Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Toleransi Antaragama dalam Perspektif Civil Sphere : Membangun Keberagaman Harmonis di Kota Kupang Justine Saudale; Izak Y.M. Lattu; Irene Ludji
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 1 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i1.1587

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi toleransi antar-agama dalam menjaga harmoni sosial serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Kota Kupang dalam perspektif Civil Sphere. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik toleransi di Kota Kupang terwujud melalui dialog antar-agama, keterlibatan aktif komunitas dalam perayaan keagamaan, serta tindakan simbolik yang mencerminkan solidaritas sosial. Dalam perspektif Jeffrey Alexander, Kota Kupang mencerminkan ruang sipil yang memungkinkan integrasi sosial melalui simbol-simbol yang membangun narasi kebersamaan. Sementara itu, dalam pandangan George Herbert Mead, makna toleransi terbentuk melalui interaksi sosial yang memungkinkan individu dari berbagai latar belakang agama menginternalisasi nilai-nilai kebersamaan. Praktik seperti keterlibatan pemuda Kristen dalam membantu perayaan Idul Fitri dan partisipasi umat Muslim dalam menghias pohon Natal menjadi contoh nyata bagaimana simbol dan interaksi sosial memperkuat kohesi masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa harmoni dalam keberagaman tidak terjadi secara alami, melainkan merupakan hasil dari upaya kolektif berbagai pihak dalam membangun ruang publik yang inklusif dan toleran. Kata Kunci: Toleransi Antar-agama, Civil Sphere, Interaksi Simbolik, Simbol Keagamaan.
Menggugat Legitimasi Budaya: Kritik Etika Sosial Kristen Terhadap Kekerasan Seksual dalam Adat Sifon Yesika Maubanu; Irene Ludji; Mariska Lauterboom
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 6 No 1 (2026): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/v8gn4y14

Abstract

The Sifon customary circumcision practice is a traditional male circumcision ritual that contains elements of sexual violence against women. This study examines women’s experiences within this tradition through the lens of Christian social ethics, employing a qualitative ethnographic approach. The findings reveal that the Sifon custom represents a systematic and institutionalized form of violence, in which women’s bodies are objectified as instruments in male healing rituals. This tradition normalizes sexual violence and reinforces the marginalization of women within the social structure of the community. From the perspective of Christian Social Ethics, this practice violates human dignity, social justice, and love for others. The sexual exploitation legitimized through cultural symbols reflects structural injustice that requires critical theological and social interpretation. The implications of this study underscore the importance of an ethical approach that prioritizes the rights of victims, fosters gender-sensitive cultural awareness, and supports social reconstruction that restores women’s dignity. Therefore, the Sifon customary practice is not merely a cultural heritage but an institutionalized form of sexual violence. Christian Social Ethics provides a moral foundation to deconstruct oppressive cultural legitimations and to promote social transformation that is just, equal, and respectful of women as dignified creations of God.
Tawaran Ekofeminisme untuk Mengatasi Pelanggaran HAM yang Dialami Perempuan dalam Konflik Agaria di Wadas Muhamad Sidik Pramono; Irene Ludji
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i02.9790

Abstract

Penelitian ini ditulis guna memaparkan tawaran dalam ekofeminisme untuk melihat pelanggaran HAM yang dialami oleh para perempuan pada saat konflik agraria di Wadas. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka atas penelitian yang ada. Pengumpulan data dilakukan dengan cara etnografi digital. Kemudian, dianalisis dengan pendekatan studi kritis. Di dalam penelitian ini, teori yang dipakai ialah ekofeminisme klasik atau kultural dan ekofeminisme sosialis yang digagas oleh Vandana Shiva. Penelitian ini coba menjawab bagaimana ekofeminisme dapat menjadi salah satu tawaran atas kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap pereempuan. Setidaknya, terdapat beberapa hasil dari penelitian ini yakni pertama, perempuan di Wadas mengalami kekerasan dan pelanggaran HAM baik dalam hak sipil politik maupun hak ekonomi, sosial, budaya. Kedua, penelitian ini menunjukan bahwa ekofeminisme dapat menjadi tawaran atas adanya kekerasan fisik maupun psikis dan pelanggaran HAM karena negara abai dalam menjamin hak-hak perempuan di Wadas. Melalui ekofeminisme perempuan diposisikan setara dan menjadi subjek yang dipertimbangkan dalam setiap isu agraria atau ekologi. Dengan menggunakan ekofeminisme, pertimbangan negara dalam isu agraria tidak selalu berpihak pada kepentingan kapitalis saja, namun juga mempertimbangkan perempuan. Ekofeminisme sebagai tawaran ini dimaksudkan untuk merubah paradigma yang dipakai negara dalam isu agraria. Dengan paradigma ekofeminisme yang memiliki nilai etika kepedulian dan perdamaian, maka kekerasan terhadap perempuan dapat dihilangkan. Selain itu, negara juga akan dapat melakukan kewajibannya untuk memenuhi (to fulfill), melindungi (to protect), dan menghormati (to respect) HAM.
Intergenerational Collective Trauma: Analyzing the Psychosocial Crisis and Identity Formation Mechanisms among Post-Conflict Refugees in Poso Donnye Rura Amping; Maria Goretti Adiyanti; Irene Ludji
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5, No 2 Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i2.85

Abstract

The prolonged conflict in Poso has left a lasting mark of collective trauma, particularly within refugee communities. This trauma has triggered a psychosocial crisis transmitted across generations through collective narratives, refugee identity, parenting styles, and socially embedded suspicion and prejudice. This study aims to explore the intergenerational transmission mechanisms of collective trauma among post-conflict refugees in Poso. Employing a qualitative case study approach and thematic analysis, in-depth interviews were conducted with two generational groups: direct survivors of the conflict and those born afterward. Findings reveal that trauma plays a significant role in identity formation among younger generations, reflected in high levels of anxiety, social withdrawal, and heightened sensitivity to violence. Social mechanisms such as “self-defense” and “self-counter” emerge as adaptive responses aimed at protecting community identity. These insights contribute to the design of more context-sensitive psychosocial interventions, including peace education, intergenerational parenting programs, and intercommunity safe spaces that foster reconciliation and integration.
An Environmental Ethics Review of the Moral Dilemma Faced by Colored Stone Miners on Kolbano Beach VERA VELWYATI; IRENE LUDJI
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 11 No 1 (2026): Volume 11, Number 1 - June 2026
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v11i1.12946

Abstract

The moral dilemma of miners on Kolbano Beach, South Central Timor (Timor Tengah Selatan), East Nusa Tenggara (Nusa Tenggara Timur) arises when they must dig into the soil to extract colored stones to meet their economic needs, even though this activity harms the environment. If they stop mining, no other occupation offers a comparable income, which explains why mining continues to this day. This study aims to describe the factors behind the moral dilemma faced by colored stone miners on Kolbano Beach and to analyze this dilemma from the perspective of environmental ethics. The study employs a qualitative, narrative-descriptive approach. Drawing on Larry Rasmussen's environmental ethics and Sallie McFague's distributive justice, the study calls on humans to pursue a sustainable life for all of creation in the future. As moral beings who continuously interact with nature, miners hold a duty to love nature as they love themselves and to treat nature as a moral subject. Humans also need to take responsibility for their moral decisions toward all creation through critical moral reasoning, which builds the character of humility and supports justice for all creation.
FREDERICK DOUGLASS: CHRISTIANITY OF SLAVEHOLDERS VS CHRISTIANITY OF CHRIST Irene Ludji; Lashonda Fletcher; Maureen Clarck
Jurnal Ledalero Vol 13, No 2 (2014): Gerakan Sosial untuk Perubahan Sosial
Publisher : Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology (IFTK Ledalero), Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v13i2.75.294-310

Abstract

Hak beragama telah dipertalikan dengan setiap orang sejak lahir, entah dia orang merdeka atau budak, kulit hitam atau putih, lelaki ataupun perempuan. Manifestasi iman tersebut terungkap secara hebat di dalam komunitas jemaat warga kulit hitam selama Masa Kebangkitan Kedua (Second Awakening) di abad ke-18 tatkala banyak orang Afrika masuk kekristenan dalam berbagai denominasi. Di tengah-tengah masa kebangkitan itulah Frederick Douglass lahir di Desa Talbot pada tahun 1818, dari seorang ibu budak warga kulit hitam dan seorang ayah yang diduga majikan warga kulit putih. Kelahiran Douglass ke dalam sistem perbudakan ini memberinya sebuah perspektif kritis atas iman dan efeknya terhadap setiap persoalan sosial, khususnya menyangkut perbudakan. Lebih penting lagi, Douglass mampu secara tajam mengemukakan interpretasiinterpretasi dan ideologi-ideologi kontradiktif mengenai agama/iman sampai ke tingkat yang menempatkan dia pada sebuah jalan dari status budak ke penghapus perbudakan (abolisionis). Harus dicatat bahwa kendatipun Douglass menganggap urusan iman/agama sebagai urusan yang sangat pribadi, namun keyakinan-keyakinannya dibentuk, dituntun, dan dapat didengar dalam pidato-pidato dan tulisan-tulisannya. Penting untuk menggali kehidupan Douglass sebagai seorang budak dan memeriksa apa pengaruh dari Gereja kulit hitam dan agama terhadap tindakan-tindakannya. Kehidupan Douglass sebagai seorang pejuang penghapusan perbudakan akan ditelusuri seraya memberikan perhatian yang intens/mendalam terhadap peranan agama dan Gereja kulit hitam terhadap kematangannya. Kata-kata kunci: Kekristenan, perbudakan, kebebasan, Gereja hitam, agama, cinta Allah
Communal Meaning and Religious Boundaries: Lived Religion at the Negeri Church in Waraka, Central Maluku Lailossa, Petra; Lattu, Izak Yohan Matriks; Ludji, Irene
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v7i2.10173

Abstract

Sacred places are often understood primarily through their institutional ownership and formal religious functions. Less attention has been paid to how a sacred place associated with one religious tradition may acquire wider communal meaning without losing its particular religious identity. This study examines how Protestant, Muslim, and Catholic residents of Negeri Waraka interpret the Negeri Church and how collective memory, the Nazar Negeri, customary authority, and religious boundaries shape its social meaning. The study used a qualitative, focused ethnographic approach. Fieldwork was conducted in Waraka, Central Maluku, from December 2025 to January 2026 and involved 16 purposively selected participants, including customary authorities, religious leaders, village representatives, and residents from the three religious communities. Data were collected through semi-structured interviews, open observer-as-participant fieldwork, field notes, photographs, and relevant documents and were analyzed thematically. The findings show that the church remains a Protestant liturgical space while also functioning as a material reference point for Waraka’s collective history and communal identity. The annual Nazar Negeri connects the Raja’s house and the church through differentiated participation: Protestant residents retain liturgical authority, whereas Muslim and Catholic residents participate through customary and civic roles. The continuity of this arrangement depends on collective memory and the mediating authority of the Raja, Saniri Negeri, and religious leaders. The Waraka case demonstrates that the communal significance of a sacred place does not require the erasure of religious boundaries. Instead, shared meaning is produced through negotiated participation, customary belonging, and the continuing recognition of religious difference.
EKSPLOITASI ALAM DAN KRISIS KEBERLANJUTAN: PERSPEKTIF EKO-KRISTOLOGI DI TENGAH PERTAMBANGAN DAIRI Simbolon, Hotmaritua; Ludji, Irene; Lauterboom, Mariska
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v9i1.1419

Abstract

Tulisan ini membahas dinamika sosial, ekologis, dan teologis terkait kehadiran PT. Dairi Prima Mineral (PT. DPM) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, khususnya di Kecamatan Silima Pungga-Pungga. Masyarakat Dairi yang mayoritas menggantungkan hidup pada sektor pertanian menghadapi perubahan signifikan akibat aktivitas pertambangan seng dan timbal yang berlokasi di kawasan hutan lindung. Kehadiran tambang menimbulkan dampak ekologis berupa perubahan bentang alam, pencemaran tanah dan air, potensi longsor, serta ancaman bencana akibat pengelolaan limbah tambang. Selain itu, terjadi pergeseran sosial-budaya, termasuk melemahnya nilai gotong royong, perubahan mata pencaharian, polarisasi antara kelompok pro dan kontra tambang, hingga konflik dalam keluarga yang melibatkan relasi suku Pakpak dan Toba. Melalui pendekatan eko-teologi dan eko-kristologi, tulisan ini merefleksikan mandat manusia sebagai ciptaan segambar Allah yang dipanggil untuk mengusahakan dan memelihara bumi, bukan mengeksploitasinya secara destruktif. Krisis ekologi dipahami sebagai akibat dari paradigma antroposentris yang keliru, sehingga diperlukan pembaruan cara pandang teologis yang menempatkan Kristus dalam relasi kosmis dengan seluruh ciptaan. Sebagai respons, diajukan langkah advokasi hukum, dialog dengan pemangku kepentingan, serta edukasi tanggap bencana sebagai upaya konkret membela keadilan ekologis dan keberlanjutan hidup masyarakat.