Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : ASRO JOURNAL - STTAL

THE OPERATIONAL READINESS FOR ANTI SUBMARINE INDONESIAN NAVAL BY USING ANTI SUBMARINE HELICOPTER Muksin Muksin; Udisubakti Ciptomulyono; Sutrisno Sutrisno; Sunarta Sunarta
JOURNAL ASRO Vol 12 No 01 (2021): International Journal of ASRO
Publisher : Indonesian Naval Technology College - Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut - STTAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37875/asro.v12i01.394

Abstract

Some of the Indonesian naval effort to see and protect the Indonesian territory is by using Helicopter sea patrol. In the other side, submarines are the most strategic weapons in the world that can provide a deterrence effect which has a very significant impact on the maritime powers of the countries operating them in the era of generation 4.0 war. Operational readiness is very important, there are readiness in building operational readiness for naval defense through budget fulfillment, utilization of existing resources, procurement and naval modernization by paying attention to Life Cycle Cost, and interoperability while still paying attention to paradigm shifts in naval capability. So, the combat readiness is the condition of the Indonesian Navy's defense equipment and its constituent units, resources and personnel, weapon systems and other military technology equipment in a condition that is ready to carry out military operations in an unspecified time, or function consistent with the purpose for which the defense equipment is organized or designed, the management of resources and training personnel in preparation for combat in the face of the threat of modern warfare in a state of constant combat readiness. At this time, training in Anti-Submarine Warfare conducted by Indonesian Navy’s Helicopter is still limited to carrying out flight procedures, communication procedures with the KRI and the command line, because Helicopters have sensors, weapons and command that need to be upgraded and The personnel also have underwater warfare capabilities that need to be upgraded, so there needs to be an increase in the capability of the helicopter and human resources. Technometry will be used to calculate the Heli's current readiness level. Keywords: Submarine, Anti Submarine Helicopter and operational readiness
PENJADWALAN PENUGASAN KRI DI KOLINLAMIL DENGAN PENDEKATAN BINARY INTEGER PROGRAMMING Ahmadi Ahmadi; Udisubakti Ciptomulyono; Mohamad Solekhan
JOURNAL ASRO Vol 6 (2016): Jurnal Analisis Sistem & Riset Operasi
Publisher : Indonesian Naval Technology College - Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut - STTAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.248 KB)

Abstract

Penjadwalan adalah suatu aktivitas penugasan yang berhubungan dengan sejumlah kendala, sejumlah kejadian yang dapat terjadi pada suatu periode waktu dan tempat atau lokasi sehingga fungsi objektif sedekat mungkin dapat terpenuhi. Dalam hierarki pengambilan keputusan, penjadwalan merupakan langkah terakhir sebelum dimulainya suatu operasi. Penjadwalan penugasan KRI di Kolinlamil menjadi topik yang menarik untuk dibahas dan dicari penyelesaiannya dengan metode matematis. Proses penjadwalan penugasan KRI di Kolinlamil dilakukan untuk menghasilkan jop/jog tahunan. Proses ini tidak hanya memerlukan tindak lanjut yang cepat, akan tetapi juga memerlukan langkah-langkah yang sistematis. Penjadwalan penugasan yang diterapkan Kolinlamil saat ini dilakukan oleh personel dengan tidak menggunakan perhitungan matematis. Proses penjadwalan penugasan kapal dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan metode Binary Integer Programming (BIP) dengan tujuan untuk meminimalkan penalty apabila melanggar soft constrain. Penjadwalan yang diamati adalah 14 kapal melaksanakan 26 operasi selama 52 minggu (1 tahun). Penelitian ini dimulai dengan penentuan variabel keputusan penjadwalan serta batasan yang dihadapai. Batasan itu yaitu hard constrain: kapal mulai operasi untuk tiap jenis operasi, kelas kapal yang dibolehkan melaksanakan operasi, durasi tiap operasi, jumlah kapal tiap operasi, jam putar maksimum yang di ijinkan, serta soft constrain: lama kapal operasi secara berturut-turut. Formulasi matematis dari model BIP yang dibuat terdiri dari tiga parameter ukur, empat variabel keputusan, satu fungsi tujuan dan tujuh fungsi kendala. Kemudian dilakukan pengembangan model BIP yang selanjutnya diselesaikan komputasi menggunakan LINGO 11.0. Hasil yang didapatkan bahwa model BIP yang diterapkan pada penjadwalan penugasan KRI Kolinlamil bisa mendapatkan hasil yang optimal. BIP adalah suatu metode yang tepat untuk digunakan sebagai metode dalam penjadwalan penugasan KRI di Kolnlamil.
APLIKASI FAILURE MODE EFFECT AND CRITICALITY ANALYSIS (FMECA) DALAM PENENTUAN INTERVAL WAKTU PENGGANTIAN KOMPONEN KRITIS RADAR JRC JMA 5310 PADA KRI SATUAN KAPAL PATROLI KOARMATIM Ahmadi Ahmadi; Udisubakti Ciptomulyono; Endin Tri Hartanto
JOURNAL ASRO Vol 6 (2016): Jurnal Analisis Sistem & Riset Operasi
Publisher : Indonesian Naval Technology College - Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut - STTAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.804 KB)

Abstract

Penggunaan radar navigasi di KRI, khusus nya di Satuan Kapal Patroli Koarmatim sangat vital sebagai alat indera jarak jauh dalam bernavigasi. Penggunaannya mutlak harus ada pada saat KRI melaksanakan operasi, sehingga kondisi kesiapan radar navigasi akan sangat mempengaruhi pelaksanaan tugas operasi yang diemban oleh Unsur-Unsur tersebut. Diperlukan manajemen pemeliharaan yang baik dan terencana untuk memperbaiki atau meniadakan kerusakan agar kinerja sistem tidak menurun. Failure Mode Effect and Criticality Analysis (FMECA) digunakan sebagai sebuah metodologi untuk mengidentifikasi dan menganalisis semua mode kegagalan potensial dari berbagai bagian sistem, efek kegagalan tersebut terhadap sistem, bagaimana menghindari kegagalan dan atau mengurangi dampak dari kegagalan pada sistem. Pada tulisan ini diusulkan model FMECA dalam menentukan komponen kritis Radar Navigasi JRC JMA 5310. Berdasarkan model FMECA tersebut didapat Risk Priority Number (RPN) yang dijadikan nilai acuan dalam penentuan komponen kritis. Nilai RPN setiap komponen yang didapat dianalisa dengan Risk Matrix, dari 27 (dua puluh tujuh) komponen yang telah diidentifikasi, didapat 7 (tujuh) komponen yang dianggap kritis, yaitu Modulator, Power Supply Scanner, Dioda Limiter, Magnetron, Receiver, Motor, Circulator. Komponen Modulator memiliki nilai RPN tertinggi dengan nilai 24180 dan komponen Plotter Control Circuit memiliki nilai RPN terendah dengan nilai 3289. Penentuan interval waktu penggantian komponen kritis yang telah didapat menggunakan pendekatan Reliability dan Cost Benefit Ratio (CBR). Didapatkan hasil bahwa komponen Dioda Limiter memiliki waktu penggantian tercepat, yaitu 152 hari. Sedangkan komponen dengan waktu penggantian terlama, yaitu 458 hari adalah komponen Motor dan Circulator. Di dapat pula nilai CBR untuk semua komponen kritis kurang dari 1 (CBR <1) menunjukkan biaya penggantian yang direkomendasikan sudah efisien. Komponen Dioda Limiter memiliki nilai CBR paling efisien, yaitu 0,57572. Dari analisa sensitivitas diperoleh variabel Reliability R(t) sangat berpengaruh terhadap perubahan penentuan interval waktu penggantian komponen kritis, dimana didalamnya terdapat parameter β (slope), parameter Ƴ (location), dan parameter Ƞ (scale). Parameter β lebih berpengaruh terhadap perubahan nilai Reliability R(t).
Co-Authors Achmad Danu Firdaus AHMADI Ahmadi Ahmadi Akhmad Mulyadi Amarulla Octavian Annas S. Setiyoko Arief Nurtjahjo Arino Anzip Aritonang, Adhe Martha Veronika Bakti Nugroho Dwi Kushadianto Budianto, Akhmad David Artanto Didik Wahyu Cahyono Dinariyana, Anak Agung Bagus Dwi Asmoro, Nurcahya Effi Latiffianti Eko Nurmianto Eko Nurmianto Endin Tri Hartanto Fodyansa, Aldo Fuad Achmadi Hakim, Muhammad Saiful Handaningtyas, Inggrid Hanoraga, Tony Hartanto, Endin Tri Hendrixon Hatta Hendriyadi, Hendriyadi Herlina Herlina Herry, Herry Herwindo, Raden Denny Hery Setiyawan I. K. Gunarta Iwan Hendra Susilo Izzat Aulia Akbar Jani Rahardjo Jani Rahardjo Karina Ayu Trijana kusdiana, wawan Kusumaningrum, Ajeng Wardhani Lutfi Paliam Paraya M. Fatkhur Rohman Maghfur Rozudin Ozie Maranatha Wijayaningtyas Marcus Tukan Mohamad Solekhan Mohamad Yusak Anshori Mokh. Suef Moses Laksono Singgih Muhammad Ainul Fahmi Muksin Muksin Nabila, Debby Dea Nabila, Niken Salma Naifah, Sonia Ratnaduhita Nurani Ninditya Nareswari Novitasari, Dyah Nurdiansyah, Ervin Prakosa, Galih Arief Putra, I Nengah Putra, Riyan Afnanda Putu Dana Karningsih Rahmaningtyas, Ivana Rashida, Ailsa Dahayu Ridwan Taofiq Firdaus Rindi Kusumawardani, Rindi Rubiyantoro Murniawan Rut Dea Monica S Suharyo, Okol Safrudin, Muhammad Nur Satria Fadil Persada Savitri, Niken Anggraini Septin Puji Astuti Setyani, Kartika Sjarief Wijaya Soehardjoepri Soehardjoepri Solekhan, Mohamad Srihandoko, Koko Stefanus Eko Wiratno Suef, Mokhammad Sunarta Sunarta Surono, Adi Susilo, Ferdy Hendarto Sutrisno Sutrisno Sutrisno, Sutrisno Suwarno, Panji Tri Achmadi Trika Pitana Wiscahyo, Gelar Witantyo Witantyo Wiwin Widiasih Yani, Beta Fitri Yudha Prasetyawan Zahra Nurkarima Budiwati Attori