Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PEMBERDAYAAN KADER KESEHATAN DALAM PENCEGAHAN RISIKO STUNTING DI DESA SRI KUNCORO DAN DESA PANCA MUKTI KECAMATAN PONDOK KELAPA BENGKULU TENGAH Sahidan, Sahidan; Putri Widelia Welkriana; Jon Farizal; Tedy Febriyanto; Heru Laksono; Zamharira Muslim
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 7 (2025): Desember 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Bengkulu Tengah pada tahun 2024 terdata 3,1 % pada tahun 2024 masih jauh dibawah standar yang ditetapkan Kementrian Kesehatan yakni 20% dalam angka normal. Data diperoleh dari puskesmas Sri Kuncoro terdapat 16 orang balita stunting. Adapun tujuan pengabdian masyarakat ini adalah terdapatnya peningkatan pengetahuan kader tentang stunting, diketahuinya kadar Hb ibu hamil, Remaja, di desa Sri Kuncoro dan desa Pancamukti Kecamatan Pondok Kelapa Bengkulu Tengah, pemberian makan tambahan dengan analisis situasi anak stunting di Sri Kuncoro., pemberdayaan kader kesehatan, evaluasi untuk mengukur keberhasilan program.Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan dalam 3 tahap meliputi tahap 1 penyuluhan tentang stunting kader posyandu, tahap 2 pemberian makanan tambahan berupa susu kepada balita stunting yang berjumlah 16 balita, tahap ke 3 yaitu pemeriksaan Hb ibu hamil dan diakhir pengabdian dilakukan evaluasi keberhasilan program. Hasil : Pada saat penyuluhan kader terjadi peningkatan pengetahuan kader sebesar 25% setelah di evaluasi dengan memberkan pre dan post test. Terjadiya kenaikan tinggi badan balita stunting yang telah diberikan susu 2 kotak selama 2 bulan. Ditemukan kadar Hb ibu hamil rendah (rata-rata 10,4gr/dl) sebesar 69%. Terlihat pengabdian Masyarakat ini terjadi kenaikan pengetahuan kader dan kenaikan tinggi badan balita stunting dengan rentang 4 bulan pengukuran. Berdasarkan hasil yang didapat maka perlu dilanjutkan berupa monitoring dan evaluasi secara teratur untuk berlanjutnya kegiatan dalam pencegahan resiko stunting. Dirasakan perlu adanya kegiatan dalam meningkatkan pengetahuan dan program yang spesifik dimulai dari ibu hamil dalam persiapan kelahiran guna mencegah terjadinya stunting pada calon balitanya nanti.
Gambaran Kadar HbA1c Pada Penderita Diabetes Mellitus dengan Luka Diabetikum di Kota Bengkulu Dwi Ananta, Aufa Yori; Laksono, Heru; Febriyanto, Tedy
JURNAL KESEHATAN POLTEKKES KEMENKES RI PANGKALPINANG Vol. 13 No. 2 (2025): JKP DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32922/jkp.v13i2.1284

Abstract

Latar belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi serius, salah satunya luka diabetikum. Kadar HbA1c yaitu indikator penting dalam menilai kontrol glukosa jangka panjang pada penderita DM. Kadar HbA1c yang tidak dikontrol dapat memperlambat penyembuhan luka dan meningkatkan risiko komplikasi. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai gambaran kadar HbA1c pada penderita diabetes mellitus dengan luka diabetikum di Praktek Keperawatan Medikal Bedah Alfacare Centre Kota Bengkulu Tahun 2025. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif, teknik total sampling digunakan sebagai metode pemilihan sampel terhadap 30 penderita DM dengan luka diabetikum. Data diperoleh melalui pemeriksaan HbA1c dan wawancara terkait karakteristik responden seperti usia, lama menderita dan kepatuhan minum obat DM. Data dianalisis secara deskriptif menggunanakan distribusi frekuensi, persentase serta penyajian data dalam bentuk tabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat sebagian besar responden (80%) memiliki kadar HbA1c ≥ 7% (tidak terkontrol). Sebagian besar responden berusia ≥ 50 tahun (93,3%), menderita DM selama ≥ 5 tahun (73,3%), dan patuh minum obat (80%). Kesimpulan: Sebagian besar penderita diabetes mellitus dengan luka diabetikum memiliki kadar HbA1c tidak terkontrol (≥7%).