Windy Keumala Budianti
Departemen Dermatologi Dan Venereologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Perkembangan Terapi Sistemik Pada Pruritus Melody Febriana Andardewi; Windy Keumala Budianti; Lili Legiawati; Yudo Irawan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i1.2203

Abstract

Pruritus merupakan sensasi tidak nyaman yang mencetuskan keinginan untuk menggaruk. Sensasi tersebut disebabkan oleh berbagai hal, misalnya penyakit kulit, penyakit sistemik, atau idiopatik, gangguan psikiatri, serta penyakit neurologis. Pruritus menjadi masalah kesehatan karena dapat memberi dampak negatif terhadap kualitas hidup pasien. Pendekatan tata laksana pruritus diberikan secara bertingkat mulai dari terapi dasar, terapi target, dan terapi simtomatik. Pada kasus pruritus kronik yang refrakter maupun pruritus tanpa sebab yang diketahui, terapi simtomatik berperan besar dan dapat diberikan pada pasien tersebut. Tata laksana pada pruritus kronik saat ini banyak diteliti seiring dengan ditemukan berbagai mekanisme yang mendasari terjadinya pruritus. Sesuai dengan patofisiologi dari pruritus, terapi sistemik yang dikembangkan menargetkan pada reseptor spesifik di sistem saraf dan sistem imunitas yang berperan pada jalur sinyal pruritus. Berbagai terapi terbaru yang masih diteliti dalam uji klinis menunjukkan hasil yang menjanjikan dan berpotensi menjadi pilihan terapi pada pasien dengan pruritus kronik.
Faktor Risiko Prediktor Bakteremia pada Pasien Nekrolisis Epidermal Evidence Based Case Report Shafira Anindya; Parikesit Muhammad; Windy Keumala Budianti
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i1.2240

Abstract

Nekrolisis epidermal (NE) yang terbagi atas Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan nekrolisis epidermal toksik (NET) merupakan reaksi simpang obat berat dengan mortalitas tinggi. Penyebab kematian terbanyak pada NE adalah sepsis, namun gejala sepsis tidak spesifik pada NE dan hasil kultur darah membutuhkan waktu lama. Oleh karena itu penting mengetahui prediktor yang berpengaruh terhadap peningkatan risiko bakteremia pada pasien dengan NE. Evidence-based case report ini bertujuan mengetahui faktor prediktor terjadinya bakteremia pada pasien NE berdasarkan literatur. Pencarian artikel menggunakan basis data PubMed, Cochrane, dan Scopus yang relevan dengan pertanyaan klinis untuk kemudian ditelaah. Didapatkan dua artikel kohort yang sesuai. Studi Koh dkk. mendapatkan tiga prediktor yang berpengaruh terhadap kejadian bakteremia pada pasien NE; yaitu hemoglobin ≤ 10 g/dL (odds ratio [OR] 2,4; interval kepercayaan [IK] 95% 2,2-2,6), luas epidermolisis ≥ 10% (OR 14,3; IK 95% 13,4-15,2) dan penyakit komorbid kardiovaskular (OR 2,1; IK 95% 2,0-2,3). Studi De Prost dkk. mendapatkan tiga prediktor yaitu usia > 40 tahun (hazard ratio [HR] 2,5; IK 95% 1,35-4,63), leukosit > 10.000/mm3 (HR 1,9; IK 95% 0,96-3,61), serta LPB ≥ 30% (HR 2,5; IK 95% 1,13-5,47). Epidermolisis yang lebih luas merupakan faktor prediktor terjadinya bakteremia pada NE di kedua studi. Faktor risiko lainnya memerlukan penelitian lebih lanjut.
TATA LAKSANA TERKINI PENYAKIT SINDROM STEVENS-JOHNSON (SSJ)/ NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET) Dina Kusumawardhani; Eyleny Meisyah Fitri; Windy Keumala Budianti; Endi Novianto; Evita Halim Effendi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 1 (2023): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i1.291

Abstract

Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan nekrolisis epidermal toksik (NET) merupakan penyakit yang mengancam nyawa, ditandai oleh adanya ruam dan lepuh yang nyeri, disertai lepasnya lapisan epidermis, atau ulkus pada mukosa mulut, mata, dan genital. SSJ/NET merupakan spektrum terberat dari reaksi efek simpang obat yang dimediasi imun, terutama oleh sel T, dan termasuk reaksi hipersensitivitas tipe IVc. SSJ dan NET adalah penyakit yang sama, dibedakan berdasarkan persentase permukaan kulit yang terlibat yaitu SSJ (<10%), SSJ/NET overlap (10%-30%), dan NET (>30%). SSJ/NET sering disertai keterlibatan multiorgan dengan rerata mortalitas 1-5% pada SSJ dan 25-35% pada NET. Tata laksana optimal SSJ/NET meliputi diagnosis dini, identifikasi dan penghentian obat tersangka, mempertimbangkan kemungkinan adanya infeksi sebagai pencetus, serta terapi suportif sedini mungkin. Terapi suportif yang dilakukan oleh tim multidisipilin merupakan tata laksana utama. Terapi suportif yang baik terbukti dapat memperbaiki kondisi klinis pasien. Rekomendasi penggunaan terapi sistemik berupa kortikosteroid, siklosporin, intravenous immunoglobulin (IVIg), plasmaferesis, dan terapi target, hingga saat ini sangat bervariasi karena belum terdapat bukti efikasi berdasarkan penelitian randomized controlled trial.
PATOGENESIS DAN TATA LAKSANA DERMATITIS ATOPIK TERKINI Teguh Hopkop Putera Manurung; Eyleny Meisyah Fitri; Windy Keumala Budianti; Sondang P Sirait; Eliza Miranda
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 2 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i4.295

Abstract

Dermatitis atopik (DA) merupakan salah satu dermatosis kronik yang ditandai dengan eksema berulang yang disertai dengan rasa gatal yang tidak tertahankan dan dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang bermakna. Studi terdahulu melaporkan faktor genetik, sawar kulit, disregulasi sistem imun, dan faktor eksternal saling memengaruhi dalam menimbulkan penyakit. Meskipun gambaran klinis DA pada tiap pasien relatif sama, studi terkini menyatakan tiap pasien memiliki perbedaan dalam komponen yang dominan berperan dalam patogenesis penyakit. Terapi standar DA saat ini meliputi kortikosteroid, inhibitor kalsineurin, dan pelembap. Pemahaman mengenai patogenesis DA penting untuk mengembangkan modalitas terapi DA yang baru. Uji klinis obat terhadap sitokin (dupilumab, tralokinumab, dan lebrikizumab), molekul kecil (apremilast, crisaborol, tofacitinib, dan baricitinib), reseptor (tapinarof), dan mikrobiom yang terlibat pada DA telah banyak dilakukan dan diharapkan dapat memberi solusi pada tata laksana DA. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk memaparkan studi terkini mengenai patogenesis dan berbagai modalitas terapi yang telah dikembangkan untuk tata laksana DA.
Inhibitor Transient Receptor Potential Vanilloid Type 1: Penggunaan Topikal pada Berbagai Dermatosis Muhammad, Parikesit; Paramitha Wibawa, Larisa; Keumala Budianti, Windy; Legiawati, Lili; Menaldi, Sri Linuwih; Rosdiana, Dewi Selvina
Jurnal MedScientiae Vol 3 No 2 (2024): August
Publisher : Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/JMedScientiae.v3i2.3179

Abstract

Transient receptor potential vanilloid type 1 (TRPV1) plays an important role in the pathophysiology of pruritus and pain. TRPV1 inhibitors can reduce the sensation of itching and pain by blocking nociceptive signals from peripheral nerve fibers to the central nervous system. Topical TRPV1 inhibitors is also thought to improve skin barrier function. Therefore, TRPV1 inhibitors are considered as potential therapy in various dermatoses. Topical TRPV1 inhibitors that are currently being studied are asivatrep for atopic dermatitis and trans-4-tert-butylcyclohexanol for various dermatoses associated with sensitive skin. Further studies with better quality and longer duration are needed to assess the efficacy and safety profile of TRPV1 inhibitors.
Cotton swabs for the measurement of NF-ĸB, IFN-γ, and FOXP3+Treg from lesions of anogenital wart patients Hutabarat, Hernayati; Bramono, Kusmarinah; Indriatmi, Wresti; Wibowo, Heri; Budianti, Windy Keumala; Suyatna, Fransiscus Dhyanagiri; Prihartono, Joedo; Mawardi, Prasetya
Medical Journal of Indonesia Vol. 33 No. 3 (2024): September
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13181/mji.oa.247496

Abstract

BACKGROUND Local tissue immunity plays a significant role in anogenital warts’ (AGW) pathomechanism and persistence. Assessing biomarkers from lesions instead of serum is recommended to evaluate therapeutic response. Since biopsy is invasive, it is necessary to find less invasive and more comfortable methods. This study aimed to assess the reliability of cotton swabs and tape stripping for evaluating AGW’s lesions biomarkers. METHODS We compared cotton swab versus tape stripping method to quantify nuclear factor-κappaB (NF-ĸB), interferon-gamma (IFN-γ), and FOXP3+regulatory T cell (FOXP3+Treg) from 3 patients with AGW in the preliminary study. The method was selected based on contamination possibility, side effects, and a simpler approach. The main study examined 48 patients with AGW for reliability and reproducibility using the best sampling method from preliminary result and Spearman’s Rho analysis, while considering the HIV status and CD4+ counts. RESULTS Both cotton swabs and tape stripping obtained adequate protein content for biomarkers examination. However, the tape stripping method was causing serum contamination and painful for patients due to the stripping. The total lesion volume in cotton swab method was positively correlated with all patients’ NF-ĸB (p = 0.001). IFN-γ had a negative correlation in all reactive HIV patients (p = 0.012). FOXP3+Treg and CD4+ counts were negatively correlated with total volume in reactive HIV patients (p = 0.046 and 0.017, respectively). CONCLUSIONS The cotton swab method was reliable in examining NF-ĸB, IFN-γ, and FOXP3+Treg due to its convenience and lack of serum contamination from AGW lesions, potentially improving patient comfort and practical benefits.
Temuan Klinis dan Terapi Dini pada Anak dengan Sindrom Ramsay-Hunt Noerfani, Rahma Rafina; Budianti, Windy Keumala; Permatasari, Nadya Aninditha; Gifani, Fathya Nabila
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 31 No 2 (2025): MARCH
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v31i2.3497

Abstract

Introduction: Ramsay-Hunt syndrome is a complication of the varicellazoster virus that causes inflammation of the geniculate ganglion cranialnerve VII. This disease is a rare case in children. This case report aims tohighlight the importance of diagnosis, early examination, andappropriate therapy to prevent complications and poor prognosis. CaseIllustration: A 9 year-old girl presented with clear fluid-filled blisters inher left ear for four days before going to the hospital. Two days after thelesions came out, she complained of her face feeling tilted to the right,difficulty close her left eye, and the corner of her mouth being moredrawn towards the normal side. The left auricular helix fossa regionshowed a rash of multiple vesicles in groups containing clear fluid withan erythematous skin base, distributed unilaterally according to thedermatome. The patient was diagnosed with Ramsay-Hunt syndrome.She was treated with a combination of oral acyclovir andmethylprednisolone injections. Discussion: Antiviral therapy within 24–72 hours after the onset of the rash is very effective for healing of the rashand reducing the duration of pain. Corticosteroid as an antiinflammatory can reduce peripheral nerve damage and edema.Combination of corticosteroid with acyclovir for 7 days in herpes zosteraccompanied by facial paralysis is very effective in significantly reducingacute pain and reducing the risk of complications. Conclusion:The exactdiagnosis and combination of antiviral with corticosteroid therapy inchildren can be beneficial in reducing the duration of lesions and pain aswell as the risk of complications.
DERMATOMIOSITIS ANTI-MDA5: LAPORAN DUA KASUS SUATU ENTITAS DENGAN MANIFESTASI DAN PROGNOSIS BERAGAM Halim, P. Anthony; Hamdali, Christie; Pranathania, Andravina; Fitri, Eyleny Meisyah; Budianti, Windy Keumala; Novianto, Endi; Indrawati, Luh Ari
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.505

Abstract

Pendahuluan: Dermatomiositis anti-melanoma differentiation-associated protein 5 (DM-MDA5) adalah penyakit autoimun sistemik langka yang memiliki temuan klinis bervariasi dan banyak dipelajari dalam satu dekade terakhir. Subtipe tersebut umumnya bermanifestasi sebagai DM amiopatik atau hipomiopatik, sering disertai intersitial lung disease (ILD) berpotensi fatal. Dalam makalah ini, kami melaporkan untuk pertama kalinya di Indonesia, variasi gambaran klinis, radiologis, laboratorium, dan prognosis dua kasus DM-MDA5. Kasus: Pasien pertama, seorang perempuan 25 tahun dengan ruam kemerahan khas DM, kelemahan otot ringan, artralgia, dan alopesia. Pasien kedua, seorang perempuan 43 tahun dengan ruam kemerahan khas DM, ulserasi kulit, rambut rontok, kelemahan otot, nyeri sendi, dan sesak nafas. Diagnosis DM ditegakkan sesuai kriteria Sontheimer dan American College of Rheumatologist/European League Against Rheumatism (ACR/EULAR) 2017. Pada kedua pasien terdeteksi anti-MDA5 dengan titer positif kuat. Rontgen toraks dan CT scan menunjukkan ILD pada pasien kedua. Tata laksana kombinasi menggunakan kortikosteroid dan imunosupresan sistemik, kortikosteroid topikal, penghambat kalsineurin topikal, dan fotoproteksi ketat memperbaiki gejala klinis pada kedua pasien. Diskusi: Pasien DM-MDA5 dapat digolongkan menjadi beberapa fenotipe klinis sesuai temuan klinis dan laboratorium, dengan prognosis beragam terkait insidensi ILD. Kasus pertama memiliki prognosis baik, sedangkan kasus kedua cenderung memiliki prognosis sedang. Hingga kini, belum terdapat tata laksana spesifik DM-MDA5, tetapi terapi antifibrotik dapat bermanfaat pada kasus dengan ILD. Kesimpulan: Klinisi perlu mengenali subtipe DM ini karena memiliki manifestasi yang bervariasi namun cukup khas, dengan prognosis yang beragam. Evaluasi dan tata laksana dini secara multidisiplin pada pasien DM-MDA5 dapat mencegah progresivitas penyakit dan kematian akibat komplikasi.
TANTANGAN TATA LAKSANA PSORIASIS VULGARIS BERAT PADA PASIEN DENGAN SINDROM IMUNODEFISIENSI AKUISITA Ramadhani, Reinanda Marizki; Budianti, Windy Keumala; Fitri, Eyleny Meisyah; Ling, Michael Sie Shun; Hapsari, Windy Atika
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 2 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i2.519

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi psoriasis dilaporkan meningkat pada pasien sindrom imunodefisiensi akuisita (SIDA). Tata laksana psoriasis vulgaris berat pada pasien SIDA merupakan tantangan tersendiri karena dibutuhkan pertimbangan terapi yang selektif untuk meminimalkan efek samping terutama pada kondisi imunokompromais. Pada kasus, dilaporkan resolusi komplit psoriasis vulgaris berat pada pasien SIDA. Laporan kasus: Seorang laki-laki 37 tahun mengeluh bercak merah bersisik tebal pada skalp, wajah, badan, dan kedua ekstremitas yang dirasakan memberat sejak 3 bulan lalu. Pasien memiliki riwayat SIDA namun putus obat. Pada regio skalp, wajah, badan, dan ekstremitas ditemukan plak eritematosa, multipel, skuama putih kering kasar berlapis, body surface area 46,5%, skor psoriasis area severity index 39,6. Pasien diberikan fototerapi narrowband UV-B (NB-UVB), obat anti retroviral (ARV), terapi topikal, serta tata laksana multidisiplin. Diskusi: Terdapat perbedaan alur tata laksana psoriasis vulgaris berat pada pasien SIDA. Lini pertama, penggunaan ARV, fototerapi, terapi topikal dengan keterlibatan multidisiplin. Lini kedua retinoid oral dan bila recalcitrant baru dipertimbangkan pemberian obat non biologik atau obat biologik secara hati-hati. Kesimpulan: Pemilihan tata laksana psoriasis vulgaris berat pada pasien SIDA memiliki alur berbeda karena harus sangat selektif dengan pertimbangan risiko dan manfaat yang sesuai. Terapi kombinasi fototerapi NB-UVB, terapi topikal, obat ARV, dan kerja sama multidisiplin memberikan resolusi komplit.
Sifilis Menyerupai Lupus Eritematosus: The Great Imitator Budianti, Windy Keumala; Sarah, Ratu Siti Khadijah
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 30 No 1 (2024): JANUARI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v30i1.2883

Abstract

Manifestasi klinis yang terlihat pada sifilis sering menyerupai penyakit inflamasi kronis seperti lupus eritematosus. Sebuah studi menyatakan angka kejadian misdiagnosis sifilis dengan lupus eritematosus sebanyak 166 kasus sepanjang tahun 2006-2011. Seorang laki-laki 24 tahun datang dengan lesi oral, bercak merah pada kedua telapak tangan dan kaki disertai telogen efluvium, madarosis, artralgia, dan nyeri otot. Pasien telah didiagnosis Lupus Eritematosus Sistemik (LES) dengan keterlibatan mukokutan dan muskuloskeletal berdasarkan klinis dan serologis kemudian dirawat oleh sejawat Internis dengan obat imunosupresan selama 3 minggu tetapi keluhan bertambah parah. Pasien kemudian dirujuk ke dokter dermatologi dan venereologi untuk pengobatan bercak pada telapak tangan dan kaki. Hasil pemeriksaan mengarah pada sifilis sekunder dan didukung hasil serologi. Pasien mendapatkan injeksi benzathine penicillin 2,4 juta IU intramuskular dan klinis membaik dalam satu minggu. Tujuan laporan kasus ini untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap diagnosis sifilis yang merupakan the great imitator yang memiliki tampilan klinis dan serologis menyerupai penyakit autoimun.
Co-Authors Adhimukti T Sampurna Aldri Frinaldi Alessa Fahira Andardewi, Melody Febriana Andravina Pranathania Anis Irawan Arlha Aporia Debinta Arlha Aporia Debinta Astri Adelia Astri Adelia, Astri Aulia, Izzah Aziza, Anggita Nur Benny Effendi Wiryadi Bianti, Marsha Cita R. S. Prakoeswa Debinta, Arlha Aporia Dina Kusumawardhani Edwin Ti Ramadan Effendy, Isaak Eliza Miranda Elsa Fitria Apriani Endi Novianto Erdina H. D Pusponegoro Erdina Pusponegoro Evita Halim Effendi Evita Halim Effendi Evita Halim Effendi Eyleny Meisyah Fitri Eyleny Meisyah Fitri Eyleny Meisyah Fitri Eyleny Meisyah Fitri Fahira, Alessa Farida Zubier Fitri, Eyleny Meisyah Fitria Agustina Fitria Agustina Gifani, Fathya Nabila Githa Rahmayunita Halim, Dionisius Ivan Yonathan Halim, P. Anthony Hamdali, Christie Harijono Kariosentono Heri Wibowo Hutabarat, Hernayati Hutasuhut, Magna Indrawati, Luh Ari Irawan, Yudo Irwan Saputra Batubara Isni Maulina Sukmara, Isni Maulina Joedo Prihartono Julianto, Tommy Kristian Kurniawan Kuniawan, Kristian Kusmarinah Bramono Larisa Paramitha Lili Legiawati Ling, Michael Sie Shun Mahda Rizki Liana Mahdi Jufri Marissa, Melani Mawardi, Prasetya Medina Aulia Rahmi Meilinda, Puti Rineska Melani Marissa Melody Febriana Andardewi Muhammad, Parikesit Natalia Rania Sutanto Noerfani, Rahma Rafina Oktarina, Caroline Olivia, Taruli Pandelaki, Paulus Anung Anindita Parikesit Muhammad Permatasari, Nadya Aninditha Pranathania, Andravina Purnawan, Shafira Anindya Puti Rineska Meilinda Putu Martha Gerynda Sukma Rahadi Rihatmadja Rahadi Rihatmadja Ramadan, Edwin Ti Ramadhani, Reinanda Marizki Ratu Siti Khadijah Sarah Retno Widowati Soebaryo Riani Laurensia Rinadewi Astriningrum Riris Asti Respati Roro Inge Ade Krisanti Rosdiana, Dewi Selvina Sandra Widaty Sari Chairunnisa Setyorini, Mirawati Shafira Anindya Shafira Anindya Shafira Anindya Purnawan Shafira Anindya, Shafira Shannaz Nadia Yusharyahya Shannaz Nadia Yusharyahya Sirait, Sondang Panjaitan Situmeang, Irhen Sri L. Menaldi Surachmiati Suseno, Lis Suyatna, Fransiscus Dhyanagiri Taruli Olivia Teguh Hopkop Putera Manurung Windy Atika Hapsari, Windy Atika Wresti Indriatmi B. Makes Yasnova, Nevi Yudo Irawan