Rasionalitas obat sebagai salah satu bentuk dari pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien menjadi hal yang krusial, mengingat angka kejadian penyakit kardiovaskuler yang semakin meningkat sehingga pasien dengan polifarmasi pun turut meningkat. Penggunaan obat yang kian bertambah menjadi salah satu potensi terjadinya permasalahan terkait obat berupa interaksi obat. Oleh karena itu, diperlukan studi analisis kejadian interaksi obat sebagai langkah preventif terjadinya risiko mortalitas dan morbiditas. Proses identifikasi interaksi obat dilakukan melalui pengambilan resep dari salah satu dokter poli jantung pada Klinik X Kota Bandung periode Januari hingga Maret 2025. Tingkat keparahan interaksi obat ditelusuri melalui situs drugs.com. Berdasarkan hasil identifikasi dari 516 resep yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi maka diperoleh potensi kejadian interaksi obat sebanyak 2579 interaksi. Penyebaran interaksi obat berdasarkan tingkat keparahannya dibagi menjadi kategori mayor, moderat, dan minor dengan persentasenya berturut-turut sebesar 7,4%; 68,7%; dan 23,9%.