Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN E-TPGS (D-α-Tocopherol Polyethyleneglycol Succinat) TERHADAP PENINGKATAN KELARUTAN OBAT MOHAMAD APRIANTO PANEO; Taofik Rusdiana; Dolih Gozali
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.045 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.15420

Abstract

Kelarutan merupakan salah satu sifat fisika kimia dari suatu zat terlarut dalam pelarutnya. Kelarutan zat dalam suatu obat berpengaruh terhadap jumlah kadar obat didalam tubuh. Peningkatan kelarutan suatu obat dapat menggunakan beberapa metode, salah satunya dengan menambahkan suatu agen peningkat kelarutan. Vitamin E-TPGS merupakan hasil esterifikasi dari Vitamin E suksinat dengan Polietilenglikol. Vitamin E-TPGS banyak diaplikasikan pada formulasi sediaan obat, karena terbukti dapat meningkatkan kelarutan suatu sediaan obat.Kata kunci : Kelarutan, Vitamin E-TPGS, Obat
Review : Peningkatan Kelarutan Obat dalam Bidang Farmasi NURUL FITRI RAHMAWATI; Dolih Gozali
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1438.815 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22251

Abstract

ABSTRAKKelarutan obat sangat mempengaruhi tingkat efektivitas dan dosis yang digunakan. Peningkatan kelarutan dengan berbagai macam metode dapat menunjang efektivitas obat.. Review ini bertujuan untuk mengetahui penelitian apa saja yang sudah pernah dilakukan, metode yang digunakan serta hasil dari penelitian. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa peningkatan kelarutan obat sudah lumrah dilakukan dengan hasil yang memuaskan. Jenis metode yang digunakan mengacu pada jenis senyawa ataupun obat yang akan direkayasa, serta tujuan peningkatan kelarutan dalam bidang farmasi.Kata Kunci : kelarutan, peningkatan, obat ABSTRACTDrug solubility greatly affects the level of effectiveness and dosage used. Increasing solubility with various methods can support the effectiveness of the drug. This review aims to find out what research has been done, the methods used and the results of the study. The results of research conducted by the researchers indicate that an increase in drug solubility is commonplace with satisfactory results. The type of method used refers to the type of compound or drug to be engineered, and the purpose of increasing solubility in the pharmaceutical field.Keywords : Solubility, Increase, Drug.
PENGARUH SUHU TERHADAP STABILITAS OBAT SEDIAAN SUSPENSI alifa nur zaini; Dolih Gozali
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.52 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10820

Abstract

Stabilitas obat merupakan salah satu pengujian yang penting dalam evaluasi obat, salah satunya adalah dengan mengetahui pengaruh suhu terhadap stabilitas obat. Adapun jika dilihat dari beberapa jurnal penelitian menujukkan bahwa suhu dapat mempengaruhi stabilitas obat, khususnya sediaan suspensi. Dalam jurnal penelitian yang menjelaskan mengenai suspensi diklofenak pada suhu 4oC, 22oC, 40oC,60oC, suhu yang paling stabil adalah pada suhu 4oC (96,3%) dan terjadi penurunan kadar yang signifikan pada suhu 40oC (89,58%) dan 60oC (85,17%). Pada jurnal lain yang membahas mengenai suspensi asam folat menunjukan bahwa obat stabil pada suhu 4oC dan 25oC kecuali pada hari ke 90 terjadi kenaikan pH. Dalam jurnal lain yang membahas mengenai suspensi cefuroxime axetil pada suhu 20o C konsentrasi dari suspensi cefuroxime axetil adalah 87,68% dan pada suhu 5o C adalah 92,35%. Untuk jurnal penelitian yang membahas mengenai suspensi amoksisilin-klavulanat menunjukkan bahwa konsentrasi amoksisilin mulai mengalami penurunan pada hari ke 7 yaitu di bawah 80% dalam sementara klavulanat yaitu kurang dari 70%. Keempat sediaan suspensi tersebut dapat dikatakan stabil pada suhu yang diujikan.Kata Kunci : Stabilitas obat, suspensi, suhu.
PEMBENTUKAN KOKRISTALANTARAKALSIUM ATORVASTATIN DENGAN ISONIKOTINAMID DAN KARAKTERISASINYA Dolih Gozali; Husein H. Bahti; Sundani N. Soewandhi; Marline Abdassah
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 15, No 2: JANUARI 2014
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1325.77 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2014.15.2.4364

Abstract

PEMBENTUKAN KOKRISTALANTARAKALSIUM ATORVASTATIN DENGAN ISONIKOTINAMID DAN KARAKTERISASINYA. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kelarutan dan laju pelarutan atorvastatin dengan menggunakan metode kokristalisasi. Proses kokristalisasi dilakukan dengan metode solvent evaporation, solvent-drop grinding pada atorvastatin dan koformer (isonikotinamid) masing-masing dengan perbandingan 1:1 (satu mol atorvastatin dengan satu mol isonikotinamid digerus selama 15 menit sambil ditambahkan beberapa tetes metanol. Penambahan methanol berfungsi untuk mempercepat pembentukan kokristal. Kokristal dikarakterisasi menggunakan difraktometer sinar-x,mikroskop polarisasi, Scanning Electron Microscope (SEM), spektrometer infra merah dan Differential Scanning Calorimeter (DSC). Difraktogram dari kokristal menunjukkan intensitas puncak yang lebih rendah dibandingkan atorvastatin standar yang menunjukan telah terbentuk habit kristal baru. Hasil spektrometer infra merah, menunjukkan tidak adanya interaksi kimiawi dan perubahan struktur saat dimodifikasi menjadi kokristal. Thermogram DSC menunjukkan adanya perubahan titik leleh berbeda yang menandai adanya bentuk kristalin baru. Demikian juga pengamatan di bawah mikroskop polarisasi dan SEM menunjukkan bentuk kristal yang relatif baru dibandingkan dengan atorvastatin murninya. Hasil uji kelarutan dan laju pelarutan kokristal atorvastatin-isonikotinamida menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan kelarutan dan laju pelarutan atorvastatin sendiri.
Peningkatan Permeasi Mikroemulsi Ketoprofen Dolih Gozali; Fara Warhead; Jutti Levita; Anis Khoirunisa
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.418 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v2i2.7811

Abstract

Penggunaan obat yang sukar larut air tidak efisien apabila kadar penetrasi obat ke dalam tubuh sangat kecil. Mikroemulsi ialah satu sistem dispersi yang dapat meningkatkan kelarutan obat. Pada penelitian ini dilakukan formulasi mikroemulsi ketoprofen menggunakan zat peningkat penetrasi mentol (0%, 1%, 3%, 5%). Asam oleat digunakan sebagai fase minyak, tween 80 sebagai komponen surfaktan, dan propilen glikol sebagai kosurfaktan. Evaluasi sediaan mikroemulsi dilakukan dengan uji permeasi mikroemulsi ketoprofen secara in vitro menggunakan sel difusi Franz terhadap membran kulit ular dengan medium dapar fosfat pH 7,4 selama 90 menit. Formula F4 (mengandung mentol 5%) menunjukkan permeasi tertinggi setelah 90 menit (16,21 ppm) dibandingkan dengan F1 (tidak mengandung mentol). Keempat formula memiliki kestabilan yang baik selama pengamatan. Dapat disimpulkan bahwa mentol meningkatkan permeasi ketoprofen. Kata kunci: Ketoprofen, mentol, mikroemulsi, uji permeasi
EVALUASI SEDIAAN FISIK EMULGEL MENGANDUNG MINYAK ATSIRI RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria, (Berg.) Roscoe) Nur Mahdi; Diky Mudhakir; Dolih Gozali
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 15, No 2: September 2018
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.893 KB) | DOI: 10.12928/mf.v15i2.12657

Abstract

Temu putih atau disebut juga kunir putih merupakan salah satu spesies dari familiZingiberaceae yang telah dikomersilkan penggunaan rimpangnya sebagai tanaman obat.Komponen terbesar dari rimpang temu putih, yaitu minyak atsiri yang mempunyai efekantiinflamasi. Penggunaan rimpang temu putih sebagai antiinflamasi di masyarakatmasih secara empiris, dengan mengoleskan air perahan rimpang temu putih pada kulit.Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan minyak atsiri yang terkandung dalam temuputih, dilakukan formulasi emulgel yang mengandung minyak atsiri denganpenambahan PEG 8 beeswax agar didapat sediaan emulgel yang stabil, baik dan amandigunakan. Tahap penelitian yang dilakukan meliputi penyiapan bahan, determinasibahan, skrining fitokimia, destilasi menggunakan uap-air, analisis komponen kimiadengan GC-MS, serta uji kualitatif minyak atsiri dengan sediaan emulgel yangmengandung minyak atsiri, formulasi emulgel mengandung minyak atsiri denganmenggunakan emulsifying wax konsentrasi 6,5%, 7%, 7,5%, dan 8%. Evaluasi sediaanmeliputi pengamatan organoleptik, pH, viskositas, sentrifugasi, serta uji hedoniksediaan. Berdasarkan hasil evaluasi pengamatan organoleptik, pH, viskositas,sentrifugasi, serta uji hedonik sediaan menunjukkan bahwa kestabilan dalam batasrentang yang dibolehkan. Formulasi emulgel yang terbaik ditunjukkan pada formula ke-4 pada konsentrasi PEG 8 beeswax 8%.
Formulasi dan Evaluasi Tablet Dispersi Padat Kalsium Atorvastatin Dolih Gozali; Yoga Windhu Wardhana; Shofa Shofa
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 2 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i2.5824

Abstract

ABSTRAK Kalsium Atorvastatin  merupakan obat antihiperlipidemia golongan statin.  Berdasarkan Biopharmaceutical Classification System (BCS),   Kalsium Atorvastatin termasuk dalam golongan obat yang memiliki kelarutan rendah. Kelarutan atorvastatin yang rendah dalam air menyebabkan laju disolusi rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan disoluisi adalah dengan  dispersi padat. Dispersi padat  yaitu suatu keadaan dimana satu atau lebih bahan aktif terdispersi dalam polimer pembawa pada keadaan padat. Pada penelitian sebelumnya (Lakshmi, 2010), dispersi padat atorvastatain kalsium dengan PEG 6000 (1:3) menunjukkan hasil laju disolusi yang tertinggi. Pada penelitian ini dispersi padat kalsium atorvastatain (ATC) dengan PEG 6000 sebagai pembawa hidrofilik dalam perbandingan 1:3, 1:6, 1:9 Kemudian hasilnya dibuat tablet dengan metode kempa langsung. Uji disolusi dilakukan dengan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil disolusi yang dilakukan, menunjukkan bahwa  bahwa adanya peningkatan laju  disolusi dilihat dari persen terdisolusi yang dihasilkan setelah 30 menit yaitu sebesar  formula 1 (ATC tanpa PEG 6000)  25,63%, formula 2  (1:3) 27,90 %), formula 3 (1:6)  31,83 % dan  formula 4  (1:9)   13,61 %. Kata Kunci :  Kalsium Atorvastatin, Dispersi Padat, Disolusi, PEG 6000 ABSTRACTAtorvastatin calcium is anti-hyperlipidemia drugs known as statins. Based on Biopharmaceutical Classification System (BCS), Calcium Atorvastatin belongs to a class of drugs which have low solubility. The low solubility of atorvastatin in water causes low dissolution rate. One way to improve disolution is by solid dispersion. Solid dispersion is a condition which one or more active ingredients dispersed in a polymer carrier in the solid state. In the previous study (Lakshmi, 2010), solid dispersion of calcium atorvastatain with PEG 6000 (1: 3) showed the results of highest dissolution rate. In this study, solid dispersions of calcium atorvastatain (ATC) with a hydrophilic PEG 6000 as a carrier in a ratio of 1: 3, 1: 6, 1: 9 Then the results are made into tablet by direct compress method.  Dissolution rates are tested by UV-Vis spectrophotometry. The dissolution result shows that there is an increase of the  dissolution rate, viewed by percent dissolved after 30 minutes in the amount of formula 1 (ATC without PEG 6000) 25.63%, formula 2 (1: 3) 27.90%), formula 3 (1: 6) 31.83% and the formula 4 (1: 9) 13.61%.Keyword : Atorvastatin calcium, Solid Dispersion, Dissolution, PEG 6000
Formulation of Coated Tablets Film of Jengkol Fruit Seeds (Pithecellobium lobatum Benth.) as A Selenium Herbal Supplement Dolih Gozali; Mutakin Mutakin; Yunita Yunita; Norisca Aliza Putri
Indonesian Journal of Pharmaceutics Vol 2, Issue 3, Sept - Dec 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran (Unpad)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/idjp.v2i3.31561

Abstract

The correlation between the high content of selenium (Se) in plasma and the low prevalence of cardiovascular disease has been published in previous epidemiological studies. The content of Se in the plasma is determined by daily intake. A preliminary surveillance of Se content of several plants showed that the seeds of jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) has the highest concentration of Se. This study aims to develop a pharmaceutical formulation of Se supplement for adjuvant therapy of cardiovascular disease. The jengkol seeds was made into film coated tablets with a wet granulation method. Optimization of the core tablet formula was carried out with variations of binder concentration and coating material. Evaluation was carried out on uniformity of size and weight, disintegration time, hardness and friability. The content evaluation was carried out including the levels of Se, water content, ash, fat, protein, carbohydrate and crude fiber. The results showed that the F3 had the lowest friability and highest hardness. The coating of tablets using PVA has covered the smell of jengkol seed. The evaluation results showed that film coated tablets contained the Se level content of 0.074 ± 0.004 µg/g, water content of 2.19%, ash content of 1.88%, fat content of 0.89%, protein content of 0.66%, carbohydrate content of 94.38% and crude fiber content 1.79%. The results showed that the jengkol seed film coated tablet formulation could be used as a supplement in additional therapy for cardiovascular disease.Keywords    : Pithecellobium lobatum, film coated tablet, herbal supplement, selenium
Hubungan Kesesuaian Penulisan Resep dengan FormulariumNasional Terhadap Mutu Pelayanan pada Pasien JaminanKesehatan Nasional di Rumah Sakit Umum di Bandung Pratiwi, Winda Ratna; Kautsar, Angga Prawira; Gozali, Dolih
Pharmaceutical Sciences and Research Vol. 4, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pharmaceutical service is one of the activities in hospital that support health service quality. One of the factors that can improve quality of pharmaceutical services is prescription services. In the era of National Health Insurance, prescription given to the patients should be based on the National Formulary. If prescriptions did not suit the national formulary, it would influence the services quality on pharmacy unit. The purposes of this study were to determine suitability of prescription outpatients’ national health insurance with national formulary and to determine the relationship of the suitability of prescription with a national formulary to service quality in pharmacy unit in one of general hospitals in Bandung. A cross sectional with servqual questionnaire was used to the patients and the 262 prescription samples needed were taken in January 2017. Mann Whitney test is used for bivariate analysis. The result indicated 91.7% prescriptions was suited the national formulary and the rest was not. There was a significant difference between prescription suitability with the national formulary to service quality in pharmacy unit in the hospital with p-value 0.00 (p < 0,05). It can be concluded that higher percentage of prescriptions suitability with the national formulary in hospital related with the better service quality of pharmacy unit.
ARTICLE REVIEW: PARAMETER DAN PENDEKATAN BERBASIS RISIKO TERKAIT VALIDASI PEMBERSIHAN DI INDUSTRI FARMASI Veronika Ellena; Dolih Gozali
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.40454

Abstract

Validasi pembersihan merupakan suatu pembuktian yang terdokumentasi terkait proses pembersihan alat atau mesin di industri farmasi. Validasi prosedur pembersihan merupakan hal yang sangat penting dalam industri farmasi untuk mendapatkan informasi terkait konsistensi dan efisiensi metode pembersihan dalam peralatan di industri farmasi. Validasi pembersihan berbasis risiko bertujuan untuk meningkatkan mutu dan keamanan produk dengan memvalidasi metode pembersihan secara efektif dan juga membantu dalam meningkatkan kesiagaan untuk mengatasi risiko. Artikel ini membahas tentang berbagai parameter pada validasi pembersihan serta validasi pembersihan berdasarkan pendekatan berbasis risiko.