Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Hubungan faktor maternal dan kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR) Azizah, Nurul; Martini, Neneng; Gumilang, Lani; Dhamayanti, Meita; Judistiani, Raden Tina Dewi
Jurnal Asuhan Kebidanan Vol 5 No 1 (2024): Journal of Midwifery Care
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan Garawangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/jmc.v5i1.1368

Abstract

Latar Belakang: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) didefinisikan sebagai bayi yang lahir dengan berat badan di bawah 2500 gram. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, persentase bayi BBLR di Cianjur tahun 2019 mencapai 2,8%, atau 1.143 dari 42.702 bayi baru lahir. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan faktor maternal dan kejadian BBLR.Metode: Studi cross-sectional analitik menggunakan data sekunder dari rekam medis, melibatkan seluruh ibu yang melahirkan bayi BBLR di RSUD Cimacan antara tahun 2020 hingga 2022, dengan total sampel sebanyak 168 ibu.Hasil: Kejadian BBLR tertinggi terjadi pada tahun 2022 (41,1%), pada kelompok ibu nullipara (48,2%), usia 20-35 tahun (70,8%), memiliki kadar hemoglobin (Hb) ≥ 11 gr/dl (57,7%), status gizi normal (54,8%), dan tidak mengalami preeklamsia (92,9%). Analisis lebih lanjut menunjukkan hubungan signifikan antara usia ibu (p = 0,017), preeklamsia (p = 0,001), kadar Hb (p = 0,001, r = 0,551), dan status gizi ibu (p = 0,042) dengan kejadian BBLR, namun tidak ada hubungan antara paritas ibu (p = 0,347) dan kejadian BBLR.Kesimpulan: Faktor- faktor maternal yang berhubungan dengan kejadian BBLR di RSUD Cimacan periode 2020-2022 adalah usia ibu, preeklamsia, kadar Hb dan status gizi.
Menuju Generasi Emas 2045: Peran Guru dalam Skrining Dini Masalah Mental Emosional pada Anak Prasekolah Anggeriyane, Esme; Fitri, Siti Yuyun Rahayu; Dhamayanti, Meita; Rakhmawati, Windy; Hilaliyah, Nurul
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 6 No 4 (2024): Jurnal Peduli Masyarakat: Desember 2024
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v6i4.4587

Abstract

Masa prasekolah merupakan periode penting dalam perkembangan aspek fisik, kognitif, dan emosional anak. Namun, masalah mental emosional pada anak prasekolah sering kali tidak terdeteksi sejak dini dan tidak disadari oleh orang disekitar anak. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman guru mengenai pentingnya skrining dini masalah mental emosional pada anak prasekolah dalam mendukung tercapainya Generasi Emas 2045. Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui sosialisasi dan edukasi kepada 42 orang guru PAUD dan TK di Kecamatan Banjarmasin Utara. Metode kegiatan terdiri ceramah, simulasi penggunaan Kuesioner Masalah Perilaku Emosional (KMPE) dan diskusi interaktif. Hasil kegiatan berdasarkan indikator aktivitas berupa memperhatikan materi, kemampuan melakukan skrining, keaktifan dalam diskusi dan mengikuti kegiatan hingga selesai. Didapatkan sebagian besar guru dengan partisipasi aktif dan menyadari tentang pentingnya deteksi dini masalah mental emosional anak prasekolah. Skrining dini dapat menjadi langkah preventif yang efektif untuk mendukung perkembangan anak menuju Generasi Emas 2045 melalui peran aktif guru dalam deteksi dini masalah mental emosional di lingkungan sekolah.
Edukasi kesehatan reproduksi sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual pada remaja Hanifa, Fanni; Dhamayanti, Meita; Yolandia, Rita Ayu; Izza, Lina Nurul
Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS) Vol 8 No 2 (2025)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jipemas.v8i2.23339

Abstract

Masa remaja merupakan fase perkembangan yang kompleks dan penuh tantangan, ditandai dengan perubahan fisik, kognitif, emosional, serta sosial yang signifikan. Salah satu isu krusial yang dihadapi remaja adalah tingginya angka kekerasan seksual, yang berdampak buruk terhadap kesejahteraan fisik dan mental mereka. Berbagai faktor, seperti kurangnya pendidikan seksual yang memadai, pengaruh media yang tidak terkendali, serta tekanan dari lingkungan sosial, dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan seksual. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan upaya pemberdayaan remaja melalui pendidikan seksualitas yang komprehensif. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan strategi pencegahan kekerasan seksual. Dengan melibatkan 34 siswa sekolah menengah pada 23 Januari 2025, kegiatan ini mencakup seminar serta diskusi interaktif. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta, yang dibuktikan dengan kenaikan skor posttest dibandingkan pretest. Temuan ini menegaskan pentingnya pendidikan seksualitas yang komprehensif guna meningkatkan kesadaran remaja terhadap hak-hak reproduksi dan kesehatan mereka.
Implementation of Mother Toddler Classes in Improving Growth and Development Stimulation Behavior of Mothers of 4-5 Year Old Toddlers in the Cimahi Tengah Health Center Working Area Rizki, Fathia; Dhamayanti, Meita
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.47980

Abstract

The preschool period, particularly at the ages of 4–5 years, is a golden age that is crucial for a child’s growth and development. The active role of parents, especially mothers, is essential in supporting the stimulation of preschool children's development. A lack of stimulation can lead to developmental delays. One of the main contributing factors is the low level of maternal behavior regarding the importance of stimulation, which stems from the absence of a structured educational platform to assist mothers in fulfilling this role. Educational interventions such as mother-toddler classes have not been fully optimized to change maternal behavior. This study aims to determine the effect of mother-toddler classes on changes in maternal behavior in providing stimulation to preschool-aged children. The research design used is a pre-experimental approach with a one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 39 mothers with children aged 4–5 years who met the inclusion and exclusion criteria. The study was conducted from October 2024 to April 2025. The intervention was carried out through mother-toddler classes over four weeks, divided into four sessions, and was evaluated using a validated and reliable questionnaire. The results showed that 64.1% of mothers had poor behavior in the pretest, while 61.5% had good behavior in the posttest. The McNemar test produced a p-value of 0.002 (p < 0.05). The conclusion of this study is that the implementation of mother-toddler classes is effective in improving the behavior of mothers in providing growth and development stimulation to children aged 4–5 years in the working area of Cimahi Tengah Public Health Center.
PENGARUH PELAKSANAAN KELAS MP-ASI TERHADAP PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN IBU BAYI USIA 5 BULAN DALAM PENCEGAHAN STUNTING DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS CIPONGKOR BANDUNG BARAT Rizki, Fathia; Dhamayanti, Meita; Hidayah, Hajj Aulia Mawadatul; Maulida, Siti; Rahmawati, Ela
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.45122

Abstract

Jawa Barat merupakan provinsi dengan prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita masih cukup tinggi, termasuk di Kabupaten Bandung Barat yang mencatatkan 87 kasus gizi buruk pada balita di tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest, yang bertujuan untuk mengukur perubahan pengetahuan ibu sebelum dan sesudah mengikuti kelas MP-ASI. Subjek penelitian adalah ibu yang memiliki bayi usia 5 bulan di Posyandu Dahlia, Desa Cipongkor, dengan teknik total sampling karena jumlah populasi kurang dari 100 orang. Variabel utama yang diukur adalah tingkat pengetahuan ibu tentang MP-ASI, yang mencakup waktu pemberian, frekuensi, jenis, tekstur, dan cara pengolahan MP-ASI. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian ini berlangsung dalam beberapa tahapan, yaitu pretest untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal ibu, intervensi berupa kelas MP-ASI, dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan setelah intervensi. Data dianalisis secara statistik untuk melihat efektivitas kelas MP-ASI dalam meningkatkan pemahaman ibu tentang pemberian makanan pendamping. Selain itu Rendahnya keterampilan ibu dalam pemberian MP-ASI dapat menyebabkan bayi tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, meningkatkan risiko diare akibat sanitasi pangan yang kurang baik, serta berkontribusi pada gagal tumbuh. Oleh karena itu, peningkatan keterampilan ibu dalam menyiapkan dan memberikan MP-ASI merupakan strategi penting dalam upaya pencegahan stunting. Program edukasi melalui kelas MP-ASI atau penyuluhan gizi terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan ibu dan kualitas pemberian makan pada anak. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini memperhatikan aspek etika seperti informed consent, privasi responden, serta prinsip non-maleficence untuk memastikan tidak ada dampak negatif bagi partisipan. Proses penelitian berlangsung dari tahap persiapan hingga pelaporan hasil, dengan harapan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesadaran ibu mengenai pentingnya MP-ASI yang tepat.
Exploring the Potential of Multiple Intelligences as an Effort to Improve Adolescent Health Holistically Dhamayanti, Meita; Pandia, Veranita; Arisanti, Nita; Widyasih, Hesty; Azriani, Devi; Bustami, Lusiana El Sinta; Kresnayana, Made Yos
Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan (Abdigermas) Vol. 2 No. 3 (2024): Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Bidang Kesehatan (Abdigermas)
Publisher : CV Media Inti Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58723/abdigermas.v2i3.297

Abstract

The community services aim to identify multiple intelligences to optimize adolescent health holistically. Methods of implementation with surveys and education. The survey was conducted with multiple intelligence cards filled out by adolescents to obtain multiple intelligence data. Adolescents circled the answers according to the statements on the multiple intelligence cards that fit their circumstances. Score 1 if very inappropriate, score 2 if not very appropriate, score 3 if appropriate, and score 4 if very appropriate to the adolescent. Analysis using descriptive methods. This community service activity was carried out from April to June 2023. The location of the activity was a private junior high school in Ciparay District, Bandung Regency, West Java. The target of the activity was junior high school teenagers. The number of participants was 149 teenagers. The community services results show that the first and second highest rank is interpersonal intelligence. The third rank is kinesthetic intelligence. The conclusion is that most students have interpersonal intelligence. The school should map students according to their needs so it can optimize their potential to increase adolescent health holistically.
Pengaruh Tablet Fe dan Kombinasi Tablet Fe dengan Yoga Pada Remaja Putri yang Mengalami Anemia dengan Dismenore Yunas, Aisya Astri; Syam, Hanom Husni; M.T., Vita; Anwar, Ruswana; Dhamayanti, Meita; Lesmana, Ronny
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49481

Abstract

Dysmenorrhea and anemia are common health problems among adolescent girls, while pharmacological therapy has limitations, highlighting the need for safe and comprehensive alternative interventions. This study aimed to analyze the effects of Fe supplementation and the combination of Fe supplementation with yoga on hemoglobin levels and dysmenorrhea intensity in adolescent girls. A quasi-experimental design with a two-group pre-test post-test approach was employed. Participants were adolescent girls from SMAN 03 Rejang Lebong who received either Fe supplementation or a combination of Fe supplementation and yoga for four weeks. Data were analyzed using the Wilcoxon and Mann-Whitney tests. The results showed that the combination of Fe supplementation and yoga significantly improved hemoglobin levels and reduced dysmenorrhea intensity (p = 0.000). Moreover, the combination was more effective than Fe supplementation alone. These findings suggest that combining yoga with Fe supplementation can serve as an effective non-pharmacological strategy to manage anemia and dysmenorrhea among adolescent girls. Keywords: dysmenorrhea, anemia, Fe supplementation, yoga, adolescent girls
Faktor-Faktor Penentu Vaccine Hesitancy pada Orang Tua Anak Usia 6-12 Tahun terhadap Vaksin COVID-19 di Kabupaten Bandung Nirwani, Bunga; Dhamayanti, Meita; Solek, Purboyo; Lukmanul Hakim, Dzulfikar Djalil; Alam, Anggraini; Tarigan, Rodman
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.283-91

Abstract

Latar belakang. Hingga 18 Mei 2020, 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia, mendorong upaya pencegahan melalui vaksinasi anak. Kendati Ikatan Dokter Anak Indonesia mendukung vaksinasi COVID-19 pada anak usia 6–11 tahun, terdapat keraguan (hesitancy) dan penolakan vaksin yang perlu dipahami faktornya.Tujuan. Penelitian bertujuan mengeksplorasi adanya keraguan terkait vaksinasi COVID-19 pada anak dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi orang tua.Metode. Penelitian analitik kuantitatif dengan desain potong lintang, menggunakan data sekunder yang diperoleh dari penelitian sebelumnya yang merupakan bagian dari riset Academic Leadership Grant meliputi data demografis subjek penelitian, tingkat pengetahuan subjek penelitian mengenai COVID-19, serta status keraguan subjek penelitian terhadap vaksin COVID-19. Hasil. Didapat 613 subjek penelitian yaitu orang tua yang memiliki setidaknya satu orang anak berusia 6-12 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Dari 613 subjek, sebagian besar memiliki skor pengetahuan COVID-19 yang baik pada 419 orang (68,4%) dan sebagian besar menunjukkan tanpa keraguan pada 546 (89,1%). Pendidikan terakhir (p=0,002 <0,05) dan riwayat infeksi COVID-19 pada keluarga (p=0,007 <0,05) merupakan faktor yang secara signifikan berpengaruh terhadap skor pengetahuan COVID-19.Kesimpulan. Tingkat pendidikan dan riwayat infeksi COVID-19 pada keluarga merupakan faktor yang signifikan secara statistik terhadap tingkat pengetahuan orangtua anak usia 6-12 tahun mengenai COVID-19. Tidak terdapat faktor yang signifikan secara statistik terhadap vaccine hesitancy pada orangtua anak usia 6-12 tahun.
Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Pemenuhan Hak Anak Zuhairini, Yenni; Fauzan, Ahmad Asyraf; Dhamayanti, Meita
Sari Pediatri Vol 25, No 6 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.6.2024.414-9

Abstract

Perubahan iklim memengaruhi berbagai kebutuhan dasar kehidupan manusia. Anak-anak lebih rentan dibandingkan orang dewasa terhadap perubahan lingkungan, baik langsung maupun tidak langsung. Hak anak untuk bertumbuh kembang, mendapat pelayanan kesehatan yang baik, kesejahteraan, pendidikan, dan gizi sebagaimana tercantum dalam Konvensi Hak Anak akan dipengaruhi oleh perubahan iklim, krisis pola cuaca, dan dampak jangka pendek dan jangka panjangnya. Kelangsungan hidup anak sebagai generasi penerus menjadi terancam oleh perubahan iklim, terutama, mereka yang rentan akan menanggung  beban penyakit yang sangat besar akibat perubahan iklim ini, Kesenjangan sosial dan edukasi di antara negara miskin dan maju sangat menentukan dampak perubahan iklim terhadap anak-anak. Negara paling berisiko terdampak merupakan negara berkembang minim sumber daya dan infrakstruktur untuk menanggulangi perubahan iklim. Anak-anak yang kurang beruntung akan menanggung beban kesehatan yang sangat tinggi dan tidak adil akibat perubahan iklim ini.