Claim Missing Document
Check
Articles

EFEKTIVITAS METODE DRILL DALAM PEMBELAJARAN BERNYANYI PADUAN SUARA DI SMP NEGERI 2 DENPASAR Uttama, Putu Gde Chaksu Raditya; Ardini, Ni Wayan; Mawan, I Gede
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Public
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.42203

Abstract

Penelitian ini didasari oleh pentingnya pembelajaran seni musik, khususnya pembelajaran bernyanyi paduan suara. Lagu Mars dan Hymne menjadi materi yang esensial karena berfungsi sebagai media pembentukan karakter, dan kekompakan vokal. Meskipun demikian, urgensi penelitian ini terletak pada kondisi proses pembelajaran bernyanyi paduan suara di kelas VIII SMP Negeri 2 Denpasar yang masih cenderung bersifat konvensional, kurang terstruktur, dan belum mampu menjamin pemerataan kualitas vokal peserta didik. Kondisi ini berpotensi menghambat pencapaian tujuan pembelajaran paduan suara sehingga diterapkan metode drill, yang menekankan latihan terarah, dan konsistensi latihan untuk meningkatkan kualitas suara kelompok. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan implementasi metode drill dalam pembelajaran bernyanyi paduan suara, (2) menguji efektivitas metode drill terhadap peningkatan keterampilan vokal peserta didik, dan (3) mengidentifikasi faktor pendukung serta penghambat dalam penerapannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods, dengan data kualitatif untuk menggambarkan proses pembelajaran dan data kuantitatif untuk mengukur peningkatan keterampilan bernyanyi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode drill efektif dalam meningkatkan keterampilan bernyanyi paduan suara. Rata-rata nilai peserta didik meningkat dari 71,46 pada pre-test menjadi 83,58 pada post-test, dengan hasil uji-t menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05) yang berarti terdapat peningkatan yang nyata pada kualitas bernyanyi paduan suara setelah penerapan drill. Selain itu, penerapan metode drill juga berdampak positif terhadap kekompakan kelompok berdasarkan pengorganisasian peserta didik melalui empat formasi vokal yakni sopran, alto, tenor, dan bass untuk memaksimalkan penyeragaman warna suara. Temuan ini memberikan kontribusi praktis bagi guru seni budaya dalam mengembangkan strategi pembelajaran paduan suara yang lebih efektif serta menjadi rujukan bagi penelitian lanjutan di bidang pendidikan seni musik.
Gending Gilak 32 Ketukan Sebagai Strategi Pembelajaran Karawitan Bali Bagi Siswa Pemula SMK Negeri 5 Denpasar I Putu Cory Arsatama; I Gede Mawan
Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 9 No 3 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/cetta.v9i3.5381

Abstract

Balinese karawitan learning at the vocational high school level still faces significant challenges, especially for students who have no prior experience or initial interest in playing gamelan, resulting in low understanding of basic concepts and karawitan technical skills. Few studies have specifically examined the use of particular gamelan repertoire as a structural medium for beginner students at the vocational high school level. This study aims to describe the implementation of a Balinese karawitan learning strategy based on Gending Gilak 32 beats to improve the learning outcomes of Grade X Seni Karawitan students at SMK Negeri 5 Denpasar. This study employed a qualitative descriptive approach with 29 students as research subjects. Data were collected through observation, interviews, and documentation of student practical assessment results. The learning strategy was implemented through six stages: gamelan instrument introduction, basic gangsa technique demonstration, guided practice in small groups, repetitive practice, individual practical evaluation, and learning reflection. The findings indicate that the implementation of the learning strategy through Gending Gilak 32 beats effectively improved students' understanding of basic concepts and karawitan technical skills. Prior to the implementation of the strategy, the class average score stood at 66.65 with all 29 students failing to meet the Minimum Competency Criteria (KKM) of 75. Following the implementation, the class average increased to 82.00 with all students declared competent, reflecting an improvement of 15.35 points. The improvement was not only quantitative but also qualitative, marked by increased student confidence, accuracy of tabuhan patterns, tempo stability, and mastery of the four basic gangsa techniques. This study contributes theoretically by affirming that simply structured repertoire can function as effective musical scaffolding within the context of formal Balinese karawitan pedagogy, and can serve as a reference for karawitan arts teachers in delivering foundational material to beginner students at the vocational high school level.
Manajemen Pembelajaran Seni Berbasis Proyek : Studi Kasus Pada Pameran Seni Lukis di SMP Negeri 2 Bondowoso Dafid Septyan Nur Fadholi; Ni Luh Sustiawati; I Gede Mawan
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 7 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i7.7250

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi manajemen pembelajaran seni berbasis proyek dalam konteks pameran seni lukis di SMP. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan guru seni budaya dan siswa, serta dokumentasi kegiatan pameran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dalam seni lukis mampu meningkatkan kreativitas, kerja sama, dan rasa tanggung jawab siswa. Proses pembelajaran melibatkan beberapa tahapan, yaitu perencanaan proyek, pelaksanaan, evaluasi, dan pameran karya seni sebagai produk akhir. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam mengembangkan ide, teknik melukis, dan manajemen waktu. Kegiatan pameran memberikan pengalaman autentik kepada siswa dalam mempresentasikan hasil karya mereka kepada khalayak, sekaligus membangun rasa percaya diri. Kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan waktu, fasilitas, dan anggaran, namun dapat diatasi melalui kolaborasi antara guru, siswa, dan pihak sekolah. Dengan demikian, manajemen pembelajaran seni berbasis proyek efektif dalam mendukung pengembangan keterampilan abad 21 seperti kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Studi ini merekomendasikan penerapan model pembelajaran berbasis proyek pada mata pelajaran seni lainnya untuk mendorong pengalaman belajar yang lebih bermakna.
REVITALIZING BALINESE MUSICAL IDENTITY THROUGH EXPERIMENTAL GONG KEBYAR: THE CREATIVE PROCESS OF THE FRAGMENTARY PERFORMANCE “JAPA TUAN” I Wayan Gede Rikiana Adi Putra; I Gede Mawan; I Made Kartawan
Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue (MORFAI) Vol. 6 No. 5 (2026): Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.22038462

Abstract

Balinese karawitan, particularly Gong Kebyar, ideally preserves traditional identity, philosophical depth, spiritual values, and local distinctiveness while remaining open to creative reinterpretation and experimental exploration in contemporary performing arts. However, studies on Gong Kebyar have often focused on history, technique, structure, or accompaniment function, while its role in reactivating Atma Kerthi, Geguritan Japa Tuan, Gamelan Penting Karangasem, and fragmentary performance without dalang as an integrated experimental-cultural process remains insufficiently examined. This study addresses how Balinese musical identity is revitalized through the experimental use of Gong Kebyar in “Japa Tuan” and what artistic-cultural contributions the work offers to local musical heritage and experimental performance. Using a qualitative, practice-based artistic research method with an R&D orientation, the study applies the Metamorphosis Completa model. Ulat for idea searching, observation, interviews, literature study, and cultural inspiration; kepompong for incubation, interpretation, musical experimentation, timbral exploration, and dramatic structuring; and kupu-kupu for composition, rehearsal, evaluation, revision, and final performance. The findings show that “Japa Tuan” revitalizes Balinese musical identity by transforming Atma Kerthi, Geguritan Japa Tuan, and Balinese musical traditions into new musical-performative expression. By expanding Gong Kebyar into a dramaturgical force and integrating Gamelan Penting Karangasem, bedug, gong beri, peluit, suling basur, vocality, movement, and visual elements, the work bridges preservation and innovation while opening new possibilities for contemporary karawitan.
Gamelan Palegongan Desa Adat Pemogan Kajian Organologi, Musikalitas, dan Fungsi I Gede Teguh Jati Baskara; I Komang Sudirga; I Gede Mawan
Center of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/cok.v5i2.2824

Abstract

Seni karawitan Bali memiliki peran penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat Bali. Gamelan Palegongan, yang awalnya diciptakan sebagai pengiring tari Legong Keraton, mengalami pergeseran fungsi signifikan seiring perubahan zaman. Kini, Palegongan lebih banyak digunakan dalam pelawatan seperti Telek, Barong, dan Rangda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan secara mendalam melalui tiga aspek utama: organologi, musikalitas, dan fungsi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, serta studi pustaka. Melalui pendekatan etnomusikologis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran holistik tentang bagaimana Gamelan Palegongan diposisikan dalam struktur budaya masyarakat Pemogan saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan memiliki organologis dengan struktur laras pelog lima nada. Secara musikal, terdapat teknik permainan yang mengedepankan estetika meditatif. Namun secara fungsional, gamelan ini mulai tersisih oleh jenis barungan lain yang dianggap lebih “sakral” dan energik oleh masyarakat. Temuan ini mempertegas perlunya strategi pelestarian yang tidak hanya bersifat dokumentatif, tetapi juga adaptif terhadap dinamika sosial dan spiritual masyarakat Bali.
AESTHETIC VALUES AND EDUCATIONAL PHILOSOPHY IN TARI BARIS BABUANG IN BATULANTANG VILLAGE, PETANG DISTRICT, BADUNG REGENCY I Gusti Ngurah Okta Diana Putra; I Wayan Budiarsa; I Gede Mawan; Ni Luh Desi In Diana Sari
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 2 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i2.8725

Abstract

The Baris Babuang Dance is a sacred Balinese performing art tradition originating from Batulantang Village, Petang District, Badung Regency, Bali, which was officially recognized as an Indonesian Intangible Cultural Heritage in 2021. Beyond its function as a ritual performance, the dance embodies aesthetic values and educational philosophies that play an important role in cultural transmission and character formation within the local community. This study aims to analyze the aesthetic values of the Baris Babuang Dance through Djelantik’s aesthetic framework of form, content, and appearance; examine the educational philosophy embedded in its performance and transmission processes; and explore its relevance to the development of local wisdom-based arts education. The research employed a qualitative ethnographic approach conducted in Batulantang Traditional Village. Data were collected through participant observation, semi-structured interviews, documentation, and literature review, and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings reveal that the aesthetic values of the Baris Babuang Dance are manifested through its dynamic choreographic structure, symbolic ritual properties, sacred performance context, and integration of artistic, spiritual, and cultural dimensions. The educational philosophy embodied in the dance encompasses values of discipline, responsibility, communal solidarity, spirituality, cultural stewardship, and character formation transmitted through participatory and intergenerational learning processes. Furthermore, the study demonstrates that the Baris Babuang Dance possesses significant relevance for local wisdom-based arts education by providing curricular, pedagogical, and cultural foundations for strengthening cultural identity and character education. The study concludes that the Baris Babuang Dance represents a living cultural heritage that functions simultaneously as a sacred artistic expression, a medium of cultural transmission, and a valuable educational resource for contemporary arts education.
Studi Eksplorasi Penggunaan Aplikasi Cubase 10.5 pada Mahasiswa Minat Aplikasi Musik Digital Program Studi Pendidikan Musik UNWIRA Kupang Andreas Sandro Toasu; I Gede Mawan; I Wayan Karja
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Vol. 6 No. 3 (2026): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 2026 (3)
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jppi.v6i3.4552

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif mengenai proses eksplorasi dan hasil penggunaan aplikasi Cubase 10.5 sebagai media pembuatan instrumen musik digital. Studi ini difokuskan untuk mengatasi permasalahan terkait kurangnya pemahaman mahasiswa Program Studi Pendidikan Musik Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang dalam mengaplikasikan teknologi audio modern guna menghasilkan karya musik digital. Metode penelitian yang diimplementasikan adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian melibatkan lima mahasiswa yang tergabung dalam program minat bakat aplikasi musik digital di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Musik UNWIRA. Data primer dan sekunder dikumpulkan secara komprehensif melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta dokumentasi terstruktur. Hasil penelitian membuktikan bahwa proses pembelajaran musik digital terlaksana secara sistematis melalui tiga tahap utama: orientasi, pelatihan, dan evaluasi. Tahap orientasi berhasil mengenalkan antarmuka dan fungsi dasar Cubase 10.5. Tahap pelatihan selama delapan kali pertemuan menggunakan metode drill dan recovery terbukti mampu meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menggambar melodi pada MIDI editor, menambah instrumen virtual, dan mengatur dinamika musik. Pada tahap evaluasi, karya musik digital mahasiswa dinilai memuaskan, meski sempat terkendala oleh kapasitas RAM yang kecil dan minimnya alat bantu output bunyi. Hambatan tersebut berhasil dimitigasi melalui penggunaan perangkat tambahan dan pendekatan bimbingan individual. Kontribusi utama penelitian ini adalah menjadi referensi ilmiah bagi pengembangan metode pembelajaran inovatif berbasis teknologi di institusi pendidikan seni musik. Lebih lanjut, studi ini memfasilitasi integrasi IPTEK ke dalam kurikulum di pendidikan seni musik guna merespons berbagai tuntutan dari industri musik modern saat ini.
Manajemen Pembelajaran Batik untuk Mengembangkan Karakter Siswa Melalui Pendekatan Karakter di SMK Negeri 4 Palangkaraya Ni Wayan Ratih Wahyuriani; Ni Luh Sustiawati; I Gede Mawan; I Wayan Karja
Misterius: Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: Misterius: Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/misterius.v1i4.484

Abstract

Effective learning management is very important to support the development of student character in Vocational High Schools (SMK). The output that is the goal of this writing is to explore the management of batik learning in SMK in an effort to instill student character values through a local wisdom approach.This study uses a case study methodology combined with a qualitative descriptive method. Analysis of learning documents, teacher and student interviews, and observations are used to collect data. The subjects of this study were grade XI students of the Batik and Textile Creative Crafts Program at SMK Negeri 4 Palangkaraya with an emphasis on batik subjects. The results of the study indicate that batik learning in SMK has the potential to develop student character, such as responsibility, patience, creativity, and love for local culture. Good learning management includes the planning, implementation, and evaluation stages that are integrated with local wisdom values. It is hoped that this approach will become a culture-based learning model that can be applied in various schools.