Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Tinjauan Etis-Pedagogis Terhadap Peran Guru Dalam Mendidik Anak Sekolah Minggu Di GKJ Salatiga Utara Kristania, Cindy Uzia; Ludji, Irene; Buke, Nimali Fidelis
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i1.254

Abstract

Abstract: This research aims to describe and analyze the role of teachers in educating Sunday school children at GKJ North Salatiga from an ethical-pedagogical perspective. This research uses a qualitative approach. Qualitative data was collected through semi-structured interviews and participant observation. The theory used in the analysis is based on ethical studies from Reinhold Niebuhr and pedagogical studies from Thomas Groome. The research results show that education for children is essential, and the church needs to participate in it. The efforts made by GKJ North Salatiga in educating Sunday school children include instilling Christian values or giving the example of Jesus. Jesus' example is also an example of ethical behavior offered by Niebuhr. The ethical values contained in the research are respecting others, giving appreciation, love, forgiveness, helping, sharing, caring, fairness, justice, and humility. In pedagogical studies, it was found that teachers not only taught the example of Jesus through theory, but it was also reflected in the lives of Sunday school teachers. Teachers also use various creative teaching methods and media in the learning process. Creative teaching supports children to understand God's word better. Teachers at GKJ North Salatiga also manage the Sunday school well and in a structured manner. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran guru dalam mendidik anak sekolah Minggu di GKJ Salatiga Utara ditinjau dari perspektif etis-pedagogis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data-data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif. Teori yang digunakan dalam analisis adalah kajian etis dari Reinhold Niebuhr dan pedagogis dari Thomas Groome. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan untuk anak-anak adalah hal yang penting, dan gereja perlu untuk ambil bagian di dalamnya. Upaya yang dilakukan GKJ Salatiga Utara dalam mendidik anak-anak sekolah Minggu, adalah dengan menanamkan nilai-nilai kristiani atau keteladanan Yesus. Keteladanan Yesus juga merupakan contoh perilaku etis yang ditawarkan oleh Niebuhr. Adapun nilai-nilai etis yang ditemukan dalam penelitian, yaitu, menghargai sesama, memberikan apresiasi, kasih, pengampunan, menolong, berbagi, peduli, adil, kesetaraan dan rendah hati. Dalam kajian pedagogis, ditemukan bahwa guru tidak hanya mengajarkan keteladanan Yesus melalui teori, tetapi juga dicerminkan dalam kehidupan guru sekolah Minggu. Dalam proses pembelajaran, guru juga menggunakan berbagai metode dan media mengajar yang kreatif. Pengajar yang kreatif mendukung anak-anak untuk lebih memahami firman Tuhan. Guru di GKJ Salatiga Utara juga mengelola sekolah Minggu dengan baik dan terstruktur.
Toleransi Antaragama dalam Perspektif Civil Sphere : Membangun Keberagaman Harmonis di Kota Kupang Justine Saudale; Izak Y.M. Lattu; Irene Ludji
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 1 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i1.1587

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi toleransi antar-agama dalam menjaga harmoni sosial serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Kota Kupang dalam perspektif Civil Sphere. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik toleransi di Kota Kupang terwujud melalui dialog antar-agama, keterlibatan aktif komunitas dalam perayaan keagamaan, serta tindakan simbolik yang mencerminkan solidaritas sosial. Dalam perspektif Jeffrey Alexander, Kota Kupang mencerminkan ruang sipil yang memungkinkan integrasi sosial melalui simbol-simbol yang membangun narasi kebersamaan. Sementara itu, dalam pandangan George Herbert Mead, makna toleransi terbentuk melalui interaksi sosial yang memungkinkan individu dari berbagai latar belakang agama menginternalisasi nilai-nilai kebersamaan. Praktik seperti keterlibatan pemuda Kristen dalam membantu perayaan Idul Fitri dan partisipasi umat Muslim dalam menghias pohon Natal menjadi contoh nyata bagaimana simbol dan interaksi sosial memperkuat kohesi masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa harmoni dalam keberagaman tidak terjadi secara alami, melainkan merupakan hasil dari upaya kolektif berbagai pihak dalam membangun ruang publik yang inklusif dan toleran. Kata Kunci: Toleransi Antar-agama, Civil Sphere, Interaksi Simbolik, Simbol Keagamaan.
FREDERICK DOUGLASS: CHRISTIANITY OF SLAVEHOLDERS VS CHRISTIANITY OF CHRIST Ludji, Irene; Fletcher, Lashonda; Clarck, Maureen
Jurnal Ledalero Vol 13, No 2 (2014): Gerakan Sosial untuk Perubahan Sosial
Publisher : Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology (IFTK Ledalero), Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v13i2.75.294-310

Abstract

Hak beragama telah dipertalikan dengan setiap orang sejak lahir, entah dia orang merdeka atau budak, kulit hitam atau putih, lelaki ataupun perempuan. Manifestasi iman tersebut terungkap secara hebat di dalam komunitas jemaat warga kulit hitam selama Masa Kebangkitan Kedua (Second Awakening) di abad ke-18 tatkala banyak orang Afrika masuk kekristenan dalam berbagai denominasi. Di tengah-tengah masa kebangkitan itulah Frederick Douglass lahir di Desa Talbot pada tahun 1818, dari seorang ibu budak warga kulit hitam dan seorang ayah yang diduga majikan warga kulit putih. Kelahiran Douglass ke dalam sistem perbudakan ini memberinya sebuah perspektif kritis atas iman dan efeknya terhadap setiap persoalan sosial, khususnya menyangkut perbudakan. Lebih penting lagi, Douglass mampu secara tajam mengemukakan interpretasiinterpretasi dan ideologi-ideologi kontradiktif mengenai agama/iman sampai ke tingkat yang menempatkan dia pada sebuah jalan dari status budak ke penghapus perbudakan (abolisionis). Harus dicatat bahwa kendatipun Douglass menganggap urusan iman/agama sebagai urusan yang sangat pribadi, namun keyakinan-keyakinannya dibentuk, dituntun, dan dapat didengar dalam pidato-pidato dan tulisan-tulisannya. Penting untuk menggali kehidupan Douglass sebagai seorang budak dan memeriksa apa pengaruh dari Gereja kulit hitam dan agama terhadap tindakan-tindakannya. Kehidupan Douglass sebagai seorang pejuang penghapusan perbudakan akan ditelusuri seraya memberikan perhatian yang intens/mendalam terhadap peranan agama dan Gereja kulit hitam terhadap kematangannya. Kata-kata kunci: Kekristenan, perbudakan, kebebasan, Gereja hitam, agama, cinta Allah