Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS BIAS DAN STEREOTIPE GENDER PADA SERIAL MARVEL’S AGENT CARTER (2015) Amanda Rachma Oktavia; Andrik Purwasito; Eka Nada Shofa Alkhajar
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 9, No 1 (2026): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v9i1.27186

Abstract

Media berperan signifikan dalam konstruksi sosial terutama gender. Gender selalu memiliki standar yang harus ditemui dalam masyarakat sosial, seperti laki-laki harus menjadi pemimpin sedangkan perempuan tidak akan cocok jadi pemimpin. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk melihat dan menganalisis bagaimana bias dan stereotip gender di tahun 1940-an terjadi dalam serial Marvel’s Agent Carter. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Penelitian ini memeroleh data melalui observasi seluruh episode serta peninjauan dokumen dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan proses produksi dan representasi tokoh. Proses analisis meliputi pemilahan visual dan naratif, pengidentifikasian makna denotatif, penafsiran makna konotatif, hingga pengungkapan mitos yang membentuk konstruksi gender dalam konteks sosial-budaya periode tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa Peggy cenderung dipandang remeh oleh rekan kerja laki-laki di lingkungan SSR. Serial ini tidak hanya menunjukkan diskriminasi terhadap perempuan pada tahun 1940-an, tetapi juga menunjukkan bahwa Peggy dapat memposisikan feminitas sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Walau begitu, serial ini juga memperlihatkan bahwa feminitas dapat berfungsi sebagai kekuatan. Penelitian ini memberikan kontribusi pada studi representasi gender dalam media dan membuka ruang bagi penelitian selanjutnya untuk memperluas cakupan analisis dengan metode analisis lainnya untuk melihat bagaimana pesan perlawanan serta feminisme dari tokoh utama dan perempuan lainnya di serial ini.
Gerakan Literasi Internasionalisasi Perguruan Tinggi di Pesantren Internasional Winarni, Leni; Minasari, Arofah; Purwasito, Andrik
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 19, No 1 (2022): Proceeding Biology Education Conference
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modernity demands a high-quality human being, especially education. While part of society justifies that the best education should have an international label since it is considered to master many things. Therefore is not surprising that many parties have created international labeled schools in Indonesia, such as  Islamic boarding schools. They are marked with the term “Islamic International Boarding School” and have a primary vision and mission to deliver the students (santri) able to compete in the international realm. However, understanding literacy to obtain information, especially about getting information sources, studies programs following the students' expertise, and so on, is still limited. Drawing from these problems, we held a community service activity, which focused on an information literacy campaign held in Islamic International School Sabilil Muttawien, Magetan, East Java. This activity aims to find out the description of literacy about the internationalization of higher education. Based on this background, we also survey how the santri seek information about international higher education that santri will be able to use online media as santri (prospective students) can find out detailed information about top international universities.
REPRESENTASI AGENSI PEREMPUAN SASAK DALAM MERESPONS MODERNITAS PADA FILM "PEREMPUAN SASAK TERAKHIR" Feriana Rizkia Amin; Andrik Purwasito; Eka Nada Shofa Alkhajar
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 9, No 2 (2026): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v9i2.27438

Abstract

Studi ini meneliti film Perempuan Sasak Terakhir (2012) sebagai teks etnografi visual yang menantang bias pro-inovasi dalam Teori Difusi Inovasi. Dengan menggunakan analisis konten kualitatif dari 126 adegan, penelitian ini menunjukkan bahwa artefak budaya material, khususnya mode (45,5%), bertindak sebagai pendorong utama konflik dalam 88,9% film tersebut. Temuan tersebut menggarisbawahi kontras yang jelas antara agensi hibrida Anjani, yang menegosiasikan pengaruh modern sambil tetap berakar pada nilai-nilai adat, dan keterasingan Wati yang disebabkan oleh rendahnya kompatibilitas inovasi perkotaan dalam sistem budaya lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menjembatani kesenjangan antara budaya material dan teori difusi inovasi dalam konteks perempuan Sasak pribumi. Penelitian ini menawarkan kerangka kerja untuk studi masa depan guna meneliti ketahanan budaya di destinasi wisata super-prioritas lainnya yang menghadapi transformasi modern yang cepat. Model agensi hibrida selektif ini dapat direplikasi untuk penelitian di masa mendatang dalam konteks masyarakat adat lainnya di Indonesia yang menghadapi ancaman modernitas serupa, seperti di daerah tujuan super prioritas lainnya, untuk memperkaya kekayaan komunikasi visual dan strategi pelestarian budaya di Indonesia.
Introducing Indonesia and Opening Opportunities for Cooperation with Universities in Philippines Erwin Kartinawati; Peni Pujiastuti; Yudi Wibowo; Sri Huning Anwariningsih; Andrik Purwasito
GANDRUNG: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): GANDRUNG: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/gandrung.v7i1.7485

Abstract

In the era of educational globalization, collaboration between universities across countries has become a strategic necessity to strengthen the exchange of knowledge, culture, and innovation. Indonesia, as a country with rich culture, languages, and significant academic potential, has the opportunity to expand its educational network with countries in Southeast Asia, including the Philippines. However, educational and cultural relations between Indonesia and the Philippines have not been optimally developed. In that regard, through this community service activity, a team of Indonesian academics seeks to comprehensively introduce Indonesia to the academic community in the Philippines, while also opening opportunities for collaboration between universities in education, research, and community service. This activity also represents the implementation of educational, language, and cultural diplomacy, demonstrating the contribution of Indonesian universities at the international level. This activity is expected to result in the signing and implementation of cooperation agreements
BOBOT, BIBIT, BEBET: ANALISIS STRATEGI PEMENANGAN PRABOWO-GIBRAN PADA PILPRES 2024 MELALUI POLITIK KETOKOHAN Erwin Kartinawati; Andrik Purwasito; Betty Gama
Jurnal Komunikasi dan Kajian Media Vol. 10 No. 1 (2026): JURNAL KOMUNIKASI DAN KAJIAN MEDIA
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/jkkm.v10i1.3831

Abstract

Long before the 2024 presidential election campaign period was set, billboards with pictures of Prabowo-Jokowi had embellished several cities and regions in Indonesia. That was interesting because in his fifth candidacy for president of the Republic of Indonesia, Prabowo did not take Jokowi but Jokowi's son, Gibran Rakabuming Raka. Why did the billboards as a medium for political outreach not directly display the picture of Prabowo-Gibran, but instead Prabowo-Jokowi? Through a semiotic analysis of the Charles Sanders Pierce model which connects three elements between sign, object and interpretant, it was concluded that this was part of an effort to win a candidate partner using a political figure srategy. Jokowi is the political branding for Gibran. Branding is needed to increase electability through popularity. Jokowi's figure on the billboards was a political strategy through a primarily Javanese cultural approach that could not ignore the issues of Bibit, Bobot, and Bebet. All three were forms of political negotiation by demonstrating the power possessed to gain a bargaining position against opponents and the public, through cultural awareness.