 80% of participants obtaining a post-test score 80. These results show the importance of health promotion efforts in preventing stunting. Keywords:Community Diagnosis, Health Education, Health Promotion, Stunting.  ABSTRAK Stunting adalah kondisi ketika tinggi badan anak dibawah standar sesuai usianya akibat kekurangan gizi kronik. Di Indonesia stunting masih menjadi masalah kesehatan utama, prevalensi stunting pada tahun 2023 mencapai 21,5% yang masih jauh dari target nasional yaitu 14% pada tahun 2024. Pada Mei 2025, Puskesmas Legok mencatat 60 kasus baru stunting, dengan kasus baru tertinggi di Desa Legok, sehingga perlunya diagnosis komunitas untuk memahami penyebab dasar dan merancang langkah pencegahan yang lebih tepat.  Program ini melibatkan para ibu balita melalui peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam pencegahan stunting secara berkesinambungan. Proses diagnosis dimulai dengan identifikasi berbagai masalah kesehatan, kemudian dilanjutkan dengan penentuan prioritas menggunakan metode USG (Urgency, Seriousness, Growth) untuk menentukan masalah utama yang perlu segera ditangani. Identifikasi masalah penyebab dengan Paradigma Blum, penentuan prioritas dengan metode Delphi non-scoring, dan mencari akar masalah penyebab  dengan diagram Fishbone dan analisis 5 WHY. Intervensi dimonitor menggunakan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) dan dievaluasi dengan pendekatan sistem. Intervensi berupa edukasi mengenai stunting, ditunjukkan dengan  80% peserta memperoleh nilai post-test 80. Hasil ini menunjukkan bahwa pentingnya upaya promotif kesehatan dalam pencegahan stunting.  Kata Kunci: Diagnosis komunitas, Edukasi Kesehatan, Upaya promotif, Stunting.
Community Diagnosis Activity Report in Efforts to Reduce the Incidence of New Stunting Cases in the Working Area of Legok Primary Health Center, Legok Subdistrict, Tangerang Regency, Banten Province Tomi Wijaya; Wynne Pratiwi; Nadira Rachma Kamila; Emia Debora P; Silviana Tirtasari
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.23118

Abstract

ABSTRACT Stunting remains one of Indonesia’s most persistent public health challenges, particularly among children under five. The high incidence of new stunting cases in the working area of Legok Primary Health Center, Tangerang Regency, prompted the implementation of a community diagnosis program to identify its root causes and develop targeted interventions. This program aimed to empower community health cadres as front-line educators to enhance stunting prevention through improved knowledge, skills, and community engagement. The activity was conducted from July 14 to August 16, 2025, and followed a structured community-based diagnostic approach. The problem prioritization process was carried out using the USG (Urgency, Seriousness, Growth) method, while the determinants of health were analyzed through Blum’s Health Field Paradigm. Root cause identification was performed using the non-scoring Delphi technique, Fishbone Diagram, and 5 WHY analysis. These steps revealed that insufficient and inconsistent cadre education on stunting prevention and outdated educational materials were major contributing factors. Interventions included interactive workshops and demonstration-based training sessions focused on balanced nutrition, exclusive breastfeeding, and appropriate complementary feeding practices. The implementation was monitored using the PDCA (Plan-Do-Check-Act) cycle and evaluated through a Systems Approach to ensure quality control and sustainability. A total of 30 community health cadres participated in the intervention. Pre-test results showed that only 2 participants (6.67%) scored above 90, whereas post-test results indicated that all 30 cadres (100%) achieved scores higher than 90. This significant improvement reflects the effectiveness of the training in enhancing cadres’ knowledge and confidence to deliver accurate health education at the community level. This program demonstrated that structured, cadre-centered community education can effectively strengthen local capacity for stunting prevention. Continuous training, active supervision, and integration with maternal and child health programs are essential to sustain knowledge transfer and achieve long-term reductions in stunting prevalence. Keywords: Cadre, Community Diagnosis, Health Education, Stunting Prevention, Training Program.
Peningkatan Pengetahuan Dalam Upaya Penurunan Kasus Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Teluknaga Dinda Nurhaliza; Thuan Su; Alfi Sri Fachriyah; Silviana Tirtasari
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i2.13007

Abstract

ABSTRACT Diabetes Mellitus (DM) stands as a prevalent chronic metabolic condition, especially notable in Tangerang, Indonesia, with significant health implications. This study aimed to employ a community-focused strategy at the Teluknaga Health Center to diagnose, intervene, and assess the impact of lifestyle education on DM prevalence in the region. The study utilized a community-oriented diagnostic approach incorporating Blum's Paradigm, the Delphi technique for issue prioritization, and fishbone analysis to identify root causes of DM. Interventions involved pre/post-test questionnaires and targeted educational sessions within the East Kampung Melayu Village. Monitoring utilized the PDCA cycle. Initial findings revealed that lifestyle factors significantly contributed to the prevalence of DM cases. Educational interventions in East Kampung Melayu resulted in a substantial increase in knowledge scores, with over 80% improvement post-intervention. In 2022, the East Kampung Melayu Village exhibited the highest number of DM cases within the Teluknaga Health Center's purview. The study underscores lifestyle's key role in high DM prevalence. Education in East Kampung Melayu significantly boosted DM awareness. Community-based approaches effectively reduced DM burden in Tangerang, emphasizing their significance and potential for wider application. This highlights the vital role of community engagement and education in managing and reducing DM cases. Keywords: Diabetes Mellitus, Community Education, Community Diagnosis   ABSTRAK Diabetes Melitus (DM) merupakan kondisi metabolik kronis yang umum, terutama mencolok di Tangerang, Indonesia, dengan dampak kesehatan yang signifikan. Studi ini bertujuan untuk menerapkan strategi yang difokuskan pada komunitas di Puskesmas Teluknaga untuk mendiagnosis, melakukan intervensi, dan mengevaluasi dampak pendidikan gaya hidup terhadap prevalensi DM di daerah tersebut. Studi ini menggunakan pendekatan diagnostik berbasis komunitas yang mencakup Paradigma Blum, teknik Delphi untuk prioritas masalah, dan analisis fishbone untuk mengidentifikasi penyebab akar dari DM. Intervensi melibatkan kuesioner pra/post-test dan sesi edukasi yang ditujukan di Desa Kampung Melayu Timur. Pemantauan menggunakan siklus PDCA. Temuan awal menunjukkan bahwa faktor gaya hidup secara signifikan berkontribusi pada prevalensi kasus DM. Intervensi pendidikan di Kampung Melayu Timur menghasilkan peningkatan substansial dalam pengetahuan, dengan peningkatan lebih dari 80% setelah intervensi. Pada tahun 2022, Desa Kampung Melayu Timur menunjukkan jumlah kasus DM tertinggi di wilayah Puskesmas Teluknaga. Studi ini menegaskan peran kunci gaya hidup dalam prevalensi tinggi DM. Pendidikan di Kampung Melayu Timur secara signifikan meningkatkan kesadaran akan DM. Pendekatan berbasis komunitas efektif mengurangi beban DM di Tangerang, menekankan signifikansinya dan potensinya untuk aplikasi yang lebih luas. Ini menyoroti peran penting keterlibatan dan pendidikan masyarakat dalam mengelola dan mengurangi kasus DM. Kata Kunci: Diabetes Melitus, Penyuluhan Masyarakat, Diagnosis Komunitas
Determinants of Measles Immunization Completeness and the Effect of Community Health Education Among Parents in Banten Province, Indonesia Ajeng Retno Setiawati; Daniel Huang; Vini Claudya Agustine Rajagukguk; Silviana Tirtasari
Community Medicine and Education Journal Vol. 7 No. 2 (2026): Community Medicine and Education Journal
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/cmej.v7i2.900

Abstract

Measles remains a highly transmissible vaccine-preventable disease and a sensitive marker of immunization-system performance, with global elimination stalling as coverage falls below the 95% herd-immunity threshold; sub-optimal parental health literacy and incomplete immunization sustain community transmission in Indonesia. This study aimed to quantify parental knowledge, attitudes and practices (KAP) toward measles prevention, determine immunization completeness and its determinants, and evaluate a community health-education intervention. A cross-sectional community-diagnosis study with a single-group pre-/post-test design was conducted among 30 parents/guardians of children aged 0-59 months to primary-school age in a primary health center catchment area in Banten Province, Indonesia. Data were collected with a validated KAP questionnaire (Cronbach's alpha 0.76-0.83) and immunization-record screening; analyses included Wilson confidence intervals, McNemar tests, logistic regression and effect sizes. Baseline knowledge was low in 66.7% of respondents (95% CI 48.8-80.8), and measles-immunization completeness was 80.0% (95% CI 62.7-90.5), below the elimination target. Low parental knowledge showed the strongest, though non-significant, association with incomplete immunization (OR 3.00, 95% CI 0.30-29.94; adjusted OR 10.06, 95% CI 0.75-135.58, p=0.082). After health education, the proportion of respondents scoring >=70 rose from 10.0% to 93.3% (McNemar p<0.001; Cohen's h=1.98), and mean knowledge improved from 51.5 to 84.6 (Cohen's d_z=2.24). Community health education substantially improved measles-prevention literacy, while a residual immunization gap persisted. Strengthening parental education and immunization monitoring at the primary-care level supports measles control and advances SDG 3 and SDG 10.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA SISWA/I SMP MUTIARA BANGSA KECAMATAN RAJABASA BANDAR LAMPUNG  Salsabilla Kalila Irene; Silviana Tirtasari
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 2 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/f009wc80

Abstract

Menurut World Health Organization (WHO), praktik mencuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko terkena diare hingga 47%.Namun,berdasarkan hasil survei Environmental Services Program (ESP), hanya 6–12% masyarakat Indonesia yang melakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS) secara benar. Di wilayah Provinsi Lampung, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kebiasaan CTPS yang tepat mencapai 54,30% di Lampung Tengah dan 38,90% di Lampung Utara. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Mutiara Bangsa, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, dimana tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik siswa terkait CTPS masih tergolong rendah. Hal ini diduga akibat belum optimalnya pelaksanaan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), sehingga pendidikan kesehatan belum sepenuhnya efektif dalam membentuk perilaku hidup bersih dan sehat di kalangan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa SMP di Bandar Lampung terkait cuci tangan menggunakan sabun, dengan menggunakan pendekatan deskriptif melalui desain penelitian potong lintang yang dilaksanakan di SMP Mutiara Bangsa, Kecamatan Rajabasa. Sebagian besar siswa SMP Mutiara Bangsa di Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung (58,2%) memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai praktik CTPS. Selain itu, 37,3% siswa menunjukkan perilaku CTPS yang kurang baik, dan sebanyak 51,6% memiliki sikap negatif terhadap kebiasaan cuci tangan dengan sabun. Mayoritas siswa SMP Mutiara Bangsa Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung telah menerapkan perilaku mencuci tangan yang sesuai selama proses pembelajaran tatap muka, terutama berkaitan dengan waktu dan langkah mencuci tangan yang benar.
STUDI DESKRIPTIF : PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU HAND HYGIENE PADA TENAGA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SARTIKA ASIH BANDUNG Jihan Putri Dianti; Silviana Tirtasari
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 2 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/8tsr5152

Abstract

Infeksi nosokomial (Health-Care Associated Infections/HAIs) merupakan masalah serius dalam pelayanan kesehatan, yang dapat dicegah melalui penerapan hand hygiene yang tepat. Namun, tingkat kepatuhan tenaga kesehatan terhadap prosedur ini masih tergolong rendah di berbagai fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktik hand hygiene di kalangan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih Bandung. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif dan menggunakan pendekatan "cross-sectional". Teknik total sampling untuk memilih sampel, yang terdiri dari 427 responden dari berbagai bidang di rumah sakit. Kuesioner terdiri dari tiga komponen: pengetahuan, sikap, dan perilaku. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki sikap positif (97,4%), perilaku positif (98,1%), dan pengetahuan sangat baik (98,8%) mengenai praktik hand hygiene. Hal ini menunjukkan bahwa tenaga kesehatan di Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih telah memiliki pemahaman dan kesadaran yang tinggi mengenai pentingnya hand hygiene dalam mencegah infeksi nosokomial. Temuan ini mendukung pentingnya pelatihan dan edukasi berkelanjutan untuk mempertahankan dan meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur hand hygiene.
PERAN INTERVENSI PENYULUHAN PHBS DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DI SMPN 1 KLARI KARAWANG Nasywa Syahida Wulandari; Silviana Tirtasari
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 2 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/zpf7q169

Abstract

PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) adalah kebiasaan sehat yang diajarkan di sekolah melalui 8 indikator. Siswa SMP termasuk kelompok rentan karena sering mengabaikan pola hidup sehat seperti kurang memperhatikan makanan bergizi dan malas cuci tangan. Edukasi PHBS sejak dini penting untuk membangun kesadaran kesehatan jangka panjang. Tujuan Penelitian ini menganalisis untuk meningkatkan pengetahuan PHBS pada siswa SMPN 1 Klari sebelum dan setelah edukasi. Metode quasi-eksperimental dengan one group pretest-posttest digunakan pada 64 responden yang dipilihsecaranon-randomconveniencesampling. Datadalampenelitianinidiperolehmelaluihasil pengisian kuesioner dengan 20 item soal pengetahuan terkait PHBS di sekolah. Edukasi diberikan melalui presentasi power point. Data analisis secara statistic menggunakan paired sample t-test, menunjukkan peningkatan signifikan pada rata-rata nilai pengetahuan PHBS dari skor rata-rata 60,08 (pretest) menjadi 94,38 (posttest) dengan perbedaan selisih 34,3 (p-value=0,001) dan (95% CI: 31.933-36.661). Edukasi PHBS secara signifikan terbukti efektif dan meningkatkan pengetahuan siswa sehingga disarankan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan di sekolah.
Co-Authors Ajeng Retno Setiawati Alfi Sri Fachriyah Alicia Sarijuwita Ardianto , Son Bayu Ifana, Shomadya Bernadette, Karen Budi, Erwin Chananta, Truelly Juniette Daniel Huang Darmawan, Yenny Dewanti, Puspa Dinda Nurhaliza Drajat, Radhiyya Tsabitah Ella Windasari Gultom Ella Windasari Gultom Emia Debora P Emia Debora P Fairuz Zefiro Letius Farid, Ivanov Radhitya Ginting, Silvie Anastasya Hafidz, Rosya Aulia Fadhilah Irawaty, Enny Jihan Putri Dianti Junitia, Belinda Kintan Permata Hidayat kumoro, Belinda Kurniadi, Benita Arini Latiza, Shania Lontoh, Susi Olivia Lontoh, Susy Olivia Lou, Michell Veronica Lulu Naeluvar Maharani, Nadila Putri Margaretha Pramesthi Utari Margaretha Pramesthi Utari Massie, Andrew Christian Maxentian Maryon, Reyhan Ariel Michael Wijaya Gunawan Mufadhdhal, Raihan Adham Muhammad Akbar Akbar Muhammad Akbar Nasution Muhammad Kharis Mahdaviqia Mulyadi, Ezra Michael Mulyono, Halim Angga Murtawi, Siti Fatimah Ruchjayani Nadhira Rachma Kamila Nadia, Sabina Ayu Nadira Rachma Kamila Nasrin Kodim Nasywa Syahida Wulandari Nia Maylani Hutagaol Novendy Novendy Novendy Novendy Novendy Novendy, Novendy Nugroho, Dodo Oktavia , Anissya Rima Pangesti, Rahma Dinda Pertiwi, Kang Heji Dian Priscilla Elnatan Christina Priscilla Elnatan Christina Putri, Adinda Zhafira Dyanti Rasyid, Meriana Sadewa, Mahardika Maghfirani Salsabilla Kalila Irene Sherren Tanzia Sherren Tanzia Tanzia Shomadya Bayu Ifana Sikomena, Vania Vibri Simatupang, Eirene Priscilla Caroline Simatupang, Natasya Theresia Sirait, Anggi Cahaya Millenia S Siufui Hendrawan Siufui Hendrawan Susy Olivia Tamara Muliani Tamara Muliani Tania Yumna Dzahabiyyah Tanzil, Keith William Thuan Su Tjahjono, Clarence Miracle Tjunaity, Stefany Tomi Wijaya Tomi Wijaya Vini Claudya Agustine Rajagukguk Wahyuni, Octavia Dwi Wynne Pratiwi Wynne Pratiwi Yenita Angela Yolanda, Desi Witri Zefiro Letius, Fairuz