Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN MOHAMMAD TOHA PADA PERISTIWA BANDOENG LAOETAN API TAHUN 1945-1946 Mohammad Luthfi Herlambang; Kurniawati Kurniawati; Sri Martini
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.811 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i22021p156-170

Abstract

In the early days of independence, most cities in Indonesia still did not fully experience independence due to the colonialist's desire to regain control of their power in Indonesia. After the proclamation of independence was read out, the colonialists still wanted to control the remaining territories of their colonies. In various confIicts, one of them is in the city of Bandung, nameIy Bandung Iautan Api. This was initiated when the allied troops arrived in the city of Bandung to form a defense base in the city of Bandung. In this study, the figure to be discussed is Mohammad Toha, he joined the BBRI (Barisan Banteng RepubIik Indonesia) in 1945 by following several battle missions in the city of Bandung from 1945 to 1946. In his resistance, Toha succeeded in completing his mission of detonating a Dutch gunpowder warehouse. in DayeuhkoIot in 1946 which led to the end of the Bandung Lautan Api incident.Pada masa awaI kemerdekaan, sebagian besar kota-kota di Indonesia masih beIum sepenuhnya merasakan kemerdekaan dikarenakan keinginan penjajah untuk kembaIi merebut kekuasaannya di Indonesia. SeteIah dibacakannya prokIamasi kemerdekaan justru membuat para penjajah tetap menginginkan menguasai wiIayah sisa jajahannya. Diberbagai konfIik yang terjadi saIah satunya di kota Bandung yaitu Bandung Iautan Api. HaI ini diawaIi ketika kedatangan tentara sekutu ke kota Bandung untuk membentuk basis pertahanan di kota Bandung. DaIam peneIitian ini tokoh yang akan dibahas yaitu Mohammad Toha, dia bergabung dengan BBRI (Barisan Banteng RepubIik Indonesia) tahun 1945 dengan mengikuti sejumIah misi pertempurannya di kota Bandung dengan kurun waktu 1945 hingga 1946. DaIam perIawanannya Toha berhasiI menyeIesaikan misinya daIam peIedakan gudang mesiu miIik BeIanda di DayeuhkoIot tahun 1946 yang menyebabkan berakhirnya peristiwa Bandung Lautan Api.
Asrama Indonesia Merdeka Sebagai Pembentuk Kader Muda Indonesia Afifah Jasmine Krisdintami; Kurniawati Kurniawati; Umasih Umasih
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.285 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i42022p502-517

Abstract

This study examines the role of a dormitory called Dormitory of Free Indonesia. This hostel was founded by a Japanese Navy officer, namely Rear Admiral Tadashi Maeda, in October 1944 with the aim of forming young Indonesian political cadres. The method used in this study is the historical method which includes five stages, namely the selection of topics with intellectual approaches, heuristics, verifications, interpretations, and historiography. Based on the results of the research, the Dormitory of Free Indonesia has played a role in forming young political cadres who will later take on roles after Indonesian independence through regeneration which is carried out in the dormitory. The regeneration activities at this dormitory include learning in classes for six months and martial arts taught directly by the Japanese army. Some of the students who graduated from Dormitory of Free Indonesia were Abdul Kadir Jusuf, Hasan Gayo, Sukarni, and Chaerul Saleh. There is controversy about the spread of communism in the dormitories, as historian Kahin points out. However, this news was later dismissed by national figures who taught at the Dormitory of Free Indonesia, including Admiral Maeda. Penelitian ini ini mengkaji peran dari sebuah asrama bernama Asrama Indonesia Merdeka. Asrama ini didirikan oleh seorang perwira Angkatan Laut Jepang, yaitu Laksamana Muda Tadashi Maeda, pada bulan Oktober 1944 dengan tujuan untuk membentuk kader-kader politik muda Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis yang mencakup lima tahapan, yaitu pemilihan topik dengan pendekatan intelektual, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, Asrama Indonesia Merdeka berperan dalam membentuk kader-kader politik muda yang nantinya akan mengambil peranannya setelah kemerdekaan Indonesia melalui kaderisasi yang dilakukan di asrama. Aktivitas kaderisasi di asrama ini mencakup pembelajaran di kelas-kelas selama enam bulan dan seni bela diri yang diajarkan langsung oleh tentara Jepang. Beberapa murid-murid lulusan dari Asrama Indonesia Merdeka ialah Abdul Kadir Jusuf, Hasan Gayo, Sukarni, dan Chaerul Saleh. Terdapat kontroversi mengenai penyebaran paham komunis di dalam asrama, seperti yang dikemukakan oleh sejarawan Kahin. Namun, kabar ini kemudian ditepis oleh tokoh-tokoh nasional yang mengajar di Asrama Indonesia Merdeka, termasuk Laksamana Maeda.
Persepsi Peserta Didik terhadap Penggunaan Media Film dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 42 Jakarta Siti Almaesaroh; Kurniawati Kurniawati; Muhammad Fakhruddin
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1028.288 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i42021p470-478

Abstract

The purpose of this study was to determine students' perception on the use of film media for history education at SMA Negeri 42 Jakarta. The research method used in this study is descriptive quantitative. Research data were obtained from distributing online questionnaires to students at SMA Negeri 42 Jakarta with a total of 168 respondents from all grade as well as from both major i.e. natural sciences and social sciences. The results of this study are divided into three parts : 1) students’ interest on the use of films for learning history, 2) teachers role to facilitate learning history through films, and ) films effectiveness on students’ understanding of history material. Students' interest in the use of films for learning history are very high. Almost all students support the use of films on history education. Meanwhile teachers’ role to facilitate learning history through films is limited. According to students, teachers’ mostly only give homework and deliver explanations about the films. Additionally, students claim that films are quite effective for learning history. More than 80 percent of students answered that films helped their understanding of history material and are easier to understand than teacher explanations. Nonetheless, the history films watched do not always match the history material being studied.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi peserta didik terhadap penggunaan media film dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 42 Jakarta. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Data penelitian diperoleh dari membagikan kuesioner online kepada peserta didik. Didapatkan sebanyak 168 responden dari seluruh tingkatan kelas dan jurusan IPA maupun IPS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minat peserta didik terhadap penggunaan film sangat tinggi. Namun tidak diimbangi dengan peran aktif guru dalam memfasilitasi pembelajaran menggunakan film. Hasil penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : 1) minat peserta didik terhadap penggunaan film dalam pembelajaran, 2) peran guru dalam memfasilitasi pembelajaran menggunakan film, dan 3) efektivitas menonton film terhadap pemahaman pembelajaran sejarah. Minat peserta didik terhadap penggunaan film menunjukkan hasil yang sangat tinggi. Hampir semua peserta didik mendukung penggunaan media film. Sementara peran guru dalam memfasilitasi pembelajaran menggunakan film masih terbatas. Menurut peserta didik, peran yang sering guru lakukan hanya memberikan tugas dan memaparkan penjelasan film. Terkait dengan efektivitas film, peserta didik mengaku bahwa pembelajaran melalui film cukup efektif. Lebih dari 80 persen peserta didik menjawab bahwa film membantu mereka memahami pelajaran sejarah dan lebih mudah dipahami dibanding penjelasan guru. Meskipun begitu, film sejarah yang ditonton tidak selalu sesuai dengan materi sejarah yang dipelajari.
Dalam dekap serdadu: pergundikan di tangsi militer, 1872-1913 Mutia Zaskia Nasution; Kurniawati Kurniawati; M. Hasmi Yanuardi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.125 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i22022p252-264

Abstract

This article aims to highlight the life of concubines in the military world in the Dutch East Indies in the period 1872-1913 and to present various views of the pros and cons that made this practice considered quite controversial at its time. In order for the objectives of this research to be carried through, the author applied historical research method which has five stages consisting of topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. By using primary and secondary sources in the form of contemporary newspapers, documents, books, and articles relevant to the research theme. The practice of concubinage within the military barracks could not be separated from the establishment of an army under the name of Koninklijk Leger in the early 19th century. This practice was used to be associated with demoralization and also believed to be the source of several health issues amongst the soldiers, as well as encouraging the birth of a white proletariat class in the colonies, this leads to mixed opinions regarding the relationship between these two different races. This commotion prompted the colonial government to issue several policies, one of which was to increase military morale. After all, the concubine of tangsi is considered very detrimental, this practice indirectly joined a mixed society group known as the Indo group, where this group later helped support Indis culture in the Dutch East Indies.  Penulisan artikel ini bertujuan untuk menyoroti kehidupan pergundikan dalam dunia militer di Hindia Belanda pada periode 1872-1913 serta menampilkan berbagai pandangan pro dan kontra yang membuat praktik ini dianggap cukup kontroversial pada masanya. Dalam upaya untuk mencapai tujuan penelitian secara lengkap sesuai dengan permasalahan yang dibahas, penulis menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari lima tahapan meliputi pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Dengan menggunakan sumber primer dan sekunder yang berupa surat kabar sezaman, dokumen, buku, serta artikel yang relevan dengan tema penelitian. Praktik pergundikan tangsi tidak lepas dari pembentukan suatu pasukan ketentaraan yang bernama Koninklijk Leger pada awal abad ke-19. Praktik ini selalu dikaitkan dengan demoralisasi dan juga diyakini sebagai penyebab munculnya masalah kesehatan di antara para serdadu, serta mendorong lahirnya kelas proletariat kulit putih di tanah koloni yang membuat hubungan antar dua ras berbeda ini tidak jarang mengundang perdebatan di masyarakat. Kegaduhan tersebut membuat pemerintah kolonial pada akhirnya mengeluarkan beberapa kebijakan, salah satunya meningkatkan moral militer. Betapa pun pergundikan tangsi dianggap menuai banyak dampak merugikan, praktik ini secara tidak langsung turut sebuah golongan masyarakat campuran yang dikenal dengan golongan Indo, di mana kelompok ini nantinya turut mendukung kebudayaan Indis di Hindia Belanda. 
FILM SEJARAH DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA Pamela Ayesma; Kurniawati; Nurzengky Ibrahim
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10 No 2 (2021): JPS - Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Pascasarjana UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JPS.102.03

Abstract

This study aims to find out about (1) the use of historical films as a source and alternative media in learning history (2) the responses of teachers and students when using film media in learning history. (3) Obstacles faced by teachers in utilizing historical films in learning activities. This research was conducted at SMA Negeri 12 Tangerang Selatan. This study uses descriptive qualitative methods, observation data collection techniques, and interviewing informants, namely students who follow history learning with historical film media and subject teachers who use historical film media. The results of this study indicate that: The implementation of history learning with film media at SMA Negeri 12 Tangerang Selatan has been well utilized by history teachers. (1) The use of films helps students understand historical stories, do assignments, foster students' interest in history lessons, and build students' imaginations with the art created by films. But the use of historical films as media must also be considered by the teacher because not all students have high imaginations, a deeper explanation is needed and the creativity of the teacher in creating learning media including films. (2) In the use of film media as learning media, some obstacles are felt by teachers when teaching, namely the adjustment of historical films with historical material, the duration of historical films that are not by the learning time, and the state of school infrastructure. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang (1) Penggunaan film sejarah sebagai sumber dan media alternatif dalam pembelajaran sejarah (2) tanggapan guru dan siswa ketika menggunakan media film dalam pembelajaran sejarah. (3) Kendala yang di hadapi oleh guru dalam memanfaatkan film sejarah dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini di lakukan di SMA Negeri 12 Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data observasi, wawancara informan yaitu siswa yang mengikuti pembelajaran sejarah dengan media film sejarah dan guru mata pelajaran yang menggunakan media film sejarah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pelaksanaan pembelajaran sejarah dengan media film di SMA Negeri 12 Tangerang Selatan telah dimanfaatkan baik oleh guru sejarah. (1) Penggunaan film sangat membantu siswa memahami cerita sejarah, mengerjakan tugas, menumbuhkan ketertarikan siswa dengan pelajaran sejarah, dan membangun imajinasi siswa dengan seni yang diciptakan film. Tetapi penggunaan film sejarah sebagai media juga harus diperhatikan oleh guru, karena tidak semua siswa memiliki imajinasi yang tinggi maka diperlukan Penjelasan lebih dalam dan kreativitas guru menciptakan media pembelajaran termasuk film. (2) Dalam pemanfaatan media film sebagai media pembelajaran, juga terdapat kendala yang dirasakan oleh guru saat mengajar yaitu penyesuaian film sejarah dengan materi sejarah, durasi film sejarah yang tidak sesuai dengan waktu pembelajaran, dan keadaan sarana prasarana sekolah.
Penguatan karakter melalui literasi sejarah untuk generasi muda Kurniawati; Abrar Abrar Abrar Abrar; M. Fakhruddin M. Fakhruddin; Pamela Ayesma Pamela Ayesma; Triasih Kartikowati Triasih Kartikowati
PERDULI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3 No 02 (2022): PERDULI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1057.934 KB) | DOI: 10.21009/perduli.v3i02.29079

Abstract

Artikel ini bertujuan memberikan gambaran tentang pentingnya membina karakter generasi muda sebagai penerus bangsa melalui literasi sejarah. Dengan belajar sejarah seseorang dapat memahami dirinya dan mengetahui pentingnya keberadaannya dalam suatu bangsa baik itu di masa lalu, sekarang maupun di masa yang akan datang. Namun, pentingnya pelajaran sejarah tidak berarti semua orang tertarik untuk mempelajari sejarah, terutama generasi muda yang banyak menganggap pelajaran sejarah membosankan karenanya informasi sejarah yang diketahui mereka juga sangat terbatas. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan konsep literasi sejarah. Untuk meningkatkan literasi sejarah di kalangan generasi muda diperlukan kegiatan-kegiatan yang mendukung untuk mempromosikannya. Solusi yang paling tepat dalam rangka penguatan karakter melalui literasi sejarah adalah dengan memanfaatkan sejarah lokal. Dengan sejarah lokal diharapkan generasi muda akan mudah memahami dan mencintai budaya dari bangsanya sendiri. Maka literasi sejarah melalui sejarah lokal membantu generasi muda untuk lebih mengenal dirinya sebagai pribadi, sebagai bagian dari daerahnya dan sebagai bagian dari suatu bangsa. Pelaksanaan program pengabdian masyarakat yang dilakukan peneliti di Cianjur bertujuan memperkuat karakter generasi muda melalui literasi sejarah. Pemuda karang taruna Desa Bobojong diajak mengenali sejarah lokal di mana mereka tinggal termasuk kearifan lokal yang dimiliki orang Cianjur yaitu Ngaos, Mamaos dan Maenpo. Para pemuda secara kelompok diberi tugas untuk mengeksplorasi sejarah, budaya dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat setempat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 43% peserta menilai sangat baik, 46% baik dan 11% cukup baik sementara isi materi yang ditampilkan dinilai sangat baik (36%) dan baik (46%). Maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan peneliti ini bermanfaat sehingga dapat diteruskan di masa mendatang.
Sang Pucuk dan Sisi Gelap Petani Perkebunan Teh Pagilaran, Kabupaten Batang 1947-1948 Shinta Fitria Salsabila; Kurniawati Kurniawati; M. Hasmi Yanuardi
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2022): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.474 KB) | DOI: 10.24127/hj.v10i1.4026

Abstract

Selama abad ke-18 konflik mengenai lahan pertanian kerap terjadi antara kalangan petani desa dengan perusahaan milik kolonial. Aksi tuntutan dilakukan demi memperjuangkan hak agraria petani yang selama ini terampas oleh kalangan kelas atas. Tujuan penelitian ini ialah memberikan gambaran kepada pembaca bagaimana para kaum marginal desa dan kaum agamawan berjuang demi merebut kembali hak atas tanah Pagilaran yang dikuasai kembali pasca-Kemerdekaan tahun 1947 oleh kolonial. Penyelewengan oleh administratur desa dalam mengakomodasikan petani sejatinya menjadi titik penting dalam tulisan ini. Penulisan ini dilakukan dengan menggunakan metode historis yang terdiri dari empat tahapan, diantaranya heuristik, verifikasi, interprentasi dan historiografi, dengan mengambil rentang waktu antara 1947 hingga 1948. Penelitian sebelumnya mengenai Perkebunan Pagilaran sudah pernah ditulis oleh Wahyu Nugroho. Berdasarkan tulisan tersebut hanya mengkaji situasi pemberontakan dan kondisi tahun 2000. Sementara itu, yang menjadi perbedaaan dengan penelitian terdahulu adalah fokus pembahasan penulis yang belum dijelaskan mengenai sejarah konflik tanah masa kolonial.
Peran Sarwo Edhie Wibowo Pasca Peristiwa G30S/PKI Tahun 1967-1989 Mira Kusuma; Abdul Syukur; K. Kurniawati
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 9, No 2 (2021): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.739 KB) | DOI: 10.24127/hj.v9i2.3478

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk perjalanan karir militer dan non militer Sarwo Edhie Wibowo Pasca Peristiwa G30SPKI hingga meninggal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang meliputi lima tahap yaitu pemilihan topik, heuristik atau mencari sumber, kritik atau verifikasi, interpretasi, dan yang terakhir penulisan atau historiografi. Selain itu dilakukan dengan penulisan secara deskriptif naratif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Sarwo Edhie Wibowo tetap berkonstribusi untuk Indonesia walaupun jauh dari pusat pemerintahan. Seorang yang berjasa di Peristiwa G30SPKI dan dihormati oleh masyarakat disingkirkan karena dianggap akan mengkudeta Presiden Soeharto. Dalam penelitian ini dijelaskan tentang kebijakan-kebijakan diberbagai jabatannya hingga proses kematiannya. Kesan dan pesan dari orang-orang sekitar selama Sarwo Edhie Wibowo hidup juga dijabarkan pada penelitian.Kata kunci : kebijakan, penelitian, karir
SEJARAH DAN KEARIFAN LOKAL CIANJUR SEBAGAI SUMBER PEMBINAAN KARAKTER GENERASI MUDA DESA BOBOJONG Kurniawati; Abrar; M. Fakhruddin; Pamela Ayesma; Triasih Kartikowati
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 (2022): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This article aims to foster character education for the younger generation as agents of national change. One of the steps and the right way to implement character education is through local history. Cianjur is an area that is famous for its culture and historical traces. Famous in this area are the three pillars of culture, namely Ngaos, Mamaos, and Maenpo. So that this community service activity is carried out in Cianjur Regency, especially in Bobojong Village. This PKM activity is focused on youth. The method used in this service consists of three stages, namely (1) Planning, in which researchers coordinate between Postgraduate UNJ and the Cianjur Regency, (2) Implementation Phase, which is carried out on June 25, 2022, activities are carried out by holding discussions about local history in Bobojong Village, and (3) the evaluation stage, namely by distributing questionnaires to participants, so that the results obtained with this activity greatly helped the youth in increasing knowledge, especially about history, and fostered the interest of the youth to love history. Therefore, utilizing local history is the right step to instill character in the younger generation. Indonesia, which is rich in culture and historical traces, is very interesting if it can be used to foster character education in the younger generation. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk menumbuhkan pendidikan karakter kepada generasi muda sebagai agen perubahan bangsa. Salah satu langkah dan cara tepat dalam menerapkan pendidikan karakter adalah melalui sejarah lokal. Cianjur adalah wilayah yang terkenal dengan budaya dan jejak-jejak sejarah. Yang terkenal di wilayah ini adalah tiga pilar budaya yaitu Ngaos, Mamaos, dan Maenpo. Sehingga kegiatan pengabdian masyrakat ini dilaksanakan di Kabupaten Cianjur, Khususnya di Desa Bobojong. Kegiatan PKM ini difokuskan kepada para pemuda. Adapun metode yang digunakan dalam pengabdian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu (1) Perencanaan, yaitu peneliti melakukan koordinasi antara Pascasarjana UNJ dan pihak Kabupaten Cianjur, (2) Tahap Pelaksanaan, yaitu dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 2022, kegiatan dilakukan dengan mengadakan diskusi tentang sejarah lokal yang ada di Desa Bobojong, dan (3) Tahap evaluasi, yaitu dengan menyebarkan anket kepada peserta, sehingga di dapat hasil dengan adanya kegiatan ini sangat membantu para pemuda dalam menambah pengetahuan khususnya tentang sejarah, dan menumbuhkan ketertarikkan para pemuda untuk mencintai sejarah. Oleh karena itu dengan memanfaatkan sejarah lokal merupakan langkah yang tepat untuk menanamkan karakter pada generasi muda. Indonesia yang kaya akan budaya dan jejak-jejak sejarah sangat menarik jika bisa dimanfaatkan dalam menumbuhkan pendidikan karakter pada generasi muda.
Jakarta di Bawah Kepemimpinan “Gubernur Sampah” Soemarno Sosroatmodjo (1960-1966) Karina Septiani; Kurniawati Kurniawati; Nur’aeni Marta
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.509 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pola kepemimpinan Soemarno Sosroatmodjo. Sosok bersahaja yang terpilih sebagai Gubernur Jakarta yang pertama. Nama Soemarno tidak banyak diperbincangkan oleh khalayak, tetapi peninggalannya seperti Pasar Senen, Pasar Cikini, Kawasan Cempaka Putih, Pulo Mas serta Tebet menjadi warisan yang dapat kita nikmati hingga saat ini di Ibu Kota Jakarta. Adapun, kebijakan yang menjadi ciri khas pada era Soemarno adalah kebijakan yang berkaitan dengan sampah yang nantinya saling berkaitan dengan kebijakannya dalam menangani banjir. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif analisis historis. Teori yang peneliti gunakan adalah Politik Kota. Sehingga dalam penelitiannya, peneliti juga membandingkan pola kepemimpinan pemangku kebijakan sebelum Soemarno serta didukung dengan permasalahan yang Jakarta alami. Titik berat peneliti adalah bagaimana Soemarno dengan latar belakangnya sebagai dokter tentara membuat kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan umum masyarakat Jakarta. Hal ini selaras dengan poin penting dalam politik perkotaan bahwa sebuah kota akan berkembang sesuai dengan bagaimana rancangan progam kerja pemimpinnya. Hasil penelitian ini menunjukan kebijakan Soemarno dinilai berhasil untuk membuat progam kerja yang dikhususkan untuk masyarakat Jakarta. Hal ini bisa dibuktikan dengan seimbangnya pembangunan infrastruktural monumental dan pembangunan untuk kepentingan masyarakat Jakarta pada tahun 1960-an. Penelitian ini dinilai krusial karena diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi pemangku kebijakan Jakarta dalam menangani permasalahan banjir.
Co-Authors Abdul Syukur Abrar Abrar Abrar Abrar Abrar Abrar Abrar Absor, Nur Fajar Afifah Jasmine Krisdintami Agus Rahmat Mahmudi Ahmad Musyalen Firdaus Alfa Ardiansyah Alfa Ardiansyah Alfa Ardiansyah Alphonsius Rodriquest Eko W Amalia Solihat Andhifani, Wahyu Rizky Andy Suryadi Anggas Iga Saputra Arfian Narles Ayuningtias Rahman Ayuningtyas Rahman Corry Iriani Rochalina Corry Iriani Rochalina Darme, Made Djunaidi Djunaidi Estik Wijayasari, Estik Fakhriansyah, Muhammad Gesia Mira Urlialy Herdin Muhtarom Hudaidah Hudaidah Jufrianis Karina Septiani M Fakhruddin M. Fakhruddin M. Fakhruddin M. Fakhruddin M. Hasmi Yanuardi M. Hasmi Yanuardi M. Rosi Siumaparri Djadjas Made Darme Maulana Yusuf A, maulani lani Maulani Maulani Maulani Maulani Mira Kusuma Mohammad Luthfi Herlambang Muhammad Fakhruddin Muhammad Hasmi Yanuardi Muhammad Panji Gozali Murni Winarsih Mutia Zaskia Nasution Nirjuniman Lafau Nur Aini Marta Nurzengky Ibrahim Nurzengky Ibrahim Nurzengky Ibrahim Pamela Ayesma Pamela Ayesma Pamela Ayesma Pamela Ayesma Peggy Nirwanjanti Ponco Setiyonugroho Putri Ambarwati Prayitno Rahman, Ayuningtias Ratu Husmiati Ricky Alviano Riski Gustiar Rosy Pratiwi Samuel Michael Wattimury Shinta Fitria Salsabila Sigit Sudibyo Siti Almaesaroh Siti Azizah Sri Martini Susanti, L.R. Retno Syukur, Abdul Triasih Kartikowati Triasih Kartikowati Triasih Kartikowati Umasih Umasih Veriesa Auliya Utami Wahyudi, Wanny Rahadjo Wibowo, Donny Satryo Zhiyah Zhulma Zain Zulfa Hendri Zulfa Hendri Zulfiati Zulfiati