Claim Missing Document
Check
Articles

Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Tifoid Rawat Inap di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin dengan Metode Gyssens dan ATC/DDD Antung Sinta Dewi; Saftia Aryzki; Kunti Nastiti
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 4 No. 12 (2025): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Desember 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v4i12.5021

Abstract

Typhoid is a gastrointestinal infection caused by Salmonella typhi. The disease is transmitted through contaminated food and beverages and can spread from infected individuals. Symptoms typically appear 1–3 weeks after exposure and include high fever, malaise, headache, constipation, diarrhea, and enlargement of the liver and spleen. At a hospital in South Kalimantan in 2022, 80% on cases of typhoid treatment can use antibiotics. One study showed resistance of salmonella typhi to antibiotics such as ampicillin, amoxicillin, and chloramphenicol. To evaluate the use of antibiotics both quantitatively using the ATC/DDD methods and qualitatively using the Gyssens methods for hospitalized typhoid patients at Ulin Regional Hospital, Banjarmasin, in 2024. This study uses quantitative data with the Gyssens method and qualitative data with the ATC/DDD method in typhoid patients. The research was conducted over one month, from June to July 2025, at Ulin Hospital Banjarmasin the Sample 7. Quantitative evaluation showed a total of 488,93 DDD/100 patient-days with DU 90% analysis. Qualitative evaluation using the Gyssens method indicated that 71.42% of antibiotic use was rational. Ampicillin was categorized as IVa (1 patient), a combination of Metronidazole, Ceftazidime, and Cefixime was categorized as IVa (1 patient), and five patients receiving combination therapy fell under category 0 (rational). The majority of antibiotic use was considered rational. Antibiotic use in hospitalized typhoid patients at Ulin General Hospital Banjarmasin in 2024 was largely rational.
Aktivitas Antioksidan Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. F.) Nees) dan Daun Meniran (Phyllanthus niruni L.): Antioxidant Activity of the Combination of Ethanol Extract of Sambiloto Leaves (Andrographis paniculata (Burm. F.) Nees) and Meniran Leaves (Phyllanthus niruni L.) Melinda Dian Puspita; Kunti Nastiti; Saftia Aryzki; Rohama Rohama
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.12003

Abstract

Gaya hidup yang tidak sehat dan lingkungan yang buruk dapat mengakibatkan kekebalan tubuh tidak mampu menghadapi radikal bebas yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Oleh karena itu maka diperlukannya suatu antioksidan untuk menangkalnya, antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat dan mecegah terjadinya radikal bebas yang masuk dalam tubuh. Contoh tanaman obat tradisional di Indonesia yang memiliki aktivitas antioksidan adalah tanaman sambiloto dan tanaman meniran. Kedua tanaman tersebut jika dikombinasikan mempunyai potensi farmakologi yang lebih besar dan saling melengkapi. Untuk mengetahui aktivitas antioksidan yang paling optimal pada kombinasi ekstrak daun sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. F.) Nees.) dan daun meniran (Phyllanthus niruri L.). Penelitian dilakukan di Labolatorium Kimia Universitas Sari Mulia, pada bulan November 2023-Juli 2024. Dilakukan pengumpulan duan sambiloto dan daun meniran, pembuatan ekstrak kental, kemudian setelah itu dilakukan skrining Fitokimia dengan reaksi warna dan dilanjutkan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH pada ekstrak tunggal dan perbandingan ekstrak kombinasi 1:1; 1:2 dan 1:3. Data di analisis dengan menggunakan One Way ANOVA. Nilai aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak daun sambiloto dan daun meniran yg paling optimal terletak pada perbandingan sambiloto: meniran (1:2) dengan hasil nilai IC50 6,19 ppm. Nilai aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak daun sambiloto dan daun meniran yg paling optimal terletak pada perbandingan sambiloto: meniran (1:2) dengan hasil nilai IC50 6,19 ppm.
Kombinasi Ekstrak Daun Katuk (Sauropus Androgynus L. Merr) dan Daun Meniran (Phylanthus Niruri L.) Terhadap Antioksidan : Combination Extracts of Katuk Leaf (Sauropus androgynus L. Merr) and Meniran Leaf (Phylanthusniruri L.) Against Antioxidant Activity Indah Husnul Khatimah; Kunti Nastiti; Linda Kusumawati; Ali Rakhman Hakim
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.12020

Abstract

Antioksidan sangat dibutuhkan dalam berbagai macam penyakit karena antioksidan adalah suatu zat yang dapat menetralkan radikal bebas. Daun katuk dan daun meniran merupakan sumber antioksidan alami yang dapat mencegah kerusakan oksidatif tubuh akibat radikal bebas. Kombinasi katuk dan meniran dilakukan agar mendapatkan efek farmakologi lebih besar dibandingkan tunggal. Mengetahui aktivitas antioksidan paling optimal dari kombinasi ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus L. Merr) dan daun meniran (Phylanthus niruri L.). Dilakukan pengumpulan daun katuk dan daun meniran, pembuatan esktrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut 96 % ekstrak kental menggunakan rotary evaporator, skrining fitokimia dengan pereaksi warna dan dilanjutkan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH pada ekstrak tunggal dan perbandingan (1:1), (1:2), (2:1). Data di analisis dengan menggunakan uji One Way Anova. Kombinasi ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus L. Merr) dan daun meniran (Phylanthus niruri L.) terhadap aktivitas antioksidan didapatkan nilai IC50 untuk vitamin C sebesar 5,91 ppm, ekstrak katuk tunggal sebesar 15,26 ppm, ekstrak meniran tunggal sebesar 23,22 ppm, dan perbandingan kombinasi ekstrak daun katuk dan daun meniran berturut-turut sebesar 13,26 ppm (1:1), 9,50 ppm (1:2), dan 17,20 ppm (2:1). Hasil IC50 yang paling besar terdapat pada perbandingan katuk:meniran (1:2) yaitu sebesar 9,50 ppm. Nilai aktivitas antioksidan paling optimal dari kombinasi ekstrak daun katuk dan daun meniran yaitu sebesar 9,50 ppm pada perbandingan (1:2).