Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

FORMULASI GRANUL EFFERVESCENT JAMU PEGAL LINU (RIMPANG TEMULAWAK, RIMPANG JAHE, RIMPANG KENCUR DAN BUAH CABE JAWA) DENGAN KOMBINASI ASAM ASKORBAT-ASAM SITRAT DAN KONTROL KUALITASNYA Diniatik Diniatik; Ika Yuni Astuti; Reny Apriani
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 02 Agustus 2010
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v7i1.559

Abstract

ABSTRAK Pegal linu adalah rasa nyeri pada bagian tertentu yang dapat timbul karena kelelahan setelah bekerja, olah raga, dan sebagainya atau merupakan suatu gejala penyakit seperti masuk angin, pilek, dan sebagainya. Salah satu usaha untuk menjadikan obat tradisional menjadi obat modern adalah dengan membuatnya menjadi sediaan granul effervescent dari ekstrak tanaman obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi asam sitrat dan asam askorbat terhadap sifat fisik granul effervescent dan untuk menentukan formula granul effervescent ekstrak jamu pegal linu yang optimum. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan cairan penyari etanol 75%. Granul effervescent ekstrak jamu pegal linu dibuat dengan metode granulasi basah dan metode peleburan. Penelitian dilakukan dengan metode Simplex Lattice Design (SLD) dengan 2 komponen yaitu asam sitrat (Z1) dan asam askorbat (Z2), sehingga diperoleh tiga rancangan formula yaitu FI (100% Z1), FII (100% Z2) dan FIII (50% Z1 dan 50% Z2). Parameter sifat fisik yang digunakan adalah waktu alir (detik/100gram), waktu larut (detik) dan kandungan lembab (%). Berdasarkan metode Simplex Lattice Design (SLD) maka diperoleh persamaan untuk masing-masing parameter tersebut, counter plot dan counter plot super imposed sehingga rancangan formula optimum dapat ditentukan. Kombinasi asam sitrat dan asam askorbat (72%Z1:28%Z2) memberikan hasil waktu alir optimum dengan persentase asam sitrat lebih besar dibanding asam askorbat. Formula granul effervescent dengan persentase asam sitrat 100% (FI) merupakan formula yang optimum apabila dilihat dari waktu larut granul effervescent. Asam sitrat adalah faktor yang memperbaiki waktu larut dan waktu alir granul effervescent. Hasil uji sifat fisik granul effervescent menunjukkan bahwa dari semua formula memenuhi syarat uji waktu alir dan waktu larut, tetapi tidak memenuhi syarat uji kandungan lembab, sehingga tidak diperoleh rancangan formula optimum. Kata kunci: pegal linu, granul effervescent, asam sitrat, asam askorbat, Simplex Lattice Design. ABSTRACT Rheumatic pain is a pain in certain part that can arise because of fatigue after working, sports, etc or is a symptom of diseases such as colds, runny noise, etc. One of effort to make the traditional medicine become modern medicine is by making it to granule effervescent preparation from herb crop extract. Aimed of this research was to find out the effect of combination of citric acid and ascorbic acid on granule effervescent physical characteristic and to determine optimum formula of jamu pegal linu extract granule effervescent. The extraction use maseration with ethanol 75%. The effervescent granule of jamu pegal linu extract made by wet granulation and dissolved method. Research was carried out by Simplex Lattice Design (SLD) Method with 2 components that is citric acid (Z1) and ascorbic acid (Z2), so that obtained three formula design they are FI (100% Z1), FII (100% Z2), and FIII (50% Z1 and 50% Z2). As the parameter of granule effervescent physical characteristic that is flow rate (second/100gram), dissolved time (second) and moist content (%). Based on Simplex Lattice Design Method so it obtained equation of each parameter, counter plot and counter plot super imposed so that obtained the optimum formula design. The combination of citric acid and ascorbic acid (72%Z1:28%Z2) gave optimum result with presentation of citric acid is bigger than ascorbic acid. Formula of granule effervescent with presentation of citric acid 100% (FI) is the optimum formula if looked from dissolved time of granule effervescent. Citric acid is that factor that has effect to improve flow rate and dissolved time of granule effervescent. Physical characteristic test result of granule effervescent indicated that from all formula meet requirement of flow rate test and dissolved time, but not meet the requirement of moist content test, so that not obtain optimum formula design. Key word: rheumatic pain, granule effervescent, citric acid, ascorbic acid, Simplex Lattice Design
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN FORMULASI GEL HAND SANITIZER EKSTRAK ETANOL DAUN TEH PUTIH (Camellia sinensis L.) Zulfa Ika Setyaningsih; Diniatik Diniatik; Arif Budiman
JITEK (Jurnal Ilmiah Teknosains) Vol 8, No 1/Mei (2022): JiTek
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jitek.v8i1/Mei.12571

Abstract

Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri pemicu terjadinya diare dan penyakit pada kulit. Salah satu tanaman yang telah diteliti sebagai antibakteri adalah tanaman daun teh putih (Camellia sinensis L.). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi sediaan gel hand sanitizer ekstrak daun teh putih yang memberikan efektivitas antibakteri paling baik terhadap bakteri S. aureus. Daun teh putih diekstraksi menggunakan etanol 96% dengan metode maserasi. Gel dibuat 3 formula dengan konsentrasi ekstrak etanol daun teh putih sebesar 2%, 4%, dan 6%. Gel diuji sifat fisik, stabilitas dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. aureus. Uji antibakteri dilakukan dengan metode sumuran. Hasil penelitian menunjukkan gel ekstrak etanol daun teh putih memenuhi persyaratan pH, viskositas, dan homogenitas. Gel ekstrak etanol daun teh putih bisa dikatakan stabil selama penyimpanan karena tidak terdapat perubahan yang berarti pada gel, baik itu organoleptis, pH, dan homogenitas. Pada pengujian antibakteri ketiga formula yang dibuat memiliki aktivitas antibakteri. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak (2-6%) maka daya hambat yang dihasilkan semakin besar.
19 Molecular Docking Analysis of Volatile Compounds from Fraction of Eichhornia crassipes Herbs Ethanol Extract As α-Glucosidase Inhibitor Diniatik Diniatik; Eka Retnowati; Asmiyenti D. Djalil
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v10i1.32399

Abstract

UJI INTERAKSI METFORMIN DAN GLIBENKLAMID DENGAN JAMU YANG MENGANDUNG Smallanthus sonchifolius DAN KOMBINASI Andrographis paniculata (Burm. F), Boesenbergia pandurata Roxb, Phyllanthus niruri L, Syzigii polyanthi Wight PADA PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TI Elza Sundhani; Diniatik; Zainur Rahman Hakim; Ika Nurzijah; Ardiasa Prakoso; Nur Fajrina; Muhamad Rifki; Zaenal Arifin Misgi Candra Dasa
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.708 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v12i1.31

Abstract

Penggunaan jamu sebagai Complementary and Alternative Medicine untuk mengatasi Diabetes Mellitus banyak digunakan di Indonesia. Potensi munculnya interaksi obat-jamu dengan metformin dan glibenklamid dapat mempengaruhi efektivitas menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interaksi farmakodinamika (aktivitas farmakologi) dari metformin dan glibenklamid yang dikombinasikan dengan jamu A (Smallanthus sonchifolius) dan jamu B (Andrographis paniculata (Burm. F), Boesenbergia pandurata Roxb, Phyllanthus niruri L, Syzigii polyanthi) dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus yang diinduksi aloksan. Metode KLT-Densitometer digunakan untuk skrining fitokimia dengan membandingkan profil kromatogram (nilai Rf) dari jamu dan ekstrak etanol tanaman. Sebanyak 30 ekor tikus wistar jantan dibagi menjadi 10 kelompok perlakuan dengan aloksan 175 mg/Kg BB. Pengamatan kadar glukosa darah diukur pada hari ke-0,-7,-14, dan -21 setelah tikus dipuasakan 12 jam. Hasil profil kromatogram menunjukkan bahwa terdapat nilai Rf yang sama antara jamu A dan B dengan tanaman pembanding. Hasil uji kombinasi Metformin dengan Jamu A dan B menunjukkan adanya penurunan aktivitas yang diduga oleh adanya penghambatan absorbsi metforminm, namun tidak signifikan dibandingkan perlakuan tunggal (p>0,05). Sedangkan kombinasi glibenklamid dengan jamu A dan B menunjukkan adanya penurunan aktivitas yang siginifikan (p<0,05) dibandingkan perlakuan tunggal. Pengaruh senyawa aktif dalam jamu dalam mempengaruhi aktivitas enzim CYP3A4 dan CYP2C9 (enzim pemetabolisme glibenklamid) atau efek entagonis diprediksi terjadi pada kombinasi tersebut. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan mekanisme interaksi obat-jamu, namun penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan potensi interaksi penggunaan jamu A dan B dengan metformin dan glibenklamid.
Antibacterial (Staphylococcus aureus and Escherichia coli) and Antifungal (Saccharomyces cerevisiae) Activity Assay on Nanoemulsion Formulation of Ethanol Extract of Mangosteen Leaves (Garcinia mangostana L.) as Fruit Preservative Diniatik Diniatik; Rosiana Sofia Anggraeni
Journal of Food and Pharmaceutical Sciences Vol 9, No 1 (2021): J.Food.Pharm.Sci
Publisher : Institute for Halal Industry and System (IHIS) Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfps.1008

Abstract

Fruits after harvesting will decay faster if not handled properly. Fruits can be demaged by bacterial and fungal. Mangosteen leaves contain xanthons which are antibacterial and antifungal. 50% ethanol extract of mangosteen leaves is formulated in Nanoemulsion preparations using the SNEDDS (Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System) method. The mangosteen leaves 50% ethanol extract nanoemulsion formulation consisted of VCO (Virgin Coconut Oil) as oil, tween 80 as surfactant, and PEG 400 as cosurfactant. There are 3 formulations with variations in the concentration of mangosteen leaves ethanol extract, there are concentrations of 1%, 2%, and 3%. All formulations have a T% of more than 90%. The results of the particles measurement of nanoemulsion using PSA were in formulation 1 amounting to 16.1 nm; formula 2 is 16.7 nm; and formula 3 is 16.6 nm. The zeta potential characterization shows that formula 1 has a zeta value of -40.9 mV. The three formulations had a pH of 5. The largest inhibitory zone in the mangosteen leaf ethanol extract against S.aureus and E. coli bacteria were 11.08 mm and 5.87 mm respectively. Whereas in the S. cerevisiae antifungal test there was no inhibition zone at all concentrations. In the antibacterial and antifungal tests nanoemulsion preparations did not produce inhibitory zones in each concentration. Nanoemulsion preparations can retain the quality of strawberries when compared to the non-nanoemulsion preservative group, both in room storage and refrigerator temperature. The best preservative result is when the fruit is coated with nanoemulsion preservative and stored in refrigerator temperature.
PENENTUAN KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOLIK DAUN KEPEL (Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook f. & Th.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI Diniatik Diniatik
Kartika : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/kjif.v3i1.90

Abstract

ABSTRAK Daun Kepel  telah dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat, dan mampu menurunkan kadar kolesterol,  buahnya sehingga berkhasiat sebagai antioksidan dan daunnya sekarang dipercaya untuk mengatasi penyakit diabetes. Laporan penelitian mengindikasikan bahwa senyawa yang berperan pada aktivitas ini adalah golongan senyawa flavonoid. Penelitian ini bertujuan  untuk mendapatkan data kadar flavonoid dalam daun kepel. berdasarkan kadar rutin sebagai standard. Daun Kepel diperoleh dari Propinsi Yogyakarta. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi, sebagai penyari adalah etanol 70%. Penetapan kadar flavonoid total menggunakan metode spektrofotometri dengan larutan pembanding rutin, pereaksi geser AlCl3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar flavonoid total dengan metode spektrofotometri dalam daun kepel adalah 9,3 %(b/b), 9,9%(b/b) dan 10,1 %(b/b).  
Pelatihan Tatalaksana Penetasan Telur dan Pembesaran Larva Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Tingkat I di Pokdakan Sarekat Berkah Mandiri Rusman, Ade; Diniatik, Diniatik; Suyadi, Aman
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.502

Abstract

Latar belakang: Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan komoditas ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis penting karena banyak diminati oleh konsumen, mempunyai harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya seperti ikan mas, nila, tambakan dan tawes. Kandungan gizi dan protein pada ikan gurami juga cukup tinggi yaitu 20% dibandingkan dengan ikan lele, nila dan ikan mas yang masing-masing berkisar 18,2%, 16,1% dan 16%. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota Kelompok Sarekat Berkah Mandiri dalam teknik penetasan telur dan pemeliharaan larva ikan gurami. Metode: Kegiatan pelatihan dilaksanakan di Kelompok Sarekat Berkah Mandiri Desa Silado Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah presentasi, diskusi dan praktik. Tim pengabdian masyarakat memberikan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Setelah penyuluhan juga dilakukan pemilihan telur, penyiapan wadah penetasan telur, dan pembuatan kolam pendederan. Hasil: Hasil kegiatan pendidikan dan pelatihan terjadi peningkatan pengetahuan anggota kelompok dengan nilai pre-test (59,375±8,634), nilai post-test (81,25±4,432) dan t (11) = -6,375 p value = 0,00001. Kesimpulan: pendidikan dan pelatihan penetasan telur dan pemeliharaan larva ikan gurami dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota Pokdakan Sarekat Berkah Mandiri. Kata kunci: ikan gurami, pembesaran larva, penetasan telur, pokdakan Sarekat Berkah Mandiri ______________________________________________________________________ Abstract Background: Gourami fish (Osphronemus gouramy) is a freshwater fish commodity that has important economic value because it is in high demand by consumers, and has a relatively higher price compared to other types of freshwater fish such as carp, tilapia, tambakan, and tawes. The nutritional and protein content of gourami fish is also quite high at 20% compared to catfish, tilapia, and carp which are around 18.2%, 16.1%, and 16% respectively. Objective: To improve the knowledge and skills of members of the Sarekat Berkah Mandiri Group in egg-hatching techniques and raising gourami larvae. Method: The training activity was conducted at the Sarekat Berkah Mandiri Group, Silado Village, Sumbang District, Banyumas Regency, Central Java. The techniques used were presentation, discussion, and practice. The community service team provided a pre-test and post-test to measure the increase in participant knowledge. In addition to the extension method, egg selection, preparation of egg-hatching containers, and making of nursery ponds were also carried out. Result: The results of education and training activities increased the knowledge of group members with pre-test values ​​(59.375±8.634), posttest values ​​(81.25±4.432), and t (11) = -6.375 p value = 0.00001. Conclusion: education and training in egg hatching and rearing of gourami larvae can increase the knowledge and skills of members of the Sarekat Berkah Mandiri Pokdakan. Keywords: gourami fish, larval rearing, egg hatching, pokdakan Sarekat Berkah Mandiri
Optimasi Formula Sediaan Losion Tabir Surya dari Ekstrak Etanol Terpurifikasi Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) Dengan Metode Simplex Lattice Design Iryani, Yeyen Dwi; Astuti, Ika Yuni; Diniatik, Diniatik
JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis) Vol 8 No 2 (2021): J Sains Farm Klin 8(2), Agustus 2021
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsfk.8.2.145-156.2021

Abstract

Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L) mengandung senyawa xanton yang memiliki aktivitas farmakologis dimana salah satu turunan xanton  α-mangostin bekerja sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui etanol yang menghasilkan ekstrak dengan jumlah xanton tertinggi, menguji aktivitas antioksidan dan tabir surya dari ekstrak terpurifikasi serta mengoptimasi formula sediaan losion tabir surya dari ekstrak terpurifikasi kulit manggis.Optimasi formula losion dilakukan menggunakan software Design Expert® versi 11 dengan kombinasi ekstrak terpurifikasi, asam stearat dan trietanolamin. 14 formula losion dievaluasi nilai SPF, pH dan viskositasnya untuk penentuan formula optimum. Formula optimum selanjutnya diuji nilai SPF, ph dan viskositas untuk membandingkan prediksi software dan hasil percobaan. Selain itu dilakukan uji daya sebar, daya lekat serta stabilitas mekanis terhadap formula optimum. Hasil penelitian menunjukkan kandungan xanton dalam ekstrak etanol 50% sebesar 20,42%, ekstrak etanol 70 % sebesar 29,88% dan ekstrak etanol 96% sebesar 64,57%. Ekstrak terpurifikasi kulit buah manggis memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 5,53 dan nilai AAI 14,46 serta memiliki nilai SPF 8,94 pada konsentrasi 50 µg/ml. Formula optimum yang diperoleh memiliki nilai SPF 7,49 ± 0,0297, kekentalan 21.166,666 cp ± 10,41 serta pH 6,490 ± 0,0404, daya sebar 7,833333 ± 0,15, daya lekat 2,03 ± 0,01.
Formulasi Tea Tree Oil sebagai Pengawet dalam Masker Gel Peel-Off Ekstrak Etanol Beras Merah (Oryza rufipogon Griff.) Eka Wulansari; Agus Siswanto; Diniatik Diniatik
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i1.78349

Abstract

Bahan pengawet merupakan eksipien yang sangat dibutuhkan dalam sediaan cair seperti masker gel peel-off ekstrak etanol beras merah. Penggunaan paraben diyakini memiliki efek samping jangka panjang pada sistem endokrin dan reproduksi sehingga perlu dikembangkan pengawet alami seperti tea tree oil. Selain faktor kualitas sediaan, faktor harga produk juga seringkali menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli produk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi optimum bahan pengawet metil paraben, propil paraben, dan tea tree oil dalam sediaan masker gel peel-off ekstrak etanol beras merah. Metode optimasi simplex lattice design (SLD) digunakan untuk optimasi kombinasi pengawet metilparaben, propilparaben, dan tea tree oil dalam 8 run formula. Formula optimum ditentukan dengan parameter pH, daya sebar, waktu mengering, Angka Lempeng Total (ALT), Angka Kapang Khamir (AKK), dan biaya produksi. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi tea tree oil, metilparaben, dan propilparaben dapat menjaga stabilitas masker gel peel-off ekstrak etanol beras merah. Berdasarkan optimasi metode numerik diperoleh komposisi optimum pengawet dalam sediaan terdiri dari metilparaben 0,119%, propilparaben 0,151%, dan tea tree oil 0,13%.
Peningkatan Higiene dan Sanitasi Proses Produksi Jamu “Golden Milk” di Buana Al-Faza PCNA Rawalo, Banyumas, Jawa Tengah Diniatik, Diniatik; Astuti, Ika Yuni; Annisa, Rully; Rusman, Ade
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4 No 3 (2025): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v4i3.744

Abstract

Latar belakang: Rawalo merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banyumas yang memiliki banyak pelaku usaha rumahan yang memproduksi makanan dan minuman. Salah satunya Buana Al-Faza milik Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyah (PCNA) Rawalo yang memproduksi minuman jamu susu “Golden MilK”. Minuman jamu “Golden Milk” memiliki 4 varian rasa yaitu: original, teh, kayu manis dan lemon. Proses produksi masih menggunakan peralatan produksi sederhana. Tujuan: Untuk meningkatkan higiene dan sanitasi proses produksi minuman jamu “Golden Milk” Buana Al-Faza PCNA Rawalo. Metode: Presentasi penyampaian materi, diskusi pendalaman materi dan praktek. Dilakukan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil: Hasil kegiatan pelatihan mampu meningkatkan pengetahuan anggota kelompok dengan nilai pre-test (59,375±8,634), nilai post-test (81,25±4,432) (p= 0,001). Kesimpulan: Pelatihan peningkatan higiene dan sanitasi proses produksi jamu  susu “Golden Milk” Buana Al-Faza PCNA Rawalo mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta. Kata kunci: banyumas, higiene, sanitasi, jamu _________________________________________________________________________ Abstract Background: Rawalo is a sub-district in Banyumas Regency, where many home-based businesses produce food and beverages. One of them is Buana Al-Faza, owned by the Nasyiatul Aisyah Branch (PCNA) Rawalo, which produces the herbal milk drink "Golden Milk". The herbal drink "Golden Milk" has four flavors: original, tea, cinnamon, and lemon. The production process still uses simple production equipment. Objective: To improve hygiene and sanitation in the production process of the herbal drink "Golden Milk" Buana Al-Faza PCNA Rawalo. Method: Presentation of material delivery, in-depth discussion of the material, and practice. Pre-test and post-test were conducted to measure the increase in participants' knowledge. Result: The training activities increased the knowledge of group members from pre-test scores (59.375±8.634) to post-test scores (81.25±4.432) (p= 0.001). Conclusion: The training on improving hygiene and sanitation in the production process of Buana Al-Faza PCNA Rawalo's "Golden Milk" herbal medicine (jamu) improved participants' knowledge and skills. Keywords: banyumas, hygiene, sanitation, herbal medicine
Co-Authors Ade Rusman Agus Siswanto Agus Siswanto Aman Suyadi Ana Hidayati Mukaromah Andriani, Ana Anjar Mahardian Kusuma Anjar Mahardian Kusuma Annisa, Rully Ardiasa Prakoso Asmiyenti D. Djalil Budiman, Arif Deby Inda Lestari Dewi ANGGRAENI Dewi Anggraeni Diah Permatasari Diah Permatasari, Diah Dwi Hartanti Dwi Hartanti Dyah Kusumaningrum Eddy Soemardi Egi Laila Solichati Egi Laila Solichati, Egi Laila Eka Retnowati Eka Wulansari Feni Nurul Hidayanti Feni Nurul Hidayanti, Feni Nurul Fitriyani Fitriyani Githa Fungie Galistiani Halida Suryadini Hamami Alfasani Dewanto Ibnu Amar Ibnu Amar, Ibnu Ika Nurzijah Ika Yuni Astuti Ika Yuni Astuti Inna Marfu’ah, Inna Inna Marfu’ah Iryani, Yeyen Dwi Katerina Zielda Deviana KHANINA INDRI Marsha, Ardiana Mr Suparman, Mr Mr Yulianto, Mr Muhamad Rifki Muslimah Muslimah Nervita Noor Izzati Nervita Noor Izzati, Nervita Noor Nina Yuniawati Nina Yuniawati, Nina Nur Fajrina Okti Purwaningrum Okti Purwaningrum, Okti Paula Mariana Kustiawan Pri Iswati Utami Regawa Bayu Pamungkas Reny Apriani Reny Apriani, Reny Rizki Kurniagusti Pertiwi Rosiana Sofia Anggraeni Rusman, Ade Sabikis Sabikis Sabikis Sabikis, Sabikis Sudarso Sudarso Sudarso Sudarso Sundhani, Elza Suparman Suparman Suparman Suparman suparman suparman Syarifa, Hasna Maulida Teguh Pribadi Tresna Asih Santoso Tresna Asih Santoso, Tresna Asih Wiranti Sri Rahayu Wiranti Sri Rahayu Wulansari, Eka yah Kusumaningrum Yeyen Dwi Iryani Yulianto Yulianto Zaenal Arifin Misgi Candra Dasa Zainur Rahman Hakim Zulfa Ika Setyaningsih