Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Farmaka

REVIEW ARTIKEL: INDEKS GLIKEMIK PADA BERBAGAI VARIETAS BERAS NURUL AFIFAH; NEILY ZAKIYAH
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.27781

Abstract

Beras merupakan sumber makanan pokok dan utama bagi sebagian besar masyarakat dunia yang memiliki pengaruh penting terhadap pemasukan gizi dan nutrisi untuk kesehatan. Beras dikenal sebagai pangan yang dengan nilai indeks glikemik yang tinggi, namun hal tersebut bergantung pada varietas, proses memasak, kandungan nutrisi dan faktor-faktor lainnya. Sebagai bahan pangan yang berpengaruh sangat besar terhadap respon glikemik, konsumsi beras menjadi fokus terkait dampaknya yang dapat meningkatkan faktor resiko diabetes mellitus akibat adanya resistensi insulin karena konsumsi glukosa yang berlebihan. Review ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai nilai indeks glikemik beras dari berbagai macam varietas.Kata Kunci: Beras, Indeks Glikemik, Varietas Beras
Review Artikel : Studi Kompatibilitas Obat - Eksipien dengan Analisis Termal Rania Aisha Nuralisa; Neily Zakiyah
Farmaka Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i2.27862

Abstract

ABSTRAKStudi kompatibilitas antara obat dengan eksipien mempunyai peranan penting dalam pengembangan suatu formula obat. Hal tersebut dikarenakan interaksi antara obat dengan eksipien dapat mempengaruhi stabilitas, sifat fisikokimia, keamanan, dan efikasi terapeutik dari obat. Berbagai macam metode digunakan untuk mendeteksi inkompatibilitas, salah satunya adalah analisis termal yang meliputi differential scanning calorimetry (DSC) ,thermogravimetry (TG), hot stage microscopy (HSM) dan isothermal microcalorimetry. Analisis termal menggunakan fungsi suhu dan waktu dalam mendeteksi inkompatibilitas antara obat dengan eksipien. Tujuan dilakukan review ini yaitu untuk mengetahui penggunaan analisis termal pada studi kompatibilitas antara obat dengan eksipien. Metode yang digunakan pada review jurnal ini adalah studi literatur. Dari hasil penelusuran literatur menunjukan bahwa analisis termal cukup efektif dalam mendeteksi inkompatibilitas.Kata Kunci : Studi Kompatibilitas, Obat, Eksipien, Analisis Termal.
ANALISIS UTILITAS BIAYA ANNUAL POPULATION-BASED SCREENING DIBANDINGKAN DENGAN OPPOTUNISTIC SCREENING DIABETES MELITUS DI INDONESIA MENGGUNAKAN MARKOV MODEL Erick Budiawan; Auliya A. Suwantika; Neily Zakiyah
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42488

Abstract

Prevelensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun dan berdampak pada tingginya biaya perawatan. Salah satu upaya pencegahan DM yang dapat dilakukan adalah melalui deteksi dini atau skrining. Saat ini di Indonesia menerapakan oportunistic screening dan tidak menerapkan population-based screening. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan efektivitas biaya oportunistic screening dan population-based screening DM di Indonesia serta menganalisis faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai incremental cost-effectiveness ratio (ICER). Penelitian ini dilakukan di Universitas Padjadjaran pada november 2020 hingga maret 2021. Nilai efektivitas biaya dihitung berdasarkan Markov model dengan siklus 1 tahun dalam time horizon 19 tahun.  Data yang digunakan sebagai input parameter adalah data epidemiologi, biaya (payer perspective) dan utilitas (QALYs). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan mempertimbangkan probabilitas transisi antar health states. Hasil ICER akan dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) perkapita sebagai cost-effectiveness threshold. Population-based screening memiliki estimasi total biaya Rp8.530.479 per 13,768 QALYs dan oportunistic screening memiliki estimasi total biaya Rp7.115.974 per 13,743 QALYs. Nilai ICER adalah Rp79.502.211 dan nilai PDB perkapita adalah Rp56.938.723. Dapat disimpulkan bahwa population-based screening DM di Indonesia masih cost-effective apabila menggunakan cost-effectiveness treshold 1-3 PDB perkapita. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa biaya skrining, kualitas hidup pasien DM komplikasi dengan early maupun late treatment merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai ICER.
Pharmacogenetics Overview of Quetiapine for Mental Health Disorders Khaira, Syifa; Qolbina, Shofura Marsa; Barliana, Melisa Intan; Zakiyah, Neily
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.55219

Abstract

Severe mental health disorders, such as schizophrenia and bipolar, often require treatment with atypical antipsychotic drugs, yet many patients exhibit incomplete responsiveness and adverse effects. This has led to the exploration of pharmacogenetics to personalize treatment potentially. Quetiapine, a commonly used atypical antipsychotic, is often used in mental health disorders for depressive episodes. Its pharmacokinetics and pharmacodynamics are potentially influenced by genetic variations in Cytochrome P450 (CYP) enzymes, Dopamine receptor D3 (DRD3), and other genes. Previous studies investigated the impact of genetic variants on quetiapine metabolism, revealing possible associations with CYP2D6, CYP2C19, Catechol-O-methyltransferase (COMT), and other genes. Notably, the COMT variant rs13306278 was linked to increased quetiapine exposure. CYP3A5 and CYP2B6 phenotypes also affected quetiapine variability, with the  ATP-binding cassette super-family G member 2 (ABCG2) variant rs2231142 associated with quetiapine accumulation. Recent pharmacogenetic advancements emphasize individualized treatment based on genetic profiles, particularly considering interactions with CYP3A4. Although concerns exist regarding drug-drug interactions and limited efficacy in certain conditions, integrating genetic information into clinical practice holds promise for optimizing quetiapine therapy and improving patient outcomes.
REVIEW ARTIKEL: EFEKTIVITAS TERAPI PENAMBAHAN IVABRADINE UNTUK PASIEN GAGAL JANTUNG DENGAN PENURUNAN FRAKSI EJEKSI (HEART FAILURE REDUCED FRACTION EJECTION) Qomara, Windi Fresha; Zakiyah, Neily
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.33905

Abstract

AbstrakGagal jantung adalah masalah kesehatan dengan angka morbiditas dan kematian yang tinggi. Salah satu klasifikasi gagal jantung adalah dengan penurunan fraksi ejeksi (HFrEF) yang memiliki karakteristik nilai LVEF < 40 dan denyut jantung yang sangat tinggi. Pada pasien dengan karakteristik ini, dapat diberikan beta blockers dengan penambahan ivabradine ke dalam regimen terapi untuk mengoptimalkan hasil terapi. Review ini bertujuan untuk menelaah efektivitas penambahan terapi ivabradine ke dalam regimen pengobatan tersebut. Metode yang digunakan adalah penelaahan pustaka dari jurnal yang berkaitan dengan penambahan ivabradine untuk pasien HFrEF. Hasil yang didapatkan yaitu ivabradine dapat digunakan pada pasien HFrEF dengan ritme sinus dan denyut jantung >70 denyut per menit. Ivabradine bersama beta blocker dinilai efektif untuk mengurangi angka rehospitalisasi dan mortalitas akibat kardiovaskuler dan dapat digunakan untuk pasien yang intoleran atau kontraindikasi dengan beta blocker.ABSTRACTHeart failure is a health problem with high rates of morbidity and death. One classification of heart failure is with a decrease in ejection fraction (HFrEF) which has the characteristic LVEF value < 40 and a very high heart rate. In patients with this characteristic, beta blockers can be given with the addition of ivabradine into the therapeutic regimen to optimize the results of therapy. An increase in heart rate >70 bpm is an important indicator of mortality, so prompt and cost-effective treatment is needed, such as the addition of ivabradine to standard therapy for HFrEF. This review aims to study the effectiveness of adding ivabradine therapy to the treatment regimen. The method used is a literature study of journals related to the addition of ivabradine to HFrEF patients. The results obtained are that ivabradine can be used in HFrEF patients with sinus rhythm and heart rate >70 bpm. Ivabradine together with beta blockers are considered effective for reducing rehospitalization and mortality rates due to cardiovascular and can be used for patients who are intolerant or contraindicated with beta blockers.
REVIEW ARTIKEL CELLULOSE NANOFIBER : ISOLASI, KARAKTERISASI, DAN APLIKASI DI BIDANG FARMASI Fitriani, Anisa Nur; Zakiyah, Neily
Farmaka Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i3.33639

Abstract

AbstrakBanyak sediaan farmasi yang menggunakan kemasan berbahan dasar plastik yang  bisa berdampak buruk bagi lingkungan. Oleh karena itu, banyak peneliti yang mencari alternatif lain sebagai pengganti plastik atau lebih dikenal sebagai bioplastik. Salah satu bahan baku bioplastik yang banyak di kembangkan saat ini yaitu cellulose nanofibril (CNF). Isolasi CNF terdiri dari dua tahap yaitu tahap pretreatment dan tahap produksi. Tahap pretreatment memiliki beberapa jenis metode diantaranya pembuatan pulp, oksidasi TEMPO, hidrolisis enzim, hidrolisis asam, dan bleaching. Beberapa jenis metode dalam tahap produksi yaitu, homogenisasi, mikrofluidisasi, penggilingan ultra-fine friction, ekstruksi, ultrasonifikasi, dan cryocrushing. Karakterisasi terpenting dari CNF yang dihasilkan yaitu morfologi, derajat fibrilasi, dan sifat reologi. Di bidang farmasi, CNF juga telah digunakan sebagai bahan kemasan dan modifikasi pelepasan serta penghantaran obat dari formulasi tablet dan kapsul.Kata Kunci: Selulosa nanofiber, Isolasi, Karakterisasi, Aplikasi di bidang farmasi. AbstractMany pharmaceutical preparations use plastic-based packaging which can be bad for the environment. Therefore, many researchers are looking for other alternatives as plastic substitutes or better known as bioplastics. One of the most current and widely developed bioplastic raw materials is cellulose nanofibrils (CNF). CNF isolation consists of two stages, the pretreatment stage and the production stage. The pretreatment stage has several types of methods including pulp making, TEMPO oxidation, enzyme hydrolysis, acid hydrolysis, and bleaching. Several types of methods are in the production stage, namely, homogenization, microfluidization, ultra-fine friction milling, extruction, ultrasonification, and cryocrushing. The most important characterizations of the resulting CNF were morphology, degree of fibrillation, and rheological properties. In the pharmaceutical field, CNF has also been used as a packaging material and modification of drug release and delivery from tablet and capsule formulations.Keywords: Cellulosa nanofiber, Isolation, Characterization, Application in pharmacy.