Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Hubungan Konsumsi Tablet Fe dengan Siklus dan Durasi Menstruasi pada Siswi SMA Negeri 1 Garut Fadilatunnisa Kamila; Noormartany; Ismawati
Bandung Conference Series: Medical Science 1553-1562
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22393

Abstract

Abstract. Blood loss during menstruation increases the need for iron, so iron tablet supplementation is given as an effort to prevent anemia. However, there is still a perception that iron tablet consumption can affect the menstrual cycle and duration. This study aims to analyze the relationship between iron tablet consumption and menstrual cycle and duration in female students of SMA Negeri 1 Garut. This study is an observational analytical study with a cross-sectional design. A sample of 244 female students was selected using Simple Random Sampling. The independent variable was iron tablet consumption, while the dependent variables included menstrual cycle and duration, with controlled variables being nutritional status, stress level, physical activity, sleep patterns, and age of menarche. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results showed that most respondents consumed iron tablets and had regular menstrual cycles and normal menstrual duration. There was no significant relationship between iron tablet consumption and menstrual cycle (p = 0.989) or menstrual duration (p = 0.372). This study concluded that iron tablet consumption was not significantly related to menstrual cycle and duration in female students of SMA Negeri 1 Garut. Abstrak. Kehilangan darah selama menstruasi meningkatkan kebutuhan zat besi, sehingga suplementasi tablet Fe diberikan sebagai upaya pencegahan anemia. Namun, masih terdapat persepsi bahwa konsumsi tablet Fe dapat memengaruhi siklus dan durasi menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan konsumsi tablet Fe dengan siklus dan durasi menstruasi pada siswi SMA Negeri 1 Garut. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 244 siswi yang dipilih menggunakan Simple Random Sampling. Variabel bebas adalah konsumsi tablet Fe, sedangkan variabel terikat meliputi siklus dan durasi menstruasi, dengan variabel terkontrol status gizi, tingkat stres, aktivitas fisik, pola tidur, dan usia menarche. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengonsumsi tablet Fe serta memiliki siklus menstruasi teratur dan durasi menstruasi normal. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi tablet Fe dengan siklus menstruasi (p = 0,989) maupun durasi menstruasi (p = 0,372). Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsumsi tablet Fe tidak berhubungan secara signifikan dengan siklus dan durasi menstruasi pada siswi SMA Negeri 1 Garut.
Perbedaan Indeks Mentzer dan Indeks Shine&Lal terhadap Elektroforesis Hb pada Pasien Talasemia Beta di RSUD Umar Wirahadikusumah Sumedang Reza Aulia Rahmasari; Noormartany; Sara Puspita
Bandung Conference Series: Medical Science 481-488
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22229

Abstract

Abstract. Beta thalassemia is a genetic disorder caused by impaired synthesis of the β-globin chain, resulting in decreased production of HbA. In Indonesia, the incidence of thalassemia continues to increase, necessitating early screening for the disease in order to reduce treatment costs. Hematologicalindex tests, including the Mentzer and Shine & Lal indices, are simple and inexpensive screening methods that can be applied in various health facilities. This study aims to analyze the suitability of these two indices in relation to Hb electrophoresis results in beta thalassemia patients at the Umar Wirahadikusumah Regional General Hospital in Sumedang. This study is an observational analytical study with a cross-sectional design using medical record data and Cohen's kappa analysis. The number of patients in this study was 33, dominated by children (84.8%). The results showed that the Shine & Lal Index (72.7%) was more likely to meet the criteria for thalassemia than the Mentzer Index (18.2%). Based on Cohen's Kappa test, there was no statistically significant difference (p = 0.097) between the two indices, but their agreement was very low (kappa = 0.154). Conclusion: It can be concluded that the Shine & Lal Index is superior in terms of calculation but not statistically significant. secara statistik. Keywords: Betha Thalassemia, Hb Electrophoresis, Hematology Index. Abstrak. Talasemia beta adalah kelainan genetik akibat gangguan sintesis rantai β-globin yang menyebabkan penurunan produksi HbA. Di Indonesia angka kejadian talasemia terus meningkat, sehingga diperlukan skrining awal penyakit yang tujuannya untuk menekan anggaran biaya pengobatan.Pemeriksaan indeks hematologi diantanya adalah indeks Mentzer dan Shine & Lal, merupakan metode skrining sederhana dan murah yang dapat diterapkan di berbagai fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis kesesuain kedua indeks tersebut terhadap hasil Hb elektroforesis pada pasien talasemia beta di RSUD Umar Wirahadikusumah Sumedang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional menggunakan data rekam medis, dengan menggunakan uji analisis cohen’s kappa. Jumlah data pasien penelitian ini sebanyak 33, didominasi oleh pasien anak (84,8%). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perhitungan Indeks Shine & Lal (72,7%) lebih banyak memenuhi kriteria talasemia dibandingkan dengan indeks mentzer (18,2%).Berdasarkan uji Cohen’s Kappa didapatkan tidak ada perbedaan signifikan statistik (p = 0,097) diantara kedua indeks, namun kesesuaian keduanya sangat rendah (kappa = 0,154). Kesimpulan: Sehingga dapat disimpulkan bahwa Indeks Shine & Lal lebih unggul secara perhitungan tetapi tidak bermakna secara statistik. Kata Kunci: Talasemia Beta, Hb Elektroforesis, Indeks Hematologi.
Hasil Tes Cepat Molekular TB Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Ibrahim Iza Nur Haq; Noormartany; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science 721-728
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22367

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) remains a significant public health problem in Indonesia, including West Java, which has the highest disease burden. Early and accurate diagnosis is essential to interrupt TB transmission, one of which is achieved through the Molecular Rapid Test (MRT), which can detect Mycobacterium tuberculosis while also indicating the degree of positivity as a marker of bacterial load. This study aimed to analyze differences in the degree of positivity of TB MRT results based on age and sex at Al-Islam Hospital Bandung. This study employed a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study population consisted of patients who underwent TB MRT examination at Al-Islam Hospital Bandung during the 2023–2025 period. Data were collected from secondary sources in the form of medical records using purposive sampling, resulting in 385 samples. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods with the Chi-square test through SPSS version 29.0. The results showed a statistically significant association between age and sex with TB MRT results (p<0.05). The adult age group (45–59 years) and male patients exhibited higher MRT positivity levels compared to other groups. These findings indicate that biological, hormonal, and behavioral factors contribute to the increased bacterial load in TB patients. In conclusion, adult age and male sex are important risk factors for higher TB MRT positivity levels. It is recommended that TB screening and control strategies prioritize high-risk groups to support the achievement of TB elimination targets. Abstrak. Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, termasuk di Jawa Barat yang memiliki beban kasus tertinggi. Diagnosis dini dan akurat sangat penting untuk memutus rantai penularan TB, salah satunya melalui Tes Cepat Molekuler (TCM) yang mampu mendeteksi Mycobacterium tuberculosis sekaligus menggambarkan derajat positivitas sebagai indikator beban bakteri. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan derajat positivitas hasil pemeriksaan TCM TB berdasarkan usia dan jenis kelamin di RS Al-Islam Bandung.Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Objek penelitian adalah pasien yang menjalani pemeriksaan TCM TB di RS Al-Islam Bandung periode 2023–2025. Data dikumpulkan dari sumber sekunder berupa rekam medis dengan teknik purposive sampling sebanyak 385 sampel. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square melalui SPSS versi 29.0.Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia dan jenis kelamin dengan hasil TCM TB (p<0,05). Kelompok usia dewasa (45–59 tahun) dan pasien laki-laki memiliki tingkat positivitas TCM yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor biologis, hormonal, dan perilaku berperan dalam tingginya beban bakteri TB.Disimpulkan bahwa usia dewasa dan jenis kelamin laki-laki merupakan faktor risiko penting terhadap tingginya derajat positivitas TCM TB. Disarankan agar strategi skrining dan pengendalian TB difokuskan pada kelompok berisiko tinggi untuk mendukung pencapaian target eliminasi TB.
Hubungan Stunting Anak Usia 2-4 Tahun dengan Hipertensi dalam Kehamilan Farhan Fauzan; Noormartany; Rika Nilapsari
Bandung Conference Series: Medical Science 907-914
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22420

Abstract

Abstract. Hypertension in pregnancy is a major obstetric complication that significantly affects maternal health and fetal growth, including the risk of childhood stunting. This study aimed to analyze the association between maternal hypertension and stunting among children at Kawalu Primary Health Center, Tasikmalaya City, during 2021–2024. A case-control design was employed using secondary medical record data, consisting of 192 subjects: 96 cases (stunted children) and 96 controls (non-stunted children). Samples were selected through total sampling based on inclusion criteria. Data were analyzed using the Chi-Square test and Odds Ratio (OR). The results showed that 52.1% of pregnant women experienced hypertension, and 50% of children were stunted. A significant association was found between maternal hypertension and child stunting (p = 0.001), with an OR of 4.01, indicating that hypertensive mothers had four times higher risk of having stunted children than non-hypertensive mothers. These findings highlight maternal hypertension as an important risk factor for impaired child growth, underscoring the need to strengthen hypertension screening and management as part of stunting prevention efforts. Abstrak. Hipertensi pada kehamilan merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang berdampak besar terhadap kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin, termasuk risiko terjadinya stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kejadian stunting pada anak dengan riwayat ibu terdapat hipertensi dalam kehamilan Penelitian menggunakan desain case-control dengan data sekunder rekam medis subjek sebanyak 1438 anak stunting dan data ibu hamil, terdiri dari 925 kasus (anak stunting) dan 513 kontrol (anak tidak stunting). Pemilihan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling berdasarkan kriteria inklusi. Data dianalisis melalui uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,1% ibu hamil mengalami hipertensi dan 50% anak usia 2-4 tahun mengalami stunting. Terdapat hubungan signifikan antara hipertensi ibu hamil dan kejadian stunting (p = 0,001). Temuan ini menegaskan bahwa hipertensi pada masa kehamilan berperan penting dalam hambatan pertumbuhan anak, sehingga skrining dan penanganan hipertensi perlu diperkuat dalam upaya pencegahan stunting.