Claim Missing Document
Check
Articles

Penyuluhan Peraturan Perundang-Undangan Pemilihan Umum (PEMILU) Tahun 2019 (Studi Kasus pada Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (POLTEKIP) Kementerian Hukum dan HAM RI, Depok, Jawa Barat) Yoyon M Darusman; Susanto Susanto; RR Dewi Anggraeni; Rizal S Gueci; Oksidelfa Yanto
Jurnal Abdi Masyarakat Humanis Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Abdi Masyarakat Humanis
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jamh.v1i1.3376

Abstract

Pengabdian ini berjudul Penyuluhan Peraturan Perundang-undangan Pemilihan Umum (PEMILU) Tahun 2019 (Studi Kasus pada Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (POLTEKIP) Kementerian Hukum dan HAM RI, Depok, Jawa Barat). Tujuan umum dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberikan materi-materi tentang Hukum dan Ilmu Perundang-undangan yang berlaku saat ini di dalam sistem hukum Indonesia.  Metode yang digunakan adalah pada Tahap Persiapan menggunakan : Pendekatan dan kunjungan langsung dengan Direktur Poltekip dan para pejabat yang terkait. Pemantapan dan penentuan lokasi PKm dengan mengkoridinasikan dengan para pihak terkait, Direktur Pascasarjana, Ketua Prodi MH, para Dosen, mahasiswa dan alumni. Penyusunan bahan ajar/materi pelatihan dan sosialisasi yang meliputi : Infocus, Slide serta handsout. Pada Tahap Pelaksanaan : Pelatihan serta sosialisasi materi yang bersifat tutorial yang disampaikan langsung oleh para nara sumber. Tanya jawab serta diskusi secara dua arah antara para nara sumber dengan para peserta PKM. Kesimpulan dalam PKM ini bahwa sosialisasi tentang Hukum dan Ilmu Perundang-Undangan yang disampaikan kepada para ASN dan PNS di lingkungan Poltekip Kementerian Hukum dan HAM RI yang kebetulan sedang melakukan pendidikan dan pelatihan. Dengan pemberian materi-materi tambahan berupa wawasan tentang Hukum dan Ilmu Perundang-Undangan dapat memberikan wawasan dalam pemahaman tentang hukum kepada para peserta diklat
The Right to Freedom of Expression on Social Media in the Perspective of Human Rights and Islam Pendi Ahmad; RR Dewi Anggraeni
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 9, No 6 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v9i6.28120

Abstract

Freedom of expression is one of the human rights (HAM) that is still often violated. Until now, there are still many people who do not respect and respect one's right to freedom of expression. The purpose of this study is to protect the right to freedom of expression on social media under Law on Information and Electronic Transactions (ITE) and the right to freedom of expression on social media from the perspective of human rights (HAM) and Islam. The method used in this research is normative legal research or instructional research. The results of the research obtained are that the protection of freedom of expression has not received adequate protection in Law No. 19 of 2016 amending Law No. 11 of 2008 on Information and Electronic Transactions (ITE). In this ITE Act there is only one article provision related to the right to freedom of expression through internet media, in this case social media, namely Article 27(3). The right to freedom of expression in social media belongs to the first generation of rights from a human rights perspective, which are identical to a person's civil, political and religious rights, save for a personality right that requires their fulfilment and protection.Keywords: Right to Freedom, Opinion, Islam AbstrakKebebasan berpendapat merupakan salah satu Hak Asasi Manusia (HAM) yang masih sering di langgar. Sampai saat ini, masih banyak orang yang belum menghargai dan menghormati hak kebebasan berpendapat seseorang. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perlindungan atas hak kebebasan berpendapat di media sosial yang diatur dalam Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan untuk mengetahui hak kebebasan berpendapat di media sosial dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM) dan Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif atau penelitian doktrinal (doctrinal research). Hasil penelitian yang didapatkan yaitu perlindungan kebebasan berpendapat dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) belum mendapat perlindungan sebagaimana mestinya. Dalam Undang-Undang ITE ini, hanya terdapat satu ketentuan pasal yang berkaitan dengan hak kebebasan menyatakan pendapat melalui media internet dalam hal ini media sosial, yaitu dalam Pasal 27 ayat (3). Hak kebebasan berpendapat di media sosial dalam perspektif Hak Asasi Manusia, merupakan bagian dari hak generasi pertama yang identik dengan hak sipil, politik, beragama seseorang selain sebagai hak pribadi yang menuntut pemenuhan serta perlindungannya.Kata Kunci: Hak Kebebasan, Berpendapat, Islam
Promoting the urgency of restorative justice to environmental law enforcement officials through civic engagement education Rr Dewi Anggraeni; Muhammad Karim Amrullah
Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol 42, No 1 (2023): Cakrawala Pendidikan (February 2023)
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v42i1.56292

Abstract

Although bringing cases of environmental damage to court means prioritizing the principle of primum remedium by way of retributive justice or criminal justice, it unfortunately creates various problems including the practice of corruption, collusion and nepotism. Therefore, it is necessary for law enforcement officials to understand and apply restorative justice in environmental crime, which means prioritizing the principle of ultimum remedium, through civic engagement education. This research method includes social research which also covers the field of law since it analyzes positive laws that are relevant to solving problems using literature and other sources as needed. This research uses a juridical-normative legal approach which is very dependent on the researcher's conception of positive law. The results of this study indicate that law enforcement officials should understand their position as part of the community members who have duties and authorities based on the law, so that justice and ecological goals can be achieved in efforts to preserve the environment.
The Repositioning of Campus as a Cultural Movements Engine in the Eradication of Corruption RR Dewi Anggraeni; Bachtiar Bachtiar; Iman Imanuddin
Jurnal Cita Hukum Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v11i1.32124

Abstract

At the theoretical and historical level, the campus has always been a symbol of resistance to all forms of deviation, without exception for efforts to fight corruption as an extraordinary crime. Morally, the campus has an enormous responsibility to ensure and guarantee that mother earth is free from all corrupt practices. Even so, the campus is not a sterile area for corrupt practices. This study used a qualitative research method with a statutory approach. The results of the study state that corruption has penetrated into the joints of the life of the academic community, which should actually play a role as a locomotive in eradicating corruption. Recognizing that the corruption virus has spread among the academic community, it is urgent to reposition the role of the campus in the fight against corruption. Repositioning the role of the campus can be started from (i) aspects of the tri dharma of higher education, (ii) administrative aspects, and (iii) exemplary aspects. Repositioning the role of the campus should be done considering that the campus with the characteristics of its value-oriented academic community is believed to be the best place to teach and instill anti-corruption values as an ongoing cultural movement. The cultural movement has made the campus a laboratory for the process of institutionalizing anti-corruption values, principles, and morality. In the long term, this movement will become a culture that can free the nation's leading cadres from corrupt behavior and mentality.Keywords: Campus; Cultural Movement; Corruption
The Repositioning of Campus as a Cultural Movements Engine in the Eradication of Corruption RR Dewi Anggraeni; Bachtiar Bachtiar; Iman Imanuddin
Jurnal Cita Hukum Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v11i1.32124

Abstract

At the theoretical and historical level, the campus has always been a symbol of resistance to all forms of deviation, without exception for efforts to fight corruption as an extraordinary crime. Morally, the campus has an enormous responsibility to ensure and guarantee that Mother Earth is free from all corrupt practices. Even so, the campus is not a sterile area for corrupt practices. This study used a qualitative research method with a statutory approach. The results of the study state that corruption has penetrated into the joints of the life of the academic community, which should actually play a role as a locomotive in eradicating corruption. Recognizing that the corruption virus has spread among the academic community, it is urgent to reposition the role of the campus in the fight against corruption. Repositioning the role of the campus can be started from (i) aspects of the tri dharma of higher education, (ii) administrative aspects, and (iii) exemplary aspects. Repositioning the role of the campus should be done considering that the campus with the characteristics of its value-oriented academic community is believed to be the best place to teach and instill anti-corruption values as an ongoing cultural movement. The cultural movement has made the campus a laboratory for the process of institutionalizing anti-corruption values, principles, and morality. In the long term, this movement will become a culture that can free the nation's leading cadres from corrupt behavior and mentality.
Islamic Law and Customary Law in Contemporary Legal Pluralism in Indonesia: Tension and Constraints RR Dewi Anggraeni
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 23, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v23i1.32549

Abstract

Legal pluralism poses a challenging issue in the application of law in society. Indonesia, as a pluralistic country with diverse ethnicities, customs, and religions, faces conflicts between legal systems. This study addressed the conflicts between Islamic law, state law, and customary law regarding inheritance within the kinship system of Indonesian society. Data were collected from court decisions and legal scholars' opinions, which were then analyzed using the theories of legal pluralism, receptio in complexu, and receptio a contrario. The study found that legal conflicts arise among customary laws within the matrilineal, patrilineal, and parental kinship systems, particularly in inheritance matters. Legal conflicts occur when faced with Islamic law, which resonates with religious practices, and state law, which applies to all citizens. Based on several court decisions, the inheritance distribution resulting from differences in legal systems, especially within the customary kinship system, is disregarded in favor of state and Islamic law. This study implies a shift in the inheritance distribution system, which is no longer purely based on the kinship system of indigenous communities. Keywords: legal pluralism; Islamic law; state law; inheritance distribution AbstrakPluralisme hukum menjadi isu yang menantang dalam penerapan hukum di suatu masyarakat. Indonesia sebagai negara plural yang memiliki perbedaan  suku,  adat,  dan  agama  menghadapi  pertentangan  antar  sistem hukum.  Studi  ini  membahas  pertentangan  hukum  Islam,  hukum  negara dan  hukum  adat  dalam  soal  pembagian  waris  dalam  sistem  kekerabatan masyarakat Indonesia. Data dikumpulkan dari putusan-putusan pengadilan dan  pendapat  para  sarjana  hukum  yang  kemudian  dianalisis  dengan  teori pluralisme  hukum,  teori  receptio in complexu dan teori receptio a contrario. Studi ini menemukan bahwa terjadi konflik hukum antar hukum adat dalam sistem  kekerabatan  matrilineal,  patrilineal,  dan  parental,  khususnya  dalam pembagian waris. Konflik hukum juga terjadi ketika dihadapkan pada hukum Islam yang menjadi afinitas masyarakat dalam beragama dan hukum negara yang menjadi hukum bagi semua warga negara. Berdasarkan sejumlah putusan pengadilan, pembagian waris akibat perbedaan sistem hukum, khususnya dalam sistem  kekerabatan  dalam  hukum  adat  dikesampingkan  dari  hukum  negara dan hukum Islam. Studi ini berimplikasi pada bergesernya sistem pembagian waris yang tidak lagi murni berdasarkan sistem kekerabatan masyarakat adat. Kata Kunci:  pluralisme hukum; hukum Islam; hukum negara; pembagian waris
Tinjauan Yuridis Terhadap Pemutusan Hubungan Kerja Sepihak Di Masa Pandemi Covid-19 Berdasarkan Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan RR Dewi Anggraeni; Iman Imanuddin; Pendi Ahmad
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v10i3.33529

Abstract

Employment challenges in emerging countries, especially Indonesia, are common. In Indonesia, the corporation unilaterally terminated employees. The global economy has increased COVID-19-related layoffs. Thus, unemployment rose in several nations. Article 1 point 2 of Law Number 13 of 2003 on Manpower defines labor as “everyone who is able to produce goods or services to meet his own needs and the needs of society.” In line with Law Number 13 of 2003 concerning Employment and Unemployment Barriers for Unilaterally Dismissed Workers, the problem is identified and solved by determining the company's unilateral termination of employment. This study method uses empirical law (statute approach) and a conceptual approach. The research found that Article 151 of the Law on Job Creation explains Termination of Employment (PHK). Article 153 of the Job Creation Law governs PHK termination. The PHK form lists several causes for termination. If not unilateral and harmful, termination of employment (PHK) is legal. The Job Creation Law prevents employers from unilaterally terminating employment (PHK). Law Number 2 of 2004 on Settlement of Industrial Relations Disputes forbids, save for specified conditions that force termination.Keywords: Juridical Review; Layoffs; COVID-19; Employment AbstrakTantangan ketenagakerjaan di negara-negara berkembang, khususnya Indonesia, merupakan hal yang biasa. Di Indonesia, korporasi memberhentikan karyawan secara sepihak. Ekonomi global telah meningkatkan PHK terkait COVID-19. Dengan demikian, pengangguran meningkat di beberapa negara. Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mendefinisikan tenaga kerja sebagai “setiap orang yang mampu menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan kebutuhan masyarakat”. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Hambatan Ketenagakerjaan dan Pengangguran Bagi Tenaga Kerja yang Diberhentikan Secara Sepihak, permasalahan tersebut diidentifikasi dan diselesaikan dengan penetapan pemutusan hubungan kerja sepihak oleh perusahaan. Metode penelitian ini menggunakan hukum empiris (statute approach) dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menemukan bahwa Pasal 151 UU Cipta Kerja menjelaskan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Pasal 153 UU Cipta Kerja mengatur pemutusan PHK. Formulir PHK mencantumkan beberapa penyebab penghentian. Jika tidak sepihak dan merugikan, pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah sah. UU Cipta Kerja mencegah pengusaha melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial melarang, kecuali syarat-syarat tertentu yang memaksa pemutusan hubungan kerja.Kata Kunci: Tinjauan Yuridis; PHK; Covid-19; Ketenagakerjaan
The Tax Court's Existence as a Judicial Institution in Indonesia RR Dewi Anggraeni
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 10, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v10i4.35374

Abstract

Abstract:In Indonesia, the Tax Court is essential in resolving tax disputes, upholding legal certainty, and upholding justice. However, these institutions face difficult obstacles, such as the complexity of tax laws and limited resources. This research aims to determine the function and authority of the Tax Court in the context of Indonesian taxation, analyze the legal challenges and judicial processes this institution faces, and assess the efforts made to improve its existence. This research uses qualitative methods, including literature-based methodology and document analysis. Data was obtained through reviewing relevant literature, analyzing official documents related to the Tax Court, and monitoring the latest tax policies and reforms. Based on research findings, the Tax Court plays an essential role in upholding justice in the Indonesian tax system. However, difficulties posed by the complexity of tax laws and limited resources hinder the effectiveness and speed of the justice system. Therefore, to increase the existence of the Tax Court, efforts have been made to involve the public, increase transparency, and reform laws and regulations. Additional steps are needed to ensure the sustainability and effectiveness of the Tax Court as a solid and reliable Indonesian judicial institution.Keywords: Tax Court; Judicial Institution; Tax Dilemma Abstrak:Di Indonesia, Pengadilan Pajak berperan penting dalam menyelesaikan sengketa perpajakan, menegakkan kepastian hukum, dan menegakkan keadilan. Meskipun demikian, lembaga-lembaga ini menghadapi kendala yang sulit, seperti kompleksitas undang-undang perpajakan dan keterbatasan sumber daya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi dan wewenang Pengadilan Pajak dalam konteks perpajakan Indonesia, menganalisis tantangan hukum dan proses peradilan yang dihadapi lembaga ini, dan menilai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan eksistensinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, termasuk metodologi berbasis literatur dan analisis dokumen. Data diperoleh melalui kajian literatur yang relevan, analisis dokumen resmi yang berkaitan dengan Pengadilan Pajak, dan pemantauan terhadap kebijakan dan reformasi perpajakan terkini. Berdasarkan temuan penelitian, Pengadilan Pajak memainkan peran penting dalam menegakkan keadilan dalam sistem perpajakan Indonesia. Namun, kesulitan yang ditimbulkan oleh kompleksitas undang-undang perpajakan dan terbatasnya sumber daya menghambat efektivitas dan kecepatan sistem peradilan. Oleh karenanya, untuk meningkatkan keberadaan Pengadilan Pajak, upaya telah dilakukan untuk melibatkan masyarakat, meningkatkan transparansi, dan mereformasi peraturan perundang-undangan. Langkah-langkah tambahan diperlukan untuk menjamin keberlanjutan dan efektivitas Pengadilan Pajak sebagai lembaga peradilan Indonesia yang kuat dan dapat diandalkan.Kata Kunci: Pengadilan Pajak; Lembaga Peradilan; Dilema Pajak
The Management of Conflict Resolution On Labor Wages Sarwani Sarwani; RR Dewi Anggraeni; Annissa Rezki
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i1.14994

Abstract

Abstract:Every job that utilizes services and human resources certainly require a salary for payment. This fee will be used to fulfill the necessities of life, both for the personal needs of workers, and other needs including household necessities. However, it is undeniable that in the reality of granting wage, it often experiences some obstacles, either caused by workers or from the company itself. Consequently, this creates a conflict that requires resolution. Therefore, it is necessary to manage this conflict resolution of labor or workers' earning according to the Indonesian labor law. This study applied qualitative research methods with literature and empirical approach. Data are collected through the analysis of legislation and the phenomenon that occurred in real life. The results of the study revealed that there are still many conflicts overpayment of labor wages, so the companies have to apply labor salary management based on applicable regulations. Thus, it is necessary to practice the resolution of disputes in this matter maximally, particularly related to the provision of a reasonable wage between the workers and the company.Keywords: Conflict Resolution, Labor Wages, Companies Abstrak:Setiap pekerjaan yang menggunakan jasa dan tenaga manusia sudah pasti membutuhkan upah untuk pembayarannya. Upah inilah yang nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik pribadi pekerja, maupun kebutuhan lainnya termasuk kebutuhan rumah tangga. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam realita pemberian hak upah, kerap mengalami kendala, baik yang disebabkan dari buruhnya maupun dari pihak perusahaan pemberi upah. Sehingga hal ini menimbulkan konflik yang membutuhkan penyelesaian. Oleh karenanya dibutuhkan manajemen penyelesaian konflik sengketa pemberi upah buruh atau pekerja ini, dengan didasarkan undang-undang ketenagakerjaan Republik Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan literatur dan empiris. Data yang didapat melalui analisis peraturan perundang-undangan dan fenomena yang terjadi di lapangan.  Hasil penelitian menyatakan bahwa masih terdapat banyak konflik pembayaran upah buruh, sehingga perusahaan harus mampu menerapkan manajemen pemberian upah layak buruh yang didasarkan aturan yang berlaku. Oleh Karena itu perlu dilakukannya praktik penyelesaian sengketa dalam persoalan ini secara maksimal, khususnya terkait pemberian upah yang layak antara pihak buruh dan perusahaan.Kata kunci: Penyelesaian Sengketa, Upah Buruh, Perusahaan АннотацияКаждая работа, которая использует услуги и человеческие ресурсы, безусловно, требует заработную плату. Эта заработная плата будет использоваться для удовлетворения жизненных потребностей как для личных нужд работников, так и для других нужд, в том числе бытовых. Однако, нельзя отрицать, что в реальности, предоставление заработной платы часто сталкивается с некоторыми препятствиями, вызванными либо работниками, либо самой компанией. Следовательно, это создает конфликт, который требует разрешения. Вследствие этого, необходимо управлять урегулированием конфликтов разногласий по оплате труда в соответствии с индонезийским трудовым законодательством. В этом исследовании применялись качественные методы исследования с литературным и эмпирическим подходом. Данные собираются путем анализа законодательства и явлений, которые произошли в реальной жизни. Результаты исследования показали, что по-прежнему существует много конфликтов по поводу выплаты заработной платы, поэтому компаниям приходится применять управление надлежащей заработной платы на основе применимых норм. Таким образом, необходимо максимально применять урегулирование разногласий в этом вопросе, особенно связанных с предоставлением надлежащей заработной платы между работниками и компанией.Ключевые слова: Урегулирование конфликтов, Трудовая заработная плата, Компания
SOSIALISASI UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN ANAK DAN KDRT KELURAHAN PULAU PANGGANG KABUPATEN KEPULAUAN SERIBU Yoyon M Darusman; Susanto Susanto; RR Dewi Anggraeni; Bachtiar Bachtiar; Bastinaon Bastinaon
Jurnal Lokabmas Kreatif : Loyalitas Kreatifitas Abdi Masyarakat Kreatif Vol. 1 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jlkklkk.v1i1.p76-82.5599

Abstract

Pengabdian ini berjudul Sosialisasi Undang-Undang Perlindungan Anak dan KDRT Kelurahan Pulau Panggang Kabupaten Kepulauan Seribu.Tujuan pengabdian ini adalah untuk Memberikan materi-materi tentang Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang KDRT yang berlaku saat ini di dalam sistem hukum Indonesia. Metode pelaksanaan pengabdian ini dilakukan dalam beberapa kegiatan yaitu tahap survei yaitu sosialisasi dilakukan dengan menyusun berbagai hal yang akan disampaikan pada saat kegiatan pengabdian yang akan dilakukan yang meliputi: penyusunan materi yang akan diberikan, penyusunan jadwal pemberian materi, pembagian tugas tim pengabdian dan survei ke lokasi pengabdian. Tahap sosialisasi yaitu sebelum kegiatan pengabdian dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan tahap sosialisasi yaitu melakukan silaturahmi dengan ketua yayasan, menyampaikan maksud dan tujuan pengabdian ini. Pada tahap ini juga dilakukan jalinan kerjasama dan menentukan jadwal kegiatan pengabdian. Tim pelaksana kegiatan pengabdian pada masyarakat adalah dosen Fakultas Magister Hukum Universitas Pamulang sebanyak 5 orang. Tim pengabdian memberikan materi tentang pemahaman masyarakat mengenai KDRT dan perlindungan anak..Kesimpulan dari pengabdian ini adalah Peserta kurang mengerti apa itu dampak psikologi wanita dan anak anak pada kekerasan dalam rumah tangga. Ternyata materi yang berkaitan dengan perlindungan anak sangat diperlukan masyarakat disana berkenaan dengan jarak yang jauh karena hamper semua pulau terpisahKata Kunci: Sosialisasi, Perlindungan Anak, Kekerasan Dalam Rumah Tangga