Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) sebagai jaminan keamanan produk Sarang Burung Walet Tujuan Ekspor ke Tiongkok Rizal Eko Kurniawan; Chaerul Basri; Hadri Latif
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 9 No. 2 (2021): Juli 2021
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.9.2.72-81

Abstract

ABSTRACT Edible Bird Nest (EBN) is a food product of animal origin that obtains many benefits for Indonesia's export commodities. EBN contains many nutrients in which it is widely utilized in the health sector. EBN products have been exported to various countries and one of them is China. EBN products exported to China have potential harms such as physical, biological, and chemical hazards that pose risks to human health. Therefore, every product of animal origin needs food safety assurance. Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) is a food safety system developed to identify, evaluate, and control food safety hazards. HACCP is a system developed to prevent or reduce hazards to an acceptable extent during the globally adopted production. Through the implementation of a food safety assurance system in the EBN, it is expected to lower the risk of food hazards. This paper discussed HACCP in ensuring food safety of animal origin, especially Edible Bird Nest to fulfill the export requirements of Edible Bird Nest to China. Keywords: Animal-origin Food Safety, HACCP, Edible Bird Nest
Intervensi Berbasis Partisipasi Masyarakat untuk Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Kader Kesehatan dalam Pengendalian Rabies di Kabupaten Sukabumi Fitri Hidayati; Etih Sudarnika; Hadri Latif
Jurnal Penyuluhan Vol. 15 No. 1 (2019): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.605 KB) | DOI: 10.25015/15201920979

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap kader posyandu sebelum dan setelah intervensi. Penelitian ini juga membandingkan perbedaan metode ceramah dan buzz grup dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap kader. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimen dengan pre-test and post-test design. Sampel terdiri dari 87 kader posyandu dari 4 desa terpilih di Kecamatan Jampang Tengah. Penelitian dilaksanakan dengan mengintervensi 43 kader menggunakan metode ceramah dan mengintervensi 44 kader menggunakan metode buzz. Kedua metode tersebut dilengkapileaflet, poster dan banneruntuk setiap desa. Data dianalisis dengan menggunakan uji sign dan U Mann Whitney. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata antara tingkat pengetahuan dan sikap kader posyandu sebelum dan sesudah intervensi menggunakan metode ceramah (p=0,000 pengetahuan, p=0,000 sikap). Hasil intervensi menggunakan metode buzz menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat pengetahuan (p=0,003), tetapi tidak ada perbedaan yang nyata pada tingkat sikap (p=0,096). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa metode ceramah dan buzz tidak berbeda nyata dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap kader posyandu (P>0,05). Penelitian ini membuktikan bahwa KASIRA mampu meningkatkan pengetahuan kader posyandu.Kata Kunci: Intervensi, kader posyandu, metode ceramah dan buzz, pengetahuan dan sikap, rabies
AQ-9 Identification of Sumateran Wild Boar Meat (Sus scrofa vittatus) by Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) Analysis of Cytochrome b Gene Melani Wahyu Adiningsih; Retno Damayanti Soejoedono; Trioso Purnawarman; Hadri Latif; Rahmat Setya Adji; Okti Nadia Poetri; Dwi Desmiyeni Putri
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.42 KB)

Abstract

Sumateran wild boars have been super abundant in Sumateran forest. In Indonesia, this wildlife condition has led to the exploitation for commercial purpose. The high number of Sumateran wild boars population increases wild boar hunting resulting in an abundant availability of wild boar meat in the food market with extremely cheap price. The macroscopic similarity of wild boar meat and beef has prompted the local people to abuse this situation by selling wild boar meat in traditional market as beef. Based on annual record from Cilegon Class II Quarantine Office in 2014, there were nine smuggling cases or a total of 21.556 kg of wild boar meat smuggling effort that were prevented by Cilegon Quarantine officers. The number of food safety concerns related to smuggling of wild boar or counterfeiting beef with wild boar is a very detrimental condition for consumers, especially consumers in traditional markets.The checking of genuineness or validity of food products is an important effort to protect people from consuming unhealthy food and to indicate whether the food is halal or not. Studies of meat detection should be continuously developed as an effort to protect consumers. Genetic method is the most specific and sensitive method to check food ingredients authenticity by detecting the presence of genetic material or deoxyribonucleic acid (DNA). It results from the specific character of the structure of DNA particles and the possibility of using the information included in them. The most frequent loci used for species identificationin phylogenetics and biodiversity studies are mitochondrial cytochrome b (cyt b).Genetic method is the most specific and sensitive tool for analyzing the authenticity of food ingredients in a molecular level by means of detecting the presence of genetic material or deoxyribonucleic acid (DNA). One of the various methods could be used to detect genetic material is polymerase chain reaction (PCR). Specifically, one of such method frequently used in food industry to observe animal derived product fabrication is PCR restriction fragment length polymorphism (RFLP). PCR-RFLP is based on the comparison of the bands profile generated after certain enzymes digest the DNA target. PCR-RFLP is appropriate for meat testing due its ability in exploiting sequence variation in designated DNA region that allows species differentiation even from closely related species through DNA fragment restrictions selected by suitable restriction enzyme. PCR-RFLP is advantageous since it is simple, cheaper, and easier to be adjusted for routine big-scale studies such as surveillance program.
Ancaman terhadap Masuknya Virus Penyakit Mulut dan Kuku melalui Daging Ilegal di Perbatasan Darat Indonesia-Malaysia Risma Juniarti Silitonga; Retno Damayanti Soejoedono; Hadri Latif; Etih Sudarnika
Jurnal Sain Veteriner Vol 34, No 2 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.063 KB) | DOI: 10.22146/jsv.11422

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan daging ilegal di perbatasan darat Indonesia-Malaysia sebagai ancaman risiko masuknya virus PMK ke wilayah Indonesia. Data primer diambil menggunakan teknik pengumpulan pendapat pakar dengan kuisioner, wawancara mendalam (in-depth interview) dan pengamatan langsung di lapang. Data sekunder diperoleh dari publikasi ilmiah dan tulisan atau data yang tidak dipublikasi (statistik, dokumen dan laporan dari instansi berwenang). Penentuan responden secara purposive sampling. Hasil studi menunjukkan bahwa daging ilegal diperkirakan berasal dari berbagai negara termasuk dari negara/zona yang berstatus endemis PMK seperti Semenanjung Malaysia, Thailand, India dan negara/zona yang dinyatakan tidak diketahui oleh responden. Jenis daging ilegal yang masuk ke Entikong berisiko sebagai sumber infeksi PMK seperti daging beku bertulang tanpa limfoglandula dan jeroan beku tanpa limfoglandula. Berdasarkan jalur dan frekuensi pengangkutan, perkiraan volume pemasukan daging ilegal menunjukkan kemungkinan daging masih bisa lolos melalui jalur non-kendaraan. Kondisi-kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pemasukan daging ilegal dapat sebagai ancaman risiko masuknya virus PMK ke Indonesia khususnya di perbatasan darat Indonesia-Malaysia, Entikong. Perlu dilakukan upaya pencegahan untuk mengurangi ancaman risiko yaitu dengan melakukan pengawasan yang lebih ketat di pintu-pintu pemasukan dengan koordinasi lintas instansi di perbatasan untuk bersama-sama mencegah pemasukan daging ilegal.
Tingkat Kejadian Escherichia coli Penghasil Extended Spectrum Β-Lactamase yang Diisolasi dari Feses Broiler di Kota Bogor Cholilia Abadiatul Masruroh; Mirnawati Bachrum Sudarwanto; Hadri Latif
Jurnal Sain Veteriner Vol 34, No 1 (2016): Juni
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.787 KB) | DOI: 10.22146/jsv.22813

Abstract

The use of antibiotics in food-producing animals may encourage the occurence of bacterial resistance named Escherichia coli that produces Extended Spectrum β-lactamase (ESBL). Antibiotical resistance is an important issue in the animal health and human health. This study focused on the presence of ESBL-producing E.coli in chicken feces. The number of sample feces was 100. E. coli isolates were obtained from broiler chicken feces in Bogor. Isolates obtained were identified using API 20E kit. Confirmation of ESBL in this study used Double disc method using antibiotical disc namely cefpodoksim, ceftazidime and cefotaxime. The existence ofESBL-producing E. coli which isolated from the feces of broiler chickens in the city of Bogor is 25% (4/16).
POLA PEMELIHARAAN BURUNG WALET PADA PULAU-PULAU UTAMA PENGHASIL SARANG BURUNG WALET DI INDONESIA Dede Sri Wahyuni; Hadri Latif; Mirnawati B Sudarwanto; Chaerul Basri
Jurnal Sain Veteriner Vol 40, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.69112

Abstract

Burung walet di Indonesia umumnya dibudidayakan pada rumah burung walet (RBW) secara tradisional dengan pola pemeliharaan tertentu. Pola pemeliharaan menjadi salah satu faktor pendukung bagi burung walet untuk memproduksi sarang burung walet (SBW) dengan kualitas baik secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pemeliharaan burung walet di RBW di pulau-pulau utama penghasil SBW di Indonesia. Suatu survei terhadap total 44 RBW di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan telah dilakukan untuk mengetahui pola pemeliharaan di masing-masing pulau tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Pertanyaan dalam kuesioner terdiri atas karakteristik bangunan, kebersihan, sumber makanan dan udara, dan lingkungan RBW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan RBW umumnya bertingkat, dengan atap beton, dinding bata semen, lantai plester semen, dan sirip kayu. Rumah burung walet dibersihkan dibersihkan dengan cara digores/disapu dalam waktu kurang dari dua bulan. Kotoran burung walet umumnya digunakan untuk kebutuhan sendiri. Rumah burung walet umumnya tidak menyediakan bahan untuk menarik serangga atau pakan tambahan. Pakan burung walet umumnyaHymenoptera , dan sumber airnya adalah kolam di dalam gedung RBW. Lingkungan RBW merupakan kawasan pemukiman dan dekat dengan jalan raya. Pembinaan dan pemantauan terhadap pola pemeliharaan burung walet perlu terus dilakukan untuk mendapatkan SBW yang berkualitas baik. 
RESISTENSI Salmonella spp. TERHADAP BEBERAPA ANTIBIOTIK PADA DAGING ITIK DI KABUPATEN BOGOR YANG DAPAT MEMENGARUHI KESEHATAN KONSUMEN (Resistance of Salmonella spp. to Several Antibiotics from Duck Meat in Bogor District that Could Influence Consumer Health) Loisa Loisa; Denny Widaya Lukman; Hadri Latif
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 2 (2016): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.189 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i2.5040

Abstract

This study aimed to determine the presence of Salmonella spp. in duck meat and to identify the resistance of Salmonella spp. against several antibiotics in duck meat associated with food safety. Total of 52 meat samples of ducks was collected from 5 subdistricts in Bogor District, i.e., Cariu-Jonggol, Gunung Sindur, Klapanunggal, Parung Panjang, and Ciomas based on the assumption of 95% confidence level, 50% predicted prevalence, and 10% standard error. The results showed that three samples (5.8%) were positive Salmonella spp. The majority of Salmonella spp. isolated from duck meat showed resistance against erythromycin (66.7%), streptomycin (33.3%), and chloramphenicol (33.3%). Nevertheless, Salmonella spp. was still sensitive againts enrofloxacin, trimethoprim sulfamethoxazole, cephalothin, ampicillin, nalidixid acid, tetracycline, and gentamicin.
DEKONTAMINASI BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus PADA SARANG BURUNG WALET DENGAN PERLAKUAN PEMANASAN (Decontamination of Escherichia coli and Staphylococcus aureus in Edible Bird´s Nest Using Heat Treatment) Saimah Saimah; Mirnawati B. Sudarwanto; Hadri Latif
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 2 (2016): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.857 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i2.5045

Abstract

This research was aimed to examine the heating effect at 70 C for 3.5 seconds on Escherichia coli (E. coli) and Staphylococcus aureus (S. aureus) decontamination in edible bird´s nest. This study used 40 clean edible bird´s nest samples. Samples were divided into two groups, first group was contaminated with E. coli and second group was contaminated with S. aureus. Each group was divided into two treatments. The first treatment was directly tested for microbiological examination and the second treatment was heating at temperature 70 C for 3.5 seconds prior to microbiological examination. The results showed that both of bacteria E. coli and S. aureus had been destroyed by heating treatment. Heating process at 70 C for 3.5 seconds was effective for decontamination of both E.coli and S.aureus.
PENERAPAN METODE PENCUCIAN DENGAN AIR MENGALIR UNTUK MENURUNKAN KADAR NITRIT PADA SARANG BURUNG WALET (Application of Washing Method under Running Water to Reduce Nitrit Level of Edible Bird’s Nest) Heru Susilo; Hadri Latif; Yusuf Ridwan
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 2 (2016): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.686 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i2.5021

Abstract

This study was aimed to determine the influence of the washing method under running water on nitrite levels of edible bird’s nest (EBN). Total of 40 samples of EBN were divided into four groups with different washing frequency, control group without washing treatmet (P0), once, twice, and three times washing treatment (P1, P2, and P3) respectively. Each washing was performed for 30 seconds under running water. Nitrite levels assessment was carried out by spectrophotometry at 540 nm of wavelength. The results showed that the average nitrite levels of EBN in P0, P1, P2, and P3 were 93.12±4.40 ppm, 65.24±3.38 ppm, 63.60±3.81 ppm, and 30.87±2.11 ppm, respectively. The nitrit level in edible bird’s nest decreased significantly (P0.05) by using three times washing.
Analisis Kadar Nitrit pada Sarang Burung Walet Asal Pulau Sumatera Menggunakan Metode Kromameter Platika Widiyani; Mirnawati B Sudarwanto; Hadri Latif; Denny Widaya Lukman
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.2.148-155

Abstract

Kadar nitrit dalam sarang burung walet (SBW) telah menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir. SBW yang diekspor dari Indonesia ke Negara Tiongkok harus memenuhi standar kadar nitrit (NO2), yaitu maksimum 30 ppm. Dinamika perkembangan teknologi dan jaman saat ini menuntut instrumen pengujian kadar nitrit secara akurat, diantaranya menggunakan spektrofotometer dan kromameter. Penelitian ini mengkaji kadar nitrit pada SBW bersih yang telah dilakukan pencucian asal Pulau Sumatera dengan menggunakan metode spektrofotometer dan mengevaluasi warna menggunakan kromameter berbasis sistem CIE pada parameter L*, a*, b*, C*, dan h*. Jumlah sampel ditentukan secara purposif dari rumah burung walet (RBW). Sebanyak 18 sampel SBW berasal dari berbagai wilayah di Sumatera. Sampel SBW diuji kadar nitritnya menggunakan spektrofotometer di Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP) Jakarta dan kromameter diuji di laboratorium Ilmu Teknologi Pangan IPB, Bogor. Hasil kadar nitrit pada SBW menunjukkan bahwa persentase kadar nitrit di bawah 30 ppm adalah 72,22%. Nilai rata-rata L* pada grup A (kadar nitrit >30 ppm) dan B (kadar nitrit <30 ppm) secara berurutan adalah sebesar 67,65±1,97 dan 68,47±5,25. Hasil analisis statistik dengan uji-t menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara nilai L*, a*, b*, C* dan *h pada kedua grup. Metode kromameter tidak dapat digunakan sebagai metode tunggal dalam mengukur kadar nitrit pada SBW serta tidak dapat membedakan secara signifikan warna SBW yang berasal dari RBW yang berbeda.