Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

ANALISIS PERBANDINGAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN TIGA NEGARA: FINLANDIA, JEPANG, DAN QATAR Erny Wulandari; Asmah Naziha; Najib Shihab; Irfan Fauzi
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 12 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/ygd6qy41

Abstract

Penelitian ini mengkaji sistem pendidikan di negara maju sebagai studi kasus untuk memahami secara mendalam faktor-faktor yang mendorong keberhasilan pembangunan pendidikan. Fokus kajian diarahkan pada analisis kebijakan pemerintah, struktur kurikulum, kualitas tenaga pendidik, serta peran aktif masyarakat dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis kajian pustaka, dengan menelaah laporan internasional, artikel ilmiah, serta data resmi dari lembaga seperti OECD, UNESCO, dan kementerian pendidikan negara terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa negara maju menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional dengan dukungan anggaran yang konsisten, perencanaan jangka panjang, dan sistem evaluasi yang ketat. Kurikulum disusun secara adaptif mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja, sementara kualitas guru dijaga melalui program pelatihan berkelanjutan serta seleksi yang ketat. Selain itu, kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan telah menciptakan budaya belajar sepanjang hayat, di mana keluarga, sekolah, dan komunitas berperan aktif. Pemerataan akses diwujudkan melalui kebijakan inklusif, dan teknologi dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Temuan ini memberi implikasi penting bagi Indonesia, yaitu perlunya sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam merancang kebijakan yang berorientasi pada kualitas sekaligus pemerataan agar daya saing pendidikan nasional dapat meningkat secara berkelanjutan.
Rekonstruksi Pamali sebagai Jarimah Ta’zir: Analisis Fiqh al-Bi’ah dalam Preservasi Leuweung Larangan Irfan Fauzi; Arini Nabila Azzahra
Terang : Jurnal Kajian Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 2 No. 4 (2025): Desember : Terang : Jurnal Kajian Ilmu Sosial, Politik dan Hukum
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/terang.v2i4.1537

Abstract

State-based conservation in Indonesia often faces institutional failure and social resistance, resulting in continued deforestation. Conversely, Indigenous conservation models in West Java, specifically the Leuweung Larangan (forbidden forest), demonstrate significant ecological resilience. However, the legal standing of these customary practices within Islamic jurisprudence remains under-theorized, creating a dichotomy between Adat (custom) and Sharia. This study proposes a juridical reconstruction of the Sundanese taboo mechanism (Pamali) as Jarimah Ta’zir (discretionary sanction) to strengthen environmental law enforcement. Utilizing a socio-legal approach and ecological hermeneutics, this research analyzes Yusuf al-Qardhawi’s concept of Fiqh al-Bi’ah and Seyyed Hossein Nasr’s sacred science, alongside relevant empirical data on Indigenous forest governance. The findings demonstrate that Leuweung Larangan structurally manifests as Hima Syar’i (sacred protected zone). Operationally, Pamali functions not merely as a cultural myth, but as a preventive legal instrument (Sadd al-Dzari’ah) where environmental violations constitute religious criminal acts. This creates a "Sundanese Eco-theology" model that establishes a double-layered compliance system—social sanctions and theological liability—proving more effective for carbon preservation than state regulations alone. The study recommends integrating this model into the Green Constitution framework to resolve tenurial conflicts and enhance climate resilience.
Power Relations and Gender Critique: Uncovering the Politics of Canonization in the Hadith of Al-Syu'm (Misfortune) Irfan Fauzi; Hilal Askary Syirwan
Diplomasi : Jurnal Demokrasi, Pemerintahan dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58355/dpl.v4i1.87

Abstract

Theological stigmatization positioning women as objects of misfortune (bad omen) remains deeply entrenched due to the dominance of textual hadith readings that contradict Aisyah’s contextual correction. Unlike previous research, which has primarily focused on sanad criticism, this study addresses a scholarly gap by highlighting the politics of memory. Employing an interdisciplinary approach drawing on Foucault, Mernissi, and Gadamer and utilizing library research methods, this study aims to deconstruct the power relations underlying the canonization of the hadith in question. The findings reveal that the marginalization of Aisyah’s narrative is not a historical coincidence, but the product of a patriarchal epistemological hegemony that domesticates female intellectual authority to preserve the integrity of male narrators. In conclusion, the validity of misogynistic hadiths in the contemporary era cannot be established solely through sanad continuity; instead, they must be critically examined through the lens of matan content and the Tawhid paradigm to restore women as dignified subjects rather than sources of misfortune.
Tradisi Pengulangan Khutbah Jum’at di Aceh: Dialektika Kehati-Hatian (Ihtiyat) dan Otoritas Dayah: The Tradition of Repeating Friday Sermons in Aceh: The Dialectic of Caution (Iḥtiyāṭ) and Dayah Authority Asriadi; Irfan Fauzi
BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam Vol. 7 No. 1 (2026): BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M), Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/bustanul.v7i1.2960

Abstract

This study examines the unique phenomenon of repeating Friday sermons (Khutbah) in Aceh, practiced as a precautionary measure (iḥtiyāṭ) to ensure ritual validity. While contemporary Islamic legal discourse tends to simplify worship practices, Acehnese society adopts a ritual thickening approach rooted in strict adherence to the Shafi'i school. This practice emerges as a response to theological anxiety regarding the potential invalidation of the muwalah (continuity) condition caused by operational pauses or technical interruptions during the sermon. This study aims to analyze the construction of Islamic law that legitimizes this practice and to uncover how religious authorities (Dayah) institutionalize it within the community. Employing a socio-legal approach within a qualitative framework, this study synthesizes the analysis of classical jurisprudential texts (turats) with phenomenological observations of congregants and preachers in Dayah-based regions. The findings confirm that sermon repetition is not an indication of incompetence or inefficiency, but rather a mitigative legal strategy grounded in the principles of Iḥtiyāṭ (precaution) and Sadd al-Dharīʿah (blocking the means to harm). Dayah scholars play a central role in constructing the narrative that this repetition serves as a theological safeguard to protect the validity of worship from doubt (syak). This study concludes that this phenomenon represents a Fiqh of Anxiety, where strict textual compliance functions as a psycho-religious mechanism to achieve inner peace.
PROBLEMATIKA GURU DI SEKOLAH DALAM PERSPEKTIF SUPERVISI PENDIDIKAN Alhikha Leswarie; Dilla Novita Sani; Anisa Zainun; Irfan Fauzi
Qalam lil Athfal Vol. 3 No. 2 (2025): Vol III Edisi II Tahun 2025
Publisher : Sekolah TInggi Ilmu Tarbiah Al Bukhari Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58822/qla.v3i2.423

Abstract

Supervisi pendidikan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Namun, implementasi supervisi yang belum optimal kerap menjadi pemicu munculnya berbagai problematika di kalangan guru. Penelitian ini mengkaji secara mendalam problematika guru dalam konteks supervisi pendidikan, meliputi keterampilan mengajar yang belum memadai, rendahnya motivasi kerja, serta tingkat kepuasan kerja yang fluktuatif. Keterbatasan dalam keterampilan pedagogik dan penguasaan metodologi pembelajaran menyebabkan proses belajar tidak mencapai efektivitas maksimal. Di sisi lain, motivasi kerja guru yang rendah sering kali bersumber dari kurangnya penghargaan, beban kerja yang berlebihan, serta lemahnya dukungan moral dan profesional. Hal ini diperburuk oleh supervisi pendidikan yang cenderung bersifat administratif dan kurang menyentuh aspek pembinaan profesional guru secara holistik. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan pendekatan supervisi yang lebih humanistik, kolaboratif, dan memberdayakan, sehingga guru tidak hanya menjadi pelaksana kurikulum, melainkan juga agen perubahan pendidikan. Kajian ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya sinergi antara kompetensi guru, motivasi intrinsik, kepuasan kerja, dan pola supervisi yang transformatif untuk menciptakan ekosistem sekolah yang progresif.
CARA MENGEFEKTIFKAN SUPERVISI PENDIDIKAN DI SEKOLAH Azmi Ayu Fauziah Batubara; Intan Tri Permatasari; Asmah Naziha; Irfan Fauzi
Qalam lil Athfal Vol. 3 No. 2 (2025): Vol III Edisi II Tahun 2025
Publisher : Sekolah TInggi Ilmu Tarbiah Al Bukhari Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58822/qla.v3i2.425

Abstract

Supervisi pendidikan yang efektif merupakan elemen krusial dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan profesionalitas pendidik di lingkungan sekolah. Penguatan manajemen dan administrasi menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem supervisi yang terstruktur. Selanjutnya, partisipasi aktif seluruh warga sekolah dibangun melalui peningkatan kesadaran kolektif. Efektivitas supervisi juga didorong dengan optimalisasi rapat pimpinan dan guru, serta penyediaan media seperti papan karya guru dan perpustakaan yang representatif. Forum diskusi guru dan penerbitan buletin sekolah dijadikan sarana refleksi dan berbagi praktik baik. Inovasi lain dilakukan melalui pembentukan forum penelitian guru dan pelaksanaan workshop kurikulum untuk meningkatkan kapasitas pedagogis. Studi banding tahunan dilaksanakan sebagai sarana benchmarking yang konstruktif. Melalui pendekatan ini, supervisi pendidikan tidak hanya menjadi instrumen pengawasan, tetapi juga media pembinaan, kolaborasi, dan pengembangan profesional yang berkesinambungan.