Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Pajanan Debu dengan Gejala Gangguan Pernafasan pada Pekerja Industri Bata: Literature Review : Analysis of Dust Exposure with Symptoms of Respiratory Disorders in Brick Industry Workers: A Literature Review Yudi Akbar, Faris; Onny Setiani; Yusniar Hanani Darundiati
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 1 (2024): January 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i1.4633

Abstract

Latar Belakang: Industri Batu bata merupakan salah satu industri yang menghasilkan polutan di udara. Polutan yang dihasilkan dari industri tambang kapur adalah partikel debu dan gas. Debu yang dihasilkan dapat mengganggu kesehatan pekerjaannya. ISPA adalah salah satu penyakit gangguan saluran pernapasan yang menyerang pekerja tambang kapur. ISPA tidak hanya terjadi akibat pajanan debu kapur, terdapat beberapa faktor risiko pekerja yang dapat menyebabkan terjadinya ISPA. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pajanan debu dari batu bata dan faktor risiko pekerja dengan kejadian ISPA. Metode: Penelitian ini dilakukan menggunakan metode literature review dengan besar sampel sebanyak 16 jurnal. Hasil: Penelitian ini menunjukkan variabel yang bermakna atau memiliki hubungan dengan kejadian ISPA diperoleh sekitar 80% dari beberapa variabel yang di teliti. Dari tinjauan artikel diketahui ada masa kerja, penggunaan alat pelindung diri (masker), usia, riwayat penyakit dan kebiasaan merokok. Faktor risiko yang paling dominan memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian ISPA adalah variabel masa kerja dan variabel penggunaan alat pelindung diri (masker).
Literature Review: Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Paru Pekerja Industri Mebel di Indonesia Anissah, Neli; Setiani, Onny; Darundiati, Yusniar Hanani
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 14 No. 03 (2025): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v14i03.3918

Abstract

Paparan debu di lingkungan kerja industri mebel bisa menyebabkan gangguan fungsi paru, baik restriktif, obstruktif, maupun kombinasi keduanya (mixed). Penurunan fungsi paru terjadi secara bertahap dan kronis. Kajian sistematis ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko yang ada hubungannya dengan gangguan fungsi paru pada pekerja industri mebel di Indonesia. Penelitian ini adalah tinjauan sistematis terhadap artikel ilmiah dengan desain studi cross-sectional yang dipublikasikan antara tahun 2016 hingga 2025. Pencarian dilakukan melalui tiga basis data yakni Google Scholar, ScienceDirect, dan Scopus. Kriteria inklusi meliputi artikel berbahasa Indonesia atau Inggris, membahas pekerja mebel di Indonesia, dan faktor risiko yang berkaitan dengan gangguan fungsi paru. Dari hasil tinjauan terhadap 19 artikel, ditemukan bahwa paparan debu kayu, lama masa kerja, durasi kerja harian, serta kebiasaan merokok merupakan faktor utama yang paling konsisten terkait dengan gangguan fungsi paru pada pekerja industri mebel. Sementara itu, pengaruh penggunaan alat pelindung diri (APD) serta usia menunjukkan hasil yang tidak konsisten antar studi. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian paparan debu yang lebih optimal, serta peningkatan edukasi dan kepatuhan dalam penggunaan APD secara tepat guna, untuk meminimalkan risiko gangguan pernapasan pada pekerja.
Mosquito control activities associated with dengue hemorrhagic fever in Indonesia: A literature review Puspita, Yashinta Dwi; Sulistiyani, Sulistiyani; Darundiati, Yusniar Hanani; Dewanti, Nikie Astorina Yunita
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 15, No 3, (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol15.Iss3.art13

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease. It has become a public health concern. Mosquito control activities are needed to control vectors and prevent DHF. Therefore, we conduct a literature review of mosquito control activities associated with DHF in Indonesia. This study applies the selected articles using PRISMA (Preferred reporting items for systematic reviews and meta-analyses), and they are sourced from Science Direct, Google Scholar, Scopus, ProQuest, Ebscohost, and Portal Garuda. The criteria for the selected articles are full-text articles, published in 2015-2020, and those which are published in national journals SINTA 2 or international journals. This study reviewed 683 articles, out of which were selected for further examination. The key variables, such as draining water containers, covering water containers, burying and recycling used containers, using mosquito repellent, using larvacide , keeping larva-eating fish, having mosquito repellent plants, installing wire mesh on ventilation, showed significant correlation with Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) incidence. Among the selected articles, 38.89% employed cross-sectional design, and the rest belonged to case-control studies. Most articles have variable draining water containers (55.56%), 50% covers water containers, 80% have a significant association between draining water containers and DHF incidence, and 66.67% have a significant association between covering water containers and DHF incidence. Most articles show that not implementing PSN (Pemberantasan sarang nyamuk) or PSN 3M (Pemberantasan sarang nyamuk, menguras, menutup, mengubur plus) is associated with the incidence of DHF and is a risk factor for the occurrence of DHF. On the other hand, the implementation of PSN or PSN 3M Plus will be a protective factor.
Respiratory and Neurological Health Effects of Chromium and PM Exposure among Troso Woven Fabric Workers: A Cross Sectional Study in Jepara Darundiati, Yusniar Hanani; Joko, Tri; Setiani, Onny; Raharjo, Mursid; Nurjazuli, Nurjazuli; Rahman, Muhammad Auliya
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 23 No. 4 (2025): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v23i4.371

Abstract

The Troso weaving industry in Jepara, Indonesia, is a traditional craft sector that relies on synthetic dyes and manual production, thereby exposing workers to chromium (Cr) and particulate matter (PM2.5 and PM10) with potential respiratory and neurological risks. This study aimed to analyze their association with respiratory and neurological disorders among workers. A cross-sectional design was applied involving 101 weaving workers from four production sites. Environmental sampling measured Cr concentrations in wastewater and PM2.5/PM10 in the ambient air, while worker characteristics and health complaints were assessed using the ECSC-87 and Q18 questionnaire. Data were analyzed using chi-square tests and odds ratios. Cr concentrations in wastewater ranged from <0.010 to 0.104 mg/L, remaining below the effluent quality standard of 1.0 mg/L but confirming the continuous use of chromium-based dyes discharged without treatment. Average PM2.5 and PM10 levels were 108.75 µg/m³ and 117.75 µg/m³, both exceeding national air quality standards (55 and 75 µg/m³). Bivariate analysis showed that respiratory disorders were significantly associated with exposure duration ≥40 hours/week (OR=7.333; p=0.0001) and working period >5 years (OR=20.935; p=0.0001), whereas dye type, dyeing frequency, and PPE use were not significant. Neurological disorders were significantly associated with exposure duration (p=0.001), working period (p=0.001), type of dye (p=0.0001), frequency of dyeing (p=0.018), and PPE use (p=0.0001). Environmental monitoring confirmed elevated PM levels and chromium-based dye use, while statistical analysis showed that prolonged exposure and long working periods associated with respiratory disorders, and neurological disorders were linked to multiple occupational factors.
Analisis implementasi program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) pilar 1 Suryanti, Ratna; Joko, Tri; Darundiati, Yusniar Hanani; Sulistiyani, Sulistiyani; Nurjazuli, Nurjazuli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2942

Abstract

Background: Environmental sanitation is a crucial factor influencing public health. However, open defecation (ODS) remains common and has the potential to pollute the environment and increase the risk of environmentally transmitted diseases. The Community-Based Total Sanitation (CTS) program is a government effort to encourage community behavior change through five sanitation pillars, one of which is Stopping Open Defecation (SBS). However, SBS achievement in Muara Wis District, Kutai Kartanegara Regency, remains low, and not all villages in the area have achieved SBS status. Purpose: To analyze the implementation of the community-based total sanitation program, pillar 1. Method: This study used an observational, analytical, and cross-sectional design. This study focused on the implementation of STBM Pillar 1, namely bus stops for open defecation prevention, in seven villages (Enggelam, Lebak Cilong, Lebak Mantan, Melintang, Muara Enggelam, and Sebemban) in Muara Wis District, Kutai Kartanegara, from October 2025 to February 2026. A total of 2,944 households in Muara Wis District, with 110 respondents randomly selected using the Slovin formula, were sampled. Data were collected through questionnaires and field observations, then analyzed univariately for frequencies and bivariately using the chi-square test with p < 0.05. Results: Most families had implemented open defecation prevention (71.8%). The bivariate analysis also found a significant relationship between the availability of vacant land (p = 0.001), clean water (p = 0.001), toilets (p = 0.001), and level of knowledge about STBM with open defecation behavior. Meanwhile, attitudes toward the implementation of STBM (Open Defecation-Free Zones) did not show a significant relationship (p = 0.930). Conclusion: The availability of vacant land, clean water, toilets, and the level of information are significantly associated with the practice of open defecation. Efforts to increase access to sanitation facilities, provide clean water, and educate the community about health need to be strengthened to support the successful implementation of Pillar 1 of STBM and achieve sustainable open defecation-free villages. Suggestion: Communities and the government are expected to find alternative solutions to the limited land available for sanitation facilities, such as utilizing appropriate technology in building family toilets, implementing simple air treatment methods both individually and communally, and building healthy toilets that are appropriate to the geographical conditions of the environment.   Keywords: Community-Based Total Sanitation; Environmental Sanitation; Open Defecation.   Pendahuluan: Sanitasi lingkungan merupakan faktor krusial yang memengaruhi tingkat kesehatan masyarakat. Namun, praktik buang air besar sembarangan (BABS) masih sering terjadi dan berpotensi mencemari lingkungan serta meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan. Program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) merupakan upaya pemerintah untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui lima pilar sanitasi, salah satunya stop buang air besar sembarangan (SBS). Namun, capaian SBS di Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara masih rendah dan seluruh desa di wilayah tersebut belum berstatus SBS. Tujuan: Untuk menganalisis implementasi program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) pilar 1. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik cross-sectional. Fokus penelitian adalah pelaksanaan STBM Pilar 1 stop buang air besar sembarangan di 7 desa (Enggelam, Lebak Cilong, Lebak Mantan, Melintang, Muara Enggelam, dan Sebemban), Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara, pada Oktober 2025 - Februari 2026. Sebanyak 2,944 kepala keluarga di Kecamatan Muara Wis, 110 responden dipilih secara acak dengan rumus Slovin. Demikian pula, data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi lapangan, kemudian dianalisis secara univariat untuk frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan p < 0.05. Hasil: Mayoritas keluarga telah menerapkan pencegahan buang air besar di tempat terbuka (71.8%). Analisis bivariat juga menemukan hubungan yang signifikan antara ketersediaan lahan kosong (p = 0.001), air bersih (p = 0.001), toilet (p = 0.001), dan tingkat pengetahuan tentang STBM dengan perilaku buang air besar keluarga. Sementara itu, sikap terhadap penerapan STBM tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p = 0.930). Simpulan: Faktor ketersediaan lahan kosong, ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban, dan tingkat pengetahuan berhubungan signifikan terhadap praktik BABS. Upaya peningkatan akses sarana sanitasi, penyediaan air bersih, serta edukasi kesehatan masyarakat perlu diperkuat untuk mendukung keberhasilan implementasi STBM Pilar 1 dan pencapaian desa stop buang air besar sembarangan secara berkelanjutan. Saran: Masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat mencari alternatif solusi atas keterbatasan lahan untuk pembangunan sarana sanitasi, seperti memanfaatkan teknologi tepat guna dalam pembangunan jamban keluarga, melakukan pengolahan air secara sederhana baik secara individu maupun komunal, serta membangun jamban sehat yang sesuai dengan kondisi geografis lingkungan.   Kata Kunci: Buang Air Besar Sembarangan; Sanitasi Lingkungan; Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
Co-Authors Abd. Rasyid Syamsuri Achmad Rizki Azhari Ahmad Farid Ali Djamhuri Amalia Jamil Angelina, Maria Sylvia Anggraeni, Siti Hafidzhah Dyah Ayu Anissah, Neli Annisa Amaliana Annisa Rachmawati Apoina Kartini Ardias Ardias Arumsari, Fina Astri Wulandari Ayu Larasati Az Zahro, Putri Rahmawati Az-zahro, Putri Rahmawati Azhari, Achmad Rizki Azzahra Pratadina Bariyadi Rifai Benedikta Familia Santcawarti Budiyono Budiyono Budiyono Budiyono Cahyo Setiawan Charles foeh Foeh Chesaria Candra Cahyani Chintya Pangestika Choirul Luluk Fatimah Cresti Dwitiya Murti Daramusseng, Andi Diah Ayu Pusparini, Diah Ayu Dian Indriyani Diana Islamawati Eka Wahyuni Fatikha Firdausi Fitria Andriani Fitrisya Lucki Dwiyanti Fransiska Vony Wicheisa Galuh Candra Dewi Hanan Lanang Dangiran Hanan Lanang Dangiran, Hanan Lanang Hapsari, Titi Hari Ismanto Hasim, Jamal Hisham Ika Fitriati, Ika Ilham Pradana Sulistiyono Putra intan permata sari Karunia Dwi HPS Kunti Wijiarti Laila Fitria Lailya Indha Pramastuti Latifah, Endah Nur Lina Yulianti Linda Devega Masyithah, Wulan Maulida, Devina Alya Maysaroh Nur Istikomah Mayvika Farah Fadhila Munawaroh, Dinni Asmini Mursid Rahardjo Mursid Raharjo Nasution, Lailatussyifah Niki Astorina Yunita Darundiati Niki Astorina Yunita Dewanti Niki Astorina Yunita Dewanti, Niki Astorina Yunita Nikie Astorina Yunita Dewanti Nuha, Nabila Ulin Nur Endah Wahyunigsih Nur Endah Wahyuningsih Nur Latifah, Endah Nurjazuli Nurjazuli Nurjazuli Nurjazuli Nurjazuli Nurul Qodariyah Oktavia Suci Setyoningsih, Oktavia Suci Okti Iswari Triswindyaningrum Onni Setiani Onny Setiani Onny Setiani Poppi Nastasia Dewi Pudjaningrum Pudjaningrum Puspita, Yashinta Dwi Rahmadayanti Rahmadayanti Rahmah, Syifa Rifqa Ainur Rahman, Muhammad Auliya Rainy Rifta Raisha Selviastuti Regita Damayanti Saputri Rifka Fuazia Bilqis Risa Kartika Putri Risma Dwi Yulianti Rizka Laila Rachmawati, Rizka Laila Solly Aryza Sri Winarni Suhartono Sukma Dewi Novianti Sulistiyani SULISTIYANI SULISTIYANI Sulistiyono Putra, Ilham Pradana Sulistyani Sulistyani Suryanti, Ratna Tika Adelia Nurkholis Puteri Tri Joko Ufairoh, Azum Ulfa, Elok Fadila Utami, Desi Putri Vitasari, Marliana Wahida Inayatun Nikmah Wahyu Sekar Harjanti Widya Kristiani Dory Purba, Widya Kristiani Dory Winnoto Winnoto Yudi Akbar, Faris Yuliani Setyaningsih Zahra, Nabilah