Claim Missing Document
Check
Articles

STUDI CROSS-SECTIONAL: HUBUNGAN LOKASI SEKOLAH (PEDESAAN DAN PERKOTAAN) DENGAN STATUS GIZI MURID SEKOLAH DASAR Kushargina, Rosyanne; Dainy, Nunung Cipta
JURNAL RISET GIZI Vol 9, No 1 (2021): Mei (2021)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v9i1.6820

Abstract

Background: Adequate nutrition plays an important roles for children on school age to developed and maintain their growth and health. Many factors could affect the nutritional status of school children, one of them is the school location.Objectives: To analysis the correlation between school location with nutritional status of elementary school students.Method: The research design used was a cross-sectional design. 80 subjects were observed from two different schools namely SDN 1 Cikelet Garut (Urban) and SDN Pesanggrahan 02 Pagi Jakarta Selatan (Rural). The relationship of school location and gender with nutritional status were analyzed using Chi Square. Independent Sample T-test used to analyze nutritional status based on different locations.Result: In rural there are 25% of children with over nutritional status (weight/age). There are still stunted child both in urban (7.50%) and rural (10%), but based on weight/height nutritional status, almost all subjects in both urban (92.50%) and rural (97.50%) in obese category. Chi Square analysis showed that the school location was significantly related (P 0.05) only with the weight/age nutritional status. Gender is significantly related to height/age nutritional status. The majority of boys (15,4%) are shorter than girls (2,4%). The results of the Independent Sample T-test based on location, showed that the nutritional status of subjects in urban was significantly different (P0.05) from the nutritional status of subjects in rural. In line with this, based in gender there is significantly different (P0.05) in nutritional status between boy and girl.Conclusions: The results of this study indicate that differences in school locations are related to the nutritional status of elementary school students.
Karakteristik Sensori dan Kandungan Gizi Biskuit Rempah dengan Substitusi Tepung Jagung sebagai Pangan Fungsional untuk Imunitas Tubuh Zizi Harisatunnasyitoh; Nunung Cipta Dainy; Wilda Yunieswati
Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas Vol 3, No 2 (2022): November
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jgkp.v3i2.17443

Abstract

Sistem kekebalan yang baik dapat melindungi kita dari patogen yang masuk ke dalam tubuh sejak awal untuk mencegah penyakit. Cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh dengan menerapkan gaya hidup sehat dan mengonsumsi bahan-bahan alami seperti antioksidan. Salah satu antioksidan alami terdapat pada rempah-rempah. Inovasi dalam menghadirkan rempah – rempah dalam bentuk makanan masih terbatas. Biskuit rempah dipilih sebagai salah satu alternatif makanan agar mudah dinikmati oleh masyarakat. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan formula biskuit rempah dengan substitusi tepung jagung sebagai pangan fungsional untuk meningatkan imunitas. Studi experimental menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan perbedaan komposisi tepung jagung. Formula biskuit terdiri dari empat taraf, yaitu F0 (kontrol), F1 (25% tepung jagung), F2 (50% tepung jagung), F3 (75% tepung jagung), dan F4 (100% tepung jagung). Uji hedonik dan uji mutu hedonic dilakukan terhadap atribut warna, aroma, rasa, tekstur, dan aftertaste. Uji statistic menggunakan ANOVA, dan uji lanjut dengan Duncan’s Multiple Range Test. Formula terbaik yaitu F2 memiliki mutu hedonik yang yaitu warna coklat muda – coklat agak tua, aroma agak harum, tekstur tidak renyah – agak tidak renyah, rasa pahit, dan aftertaste agak lemah. Pada uji hedonik didapatkan hasil pada rentang 3 – 4 (agak tidak suka – agak suka). Kandungan energi biscuit formula F2 adalah 455 kkal, dengan aktivitas antioksidan 880,11 ppm. Formula terpilih adalah F2 yaitu biscuit dengan tepung jagung 37,5 gr dan tepung terigu 37,5 gr, yang mengandung energi 455 Kkal dan aktivitas antioksidan 880,11 ppm
Pengaruh palm kernel oil terhadap karakteristik daging panggang meltique: pH, susut masak, dan tingkat kesukaan Nunung Cipta Dainy; Astari Apriantini; Wardina Humayrah; Khori Seftiyani; Edit Lesa Aditia
Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan Vol 5, No 3B (2024): Nopember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/gikes.v5i3B.1972

Abstract

Background: Beef has the highest Digestible Indispensable Amino Acid Score. However, beef is often difficult to consume because it has a tougher texture than poultry or fish. Meltique beef can be an alternative beef product that is easy to consume, but it still uses imported vegetable oil, which has an impact on the high selling price. It is necessary to innovate meltique using local vegetable oil.Objective: Analyse the effect of palm kernel oil (PKO) addition on the pH, cooking shrinkage and palatability of meltique meat.Methods: Using a Completely Randomised Design conducted at the Laboratory of the Faculty of Animal Husbandry, IPB from April to June 2024. The beef used was Brahman Cross sirloin. Two PKO formulas were injected, MP1 and MP2. There were four controls, namely MK1, MK2, WG and DR. The variables studied were pH using a pH meter, cooking loss by calculating the difference in raw-cooked weight, and the level of panellist preference using the hedonic test form. There were 25 semi-trained panelists who met the inclusion criteria to rate the level of preference for nine sensory attributes with a score range of 1 - 5. Statistical tests used ANOVA to analyse differences in pH, cooking loss, and Kruskal-Wallis test to analyse differences in level of preference.Results: There was a significant difference in the pH values of MP1 and MP2 with WG (P-value =0.000). There was no difference in cooking loss value (p-value =0.220). Hedonic test results showed that the level of preference of MP1 and MP2 was significantly different from WG (p-value <0.05).Conclusion: Meltique beef formulas have standard pH characteristics and cooking loss values similar to wagyu beef, but the preference level is still different from wagyu beef.
PENERAPAN GIZI SEIMBANG DAN KEAMANAN PANGAN BAGI KELUARGA DIASPORA INDONESIA DI SENDAI JEPANG Kushargina, Rosyanne; Dainy, Nunung Cipta; Kusumaningati, Walliyana; Mustakim, Mustakim
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 3 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i3.30968

Abstract

Abstrak: Perbedaan budaya antara Indonesia dan Jepang dapat memengaruhi kebiasan dan pola makan warga diaspora Indonesia di Jepang. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya warga Indonesia yang berada di Jepang mengurangi tingkat konsumsi pangan bergizi karena kesulitan untuk mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan warga diaspora Indonesia di Sendai Jepang terkait dengan penerapan gizi seimbang dan keamanan pangan. Metode pelaksanaan kegiatan ini berupa FGD dan edukasi dengan Teknik ceramah serta diskusi tanya jawab baik secara luring dan hybrid. Peserta kegiatan adalah Warga Negara Indonesia yang berada di Sendai-Jepang yang tergabung dalam Keluarga Muslim Indonesia (KMI) Sendai sebanyak 19 orang. Monitoring dan evaluasi capaian dilakukan dengan menggunakan formulir pre-test dan post-test yang terdiri dari 10 soal pilihan ganda. Indikator keberhasilan kegiatan ini adalah terjadi peningkatan skor pengetahuan pada minimal 70% peserta. Hasil kegiatan FGD berupa penetapan materi edukasi yang diharapkan oleh peserta. Edukasi yang dilakukan berhasil meningkatkan skor pengetahuan sebanyak 94.7% peserta. Rata-rata skor pre-test adalah 48, sedangkan rata-rata skor post-test adalah 85. Diharapkan kegiatan edukasi dapat dilakukan secara rutin untuk mempertahankan dan memperdalam pengetahuan peserta, sebagai bagian dari program kerja rutin KMI Sendai.Abstract: Cultural differences between Indonesia and Japan may influence the dietary habits and eating patterns of Indonesian diaspora living in Japan. Previous research has shown that Indonesians residing in Japan tend to reduce their consumption of nutritious foods due to difficulties in accessing affordable food ingredients. The aim of this activity was to enhance the knowledge of the Indonesian diaspora community in Sendai, Japan, regarding the application of balanced nutrition and food safety practices. The methods of implementation included Focus Group Discussions (FGD) and educational sessions through lectures and interactive Q&A discussions, conducted both offline and in hybrid formats. The participants of this activity were 19 Indonesian citizens residing in Sendai, Japan, who are members of the Indonesian Muslim Family (KMI) Sendai. Monitoring and evaluation of achievements are carried out using pre-test and post-test forms consisting of 10 multiple-choice questions. The indicator of the success of this activity is an increase in knowledge scores in at least 70% of participants. Monitoring and evaluation were carried out using pre-test and post-test questionnaires. The result of the FGD was the determination of educational topics as requested by the participants. The educational sessions successfully increased the knowledge scores of 94.7% of the participants. The average pre-test score was 48, while the average post-test score was 85. It is recommended that such educational activities be conducted regularly to maintain and deepen the participants' knowledge, as part of KMI Sendai’s ongoing program initiatives.
OPTIMALISASI GIZI BALITA MELALUI EDUKASI PILAR GIZI SEIMBANG DAN SIMULASI PEMORSIAN MPASI DI CIOMAS BOGOR Dainy, Nunung Cipta; Kushargina, Rosyanne; Fajrini, Fini
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.33929

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Upaya penurunan angka stunting di Indonesia memerlukan kolaborasi lintas sektor serta program yang menyentuh akar permasalahan. Salah satu strategi penting adalah edukasi tentang gizi seimbang dan pemantauan penerapannya di masyarakat. Kader posyandu memiliki peran strategis dalam mendampingi masyarakat, khususnya ibu balita, untuk menerapkan prinsip-prinsip gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader posyandu dalam menjelaskan empat pilar gizi seimbang dan menaksir porsi Makanan Pendamping ASI (MPASI) balita. Mitra kegiatan ini adalah Posyandu di wilayah Kelurahan Padasuka Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.  Kegiatan dilaksanakan pada Mei 2025 dengan peserta sebanyak 20 orang ketua kader posyandu. Kegiatan dimulai dengan tahap persiapan dan koordinasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Pelaksanaan edukasi menggunakan metode ceramah, diskusi interaktif, tanya jawab, dan simulasi praktik. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan dengan mengukur peningkatan pengetahuan peserta menggunakan formulir pre-test dan post-test yang berisi 10 pertanyaan terkait dengan materi yang disampaikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai sebesar 32,3 poin, dengan nilai rata-rata pre-test sebesar 60,0 dan post-test sebesar 92,3. Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan edukatif yang disertai simulasi dapat meningkatkan pemahaman kader secara signifikan. Peningkatan kapasitas kader ini diharapkan berdampak positif dalam mendukung penerapan gizi seimbang dan pencegahan stunting di tingkat komunitas. Kata kunci: Kader Posyandu; MPASI; Standar Porsi; Stunting ABSTRACTEfforts to reduce stunting in Indonesia require cross-sectoral collaboration, including community-based nutrition education. Posyandu cadres play a strategic role in assisting mothers of toddlers to apply the principles of balanced nutrition, particularly in fulfilling complementary feeding (MP-ASI). This community service program aimed to strengthen the capacity of posyandu cadres in explaining the four pillars of balanced nutrition and in estimating appropriate MP-ASI portions for toddlers. The program was conducted in May 2025 in collaboration with Posyandu at Padasuka Village, Ciomas District, Bogor Regency, West Java, with 20 head cadres as participants. Educational activities were delivered through lectures, interactive discussions, and practical simulations. Knowledge evaluation was carried out using pre-test and post-test instruments. The results showed an average score increase of 32.3 points, from 60.0 to 92.3 (equivalent to a 53.8% improvement). These findings indicate that practice-based education significantly improved cadres’ understanding. Enhanced cadre capacity is expected to support the application of balanced nutrition principles and contribute to stunting prevention at the community level. Furthermore, this program has the potential to be replicated in other posyandu areas as a sustainable approach to improving maternal and child nutrition. Keywords: Complementary Feeding; Portion Standards; Cadres; Stunting
EDUKASI GIZI DAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA PUTRI DI SMAN 30 JAKARTA Indraaryani Suryaalamsah, Inne; Cipta Dainy, Nunung; Herdiansyah, Dadang
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 10 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i10.%p

Abstract

Remaja yang kekurangan gizi berisiko mengalami gangguan perkembangan sistem reproduksi, diantaranya gangguan menstruasi, infertilitas, dan masalah kehamilan. Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi yang rendah, menyebabkan kurangnya kesadaran remaja tentang pentingnya pemeliharaan kesehatan reproduksi atau mempunyai konsep yang salah terhadap kesehatan reproduksi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang gizi dan kesehatan reproduksi serta memiliki kemampuan untuk melakukan deteksi dini tanda dan gejala pada tahap awal gangguan sistem reproduksi. Kegiatan pengabdian tersebut dilaksanakan di SMAN 30 Jakarta dengan jumlah responden sebanyak 40 orang, menggunakan metode ceramah (penyuluhan) dan diskusi dengan menggunakan media edukasi adalah powerpoint dan food model. Hasil menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswi sebelum diberikan edukasi 51,3 meningkat sebesar 41,7 poin menjadi 93 setelah diedukasi dengan persentase peningkatan yaitu sebesar 81,3 %. Hasil pre test siswi mayoritas dengan kategori kurang yaitu sebanyak 26 siswi (65%) dan dari hasil post test pengetahuan siswi meningkat dengan kategori baik sebanyak 30 siswi (75%). Kegiatan ini efektif meningkatkan pengetahuan siswi setelah tentang gizi seimbang dan kesehatan reproduksi
Edukasi Pengolahan Menu dan Porsi Makan Balita sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Kabupaten Bogor Dainy, Nunung Cipta; Kushargina, Rosyanne; Anwar, Khoirul; Herdiansyah, Dadang
Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 Nomor 1 Juni 2024
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/jagri.v5i1.876

Abstract

Stunting terjadi karena anak tidak mendapatkan asupan gizi yang mencukupi untuk tumbuh kembangnya. Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi kurangnya asupan gizi pada anak, salah satunya kurangnya pengetahuan ibu tentang berapa banyak porsi makanan yang harus diberikan kepada anak untuk memenuhi kebutuhan energi, zat gizi makro dan zat gizi mikro. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang porsi makan. Kegiatan edukasi dilakukan dengan metode demostrasi pengolahan makanan untuk balita serta penyuluhan tentang porsi gizi seimbang untuk makanan balita. Peserta kegiatan ini adalah ibu yang memiliki anak usia balita di RW.03 Kelurahan Padasuka Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor sebanyak 22 orang. Pengetahuan ibu tentang porsi makan balita diukur dengan kuesioner pada saat sebelum kegiatan dan setelah pelaksanaan kegiatan. Hasil pengisian kuesioner terdapat peningkatan pengetahuan ibu sebesar 21 poin. Rata–rata nilai pengetahuan ibu sebelum kegiatan adalah 59, sedangkan rata–rata nilai pengetahuan ibu setelah kegiatan adalah 80. Kesimpulannya kegiatan edukasi berhasil meningkatkan pengetahuan ibu tentang jumlah porsi makanan balita. Ibu balita diharapkan dapat menerapkan pengetahuannya dalam praktik pemberian makan bagi anak.
STUDI CROSS-SECTIONAL: HUBUNGAN LOKASI SEKOLAH (PEDESAAN DAN PERKOTAAN) DENGAN STATUS GIZI MURID SEKOLAH DASAR Kushargina, Rosyanne; Dainy, Nunung Cipta
JURNAL RISET GIZI Vol. 9 No. 1 (2021): Mei (2021)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v9i1.6820

Abstract

Background: Adequate nutrition plays an important roles for children on school age to developed and maintain their growth and health. Many factors could affect the nutritional status of school children, one of them is the school location.Objectives: To analysis the correlation between school location with nutritional status of elementary school students.Method: The research design used was a cross-sectional design. 80 subjects were observed from two different schools namely SDN 1 Cikelet Garut (Urban) and SDN Pesanggrahan 02 Pagi Jakarta Selatan (Rural). The relationship of school location and gender with nutritional status were analyzed using Chi Square. Independent Sample T-test used to analyze nutritional status based on different locations.Result: In rural there are 25% of children with over nutritional status (weight/age). There are still stunted child both in urban (7.50%) and rural (10%), but based on weight/height nutritional status, almost all subjects in both urban (92.50%) and rural (97.50%) in obese category. Chi Square analysis showed that the school location was significantly related (P <0.05) only with the weight/age nutritional status. Gender is significantly related to height/age nutritional status. The majority of boys (15,4%) are shorter than girls (2,4%). The results of the Independent Sample T-test based on location, showed that the nutritional status of subjects in urban was significantly different (P<0.05) from the nutritional status of subjects in rural. In line with this, based in gender there is significantly different (P<0.05) in nutritional status between boy and girl.Conclusions: The results of this study indicate that differences in school locations are related to the nutritional status of elementary school students.
STUDI CROSS-SECTIONAL: HUBUNGAN LOKASI SEKOLAH (PEDESAAN DAN PERKOTAAN) DENGAN STATUS GIZI MURID SEKOLAH DASAR Kushargina, Rosyanne; Dainy, Nunung Cipta
JURNAL RISET GIZI Vol. 9 No. 1 (2021): Mei (2021)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v9i1.6820

Abstract

Background: Adequate nutrition plays an important roles for children on school age to developed and maintain their growth and health. Many factors could affect the nutritional status of school children, one of them is the school location.Objectives: To analysis the correlation between school location with nutritional status of elementary school students.Method: The research design used was a cross-sectional design. 80 subjects were observed from two different schools namely SDN 1 Cikelet Garut (Urban) and SDN Pesanggrahan 02 Pagi Jakarta Selatan (Rural). The relationship of school location and gender with nutritional status were analyzed using Chi Square. Independent Sample T-test used to analyze nutritional status based on different locations.Result: In rural there are 25% of children with over nutritional status (weight/age). There are still stunted child both in urban (7.50%) and rural (10%), but based on weight/height nutritional status, almost all subjects in both urban (92.50%) and rural (97.50%) in obese category. Chi Square analysis showed that the school location was significantly related (P <0.05) only with the weight/age nutritional status. Gender is significantly related to height/age nutritional status. The majority of boys (15,4%) are shorter than girls (2,4%). The results of the Independent Sample T-test based on location, showed that the nutritional status of subjects in urban was significantly different (P<0.05) from the nutritional status of subjects in rural. In line with this, based in gender there is significantly different (P<0.05) in nutritional status between boy and girl.Conclusions: The results of this study indicate that differences in school locations are related to the nutritional status of elementary school students.
STUDI CROSS-SECTIONAL: HUBUNGAN LOKASI SEKOLAH (PEDESAAN DAN PERKOTAAN) DENGAN STATUS GIZI MURID SEKOLAH DASAR Kushargina, Rosyanne; Dainy, Nunung Cipta
JURNAL RISET GIZI Vol. 9 No. 1 (2021): Mei (2021)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v9i1.6820

Abstract

Background: Adequate nutrition plays an important roles for children on school age to developed and maintain their growth and health. Many factors could affect the nutritional status of school children, one of them is the school location.Objectives: To analysis the correlation between school location with nutritional status of elementary school students.Method: The research design used was a cross-sectional design. 80 subjects were observed from two different schools namely SDN 1 Cikelet Garut (Urban) and SDN Pesanggrahan 02 Pagi Jakarta Selatan (Rural). The relationship of school location and gender with nutritional status were analyzed using Chi Square. Independent Sample T-test used to analyze nutritional status based on different locations.Result: In rural there are 25% of children with over nutritional status (weight/age). There are still stunted child both in urban (7.50%) and rural (10%), but based on weight/height nutritional status, almost all subjects in both urban (92.50%) and rural (97.50%) in obese category. Chi Square analysis showed that the school location was significantly related (P <0.05) only with the weight/age nutritional status. Gender is significantly related to height/age nutritional status. The majority of boys (15,4%) are shorter than girls (2,4%). The results of the Independent Sample T-test based on location, showed that the nutritional status of subjects in urban was significantly different (P<0.05) from the nutritional status of subjects in rural. In line with this, based in gender there is significantly different (P<0.05) in nutritional status between boy and girl.Conclusions: The results of this study indicate that differences in school locations are related to the nutritional status of elementary school students.
Co-Authors Abdullah Ihsan Al-Muswah Akbar, Zulfikar Ali Alfiah, Sarah Ali Khomsan Alifia Fadhilah, Devina Amelya Fitri Y.H Amelya Fitri Yudhistira Hartono Anisa Nurul Syafitri Anna Fatchiya Annisa Oktaviani Ardelia Evani Ari Wibowo Aryanti, Friesca Ayudya Ashari, Chica Riska Astari Apriantini Bella Arinda Putri Clara M Kusharto Clara Meliyanti Kusharto Dadang Herdiansyah Devina Alifia Fadhilah Diaz Cahyani, Rahma Dodik Briawan Dwi Aulia Fitri Edit Lesa Aditia Endang Puspitasari Eneng Nunuz Rohmatullayaly Fadhelina Luthfiah Azzahra Fajrini, Fini Farihatu Kamila Fauza Rizqia Fauza Rizqiya Febytia, Nechita Dinda Ferina Putri Rochmano Friesca Ayudya Aryanti Hasnabila Esti Ardiani Herdiansyah, Dadang Idal Musdalifa Iik Hikmawati Ikeu Tanziha Indraaryani Suryaalamsah, Inne Jihan Sekar Maharani Kamila, Farihatul Kasmita Kasmita Khoirul Anwar Khori Seftiyani Kusumaningati, Walliyana Laksmi Fitriyani, Sri Listyani Hidayati Listyani Hidayati Luthfiah Azzahra, Fadhelina Martina Wiwie Setiawan Nasrun Miranda Monicha Monicha, Miranda Muhammad Abrar Muhammad Abrar Mustakim Mustakim Naufal Muharam Nurdin Novia Zahratul Hasanah Oktaviani, Annisa Rahma Diaz Cahyani Rahman, Purnawati Hustina Rayhan Adam Savero Risti Rosmiati Rizqiya, Fauza Rohmalia, Desi Rosyanne Kushargina Rosyanne Kushargina Safira, Sasha Sarah Alfiah Sasha Safira Sekar Maharani, Jihan Siti Madanijah Sri Laksmi Fitriyani Sri Rezeki Suryaalamsah, Inne Indraaryani Ummul Habibah Hasyim Wardina Humayrah Wilda Yunieswati Wilda Yunieswati Wilda Yunieswati Yuda Turana Yudha Nigrum Yuliarti, Nurul Azizah Tri Zizi Harisatunnasyitoh Zulma Fara Panadia Zulma Fara Panadia