Claim Missing Document
Check
Articles

UJI EFEK ANALGESIK EKSTRAK ETANOL DAUN KEJI BELING (Strobilanthes crispus L) PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR (Rattus norvegicus) Olii, Ariesthya D. C.; Bodhi, Widdhi; Edi, Hosea J.
PHARMACON Vol 9, No 2 (2020): PHARMACON
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.9.2020.29267

Abstract

ABSTRACT Pain is an unpleasant sensory and emotional experience due to tissue damage both actual and potential. Analgesics are a drug used to relieve pain without losing consciousness. Keji beling leaves (Strobilanthes crispus L) contain glycosidic ester compounds from caffeic acid, which have analgesic effects. This study aims to determine whether there is an analgesic effect on the ethanol extract of keji beling leaves with different doses, namely dose 0.0023g / 200gBW, 0.0047g / 200gBW, and 0.0094g / 200gBW in test animals of wistar strain male rats. This study uses a laboratory experimental research design using wistar strain male white rat as a test animal. The analgesic effect test was carried out by the heat stimulation method using a 53 °C water bath. The rat response was observed in the form of movements of licking the hind legs or jumping from before giving test material and after giving test material at 30, 60, 90 and 120 minutes, respectively. From the results of statistical data analysis with One Way Anova and LSD showed that the extracts keji beling leaves has an analgesic effect. Where among those three doses the best dose was 0.0023g / 200gBW. Keywords: Analgesic, anova, keji beling leaves, white male wistar rats. ABSTRAK Rasa nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan baik aktual maupun potensial. Analgesik ialah suatu obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit tanpa menghilangkan kesadaran. Daun keji beling (Strobilanthes crispus  L) mengandung senyawa glikosidik ester dari asam caffeic yang memiliki efek analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya efek analgesik pada ekstrak etanol daun keji beling dengan dosis berbeda-beda yaitu dosis 0,0023g/200gBB, 0,0047g/200gBB, dan 0,0094g/200gBB pada hewan uji tikus putih jantan galur wistar. Penelitian ini menggunakan Rancangan penelitian eksperimental laboratorium dengan menggunakan hewan uji tikus putih jantan galur wistar. Pengujian efek analgesik dilakukan dengan metode rangsangan panas menggunakan waterbath suhu 53°C. Respon tikus diamati berupa gerakan menjilat kaki belakang atau melompat dari sebelum pemberian bahan uji dan sesudah pemberian bahan uji  berturut-turut pada menit ke 30, 60, 90 dan 120. Dari hasil analisis data secara statistika dengan One Way Anova dan LSD menunjukkan bahwa ekstrak daun keji beling memiliki efek analgesik. Dimana antara ketiga dosis tersebut yang paling terbaik ialah dosis 0,0023 g/200gBB. Kata kunci : Analgesik, Anova, Daun Keji Beling, tikus putih jantan galur wistar
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK RIMPANG LENGKUAS PUTIH (Alpinia galanga L. Swartz) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Klebsiella pneumoniae ISOLAT SPUTUM PADA PENDERITA PNEUMONIA RESISTEN ANTIBIOTIK SEFTRIAKSON Hasan, Puput Herawati; Fatimawali, Fatimawali; Bodhi, widdhi
PHARMACON Vol 8, No 1 (2019): PHARMACON
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.8.2019.29229

Abstract

ABSTRACT             White galangal rhizome (Alpinia galanga L. Swartz) is one of the plants which has the antibacterial properties from the zingiberaceae family. Empirically it can treat various diseases such as chest pain, throat inflammation, stomach inflammation, rheumatism, diabetes and skin diseases. White galangal rhizome contains flavonoids, tannins, quinones and terpenoids. This study aims to determine the antibacterial activity of white galangal rhizome extract (Alpinia galanga L. Swartz) and test its inhibition against the growth of Klebsiella pneumoniae bacteria which are resistant to ceftriaxone antibiotics. The white galangal rhizome was extracted by maceration method using 96% ethanol solvent and antibacterial activity was tested using the disc and well method with a concentration difference of 100%, 75%, 50%, 25% and 12.5%. The results showed that white galangal rhizome extract (Alpinia galanga L. Swartz) had antibacterial activity against the bacterium Klebsiella pneumoniae and could inhibit the growth of Klebsiella pneumoniae bacteria. On the disc method for concentrations of 100%, 75%, 50%, 25% and 12.5%, the inhibitors were categorized as medium. Whereas in the well method for concentrations of 100% and 75%, the inhibitors were categorized as strong, for concentrations of 50%, 25%, and 12.5%, which have a medium category.Keywords: White Galangal Rhizome (Alpinia galanga L. Swartz), Klebsiella pneumoniae ABSTRAK Rimpang Lengkuas putih (Alpinia galanga L. Swartz) merupakan salah satu tanaman yang memiliki khasiat sebagai antibakteri dari family zingiberaceae. Secara empiris dapat mengobati berbagai penyakit seperti nyeri dada, radang tenggorokkan, radang lambung, rematik, diabetes dan penyakit kulit. Rimpang Lengkuas putih mengandung senyawa flavonoid, tanin, kuinon dan terpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak rimpang Lengkuas putih (Alpinia galanga L. Swartz) dan menguji daya hambatnya terhadap pertumbuhan bakteri klebsiella pneumoniae yang resisten terhadap antibiotik seftriakson. Rimpang Lengkuas putih diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode cakram dan sumuran dengan perbedaan konsentrasi 100%, 75%, 50%, 25% dan 12,5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rimpang Lengkuas putih (Alpinia galanga L. Swartz)  memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Klebsiella pneumoniae dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Klebsiella pneumoniae. Pada metode cakram untuk konsentrasi 100%, 75%, 50%, 25% dan 12,5% memiliki daya hambat yang dikategorikan sedang. Sedangkan pada metode sumuran untuk konsentrasi 100% dan 75%  memiliki daya hambat yang dikategorikan kuat, untuk kosentrasi 50%, 25%, dan 12,5% memiliki daya hambat yang dikategorikan sedang.Kata Kunci: Rimpang lengkuas putih (Alpinia galanga L. Swartz), Klebsiella pneumoniae
SKRINING FITOKIMIA, UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, DAN TOKSISITAS DARI EKSTRAK DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.) DENGAN METODE 1.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) dan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) Widjaya, Selin; Bodhi, Widdhi; Yudistira, Adithya
PHARMACON Vol 8, No 2 (2019): PHARMACON
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.8.2019.29297

Abstract

ABSTRACTKersen (Muntingia calabura L.) is a plant that has begun to be eliminated and was rarely used because it is often considered to have no economic value and lack of knowledge about its utilization, whereas kersen plants contain flavonoids, saponins, and tannins which were have high benefit for health. The content of metabolites is affected by soil nutrient elements and difference place of growth. This study aims to determine the potential of kersen leaves grown in North Minahasa based on phytochemical content, ability of antioxidant activity, and toxicity. Kersen leaves were extracted using sequential maceration method with n-hexane, ethyl acetate, and ethanol as solvents. Phytochemical Screening using several reagents which tailored to the type of phytochemical test. 1.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method is used to evaluate antioxidant activity, and Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method is used to evaluate toxicity. The result of this study indicate that the n-hexane extract contains phenols, flavonoids, and tannins, with IC50 value 12.54 μg/mL, and LC50 value 881 μg/mL. Ethyl acetate extract contains phenols, flavonoids, tannins, and saponins, with IC50 value 61.3 μg/mL, and LC50 value 1758 μg/mL. Ethanol extract has phenol, flavonoid, tannin, saponin, and terpenoid content, with IC50 value 9.01 μg/mL, and LC50 value 106 μg/mL. Keywords : Kersen leaves, Antioxidant, Toxicity, IC50, LC50 ABSTRAKKersen (Muntingia calabura L.) merupakan tanaman yang sudah mulai tersingkirkan dan jarang dimanfaatkan karena sering dianggap tidak punya nilai ekonomis dan kurangnya pengetahuan tentang pemanfaatannya, padahal tanaman kersen memiliki kandungan flavonoid, saponin, dan tanin yang bermanfaat tinggi untuk kesehatan. Kandungan senyawa metabolit dipengaruhi oleh unsur hara tanah dan perbedaan tempat tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dari daun kersen yang tumbuh di Minahasa Utara berdasarkan kandungan fitokimia, kemampuan aktivitas antioksidan, dan toksisitasnya. Ekstrak daun kersen diekstraksi dengan metode maserasi sekuensial menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, dan etanol.  Skrining fitokimia menggunakan beberapa reagen yang disesuaikan dengan jenis uji fitokimia. Metode 1.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan, dan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) digunakan untuk mengevaluasi toksisitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan memiliki kandungan fenol, flavonoid, dan tanin, nilai IC50 12,54 μg/mL, dan nilai LC50 881 μg/mL. Ekstrak etil asetat memiliki kandungan fenol, flavonoid, tanin, dan saponin, nilai IC50 61,3 μg/mL, dan nilai LC50 1758 μg/mL. Ekstrak etanol memiliki kandungan fenol, flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid, nilai IC50 9,01 μg/mL, dan nilai LC50 106 μg/mL. Kata kunci : Daun Kersen, Antioksidan, Toksisitas, IC50, LC50
UJI EFEK ANALGETIK EKSTRAK ETANOL RIMPANG JAHE PUTIH (Zingiber officinale Rosc.var. Amarum) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus) Lahamendu, Beatriks; Bodhi, Widdhi; Siampa, Jainer P.
PHARMACON Vol 8, No 4 (2019): PHARMACON
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.8.2019.29372

Abstract

ABSTRACTWhite Ginger Rhizome (Zingiber officinale Rosc.var. Amarum) contains secondary metabolites such as flavonoids, there are also several compounds such as gingerol, shogaol, and zhigeron which provide anti-inflamatory, antioxidant, analgesic, anticarsinogenic and cardiotonic effects. This study aims to determine the analgesic effect of ethanol extracts of white ginger rhizome with different doses, namely the treatment group 1, dose 0.006 g, the Treatment  Group 2, dose 0.012 g and the Treatment Group 3, dose 0.024 g tested on white male wistar strain rats. This study uses a laboratory experimental research design using male white rats as experimental animals. The result of the study using LSD showed a difference between the group of negative control and the group of positive control, and also the treatment group with extracts with significance value (0.014, 0.008, 0.012 and 0.005 ) the value <0.05, which indicates that according to the hypothesis namely rejecting H0 and accepting H1, which means significantly different between the negative control group with  positive control group and the treatment group with extracts, but there is no difference between the positive control group and the treatment group with extract which means there is no difference because they both have analgesic effects. From the results of the study it can be concluded that the ethanol extracts of white ginger rhizome at a dose 0.006 g, 0.012 g, and 0.024 g has analgesic effects in male white wistar strain rats can be seen from the decreasing number of rat responses (licks and jumps).Keywords: Analgesic, anova, White Ginger Rhizome, White male wistar strain ABSTRAKRimpang Jahe putih (Zingiber officinale Rosc.var amarum ) mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid juga terdapat beberapa senyawa seperti gingerol, shogaol, dan zingeron yang memberikan efek antiinflamasi, antioksidan, analgetik, antikarsinogenik dan kardiotonik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya efek analgetik dari ekstrak etanol rimpang jahe putih dengan dosis yang berbeda-beda yaitu Kelompok Perlakuan 1 dosis 0,006 g, kelompok Perlakuan 2 dosis 0,012 g dan Kelompok Perlakuan 3 dosis 0,024 g yang diuji pada tikus putih jantan galur wistar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental laboratorium dengan menggunakan tikus putih jantan sebagai hewan percobaan. Hasil penelitian menggunakan LSD menunjukkan adanya perbedaan antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok kontrol positif, dan juga kelompok perlakuan dengan ekstrak dengan nilai signifikansi (0,014, 0,008, 0,012 dan 0,005) nilai tersebut <0,05 yang menandakan bahwa sesuai hipotesis yaitu menolak H0 dan menerima H1 yang berarti berbeda secara signifikan antara kelompok kontrol negatif dengan kontrol positif dan kelompok perlakuan dengan ekstrak,tapi tidak terdapat perbedaan antara kelompok kontrol positif dengan kelompok perlakuan dengan ekstrak yang berarti tidak memiliki perbedaan karena sama-sama memiliki efek analgetik. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol rimpang jahe putih dengan dosis 0,006 g, 0,012 g dan 0,024 g memiliki efek analgetik pada tikus putih jantan galur wistar dapat dilihat dari menurunnya jumlah respon tikus (jilatan dan lompatan).Kata kunci : Analgetik, anova, rimpang Jahe putih, tikus Putih jantan galur wistar
GAMBARAN ASUPAN PURIN PADA REMAJA DI KABUPATEN MINAHASA Ali, Ningsi Hadji; Kepel, Billy J.; Bodhi, Widdhi
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.4594

Abstract

Abstract: High purine intake can result in hyperuricemia which leads to gouthy arthritis and formation of kidney stone. High purine concentration is mainly contained in animal protein. Minahasa ethnic people have a habit of holding events where there is feast party and the majority of Minahasa signature dishes are animal product. This study aims to describe the purine intake in adolescents in Minahasa Regency. This research design is a descriptive cross-sectional study with 40 study subjects. Sample is students of SMKN 2 and SMKN 3 Tondano in Minahasa Regency. Purine intake is measured by using Food Frequency Questionnaire (FFQ). The average of purine intake among adolescents in Minahasa Regency is 91,89 to 1028,44 mg/day, 40% adolescents consume purine rich foods, that consist of 35% boys and 5% girls. There are 52,5% adolescents consume foods with moderate purine content in high frequency and 40% adolescents consume foods with high purine content in high frequency. The conclusion of this study is the average of purine intake among adolescents in Minahasa Regency is quite high. It requires dietary knowledge of purine containing foods in order to reduce purine intake to prevent the increasing of hyperuricemia incidence and its impacts. Keywords: purine intake, adolescent, Minahasa Regency     Abstrak: Asupan purin yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya hiperurisemia yang dapat berakhir dengan gout arthritis dan batu ginjal. Kadar purin yang tinggi terutama terkandung dalam protein hewani. Masyarakat etnis Minahasa memiliki kebiasaan menggelar acara syukuran yang diikuti dengan pesta makan dan makan makanan khas Minahasa yang sebagian besar berasal dari hewani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asupan purin pada remaja di Kabupaten Minahasa. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif cross-sectional dengan jumlah subjek 40 orang. Subjek dari penelitian ini yaitu siswa-siswi SMK Negeri 2 Tondano dan SMK Negeri 3 Tondano di Kabupaten Minahasa. Data asupan purin diukur dengan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Rata-rata asupan purin remaja di Kabupaten Minahasa sebesar 91,89-1028,44 mg/hari, dengan 40% remaja mengkonsumsi purin dalam jumlah yang tinggi, yang terdiri dari 35% remaja pria dan 5% remaja wanita. Remaja yang mengkonsumsi makanan yang mengandung purin sedang dengan frekuensi tinggi sebanyak 52,5% dan remaja yang mengkonsumsi makanan yang mengandung purin tinggi dengan frekuensi tinggi sebanyak 40%. Kesimpulan penelitian ini yaitu rata-rata asupan purin remaja di Kabupaten Minahasa cukup tinggi. Hal ini membutuhkan peningkatan pengetahuan tentang kandungan purin dalam makanan sehingga dapat membatasi jumlah asupan purin untuk mencegah meningkatnya kejadian hiperurisemia dan penyakit yang ditimbulkannya. Kata kunci: asupan purin, remaja, Kabupaten Minahasa
BAKTERI RESISTEN MERKURI (Hg) PADA PLAK GIGI PASIEN DENGAN TUMPATAN AMALGAM DI PUSKESMAS BAHU Mogi, Karen Tizia; Kepel, Billy; Bodhi, Widdhi
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.3262

Abstract

Abstract: Amalgam is an alloy of mercury with various metals which used for dental amalgam fillings since 150 years ago. It is still popular because of it’s strength and durability. However, it also has issue about it’s safety due to releasing of mercury inside oral cavity. Long time of exposure to mercury will result in resistant mercurial. Bacteria have ability to reduce Hg2+ to Hg0 by mercury reductase enzyme, changing toxicity to non-toxic form. We obtained the dental plaque from 5 patients who has been using amalgam for 5 years or more at Puskesmas Bahu. The dental plaque were stored inside the sterile glass tube with 0.9% NaCl solution and then tested for mecury resistant bacteria and identified bacteria. We founded 15 isolates were resistant to mercury. Then we did physiology, morphology, and biochemistry tests.  There are 8 genus of bacterias which has ability to reduce mercury from dental plaque of patient with amalgam fillings. Keywords: Amalgam, Mercury Resistant Bacteria, Dental Plaque   Abstrak: Amalgam merupakan campuran logam, yang diantaranya adalah merkuri sudah digunakan sejak 150 tahun yang lalu oleh kedokteran gigi sebagai penambal gigi berlubang dan sampai sekarang amalgam masih digunakan oleh dokter gigi karena merupakan bahan tambalan yang kuat dan tahan lama. Namun resiko utama amalgam adalah pelepasan uap merkuri yang mungkin terjadi selama penggunaannya di rongga mulut. Penggunaan amalgam ini memicu munculnya bakteri resisten terhadap merkuri dimana bakteri mampu untuk mereduksi ion Hg2+ menjadi Hg0 oleh enzim merkuri reduktase, yang sebelumnya bersifat toksik menjadi kurang toksik. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui bakteri resisten merkuri pada plak gigi pasien dengn tumpatan amalgam. Desain penelitian adalah metode deskriptif eksploratif. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 5 koloni bakteri resisten merkuri pada plak gigi dari pasien yang telah menggunakan tumpatan amalgam minimal 5 tahun yang berkunjung ke Puskesmas Bahu. Spesimen yang didapatkan dimasukkan ke dalam tabung reaksi steril yang berisi larutan NaCl 0.9% segera dibawa ke laboratorium untuk dilakukan uji resistensi merkuri dan identifikasi bakteri. Isolasi isolat bakteri resisten merkuri pada 5 sampel, diperoleh 15 isolat. Selanjutnya dilakukan identifikasi bakteri melalui uji morfologi, uji fisiologi, dan uji biokimia.  Hasil uji yang dilakukan ditemukan 8 genus bakteri yang dapat diidentifikasi. Kata Kunci: Amalgam, Bakteri Resisten Merkuri, Plak Gigi
UJI DAYA HAMBAT JAMUR ENDOFIT AKAR BAKAU ACHANTUS TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIAE COLI Pongantung, Clara; Kepel, Billy; Bodhi, Widdhi
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6431

Abstract

Abstract: Fungi and bacteria are microbes that are classified in the general stage of Endofit. Fungi is the most isolated form of Endofit. To this point studies articulating endofit are still at a scarce stage, without a doubt the corresponding relationship between plants and organisms. Endosimbions are considered in a state between grass that grows endemic in The United States of America (truf grass) and endofit fungi, Neotyphodium SP. The purpose of these researches are to see and understand the inhibition of bacteria growth from endofit fungi that can be obtained from the roots of Mangrove Acanthus against bacteria Staphylococcus Aureus and Escherichia coli. These studies have been researched since November 2013 to January 2014 at the Biomedical Research Laboratory Faculty of Medicine University of Sam Ratulangi. The research results that were conjured from the Mangrove root type Achantus have an inhibitory effect on the test bacteria research, which are Staphylococcus Aureus and Escherichia Coli.Keywords: endofit fungi, Achantus, Staphylococcus Aureus, and Escherichia Coli.Abstrak: Jamurdan bakteri merupakan mikroba yang paling umum dijumpai sebagai endofit, sedangkan endofit yang paling sering diisolasi ialah jamur. Sejauh ini penelitian mengenaiendofit masih sanga tjarang dipelajari, akan tetapi hubungan antara tumbuhan dengan organisme endosimbion dapat dilihat antara suatu jenis rumput yang tumbuh endemik di Amerika Utara (truf grass) dengan jamur endofit Neotyphodium sp. Tujuan penelitian ini untuk melihat dan mengetahui daya hambat pertumbuhan bakteri dari jamur endofit yang terdapat pada akar mangrove Acanthus terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penelitian ini dilakukan sejak bulan November 2013 sampai dengan Januari 2014 di Laboratorium Riset Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Dari hasil penelitian yang didapat akar mangrove jenis achantus memiliki daya hambat terhadap bakteri uji pada penelitian ini yaitu staphylococcus aureus dan Escherichia coli.Kata kunci: jamur endofit, Achantus, Staphylococcus aureus, Escherichiae coli.
UJI EFEK ANALGESIK EKSTRAK ETANOL DAUN KUCAI (Allium tuberosum) PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus) Turama, Dwilanda E.; Bodhi, Widdhi; Jayanto, Imam
PHARMACON Vol 9, No 3 (2020): PHARMACON
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.9.2020.30026

Abstract

ABSTRACTKucai (Allium tuberosum) leaves contain metabolite compounds such as alkaloids, saponins, tannis which are potential sources to be developed as medical plants. Flavonoid is a derivative pf a phenol that has an analgesic properties. This study aims to determine whether there is an analgesic effect on the ethanol extract of kucai leaves. This study uses a laboratory experimental research design using wistar strain male white rats as an experiment animal. The ethanol extract of kucai leaves are given with different doses, group 1 doses 3,6 mg, group 2 doses 7,2 mg and group 3 doses 14,4 mg. Stimulation method in rats was carried out by using a 55°C hot plate. Rats was observed before and after giving test material at 30, 60, 90 and 120 minutes respectively and observed their responses by the form of licking legs and jumping. From the result of data in the form of tables and charts show that the ethanol extract of kucai leaves with doses 3,6 mg, 7,2 mg, and 14,4 mg has analgesic effect. It can be concluded that the best analgesic effect of doses is doses 14,4 mg.Keyword : Analgesic, kucai, male white ratsABSTRAK Daun Kucai (Allium tuberosum) memiliki kandungan senyawa metabolit seperti alkaloid, saponin, tanin, dan flavonoid yang merupakan sumber potensial untuk dikembangkan sebagai tanaman obat. Flavonoid merupakan turunan senyawa fenol yang memiliki sifat analgetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya efek analgesik dari ekstrak etanol daun kucai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Penelitian eksperimental laboratorium menggunakan tikus putih jantan galur wistar sebagai hewan percobaan. Ekstrak etanol daun kucai diberikan dengan dosis yang berbeda-beda yaitu kelompok perlakuan 1 dengan dosis 3,6 mg, perlakuan 2 dengan dosis 7,2 mg, perlakuan 3 dengan dosis 14,4 mg. Metode rangsangan pada tikus dilakukan dengan menggunakan hot plate dengan suhu 550C. Tikus di amati sebelum dan setelah pemberian bahan uji, menit ke 30, 60, 90, dan 120. Respon tikus yang diamati berupa menjilat kaki dan melompat. Dari hasil analisis data dalam bentuk tabel, grafik dan diagram menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kucai dengan dosis 3,6 mg, 7,2 mg, dan 14,4 mg memiliki efek analgesik. Dapat disimpulkan bahwa dosis yang memiliki efek analgesik terbaik ialah dosis 14,4 mg.Kata kunci: Analgesik, kucai, tikus putih jantan
UJI EFEK ANALGETIK EKSTRAK RUMPUT TEKI (CYPERUS ROTUNDUS L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (RATTUS NOVERGICUS) Pandey, Putri Virgie; Bodhi, Widdhi; Yudistira, Adithya
PHARMACON Vol 2, No 2 (2013): pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.2.2013.1579

Abstract

Pain is defined as a sensory and emotional experience that is not associated with tissuedamage. Nut grass (Cyperus rotundus L.) is traditionally used as a pain reliever. Theobjectives of this research were to find out analgesic effect of nut grass extract withconcentration 3,15 g/KgBB, 6,3 g/KgBB and 12,6 g/KgBB on white male wistar. The subjectin this research were 15 white male wistar which divided into 5 groups, each group consist of3 white male wistar. Negative control group were administered with aquadest, positivecontrol group were administered with paracetamol, and experiment groups were administeredwith nut grass extract. Analgesic test were examined by giving pain stimulation to treatedanimals, such as 65°C heat stimulation. The response which observed were rats licking feetor jumping response. The observation was conducted for 1 minute.Observations wereconducted before extract administration, then at 30, 60, 90 and 120 minutes afteradministered. The results shows thatnut grass extract with concentration 3,15 g/KgBB, 6,3g/KgBB and 12,6 g/KgBB possess analgesic effect on white male wistar, especiallyconcentration 6,3 g/KgBB.Keywords: analgesic, nut grass extract, pain
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH SALAK (Salacca zalacca (Gaertn.) Voss) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus L.) YANG DIINDUKSI SUKROSA Kanon, Muharli Qadri; Fatimawali, Fatimawali; Bodhi, Widdhi
PHARMACON Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.1.2012.486

Abstract

This study aimed at finding out the effectivity of Salacca (Salacca zalacca [Gaertn]Voss) rind extract on blood sugar decrease of white male wistar (Rattus norvegicus L.)induced with sucrose. Completely randomized design method was used in this experiment.The subject of the experiment were 15 white male wistar which were divided into 3 (three)groups namely negative control group, treatment group with the dose of 150 mg extract/kgbody weight, and positive control group using glibenclamide 0.45 mg/kg body weight. Dataobtained from the examination of the fasting blood sugar were 30 minutes after inductionwith sucrose and at minute 15, 30, 60, and 120 after treatment was given. The data isprocessed using ANOVA and LSD test to compare between the negative control group,treatment, and a positive control. The analysis revealed a significant difference betweennegative control and treatment, negative control and positive control, but did not show asignificant difference between treatment groups with the positive control. The conclusion ofthis study is Salacca rind extract has an effect on blood sugar levels decrease of white malewistar induced with sucrose.Keywords: Salacca zalacca (Gaertn.) Voss, Salacca rind extract, blood sugar level, sucrose
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Aaltje Manampiring Adeanne C Wullur Adithya Yudistira Assa, Stevano M. Billy J. Kepel Billy Kepel Billy Senduk, Billy Brily Lombogia, Brily Budiarso, Fona Hermina Dwiana Budiarso, Fone D.H. Cheryl Kawatu Clara Pongantung Clementia Luigy Moot Datu, Olvie Syenni Debra Tiwow Deviwanti Batara, Deviwanti Edi, Hosea J. Edi, Hosea Jaya Eggy P. J. Ngantung, Eggy P. J. Ekawati Tallei, Trina Elly Suoth Fatimawali , Fatimawali Fatimawali . Felomina Jempormase, Felomina Fitria Angela Umar Fona Budiarso Gabriel N Nelwan Gabriela V.Ch Walewangko Gemi Nastiti Gerungan, Yizreel Y. Hasan, Puput Herawati Hasan, Puput Herawati Said Hosea Jaya Edy I Made Putra Suwertayasa Irma Tristanti Jayanto, Imam Jeane Mongi Julianri Sari Lebang, Julianri Sari Jusuf, Deva Dewanti Karen Tizia Mogi Kaunang, Christian Excelino Kaunang, Matthias D. Kepel, Billy Johnson Lady zha-zha Luntungan Lahamendu, Beatriks Lebang, Julianri S. Lengkong, Cheisy Anastasya Gratia Ley, Gabriella Therezia Ley Malino, Angeline Priscillia Manampiring, Aaltje Ellen Manopo, Chintia M. Marina Mamarimbing Mery A R Sinaga Mokalu, Frinsia Rutly Muharli Qadri Kanon Nainggolan, Ivana C. Ni Putu Ratna Sari Ningsi Hadji Ali Nofri P. Kurama Novel Kojong Olii, Ariesthya D. C. Olii, Ariesthya Dwi Cahyani Pangow, Sofia Paulina yamlean Pingkan, Aprilia Polii, Reiner C. Prasetio, Nathanael F. Putri Virgie Pandey Ratu, Belinda D. P. M. Rompas, Imanuela Zefanya Rompis, Tessalonicha J. Rumangu, Chrisa P. Siampa, Jainer Pasca Siringo-Ringo, Aurian Fricilia Sumakul, Gilbert Samuel Sumual, Priskila Feicy Sutanto, Stella Tamahiwu, Natasya Ester Rebeca Tulung, Grace Laury Turama, Dwilanda E. Turangan, Pricilia Dona Valentino Rakasiwi, Valentino Weny Wiyono Widjaya, Selin Yoas P. Simangunsong, Yoas P.