Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor-Faktor Pengaruh Ukuran Urban Compactness di Kota Denpasar, Bali I Putu Praditya Adi Pratama; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.072 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i1.11095

Abstract

Urban sprawl mengakibatkan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, hilangnya luas dan fungsi ruang terbuka hijau, serta membentuk morfologi kota yang tidak teratur. Konsep kota kompak (compact city) muncul sebagai revitalisasi terhadap urban sprawl. Potensi penerapan konsep kota kompak pada suatu wilayah dapat dilihat melalui pengukuran urban compactness. Salah satu kota yang menghadapi kecenderungan perkembangan wilayah secara urban sprawl adalah Kota Denpasar. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran urban compactness Kota Denpasar. Faktor-faktor tersebut diidentifikasi melalui 2 tahapan analisis, yaitu mengidentifikasi karakteristik urban compactness Kota Denpasar, melalui metode deskriptif-kuantitatif, serta menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran urban compactness di Kota Denpasar, melalui analisis regresi linier berganda metode stepwise. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif sebagai pendekatan penelitian. Dari hasil penelitian ini, didapatkan 4 faktor yang mempengaruhi ukuran urban compactness Kota Denpasar secara kuantitatif, yaitu nilai kepadatan lahan terbangun, persentase konsentrasi luas permukiman, nilai keberagaman penggunaan lahan, serta persentase ketersediaan ruang terbuka hijau. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi penelitian lanjutan terkait skenario dan intervensi konsep kota kompak dalam merumuskan bentuk struktur dan pola ruang Kota Denpasar yang lebih kompak dan berkelanjutan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Pola Perumahan Leapfrog di Kawasan Peri Urban Kota Malang VIDYA TRISANDINI AZZIZI; PUTU GDE ARIASTITA
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.011 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18611

Abstract

Salah satu jenis urban sprawl adalah leapfrog. Perambatan leapfrog merupakan jenis pengembangan yang melompat-lompat, tidak berpola dan tidak memiliki keterkaitan dengan lahan yang sudah terbangun sebelumnya, dan apabila dibiarkan, akan muncul konsekuensi-konsekuensi seperti menambahnya waktu perjalanan dan pencemaran lingkungan. Di Kota Malang, terdapat wilayah-wilayah dengan arahan kawasan pertanian yang memiliki indikasi terjadinya perkembangan leapfrog. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kawasan-kawasan yang mengalami pola perkembangan leapfrog di kawasan peri urban Kota Malang. Analisis yang digunakan dalam menentukan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembentukan pola perumahan leapfrog adalah confirmatory factor analysis, analytical hierarchy process, weighted overlay, dan buffer analysis. Diketahui bahwa terdapat tiga kriteria yang dapat digunakan untuk menjadi indikator terjadinya leapfrog yakni aksesibilitas, kepadatan penduduk, dan campuran penggunaan lahan (mix-used land) dan perumahan leapfrog di lokasi studi dibagi menjadi perumahan swadaya, yakni perumahan di Jalan Atletik, Jalan Bulu Tangkis, dan Jalan Ikan Tombro Barat, serta perumahan komersial yakni Green View Regency. Diketahui bahwa ada empat indikator yang berpengaruh, yakni ketersediaan infrastruktur pendukung, aksesibilitas, fasilitas umum, serta daya beli masyarakat. Terdapat perbedaan antara jenis rumah swadaya dan jenis rumah komersial, yakni tidak dipertimbangkannya ketersediaan kendaraan umum, biaya transportasi sehari-hari, serta kedekatan dengan fasilitas sekolah dasar bagi masyarakat yang tinggal di tipologi swadaya. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan dalam pembuatan peraturan pengendalian perkembangan leapfrog menurut faktor-faktor yang berpengaruh.
Karakteristik Perubahan Penggunaan Lahan yang Tidak Sesuai Rencana Tata Ruang Di Koridor Lingkar Timur Sidoarjo Kathon Wira Ajimas; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.306 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i1.22341

Abstract

Untuk mempermudah akses, memecah kemacetan, serta pembangunan wilayah, Pemerintah Daerah Kabupaten Sidoarjo membangun Jalan Lingkar Timur Sidoarjo pada tahun 2006. Pembangunan jalan Lingkar Timur Sidoarjo dapat meningkatkan nilai lokasi dari lahan di sekitar koridor jalan tersebut karena adanya peningkatan aksesibilitas yang ada. Peningkatan nilai lokasi ini kemudian menyebabkan perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai rencana. Karakteristik perubahan penggunaan lahan di perlukan untuk menangani perubahan lahan di koridor Lingkar Timur Sidoarjo . Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai rencana tata ruang di koridor Lingkar Timur Sidoarjo. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan dengan cara mengidentifikasi karakteristik perubahan penggunaan lahan berdasarkan jenis-jenis perubahan lahan, luas lahan, dan kecepatan perubahan lahan dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu segmentasi wilayah. Berdasarkan hasil yang ditemukan pada segmen satu, perubahan lahan pertanian menjadi permuikiman adalah 1,3ha/th (lambat), Permukiman menjadi pergudangan adalah 0,7 ha/th (lambat), dan pertanian menjadi pergudangan adalah 5,9 ha/th (cepat. Perubahan ). Perubahan lahan yang terjadi pada segmen 2, perubahan lahan pertanian menjadi permukiman adalah 4,4 ha/th sedang dan pertanian menjadi fasilitas umum 6,3 ha/th (cepat).
Faktor Pemilihan Lokasi Apartemen Berdasarkan Preferensi Pemerintah di Surabaya Metropolitan Area Erisa Nur Agmelina; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.959 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24967

Abstract

Pembangunan apartemen di Surabaya Metropolitan Area merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan perumahan. Secara harfiah apartemen yang mendukung konsep urban compactness mayoritas dibangun di pusat perkotaan. Namun, perkembangan apartemen saat ini cenderung menyebar. Berdasarkan penelitian terdahulu pengembang belum memperhatikan preferensi penghuni dalam pembangunan apartemen sehingga apartemen terbangun bebas mengikuti lahan yang dimiliki oleh pengembang. Selain itu, pemerintah belum memiliki regulasi spesifik mengenai pengaturan lokasi apartemen namun pemerintah tetap memberikan peluang besar terhadap pembangunan apartemen. Hal tersebut menunjukkan bahwa belum ditemukan adanya faktor preferensi mengenai penentuan lokasi apartemen yang sama-sama disetujui oleh ketiga stakeholders yaitu pemerintah, pengembang, dan masyarakat. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan faktor prioritas dalam menentukan lokasi pembangunan apartemen di Surabaya Metropolitan Area berdasarkan preferensi pemerintah. Penelitian ini menggunakan dua teknik analisis yaitu Analytic Network Process dan analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah faktor pemilihan lokasi apartemen yang disetujui oleh pemerintah yaitu jarak ke jalan utama, kesesuaian dengan RTRW, harga lahan, dan jarak ke pusat pelayanan kota.
Pandangan Terhadap Fenomena Gentrifikasi dan Hubungannya dengan Perencanaan Spasial Azka Nur Medha; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.443 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25056

Abstract

Perencanaan spasial di Indonesia bersandar pada pendekatan Rational Comprehensive Planning (RCP), yang cenderung mengasumsikan bahwa seorang perencana merupakan pihak dengan kepemilikan ilmu yang kompeten sehingga mampu merencanakan apa yang sesuai untuk masyarakat. Namun, fakta menunjukan bahwa produk perencanaan di Indonesia memperlihatkan adanya gap yang cukup besar antara pengetahuan perencana dengan masyarakat sebagai klien utama seorang perencana. Maka dari itu,  diperlukan dedikasi yang tinggi bagi akademisi untuk mengeksplor lebih dalam lagi mengenai fenomena-fenomena perkotaan yang sudah terlihat nyata keberadaannya. Artikel ini membahas suatu fenomena perkotaan yang diberi istilah gentrifikasi, dimana istilah ini masih relatif asing untuk dibahas dalam proses perencanaan di Indonesia. Gentrifikasi diyakini sebagai fenomena perkotaan yang memberikan dampak negatif pada masyarakat yang mengalaminya. Disisi lain, gentrifikasi memberikan sebuah pandangan yang meyakinkan bahwa suatu proses perencanaan yang dimiliki oleh domain publik harus memakai pendekatan-pendekatan sosial untuk menghasilkan produk perencanaan yang lebih kontekstual.
Arahan Pengendalian Penggunaan Lahan di Koridor Jalan Raya Juanda Sidoarjo Annisa Rakhmawati Kushidayati; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.005 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.27046

Abstract

Pesatnya perubahan penggunaan lahan dan intensitas pemanfaatan ruang di Jalan Raya Juanda menimbulkan dampak bagi keseimbangan lingkungan di sekitarnya. Hal tersebut mengakibatkan permasalahan seperti gangguan keamanan penerbangan, timbulnya bangkitan/tarikan pergerakan baru yang dapat mengurangi tingkat pelayanan Koridor Jalan Raya Juanda, perkembangan kawasan yang tidak merata, serta tumbuhnya pusat-pusat kegiatan baru di Jalan Raya Juanda. Upaya pengendalian yang ada masih belum optimal untuk mengendalikan perubahan penggunaan lahan dan mengurangi dampak yang telah dan mungkin akan terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun arahan pengendalian penggunaan lahan di Koridor Jalan Raya Juanda.Metode penelitian dilakukan dengan menentukan pola perubahan penggunaan lahan di Kawasan Koridor Jalan Raya Juanda menggunakan teknik analisa deskriptif. Perumusan dampak yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan di Kawasan Koridor Jalan Raya Juanda dan analisis arahan pengendalian penggunaan lahan di Kawasan Koridor Jalan Raya Juanda yang dilakukan dengan delphi. Pengendalian penggunaan lahan di Kawasan Koridor Jalan Raya Juanda diatur dengan mengatur perizinan pemanfaatan yang dibedakan menjadi diijinkan, terbatas, bersyarat, dan dilarang. Adapun jenis-jenis kegiatan yang diijinkan adalah restoran, jasa bengkel, jasa pencucian mobil dan motor, jasa persewaan mobil, jasa travel, jasa bank, jasa pengiriman barang, apotek, makanan dan minuman, toko oleh-oleh, lapangan tenis. Sedangkan untuk kategori kegiatan yang diijinkan secara terbatas adalah penginapan losmen, rumah kost, SPBU, klinik kesehatan, penyaluran grosir. Ketentuan bersyarat adalah kompleks ruko, gudang, kantor, gereja, vihara, masjid, minimarket. Ketentuan khusus terkait keamanan penerbangan juga diberlakukan di Koridor Jalan Raya Juanda. Hal ini berkaitan dengan Koridor Jalan Raya Juanda yang termasuk dalam area Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan Bandara Juanda. Ketentuan khusus mengatur ketinggian bangunan dalam batas KKOP maksimal 3 lantai, mempunyai alat pengahalau burung untuk pemilik sawah, dan mengatur agar penggunaan ruang tanah, air, dan udara tidak mengganggu rambu-rambu pegunungan.
Kriteria Lokasi Keramba Jaring Apung (KJA) Offshore di Perairan Provinsi Jawa Timur Satrio Dwi Atmojo; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.147 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.29218

Abstract

Provinsi Jawa Timur memiliki potensi budidaya ikan laut yang besar, namun belum memiliki teknik budidaya yang dapat menghasilkan panen yang dapat memenuhi permintaan pasar, berupa teknik Keramba Jaring Apung (KJA) offshore. Tujuan penelitian ini menentukan kriteria lokasi Keramba Jaring Apung (KJA) offshore di perairan Provinsi Jawa Timur. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan dengan 2 (dua) tahapan. Tahapan pertama menentukan kriteria lokasi KJA offshore menggunakan analisis Delphi. Tahapan kedua menentukan parameter lokasi KJA offshore menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil analisis didapatkan 17 kriteria  yang digunakan untuk menentukan lokasi KJA offshore di perairan Jawa Timur. Kriteria-kriteria tersebut adalah suhu perairan, kecepatan arus, salinitas, oksigen terlarut, kedalaman laut, ketinggian gelombang, kadar keasaman, kecerahan, kecepatan angin, zat padat tersuspensi, jarak dari pantai, sosial-ekonomi, resiko bencana, sumber benih, kualitas air, kegiatan lain di sekitar KJA, dan rencana zonasi. Selanjutnya kriteria-kriteria tersebut dijabarkan menjadi parameter penentuan KJA offshore di empat kluster perairan Jawa Timur.
Persepsi Pengunjung Dalam Pengembangan Wisata Pantai Hamadi Di Kota Jayapura Errick Worabay; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.232 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.29230

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan pengembangan wisata Pantai Hamadi di Kota Jayapura. Penelitian ini menggunakan pendekatan rasionalisme dengan jenis eksploratif dan deskriptif. Analisis tahap pertama dilakukan untuk menentukan faktor – faktor yang mempengaruhi pengembangan wisata berdasarkan persepsi pengunjung dengan menggunakan skala likert dan analysis service quality (servqual), kemudian analisis tahap kedua menganalisis arahan pengembangan wisata Pantai Hamadi berdasarkan dengan faktor - faktor yang mempengaruhi dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil Penelitian didapat 5 faktor yang mempengaruhi pengembangan Wisata Pantai Hamadi di Kota Jayapura antara lain: Lingkungan Alamiah (Kebersihan dan kelestarian), Sarana Wisata (Tempat Jualan dan Sarana Penunjang), Desain Perancangan, Transportasi, dan Pelayanan yang akan menjadi arahan pengembangan Pantai Hamadi
Pemodelan Spasial Skenario Pengembangan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Kalimantan Tengah Stanley Adrian; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.615 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33534

Abstract

Pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit cenderung berkembang tanpa arah sehingga berdampak terhadap kerusakan lingkungan dan deforestasi hutan, disatu sisi lahan perkebunan kelapa sawit memberikan keuntungan yang besar terhadap perekonomian daerah di Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk itu, pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit perlu diatur melalui upaya perumusan model spasial berdasarkan skenario pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit agar nilai lingkungan dapat terus terjaga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan model spasial berdasarkan skenario pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan analisis Cellular Automata untuk melakukan pemodelan spasial yang terdiri atas beberapa skenario. Dari hasil penelitian dengan menggunakan Cellular Automata, diperoleh 3 model simulasi yaitu (1) Model simulasi berdasarkan trend, (2) Model simulasi berdasarkan target pedoman teknis, dan (3) Model simulasi berdasarkan target RTRW. Model simulasi berdasarkan trend menunjukkan pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit pada hutan produksi sebesar 950.950 Ha, sedangkan model simulasi berdasarkan target pedoman teknis sebesar 755.206,25 Ha dan model simulasi berdasarkan target RTRW sebesar 769.393,75 Ha. Dari ketiga model simulasi, pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Tengah lebih sesuai diterapkan pada model simulasi berdasarkan target RTRW karena pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit pada hutan produksi hanya dilakukan pada jenis lahan hutan produksi yang dapat dikonversi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ukuran Urban Compactness di Kota Tangerang Selatan Fara Zalsabilla; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.837 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.37019

Abstract

Compact city adalah suatu konsep perkotaan yang mengakomodasi kepadatan yang tinggi, penggunaan campuran, efisiensi sistem transportasi umum, dan upaya mendorong masyarakat untuk berjalan kaki dan bersepeda. Kota Tangerang Selatan merupakan kota Satelit baru dari Megapolitan Jabodetabek yang sudah menunjukan indikasi kekompakan ruang serta mendukung konsep perencanaan kota secara kompak. Namun, kekompakan ruang di Kota Tangerang Selatan belum optimal seiring dengan belum meratanya pembangunan pada tiap kecamatan dan tingginya arus komuter ke ibu kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi urban compactness di Kota Tangerang Selatan. Dalam mengidentifikasi faktor-faktor tersebut digunakan dua tahapan analisis, yaitu identifikasi karakteristik kekompakan ruang Kota Tangerang Selatan dengen metode deskriptif kuantitatif dan dilanjutkan dengan analisis regresi linier berganda untuk menentukan faktor-faktor kekompakan ruang di Kota Tangerang Selatan. Hasil dari penelitian ini didapatkan empat faktor yang mempengaruhi ukuran urban compactness Kota Tangerang Selatan secara kuantitatif, yaitu kepadatan penduduk, kepadatan lahan terbangun, kepadatan permukiman serta tingkat penggunaan kendaraan umum. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk merumuskan skenario serta kebijakan perencanaan kota Tangerang Selatan yang lebih compact.