Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Megaptera

Identifikasi Fasilitas dan Strategi Pengembangan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPII) DUMAI Selama Pandemi COVID-19 Rikardo, Muhammad; Mardiah, Ratu Sari; Tiku, Mathius; Ikhsan, Suci Asrina; Hutapea, Roma Yuli Felina
JURNAL MEGAPTERA Vol 2, No 2 (2023): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v2i1.13831

Abstract

Pangkalan Pendaratan Ikan (PPII) Dumai merupakan sentral kegiatan perikanan tangkap, tetapi belum memiliki fasilitas yang memadai secara fungsi nya. Selama 13 tahun beroperasi di Kelurahan Pangkalan Sesai, PPII Dumai belum mengalami pengembangan fasilitas yang signifikan. Hal ini disebebkan oleh beberapa faktor. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi fasilitas-fasilitas PPI Dumai dan menentukan strategi pengembangan PPI Dumai. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dan wawancara menggunakan kuisioner terbuka kepada 5 nelayan dan 3 petugas Pelabuhan Perikanan. Data diolah secara deskriptif dengan analisis tingkat pemanfaatan fasilitas pelabuhan perikanan dan SWOT. Berdasarkan hasil identifikasi, PPI Dumai termasuk tipe pelabuhan perikanan D, yaitu PPII (Pangkalan Pendaratan Ikan) Dumai. Fasilitas di PPI Dumai terdiri atas fasilitas pokok (5 macam fasilitas), fungsional (9 macam fasilitas) dan penunjang (7 macam fasilitas). Tingkat pemanfaatan fasilitas-fasilitas PPI Dumai 78%, maka tingkat pemanfaatan fasilitas belum mencapai kondisi optimal. Pengembangan pelabuhan perikanan Dumai dapat dilakukan dengan menggunakan strategi S-O (strength-oPPIortunity), yaitu strategi menerapkan kekuatan dengan memanfaatkan peluang kebijakan yang bersifat agresif.Fishing Port (PPI) of Dumai is one of the infrastructure used by Dumai fishermen to carry out capture fisheries activities. The facilities owned by fishing ports are determining in optimizing capture fisheries activities. Therefore, the aim of this research is to identify the condition of PPI Dumai's facilities and determine PPI Dumai's development strategy. The research was carried out using survey and interview methods with 5 fishermen and 3 fishing port officers. The data is processed descriptively by analyzing the level of utilization of fishing port facilities and SWOT. Based on the identification results, PPI Dumai is included in type D fishing port, namely PPII (Fish Landing Base) Dumai. Facilities at PPI Dumai consist of basic facilities (5 types of facilities), functional (9 types of facilities) and suPPIorting (7 types of facilities). The level of utilization of PPI Dumai facilities is <100%, so the level of facility utilization has not reached optimal conditions. The development of the Dumai fishing port can be carried out using the S-O (strength-oPPIortunity) strategy, namely the strategy of aPPIlying strength by taking advantage of aggressive policy oPPIortunities.
Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Umpan Buatan Menggunakan Durable Artificial Bait (DAB) Di Kota Dumai Mardiah, Ratu Sari; Yusrizal, Yusrizal; Ridwan, Ridwan; Dewi, Priyantini; Febriyanto, Fredi
JURNAL MEGAPTERA Vol 4, No 1 (2025): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v4i1.15893

Abstract

Umpan tiruan merupakan salah satu hasil perikanan tangkap yang diperdagangkan. Faktanya, 75% masyarakat Indonesia mempunyai hobi memancing dan membutuhkan umpan untuk memancing. Pemancing di Dumai biasanya membuat sendiri umpan buatan dan membutuhkan waktu dalam pembuatannya. Ketersediaan umpan buatan di Dumai belum efektif di perjualbelikan. Jadi, peluang usaha pembuatan umpan buatan sangat besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan umpan buatan menggunakan teknologi Durable Artificial Bait (DAB). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara kepada pelaku usaha dan survei pasar di Dumai selama 4 bulan. Analisis data yang digunakan adalah keuntungan produksi, R/C Ratio dan BEP. Hasil penelitian menyatakan bahwa usaha pembuatan umpan ikan dengan DAB dinilai layak. Hasil analisis total biaya sebesar Rp. 456.722,-. Pendapatan tahunan adalah Rp. 13.440.000.- dan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 7.959.333. Nilai R/C Ratio yang diperoleh sebesar 2,45 sehingga layak untuk dilakukan dan dikembangkan. Nilai BEP harga produk ini adalah Rp. 14.273/kemasan. Kesimpulannya, bisnis umpan buatan dengan penambahan teknologi terbarukan yaitu Teknologi Bau Tahan Lama (DAB) dinyatakan layak secara finansial dan dapat membangun startup di bidang perikanan tangkap.Artificial bait is one of the commercial products derived from capture fisheries. In fact, 75% of the Indonesian population enjoys fishing as a hobby and requires bait for this activity. Anglers in Dumai usually make their own artificial bait and it takes time to make it. The availability of artificial bait in Dumai is not yet effective in trading. Therefore, the business opportunity for manufacturing artificial bait is highly promising. The objective of this study is to analyze the feasibility of artificial bait production utilizing Durable Artificial Bait (DAB) technology. The data collection methods used were interviews with business practitioners and market surveys conducted in Dumai over a period of four months. The data analysis included production profit, R/C Ratio, and Break-Even Point (BEP). The results indicate that the artificial bait manufacturing business incorporating Durable Odor Technology (DAB) is feasible. The total production cost was recorded at IDR 456,722. The annual revenue reached IDR 13,440,000, with a net profit of IDR 7,959,333. The R/C Ratio was calculated at 2.45, indicating that the business is viable and has potential for further development. The BEP for the product was determined at IDR 14,273 per package. In conclusion, the artificial bait business utilizing the latest innovation—Durable Odor Technology (DAB)—is financially feasible and has the potential to support the development of a startup in the capture fisheries sector.