Claim Missing Document
Check
Articles

PENERAPAN GIZI SEIMBANG DAN KEAMANAN PANGAN BAGI KELUARGA DIASPORA INDONESIA DI SENDAI JEPANG Kushargina, Rosyanne; Dainy, Nunung Cipta; Kusumaningati, Walliyana; Mustakim, Mustakim
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 3 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i3.30968

Abstract

Abstrak: Perbedaan budaya antara Indonesia dan Jepang dapat memengaruhi kebiasan dan pola makan warga diaspora Indonesia di Jepang. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya warga Indonesia yang berada di Jepang mengurangi tingkat konsumsi pangan bergizi karena kesulitan untuk mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan warga diaspora Indonesia di Sendai Jepang terkait dengan penerapan gizi seimbang dan keamanan pangan. Metode pelaksanaan kegiatan ini berupa FGD dan edukasi dengan Teknik ceramah serta diskusi tanya jawab baik secara luring dan hybrid. Peserta kegiatan adalah Warga Negara Indonesia yang berada di Sendai-Jepang yang tergabung dalam Keluarga Muslim Indonesia (KMI) Sendai sebanyak 19 orang. Monitoring dan evaluasi capaian dilakukan dengan menggunakan formulir pre-test dan post-test yang terdiri dari 10 soal pilihan ganda. Indikator keberhasilan kegiatan ini adalah terjadi peningkatan skor pengetahuan pada minimal 70% peserta. Hasil kegiatan FGD berupa penetapan materi edukasi yang diharapkan oleh peserta. Edukasi yang dilakukan berhasil meningkatkan skor pengetahuan sebanyak 94.7% peserta. Rata-rata skor pre-test adalah 48, sedangkan rata-rata skor post-test adalah 85. Diharapkan kegiatan edukasi dapat dilakukan secara rutin untuk mempertahankan dan memperdalam pengetahuan peserta, sebagai bagian dari program kerja rutin KMI Sendai.Abstract: Cultural differences between Indonesia and Japan may influence the dietary habits and eating patterns of Indonesian diaspora living in Japan. Previous research has shown that Indonesians residing in Japan tend to reduce their consumption of nutritious foods due to difficulties in accessing affordable food ingredients. The aim of this activity was to enhance the knowledge of the Indonesian diaspora community in Sendai, Japan, regarding the application of balanced nutrition and food safety practices. The methods of implementation included Focus Group Discussions (FGD) and educational sessions through lectures and interactive Q&A discussions, conducted both offline and in hybrid formats. The participants of this activity were 19 Indonesian citizens residing in Sendai, Japan, who are members of the Indonesian Muslim Family (KMI) Sendai. Monitoring and evaluation of achievements are carried out using pre-test and post-test forms consisting of 10 multiple-choice questions. The indicator of the success of this activity is an increase in knowledge scores in at least 70% of participants. Monitoring and evaluation were carried out using pre-test and post-test questionnaires. The result of the FGD was the determination of educational topics as requested by the participants. The educational sessions successfully increased the knowledge scores of 94.7% of the participants. The average pre-test score was 48, while the average post-test score was 85. It is recommended that such educational activities be conducted regularly to maintain and deepen the participants' knowledge, as part of KMI Sendai’s ongoing program initiatives.
OPTIMALISASI GIZI BALITA MELALUI EDUKASI PILAR GIZI SEIMBANG DAN SIMULASI PEMORSIAN MPASI DI CIOMAS BOGOR Dainy, Nunung Cipta; Kushargina, Rosyanne; Fajrini, Fini
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.33929

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Upaya penurunan angka stunting di Indonesia memerlukan kolaborasi lintas sektor serta program yang menyentuh akar permasalahan. Salah satu strategi penting adalah edukasi tentang gizi seimbang dan pemantauan penerapannya di masyarakat. Kader posyandu memiliki peran strategis dalam mendampingi masyarakat, khususnya ibu balita, untuk menerapkan prinsip-prinsip gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader posyandu dalam menjelaskan empat pilar gizi seimbang dan menaksir porsi Makanan Pendamping ASI (MPASI) balita. Mitra kegiatan ini adalah Posyandu di wilayah Kelurahan Padasuka Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.  Kegiatan dilaksanakan pada Mei 2025 dengan peserta sebanyak 20 orang ketua kader posyandu. Kegiatan dimulai dengan tahap persiapan dan koordinasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Pelaksanaan edukasi menggunakan metode ceramah, diskusi interaktif, tanya jawab, dan simulasi praktik. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan dengan mengukur peningkatan pengetahuan peserta menggunakan formulir pre-test dan post-test yang berisi 10 pertanyaan terkait dengan materi yang disampaikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai sebesar 32,3 poin, dengan nilai rata-rata pre-test sebesar 60,0 dan post-test sebesar 92,3. Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan edukatif yang disertai simulasi dapat meningkatkan pemahaman kader secara signifikan. Peningkatan kapasitas kader ini diharapkan berdampak positif dalam mendukung penerapan gizi seimbang dan pencegahan stunting di tingkat komunitas. Kata kunci: Kader Posyandu; MPASI; Standar Porsi; Stunting ABSTRACTEfforts to reduce stunting in Indonesia require cross-sectoral collaboration, including community-based nutrition education. Posyandu cadres play a strategic role in assisting mothers of toddlers to apply the principles of balanced nutrition, particularly in fulfilling complementary feeding (MP-ASI). This community service program aimed to strengthen the capacity of posyandu cadres in explaining the four pillars of balanced nutrition and in estimating appropriate MP-ASI portions for toddlers. The program was conducted in May 2025 in collaboration with Posyandu at Padasuka Village, Ciomas District, Bogor Regency, West Java, with 20 head cadres as participants. Educational activities were delivered through lectures, interactive discussions, and practical simulations. Knowledge evaluation was carried out using pre-test and post-test instruments. The results showed an average score increase of 32.3 points, from 60.0 to 92.3 (equivalent to a 53.8% improvement). These findings indicate that practice-based education significantly improved cadres’ understanding. Enhanced cadre capacity is expected to support the application of balanced nutrition principles and contribute to stunting prevention at the community level. Furthermore, this program has the potential to be replicated in other posyandu areas as a sustainable approach to improving maternal and child nutrition. Keywords: Complementary Feeding; Portion Standards; Cadres; Stunting
EDUKASI GIZI DAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA PUTRI DI SMAN 30 JAKARTA Indraaryani Suryaalamsah, Inne; Cipta Dainy, Nunung; Herdiansyah, Dadang
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 10 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i10.%p

Abstract

Remaja yang kekurangan gizi berisiko mengalami gangguan perkembangan sistem reproduksi, diantaranya gangguan menstruasi, infertilitas, dan masalah kehamilan. Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi yang rendah, menyebabkan kurangnya kesadaran remaja tentang pentingnya pemeliharaan kesehatan reproduksi atau mempunyai konsep yang salah terhadap kesehatan reproduksi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang gizi dan kesehatan reproduksi serta memiliki kemampuan untuk melakukan deteksi dini tanda dan gejala pada tahap awal gangguan sistem reproduksi. Kegiatan pengabdian tersebut dilaksanakan di SMAN 30 Jakarta dengan jumlah responden sebanyak 40 orang, menggunakan metode ceramah (penyuluhan) dan diskusi dengan menggunakan media edukasi adalah powerpoint dan food model. Hasil menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswi sebelum diberikan edukasi 51,3 meningkat sebesar 41,7 poin menjadi 93 setelah diedukasi dengan persentase peningkatan yaitu sebesar 81,3 %. Hasil pre test siswi mayoritas dengan kategori kurang yaitu sebanyak 26 siswi (65%) dan dari hasil post test pengetahuan siswi meningkat dengan kategori baik sebanyak 30 siswi (75%). Kegiatan ini efektif meningkatkan pengetahuan siswi setelah tentang gizi seimbang dan kesehatan reproduksi
Edukasi Pengolahan Menu dan Porsi Makan Balita sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Kabupaten Bogor Dainy, Nunung Cipta; Kushargina, Rosyanne; Anwar, Khoirul; Herdiansyah, Dadang
Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 Nomor 1 Juni 2024
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/jagri.v5i1.876

Abstract

Stunting terjadi karena anak tidak mendapatkan asupan gizi yang mencukupi untuk tumbuh kembangnya. Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi kurangnya asupan gizi pada anak, salah satunya kurangnya pengetahuan ibu tentang berapa banyak porsi makanan yang harus diberikan kepada anak untuk memenuhi kebutuhan energi, zat gizi makro dan zat gizi mikro. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang porsi makan. Kegiatan edukasi dilakukan dengan metode demostrasi pengolahan makanan untuk balita serta penyuluhan tentang porsi gizi seimbang untuk makanan balita. Peserta kegiatan ini adalah ibu yang memiliki anak usia balita di RW.03 Kelurahan Padasuka Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor sebanyak 22 orang. Pengetahuan ibu tentang porsi makan balita diukur dengan kuesioner pada saat sebelum kegiatan dan setelah pelaksanaan kegiatan. Hasil pengisian kuesioner terdapat peningkatan pengetahuan ibu sebesar 21 poin. Rata–rata nilai pengetahuan ibu sebelum kegiatan adalah 59, sedangkan rata–rata nilai pengetahuan ibu setelah kegiatan adalah 80. Kesimpulannya kegiatan edukasi berhasil meningkatkan pengetahuan ibu tentang jumlah porsi makanan balita. Ibu balita diharapkan dapat menerapkan pengetahuannya dalam praktik pemberian makan bagi anak.
STUDI CROSS-SECTIONAL: HUBUNGAN LOKASI SEKOLAH (PEDESAAN DAN PERKOTAAN) DENGAN STATUS GIZI MURID SEKOLAH DASAR Kushargina, Rosyanne; Dainy, Nunung Cipta
JURNAL RISET GIZI Vol. 9 No. 1 (2021): Mei (2021)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v9i1.6820

Abstract

Background: Adequate nutrition plays an important roles for children on school age to developed and maintain their growth and health. Many factors could affect the nutritional status of school children, one of them is the school location.Objectives: To analysis the correlation between school location with nutritional status of elementary school students.Method: The research design used was a cross-sectional design. 80 subjects were observed from two different schools namely SDN 1 Cikelet Garut (Urban) and SDN Pesanggrahan 02 Pagi Jakarta Selatan (Rural). The relationship of school location and gender with nutritional status were analyzed using Chi Square. Independent Sample T-test used to analyze nutritional status based on different locations.Result: In rural there are 25% of children with over nutritional status (weight/age). There are still stunted child both in urban (7.50%) and rural (10%), but based on weight/height nutritional status, almost all subjects in both urban (92.50%) and rural (97.50%) in obese category. Chi Square analysis showed that the school location was significantly related (P <0.05) only with the weight/age nutritional status. Gender is significantly related to height/age nutritional status. The majority of boys (15,4%) are shorter than girls (2,4%). The results of the Independent Sample T-test based on location, showed that the nutritional status of subjects in urban was significantly different (P<0.05) from the nutritional status of subjects in rural. In line with this, based in gender there is significantly different (P<0.05) in nutritional status between boy and girl.Conclusions: The results of this study indicate that differences in school locations are related to the nutritional status of elementary school students.
STUDI CROSS-SECTIONAL: HUBUNGAN LOKASI SEKOLAH (PEDESAAN DAN PERKOTAAN) DENGAN STATUS GIZI MURID SEKOLAH DASAR Kushargina, Rosyanne; Dainy, Nunung Cipta
JURNAL RISET GIZI Vol. 9 No. 1 (2021): Mei (2021)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v9i1.6820

Abstract

Background: Adequate nutrition plays an important roles for children on school age to developed and maintain their growth and health. Many factors could affect the nutritional status of school children, one of them is the school location.Objectives: To analysis the correlation between school location with nutritional status of elementary school students.Method: The research design used was a cross-sectional design. 80 subjects were observed from two different schools namely SDN 1 Cikelet Garut (Urban) and SDN Pesanggrahan 02 Pagi Jakarta Selatan (Rural). The relationship of school location and gender with nutritional status were analyzed using Chi Square. Independent Sample T-test used to analyze nutritional status based on different locations.Result: In rural there are 25% of children with over nutritional status (weight/age). There are still stunted child both in urban (7.50%) and rural (10%), but based on weight/height nutritional status, almost all subjects in both urban (92.50%) and rural (97.50%) in obese category. Chi Square analysis showed that the school location was significantly related (P <0.05) only with the weight/age nutritional status. Gender is significantly related to height/age nutritional status. The majority of boys (15,4%) are shorter than girls (2,4%). The results of the Independent Sample T-test based on location, showed that the nutritional status of subjects in urban was significantly different (P<0.05) from the nutritional status of subjects in rural. In line with this, based in gender there is significantly different (P<0.05) in nutritional status between boy and girl.Conclusions: The results of this study indicate that differences in school locations are related to the nutritional status of elementary school students.
STUDI CROSS-SECTIONAL: HUBUNGAN LOKASI SEKOLAH (PEDESAAN DAN PERKOTAAN) DENGAN STATUS GIZI MURID SEKOLAH DASAR Kushargina, Rosyanne; Dainy, Nunung Cipta
JURNAL RISET GIZI Vol. 9 No. 1 (2021): Mei (2021)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v9i1.6820

Abstract

Background: Adequate nutrition plays an important roles for children on school age to developed and maintain their growth and health. Many factors could affect the nutritional status of school children, one of them is the school location.Objectives: To analysis the correlation between school location with nutritional status of elementary school students.Method: The research design used was a cross-sectional design. 80 subjects were observed from two different schools namely SDN 1 Cikelet Garut (Urban) and SDN Pesanggrahan 02 Pagi Jakarta Selatan (Rural). The relationship of school location and gender with nutritional status were analyzed using Chi Square. Independent Sample T-test used to analyze nutritional status based on different locations.Result: In rural there are 25% of children with over nutritional status (weight/age). There are still stunted child both in urban (7.50%) and rural (10%), but based on weight/height nutritional status, almost all subjects in both urban (92.50%) and rural (97.50%) in obese category. Chi Square analysis showed that the school location was significantly related (P <0.05) only with the weight/age nutritional status. Gender is significantly related to height/age nutritional status. The majority of boys (15,4%) are shorter than girls (2,4%). The results of the Independent Sample T-test based on location, showed that the nutritional status of subjects in urban was significantly different (P<0.05) from the nutritional status of subjects in rural. In line with this, based in gender there is significantly different (P<0.05) in nutritional status between boy and girl.Conclusions: The results of this study indicate that differences in school locations are related to the nutritional status of elementary school students.
The Risk Factors for Stunting in Children Aged 6-59 Months: A Study of Case Control in A Sub Urban Area Kusumaningati, Walliyana; Dainy, Nunung Cipta
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. 6 No. 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 April 2024
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/jika.v6i1.752

Abstract

Indonesia currently has a high incidence of stunting. The stunting prevalence in Bogor Regency is 28,6%, which is higher than the national stunting prevalence. Padasuka Village is categorized as sub-urban. Factors causing stunting can differ depending on the characteristics of the area. The objective of the study was to analyze the factors that cause stunting in children aged 6-59 months in sub-urban areas. Observational research method with case control design was conducted from December 2022 to June 2023. The research location was Padasuka Village, Bogor Regency. Data on children under five years old were weight, height, history of infectious diseases, exclusive breastfeeding, immunization, macro and micronutrient intake and maternal knowledge. Data were collected using a questionnaire with interview techniques. Nutrient intake data were obtained using a 2x24 hour food recall form. The study sample sizes were 41 cases and 41 controls, making a total of 82 subjects. Statistical analysis using SPSS 16 for Windows software used univariate analysis to see the description of each research variable and analysis of the relationship between variables (bivariate) using the Chi-Square test for characteristic data and independent t-test for intake data. The results of the analysis were birth weight (p-value=0,012), birth length (p-value=0,012), energy intake (p-value=0,002), carbohydrate intake (p-value=0,024), and protein intake (p-value=0,037) had significant differences between the stunting group and the normal group. Birth weight, birth length, energy intake, carbohydrate intake, and protein intake are risk factors for stunting in children under five years old in sub-urban areas.
Hubungan Kualitas Tidur, Asupan Zat Gizi Makro dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Mahasiswa Gizi UMJ: Relationship between Sleep Quality, Macronutrient Intake and Physical Activity with Nutritional Status of UMJ Students Febytia, Nechita Dinda; Dainy, Nunung Cipta
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 1 No 3 (2022)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2022.1.3.204-209

Abstract

Pada usia dewasa, aktivitas fisik dapat menjadi lebih tinggi dan hal tersebut memicu terjadinya perubahan pada metebolisme seiring dengan peningkatan usia. Pada usia ini, individu rentan mengonsumsi asupan makanan dalam jumlah yang berlebihan, perubahan gaya hidup, tekanan lingkungan yang tinggi, kurang berolahraga, dan stress yang tinggi yang dapat memicu terjadinya perubahan pada pola makan, sehingga dapat menyebabkan masalah gizi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kualitas tidur, asupan zat gizi makro dan aktivitas fisik mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi UMJ dengan status gizi. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah subjek 52 orang mahasiswa. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), Asupan zat gizi makro diukur dengan food recall 1x24 jam, dan aktivitas fisik diukur dengan kuesioner Physical Activity Level (PAL). Analisis statistik menggunakan uji Fisher Exact Probability Test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara asupan lemak dan aktivitas fisik dengan status gizi (p<0,05), namun tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur, asupan energi, asupan protein dan karbohidrat dengan status gizi.
Nutritional Status, Physical Activity, Oxidative Stress, and Cognitive Function in Pre Elderly and Elderly Dainy, Nunung Cipta; Kusharto, Clara Meliyanti; Madanijah, Siti; Nasrun, Martina Wiwie Setiawan; Turana, Yuda
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 13 No. 3 (2018)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.238 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2018.13.3.117-122

Abstract

This study aimed to analyse the relation of nutritional status, physical activity or oxidative stress with cognitive function of pre-elderly and elderly. A comparative cross-sectional study was conducted on 40 pre-elderly and 35 elderly subjects who were admitted to the Integrated Development Post Program (Posbindu) between September 2014 and January 2015. Anthropometric measurements (weight and height), physical activity, and biochemical data (oxidized low-density lipoprotein[Ox-LDL] and serum malondialdehyd [MDA]) were obtained. Nutritional status was assessed through body mass index (BMI), while the cognitive function was measured by Rey Osterrieth Complex Figure (ROCF) and Digit Span Backward. The data were analysed using an independent t-test and Spearman’s test with a confidence level of 95%. The study showed that the prevalence of malnutrition among the pre-elderly and elderly were 60.0% and 80.0%, respectively. Concerning physical activity, those who belonged to inactive-sedentary activity based on physical activity level (PAL) ratio were 55.0% and 45.7%, respectively. There were no significant differences in Ox-LDL, MDA levels and cognitive function (p>0.05). Significant negative correlations existed between Ox-LDL and immediate visual memory function (r=-0.289; p<0.05), as well as between Ox-LDL and delayed visual memory function (r=-0.288; p<0.05). The conclusion that visual memory function was only correlated with Ox-LDL.
Co-Authors Abdullah Ihsan Al-Muswah Akbar, Zulfikar Ali Alfiah, Sarah Ali Khomsan Amelya Fitri Y.H Amelya Fitri Yudhistira Hartono Anisa Nurul Syafitri Anna Fatchiya Annisa Oktaviani Apriantini, Astari Ardelia Evani Ari Wibowo Aryanti, Friesca Ayudya Ashari, Chica Riska Aulia Nakhlah Narapati Bella Arinda Putri Clara M Kusharto Clara Meliyanti Kusharto Dadang Herdiansyah Darto Devina Alifia Fadhilah Dodik Briawan Dwi Aulia Fitri Edit Lesa Aditia, Edit Lesa Endang Puspitasari Eneng Nunuz Rohmatullayaly Fadhelina Luthfiah Azzahra Fajrini, Fini Farah Aurellia Sasikirana Farihatu Kamila Fauza Rizqia Fauza Rizqiya Febytia, Nechita Dinda Ferina Putri Rochmano Friesca Ayudya Aryanti Graiseld Raissa Erwanto Hasnabila Esti Ardiani Helfi Gustia Herdiansyah, Dadang Humayrah, Wardina Idal Musdalifa Iik Hikmawati Ikeu Tanziha Indraaryani Suryaalamsah, Inne Jihan Sekar Maharani Kamila, Farihatul Kasmita Kasmita Khoirul Anwar Kusumaningati, Walliyana Listyani Hidayati Martina Wiwie Setiawan Nasrun Miranda Monicha Muhammad Abrar Mustakim Mustakim Naufal Muharam Nurdin Nesza Ayu Mulan Niken Wulandari Dyrin Novia Zahratul Hasanah Rahma Diaz Cahyani Rahman, Purnawati Hustina Raisa Ardiyanti Rayhan Adam Savero Risti Rosmiati Rizqiya, Fauza Rohmalia, Desi Rosyanne Kushargina Rosyanne Kushargina Sarah Alfiah Sasha Safira Seftiyani, Khori Siti Madanijah Sri Laksmi Fitriyani Sri Rezeki Suryaalamsah, Inne Indraaryani Ummul Habibah Hasyim Wilda Yunieswati Wilda Yunieswati Wilda Yunieswati Yuda Turana Yudha Nigrum Yuliarti, Nurul Azizah Tri Zizi Harisatunnasyitoh Zulma Fara Panadia Zulma Fara Panadia