Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna Tata Rias Pengantin Adat Banjar Bagajah Gamuling Baular Lulut di Banjarmasin ULIMA ZADA, ALVINA; MASPIYAH
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n1.33126

Abstract

TATA RIAS WAJAH CIKATRI UNTUK KELAINAN KULIT PORT-WINE STAIN PADA PENGANTIN MUSLIM SRI WULANDARI, FAJRIA; MASPIYAH
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n1.33158

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) hasil jadi tata rias wajah cikatri untuk kelainan kulit port-wine stain pada pengantin muslim dan 2) mengetahui respon panelis terhadap hasil jadi tata rias wajah cikatri untuk kelainan kulit port-wine stain pada pengantin muslim. Metode pengumpulan data menggunakan lembar observasi oleh 30 observer. Teknik analisis data menggunakan rata-rata dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil jadi tata wajah cikatri untuk kelainan kulit port-wine stain menunjukkan rata-rata 3,53-3,73 dengan kategori sangat baik. Hasil respon observer mendapat hasil persentase 93.3-100% dengan kategori sangat baik. Sehingga hasil penelitian menunjukan bahwa respon observer dari tata rias wajah cikatri yang diaplikasikakn pada model dengan kelainan kulit port-wine stain sangat baik. Kata Kunci: Tata rias cikatri, Kelainan kulit port-wine stain.Abstract The purpose of this study was to determine 1) the results of cikatri facial make-up for port-wine stain skin disorders in Muslim brides and 2) determine the panelists response to the results of cikatri facial make-up for port-wine stain skin disorders in Muslim brides. The data collection method uses an observation sheet by 30 observers. The data analysis method uses averages and percentages. The results showed that the average value of cikatri makeup for port-wine stain skin abnormalities from the observation sheet filled by the observers showed an average of 3.53-3.73 with a very good category. The results of the observer response got a percentage of 93.3-100% with a very good category. So that the results of the study showed that the response of the observer from Cikatris makeup applied to the model with port-wine stain skin abnormalities was very good. Keywords: Cikatri make up, Port-wine stain skin disorders
TATA RIAS WAJAH CIKATRI UNTUK KELAINAN KULIT PORT-WINE STAIN PADA PENGANTIN MUSLIM SRI WULANDARI, FAJRIA; MASPIYAH
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n1.33159

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) hasil jadi tata rias wajah cikatri untuk kelainan kulit port-wine stain pada pengantin muslim dan 2) mengetahui respon panelis terhadap hasil jadi tata rias wajah cikatri untuk kelainan kulit port-wine stain pada pengantin muslim. Metode pengumpulan data menggunakan lembar observasi oleh 30 observer. Teknik analisis data menggunakan rata-rata dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil jadi tata wajah cikatri untuk kelainan kulit port-wine stain menunjukkan rata-rata 3,53-3,73 dengan kategori sangat baik. Hasil respon observer mendapat hasil persentase 93.3-100% dengan kategori sangat baik. Sehingga hasil penelitian menunjukan bahwa respon observer dari tata rias wajah cikatri yang diaplikasikakn pada model dengan kelainan kulit port-wine stain sangat baik. Kata Kunci: Tata rias cikatri, Kelainan kulit port-wine stain.Abstract The purpose of this study was to determine 1) the results of cikatri facial make-up for port-wine stain skin disorders in Muslim brides and 2) determine the panelists response to the results of cikatri facial make-up for port-wine stain skin disorders in Muslim brides. The data collection method uses an observation sheet by 30 observers. The data analysis method uses averages and percentages. The results showed that the average value of cikatri makeup for port-wine stain skin abnormalities from the observation sheet filled by the observers showed an average of 3.53-3.73 with a very good category. The results of the observer response got a percentage of 93.3-100% with a very good category. So that the results of the study showed that the response of the observer from Cikatris makeup applied to the model with port-wine stain skin abnormalities was very good. Keywords: Cikatri make up, Port-wine stain skin disorders
PEMANFAAN EKSTRAK DAUN BIDARA LAUT (STRYCHNOS LIGUSTRINA BLUME) UNTUK PEMBUATAN HAIRTONIC MUCHLISA; MASPIYAH
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33581

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui hasil jadi hair tonic dengan penambahan ekstrak daun bidara laut (strychnos lingustrina blume), dan (2) mengetahui kadar pH hair tonic yang paling disukai panelis, (3) mengetahui masa simpan hair tonic terbaik. Jenis penelitian adalah eksperimen, dengan variabel bebas jumlah penambahan ekstrak daun bidara laut yaitu : X1 (0,5gr), X2 (0,75gr), dan X3 (1gr). Variabel terikat, yaitu sifat fisik hair tonic yang meliputi aroma, warna, homogenitas, kesan pemakaian dan kesukaan panelis. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan metode observasi yang dilakukan oleh 10 orang panelis. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hair tonic yang paling baik yaitu hair tonic dengan penambahan ekstrak daun bidara laut 0,75gr (X2), dengan kriteria beraroma daun bidara laut, berwarna hijau kekuningan, homogen, dan terasa dingin dan mudah menyerap pada kulit. Ph hair tonic pada hari ke-7 yaitu memiliki kadar ph 6,58 dan pada hari ke-10 memiliki kadar ph 6,55. Hal tersebut berarti Hair tonic masih sesuai dengan SNI syarat hair tonic yaitu antara 3,0-7,0. Masa simpan hair tonic masih dapat digunakan sampai hari ke-10 karena jumlah mikroba masih sesuai dengan SNI hair tonic yakni dibawah 105. hasil angka lempeng total bakteri tersebut yaitu 3,2x101. Kata Kunci: Hair tonic, ekstrak daun bidara laut. Abstract The aim of this research is (1) to determine the effect of the results of being a hair tonic with the addition of strychnos lingustrina leaf extract different, on the physical properties of hair tonic and the panelists level of preference, (2) know the pH level of Hair tonic that panelists like best, (3) knowing the shelf life of the panelists most like. This research was an experiment, with the independent variable the amount of addition of strychnos lingustrina leaf extract namely : X1 (0.5gr), X2 (0.75gr), and X3 (1gr). Dependent variable, namely the physical nature of hair tonic which includes scent, color, homogeneity, impression of usage and panelist preference. Data collection technique is to use the method of observation conducted by 10 panelists. The data analysis technique used is quantitative descriptive analysis. The results showed that the most preferred hair tonic by panelists was hair tonic with the addition of 0.75gr (X2) strychnos lingustrina leaf extract, with scented criteria for strychnos lingustrina leaf, yellowish green, homogeneous, and felt cold and easily absorbed on the skin. Hair tonic ph on the 7th day has a pH level of 6.58 and on the 10th day has a pH level of 6.55. This means that Hair tonic is still in accordance with SNI hair tonic requirements, which is between 3.0-7.0. The shelf life of hair tonic can still be used until the 10th day because the number of microbes is still in accordance with SNI hair tonic which is below105. the result of total bacterial plate count is 3.2x101. Keywords : Hair tonic, strychnos lingustrina leaf extract.
PEMANFAAN EKSTRAK DAUN BIDARA LAUT (STRYCHNOS LIGUSTRINA BLUME) UNTUK PEMBUATAN HAIRTONIC MUCHLISA; MASPIYAH
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33582

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui hasil jadi hair tonic dengan penambahan ekstrak daun bidara laut (strychnos lingustrina blume), dan (2) mengetahui kadar pH hair tonic yang paling disukai panelis, (3) mengetahui masa simpan hair tonic terbaik. Jenis penelitian adalah eksperimen, dengan variabel bebas jumlah penambahan ekstrak daun bidara laut yaitu : X1 (0,5gr), X2 (0,75gr), dan X3 (1gr). Variabel terikat, yaitu sifat fisik hair tonic yang meliputi aroma, warna, homogenitas, kesan pemakaian dan kesukaan panelis. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan metode observasi yang dilakukan oleh 10 orang panelis. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hair tonic yang paling baik yaitu hair tonic dengan penambahan ekstrak daun bidara laut 0,75gr (X2), dengan kriteria beraroma daun bidara laut, berwarna hijau kekuningan, homogen, dan terasa dingin dan mudah menyerap pada kulit. Ph hair tonic pada hari ke-7 yaitu memiliki kadar ph 6,58 dan pada hari ke-10 memiliki kadar ph 6,55. Hal tersebut berarti Hair tonic masih sesuai dengan SNI syarat hair tonic yaitu antara 3,0-7,0. Masa simpan hair tonic masih dapat digunakan sampai hari ke-10 karena jumlah mikroba masih sesuai dengan SNI hair tonic yakni dibawah 105. hasil angka lempeng total bakteri tersebut yaitu 3,2x101. Kata Kunci: Hair tonic, ekstrak daun bidara laut. Abstract The aim of this research is (1) to determine the effect of the results of being a hair tonic with the addition of strychnos lingustrina leaf extract different, on the physical properties of hair tonic and the panelists level of preference, (2) know the pH level of Hair tonic that panelists like best, (3) knowing the shelf life of the panelists most like. This research was an experiment, with the independent variable the amount of addition of strychnos lingustrina leaf extract namely : X1 (0.5gr), X2 (0.75gr), and X3 (1gr). Dependent variable, namely the physical nature of hair tonic which includes scent, color, homogeneity, impression of usage and panelist preference. Data collection technique is to use the method of observation conducted by 10 panelists. The data analysis technique used is quantitative descriptive analysis. The results showed that the most preferred hair tonic by panelists was hair tonic with the addition of 0.75gr (X2) strychnos lingustrina leaf extract, with scented criteria for strychnos lingustrina leaf, yellowish green, homogeneous, and felt cold and easily absorbed on the skin. Hair tonic ph on the 7th day has a pH level of 6.58 and on the 10th day has a pH level of 6.55. This means that Hair tonic is still in accordance with SNI hair tonic requirements, which is between 3.0-7.0. The shelf life of hair tonic can still be used until the 10th day because the number of microbes is still in accordance with SNI hair tonic which is below105. the result of total bacterial plate count is 3.2x101. Keywords : Hair tonic, strychnos lingustrina leaf extract.
PEMANFAAN EKSTRAK DAUN BIDARA LAUT (STRYCHNOS LIGUSTRINA BLUME) UNTUK PEMBUATAN HAIRTONIC MUCHLISA; MASPIYAH
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33583

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui hasil jadi hair tonic dengan penambahan ekstrak daun bidara laut (strychnos lingustrina blume), dan (2) mengetahui kadar pH hair tonic yang paling disukai panelis, (3) mengetahui masa simpan hair tonic terbaik. Jenis penelitian adalah eksperimen, dengan variabel bebas jumlah penambahan ekstrak daun bidara laut yaitu : X1 (0,5gr), X2 (0,75gr), dan X3 (1gr). Variabel terikat, yaitu sifat fisik hair tonic yang meliputi aroma, warna, homogenitas, kesan pemakaian dan kesukaan panelis. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan metode observasi yang dilakukan oleh 10 orang panelis. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hair tonic yang paling baik yaitu hair tonic dengan penambahan ekstrak daun bidara laut 0,75gr (X2), dengan kriteria beraroma daun bidara laut, berwarna hijau kekuningan, homogen, dan terasa dingin dan mudah menyerap pada kulit. Ph hair tonic pada hari ke-7 yaitu memiliki kadar ph 6,58 dan pada hari ke-10 memiliki kadar ph 6,55. Hal tersebut berarti Hair tonic masih sesuai dengan SNI syarat hair tonic yaitu antara 3,0-7,0. Masa simpan hair tonic masih dapat digunakan sampai hari ke-10 karena jumlah mikroba masih sesuai dengan SNI hair tonic yakni dibawah 105. hasil angka lempeng total bakteri tersebut yaitu 3,2x101. Kata Kunci: Hair tonic, ekstrak daun bidara laut. Abstract The aim of this research is (1) to determine the effect of the results of being a hair tonic with the addition of strychnos lingustrina leaf extract different, on the physical properties of hair tonic and the panelists level of preference, (2) know the pH level of Hair tonic that panelists like best, (3) knowing the shelf life of the panelists most like. This research was an experiment, with the independent variable the amount of addition of strychnos lingustrina leaf extract namely : X1 (0.5gr), X2 (0.75gr), and X3 (1gr). Dependent variable, namely the physical nature of hair tonic which includes scent, color, homogeneity, impression of usage and panelist preference. Data collection technique is to use the method of observation conducted by 10 panelists. The data analysis technique used is quantitative descriptive analysis. The results showed that the most preferred hair tonic by panelists was hair tonic with the addition of 0.75gr (X2) strychnos lingustrina leaf extract, with scented criteria for strychnos lingustrina leaf, yellowish green, homogeneous, and felt cold and easily absorbed on the skin. Hair tonic ph on the 7th day has a pH level of 6.58 and on the 10th day has a pH level of 6.55. This means that Hair tonic is still in accordance with SNI hair tonic requirements, which is between 3.0-7.0. The shelf life of hair tonic can still be used until the 10th day because the number of microbes is still in accordance with SNI hair tonic which is below105. the result of total bacterial plate count is 3.2x101. Keywords : Hair tonic, strychnos lingustrina leaf extract.
PEMANFAAN EKSTRAK DAUN BIDARA LAUT (STRYCHNOS LIGUSTRINA BLUME) UNTUK PEMBUATAN HAIRTONIC MUCHLISA; MASPIYAH
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33584

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui hasil jadi hair tonic dengan penambahan ekstrak daun bidara laut (strychnos lingustrina blume), dan (2) mengetahui kadar pH hair tonic yang paling disukai panelis, (3) mengetahui masa simpan hair tonic terbaik. Jenis penelitian adalah eksperimen, dengan variabel bebas jumlah penambahan ekstrak daun bidara laut yaitu : X1 (0,5gr), X2 (0,75gr), dan X3 (1gr). Variabel terikat, yaitu sifat fisik hair tonic yang meliputi aroma, warna, homogenitas, kesan pemakaian dan kesukaan panelis. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan metode observasi yang dilakukan oleh 10 orang panelis. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hair tonic yang paling baik yaitu hair tonic dengan penambahan ekstrak daun bidara laut 0,75gr (X2), dengan kriteria beraroma daun bidara laut, berwarna hijau kekuningan, homogen, dan terasa dingin dan mudah menyerap pada kulit. Ph hair tonic pada hari ke-7 yaitu memiliki kadar ph 6,58 dan pada hari ke-10 memiliki kadar ph 6,55. Hal tersebut berarti Hair tonic masih sesuai dengan SNI syarat hair tonic yaitu antara 3,0-7,0. Masa simpan hair tonic masih dapat digunakan sampai hari ke-10 karena jumlah mikroba masih sesuai dengan SNI hair tonic yakni dibawah 105. hasil angka lempeng total bakteri tersebut yaitu 3,2x101. Kata Kunci: Hair tonic, ekstrak daun bidara laut. Abstract The aim of this research is (1) to determine the effect of the results of being a hair tonic with the addition of strychnos lingustrina leaf extract different, on the physical properties of hair tonic and the panelists level of preference, (2) know the pH level of Hair tonic that panelists like best, (3) knowing the shelf life of the panelists most like. This research was an experiment, with the independent variable the amount of addition of strychnos lingustrina leaf extract namely : X1 (0.5gr), X2 (0.75gr), and X3 (1gr). Dependent variable, namely the physical nature of hair tonic which includes scent, color, homogeneity, impression of usage and panelist preference. Data collection technique is to use the method of observation conducted by 10 panelists. The data analysis technique used is quantitative descriptive analysis. The results showed that the most preferred hair tonic by panelists was hair tonic with the addition of 0.75gr (X2) strychnos lingustrina leaf extract, with scented criteria for strychnos lingustrina leaf, yellowish green, homogeneous, and felt cold and easily absorbed on the skin. Hair tonic ph on the 7th day has a pH level of 6.58 and on the 10th day has a pH level of 6.55. This means that Hair tonic is still in accordance with SNI hair tonic requirements, which is between 3.0-7.0. The shelf life of hair tonic can still be used until the 10th day because the number of microbes is still in accordance with SNI hair tonic which is below105. the result of total bacterial plate count is 3.2x101. Keywords : Hair tonic, strychnos lingustrina leaf extract.
BENTUK DAN MAKNA TATA RIAS TRADISIONAL SENI TARI DRIL DALAM LANGEN TAYUB DI KECAMATAN PASIRIAN KABUPATEN LUMAJANG RAMADANI, RIZKA; MASPIYAH
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33700

Abstract

Abstrak Tari Dril dalam kesenian langen tayub sebagai warisan yang secara turun temurun harus dilestarikan sekaligus dikembangkan supaya menjadi daya tarik di daerah serta menjadi acuan dalam kesenian daerah. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi 1) bentuk tata riasawajah,apenataan rambut, busana serta aksesorisatari dril pada pertunjukan langenatayub di kecamatan Pasirian kabupaten Lumajang, dan 2) makna tata rias tradisional seni tari dril dalam langen tayub di kecamatan Pasirian Lumajang. Metode penelitian adalahapenelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metodeatriangulasi, yang meliputi 1) wawancara, 2) observasi, dan 3) dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata rias wajah waranggono atau tandak mempunyai gambaran sebagai ciri khas mencerminkan perempuan Jawa yang anggun. Waranggono adalah sebutan untuk penari tayub perempuan yang biasa dikenal dengan nama tandak sedangkan pramugari adalah sebutan untuk penari tayub laki-laki. Tata penataan rambut waranggono atau tandak mengenakan sunggar Jawa dan sanggul Ukel Konde. Busana yang dikenakan penari tayub perempuan adalah Jarik kuwung khas Jawa, kebaya sebagai penutup badan, kemben atau mekak sebagai kain penutup bagian dada, stagen, toso dan tali, selandang atau sampur, alas kaki atau Sandal.aAksesoris yang dikenakan penari tayub perempuan adalah bunga mawar, anting, bros, kalung, gelang dan cincin. Tata rias wajah pramugari ciri khas natural dan berwibawa laki-laki Jawa. Busana yang dikenakan pramugari adalah basofi, sebong jarik khas Jawa, celana panjang, sepatu, Blangkon. Seni tari dril yang terdapat dalam langen tayub di kecamatan Pasirian kabupaten Lumajang bermakna sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat Lumajang khususnya terhadap hasil bumi yang telah diperoleh. Kata Kunci: Tata Rias Tradisional Penari Dril, Waranggono atau Penari Perempuan, Pramugari atau Penari Laki-laki,Tari Dril, Kecamatan Pasirian. Abstract Dril dance in the langen tayub art as a legacy that has been passed down from generation to generation must be preserved as well as developed in order to be an attraction in the area and become a reference in regional art.The purpose of this study was to identify 1) the form of facial make-up, hair styling, clothing and dril dance accessories in the Langen Tayub performance in the Pasirian district of Lumajang Regency, and 2) the meaning of the traditional makeup of the Dril dance in Langen Tayub in the Pasirian Lumajang District.This research method is a descriptive study with a qualitative approach. Data collection techniques using the triangulation method, which includes 1) interviews, 2) observation, and 3) documentation. The results showed that the face makeup or waranggono tandak has a picture as a characteristic reflects the graceful Javanese women. Waranggono is a term for female tayub dancers commonly known as tandak while stewardess is a term for male tayub dancers. Hairdressing or tandak hairstyle wearing Javanese sunggul and Ukel Konde bun. Clothing worn by female tayub dancers is Javanese Jarik kuwung, kebaya as body covering, kemben or mekak as a cloth covering the chest, stagen, toso and rope, sling or sampur, Sandal or footwear. Accessories worn by womens tayub dancers are roses, earrings, brooches, necklaces, bracelets and rings. The makeup of a flight attendant or male dancer has natural and authoritative features of Javanese men. The clothing worn by flight attendants or male tayub dancers is basofi, a Javanese traditional finger, pants, shoes, Blangkon. Dril dance which is contained in Langen Tayub in Pasirian Sub-district, Lumajang Regency means as a form of gratitude for the people of Lumajang, especially for the products that have been.Keywords:Traditional Make-Up Dril Dancers, Waranggono or Female Dancers, Male Stewardes or Dancers, Dril Dance, Pasirian District
PERANAN PELATIHAN DALAM PENGUASAAN KEMAMPUAN MERIAS WAJAH PENARI MENTHOK-MENTHOK BAGI GURU TK PUSPITA NENGSIH, DESY; MASPIYAH
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33779

Abstract

Abstrak Tari menthok-menthok merupakan tari kreasi yang diiringi lagu dolanan yang berjudul sama nerasal dari Jawa Timur. Tarian ini masih sering dipentaskan dalam berbagai acara seperti gebyer senam gebyar tari anak TK, hari anak, pentas seni 17 Agustus, hari kartini, lomba tari anak kreasi, lomba tari, gelar lomba tari. Dalam setiap pementasan bisa menampilkan satu sampai tiga kelompok penari dan dirias olek guru TK sendiri. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui : 1) pelaksanaan pelatihan merias wajah penari menthok-menthok bagi guru TK, dan 2) hasil ketrampilan merias wajah penari menthok-menthok bagi guru TK. Henis penelitian adalah pre-eksperimen. Dilakukan dengan rancangan penelitian one shoot case study. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes ketrampilan. hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa pelaksanaan pelatihan merias wajah penari menthok-menthok meliputi persiapan rata-rata 4,7 kriteria baik,pelaksanaan rata-rata 4,5 kriteria baik, dan hasil ketrampilan rata-rata 4,7 kriteria baik, sedangkan hasil pelatihan peserta memperoleh nilai rata-rata tertinggi yaitu 8,1dan terendah yaitu 7,3 untuk hasil ketuntasan belajar peserta secara individu ada 27 peserta yang mendapat >75 dan secara klasikal ada 90% peserta yang mendapatkan nilai tuntas
KELAYAKAN MODUL AJAR KOMPETENSI MENATA SANGGUL DENDENG MODIFIKASI DI SMK JURUSAN TATA KECANTIKAN RAMBUT SEPTIANINGRUM CANDIKA PUTRI, ROSDIANA; MASPIYAH
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33904

Abstract

Abstrak Pada penelitian memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui kelayakan Modul Ajar Kompetensi Menata Sanggul Dendeng Modifikasi di SMK Jurusan Tata Kecantikan Rambut yang meliputi 1) Keterbacaan dan kemudahan dalam membaca modul, 2) Kesesuaian isi modul dengan judul modul, 3) Tingkat informative (mudah dipahami) modul tersebut dalam membantu peserta mempelajari dan menguasai materi pembelajaran, 4) Kemudahan dipraktekkan, dan 5) Tampilan modul secara keseluruhan. Metode ini merupakan penelitian pengembangan dengan model 4-D (four-D) design yang terdiri empat tahap yaitu: define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Metode pengumpulan data menggunakan observasi melalui google form kepada para ahli sebagai responden. Sedangkan analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian yang didapat yaitu 1) Keterbacaan modul dianggap sangat baik dengan nilai rata-rata 80, 2) Kesesuaian isi modul dianggap sangat baik dengan nilai rata-rata 85 , 3) Modul Ajar yang disajikan dianggap mudah dipahami dengan nilai 67% menilai cukup informative, 4) Modul dinilai cukup aplikatif dengan nilai 68% cukup aplikatif, 5) Tampilan modul secara keseluruhan dianggap informative dengan nilai 82% informative. Dapat disimpulkan modul penataan sanggul masuk dalam kategori baik. Kata Kunci: Modul Ajar, Sanggul Dendeng Abstract In this study has a goal that is to determine the feasibility of the Modification of the Modified Jerky Bun Hairstyles Competence Module in the Vocational School of Hair Beauty which includes 1) Readability and ease of reading modules, 2) The suitability of the contents of the module with the module title, 3) The level of informative (easily understood) module in helping participants learn and master learning material, 4) Ease of practice, and 5) Display of the module as a whole. This research method is a development study with a 4-D (four-D) design model which consists of four stages, namely: define, design, develop, and disseminate. The method of collecting data uses observation through Google forms to experts as respondents. While the data analysis uses quantitative descriptive. The results obtained are 1) Readability of the module is considered very good with an average value of 80, 2) The suitability of the contents of the module is considered to be very good with an average value of 85, 3) The teaching module presented is considered easy to understand with a value of 67% rate quite informative , 4) Module is considered quite applicative with a value of 68% quite applicative, 5) The overall appearance of the module is considered informative with a value of 82% informative. It can be concluded that the bun structuring module is included in the good category. Keywords: Teaching Module, Dendeng Bun