Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENGARUH WORKPLACE STRETCHING EXERCISE TERHADAP KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS PADA MAHASISWA KEPERAWATAN UNIVERSITAS UDAYANA PADA MASA PANDEMI COVID-19 Hariani, Ni Wayan Deva Diah; Prapti, Ni Ketut Guru; Antari, Gusti Ayu Ary
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 5 (2023): Oktober 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i05.p06

Abstract

Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan serangkaian sakit atau rasa tidak nyaman yang sering dikeluhkan oleh mahasiswa keperawatan selama pembelajaran daring. Salah satu intervensi yang dapat mengurangi keluhan muskuloskeletal adalah Workplace Stretching Exercise (WSE). WSE merupakan serangkaian peregangan aktif yang dapat dilakukan di tempat kerja. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh WSE terhadap MSDs. Penelitian ini merupakan penelitian pre-experimental dengan rancangan one group pre-test post-test only. Sampel pada penelitian ini berjumlah 28 mahasiswa yang tergabung dalam satu kelompok dengan menggunakan teknik purposive sampling. Keluhan muskuloskeletal diukur menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM). Jenis keluhan sebelum diberikan intervensi yang paling sering dialami oleh mahasiswa adalah di bahu kanan 78,6%. Setelah diberikan intervensi keluhan paling sering adalah leher atas 53,6%. Skor rata-rata MSDs sebelum dan setelah diberikan intervensi mengalami penurunan dari 51,00 menjadi 39,25. Analisis data menggunakan uji statistik Wilcoxon test pada tingkat kemaknaan 95% didapatkan hasil p-value 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh WSE terhadap MSDs pada mahasiswa keperawatan Universitas Udayana.
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG CARDIOPULMONARY RESUSCITATION MELALUI PELATIHAN BASIC LIFE SUPPORT PADA PECALANG DAN KADER DI DESA WISATA BONGAN TABANAN Suindrayasa, I Made; Manangkot, Meril Valentine; Juniartha, I Gusti Ngurah; Antari, Gusti Ayu Ary
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 3 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i03.p14

Abstract

Desa Wisata adalah satu program yang dibuat oleh satu desa yang bertujuan untuk menarik kunjungan wisatawan. Bongan merupakan salah satu desa wisata yang ada di Bali yang sedang berkembang. Industri pariwisata harus didukung oleh berbagai aspek khususnya kesehatan. Ketika melakukan pertolongan dalam situasi kegawatdaruratan, seseorang harus mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif. Pengetahuan menolong meliputi pemahaman dalam prinsip, langkah, dan tata cara menolong. Sikap positif dalam menolong adalah posisi seseorang dalam berkeinginan untuk menolong sehingga nanti ditunjukkan dengan perilaku menolong. Persiapan, pencegahan, dan penanganan kondisi kegawatdaruratan yang baik akan memberikan rasa aman bagi wisatawan yang berkunjung dan pelaku jasa pariwisata yang ada di desa wisata. Pecalang dan kader merupakan perwakilan dari masyarakat yang dapat diandalkan saat terjadi kondisi-kondisi kegawatdaruratan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Pelatihan Basic Life Support terhadap pengetahuan dan sikap pecalang dan kader dalam penanganan kegawatdaruratan khususnya tentang cardiopulmonay resuscitation. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan metode quasi experimental dengan pre-post test. Perlakuan yang diberikan berupa Pelatihan Basic Life Support berupa ceramah, demontrasi, tanya jawab yang dilaksanakan secara tatap muka. Hasil analisis data menggunakan uji Wilcoxon didapatkan nilai p-value < 0,05 menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan sikap tentang penanganan kegawatdaruratan khususnya tentang cardiopulmonay resuscitation melalui pelatihan BLS.
ANALISIS PENGARUH BEBAN GEJALA TERHADAP KUALITAS HIDUP ANAK KANKER YANG MENJALANI KEMOTERAPI Devi, Ni Luh Putu Shinta; Lestari, Made Pande Lilik; Antari, Gusti Ayu Ary
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 12 No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i01.p01

Abstract

Anak kanker dapat mengalami berbagai permasalahan baik secara fisik maupun psikologis yang seringkali tidak teridentifikasi dengan baik. Tingginya beban gejala yang dialami oleh anak dapat berisiko menyebabkan anak merasa tertekan dan dapat mempengaruhi kualitas hidup anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat besar pengaruh dari beban gejala anak kanker terhadap kualitas hidup anak. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di ruang rawat inap anak RSUP Prof. I.G.N.G Ngoerah Denpasar. Sampel pada penelitian ini berjumlah 32 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data demografi responden, beban gejala anak kanker yang dinilai menggunakan Memorial Symptom Assessment Scale (MSAS) (7-12) dan kualitas hidup anak yang dinilai menggunakan PedsQL 3.0 Cancer Module. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan regresi linier sederhana didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara beban gejala dengan kualitas hidup anak kanker (p=0,00005; ?=0,05). Hubungan beban gejala dengan kualitas hidup anak kanker menunjukkan hubungan kuat (r=0,685) dan berpola negatif artinya semakin tinggi beban gejala yang dirasakan anak maka semakin rendah kualitas hidup anak. Beban gejala juga ditemukan dapat mempengaruhi kualitas hidup anak sebesar 46,9%.
INTERVENSI MENGUNYAH PERMEN KARET DALAM MENGURANGI KELUHAN HAUS BERLEBIH DAN MENGATASI HIPERVOLEMIA PADA PASIEN HEMODIALISIS: STUDI LITERATUR Anwar, I Made Dyanta; Antari, Gusti Ayu Ary; Astuti, Ika Widi
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i06.p02

Abstract

Hipervolemia adalah kondisi kelebihan cairan yang biasanya dialami oleh pasien gagal ginjal ketika menjalani rangkaian hemodialisis. Pasien hemodialisis dapat mengalami penambahan berat badan dalam waktu yang singkat diantara waktu dialisis akibat kegagalan fungsi ginjal. Kondisi hipervolemia ini diperberat dengan keluhan haus berlebih yang membuat pasien hemodialisis tidak patuh terhadap pembatasan cairan. Kondisi hipervolemia tersebut dapat menimbulkan masalah serius seperti berbagai komplikasi hemodialisis dan kematian. Untuk itu, salah satu fokus perawatan pasien hemodialisis adalah manajemen haus dan kondisi hipervolemia. Terapi alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan mengunyah permen karet. Perumusan permasalahan pada penelitian ini menggunakan metode PICO. Pencarian literatur dilakukan di database seperti Google Scholar, Pub Med, dan Science Direct. Kata kunci yang digunakan adalah “Pasien Hemodialisis AND mengunyah permen karet AND rasa haus”. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan Randomized Controlled Trial (RTC) dan Quasi-Experiment yang diterbitkan pada tahun 2019-2023. Kriteria eksklusi yang digunakan adalah literatur yang tidak tersedia dalam teks lengkap pada database. Berdasarkan hasil seleksi didapatkan 10 literatur yang memenuhi kriteria. Hasil analisis menunjukkan bahwa mengunyah permen karet dapat menurunkan kekeringan pada mulut, meningkatkan laju aliran air liur, menurunkan rasa haus, dan mengontrol hipervolemia. Penerapan intervensi mengunyah permen karet juga dikatakan mudah untuk dilakukan walaupun mungkin memiliki efek samping yang perlu untuk diteliti lagi. Studi ini menyimpulkan bahwa mengunyah permen karet dapat efektif dalam menurunkan rasa haus pada pasien hemodialisis. Oleh karenanya, mengunyah permen karet dapat diintegrasikan dalam pemberian asuhan keperawatan bagi pasien yang menjalani hemodialisis rutin.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN MANAJEMEN DIRI DIABETES PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Putri, Putu Laksmi Sri Ananda; Antari, Gusti Ayu Ary; Suarningsih, Ni Kadek Ayu
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 4 (2023): Agustus 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i04.p06

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang berisiko menimbulkan berbagai komplikasi. Manajemen diri diabetes memiliki peranan penting dalam mengendalikan dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Kejadian stres selama menjalani manajemen diri diabetes sering dialami oleh pasien diabetes melitus. Stres yang berkepanjangan secara langsung akan memberikan dampak pada kualitas hidup pasien diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan manajemen diri diabetes pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif korelasi dengan rancangan cross sectional pada 45 sampel yang diperoleh melalui teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Diabetes Distress Scale (DDS) dan Diabetes Self Management Questionaire (DSMQ). Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas pasien diabetes mengalami tingkat stres ringan (58%) dan telah memiliki manajemen diri diabetes baik (51%). Hasil uji statistik Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan sedang dan signifikan antara tingkat stres dengan manajemen diri diabetes pada pasien DM tipe 2 (r = -0,504; ?-value =0,000). Selain itu, terdapat hubungan terbalik antara tingkat stres dengan manajemen diri diabetes. Tingkat stres yang buruk akan menurunkan manajemen diri diabetes pada pasien DM tipe 2.
HUBUNGAN EFIKASI DIRI KELUARGA DENGAN FREKUENSI KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA SELAMA PANDEMI COVID-19 DI RSJ PROVINSI BALI Diastuti, Ni Nyoman Parayoni; Swedarma, Kadek Eka; Antari, Gusti Ayu Ary
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i06.p01

Abstract

Pasien skizofrenia selama menjalani perawatan sering mengalami kekambuhan bahkan di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut datang dari keluarga sebagai caregiver. Caregiver memerlukan efikasi diri atau keyakinan diri untuk melakukan perawatan yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri keluarga dengan frekuensi kekambuhan pasien skizofrenia selama pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi korelasional dengan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara langsung di tempat penelitian yakni di IGD RSJ Provinsi Bali dimulai pada 23 April 2022 hingga 25 Mei 2022. Jumlah responden yang terlibat adalah 75 orang keluarga yang datang ke IGD RSJ Provinsi Bali menggunakan teknik insidental sampling. Uji statistik yang digunakan adalah Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki efikasi diri keluarga dalam kategori tinggi (56%) dan frekuensi kekambuhan pasien mayoritas dalam kategori tidak kambuh (38,7%). Hasil analisis menemukan ada hubungan antara efikasi diri keluarga dengan frekuensi kekambuhan pasien skizofrenia selama pandemi Covid-19 di RSJ Provinsi Bali dengan arah hubungan negatif dan tingkat kekuatan korelasi lemah (r = -0,376; p = 0,001, ? = 0,05).
WAKTU PULIH PASCAHEMODIALISIS Antari, Gusti Ayu Ary; Devi, Ni Luh Putu Shinta; Lenggogeni, Devia Putri
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 4 (2023): Agustus 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i04.p02

Abstract

Waktu pulih pascahemodialisis merupakan salah satu parameter penting yang dapat digunakan untuk memprediksikan kualitas hidup pasien hemodialisis. Meskipun waktu pulih sering dikaitkan dengan risiko rawat inap dan mortalitas, konsep waktu pulih belum diketahui secara jelas. Studi ini bertujuan untuk menyediakan sebuah state of the science mengenai waktu pulih pascahemodialisis. Desain yang digunakan adalah systematic literature review yang pencarian literaturnya dilakukan melalui beberapa database seperti PubMed, Science Direct, ProQuest, dan CINAHL. Sebanyak 11 artikel yang memenuhi kriteria digunakan dalam studi ini. Hasil analisis menunjukkan rata-rata waktu pulih pascahemodialisis berada pada rentang 2-6 jam. Usia tua, jenis kelamin perempuan dan ras kulit hitam didapatkan lebih berisiko mengalami pemanjangan waktu pulih. Selain itu, pemanjangan waktu pulih juga lebih berisiko terjadi pada pasien dengan gangguan psikiatri seperti depresi, memiliki komorbid, indeks massa tubuh yang berlebih, mengalami penurunan napsu makan, dan mengalami komplikasi hemodialisis. Faktor biokimia darah dan regimen hemodialisis juga ditemukan memiliki kaitan erat dengan waktu pulih. Terdapat beberapa faktor yang dapat memperpanjang waktu pulih pascahemodialisis. Waktu pulih dapat digunakan sebagai indikator subjektif yang menjelaskan kondisi pasien pasca menjalani satu sesi hemodialisis sehingga waktu pulih perlu dikaji secara rutin di ruang hemodialisis.
Studi Literatur Manajemen Rasa Haus Dengan Sugar Free Chewing Gum Pada Pasien Hemodialisis: Literature Study Of Thirsty Management With Sugar Free Chewing Gum In Hemodialisis Patients Gusti Ayu Ary Antari; Ni Made Karina Wirapradnyani; Desak Made Widyanthari; Ni Kadek Ayu Suarningsih
Journal of Intan Nursing Vol. 3 No. 2 (2024): Journal of Intan Nursing
Publisher : STIKES Intan Martapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54004/join.v3i2.250

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Hemodialisis merupakan terapi utama bagi pasien gagal ginjal kronis. Pada pasien hemodialisis, hipervolemia adalah keluhan utama yang dilaporkan. Hal ini dapat berkaitan dengan ketidakpatuhan pasien terhadap manajemen cairan dan ketidakmampuan dalam mengontrol rasa haus. Rasa haus berlebih dan xerostomia memicu pasien untuk meningkatkan asupan cairannya. Akibatnya, terjadi peningkatan Interdialytic Weight Gain (IDWG). IDWG yang berlebih dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti penyakit kardiovaskuler, hospitalisasi dan penurunan kualitas hidup. Tujuan : melakukan kajian literatur mengenai penggunaan permen karet bebas gula (xylitol) dalam mengontrol rasa haus berlebih yang dirasakan oleh pasien hemodialysis Metode : Studi literature dengan artikel diperoleh melalui Google Scholar dan PubMed. Kata kunci yaitu sugar free chewing gum, thirst, hemodialysis, dan interdialytic weight gain serta menggunakan Boolean “OR” dan “AND”. Kriteria artikel adalah artikel yang menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, diterbitkan dalam periode 5 tahun terakhir (2020-2024). Hasil : Hasil studi literatur menunjukkan dari 41 artikel yang ditemukan, terdapat 5 artikel yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Kesimpulan : Mengunyah permen karet bebas gula (xylitol) dapat diterapkan sebagai intervensi alternatif untuk mengontrol rasa haus pasien hemodialisis dan mencegah perburukkan kondisi hypervolemia. Saran : Mengunyah permen karet dapat menjadi strategi untuk meningkatkan kepatuhan pasien hemodialisis terhadap pengontrolan minum harian.
Effects of Intradialytic Exercise on Adequacy, Depression, and Quality of Life in Hemodialysis Patients Gusti Ayu Ary Antari; Devia Putri Lenggogeni
NERS Jurnal Keperawatan Vol. 21 No. 2 (2025): NJK Volume 21, Number 2
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/njk.v21i2.329

Abstract

There are three independent predictors related to dialysis mortality rates such as adequacy, depression and poor quality of life. Intradialytic exercises are a potential strategy to increase adequacy, overcome depression and improve quality of life. This study aimed to analyse the effectiveness of intradialytic exercise in addressing adequacy, depression, and quality of life. A quasi-experimental design was used in this study. The study was conducted at a hemodialysis clinic in Bali, from August to October 2020. A total of 60 samples involved in the research were selected using purposive sampling. Samples were randomly grouped into intervention (n = 30) and control (n = 30) groups. Patients in the intervention group were given intradialytic exercises for 30 minutes/day twice a week for four weeks. All patients underwent measurement of adequacy using Kt/V, depression using the Beck Depression Inventory-II and quality of life using Kidney Disease Quality of Life. Measurements were taken at baseline and after four weeks. The results showed there was a decrease in the mean depression score in patients after being given intradialytic exercise (p-value = 0.001). Intradialytic exercise significantly affects adequacy (p-value = 0.003). Regarding quality of life, this study did not find any significant effect from intradialytic exercises, but there was an increase in the average score on the mental health composite dimension. This study concludes that intradialytic exercise can be considered a therapeutic modality applied routinely in hemodialysis rooms. Apart from that, exercise is also safe, and there are no reports of side effects from exercise.
Optimalisasi perilaku perawatan kesehatan diri melalui penguatan literasi dan skrining kesehatan untuk mencegah penyakit tidak menular Antari, Gusti Ayu Ary; Devi, Ni Luh Putu Shinta; Widyanthari, Desak Made
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35196

Abstract

Abstrak Prevalensi penyakit tidak menular terus meningkat dengan determinan utamanya adalah perilaku yang tidak sehat. Meskipun studi menunjukkan berbagai manfaat dari perilaku perawatan kesehatan, penerapannya masih kurang di level masyarakat. Rendahnya literasi, motivasi dan kepatuhan menjadi faktor yang turut berkonstribusi terhadap situasi tersebut. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan melalui edukasi promotif-preventif dan skrining kesehatan dasar. Kegiatan dilaksanakan pada 58 masyarakat Desa Tunjuk, Kabupaten Tabanan, tanggal 18-23 Agustus 2025, dengan metode edukasi dan pemeriksaan kesehatan. Hasil kegiatan yang diperoleh berdasarkan diskusi dan tanggapan peserta menunjukkan bahwa edukasi dinilai mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai perawatan kesehatan diri, Rata-rata indeks massa tubuh 24,41 kg/m2, tekanan darah sistolik 132,29 mmHg, kadar asam urat 5,54 mg/dl, kadar kolesterol 258,92 mg/dl dan kadar gula darah sewaktu 126,63 mg/dl. Peserta telah teredukasi mengenai perawatan kesehatan dan tindak lanjut terhadap hasil skrining kesehatan tersebut. Hasil pengabdian menunjukkan perlunya program edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan untuk mendorong internalisasi perilaku perawatan kesehatan diri secara konsisten. Implikasi dari kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, puskesmas dan masyarakat untuk mengembangkan program perawatan kesehatan diri yang berkelanjutan. Kata kunci: literasi kesehatan; penyakit tidak menular; perawatan kesehatan diri; skrining. AbstractThe prevalence of non-communicable diseases has shown a persistent upward trend, predominantly driven by unhealthy lifestyle behaviors. Although prior research has consistently highlighted the benefits of health-promoting practices, their adoption at the community level remains suboptimal. Contributing factors include limited health literacy, low intrinsic motivation, and inadequate adherence to recommended behaviors. This community engagement initiative was designed to strengthen health literacy through promotive–preventive education and basic health screening. The program was implemented among 58 residents of Tunjuk Village, Tabanan Regency, dated 18-23 August 2025, utilizing structured educational sessions and comprehensive health assessments. Based on participants’ discussions and feedback, the educational activities were considered effective in improving their understanding of self-care, alongside clinical outcomes indicating a mean body mass index of 24.41 kg/m², mean systolic blood pressure of 132.29 mmHg, mean uric acid level of 5.54 mg/dl, mean cholesterol level of 258.92 mg/dl, and mean blood glucose level of 126.63 mg/dl. Participants received targeted education on self-care practices as well as recommendations for appropriate follow-up based on their screening results. The outcomes highlight the critical need for sustained, community-based educational interventions to foster the long-term internalization and consistent practice of health-promoting behaviors. Furthermore, the findings emphasize the importance of collaborative efforts among local authorities, primary healthcare services, and the community to ensure the continuity and sustainability of community-based self-care programs. Keywords: health literacy; non-communicable disease; self-care management; screening