Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Enhancing Safety Culture in the Aviation Sector at East Kalimantan: A Study on Organizational, Group, and Individual Safety Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Dewi Novita Hardianti; Iwan M Ramdan; Muhammad Sultan; Ika Wulan Sari
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 3 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i3.6141

Abstract

The aviation industry operates in a high-risk environment where safety is paramount. Despite the implementation of Safety Management Systems (SMS), aviation incidents often highlight gaps not in compliance, but in safety culture—how individuals and organizations perceive and prioritize safety. A mature and robust safety culture can significantly reduce accidents and improve operational reliability. This study aims to explore and describe the safety culture profile in the aviation sector, particularly focusing on the maturity of safety practices at the individual, group, and organizational levels. A cross-sectional study was conducted using the Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50), a validated instrument to assess safety culture. A total of 183 aviation workers from various operational units participated in the survey. In addition to quantitative analysis, focus group discussions (FGDs) were held with selected management and operational staff to provide contextual insights into survey findings. The results showed that the overall safety culture maturity level among respondents was categorized as proactive, with the highest scores in management commitment (85.0) and safety procedures (85.0). However, relatively lower scores were observed in risk perception (70.5) and work environment (70.0), indicating areas for targeted improvement. These findings suggest that while aviation organizations have made considerable progress in building a strong safety culture, further efforts are needed to enhance risk awareness at the individual level and improve environmental factors influencing safety behaviour. Interventions should emphasize participatory safety practices, continuous communication, and reinforcement of risk-based thinking
Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Berisiko HIV Pada Anak Buah Kapal Kargo Internasional di Muara Mahakam Muhammad Noor; Irfansyah Baharuddin Pakki; Yadi Yadi; Akhmad Azmiardi; Ratno Adrianto; Muhammad Sultan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60169

Abstract

Anak Buah Kapal (ABK) kargo internasional merupakan kelompok pekerja dengan mobilitas tinggi yang rentan terhadap perilaku berisiko HIV. Penelitian mengenai determinan perilaku berisiko HIV pada ABK masih terbatas dan umumnya hanya menilai faktor perilaku secara parsial. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor individu, lingkungan, dan pelayanan kesehatan dengan perilaku berisiko HIV pada ABK kargo internasional di Muara Mahakam serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional ini dilakukan pada 193 ABK kargo internasional di wilayah kerja Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Samarinda tahun 2025. Sampel diperoleh menggunakan teknik teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur berbasis Health Belief Model (HBM) yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data meliputi analisis univariat, uji Chi-square, dan regresi logistik berganda dengan metode Backward Likelihood Ratio pada tingkat signifikansi 5%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa lama bekerja, lama berlayar, hubungan seksual dengan pasangan tidak tetap, jumlah pasangan seksual, riwayat pemeriksaan HIV, pengetahuan, persepsi hambatan, dan akses pelayanan kesehatan berhubungan dengan perilaku berisiko HIV (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa lama bekerja (Exp(B)=0,014; p=0,003), hubungan seksual dengan pasangan tidak tetap (Exp(B)=0,003; p<0,001), jumlah pasangan seksual (Exp(B)=0,032; p=0,005), dan persepsi hambatan (Exp(B)=9,004; p=0,004) berasosiasi secara independen dengan perilaku berisiko HIV. Model regresi memiliki kesesuaian yang baik berdasarkan uji Hosmer–Lemeshow (p=0,479) dengan nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,888. Perilaku berisiko HIV pada ABK kargo internasional di Muara Mahakam berasosiasi dengan lama bekerja, hubungan seksual dengan pasangan tidak tetap, jumlah pasangan seksual, dan persepsi hambatan. Program pencegahan HIV perlu difokuskan pada pengurangan hambatan akses layanan kesehatan, penguatan edukasi berbasis Health Belief Model, serta penyediaan layanan konseling, tes HIV sukarela, dan kondom di lingkungan pelabuhan.