Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS DI RSIA ACEH TAHUN 2022 Nur Akmal; Radhiah Zakaria; Putri Ariscasari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 3 (2023): SEPTEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i3.17227

Abstract

Rumah sakit atau layanan kesehatan menghasilkan limbah yaitu 80% limbah umum dan 20% limbah bahan berbahaya yang mungkin menular, radioaktif serta beracun Pengelolaan limbah medis di RS yang sesuai standar sangat penting untuk mengurangi gangguan kesehatan dan pencemaran lingkungan, salah satunya dengan melaksanakan pengelolaan limbah sesuai dengan Peraturan Pemerintah LHK No. 56 tahun 2015. Tujuan Penelitian untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pengelolaan Limbah Medis di Rumah Sakit Ibu dan Anak Pemerintah Aceh di Banda Aceh tahun 2022. Desain penelitian ini dalam bentuk descriptive analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perawat dan staf di RSIA Banda Aceh tahun 2022 yang berjumlah 267 perawat. Teknik sampel secara accidental sampling sebanyak 73 sampel. Pengumpulan data dilakukan  pada 14-15 November 2022 dengan menggunakan kuesioner melalui wawancara. Analisis data menggunakan uji Chi-Square.Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 39,7% pengelolaan limbah baik, 52,1% pengetahuan baik, 58,9% sikap positif, 52,1% masa kerja lama, 57,5% ada pelatihan dan 49,3% fasilitas lengkap. Hasil uji chi-square diperoleh bahwa ada hubungan pengetahuan (p value = 0.005), ada hubungan sikap (p value = 0.017), ada hubungan masa kerja (p value = 0.019), ada hubungan pelatihan (p value = 0.037), dan ada hubungan fasilitas (p value = 0.006) dengan pengelolaan limbah medis di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Pemerintah Aceh Di Banda Aceh tahun 2022.  Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa semua variabel memiliki hubungan dengan pengelolaan limbah medis di Rumah Sakit Ibu dan Anak Pemerintah Aceh di Banda Aceh tahun 2022.
EVALUASI PROSES PROGRAM PELATIHAN SAFETY MANDATORY TRAINING (SMART) PADA PT. HARMONI PANCA UTAMA DAN PT. HASTA PANCA MANDIRI UTAMA Putri Ariscasari; Indri Hapsari Susilowati; Wardiati Wardiati
Jurnal Kesehatan dan Keselamatan Kerja Universitas Halu Oleo Vol 2, No 1 (2021): Jurnal Kesehatan dan Keselamatan Kerja Universitas Halu Oleo (JK3UHO)
Publisher : FKM Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/jk3-uho.v2i1.18630

Abstract

PT. Harmoni Panca Utama (HPU) dan PT. Hasta Panca Mandiri Utama (HPMU) merupakan perusahaan penyedia jasa pertambangan batu bara dan mineral. Kedua perusahaan tersebut telah mengembangkan upaya pencegahan insiden melalui pelatihan Safety Mandatory Training (SMART) untuk seluruh foreman, supervisor dan superintendent. Namun output pelaksanaan program ini belum memenuhi target yang ditetapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan program SMART ditinjau dari elemen dose delivered dan reach. Evaluasi proses dilakukan dengan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi dokumen pelaksanaan pelatihan. Total partisipan yang diwawancarai berjumlah 14 orang yang terdiri dari pembina, pelaksana dan penerima program. Hasil kajian komponen dose delivered menunjukkan bahwa materi pelatihan sudah disampaikan secara menyeluruh, akan tetapi kompetensi pemateri tidak memiliki kualifikasi yang memadai (pemateri tidak memiliki sertifikat Training of Trainer (ToT)) yang mana akan mempengaruhi kualitas dan kehandalan pemateri dalam menyampaikan materi training. Analisis terhadap komponen reach menunjukkan bahwa pencapaian partisipasi program masih jauh dari target yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan jumlah pelaksana program, kurangnya motivasi penerima program untuk mengikuti pelatihan, angka turn over dan perpindahan pekerja yang tinggi serta kurang memadainya kompetensi pelatih. Disarankan kepada perusahaan untuk menyusun Standard Operational Procedure (SOP) yang dijadikan sebagai acuan implementasi pelatihan dan meningkatkan kompetensi pelatih melalui program TOT.
FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN LOW BACK PAIN (LBP) PADA PETANI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN KLUET SELATAN KABUPATEN ACEH SELATAN Rika Irma Rasmi; Radhiah Zakaria; Putri Ariscasari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.15416

Abstract

Low Back Pain atau Nyeri Punggung Bawah merupakan nyeri pada bagian punggung bawah, nyeri ini termasuk nyeri lokal (inflamasi) maupun nyeri radikuler. Sebesar 60 – 80% populasi di dunia terdeteksi nyeri pinggang bawah atau disebut juga dengan Low Back Pain (LBP) selama hidupnya. Data untuk jumlah penderita Low Back Pain (LBP) belum diketahui secara pasti, diperkirakan 7,6 % - 37% dari jumlah keseluruhan masyarakat indonesia menderita Low Back Pain (LBP). Petani merupakan salah satu profesi/pekerjaan yang berisiko mengalami LBP. Tujuan penelian Untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian Low Back Pain (LBP) pada petani di wilayah kerja Puskemas Kecamatan Kluet Selatan Kabupaten Aceh Selatan. Penelitian ini dilakukan dengan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani yang berjumlah 588 KK. Pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin sebanyak 83 orang. Pengumpulan data dilakukan selama 6 hari dari tanggal 29 Desember 2022 – 3 Januari 2023 menggunakan kuesioner melalui wawancara. Analisis data yang digunakan yaitu uji analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil analisis univariat uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Usia (p-value : 0,000), Upaya Promosi Kesehatan (p-value : 0,000) Masa Kerja (p-value : 0,001), Indeks Massa Tubuh (IMT) (p-value : 0,002), dan Kebiasaan Merokok (p-value :0,004) dengan kejadian Low Back Pain (LBP) pada petani di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Kluet Selatan Kabupaten Aceh Selatan. Diharapkan kepada petugas Puskesmas Kecamatan Kluet Selatan Kabupaten Aceh Selatan untuk dapat memberikan penyuluhan dan edukasi serta pembinaan Low BackPain (LBP) seperti senam dan aktivitas fisik untuk mengurangi resiko terjadinya Low Back Pain (LBP).
FAKTOR RISIKO DENGAN PENGONTROLAN ASMA BRONCHIAL PADA PENDERITA ASMA BRONCHIAL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEURAXA Uswatul Khaira; Tahara Dilla Santi; Putri Ariscasari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 4 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i4.21979

Abstract

Prevalensi asma tertinggi sebesar 3,17% yang terdapat di kota Banda Aceh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko dengan pengontrolan asma bronchial pada penderita asma bronchial di wilayah kerja Puskesmas Meuraxa Kota Banda Aceh Tahun 2023. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang menderita asma bronchial di wilayah kerja Puskesmas Meuraxa Kota Banda Aceh berjumlah 112 orang. Pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin dan diperoleh sampel sebanyak 53 responden,  penetapan sampel dengan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data di lakukan dari tanggal 1 s/d 17 juni 2023 dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Data yang diperoleh di analisis menggunakan uji chi square dengan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asma bronchial yang tidak terkontrol sebanyak 60,4% sedangkan yang terkontrol sebagian sebanyak 39,6%, pada variabel independen yang ada riwayat keluarga sebanyak 75,5%, aktivitas fisik ringan persentase 50,9% persentase yang ada paparan asap rokok sebanyak 60,4%, dan alergi sebesar 56,6%,  dan stres sedang sebesar 52,8%. Hasil analisis Bivariat menunjukkan ada hubungan antara riwayat keluarga (p =0,007), aktivitas fisik (p=0,000), paparan asap rokok (p =0,002), alergi (p=0,004) dan stres (p =0,001) dengan pengontrolan asma bronchial diwilayah kerja Puskesmas Meuraxa Kota Banda Aceh Tahun 2023. Disarankan kepada petugas kesehatan untuk terus memberikan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat agar menghindari segala bentuk faktor pencetus terjadinya asma bronchial.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN MSDs PADA OPERATOR ALAT BERAT DI PT. TATA BARA UTAMA SITE ACEH Mukhtamar, Reza; Dilla Santi, Tahara; Ariscasari, Putri
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 12 (2023): Volume 10 Nomor 12
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i12.11450

Abstract

Abstrak: Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan MSDs Pada Operator Alat Berat Di PT. Tata Bara Utama Site Aceh. MSDs merupakan suatu keluhan atau gangguan yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang ringan hingga terasa sangat sakit pada bagian muskuloskeletal yang meliputi bagian sendi, syaraf, otot maupun tulang belakang akibat pekerjaannya yang tidak alamiah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan MSDs pada operator alat berat di PT. Tata Bara Utama Site Aceh tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 230 orang. Sampel diperoleh secara accidental sampling sejumlah 70 responden. Penelitian dilakukan pada tanggal 20 Januari 2023. Data diperoleh dengan membagikan kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini menemukan bahwa pada umumnya responden yang mengalami keluhan MSDS resiko sedang adalah 42 orang (60%), umumnya responden (44.3%) memiliki masa kerja sedang, sebagian besar durasi kerja responden (58.6%) adalah normal, IMT responden rata-rata (74.3%) adalah normal. Pada umumnya (60%) usia responden termasuk kategori tidak beresiko, dan 40% lainnya termasuk dalam kategori beresiko. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara keluhan MSDs operator alat berat di PT. Tata Bara Utama Site Aceh dengan variabel masa kerja (P-value 0.000), durasi kerja (P-value 0.003), IMT (P-value 0.01), dan usia (P-value 0.000). Ada hubungan antara keluhan MSDs operator alat berat di PT. Tata Bara Utama Site Aceh dengan variabel masa kerja, durasi kerja, IMT, dan usia.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU KESELAMATAN DALAM MENGEMUDI PADA SOPIR TRUCK BANDA ACEH - MEDAN DI TERMINAL SANTAN INGIN JAYA KABUPATEN ACEH BESAR Munawar, Al; Arbi, Anwar; Ariscasari, Putri
Jurnal Medika Malahayati Vol 7, No 4 (2023): Volume 7 Nomor 4
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v7i4.12019

Abstract

Abstrak: Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Keselamatan Dalam Mengemudi Pada Sopir Truck Banda Aceh - Medan Di Terminal Santan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Sopir truk mempunyai peranan sangat penting sebagai motor penggerak pasokan barang dari suatu tempat ke tempat yang lain. Seperti halnya bidang pekerjaan yang lain, menjadi seorang sopir truck juga memiliki rasa lelah saat menjalani pekerjaannya. Kelelahan saat bekerja sebagai sopir truk berpotensi mengalami kecelakaan lalu lintas yang dapat mengancam keselamatan dirinya maupun orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku keselamatan dalam mengemudi pada sopir truk. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik yang dilaksanakan pada 15-20 Januari tahun 2023. Sopir truck Banda Aceh-Medan di Terminal Santan Ingin Jaya Aceh Besar berjumlah 108 orang menjadi populasi. Sampel sebanyak 52 responden menggunakan teknik accidental sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner dan dianalisis secara dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya (63,5%) perilaku keselamatan mengemudi tidak baik, 63,5% atasan tidak berperan, 59,6% tidak ada pelatihan mengemudi, 40,4% masa kerja kurang berpengalaman, dan 63,5% memiliki pengetahuan kurang. Anaisis bivariat menunjukkan bahwa hubungan antara peran atasan p-value 0,000, pelatihan mengemudi P-Value=0,000, masa kerja P-Value=0,001, pengetahuan P-Value=0,000. Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara peran atasan, pelatihan mengemudi, masa kerja, dan pengetahuan.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN PENDENGARAN PADA PEKERJA KILANG KOPI DI KECAMATAN TIMANG GAJAH KABUPATEN BENER MERIAH Mulia, Rizki; Ariscasari, Putri; Wardiati, Wardiati
Jurnal Medika Malahayati Vol 7, No 4 (2023): Volume 7 Nomor 4
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v7i4.11893

Abstract

Abstrak: Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Pendengaran Pada Pekerja Kilang Kopi Di Kecamatan Timang Gajah Kabupaten Bener Meriah. Keluhan pendengaran merupakan salah satu gangguan kesehatan yang berisiko menurunkan produktivitas pekerja. Pekerja yang menderita gangguan pendengaran, tidak hanya dilihat dari beberapa hal seperti kesulitan berbicara, tetapi juga bisa dilihat dari kondisi fisiologis pekerja itu sendiri. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan pendengaran pada Pekerja Kilang Kopi Di Kecamatan Timang Gajah Kabupaten Bener Meriah. Studi ini adalah penelitian deskriptif analitik. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pakerja pabrik kopi HM dan MJ yang berjumlah 41 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan tekhnik total population. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, dan di analisis dengan uji Chi-Square. Penelitian ini menemukan bahwa 58,5% pekerja mengalami keluhan pendengaran, 53,7% ada riwayat penyakit telinga, 51,2% tidak menggunakan alat pelindung telinga, 53,7% lama kerja tidak normal, 58,5% masa kerja lama, umur didominasi oleh dewasa awal yaitu 36,6%. Hasil analisis bivariat diketahui hubungan antara riwayat penyakit telinga (p-value=0,000), penggunaan alat pelindung telinga (p-value=0,000), lama kerja (p-value=0,000), masa kerja (p-value=0,000) dan tidak ada hubungan umur (p- value=0,061) dengan keluhan pendengaran pada Pekerja Kilang Kopi. Ada hubungan antara riwayat penyakit telinga, penggunaan alat pelindung telinga, lama kerja, masa kerja. Selanjutnya, tidak ada hubungan umur dengan keluhan pendengaran pada Pekerja Kilang Kopi di Kecamatan Timang Gajah Kabupaten Bener Meriah.
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Masyarakat Dalam Upaya Mencegah Penularan Penyakit Kusta Di Wilayah Kerja Puskesmas Ingin Jaya Kecamatan Aceh Besar Tahun 2023 Maulana, Aiga; Fahdhienie, Farrah; Ariscasari, Putri
J-KESMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 10, No 1 (2024): J-KESMAS Volume 10 Nomor 1, Mei 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jkesmas.v10i1.5068

Abstract

Kusta penyakit menular yang menyebabkan kecacatan. Penyakit ini menimbulkan masalah tidak hanya dari segi medis tetapi sampai masalah ekonomi, sosial dan budaya. Juga dampak pada hilangnya produktifitas seseorang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku Masyarakat dalam upaya mencegah penularan penyakit kusta. Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional. Analisis data menggunakan uji Chi-square. Populasi dalam penelitian ini seluruh keluarga yang ada di 8 desa bertempat tinggal diwilayah kerja puskesmas ingin jaya sebanyak 1.999 kk. Pengambilan sampel menggunakan rumus slovin sebanyak 95 kk. Hasil penelitian ini terdapat hubungan antara pengetahuan (p-value 0,010), sumber informasi p-value (0,001), sikap p-value (0,001), peran tenaga kesehatan (p-value 0,001), stigma (p-value 0,022) dengan perilaku masyarakat dalam Upaya pencegahan penyakit kusta.
NOISE INTENSITY ANALYSIS OF TINNITUS COMPLAINTS IN COFFEE FACTORY WORKERS IN BANDAR DISTRICT, BENER MERIAH REGENCY IN 2020 Lestari, Citra Yuli; Ariscasari, Putri; Santi, Tahara Dilla
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 9, No 2 (2023): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v9i2.2052

Abstract

Background:Tinnitus is a health disorder that risks reducing worker productivity. Tinnitus is a common risk experienced by workers with high noise levels and long duration of noise exposure. Hearing loss in coffee factory workers can be caused by several factors including noise intensity, age, working hours per day, and length of service. The production section is a section that has a high risk of noise, this section carries out coffee grinding activities which require them to work optimally to produce quality products. Method: This research is descriptive analytic with a cross-sectional design. The population in this study were all workers from 3 coffee factories in Bener Meriah, totaling 47 people. The sampling technique uses the total population technique. Data collection was carried out using a questionnaire, then statistical tests were carried out using the chi-square test, and data were analyzed using SPSS. Results: All workers (100%) complained of tinnitus with varying degrees of severity, 89.4% of workers were young, 87.2% had no previous history of ear disease, 72.3% of working hours did not meet standards, 61.7% had been working for a long time. From the results of statistical tests, it can be concluded that there is a relationship between age (p value=0.002), working hours per day (p value=0.037), length of service (p value=0.001), and complaints of tinnitus in coffee milling factory workers. Only one variable, a history of ear disease (p value=0.078), was not associated with tinnitus complaints. Recommendation: It is recommended that every coffee grinding factory owner provide ear protective equipment (APT) for every worker in his factory to avoid complaints of tinnitus.
THE RELATIONSHIP OF 4 (FOUR) GOLD STANDARDS OF NUTRITION TO THE INCIDENT OF STUNTING IN TODDLERS IN TEN VILLAGES OF MONTASIK DISTRICT, ACEH BESAR REGENCY,IN 2020 Maulida, Hasra; Ariscasari, Putri; Amin, Fauzi Ali
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 9, No 2 (2023): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v9i2.2063

Abstract

Background: Stunting is an indicator of failure to grow optimally which is characterized by a height z score (TB) for age below -2 SD. Sustainable Development Goals (SDGs) target the prevalence of stunting in Indonesia to decrease by 19% in 2019-2024. Meanwhile in Indonesia, the prevalence of stunting is still 27.67%, and in ten villages in Montasik District it is also still relatively high at 25%. This research aims  to determine the relationship between 4 (four) gold standards of nutrition and the incidence of stunting among toddlers in ten villages in Montasik District, Aceh Besar Regency in 2020. Method: This research uses descriptive analytical method with a cross- sectional design. The population is all toddlers aged 6-59 months in ten villages of Montasik District. Sampling using the Slovin formula resulted 64 toddlers using proportional random sampling techniques. Data analysis used the Chi-Square test with the SPSS-18 application. Results: The results of the study showed that there was a relationship between IMD (p value=0.004), exclusive breastfeeding (p value=0.004), breastfeeding until the age of 2 years (p value=0.037), and birth spacing (p value=0.013) and there was no relationship between breastfeeding practices MP-ASI (p value=0.063), and maternal TB (p value=0.058) with the incidence of stunting in toddlers in ten villages in Montasik District, Aceh Besar Regency in 2020. Recommendation: It is hoped that the Montasik Community Health Center will improve the principles of the 4 (four) gold standards of nutrition for children starting from early initiation of breastfeeding (IMD), exclusive breastfeeding, and MP-ASI until the age of 2 years through counseling at the Posyandu in each village. Midwives are expected to play more active role so that they can provide education to mothers and expectant mothers, therefore  they can anticipate childbirth intervals of ≥ 2 years so that child intake can be met to reduce the incidence of stunting.