Claim Missing Document
Check
Articles

BENTUK PENYAJIAN TARI PAGAR PENGANTIN DI SANGGAR BEFA DANCEKELURAHAN TANJUNG KUPANG KABUPATEN EMPAT LAWANG Lerin Rili Andrayani; Mansyur, Herlinda
Avant-garde: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Pertunjukan Vol. 4 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/grdx1229

Abstract

This study aims to describe the "Presentation Form of the Pagar Pengantin Dance at the Befa Dance Studio in Tanjung Kupang Village, Empat Lawang Regency." This qualitative research uses descriptive methods. The research instrument was the researcher herself, assisted by supporting instruments such as stationery and a camera. Data were collected through observation, literature review, interviews, and documentation. Data analysis involved selecting relevant data according to the problem being discussed. The results indicate that the Pagar Pengantin dance at the Befa Dance Studio is a new creation created by Lya Novrista in 2014. The Pagar Pengantin dance performance took place on the stage at 10:30 a.m. WIB. The Pagar Pengantin dance was performed after the bride and groom, and their families entered the stage. The dance began with four dancers inside the stage, then walked out to meet the bride and groom and their families and guided them to the stage, allowing them to sit in the designated seats. Then the dancers from the outside of the stage enter the stage with right and left crossing footwork to take their places, this dance begins with a respectful cross movement, a movement that means to give honor to the bride and groom, family and invited guests who have attended, followed by the movement of picking up the bride, installing tanggai, respectful cross, amethyst, repel disaster cross, thread stretching, falling wood, scattering flowers, Borobudur, stupa cross, meditation cross, siguntang mahameru cross and flying eagle. Properties are arranged on a tray or gold tray. The number of dancers in the Pagar Pengantin dance must be an even number, namely four female dancers and one main dancer, namely the bride. The Pagar Pengantin dance has a simple "V" floor design with two levels of standing and sitting, followed by a horizontal straight line at the end. The music in the Pagar Pengantin dance uses pre-recorded music (audio recording). The makeup and costumes of the Pagar Pengantin dance use beautiful makeup, the costumes used are baju kurung and wearing a songket skirt. The properties or equipment used are tanggai or gold false nails, candles and a tray or gold tray. This dance is performed as a symbol of the bride's purity and symbolizes the bride's farewell to her former family before starting a new one.
KOREOGRAFI TARI TANDUAK  PADA SANGGAR SEKAPUR SIRIH DI NAGARI LUBUK TAROK KABUPATEN SIJUNJUNG Yesa, Istifadilla; Mansyur, Herlinda
Avant-garde: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Pertunjukan Vol. 4 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/m08f1937

Abstract

This study aims to describe and analyze the choreography of the Tanduak Dance at the Sekapur Sirih Studio in Lubuk Tarok Village, Sijunjung Regency. Tanduak Dance is a traditional dance that has historical, symbolic, and cultural identity values ​​​​of the local community. The study uses a qualitative approach with a descriptive analytical method. Data was obtained through observation, interviews, literature studies, and documentation. The results of the study indicate that the choreography of the Tanduak Dance consists of aspects of form and content. Form aspects include movement, floor design, upper design, group composition, dancers, costumes, dancers, costumes, properties, and musical accompaniment. The main movement variety consists of Gerak Sambah, Langkah Ampek, Langkah Sepai, and Langkah Kicuah which are dominated by meaningful movements with silat nuances. The floor pattern utilizes straight, curved, and oblique lines with a group formation of seven dancers. Content aspects include ideas about courage and symbolic buffalo fighting, as well as heroic and dynamic nuances. This dance represents the values ​​​​of courage, preparedness, and cultural identity of the Lubuk Tarok Village community.
Fungsi Tari dalam Ritual Makai Salih di Semurup Kabupaten Kerinci Rosa, Esa Silviana; Mansyur, Herlinda
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.36743

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mendeskripsikan fungsi tari dalam ritual Makai Salih yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Koto Baru Semurup, Kecamatan Air Hangat, Kabupaten Kerinci. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Instrumen utama penelitian adalah peneliti sendiri yang dibantu dengan alat pendukung berupa pedoman wawancara, kamera, dan alat tulis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi langsung, wawancara mendalam, serta dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari dalam ritual Makai Salih memiliki beberapa fungsi utama. Pertama, fungsi ritual, yaitu sebagai media komunikasi antara manusia dengan kekuatan gaib atau roh nenek moyang dalam proses penyembuhan. Hal ini terlihat dari gerak tari yang dilakukan secara spontan, kondisi kesurupan penari, serta penggunaan properti sakral berupa daun jeluang dan bunga bungo gedang yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Kedua, fungsi sosial, yaitu sebagai sarana mempererat hubungan antaranggota masyarakat melalui partisipasi bersama dalam ritual, baik sebagai pelaku, keluarga pasien, maupun penonton. Ketiga, fungsi estetis, yaitu tampak pada unsur-unsur tari seperti gerak njit, ngimbu ninek, nyembu aiy, pola lantai melingkar, iringan vokal/mantra, serta busana sederhana yang mencerminkan nilai kesakralan. Keempat, fungsi identitas budaya, yaitu sebagai simbol jati diri masyarakat Semurup yang masih mempertahankan tradisi leluhur hingga saat ini.
Analisis Gerak Tari Piriang Sigonjai di Sanggar Seni Abai Sakato Kabupaten Solok Selatan Hilma, Rajmi Mutiara; Mansyur, Herlinda
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.36847

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan Analisis Gerak Tari Piriang Sigonjai di Sanggar Seni Abai Sakato Kabàupaten Solok Selatan. Jenis Penelitian penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan alat tulis, kamera dan perekam suara. Data dikumpulkan melalui Studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Langkah-langkah menganalisis data adalah pengumpulan data, redukasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis gerak Tari Piriang Sigonjai terdiri dari aspek ruang, waktu dan tenaga. Aspek ruang pada Tari Piriang sigonjai adalah gerak tari. Gerak Tari Piriang Sigonjai menggunakan garis lurus, garis diagonal dan garis lengkung. Garis lurus memiliki kesan tenang, garis diagonal memiliki kesan dinamis dan gari lengkung memiliki kesan lembut. Volume yang terdapat pada tari ini besar dan kecil. Arah hadap yang dominan pada tari ini adalah depan, kanan, kiri dan diagonal. Level menggunakan level rendah, sedang, dan tinggi. Fokus pandang pada tari ini adalah kedepan, bawah, dan atas. Aspek waktu pada Tari Piriang Sigonjai sebagai Tari Kreasi terdapat tempo lambat di awal gerakan, disusul dengan tempo sedang dan cepat. Dari unsur ritme Tari Piriang Sigonjai ini mengikuti alunan musik yang ada pada Tari Piriang Sigonjai Sebagai Tari Kreasi. Aspek tenaga Tari Piriang Sigonjai ini menggunakan tenaga sedang dan kuat. Tari Piriang Sigonjai memiliki Istilah Piriang Sigonjai memiliki arti makna yang erat kaitannya dengan pola langkah dalam gerakan tari. Kata Sigonjai dalam bahasa Minangkabau diartikan sebagai langkah yang bertingkah-tingkah atau Basigonjai, yakni gerakan kaki yang saling bertikai, beradu, atau berlawanan ritme.
Koreografi Tari Piriang Galatiak Rang Mudo di Sanggar Rangkiang Palito Kecamatan VII Koto Kabupaten Padang Pariaman Bunda, Intan Permata; Mansyur, Herlinda
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37913

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan Koreografi Tari Piriang Galatiak Rang Mudo di Kabupaten Padang Pariaman, khususnya di Nagari Sungai Sariak. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan instrumen pendukung seperti kamera foto, alat tulis, dan handphone. Jenis data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Langkah-langkah dalam menganalisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koreografi Tari Piriang Galatiak Rang Mudo melalui proses penciptaan diantaranya eksplorasi dapat dilihat dari masyarakat yang bercocok tanam beramai-ramai yang dijadikan sebagai ide atau gagasan koreografer, improvisasi pada Tari Piriang Galatiak Rang Mudo terdapat pada gerak pijak kaco (injak pecahan kaca), komposisi pada Tari Piriang Galatiak Rang Mudo terdapat unsur ruang, waktu dan kekuatan. Pada aspek bentuk Tari Piriang Galatiak Rang Mudo terdapat beberapa elemen diantaranya gerak, gerak pada Tari Piriang Galatiak Rang Mudo terdapat 25 ragam gerak, desain lantai yang dipakai yaitu bentuk segi lima, segitiga dan lingkaran, desain atas yang dipakai diantaranya desain atas rendah, murni, bersudut, lengkung, statis, dan desain atas tinggi, komposisi kelompok yang terdapat pada Tari Piriang Galatiak Rang Mudo yaitu bentuk serempak dan terpecah, tarian ini diawakan oleh 5 orang penari, musik yang digunakan pada Tari Piriang Galatiak Rang Mudo awalnya menggunakan tempo sedang dan tempo semakin naik hingga ending serta diiringi nyanyian dendang Adapun alat musik yang digunakan diantaranya tambua, jimbe, talempong, gitar bass, sarunai, drum akustik dan sambal, Tari Piriang Galatiak Rang Mudo merupakan kostum tradisional yang telah dimodifikasi diantaranya baju kuruang beludru, sarawa (celana), kain sampiang, tokah, salendang kapalo, ikek pinggang, serta properti yang dipakai yaitu piring. Aspek isi terdiri dari ide dan suasana, ide terciptanya Tari Piriang Galatiak Rang Mudo dilihat dari ketertarikan Mastajabul Hakum terhadap cara bersosial masyarakat Sungai Sariak yang hidup bergotong royong dalam kehidupan Bertani, berladang, Adapun suasana pada Tari Piriang Galatiak Rang Mudo menggambarkan suasana penuh semangat dalam bergotong-royong, tegas, dan bijaksana dalam mengambil suatu tindakan, serta ungkapan rasa syukur dan penuh Bahagia masyarakat atas hasil panen yang didapat.
Koreografi Tari Piring Basegeh di Sanggar Seni Kajang Lako Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya Zelvina, Mezi; Mansyur, Herlinda
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37883

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis Koreografi Tari Piring Basegeh di Sanggar Seni Kajang Lako Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif Analitis. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan instrumen pendukung, seperti alat tulis, kamera, alat perekam. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses koreografi Tari Piring Basegeh diawali tema kegiatan bertani kesawah, eksplorasi yaitu yang dimana bersiap- siap akan pergi kesawah dengan membawa piring, improvisasi yaitu dari gerak (gerak tapua ng alam, gerak silek raso dipiring, dan gerak guncang basamo) dan komposisi merupakan (gerak, pola lantai, kostum, properti, musik, desaian atas, komposisi kelompok). Tari Piring Basegeh memiliki 2 macam aspek pokok, aspek bentuk yaitu: Gerak (14 ragam gerak), dengan desain lantai garis lurus, diagonal, setengah lingkaran, horizontal, vertikal dan lingkaran. Musik menggunakan musik MP3 yang alat musiknya terdiri dari serunai, saluang, tambuah, talempong, canang, bass, keyboard dan dendang. Kostum yang digunakan yaitu bagi penari perempuan baju beludrun warna gold dengan songket yang telah dikreasikan dan menggunakan rias cantik. Kostum yang dipakai penari laki-laki yaitu Baju Silek Minang dengan celana galembong. Properti yang digunakan yaitu Piring, Bakul. Aspek isi ada : ide, di dalam Tari Piring Basegeh ini menggunakan ide yaitu Tradisi Basegeh yang artinya Bersiap-siap pergi kesawah atau keladang dengan suasana kegembiraan.
Analisis Gerak Tari Tauh di Sanggar Kuluk Kecipung Desa Lempur Mudik Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi Azzahra, Zamila; Mansyur, Herlinda
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38344

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan Analisis Gerak Tari Tauh di Sanggar Kuluk Kecipung Desa Lempur Mudik Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan alat tulis, kamera, dan flas disk. Data dikumpulkan melalui studi Pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Langkah-langkah menganalisis data adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Tauh memiliki 9 ragam gerak utama yaitu gerak salam, samang bejabat, selemang di balek batu, kedidi mudik ai, menabur padi, menanam, menyangkul, merumput, dan menuai. Analisis gerak menunjukkan bahwa dari aspek ruang, tari ini dominan menggunakan garis lurus, volume besar, arah hadap depan, level sedang, serta fokus pandang ke depan. Dari aspek waktu, Tari Tauh menggunakan tempo sedang dengan ritme yang teratur mengikuti iringan musik redap, gong, dan pantau. Dari aspek tenaga, gerakan didominasi oleh intensitas ringan hingga sedang, tekanan yang lembut, serta kualitas gerak yang mengalir dan berkesinambungan. Keseluruhan gerak Tari Tauh mencerminkan aktivitas kehidupan masyarakat agraris dan nilai-nilai adat yang masih dijaga hingga sekarang.
Koreografi Tari Sampan di Sanggar Palito Nyalo Koto Panjang Kecamatan Pauh Kota Padang Manjilih, Sayang Nan; Mansyur, Herlinda
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38345

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengungkapkan koreografi Tari Sampan di Sanggar Palito Nyalo, Koto Panjang, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan alat tulis dan kamera. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Langkah-langkah menganalisis data adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa koreografi tari sampan di Sanggar Palito Nyalo Koto Panjang Kecamatan Pauh Kota Padang terdiri dari aspek bentuk dan aspek isi. Pada aspek bentuk terdapat beberapa elemen diantaranya gerak, desain lantai, dinamika, komposisi kelompok, penari, musik, kostum dan properti. Gerak Tari Sampan terdapat 9 ragam gerak, desain lantai yang dipakai yaitu bentuk vertikal (berbaris kebelakang), dinamika gerak Tari Sampan lebih banyak menggunakan dinamika gerak ringan, dinamika ruang yang lebih dominan terdiri dari garis lurus sehingga membuat ruang yang diperlukan sempit, kemudian dinamika tenaga sedang dan banyak hanya terdiri dari dua gerak yaitu gerak Mandayuang dan gerak Katapian. Komposisi kelompok yang terdapat pada Tari Sampan yaitu dilakukan secara serempak. Komposisi kelompok berdasarkan bentuk atau variasi serempak yaitu Gerak Maangkek Biduak, Gerak Mandayuang, Gerak Katapian dan Gerak Pulang Malatakan Sampan yang menggambarkan bagaimana kekompakan serta gotong royong masyarakat dalam proses mencari ikan. Penari yang dibutuhkan dalam Tari Sampan terdiri dari 3 sampai 5 orang penari. Musik yang digunakan pada Tari Sampan menggunakan tempo sedang. Adapun alat musik yang digunakan diantaranya talempong, gandang, tassa dan serunai. Kostum menggunakan baju satin, galembong, deta batik dan sesamping, serta properti yang digunakan seperti topi caping. Aspek isi terdiri dari ide dan suasana, ide terciptanya Tari Sampan dilihat dari keunikan para nelayan yang memancing ikan secara berkelompok denga menggunakan sampan. Adapun suasana pada Tari menggambarkan kehidupan nelayan yang dinamis, penuh semangat, dan kebersamaan.
Co-Authors Afiatri Gelurena Afifah Asriati Aisyah Mail Nexsi Almadina Putri Alya Putri Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Anggraini , Hasnah Apriliyola, Veny Aqilla, Qorri Arif Agustakdir Rahman Arviani, Yohana Aulia R, Rindena Auliannisa Ramadhani Ayunda Sari, Nelvy Ayuning Dwi Kusrini Azizah Ilham, Vira Azzahra, Zamila Bunda, Intan Permata Chintia Renata Putri Cici Aulia Sari Darmawati Darmawati Darmawati Darmawati David Hernandes Deby Deswariani Dede Putri Perdani Desfiarni Desfiarni Devina Utami Dewi, Risna Dina Mutiatul Khairat Dona Evrie Dona Indriani edy susanto Elga Pratiwi Rahmadani Eliska, Putri Elizar Elizar Elizar Elizar, Elizar Endang Nuryani Etika junita Fadhilah Amalia Hasanah Fani Putri Anggraini Fara Tiurma Andrina Febiola, Rara Fernanda Putri Fitri Latifah Fitri Wahyuni Fittry, Hasanah Fuji Astuti Fuji Astuti Gemala Dewi Gusti Maharani Haryono Haryono Hasibuan, Sindi Melani Hilma, Rajmi Mutiara Ichanur Safri, Oktry Indah Fajar Wati Indah Septiani Indah, Rifatil Indrayuda Indrayuda Izlatul Maulida Jupriyanto Jupriyanto Kamilia Maghfudzah Khairah, Wardhatul Khairunnisa, Ardina Kurnia Hidayati Laily Wulan Rahmawati Lapeni Pebria Maibur Lara Sintia Lativa Andriani Lerin Rili Andrayani Lhaxmi Nuari Maghdalena Tri Jureta Magrevi, Vira Maharani Maharani Manjilih, Sayang Nan Meika Meika Meika Meizul Ofriananda Melany, Sandra Mikaresti, Pamela Muhammad Afif Nadila, Sagita Dwi Nerosti Nia Mardiani Ningsih, Lisa Wahyu Niro Mayelza Nur Annisa Nurul Fazila Ismail Pransisko Pransisko Pransisko, Pransisko Putri Oktavia, Dwi Putri S Mulyadi Putri, Chintia Renata Rafi Rafi Rafi, Rafi Rahayu Febri Armi Rahma Dianti, Rahma Rahma Sinta Rahmadani, Sury Rahmi Isdiani, Nabila Rahmi Ul Fadhilah Rahmi, Mutia Ramadhan, Adrian Raudatul Hayati Reza Septiana Rianti, Muthia Riska Fitriani Rizka Fatiha Rahmi Rizka Putri Ananda Rosa, Esa Silviana Sella Oktafira Gea Septhiani Fransiska Putri Seri Malini Shindy Mutiara Dewi Sindi Melani Hasibuan Sopandi, Agus Tatang Soraya , Atika Sri Wahyuni Suci Silvia Ningsih Suci Wahyuni Sukhma Suci, Suci Silvia Ningsih Susmiarti Syinta Triagnesti Tiara Virginia Aulia Tiaranti Dwi Pradita Tri Rafika Sari Uthi Sonia Utia, Yuwaffa Wahyu Nelda, Aulya Yesa, Istifadilla Yolanda Putri Yose Fernando Yosi Muliana Yuliasma Yuliasma Yundari, Yundari Zelvina, Mezi Zora Iriani Zulfika Putri