Claim Missing Document
Check
Articles

Penggunaan Aplikasi Elsimil dan Peran Tim Pendamping Keluarga terhadap Kunjungan Peserta KB Lelyans Surya Risma Sinapa; Yenny Puspitasari; Andi Hayyun Abiddin
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i5.22307

Abstract

ABSTRACT The Family Planning Program is one of the government's strategic efforts to control population growth and improve the quality of reproductive health. Technological innovation through the Electronic Ready for Marriage and Pregnancy (Elsimil) application and assistance by the Family Assistance Team is expected to encourage community participation, including increasing visits by family planning participants. This study aims to analyze the effect of the use of the Elsimil application and the role of the Family Planning Team on the number of family planning participant visits. This study is an observational study using a cross-sectional approach with a population of all fertile-age couples at the Tokorondo Community Health Center totaling 135 PUS. Purposive sampling technique was used to obtain 102 respondents who met the following inclusion criteria: prospective brides and grooms, PUS who have not used family planning, can read and write and are willing to be research respondents. Meanwhile, couples participating in family planning who are not within the working area of the Tokorondo Community Health Center, couples whose visits are not recorded at the Tokorondo Community Health Center and couples who are not of fertile age are exclusion criteria. Data collection was conducted in December 2024 at the Tokorondo Community Health Center using a questionnaire that asked about the use of the Elsimil application, the role of the Family Support Team, and visits to family planning participants. Data were analyzed using a linear regression test. The results showed that the use of the Elsimil application had a positive and significant effect on visits to family planning participants (α 0.006 0.05) and the role of the Family Support Team had a positive and significant effect on visits to family planning participants (α 0.003 0.05). The local government and the National Population and Family Planning Agency (BKKBN) need to provide ongoing training for TPK members regarding the use of the Elsimil application, effective communication techniques, and family planning IEC materials so that the assistance provided is more comprehensive and targeted. Keywords: Family Planning, Elsimil, Family Assistance Team.   ABSTRAK Program Keluarga Berencana salah satu upaya strategis pemerintah untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi. Inovasi teknologi melalui aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil) dan pendampingan oleh Tim Pendamping Keluarga diharapkan dapat mendorong partisipasi masyarakat, termasuk peningkatan kunjungan peserta KB. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan aplikasi Elsimil dan peran TPK terhadap jumlah kunjungan peserta KB. Penelitian  ini  merupakan  penelitian observasional  dengan    menggunakan  pendekatan Cross Sectional dengan populasi seluruh pasangan usia subur yangada di puskesmas Tokorondo sebanyak 135 PUS. Teknik purposive sampling digunakan untuk mendapatkan 102 responden yang memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut: calon pengantin, PUS yang belum menggunakan KB, Bisamembaca dan menulis dan bersedia menjadi responden penelitian. Sedangkan  pasangan   peserta   KB   yang   bukan  berada   dalam   wilayah   kerja Puskesmas Tokorondo, pasangan yang kunjungan tidak tercatat di Puskesmas Tokorondo dan pasangan yang tidak masuk dalam usia subur merupakan kriteria eksklusi. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret 2025 di Puskesmas Tokorondo dengan menggunakan kuesioner yang menanyakan tentang penggunaan aplikasielsimil, Peran Tim Pendamping Keluarga dan kunjungan peserta KB. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi Elsimil secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap kunjungan peserta KB (α 0.006 0.05) dan peran Tim Pendamping Keluarga secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap kunjungan peserta KB (α 0.003 0.05). Pemerintah daerah dan BKKBN perlu memberikan pelatihan berkelanjutan bagi anggota TPK terkait pemanfaatan aplikasi Elsimil, teknik komunikasi efektif, dan materi KIE KB agar pendampingan yang diberikan lebih komprehensif dan tepat sasaran. Kata Kunci: Keluarga Berencana, Elsimil, Tim Pendamping Keluarga.
Stimulasi Kognitif Berbasis Permainan Puzzle Anak Usia Pra Sekolah dengan Stunting terhadap Tugas Perkembangan Andi Hayyun Abiddin; Agus Khoirul Anam
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i5.19055

Abstract

ABSTRACT Stunting causes physical development to be hampered but also threatens cognitive development which has an impact on decreasing children's productivity in adulthood. One effort that can be made is to provide cognitive stimulation to children. To determine the cognitive stimulation based on puzzle games on the learning achievement of preschool children with stunting according to the developmental stage in areas prone to volcanic disasters. This quantitative study uses a one group pretest-posttest design. The population in this study were all preschool children in disaster-prone areas in Kepanjenkidul sub-district, 42 people who were diagnosed with stunting by the Kepanjenkidul Health Center UPT, Blitar City. The number of samples was 30 people, and the sampling technique used was proportional stratified random sampling with the following sample criteria: (1) children who are categorized as stunting based on BMI results according to height/age and weight/age measurements, (2) willing to be respondents, (3) physically and mentally healthy. This study used observation sheets for preschool children's developmental tasks covering social emotions, physical motor skills, cognitive skills, and language skills with criteria of very well developed (BSB) with a score of 4, developing according to expectations (BSH) with a score of 3, starting to develop (MB) with a score of 2, and not yet developed (BB) with a score of 1. Observations were conducted twice (pre and post test); (1) giving puzzles to respondents and observing them according to developmental tasks; (2) providing education related to puzzle games that include developmental tasks; (3) asking respondents to play the puzzle again and observe it. After the data was collected, the data was analyzed using the Wilcoxon test (p0.05). The results of the study showed that there were changes in developmental tasks between before and after being given cognitive stimulation based on puzzle games which included social emotional development tasks (p-value = 0.001), physical motor (p-value = 0.002), cognitive (p-value = 0.001) and language (p-value = 0.000). .Stunting can interfere with children's cognitive development, which causes a decrease in cognitive abilities. Puzzle games can affect the development of fine and gross motor skills in preschool children. Health services should increase interventions to stimulate the cognitive abilities of preschool children with stunting and conduct regular observations. Keywords: Stunting, Education, Puzzle, Disaster.   ABSTRAK Stunting menyebabkan terhambatnya perkembangan fisik tetapi juga mengancam perkembangan kognitif yangberdampak pada penurunan produktivitas anak di masa dewasa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan stimulasi kognitif pada anak. Mengetahui stimulasi kognitif berbasis permainan puzzle pada prestasibelajar anak usia pra sekolah dengan stunting sesuai dengan tahap perkembangan di kawasan rawan bencana gunungberapi.Penelitian kuantitatif ini menggunakan one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalahseluruh anak usia pra sekolah di kawasan rawan bencana di kecamatan Kepanjenkidul 42 orang yang terdiagnosa stunting oleh UPT Puskesmas Kepanjenkidul Kota Blitar. Jumlah sampel sebanyak 30 orang, dan teknik pengambilansampel yang digunakan adalah proportional stratified random sampling dengan kriteria sampel sebagai berikut: (1)anak  yang masuk kategori stunting berdasarkan hasil BMI menurut pengukuran tinggi badan/umur dan beratbadan/umur, (2) bersedia menjadi responden, (3) sehat jasmani dan rohani. Penelitian ini menggunakan lembar observasi tugas perkembangan anak usia pra sekolah yang meliputi sosial emosi, fisik motorik, kognitif, dan bahasa dengan kriteria berkembang sangat baik (BSB) skor 4, berkembang sesuai harapan (BSH) skor 3, mulai berkembang (MB) skor 2 dan belum berkembang (BB) skor 1. Observasi dilakukan sebanyak dua kali (pre dan post test); (1) memberikan puzzle pada responden dan diobservasi sesuai dengan tugas perkembangan;  (2) memberikan edukasi terkait permainan puzzle yang mencakup tugas perkembangan; (3) meminta responden untuk memainkan kembali puzle tersebut dan mengobservasinya. Setelah data terkumpul, data dianalisis menggunakanWilcoxon test (p0.05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan tugas perkembangan antara sebelum dan diberikan stimulasi kognitif berbasis permainan puzzle yang meliputi tugas perkembangan sosial emosi (p-value = 0,001), fisik motorik (p-value = 0,002), kognitif (p-value = 0,001) dan bahasa (p-value = 0,000). Stunting dapat mengganggu perkembangan kognitif anak, yang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif. Permainan puzzle dapat mempengaruhi perkembangan keterampilan motorik halus dan kasar anak prasekolah. Pelayanan kesehatan sebaiknya meningkatkan intervensi untuk menstimulasi kemampuan kognitif anak prasekolah dengan stunting dan melakukan observasi secara berkala. Kata Kunci: Stunting, Edukasi, Puzzle, Bencana.
Efektivitas Mobile Learning App dalam Edukasi dan Pemantauan Log Activity Terhadap Pencegahan Risiko Dm Tipe 2 Pada Remaja Tavip Dwi Wahyuni; Atti Yudiernawati; Andi Hayyun Abiddin
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.25568

Abstract

ABSTRACT The increasing risk of Type 2 Diabetes Mellitus among adolescents is associated with unhealthy lifestyles, including low physical activity and high sedentary behavior. The use of mobile learning integrated with activity logs has emerged as an innovative approach to improve health literacy and promote behavioral change. This study aimed to determine the effect of mobile learning–based education on knowledge, physical activity behavior, and prediabetes risk parameters among adolescents. This study employed a quasi-experimental design involving 50 tenth-grade students of SMAN 1 Tumpang, Malang, selected using purposive sampling. Data were collected using knowledge and prediabetes questionnaires. Blood glucose levels and Body Mass Index (BMI) were measured before and after the educational intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon test. The intervention significantly improved participants’ knowledge (p = 0.000). However, the Wilcoxon test showed no significant effect on blood glucose levels (p = 0.496) or BMI (p = 0.698). Mobile learning–based education combined with activity log monitoring effectively improves adolescents’ knowledge but does not significantly affect blood glucose levels or BMI. Keywords: Education, Physical Activity, Blood Glucose, Body Mass Index, Adolescents.  ABSTRAK Peningkatan risiko Diabetes Mellitus Tipe 2 pada remaja berkaitan dengan gaya hidup tidak sehat, seperti rendahnya aktivitas fisik dan tingginya perilaku sedentari. Pemanfaatan mobile learning yang terintegrasi dengan log activity menjadi pendekatan inovatif dalam meningkatkan literasi kesehatan dan mendorong perubahan perilaku. Mengetahui pengaruh edukasi berbantuan mobile learning app terhadap pengetahuan, perilaku aktivitas fisik, dan parameter risiko pradiabetes pada remaja. Penelitian menggunakan desain Quasi Eksperimen dengan subyek penelitian 50 remaja SMAN 1 Tumpang Malang. Teknik Pengambilan Sampel menggunakan Purposive Sampling pada siswa kelas X. Data dikumpulkan menggunakan Kuesioner pengetahuan dan prediabetes. Pengukuran Gula Darah dan IMT Remaja dilakukan sebelum dan sesudah edukasi. Analisis menggunakan uji Wilcoxon. Edukasi Dan Pemantauan Log Activity Berbantuan Mobile Learning App meningkatkan pengetahuan (p= 0.000). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap kadar gula darah (p = 0,496) maupun IMT (p = 0,698).  Edukasi dan pemantauan log activity berbantuan mobile learning app meningkatkan pengetahuan, tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar gula darah maupun IMT remaja. Kata Kunci: Edukasi, Aktivitas Fisik, Gula Darah, Index Masa Tubuh, Remaja.
Efektivitas In-House Training terhadap Peningkatan Kapasitas Kader dalam Deteksi Dini dan Pengelolaan Faktor Risiko Diabetes Mellitus Tipe 2 Atti Yudiernawati; Tavip Dwi Wahyuni; Andi Hayyun Abiddin
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25150

Abstract

ABSTRACT Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with a continuously increasing prevalence and poses a major public health challenge. Early detection and management of T2DM risk factors at the community level are essential strategies to reduce disease burden. Health cadres play a strategic role in promotive and preventive services; however, limited knowledge and skills often hinder optimal implementation. This study aimed to improve the capacity of health cadres in early detection and management of T2DM risk factors through In-House Training. This study employed a pre-experimental one-group pretest–posttest design. The intervention consisted of educational sessions, interactive discussions, and practical training on T2DM risk factors and community-based screening techniques. Knowledge and skills were measured before and after the training using structured assessment tools. The results showed a significant improvement in both knowledge and skills after the training. The mean knowledge score increased from 55.4 ± 12.7 (pretest) to 82.1 ± 10.3 (posttest) (p 0.001). Similarly, the mean skill score improved from 48.7 ± 11.2 to 78.6 ± 9.5 (p 0.001), indicating a statistically significant enhancement in cadre capacity. In-House Training is an effective and practical approach to strengthening the capacity of health cadres in early detection and management of T2DM risk factors. This strategy may support sustainable community-based diabetes prevention and control programs. Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus, Health Cadres, Early Detection, In-House Training.  ABSTRAK Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat. Deteksi dini serta pengelolaan faktor risiko DMT2 di tingkat komunitas merupakan strategi penting untuk menurunkan beban penyakit. Kader kesehatan memiliki peran strategis dalam pelayanan promotif dan preventif, namun keterbatasan pengetahuan dan keterampilan sering menjadi hambatan dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko DMT2 melalui In-House Training. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest–posttest. Intervensi meliputi pemberian materi edukatif, diskusi interaktif, dan pelatihan praktik terkait faktor risiko DMT2 serta teknik skrining sederhana berbasis komunitas. Pengetahuan dan keterampilan kader diukur sebelum dan sesudah pelatihan menggunakan instrumen penilaian terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor pengetahuan dan keterampilan kader setelah pelatihan. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 55,4 ± 12,7 (pretest) menjadi 82,1 ± 10,3 (posttest) (p 0,001). Rata-rata skor keterampilan juga meningkat dari 48,7 ± 11,2 menjadi 78,6 ± 9,5 (p 0,001), yang menunjukkan peningkatan kapasitas kader secara bermakna. In-House Training merupakan pendekatan yang efektif dan aplikatif dalam meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko DMT2. Strategi ini berpotensi memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian diabetes secara berkelanjutan di tingkat komunitas. Kata Kunci: Diabetes Mellitus Tipe 2, Kader Kesehatan, Deteksi Dini, In-House Training.
The Effectiveness of Swimming Intervention and Supplementary Feeding on the Growth of Malnourished Children Risa Arina Zakiyah; Nurul Pujiastuti; Andi Hayyun Abiddin
Health Gate Vol 4, No 1 (2026): January
Publisher : Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kota Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70111/hg4101

Abstract

Malnutrition has remained a public health issue both regionally and globally. This condition resulted from inadequate nutritional intake, both in terms of quality and quantity, as well as health problems that interfered with the absorption and utilization of nutrients. This study aimed to analyze the effectiveness of swimming intervention and supplementary feeding on the growth of malnourished children in Kepanjenkidul District. The research employed a quantitative method with a pre-experimental one-group pretest-posttest design, conducted in Kepanjenkidul District, Blitar City, from January to March 2025. The sample consisted of 20 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using a digital scale, stadiometer, observation forms, and questionnaires. The analysis was carried out using univariate and bivariate methods with a paired t-test statistical analysis. The results of the study showed that there was a difference in growth status before and after the swimming intervention, with a p-value of 0.000. There was no difference in weight before and after the swimming intervention, with a p-value of 0.042. There was a significant difference in the effectiveness of the swimming intervention combined with supplementary feeding, with a p-value of 0.000. This study contributed to the development of knowledge in the field of child health and nutrition and served as a reference for future research regarding interventions for malnourished children.
Co-Authors Acob, Joel Rey U. Adinda Putri, Bulan Nathaniela Afif Kunaifi Agus Khoirul Anam, Agus Khoirul Agusta Dian Ellina Amalia, Dewi Riska Amelia Indah Mawarni Anggraini Khodijahturrohmah Anggraini Khodijahturrohmah Anggraini Khodijaturrohmah Antik Wijayanti Arif Arif Mulyadi Arif Mulyadi Arista, Fadila Ayu Atti Yudiernawati, Atti Byba Melda Cabelin Jr, Rolando S Christiana, Ananda Ekka Dewi Rachmawati Endang Dwiwati Faisal Agus Mustofa Galabay, Jolo Hananti, Freni Susilo Herya Putra Dharma Imma Apriana Indasah Indasah Indriani, Ririn Irawan, Pungky Dwi Iva Firdayanti Krisnawati, Nawang Wulan Kun Aristiati Susiloretni Kundarti, Finta Isti Lelyans Surya Risma Sinapa Mercado, Myrna Mohamad Miftachul Ulum Mohamad Miftachul Ulum Mudayatiningsih, Sri Muhammad Saleh Mujito Mujito Mujito Mujito Mujito Mujito, Mujito Nabila, Intan Ning Arti Wulandari Ning Arti Wulandari, Ning Arti Nurul Pujiastuti Nurul Pujiastuti Nurwijayanti Oqui, Maximiano Prima Dewi Kusumawati Putri Putri Setyorini Putri, Dhea Natasya Putri, Maulidya Amalia Rachman, Moh. Zainol Rahajeng Siti Nur Rahmawati Ratna Wardani Ratna Wardani Risa Arina Zakiyah Romadhon, Wimar Anugrah Rossyana Septyasih Setiyawan, Eltrik Siska Ayu Setya Ningrum Sri Mugianti Sri Wahyuni Sri Winarni Suprajitno Suryani, Pudji Swito Prastiwi, Swito Tavip Dwi Wahyuni Tiara Margaretha Putri Fauzi Tiara Margaretha Putri Fauzi Titik Kurnia Tri Anjaswarni Tri Cahyo Sepdianto Tri Cahyo Sepdianto Ulum, Mohamad Miftachul Vallencia Nandya Paramitha Vieta Imelda Cornelis Wahyuni, Eko Sari Wiwin Martiningsih Yenny Puspitasari Zahra, Rana