Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN GEL PASTA GIGI EKSTRAK ETANOL ALBEDO SEMANGKA MERAH (Citrulus Lanatus Thumb) Suharyanisa; Marpaung, Jon Kenedy; Suhendri, Martin; Ayu, Herti
Jurnal Farmanesia Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Farmanesia
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jf.v11i2.5793

Abstract

Latar belakang: Menurut WHO tahun 2022, karies anak di seluruh dunia mencapai 514 juta. Berdasarkan Global Oral Health Status Report (2022), prevalensi karies anak tertinggi terdapat di wilayah Pasifik Barat sebesar 46,20%, Mediterania Barat sebesar 45,10% dam Asia Tenggara dengan persentase 42,77%(World Health Organization, 2022). Beberapa negara di Asia Tenggara dengan angka karies anak yang tinggi adalah Filipina dan Indonesia (World Health Organization, 2022). Dan data Riskesdas pada tahun 2018, persentase masyarakat Indonesia yang mengalami karies gigi sebesar 45,3% Tujuan: Untuk menganalisis efek pemutihan gigi dengan menggunakan formulasi gel pasta gigi ekstrak etanol albendo semangka merah (Citrulus Lannatus Thumb) memiliki efek antibakteri . Metode: Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental yang meliputi pengumpulan sampel, identifikasi sampel, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak etanol albedo buah semangka merah,, formulasi sedian gel pasta gigi, dan uji gel pasta gigi terhadap pemutihan gigi. Hasil:3 Hasil identifikasi sampel albedo semangka yang diidentifikasi di Herbarium Medanese (MEDA), Laboratorium Herbarium FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU) menunjukkan bahwa sampel yang digunakan benar kulit eemangka dengan famili Cucurbitales dan spesies Curullus lanatus (Thumb) Kesimpulan:    Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol albendo semangka merah (Citrulus Lannatus Thumb) memiliki diameter zona hambat pada ketiga formula. Pada F1, yang mengandung 10 gram ekstrak etanol albedo semangka, diameter zona hambat yang terbentuk berada pada rentang 3,925 mm hingga 6,825 mm termasuk dalam kategori "Sangat Lemah". Untuk F2, yang mengandung 15 gram ekstrak, diameter zona hambat yang dihasilkan sedikit lebih besar dibandingkan F1, yaitu berkisar antara 7,425 mm hingga 7,7425 mm. mm termasuk dalam kategori "Lemah". Formula F3, yang mengandung 20 gram ekstrak etanol albedo semangka, menunjukkan hasil yang paling baik di antara ketiga formula, dengan diameter zona hambat yang berkisar antara 8,75 mm hingga 9,425 mm termasuk dalam kategori "Lemah". Hal ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol albendo semangka merah (Citrulus Lannatus Thumb) kurang memberikan aktivitas antibakteri yang bagus yang bagus terhadap Streptococus mutans.
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL BUAH LUWINGAN (Ficus hispida L.f) SEBAGAI ANTIDIABETES PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR Wiratma, Dicky Yuswardi; Yudhistira, Yudhistira; Marpaung, Jon Kenedy
Jurnal Farmanesia Vol 12 No 1 (2025): Jurnal Farmanesia
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jf.v12i1.5934

Abstract

Latar belakang: Pengetahuan tentang tumbuhan obat merupakan budaya bangsa yang diwariskan secara turun temurun. Obat tradisional dalam bahan kimia alam mengandung senyawa-senyawa yang dikenal dengan metabolit sekunder. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut memiliki khasiat yang berbeda-beda, sehingga mendorong pentingnya penggalian  sumber obat-obat tradisional dari bahan alam salah satunya dari tanaman Luwingan (Ficus hispida L.f). Tujuan: Untuk mengetahui apakah buah Luwingan (Ficus hispida L.f) memiliki aktivitas serta berapa konsentrasi yang efektif sebagai antidiabetes. Metode: Buah luwingan akan diekstraksi dengan menggunakan pelarut etanol. Menggunakan metode eksperimental dengan desain penelitian purposive sampling. Tikus di induksi aloksn dengan dosis 150mg kg/BB secara intraperitoneal. Sampel darah diukur dengan strip tes darah gluco Dr dan hasil kadar glukosa darah dianalisis dengan one way ANOVA. Hasil: Hasil uji pemberian ekstrak etanol buah luwingan (Ficus hispida L.f) memiliki aktivitas antidiabetes pada tikus putih jantan galur wistar yang di induksi aloksan dengan variasi konsentrasi 20% dapat menurunkan KGD 240,8 mg/dL, 40% menurunkan KGD 246 mg/dL dan 60% menurunkan KGD 248,4 mg/dL. Simpulan: Ekstrak etanol buah luwingan dapat menjadi alternatif terapi karena efektivitasnya dalam menurunkan kadar gula darah. Konsentrasi 60% memiliki aktivitas penurunan kadar glukosa darah yang paling baik jika dibandingkan dengan 3 konsentrasi yang di uji. Ekstrak etanol buah luwingan ini memiliki efektivitas yang mendekati glibenklamid sebagai kontrol positif.
IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER PADA EKSTRAK DAUN SIRSAK (Annona muricata L.): LITERATUR REVIEW Marpaung, Jon Kenedy; Suharyanisa; Komsary, Pauline; Syahfitri, Novita; Manik, Maria Partiwi; Fitri, Nadiatul; Marbun, Eva Diansari
Jurnal STIKes Kesehatan Baru Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Medika Kesehatan Baru
Publisher : Sekolaah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Kesehatan Baru Doloksanggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70751/stikeskbdoloksanggul.v3i1.102

Abstract

Daun sirsak (Annona muricata L.) diketahui mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan saponin yang memiliki potensi aktivitas biologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada ekstrak daun Annona muricata L berdasarkan data dari berbagai artikel ilmiah. Metode penelitian menggunakan metode systematic literature review (SLR). Hasil tinjauan menunjukkan bahwa daun sirsak mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, terpenoid, steroid, serta senyawa fenolik lainnya. Kandungan dan kadar senyawa tersebut bervariasi tergantung pada jenis pelarut, metode ekstraksi, serta teknik analisis yang dilakukan, seperti KLT, FT-IR, GC-MS, dan spektrofotometri UV-Vis. Flavonoid merupakan senyawa dominan yang berperan sebagai antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Dengan demikian, daun sirsak memiliki potensi besar sebagai sumber senyawa bioaktif alami yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan obat herbal dan terapi komplementer.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN KIRINYUH (Chromolaena odorata (L.) R.M King & H.Rob) TERHADAP Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis Marpaung, Jon Kenedy; Suharyanisa, Suharyanisa; Simbolon, Lampita Putri
Jurnal Farmanesia Vol 12 No 1 (2025): Jurnal Farmanesia
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jf.v12i1.6399

Abstract

Latar belakang : Penyakit infeksi menjadi kelompok penyakit yang terjadi karena infeksi virus, infeksi bakteri, dan infeksi parasit. Infeksi ini dapat merugikan berbagai aspek kehidupan seperti kesehatan dan ekonomi baik secara individu dan nasional. Daun Kirinyuh digunakan sebagai obat luka, demam, bantuk, dan menghentikan pendarahan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri (Chromolaena odorata (L.) R.M King & H.Rob) terhadap pertumbuhan Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus dengan berbagai konsentrasi. Hasil : Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan cakram kertas pada bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis pada 5 konsentrasi yaitu 5%, 10%, 15%, 20%, 25%. Berdasarkan data hasil uji statistik Kruskal-Wallis daun Kirinyuh konsentrasi 25% pada penghambatan pertumbuhan Staphylococcus epidermidis didapati hasil 9,467 dan pada penghambatan pertumbuhan Staphylococcus aureus didapati hasil 8,003. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun Kirinyuh dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis dengan konsentrasi terbaik sebesar 25%.
FORMULASI SEDIAAN SERBUK BERAS MERAH (Oryza sativa L.) SEBAGAI MASKER WAJAH Supartiningsih, Supartiningsih; Marpaung, Jon Kenedy; Laila, Asmuni
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 3 No. 2 (2021): JURNAL TEKNOLOGI, KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beras merah (Oryza sativa L.) bermanfaat bagi tubuh kita diantaranya zat besi, kalsium, protein, serat, kalium, lemak baik dan antioksidan. Salah satu bahan alami sebagai pelembab kulit dan masalah wajah kering adalah beras merah (Oryza Sativa L.). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah beras merah dapat dibuat sebagai sediaan masker serbuk dan mengetahui formulasi sediaan serbuk beras merah yang memenuhi syarat evaluasi fisik sediaan. Pembuatan formula sediaan serbuk beras merah dilakukan dengan metode granulasi basah dengan bahan pengikat yang berbeda yaitu HPMC, Na.CMC dan Karbopol. Hasil penelitian pengujian organoleptik menunjukkan bahwa ketiga sediaan berwarna merah kream dan memilki beraroma khas beras merah, pada pengujian pH hasil yang didapat sangat bagus sesuai dengan pH kulit, yaitu 6. Ukuran partikel granul ketiga bahan pengikat memperoleh hasil 0,149 (mm), hasil kelembaban pengikat HPMC 9,284%, Na.CMC 10,489%, dan Karbopol 10,527%. Daya serap air bahan pengikat HPMC 9,6 ml/g, Na.CMC 7,3 ml/g, Karbopol 10,3 ml/g. Laju alir bahan pengikat HPMC 1,71 g/s, Na.CMC 1,51 g/s, Karbopol 5,17 g/s. Sudut istirahat bahan pengikat HPMC 23,27 , Na.CMC 18,65 , dan Karbopol 15,43 . Daya sebar pada pengujian HPMC 5,7 cm, Na.CMC 6,2 cm dan Karbopol 5,2 cm. Daya lekat pada pengujian HPMC 06,79 detik, Na.CMC 06,97 detik dan Karbopol 06,33 detik. Uji homogenitas pada ketiga bahan pengikat HPMC, Na.CMC dan Karbopol adalah homogenitas. Secara keseluruhan hasil pengamatan menunjukkan ketiga bahan pengikat baik digunakan untuk pembuatan sediaan masker serbuk beras merah.
Identifikasi Simplisia dan Uji Aktivitas Antibakteri Daun Ceremai (Phyllanthus acidus (L.) Skeels) Terhadap Bakteri Streptococcus pyogenes dan Bakteri Salmonella typhi Marpaung, Jon Kenedy; Suharyanisa, Suharyanisa; Situmorang, Manahan; Loi, Astina
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 4 No. 1 (2022): JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Uji Aktivitas Anti Bakteri Ekstrak Eteanol Kulit Bawang Merah (Allium cepa L.) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans dan Pseudomonas aeruginosa Supartiningsih; Marpaung, Jon Kenedy; Dea Ananda Rizki
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 4 No. 2 (2022): JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Streptococcus mutans merupakan kontributor yang signifikan untuk kerusakan gigi. Pseudomonas aeruginosa salah satu bakteri Gram negatif yang paling sering diisolasi dari pasien di ruang ICU. Bawang merah memiliki senyawa aktif kuersetin yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan Mengetahui aktivitas ekstrak kulit bawang merah Merah (Allium cepa L.) terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Pseudomonas aeruginosa dan mengetahui efektifitas konsentrasi ekstrak kulit bawang merah yang paling berpengaruh terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dan Pseudomonas aeruginosa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental secara uji untuk mengetahui aktifitas antibakteri ekstrak kulit bawang merah terhadap Streptococcus mutans dan Pseudomonas aeruginosa dengan konsentrasi 20%, 40%,60% dan dilakukan dengan metode difusi cakram. Penelitian ini dilakukan di Labolaturium Mikrobiologi Universitas Sari Mutiara Indonesia. Hasil dari penelitan menunjukkan bahwa simplisia kulit bawang merah mengandung fenolik, flavonoid, saponin, steroid/terpenoid dan alkaloid. Ekstrak etanol kulit bawang merah mempunyai aktivitas antibakteri.pada bakteri Steptococcus mutans dengan konsentrasi 60% (22,33 mm), 40% (18,66 mm), 20% (15,33 mm), kontrol positif (26,66 mm), kontrol negatif tidak memiliki zona hambat. Dan bakteri Pseudomonas aeruginosa dengan konsentrasi 60% (17,83 mm), 40% (15,83 mm), 20% (13,5 mm), kontrol positif (20 mm), kontrol negatif tidak memiliki zona hambat.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN PORANG (Amorphophallus oncophyllus Prain.) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN BAKTERI Salmonella typhi Marpaung, Jon Kenedy; Suharyanisa; Darwita Juniwati Barus; Putri
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 3 No. 2 (2021): JURNAL TEKNOLOGI, KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Escherichia coli and Salmonella typhi are included in the pathogenic bacteria. These bacteria can cause infectious diarrheal diseases. Porang (Amorphophallus oncophyllus Prain.) leaves contain antibacterial compounds that are effective against bacterial growth. This study aims to determine the antibacterial activity of Porang leaf extract against Escherichia coli and Salmonella typhi bacteria and to determine the difference in antibacterial activity with the use of various concentrations of extracts on bacterial growth. Porang leaf extract was obtained by maceration method using 96% solvent. This test used the paper disc agar diffusion method with concentrations of 10%, 15%, 20%, and 25% against Escherichia coli and Salmonella typhi bacteria, positive control used chloramphenicol, and negative control DMSO, then tested using statistics using the ANOVA method. The results of the study on Escherichia coli bacteria obtained that the concentration and diameter of the inhibition zone with an average of three repetitions were 10% (9.41mm), 15% (11.4 mm), 20% (12.4 mm), 25% (13 .3 mm) and for Salmonella typhi, 10% (12.8 mm), 15% (13.6 mm), 20% (15.5 mm), and 20% (17.5 mm). In the positive control of chloramphenicol, the diameter of the inhibition zone was obtained with an average of three repetitions for each bacterium, namely Escherichia coli (27.5 mm) and Salmonella typhi (29.4 mm) while the DMSO negative control did not show any inhibition. The conclusion of this study showed that Porang leaf extract had activity against Escherichia coli and Salmonella typhi bacteria with strong criteria, seen from the increase in the concentration of the test solution had an increase in the diameter of the growth inhibition zone on bacteria,
Pembuatan Media Pertumbuhan Alternatif Pada Mikroorganisme Dengan Menggunakan Umbi Porang (Amorphophallus oncophyllus Prain) TERHADAP Staphylococcus aureus, Escherichia coli DAN Candida albicans Marpaung, Jon Kenedy; Purba, Sondang; Juniwati Barus, Darwita; Iqlima, Dara
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 4 No. 1 (2022): JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Porang tuber (Amorphophallus oncophyllus Prain) contains carbohydrates, fats, proteins, minerals, vitamins, and dietary fiber which are thought to be alternative growth media. This study aims to determine the growth of alternative media for microorganisms with Porang tubers. This research was conducted in the Pharmaceutical Chemistry laboratory, at Sari Mutiara University, Indonesia. Samples of Porang tubers were obtained from Porang plantations in the Amplas area, North Sumatra. This study uses an experimental method. Characterization of Porang tuber powder was found 9.54% water content, 9.09% water soluble extract content, and 1.43 total ash content.to contain%Secondary metabolites contained in Porang tuber starch were alkaloids and carbohydrates. The process of making starch begins with soaking with NaCl to remove the sap on the Porang tubers. Furthermore, the grating process is carried out until a precipitate of Porang tuber starch is found which will then be dried into Porang tuber starch. The manufacture of starch media respectively used a concentration of 5% (F1); 7.5% (F2) and 10% (F3). Then added agar, NaCl, and milk. Furthermore, microbiological tests were carried out using Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Candida albicans with the pour method. The comparison used is Nutrient agar and Potato dextrose agar. Furthermore, observations of the growth of these microorganisms were carried out. The results of the test Porang tuber starch showed yeast and bacteria growth media. The result of colony growth was found that the most colonies were found in formula 3 with Candida albicans as many as 297 colonies. The number of Staphylococcus aureus was found to be in formula 2 with 251 colonies, and for Escherichia coli, the most colonies were found in formula 3 with 143 colonies. Conclusion From the results of the study, it was found that Porang tubers can be used as growth media, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Candida albicans.
Jurnal Review: Aktivitas Biologis Jamu, Obat Herbal Terstandar, Dan Fitofarmaka Sebagai Antiinflamasi Mairani, Fridelly; Marpaung, Jon Kenedy; Utama, Rezza Fikrih; Fitri, Widya
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v4i1.1007

Abstract

Jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka merupakan bagian penting dari sistem pengobatan berbasis bahan alam di Indonesia yang didukung oleh kekayaan keanekaragaman hayati. Berbagai tanaman obat diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, kurkuminoid dan senyawa fenolik yang berperan dalam aktivitas biologis, khususnya sebagai agen antiinflamasi. Review ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis aktivitas biologis jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka sebagai antiinflamasi. Penelitian ini merupakan review literatur sistematis yang bersumber dari Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Portal Garuda. Artikel yang diseleksi merupakan penelitian eksperimental in vitro dan in vivo yang menguji aktivitas biologis sediaan jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka yang dipublikasikan pada periode 2020–2025. Data dianalisis secara kualitatif dengan membandingkan jenis sediaan, senyawa bioaktif, metode uji, serta hasil aktivitas biologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka memiliki aktivitas antiinflamasi yang signifikan, ditandai dengan penurunan edema dan penghambatan mediator inflamasi. Formulasi terstandar seperti gel, minyak, sirup, serbuk dan stick herbal meningkatkan stabilitas serta konsistensi efek terapeutik. Kesimpulan yang didapat dari hasil identifikasi dan analisis yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka terbukti memiliki potensi antiinflamasi yang kuat melalui aktivitas senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, kurkuminoid dan senyawa fenolik. Senyawa-senyawa ini berperan dalam menghambat mediator inflamasi, mengurangi edema, serta melindungi jaringan dari stres oksidatif. Jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka memiliki potensi besar sebagai agen antiinflamasi yang aman dan efektif. Standarisasi sediaan dan pendekatan ilmiah yang tepat mendukung integrasi obat tradisional ke dalam praktik kesehatan modern berbasis bukti ilmiah.