Surachmi Setiyaningsih
Departemen Ilmu Penyakit Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Jln. Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat 16680

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Bioekologi vektor demam berdarah dengue (DBD) serta deteksi virus dengue pada Aedes aegypti (Linnaeus) dan Ae. albopictus (Skuse) (Diptera: Culicidae) di kelurahan endemik DBD Bantarjati, Kota Bogor Zahara Fadilla; Upik Kesumawati Hadi; Surachmi Setiyaningsih
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 12 No 1 (2015): Maret
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.613 KB) | DOI: 10.5994/jei.12.1.31

Abstract

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a viral disease that threatened community health in Indonesia. As part of an eradication program, it is important to learn the behavioral aspect of the disease vector. The aims of this study were to detect the presence of dengue virus in Aedes spp., at Bantarjati Village, Bogor City and to learn to bioecology of. Aedes aegypti (Linnaeus). Detection of dengue virus in Aedes spp. were done by reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) technique that consist of two phase were synthesis phase and cDNA amplification and dengue virus serotipe characterization. The Ae. aegypti and Ae. albopictus (Skuse) mosquitoes were collected using the landing and resting moquito collection technique booth indoors and outdoors. The highest density of Ae. aegypti and Ae. albopictus were found in April and the peak activity was occurred at 10:00-11:00 am. Dengue virus was not detected in female mosquitoes Aedes spp.
The Kejadian Pertama Rabbit Haemorrhagic Disease Berdasarkan Studi Seroprevalensi di Provinsi Jawa Barat, Indonesia Retno Setyaningsih; I Wayan Teguh Wibawan; Surachmi Setiyaningsih; Ekowati Handharyani; Sri Murtini; Ahmad Biharidin
Jurnal Veteriner Vol 23 No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2022.23.3.409

Abstract

Rabbit Haemmorhagic Disease (RHD) is one of viral diseases in rabbits that is still exotic in Indonesia. The RHD disease is caused by the Rabbit Haemorrhagic Disease Virus (RHDV) which is a calicivirus of the genus Lagovirus, Caliciviridae family. The high genetic variation of the RHDV and the rapid spread have the potential to disrupt rabbit farm (rabbittery) production and trade activities, especially rabbit exports, which require clarity on the status and situation of RHD disease in rabbits in Indonesia. A case of suspected RHD in Indonesia was first detected in the Philippines where rabbits exported from Indonesia were detected to be seropositive to RHD which resulted in rabbit export activities to the country was stopped. There is no data on the presence of RHD disease in rabbits in Indonesia, so the seroprevalence study is useful to provide preliminary information on the presence of this disease in Indonesia. This study was conducted on 163 rabbits samples raised in the Lembang area, Bandung, West Java, which is known as the largest rabbit farming center in Indonesia. Rabbit samples were taken at rabbit farms spread across seven villages namely Lembang, Pagerwangi, Cikahuripan, Cikole, Sukajaya, Gudangkahuripan and Jambudipa. The rabbits serum samples obtained were tested using the Indirect Enzym Linked Immunosorbant Assay (ELISA) method to determine the titer of antibodies against RHD. Based on the results of the analysis, it is known that 120 out of 163 rabbit serum samples showed positive antibody titers against RHD. The presence of antibody titers in rabbits on such farms can be preliminary information to be able to carry out further studies.
Distribusi Penyebaran Bovine Viral Diarrhea Virus (BVDV) pada Sapi Potong Impor asal Australia Di Sukabumi Berdasarkan Uji Serologis Aditya Primawidyawan; Retno Wulansari; Surachmi Setiyaningsih; Mawar Subangkit; Bambang Pontjo Priosoeryanto
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.1.51-62

Abstract

Virus Bovine Viral Diarrhea (BVDV) secara luas diakui memiliki dampak ekonomi yang signifikan pada ternak yang terinfeksi. Kerugian penyakit ini meliputi, hewan Persistenly Infection (PI) yang kurang sehat, penyakit reproduksi, penurunan produksi, pertumbuhan yang buruk, dan berpengaruh immunosupressif terhadap hewan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan suatu kajian pola distribusi penyebaran dengan karakterisasi gejala klinis serta mendeteksi adanya kaitan pemeliharaan kandang sebagai faktor risiko sumber penularan penyakit BVD pada sapi potong impor. Jumlah hewan yang diambil 100 ekor sapi yang didapatkan dengan metode penghitungan kajian lintas seksional dengan pertimbangan penyakit ini sudah ada di Indonesia. Persebaran penyakit pada setiap kandang kandang A sampai H dengan total 80 ekor sapi terlihat sampel positif merata sebanyak 21 sampel pada posisi nilai S-N sebesar 0,3-0,7 di pengambilan awal dan meningkat pada nilai S-N sebesar 0,9-1,5 sebanyak 53 sampel. Peningkatan penyebaran pada kandang diluar kandang karantina mencapai 2,5x lipat mengindikasikan penyebaran BVDV cukup tinggi. Pengelolaan limbah buruk akan berpeluang 2,483 kali lebih besar menimbulkan hasil ELISA antigen positif bila dibandingkan dengan peternakan yang memiliki pengelolaan limbah yang baik (OR=2,483; CI=1,066-5,783). Program biosekuriti buruk akan berpeluang 2,667 kali lebih besar menimbulkan hasil ELISA Ag BVD positif dibandingkan dengan peternakan yang memiliki program biosekuriti yang baik (OR=2,667; CI=1,145-6,210). Bangsa Brahman Cross berpeluang tiga kali lebih besar memiliki peluang hasil positif bila dibandingkan dengan sapi yang memiliki ras non-Brahman Cross (OR=3; CI=1,269-7,091). Sedangkan umur sapi > dua tahun akan berpeluang 3,241 dibandingkan dengan umur sapi yang < dua tahun (OR= 3,241; CI=1,411-8,912). Impak studi penelitian terhadap jurnal ini adalah memberikan informasi distribusi penyebaran penyakit BVD asal dari hewan sapi impor dari Australia yang berguna sebagai pertimbangan tindakan preventif dalam upaya pengendalian penyakit.
DETEKSI MOLEKULER DAN KERAGAMAN VIRUS NEWCASTLE DISEASE PADA AYAM KAMPUNG DI WILAYAH ACEH Darniati D; Surachmi Setiyaningsih; Agustin Indrawati
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.562 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2841

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaan virus Newcastle disease (VND) dan mengkaji keragaman dari virus terisolasi. Sampel penelitian berupa usapan kloaka dan orofaring dari 177 ekor ayam kampung yang diambil dari unggas pekarangan dan pasar unggas di 12 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Penapisan virus dilakukan pada sampel pool dengan real-time reverse transcriptation-polymerase chain reaction (rRT-PCR) dengan target gen matriks. Inokulasi 309 sampel representasi 157 ayam asal pool positif matriks pada telur ayam berembrio spesifik pathogen free (SPF) menghasilkan 69 isolat yang berasal dari 51 ekor ayam. Sebagian besar (45,09%)ayam mengeluarkan virus melalui orofaring, 25,39% melalui kloaka dan orofaring, serta 19,61% melalui kloaka. Karakterisasi keragaman isolat dilakukan dengan uji hemagglutination inhibition (HI) menggunakan serum Komarov dan Hitchner B1, rRT-PCR gen fusi dan uji elusi. Adanya keragaman epitop permukaan virus ditunjukkan dengan titer HI yang bervariasi antar isolat, perbedaan mencapai 4 log dengan serum Komarov, dan 3 log dengan B1. Sebagian besar isolat mempunyai afinitas yang lebih tinggi terhadap serum Komarov yang mengindikasikan kecenderungan kepada galur virulen. Penentuan patogenisitas menggunakan rRT-PCR menunjukkan 73,95% isolat termasuk ke dalam galur virulen (mesogenik/velogenik), sementara dari uji elusi menunjukkan 72,46% isolat termasuk galur velogenik, 20,29% mesogenik dan 7,25% dari galur lentogenik.
KAJIAN RISIKO Campylobacter sp. PADA AYAM PANGGANG Andriani a; Mirnawati Soedarwanto; Surachmi Setiyaningsih; Harsi Dewantari Kusumaningrum
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.659 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.570

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis kuantitatif risiko mengonsumsi ayam panggang apabila terjadi salah penanganan. Proses pemanggangan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan suhu dan waktu komersial yaitu 150 C selama 30 menit. Simulasi penambahan kultur Campylobacter sp. 106 cfu/ml sebelum dilakukan pemanggangan dilakukan untuk mengetahui angka reduksi Campylobacter sp. Model probabilitas digunakan untuk memperkirakan variabilitas data yang digunakan pada penelitian ini adalah model beta poisson. Hasil yang diperoleh adalah terjadi penurunan jumlah mikroorganisme sebanyak 2 log cfu/gram dan peluang sakit bagi manusia yang mengonsumsi daging ayam yang dipanggang berkisar antara 9 dari 1.000 manusia.
VERIFIKASI UJI CEPAT KOMERSIAL Escherichia coli PADA CONTOH UJI DAGING SAPI BEKU (Verification of Escherichia coli Commercial Rapid Test Kit on Frozen Meat) Yasmine Qurrota Ayunina; Trioso Purnawarman; Surachmi Setiyaningsih
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 2 (2016): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.991 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i2.5088

Abstract

This study was aimed to assess the performance and suitability of commercial rapid test compared to the conventional test through verification process. This study used frozen meat from laboratory routine samples which divided into five groups, those were: natural group, low bacteria level group, medium bacteria level group, high bacteria level group, and control group, each sample test performed 9 replicates. All samples were tested for E. coli by conventional method (SNI 2897:2008) and commercial rapid test method. E. coli test result from both methods was calculated as precision (relative standard deviation), sensitivity, specificity, false negative, false positive, and kappa. The results showed that the commercial kit test had good precision with relative standard deviations score was 0.103. The sensitivity, specificity, false negative, false positive, and kappa score were 94.44%, 100%, 5.56%, 0%, and 0.872, respectively, indicates an equal performance with conventional method. The t student test showed that commercial rapid test method and conventional method had suitability on natural group, low bacteria levels group and medium bacteria level group.
Identification and Molecular Characterization of Newcastle Disease Virus Circulates in some districts in Aceh M Daud AK; Surachmi Setiyaningsih; Idwan Sudirman
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 13, No 1 (2019): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.49 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v13i1.5832

Abstract

The objectives of this study were to assess the diversity of Newcastle Disease Virus (NDV) isolates; to detect and isolate NDV from poultry; and to identify and characterize NDV by serological and molecular assays. A total of 84 cloacal-oropharynx isolates of poultry was collected from privately owned poultries and poultry markets from 12 districts in Aceh Besar and Banda Aceh. Screening was performed by real time reverse transcriptation-polymerase chain reaction (rRT-PCR) to 15 isolates of poultry. Selected isolates were inoculated in 9-11 days old embryonated specific pathogen free (SPF) eggs and showed positive hemagglutination (HA). Characterization was performed through hemagglutination inhibition (HI) test using Komarov and Hitchner B1 antisera, elution test, RT-PCR and realtime RT-PCR fusion (F). All isolates had a higher affinity to Komarov antisera (titer up to 4 log), indicating virulent strain. This was supported by elution test which showed that 93.66% isolates were virulent and 6 % non-virulent. In conclusion, RT-PCR can detect Matrix gene from 15 isolates (100%), while Fusion gene only detected from 11 isolates (73.3%). rRT-PCR is more capable of detecting antigenic diversity compared to RT-PCR.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BIOLOGIK VIRUS NEWCASTLE DISEASE Emilia A; Surachmi Setiyaningsih; Retno Damayanti Soejoedono
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.788 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2789

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh informasi infeksi dan sifat-sifat biologis virus Newcastle disease (ND) pada ayam ras maupunayam buras. Sejumlah 529 sampel usap kloaka dikoleksi dari pasar-pasar tradisional dan peternakan rakyat di daerah Bogor dan Tangerang. Sebanyak 20 sampel terdeteksi positif melalui real time reverse transcription-polymerase chain reaction (RRT-PCR) sedangkan dengan isolasi virus terdeteksi positif sebanyak 11 sampel. Selanjutnya empat isolat representasi lokasi dipilih untuk karakterisasi patogenisitas dengan metode mean death time (MDT) pada telur ayam berembrio (TAB) specific pathogen free (SPF), dan karakterisasi antigenisitas menggunakan metode haemagglutination inhibition (HI) dan virus netralisasi (VN) untuk melihat keragaman antar isolat virus. Uji MDT memperlihatkan dua isolat(kode isolat II dan XIII) adalah mesogenik, satu isolat (kode isolate VIII) termasuk lentogenik, dan satu isolat (kode isolat TW) bersifat velogenic. Tiga dari empat isolat menunjukkan hubungan antigenik dengan virus ND strain Komarov dan G7 (genotipe 7) tetapi tidak dengan strain referensi Lasota, sementara isolat velogenic (kode TW) yang berasal dari ayam kampung menunjukkan reaksi silang tinggi dengan antiserum terhadap tiga strain referensi di atas. Sampel-sampel yang diambil di lapang baik itu berasal dari pasar dan peternakan rakyat meskipun secara klinis tidak memperlihatkan gejala sakit dapat diisolasi virus ND dengan karakteristik yang beragam.
Tanggap Antibodi terhadap Capsid Virus Penyakit Jembrana setelah Vaksinasi Lapang Sapi Bali di Kabupaten Sarolangun, Jambi Ferry Ardiawan; Okti Nadia Poetri; Nur Khusni Hidayanto; Ari Rumekso; Dilas Pradana; Surachmi Setiyaningsih
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.2.167-174

Abstract

Penyakit Jembrana (JD) adalah penyakit prioritas nasional yang disebabkan oleh infeksi lentivirus pada sapi Bali. Pemerintah merekomendasikan vaksinasi sebagai langkah penting pengendalian di wilayah endemis. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dinamika tanggap antibodi dengan melakukan kajian kohort sejalan dengan program vaksinasi JD di Desa Pematang Kabau oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun. Sera dari 36 sapi Bali pendatang, yang menerima dua dosis vaksin JD-Vet® dengan selang waktu 30 hari, dikoleksi pada hari 0, 44, dan 90. Antibodi spesifik kapsid virus JD (JDV) diukur menggunakan metode ELISA. Sebelum vaksinasi, 88,89% sapi menunjukkan hasil seronegatif, sedangkan 11,11% menunjukkan seropositif yang menandakan adanya paparan JDV terdahulu. Tidak ada reaksi membahayakan yang diamati pada sapi yang divaksinasi. Vaksinasi menurunkan titer antibodi secara signifikan pada sapi seropositif. Sebaliknya, 71,87% sapi seronegatif menunjukkan respons positif, meskipun hanya 40,63% yang mencapai tingkat seroprotektif pada hari ke-44. Persentase ini menurun secara signifikan menjadi 15,63% pada hari ke- 90, mengindikasikan durasi kekebalan yang relatif pendek. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan status kekebalan pravaksinasi dan menegakkan pengendalian lalu-lintas sapi Bali. Meskipun vaksin JD-Vet® terbukti aman, namun mempertahankan kadar antibodi yang tinggi masih menjadi tantangan. Kajian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mengoptimalkan strategi vaksinasi dan meningkatkan pengendalian JD pada sapi Bali.
Prevalensi Virus Demam Babi Afrika pada Produk Daging Babi yang Diuji di Laboratorium Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian Seruni Agistiana; , I Wayan Teguh Wibawan; Surachmi Setiyaningsih; Ni Luh Putu Ika Mayasari; Harimurti Nuradji; Sriyanto Sriyanto; Risma Juniarti Paulina Silitonga
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.264

Abstract

Demam babi afrika atau African swine fever (ASF) adalah penyakit viral lintas batas yang sangat menular pada babi domestik dan babi liar yang disebabkan oleh virus ASF (ASFV). Virus ini memiliki daya tahan hidup dan stabilitas yang tinggi di lingkungan, mampu bertahan lama pada benda mati seperti peralatan dan pakaian yang tercemar atau pada produk daging dari babi yang terinfeksi ASFV. Penelitian ini bertujuan mendeteksi ASFV pada produk daging babi dan olahannya di Indonesia. Sejak tahun 2019, Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP) yang merupakan salah satu laboratorium rujukan milik pemerintah di bawah naungan Badan Karantina Pertanian (Barantan), memiliki tugas untuk melakukan pengujian deteksi ASFV salah satunya adalah menguji sampel produk daging babi. Prevalensi dihitung berdasarkan data sekunder hasil pengujian qualitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) dalam deteksi ASFV pada produk daging babi yang dilakukan di laboratorium BBUSKP, Jakarta Timur tahun 2020-2022. Terdeteksinya ASFV pada produk daging babi sebanyak 8.2% di tahun 2020, 24.8% di tahun 2021 dan 11.6% pada tahun 2022 memperkuat bahwa produk daging babi berpotensi menjadi media pembawa ASF di Indonesia.