Claim Missing Document
Check
Articles

PEMANFAATAN BUNGA MAWAR UNTUK KONSUMSI DI DESA CILELES KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG Intan Ratna Dewi Anjarsari
Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Vol 11, No 2 (2022): Juni. 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v11i2.33491

Abstract

Desa Cileles memiliki posisi yang tidak terlalu jauh dari pusat Kecamatan Jatinangor. Pada umumnya petani di Desa Cileles membudidayakan tanaman pangan dan palawija, sedangkan tanaman hortikultura jenis lainnya seperti bunga masih kurang. Padahal pada masa covid seperti sekarang ini produk makanan dari bunga cukup melesat disamping perannya sebagai tanaman hias. Salah satu solusi untuk memberdayaan lahan pekarangan yang ada oleh kelompok ibu-ibu PKK adalah mengenalkan bunga mawar ini untuk dikelola lebih baik lagi. Bunga mawar dipilih karena jenis bunga ini dapat dikonsumsi serta ada nilai tambah ekonomi jika diberdayakan terutama oleh kelompok ibu PKK. Di masa covid seperti ini, diharapkan kegiatan sosialisasi bunga-bungaan sebagai konsumsi dapt menjadi alternatif kegiatan bagi ibu ibu di Desa Cileles agar lebih produktif dan tentunya menghasilkan. Sosialisasi ini menggunakan metode penyuluhan secara daring dan praktek langsung pembuatan olahan makanan berbahan dasar bunga mawar.Melalui metode ini menunjukkan respons yang positif terlihat dariminat dan ketertarikan ibu PKK yang cukup tinggi. Melalui sosialisasi ini pengetahuan mengenai budidaya tanaman mawar meningkat, keinginan untuk membudidayakan cukup tinggi, serta antusiasme kelompok ibu PKK untuk membuat dan memasarkan produk olahan cukup tinggi.
Rekayasa budidaya dan penanganan pascapanen untuk meningkatkan kualitas teh Indonesia sebagai minuman fungsional kaya antioksidan Intan Ratna Dewi Anjarsari
Kultivasi Vol 21, No 2 (2022): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v21i2.36027

Abstract

ABSTRAKTeh sebagai minuman fungsional sejalan dengan tema hari keamanan pangan  2021 yang bertema Safe food today for a healthy tomorrow, yang menekankan bahwa produksi dan konsumsi produk pangan yang aman akan memiliki manfaat jangka panjang untuk kesehatan dan ekosistem untuk masa depan. Teh (Camelia sinensis L. (O.) Kuntze ) merupakan minuman yang kaya akan senyawa bioaktif  berupa antioksidan yang baik untuk kesehatan. Tidak hanya sebagai penghilang dahaga, tetapi kini teh berkembang sebagai minuman fungsional yang berperan dalam aspek kesehatan.  Jawa Barat sebagai produsen teh dengan produksi terbanyak di Indonesia tentunya memiliki potensi yang cukup besar dalam mengembangkan industri teh mulai dari hulu hingga hilir, baik untuk jenis teh hitam, teh hijau, ataupun teh putih.  Peningkatan kadar katekin sebagai antioksidan dari segi agronomi  sangat dibutuhkan  melalui inovasi dan riset yang terus menerus. Teh Indonesia khususnya Jawa Barat berpotensi untuk dikembangkan sebagai minuman fungsional,  terutama varietas Assamica yang memiliki kandungan antioksidan yang tinggi. Rekayasa budidaya tanaman teh sebagai minuman fungsional yang kaya antioksidan dapat dicapai melalui pemilihan klon, teknologi pemuliaan tanaman, penanaman pohon pelindung, optimalisasi lingkungan tumbuh serta diikuti oleh penanganan pasca panen, yakni pengolahan di pabrik serta teknik penyimpanan. Kata Kunci :  antioksidan, minuman fungsional, assamica. ABSTRACTTea as a functional beverage is in line with the theme of the 2021 food safety day, i.e., “Safe food today for a healthy tomorrow”, that emphasizes that the production and consumption of safe food products will have long-term benefits for health and ecosystem in the future. Tea (Camelia sinensis L. (O.) Kuntze ) is an antioxidant-rich beverage that are good for health. Recently, tea served not only as a thirst quencher but also as a functional drink that plays a role in health aspects. West Java as the highest tea producer in Indonesia certainly has considerable potential in developing tea industry from upstream to downstream, whether for black tea, green tea or white tea. Increasing levels of catechins as antioxidants from an agronomic perspective are needed through continuous innovation and research on tea. Indonesian tea, especially West Java, has the potential to be developed as a functional drink, especially the Assamica variety with its high antioxidant content. Pre-harvest modification on tea plant to form antioxidant-rich functional beverage can be achieved through clone selection, plant breeding technology, planting protective trees, optimizing the growing environment and followed by post-harvest handling through factory processing as well as storage techniques.Key words :  antioxidants, assamica, functional beverage
Studi pendahuluan regenerasi eksplan teh sebagai upaya percepatan penyediaan bibit unggul secara in vitro Intan Ratna Dewi Anjarsari; Erni Suminar; Murgayanti Murgayanti
Kultivasi Vol 21, No 3 (2022): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v21i3.36607

Abstract

ABSTRAKPembiakan generatif tanaman teh yang dilakukan dengan biji, sementara secara vegetatif dengan setek tunas yang  mempunyai kelemahan, antara lain jumlah bibit yang dihasilkan terbatas, perlu waktu lama untuk menyeleksi pohon induk, dan bibit yang dihasilkan kurang optimal dalam penyerapan air dan unsur hara karena perakarannya dangkal sehingga kurang toleran terhadap kekeringan. Kultur jaringan menjadi salah satu alternatif dalam perbanyakan teh memperoleh klon teh unggul, seperti klon Seri Gambung 1-11, dalam jumlah banyak dan sifatnya yang seragam. Penelitian pendahuluan ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNPAD, mulai bulan Juni hingga Desember 2021. Penelitian terdiri dari dua tahap, yaitu (i) metode deskriptif untuk menginduksi eksplan organ teh (pucuk + ruas batang serta daun), dan (ii) metode eksperimen dengan menguji eksplan yang ditumbuhkan pada berbagai media. Metode percobaan yang digunakan untuk penelitian ke-2 adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 kombinasi perlakuan Benzyl Amino Purine (BAP) (0 dan 0,5 ppm) dan 2,4-D (0,05; 0,1; dan 0,2 ppm). Hasil pengamatan pendahuluan menunjukkan masih banyak eksplan yang mengalami kematian, namun beberapa eksplan potongan daun menunjukkan respon yang baik dengan mampu membentuk kalus berwarna hijau. Kombinasi 0,5 ppm BAP + 0,05 ppm 2,4-D memberikan pengaruh lebih baik terhadap bobot kalus, sedangkan kombinasi 0,5 ppm BAP + 0,2 ppm 2,4D memberikan pengaruh baik terhadap diameter kalus.Kata kunci: eksplan teh, in vitro, klon unggul ABSTRACTGenerative propagation of tea plants is done by seed, while the vegetative method is by shoot cuttings which have weaknesses, including the limited number of seedlings produced, it takes a long time to select the mother tree, and the resulting seedlings are not optimal in absorbing water and nutrients because their roots are shallow making it less tolerant of drought. Tissue culture is an alternative in tea propagation to obtain superior tea clones, such as the Gambung Series 1-11 clones, in large quantities and with uniform characteristics. This preliminary research was carried out at the Tissue Culture Laboratory of the Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, UNPAD, from June to December 2021. The research consisted of two stages, namely (i) a descriptive method to induce tea organ explants (shoots + stem segments and leaves), and (ii) an experimental method by testing explants grown on various media. The experimental method used for the second study was a completely randomized design (CRD) with 6 treatment combinations of Benzyl Amino Purine (BAP) (0 and 0.5 ppm) and 2.4 D (0.05; 0.1; and 0 .2 ppm). Preliminary observations showed that there were still many death explants observed, however, some explants in form of cut leaves showed a good response by being able to form green callus. The combination of 0.5 ppm BAP + 0.05 ppm 2.4 D had a better effect on callus weight, while the combination 0.5 ppm BAP + 0.2 ppm 2.4D had a good effect on callus diameter.Keywords: tea explants, in vitro, superior clones
MENANAM TERRARIUM SEBAGAI SOLUSI BERTANAM DI LAHAN SEMPIT DI DESA CINANJUNG KECAMATAN TANJUNGSARI KABUPATEN SUMEDANG Intan Ratna Dewi Anjarsari
Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Vol 12, No 1 (2023): Maret, 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v12i1.35769

Abstract

Desa Cinanjung merupakan sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang, berada di bagian paling selatan wilayah Kecamatan Tanjungsari dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Cimanggung di sekitar Gunung Geulis. Dilihat dari pusat Kecamatan Tanjungsari, lokasinya berada di bagian selatan dengan jarak sekitar 3,8 km. Umumnya petani di Desa Cinanjung membudidayakan tanaman pangan dan palawija,dan tanaman hortikultura. Di masa pandemi Covid 19 ini kegiatan masyarakat khsuusnya para ibu ibu menjadi sedikit terbatas. Untuk memanfaatkan waktu dipilih kegiatan yang cukup bermanfaat dalam meningkatkan kreativitas dan bahkan mungkin menambah pendapatan salah satunya pembuatan terarium. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini  adalah mengenalkan cara membuat dan membudidayakan terarium berkaitan dengan pengetahuan praktis mengenai teknik pembuatan terrarium, jenis tanaman yang dipilih serta alat dan bahan yang digunakan  serta meningkatkan kreativitas ibu kelompok PKK  sehingga dapat berkreasi dalam mengisi waktu dan sebagai peluang bisnis dengan mendalami terrarium sehingga budidaya tanaman hias tidak hanya terbatas pada pot saja tetapi bisa dalam tempat yang minimalis. Adapun peserta dalam kegiatan ini adalah ibu ibu PKK desa Cinanjung Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Kegiatan PKM ini dilaksanakan denga  beberapa metode diantaranya penyuluhan secara daring (dalam jaringan)  dan praktek. Masa pandemi mengharuskan untuk tidak berkerumun sehingga penyuluhan yang biasanya dilakukan secara luring (luar jaringan) menjadi daring. Praktek demplot percobaan membuat terarium di kediaman ketua PKK dihadiri perwakilan Hasil kegiatan menunjukkan bahwa ketertarikan para peserta dalam mengikuti penyuluhan daring dan praktek  membuat terarium cukup tinggi terbukti dari banyaknya terarium yang dibuat atau dihasilkan oleh peserta PKM. 
Pengaruh Pupuk Kandang Sapi dan Konsentrasi Urine Kelinci terhadap Pertumbuhan Bibit Kopi Liberoid Meranti Abdul Halim Luthfi; Santi Rosniawaty; Intan Ratna Dewi Anjarsari; Mira Ariyanti
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/paspalum.v11i2.628

Abstract

Liberoid Meranti coffee seeds can grow well if they are cared for properly. The plant nursery phase determines the successful growth of Liberoid Meranti coffee plants. One of the important maintenance actions carried out when cultivating coffee plants is choosing planting media and fertilization. The organic fertilizer that can be used as a planting media mixture in Liberoid meranti coffee nurseries is cow manure. Rabbit urine is a liquid organic material that contains nutrients, so it can be applied to soil or plants to add nutrients. Liquid organic materials contain macro- and micronutrients. Using the right composition of cow manure and rabbit urine concentrations really determines the growth of Liberoid Meranti coffee plant seeds. This experiment was carried out from February 2023 to June 2023 at the Ciparanje experimental garden, Padjadjaran University, Jatinangor District, Sumedang Regency. This experiment was carried out using a randomized group design (RAK) with nine treatments: soil + 2g urea; soil + 25% rabbit urine; soil + rabbit urine 50%; soil + cow manure (1:1) + rabbit urine 25%; soil + cow manure (1:1) + rabbit urine 50%; soil + cow manure (2:1) + rabbit urine 25%; soil + cow manure (2:1) + rabbit urine 50%; soil + cow manure (3:1) + rabbit urine 50%, and each treatment was repeated three times to obtain 27 experimental units. The experimental results showed that there was an influence of the composition of cow manure as a mixture of planting media and the concentration of rabbit urine on the growth of Liberoid Meranti coffee seedlings, except for the increase in the number of leaves. The composition of a mixture of planting media with cow manure (3:1) and a rabbit urine concentration of 25% provides the best growth for Liberoid Meranti coffee seedlings.
The effect of arbuscular mychorizal fungi (AMF) and root plant growth regulator (rPGR) in increasing number of tea (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) planting material Cucu Suherman; Wieny H Rizky; Intan Ratna Dewi
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 18 No 2 (2015)
Publisher : Research Institute for Tea and Cinchona

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jptk.v18i2.74

Abstract

Among problems encountered in the availability of quality seedlings in nurseries is a low percentage of seedlings ready to plant. The seedling will remain stunted if no treatment is provided. Therefore, there must be some treat-ments carry in the nursery, as increase seedling ready to plant. One of the problems causing lack of good seedling growth is less than optimal growth and the role of the root, thus, the increase in the growth of the tea plant seeds can be cultivated among others through im-proved root system. The objective of this re-search was to determine the effect arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and plant growth regulator (PGR) against the percentage of root seedlings were ready to plant. Root growth can be accelerated by the application of PGR roots, ability to function and role of the roots can be improved by application of biological fertilizers such as AMF. The experimental design used was a randomized block design combined con-centration of PGR roots consisting of Z0: 0 mg/mL; Z1: 25 mg/mL; Z2: 50 mg/mL; Z3: 75 mg/mL with a dose of FMA consisting of: F0: 0 g FMA/plant; F1: 5,0 g FMA/plant; F2: 7,5 g FMA/plant and F3: 10,0 g FMA/plant. The experiment was conducted at the Gambung Experimental Station at the Research Institute for Tea and Cinchona, Bandung, West Java, at a height of ± 1.350 m above sea level with the type of Andisols. Rainfall including B-type according to the classification of Schmidt and Fergusson (1951). The experiments resulted in the conclusion FMA 7,5 g dose combination treatment plants PGR-1 with a concentration of 25 mg/mL root, generating growth in both the percentage of root infection, seedling height, the number of leaves, and the amount of leaf chlorophyll and the percentage of tea planting material. The treatment resulted in a 35% increase in plant height, a number of leaves nearly 68% and the amount of chlorophyll is 83% higher compared to treatment without the FMA and without PGR. The percentage of 12 months old planting material with treatment reached 78,11% higher than the treatment without AMF and PGR which reached 49,28%.
Effect of arbuscular mycorrhizal fungi on growth of cinchona (Cinchona ledgeriana Moens) shoot cutting Cib5 and QRC clones Agung Budi Laksono; Intan Ratna Dewi; Cucu Suherman; Joko Santoso
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 16 No 2 (2013)
Publisher : Research Institute for Tea and Cinchona

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jptk.v16i2.93

Abstract

AbstractThe purposes of this study were to observe the effect of interaction between arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and shoot cutting of quinine clones at nursery phase of quinine (Cinchona ledgeriana Moens) and to obtain the combination dosage AMF with the best Cinchona clone. The experiment began from March until June 2013 at Research Institute for Tea and Cinchona, Gambung, Bandung, West Java, on altitude 1.250 meters above sea level, type of soil Andisol with acidity 6,28 and type of climate B based on Schmidt and Fergusson (1951). This experiment used split plot as an experimental design with two factors and four replications. The main plot factor is Cinchona clones with two levels Cibeureum 5 (Cib5) and Quinine Research Center (QRC). The subplot is dosage of AMF with four levels, they are 0 g/shoot cutting, 5 g/shoot cutting, 10 g/shoot cutting, 15 g/shoot cutting. The result showed that there is no interaction between two clones Cib5 and QRC with the four dosages AMF to all measured variable. The AMF with 15 g/shoot cutting treatment showed the best effect to the percentage of AMF infection, root volume, and root length and significant for both two clones compare with lower AMF dosage.
Respons Peningkatan Perkecambahan Benih dan Pertumbuhan Bibit Tanaman Secang (Caesalpinia sappan L.) terhadap Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh dan Media Tanam yang Berbeda Al Adawiah, Alin Robiah; Rosniawaty, Santi; Anjarsari, Intan Ratna Dewi
Agrikultura Vol 34, No 1 (2023): April, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i1.42875

Abstract

Tanaman secang dapat diperbanyak secara generatif dengan melibatkan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) untuk memperbaiki perkecambahan dan meningkatkan pertumbuhan kecambah sebelum pembibitan. Sementara itu, media tanam yang tepat dibutuhkan pada saat pembibitan untuk mendukung pertumbuhan bibit yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan perendaman ZPT auksin dan sitokinin serta media tanam yang berbeda dalam meningkatkan persentase perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit secang. Penelitian dilakukan pada bulan September-Desember 2021 di Kel. Gunung Gede, Kec. Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat pada ketinggian 317 mdpl. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 14 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah perendaman benih secang menggunakan larutan ZPT (tanpa perendaman, perendaman dalam aquades, indole-3 acetic acid [IAA] 1,25 ppm, naphthalene-1-acetic acid [NAA] 1,25 ppm, 6-benyl amino purine [BAP] 1,25 ppm, IAA 1,25 ppm + BAP 1,25 ppm, NAA 1,25 ppm + BAP 1,25 ppm) dan jenis media tanam (topsoil, topsoil + pukan sapi 2:1). Hasil penelitian pada fase perkecambahan menunjukkan bahwa IAA + BAP 1,25 ppm mampu memberikan persentase perkecambahan dan kecepatan berkecambah terbaik sebesar 66,5% dan 7,3% KN/etmal. Hasil penelitian fase pembibitan menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan perendaman larutan ZPT dengan penggunaan media tanam terhadap jumlah daun dan diameter batang bibit secang pada umur 12 minggu setelah tanam (MST).  Perlakuan perendaman NAA 1,25 ppm + BAP 1,25 ppm memberikan hasil terbaik pada jumlah daun umur 6 MST dan diameter batang bibit umur 12 MST. Penggunaan media tanam topsoil mampu meningkatkan hasil jumlah daun dan bobot kering total bibit secang.
Potensi Bahan Organik Cair Berbasis Limbah Bonggol Pisang Terhadap Pertumbuhan Teh (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) Anjarsari, Intan Ratna Dewi; Primadi, Ilhamsyah; VZ, Cucu Suherman
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.46200

Abstract

Tersedianya unsur hara dan air yang cukup merupakan salah satu syarat untuk keberhasilan kegiatan pembibitan dalam perbanyakan tanaman teh. Pertumbuhan bibit yang baik ditandai dengan seimbangnya pertumbuhan perakaran dan batang dengan daun. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi dan interval pemberian bahan organik cair (BOC) bonggol pisang dalam meningkatkan pertumbuhan bibit teh serta untuk mendapatkan informasi konsentrasi dan interval BOC bonggol pisang yang memberikan pengaruh terbaik untuk pertumbuhan bibit teh. Percobaan dilaksanakan pada bulan Desember 2021 sampai Maret 2022 di Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang berada pada ketinggian ±1.350 m dpl. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sembilan kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Perlakuan yang diuji yaitu pupuk urea sebagai kontrol, dan kombinasi konsentrasi BOC bonggol pisang (10%, 20%, 30% dan 40%) dengan interval pemberian BOC (7 dan 14 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian BOC bonggol pisang pada konsentrasi 40% dengan interval 7 hari sekali (28,60 cm) memberikan pengaruh lebih baik untuk variabel panjang akar (12 MSP) dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik urea (19,88 cm).  Pemberian BOC bonggol pisang konsentrasi 10 – 40% yang dikombinasikan dengan interval aplikasi 7 hari dan 14 hari dapat menjadi alternatif pemupukan organik pada pembibitan setek teh klon GMB 7 yang berumur delapan bulan.
Pengaruh Pupuk Kandang Sapi dan Konsentrasi Urine Kelinci terhadap Pertumbuhan Bibit Kopi Liberoid Meranti Abdul Halim Luthfi; Santi Rosniawaty; Intan Ratna Dewi Anjarsari; Mira Ariyanti
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/paspalum.v11i2.628

Abstract

Liberoid Meranti coffee seeds can grow well if they are cared for properly. The plant nursery phase determines the successful growth of Liberoid Meranti coffee plants. One of the important maintenance actions carried out when cultivating coffee plants is choosing planting media and fertilization. The organic fertilizer that can be used as a planting media mixture in Liberoid meranti coffee nurseries is cow manure. Rabbit urine is a liquid organic material that contains nutrients, so it can be applied to soil or plants to add nutrients. Liquid organic materials contain macro- and micronutrients. Using the right composition of cow manure and rabbit urine concentrations really determines the growth of Liberoid Meranti coffee plant seeds. This experiment was carried out from February 2023 to June 2023 at the Ciparanje experimental garden, Padjadjaran University, Jatinangor District, Sumedang Regency. This experiment was carried out using a randomized group design (RAK) with nine treatments: soil + 2g urea; soil + 25% rabbit urine; soil + rabbit urine 50%; soil + cow manure (1:1) + rabbit urine 25%; soil + cow manure (1:1) + rabbit urine 50%; soil + cow manure (2:1) + rabbit urine 25%; soil + cow manure (2:1) + rabbit urine 50%; soil + cow manure (3:1) + rabbit urine 50%, and each treatment was repeated three times to obtain 27 experimental units. The experimental results showed that there was an influence of the composition of cow manure as a mixture of planting media and the concentration of rabbit urine on the growth of Liberoid Meranti coffee seedlings, except for the increase in the number of leaves. The composition of a mixture of planting media with cow manure (3:1) and a rabbit urine concentration of 25% provides the best growth for Liberoid Meranti coffee seedlings.