Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Pro Food

PERBANDINGAN KONSENTRASI α-AMILASE SEBAGAI METODE ENZIMATIS TERMODIFIKASI DALAM PRODUKSI GLUKOMANAN DARI UMBI ILES-ILES (Amorphophallus oncophyllus): Comparison of α-amylase concentration as Enzymatic Modified Method in Glucomannan Production from Iles-iles Tubers (Amorphophallus oncophyllus)] Indra Kurniawan Saputra; Edy Mulyono
Pro Food Vol. 7 No. 2 (2021): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v7i2.189

Abstract

ABSTRACT The glucomannan in iles-iles tubers needs to continuously develop the production procedures to increase the economic value of tubers, which are export commodities with a high level of demand. This study aimed to determine the effectiveness of increasing the α-amylase concentration on glucomannan levels, degree of whiteness (DoW), and their interactions. The method was modified to increase α-amylase concentration (2.5, 4.5, 6.5, and 8.5 % (v/v)) in 3 Litter of Water with a mixture of 100 grams of iles-iles flour. Meanwhile, the determination of DoW analyzed was used chromameter. The results showed that the best treatment was the α-amylase concentration of 2.5% (v/v) in 2 hours resulting in the highest glucomannan content compared to other concentrations. Based on the results of analysis of variance (ANOVA), it showed that the interaction between time and concentration and treatment time (2, 4, and 6 hours) and concentration (2.5, 4.5, 6.5, and 8.5% (v/v)) had a significant effect on glucomannan levels. However, the level of DoW was still experiencing an enlargement result compared with DoW of commercial glucomannan flour.   ABSTRAK             Glukomanan dalam umbi iles-iles perlu terus dilakukan pengembangan prosedur produksi untuk meningkatkan nilai ekonomis umbi yang merupakan komoditas ekspor dengan tingkat permintaan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas peningkatan konsentrasi enzim α-amilase terhadap kadar glukomanan, derajat putih dan interaksinya. Metode yang dilakukan merupakan metode modifikasi peningkatan konsentrasi enzim α-amilase 2.5, 4.5, 6.5 dan 8.5 % (v/v) dalam 3 L air dengan campuran 100 gr tepung iles-iles. Sedangkan penentuan derajat putih dianalisis dengan alat chromameter. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan terbaik didapatkan dengan konsentrasi enzim α-amilase 2.5% dengan waktu 2 jam menghasilkan kadar glukomanan tertinggi dibandingkan dengan kadar glukomanan perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil analisis variansi (ANOVA) memperlihatkan interaksi antara waktu dan konsentrasi serta perlakuan waktu (2, 4, dan 6 jam) dan konsentrasi (2.5, 4.5, 6.5, dan 8.5 %) berpengaruh nyata terhadap kadar glukomanan. Akan tetapi tingkat keputihan masih mengalami pelebaran hasil dengan derajat keputihan tepung glukomanan komersial.
A Puding Kedelai Porang Instan dengan fortifikasi tepung daun kelor Sebagai Pangan Fungsional Pencegah Stunting: Instant Porang Soy Puding with Fortification of Moringa Leaf Flour as a Functional Food to Prevent Stunting Rini Nofrida; Novia Rahayu; Zainuri Zainuri; Indra Kurniawan Saputra
Pro Food Vol. 9 No. 1 (2023): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan )
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v9i1.320

Abstract

Stunting adalah kondisi kronis kekurangan gizi yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Tepung daun kelor dapat ditambahkan kedalam makanan selingan seperti puding untuk meningkatkan nilai gizi puding. Puding dibuat dengan penambahan glukomanan porang dan tepung kedelai. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun kelor pada formulasi pembuatan bubuk puding kedelai porang instan sebagai bahan baku pembuatan puding kedelai porang terhadap tingkat kesukaan (hedonik) dan penilaian secara organoleptic skoring serta kandungan gizi dan % Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada formula terbaik berdasarkan uji organoleptik. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan penambahan tepung daun kelor, yaitu 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% dari jumlah tepung kedelai yang digunakan, emua perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data yang terkumpul dianalisa menggunakan analisa keragaman dengan taraf 5%. Jika terjadi perbedaan nyata antar perlakuan diuji lanjut dengan menggunakan Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Berdasarkan hasil uji organoleptik skoring dan hedonik perlakuan terbaik adalah pada penambahan tepung daun kelor sebanyak 3% dengan kandungan nutrisi pada bubuk puding kedelai porang instan yaitu kadar air 6.7 %, protein 36.5%, dan kalsium 419,1 mg/100 g. Kandungan nutrisi pada puding kedelai porang adalah kadar air 87.4 %, protein 4.12 %, dan kalsium 33,03 mg/100 g, serta memenuhi 7.62 % kebutuhan kalsium dan 30,9 % kebutuhan protein harian anak usia 1-3 tahun dan 4.95% kebutuhan kalsium dan 24,72% kebutuhan protein harian anak usia 4-5 tahun.
Eksplorasi Pati dari Limbah Kulit Singkong Sebagai Sumber Karbon Alternatif Media Pertumbuhan Rhizopus oligosporus Saito Assaajidah, Alima; Susanti, Evi; Saputra, Indra Kurniawan
Pro Food Vol. 11 No. 1 (2025): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v11i1.513

Abstract

Singkong (Manihot esculenta Crantz) merupakan makanan pokok penting bagi sekitar 800 juta orang, terutama di wilayah tropis, dengan peningkatan produksi global sekitar 100 juta ton sejak tahun 2000. Di Indonesia, konsumsi singkong yang meningkat turut menghasilkan limbah kulit singkong, yang umumnya dibuang atau digunakan sebagai pakan ternak bernilai ekonomi rendah. Pembuangan yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan emisi gas metana. Kulit singkong, dengan kandungan pati mencapai 36%, memiliki potensi sebagai media alternatif pertumbuhan mikroorganisme yang lebih murah dibandingkan media komersial seperti Potato Dextrose Agar (PDA). Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit singkong sebagai media pertumbuhan Rhizopus oligosporus Saito, jamur yang digunakan dalam fermentasi pangan dan mampu menghasilkan metabolit sekunder bernilai tinggi. Maka dibutuhkan pengembangan media alternatif yang efisien dan ramah lingkungan untuk pertumbuhan mikroba. Metode penelitian meliputi karakterisasi R. oligosprus Saito, persiapan inokulum, pembuatan bubuk pati kulit singkong, serta optimasi konsentrasi pati kulit singkong, glukosa, dan pH media menggunakan fermentasi substrat cair (SmF). Hasil menunjukkan bahwa R. oligosprus Saito dapat tumbuh pada media alternatif berbasis kulit singkong dengan kondisi optimum pada 40 g/L pati kulit singkong, 10 g/L glukosa, dan pH 6 – 6.5. Penelitian ini menunjukkan potensi kulit singkong sebagai sumber karbon yang ekonomis dan ramah lingkungan, sekaligus mendukung pengembangan produk bioteknologi berbasis limbah organik.