Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

IMPLEMENTASI SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS PADA PROGRAM BANK SAMPAH DALAM PEMILAHAN SAMPAH ANORGANIK DI DESA SIDAKARYA Ni Kadek Novi Dwiyanti; Ni Wayan Widhiasthini; Ni Luh Yulyana Dewi; Anak Agung Istri Agung Maheswari
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 12 No. 2 (2025): 2025 Desember
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v12i2.590

Abstract

Permasalahan pengelolaan sampah menjadi tantangan global yang juga dihadapi Indonesia, termasuk Kota Denpasar. Desa Sidakarya sebagai wilayah dengan timbulan sampah tinggi berupaya mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan melalui program Bank Sampah yang berfokus pada pemilahan sampah anorganik. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dan belum optimalnya implementasi kebijakan terkait Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, poin 14 tentang pelestarian ekosistem laut, serta poin 15 tentang pelestarian ekosistem darat.Penelitian dilaksanakan di Desa Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan, menggunakan metode deskriptif kualitatif berdasarkan teori implementasi kebijakan publik Van Meter dan Van Horn. Informan ditentukan melalui purposive sampling sebanyak sembilan orang, terdiri dari pihak DLHK, BUMDes, TPS3R, pengelola Bank Sampah, dan masyarakat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, serta dokumentasi lapangan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program Bank Sampah telah mencerminkan prinsip SDGs melalui peningkatan kesadaran masyarakat, kolaborasi antar lembaga, serta kontribusi nyata terhadap pengurangan sampah anorganik. Namun, pelaksanaannya belum optimal karena keterbatasan sumber daya manusia, sarana prasarana, lemahnya pengawasan, dan komunikasi antar organisasi yang belum konsisten. Diperlukan peningkatan edukasi berkelanjutan, pemberian insentif, serta penguatan koordinasi lintas sektor guna mewujudkan pengelolaan sampah yang efektif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Penguatan Manajemen Kolaborasi Dan Jejaring Berbasis Pentahelix Pada Sentra Industri Kerajinan Perak Sukawati Kabupaten Gianyar Ni Luh Yulyana Dewi; Ni Putu Ayu Sedani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Madani (JPMM)
Publisher : Sekolah Tinggi Ekonomi Bisnis Syariah Bina Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51805/jpmm.v6i1.242

Abstract

Industri kerajinan perak merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif yang memiliki kontribusi penting terhadap pengembangan ekonomi lokal, pelestarian budaya, dan penguatan sektor pariwisata di Bali. Sentra Industri Kerajinan Perak Sukawati di Kabupaten Gianyar menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan akses pasar, lemahnya jejaring kemitraan, rendahnya integrasi dengan sektor pariwisata, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran produk. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan tata kelola kolaboratif yang mampu menghubungkan berbagai aktor pembangunan dalam satu ekosistem yang berkelanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas kolaborasi dan jejaring pelaku usaha kerajinan perak melalui pendekatan collaborative governance berbasis model pentahelix. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan tahapan stakeholder mapping, Focus Group Discussion (FGD), business matching, pendampingan jejaring, dan evaluasi program. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pengrajin mengenai pentingnya kolaborasi lintas sektor, terbentuknya jejaring kemitraan dengan pelaku pariwisata dan marketplace digital, serta meningkatnya peluang akses pasar yang lebih luas. Model pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media terbukti mampu memperkuat pengembangan industri kreatif berbasis budaya lokal. Program ini berkontribusi terhadap pencapaian SDGs 8, SDGs 9, SDGs 11, dan SDGs 17 serta mendukung implementasi nilai-nilai Tri Hita Karana dalam pembangunan ekonomi lokal berkelanjutan.
Komunikasi Pembangunan dalam Mengakomodir Partisipasi Masyarakat terhadap Kebijakan Alih Fungsi Lahan Hijau Krisnha Putu; Ni Luh Yulyana Dewi
Jurnal Penelitian Sosial Ilmu Komunikasi Vol. 10 No. 1 (2026): Volume 10 No 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jpsik.v10i1.45

Abstract

Abstract The mounting pressure of urban development has driven an alarming rate of green land conversion across major Indonesian cities, including Denpasar. Underlying this phenomenon is a fundamental problem in spatial policy communication, which tends to operate in a one-directional manner and frequently disregards meaningful community involvement in decision-making processes. This study analyzes development communication practices and community participation in green land conversion policies in Denpasar City. The research employs a qualitative method with a descriptive-interpretive approach, conducted in areas experiencing changes in green space function. Informants consisted of local government officials, community figures, landowners, and affected residents selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, non-participatory observation, and documentation studies, then analyzed using thematic analysis. The findings reveal that green land conversion is driven by economic pressure, weak regulatory implementation, and limited dialogue between the government and the community. Policy communication tends to be one-directional, resulting in minimal public participation that occurs only after decisions have been made. These findings underscore the need to strengthen transparent and participatory development communication in order to sustain green spaces and improve urban spatial governance in Denpasar.
Digitalization in Public Administration Services in Indonesia: Pseudo or Real Digitalization Ira Patriani; Rahmat Salam; Nuphanudin Nuphanudin; Masriadi Masriadi; Ni Luh Yulyana Dewi
International Journal of Artificial Intelligence Research Vol 6, No 1.1 (2022)
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29099/ijair.v6i1.1.602

Abstract

Indonesia has a plan to implement information and communication technology (ICT) across the vast majority of government functions and public service delivery systems. This is due to the expanding needs of the community, which necessitates that the government be able to deliver good and outstanding service. Previously, the government had implemented e-government, or digitalization of public service processes. However, implementation still requires improvement. It involves the methodical incorporation of innovation into ICT, which ensures bottom-up learning for a seamless digital transformation of public services. Therefore, the purpose of this study is to determine whether the digitalization of public services in Indonesia is a reality or only hype. This study employs a qualitative approach and descriptive methodologies. The study's findings indicate that the reality of digitalizing public services (e-government) is that there are still misconceptions and perspectives that need to be clarified. In general, digitization in public services in Indonesia is in the emerging and enhancing stage; only a tiny number have implemented the interactive setting, so based on the E-Government Development Index (EDGI), Indonesia is lagging among ASEAN countries. The obstacles in the implementation of e-government include low data integration, implementation of e-government, low competence of apparatus, etc., so a strategy is needed to develop digitization in public administration services.
Risk, Readiness and Reception: Explaining Acceptance of Risk-Based Business Licensing Through the Technology Acceptance Model Ni Komang Ayu Novitasari; Ni Luh Yulyana Dewi
International Journal of Educational Review, Law And Social Sciences (IJERLAS) Vol. 6 No. 4 (2026): on Progress
Publisher : CV. RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/ijerlas.v6i4.5593

Abstract

This study aims to analyze the acceptance of the risk-based business licensing system through the Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS-RBA) by business actors in Bali Province using the Technology Acceptance Model (TAM) framework. The implementation of OSS-RBA has shown significant growth in the issuance of Business Identification Numbers (NIB) from 19,468 in 2021 to 108,365 in 2024. However, the gap between the number of operating businesses and those with formal legality remains significant, given that the total number of SMEs in Bali Province reached 448,434 units in 2024. This study employs a descriptive qualitative approach with data collection techniques including semi-structured interviews, non-participant observation, and documentation involving 30 informants selected through purposive and snowball sampling. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman interactive model. Five TAM constructs were used as analytical frameworks: perceived usefulness, perceived ease of use, attitude toward use, behavioral intention to use, and actual system use. The findings indicate that OSS-RBA acceptance is varied, influenced by the digital capacity of business actors and the level of business risk. Perceived usefulness tends to be high, particularly among low-risk business actors. Perceived ease of use is affected by the complexity of technical requirements, including the need for polygon data requiring spatial mapping competency and additional cost implications. Additionally, the practice of using third-party services (proxy use) was identified, reflecting structural dynamics in system utilization. This research contributes to TAM development in the e-government context by highlighting the importance of contextual factors in supporting the optimization of risk-based licensing system implementation.
Pengembangan Smart Farming Berbasis Agritourism sebagai Edukasi Teknologi Pertanian di Kabupaten Buleleng: Development of Agritourism-Based Smart Farming as Agricultural Technology Education in Buleleng Regency Gede Humaswara Prathama Sudharma; Ni Wayan Widhiasthini; Kadek Januarsa Adi Sudharma; Ni Luh Yulyana Dewi; Ni Made Prasiwi Bestari; I Wayan Aditya Suranata
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 7 (2026): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v11i7.11891

Abstract

The development of agricultural technology is an important need to address the challenges of food sustainability, the low interest among the younger generation, and farmers' skepticism towards technological innovation. This community service activity was carried out in Buleleng Regency by developing agritourism-based smart farming as a means of agricultural technology education through the Wiwanda Agrow Independent Agriculture and Rural Training Center. The activity was carried out using a participatory approach, which included identifying partner needs, installing and integrating Internet of Things-based smart farming systems, functional testing and calibration, development of educational facilities and materials, training and assistance for farmers, and the implementation of educational tours for the community and students. The results of the activity show that the implemented smart farming system functions optimally in supporting monitoring and cultivation management, increases farmers' understanding and trust in technology, and serves as an effective learning medium for the younger generation. The integration of agritourism allows agricultural technology to be used not only for production but also as a vehicle for education and dissemination of innovation in a sustainable manner. Overall, this activity proves that the agritourism-based smart farming model can be an effective approach to encourage the adoption of agricultural technology, strengthen farmer regeneration, and support food security in the future, while creating sustainable partnerships between universities and communities, permitted to use abbreviations except for units of a quantity and use them to a minimum.  
Dinamika Implementasi Kebijakan Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Pada Kepatuhan Pramuwisata Di Destinasi Tirta Empul Naufal Zacky Yanuarta; Ni Wayan Widhiasthini; Ni Luh Yulyana Dewi; Ni Putu Bayu Widhi Antari
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3097

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan terhadap kepatuhan pramuwisata di Destinasi Wisata Tirta Empul, Kabupaten Gianyar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran pramuwisata dalam mendukung kualitas pelayanan wisata dan pelestarian budaya Bali. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan teori implementasi kebijakan George C. Edward III yang meliputi komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 52 Tahun 2021 telah berjalan, namun belum optimal. Sosialisasi kebijakan telah dilakukan, tetapi belum menjangkau seluruh pramuwisata secara merata, sementara pembinaan dan pengawasan masih menghadapi berbagai keterbatasan. Sebagian besar pramuwisata telah menunjukkan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, meskipun masih ditemukan beberapa bentuk pelanggaran. Selain itu, koordinasi antar pemangku kepentingan telah terlaksana, namun efektivitas pengawasan masih perlu ditingkatkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan dipengaruhi oleh efektivitas komunikasi, ketersediaan sumber daya, komitmen pelaksana, dan dukungan birokrasi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan sosialisasi, pembinaan, dan pengawasan secara berkelanjutan guna meningkatkan kepatuhan pramuwisata serta mendukung terwujudnya pariwisata budaya Bali yang berkualitas dan berkelanjutan.
DINAMIKA COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM STUDI KEBIJAKAN PUBLIK Ni Luh Yulyana Dewi
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.892 KB) | DOI: 10.38043/jids.v3i2.2188

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir, collaborative governance (tata kelola pemerintahan) menjadi salah satu konsep kepublikan yang mulai banyak diminati oleh para akademisi. Collaborative Governance muncul untuk merespon terjadinya kegagalan implementasi, biaya mahal dan politisasi regulasi sektor publik. Fokusnya mengarah pada setiap tahapan kebijakan publik. Collaborative governance merupakan sebuah paradigma baru dalam memahami eksistensi multi stakeholders dalam urusan-urusan publik. Tulisan ini mendeskripsikan secara aktual tentang dinamika collaborative governance dalam studi kebijakan publik yang berkaitan dengan nilai dasar dari perspektif “new public governance” dalam menghadapi proses tahapan kebijakan. Kompleksnya hubungan antara aktor dalam kebijakan publik melahirkan konsep baru yang dinamakan collaborative governance. Ringkasnya, collaborative governance adalah proses dan struktur yang melibatkan berbagai pihak melintasi batas-batas organisasinya. Kolaborasi digunakan untuk menggambarkan kerjasama yang formal, aktif, eksplisit dan berorientasi kolektif dalam manajemen dan kebijakan publik. Adapun nilai dasarnya yakni orientasi konsensus dalam pengambilan keputusan (tujuan), kepemimpinan kolektif dalam kelembagaan (struktur), komunikasi multiarah dalam hubungan kemanusiaan (interaksi) dan berbagi sumber daya dalam aksi (proses). Nilai dasar tersebut menjadi satu kesatuan yang terintegrasi pada setiap tahapan kebijakan publik.  
STRATEGI KOMUNIKASI ADVOKASI DALAM PEMERATAAN VAKSINASI COVID-19 TERHADAP KEMAJUAN SEKTOR PARIWISATA DI BALI Afrian Agung Setiawan; Yohan Darung Jemaruk; Ni Luh Yulyana Dewi
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.4 KB) | DOI: 10.38043/jids.v6i2.3565

Abstract

Covid-19 menjadi tantangan terbesar dunia, dimana menyebabkan segala bidang sektor mengalami keterpurukan salah satunya adalah sektor pariwisata. Kondisi tersebut juga dialami oleh Indonesia, dimana Bali yang menjadi lokomotif industri pariwisata terbesar begitu sangat terdampak yang menyebabkan ekonomi masyarakat mati. Dalam mengatasi berbagai kondisi tersebut, maka pemerintah melakukan upaya melalui program vaksinasi. Dalam pengimplementasiannya tentu banyak tantangan, permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah. Oleh karena itu penelitian dilakukan untuk mengetahui strategi komunikasi advokasi yang dilakukan pemerintah dalam percepatan program vaksinasi Covid-19 serta dampak dari adanya kebijakan program vaksinasi Covid-19 terhadap pariwisata Bali. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan cara mendeskripsikan atau menguraikan terkait dengan strategi komunikasi advokasi dalam percepatan vaksinasi Covid 19. Model yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam pengimplemtasian terkait percepatan program vaksinasi Covid 19, pemerintah harus melakukan kolaborasi dengan unsur pentahelik, media digital, serta mampu merubah persepsi masyarakat dengan membangun kepercayaan publik. Pecepatan program vaksinasi Covid 19 secara merata mampu mengurangi tingkat angka orang terdampak Covid 19, memberikan akses bagi sektor pariwisata kembali menerima wisatawan melalui penerapan sertifikasi, protokol kesehatan yang ketat, dan menciptakan kebijakan baru bagi para pelaku perjalanan wisata. Bangkitnya sektor pariwisata di Bali, maka diharapkan mampu mendobrak dan mendorong kembali perekonomian masyarakat.
Co-Authors A. A. Istri Citra VIbrayanti A.A. Sagung Intan Pramesti Afrian Agung Setiawan Al-Amin, Al-Amin Anak Agung Istri Agung Maheswari Andy Fefta Wijaya ARIF HIDAJAD Bambang Supriyono Cahyani, Ni Komang Rida Eduard Axel Framanay Laure Endang Fatmawati Fikri, Alwanul Florencia, Olivia Grace Brigitta Gede Humaswara Prathama Sudharma Grace B. F., Olivia Hasibuan, Masnilam Hefri Yodiansyah I Gusti Ayu Agung Nadya Leonita I Gusti Putu Putra Artika I Nyoman Widnyana Wartama I Wayan Aditya Suranata I Wayan Joniarta I Wayan Joniarta I.G.A.AG. Dewi Sucitawathi Pinatih Ira Patriani Itu, Maria Yuliana Kadek Januarsa Adi Sudharma Khairunnisa Krisnha Putu Kuswandi, Dadi Laksmi, Kadek Wulandari Lameng, Yohanes Latupeirissa, Jonathan Jacob Paul Luluk Fauziah Maharani, Ni Made Ayundha Dyah maharani, riza Marbun, Frederic Kornelius Masriadi Masriadi Mayasari, Yane Mihrayanti, Kadek Dwikaputri Sila Muhammad Hanif Nani Naufal Zacky Yanuarta Ni Kadek Novi Dwiyanti Ni Ketut Arniti Ni Komang Ayu Novitasari Ni Made Prasiwi Bestari Ni Nyoman Sunariani Ni Putu Ayu Sedani Ni Putu Bayu Widhi Antari Ni Putu Yunita Anggreswari Ni Wayan Widhiasthini Novianti, Mega Putri Eka Nuphanudin Nuphanudin Prayana, I Kadek Rian Putri Ekaresty Haes Putu Suparna R. Rifqi Priobagas Putra Wardana Rahmat Salam Rajuddin, Wa Ode Nursaadha Ratnamaya, Ni Putu Dinda Cetta Saleh, Fitra Samuel Mamonto Siti Rochmah Trisnawati Trisnawati Vittorio, Roy Wartama, I Nyoman Widnyana Widhi Antari, Ni Putu Bayu Yadi Suryadi Yanuarta, Naufal Zacky Yohan Darung Jemaruk