Claim Missing Document
Check
Articles

Pemodelan Spasial Skenario Pengembangan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Kalimantan Tengah Stanley Adrian; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.615 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33534

Abstract

Pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit cenderung berkembang tanpa arah sehingga berdampak terhadap kerusakan lingkungan dan deforestasi hutan, disatu sisi lahan perkebunan kelapa sawit memberikan keuntungan yang besar terhadap perekonomian daerah di Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk itu, pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit perlu diatur melalui upaya perumusan model spasial berdasarkan skenario pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit agar nilai lingkungan dapat terus terjaga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan model spasial berdasarkan skenario pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan analisis Cellular Automata untuk melakukan pemodelan spasial yang terdiri atas beberapa skenario. Dari hasil penelitian dengan menggunakan Cellular Automata, diperoleh 3 model simulasi yaitu (1) Model simulasi berdasarkan trend, (2) Model simulasi berdasarkan target pedoman teknis, dan (3) Model simulasi berdasarkan target RTRW. Model simulasi berdasarkan trend menunjukkan pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit pada hutan produksi sebesar 950.950 Ha, sedangkan model simulasi berdasarkan target pedoman teknis sebesar 755.206,25 Ha dan model simulasi berdasarkan target RTRW sebesar 769.393,75 Ha. Dari ketiga model simulasi, pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Tengah lebih sesuai diterapkan pada model simulasi berdasarkan target RTRW karena pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit pada hutan produksi hanya dilakukan pada jenis lahan hutan produksi yang dapat dikonversi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ukuran Urban Compactness di Kota Tangerang Selatan Fara Zalsabilla; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.837 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.37019

Abstract

Compact city adalah suatu konsep perkotaan yang mengakomodasi kepadatan yang tinggi, penggunaan campuran, efisiensi sistem transportasi umum, dan upaya mendorong masyarakat untuk berjalan kaki dan bersepeda. Kota Tangerang Selatan merupakan kota Satelit baru dari Megapolitan Jabodetabek yang sudah menunjukan indikasi kekompakan ruang serta mendukung konsep perencanaan kota secara kompak. Namun, kekompakan ruang di Kota Tangerang Selatan belum optimal seiring dengan belum meratanya pembangunan pada tiap kecamatan dan tingginya arus komuter ke ibu kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi urban compactness di Kota Tangerang Selatan. Dalam mengidentifikasi faktor-faktor tersebut digunakan dua tahapan analisis, yaitu identifikasi karakteristik kekompakan ruang Kota Tangerang Selatan dengen metode deskriptif kuantitatif dan dilanjutkan dengan analisis regresi linier berganda untuk menentukan faktor-faktor kekompakan ruang di Kota Tangerang Selatan. Hasil dari penelitian ini didapatkan empat faktor yang mempengaruhi ukuran urban compactness Kota Tangerang Selatan secara kuantitatif, yaitu kepadatan penduduk, kepadatan lahan terbangun, kepadatan permukiman serta tingkat penggunaan kendaraan umum. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk merumuskan skenario serta kebijakan perencanaan kota Tangerang Selatan yang lebih compact.
Pola Perubahan Penggunaan Lahan di Desa Tradisional Penglipuran Bali Berdasarkan Kondisi Faktual dan Persepsi Ruang Ketiga Kadek Sinta Ariesta; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.52918

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pola perubahan penggunaan lahan di Desa Penglipuran berdasarkan kondisi faktual dan persepsi ruang ketiga (masyarakat). Tujuan tersebut dilakukan melalui tiga tahap. Pertama, eksplorasi perubahan penggunaan lahan secara faktual yang dilakukan dengan analisis deskriptif. Kedua, ekplorasi perubahan penggunaan lahan berdasarkan persepsi ruang ketiga yang dilakukan melalui content analysis (CA). Ketiga, rumusan pola perubahan penggunaan lahan berdasarkan kondisi faktual dan ruang ketiga yang dilakukan dengan analisis kuadran. Adapun hasil dari peneltian ini adalah tiga pola perubahan penggunaan lahan di Desa Penglipuran. Kuadran I, zona yang tidak mengalami perubahan baik secara faktual dan persepsi ruang ketiga (Pura Penataran, hutan bambu, karang memadu). Kuadran II, zona yang mengalami perubahan secara faktual namun secara persepsi dikehendaki (warung kopi, guest house, parkiran). Kuadran III, zona yang mengalami perubahan secara faktual dan secara persepsi tidak dikehendaki (Catus Patha dan permukiman).
Tipologi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Kota Surabaya Selia Faradisa MZ; Putu Gde Ariastita; I Dewa Made Frendika Septanaya
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.54718

Abstract

Setiap Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik dari segi penentuan lokasi, profil penghuni, penentuan tarif sewa, dan berbagai faktor lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi Rusunawa di Kota Surabaya berdasarkan karakteristik spasial dan pengelolaannya. Metode analisis tumpang susun (overlay) dan vector buffering dipilih untuk mengidentifikasi karakteristik spasial Rusunawa dan metode klaster hierarki untuk menentukan tipologi Rusunawa berdasarkan karakteristik pengelolaannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara spasial, mayoritas lokasi Rusunawa berada di area yang diarahkan oleh rencana tata ruang sebagai kawasan dengan fungsi campuran. Lokasi Rusunawa juga menyebar di area pusat dan pinggiran kota di mana pola persebaran ini dipengaruhi oleh faktor tujuan penyediaan dan target sasaran penghuninya. Sedangkan dari sisi pengelolaan, Rusunawa di Kota Surabaya terbagi menjadi dua tipologi yaitu Klaster Rusunawa Provinsi dan Klaster Rusunawa Kota. Kedua klaster memiliki perbedaan dari sisi status pengelola dan kebijakan tarif sewa.
Analisis Hubungan Karakteristik Masyarakat dan Bentuk Partisipasi Pengelolaan Sampah di Kelurahan Maro, Distrik Merauke Maria Donata Oratmangun; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.55365

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik masyarakat dan bentuk partisipasi yang dipilih dalam melakukan pengelolaan sampah. Tujuan tersebut dijabarkan ke dalam dua sasaran, yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik masyarakat di Kelurahan Maro dengan menggunakan analisis persentase. (2) Menganalisis hubungan antara karakteristik masyarakat dengan bentuk partisipasi dalam pengelolaan sampah di Kelurahan Maro menggunakan analisis Cross Tabulation (Crosstab). Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah bentuk partisipasi semua kelompok karakteristik masyarakat yang cenderung melakukan partisipasi uang. Selain itu, berdasarkan hasil uji pearson chi-square, terdapat satu hubungan antara variabel yang menunjukan hubungan signifikan, yaitu variabel karakteristik status hunian dengan bentuk partisipasi.
Strategi Peningkatan Pengelolaan Rusunawa Berdasarkan Kepuasan Penghuni di Kota Surabaya Firdia Alistanti; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65710

Abstract

Program pembangunan Rusunawa dalam memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah sering tidak memberi dampak kepuasan. Ketidakpuasan penghuni terhadap persoalan kondisi Rusunawa dan kinerja pengelola Rusunawa dalam pemeliharaan, perbaikan, dan pemenuhan kebutuhan yang belum terpenuhi oleh harapan penghuni. Maka, tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi peningkatan pengelolaan Rusunawa sebagai evaluasi untuk meningkatkan pengelolaan Rusunawa dan menyempurnakan atau melengkapi hunian. Penelitian ini menggunakan analisis delphi untuk menentukan kriteria kepuasan penghuni Rusunawa. Importance Performance Analysis (IPA) untuk menilai kepuasan penghuni berdasarkan tipologi rusunawa di Kota Surabaya. Analisis deskriptif untuk merumuskan strategi peningkatkan Pengelolaan Rusunawa di Kota Surabaya berdasarkan aspek-aspek yang diprioritaskan. Dari hasil penelitian terdapat 4 kriteria yang berada di prioritas utama dan 5 strategi peningkatan pengelolaan pada tipologi Rusunawa penataan permukiman kumuh. Sedangkan pada tipologi Rusunawa pekerja terdapat 3 kriteria prioritas utama dan 4 strategi peningkatan pengelolaannya.
Kriteria Pemilihan Lokasi Hunian Vertikal Berdasarkan Preferensi Generasi Milenial di Jakarta Barat Al Lailatul Qodriyah; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65926

Abstract

Kebutuhan terhadap hunian bagi generasi milenial di Jakarta Barat semakin meningkat setiap tahunnya. Di sisi lain, besarnya permintaan terhadap hunian oleh generasi milenial di Jakarta Barat tidak sejalan dengan data okupansi hunian vertikal yang cenderung menurun. Keadaan tersebut disebabkan karena dalam penyediaan apartemen belum dipahami preferensi lokasi hunian vertikal yang dibutuhkan generasi milenial. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan prioritas kriteria lokasi hunian vertikal generasi milenial. Penelitian ini menggunakan tiga teknik analisis, yang pertama adalah analisis statistic deskriptif melalui uji statistic. Teknik analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik generasi milenial yang mempengaruhi preferensi dalam memilih hunian. Selanjutnya, dilakukan Teknik analisis Analytic Network Process (ANP) yang bertujuan untuk menganalisis preferensi prioritas kriteria lokasi hunian vertikal generasi milenial berdasarkan karakteristiknya. Analisis selanjutnya adalah analisis deskriptif untuk menginterpretasikan data serta memberikan kesimpulan terhadap penelitian sehingga dapat mencapai tujuan penelitian yaitu merumuskan prioritas kriteria lokasi hunian vertikal generasi milenial. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa karakteristik generasi milenial yang berbeda-beda dan menghasilkan prioritas yang berbeda-beda. Prioritas Kriteria pada fase early adulthood usia 20-24 tahun adalah Aksesibilitas, Keamanan dan Kenyamanan, Prasarana, Sarana, dan Tata Ruang. Pada usia 25-29 tahun kriteria prioritas pemilihan lokasi hunian vertikal adalah Tata Ruang, Aksesibilitas, Sarana, Prasarana, Keamanan dan Kenyamanan. Pada usia 30-34 tahun adalah Aksesibilitas, Keamanan dan Kenyamanan, Sarana, Prasarana, Tata Ruang. Sedangkan pada fase Midlife usia 35-40 tahun, kriteria prioritas adalah Aksesibilitas, Tata Ruang, Keamanan dan kenyamanan, Prasaran, dan Sarana.
Penilaian Efektivitas Fungsi Taman Kota Sebagai Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Malang Hartini Muharama Hanan; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.52902

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat keefektivan taman kota berdasarkan dampak (outcome) yang ditimbulkan sesuai dengan fungsi-fungsinya di Kota Malang. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dilakukan dengan sasaran (1) Menentukan tipologi berdasarkan karakteristik fungsi dari taman kota di Kota Malang menggunakan teknik analisis Multidimensional Scaling (MDS) (2) Menganalisis penilaian efektivitas fungsi Taman Kota sebagai ruang terbuka hijau publik di Kota Malang menggunakan analisis Service Quality (gap analysis). Adapun hasil penelitian ini adalah terdapat empat tipologi taman berdasarkan efektifitas fungsinya. Pada Kuadran I terdiri dari Taman Alun-Alun Tugu, dimana hanya fungsi estetika saja yang sudah efektif. Pada Kuadran II terdiri dari Taman Alun-Alun Merdeka, Taman Merbabu, dan Taman Trunojoyo, dimana fungsi ekologi, sosial budaya, dan ekonomi dinilai sudah efektif. Pada Kuadran III terdiri dari Taman Pandanwangi, dimana fungsi ekologi saja yang sudah efektif. Pada Kuadran IV terdiri dari Taman Singhamerjosari dan Taman Slamet dimana semua fungsi dinilai sudah efektif.
Penentuan Lokasi Rusunawa di Kawasan Surabaya Timur Annafii Nandya Alifna; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.55504

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi Rusunawa di Kawasan Surabaya Timur. Penelitian ini menggunakan analisis delphi dan analisis skoring. Objek penelitiannya adalah tanah asset Pemerintah Kota Surabaya. Analisis delphi melibatkan responden dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk menghasilkan kriteria yang tepat dalam menentukan lokasi Rusunawa di Kawasan Surabaya Timur. Selanjutnya, analisis skoring dilakukan dengan menghitung jarak dari tiap-tiap kriteria terhadap tanah asset kemudian diberikan skor, sehingga didapatkan prioritas lokasi tanah asset yang dapat dijadikan Rusunawa. Penelitian ini menghasilkan enam belas kriteria penentu lokasi Rusunawa di Kawasan Surabaya Timur. Dengan mempertimbangkan kriteria yang telah dihasilkan, didapatkan tujuh belas lokasi Rusunawa di Kawasan Surabaya Timur di tanah asset milik Pemerintah Kota Surabaya. Tujuh belas lokasi tersebut adalah lokasi yang memiliki akumulasi skor yang termasuk kelas I. Dari tujuh belas lokasi tersebut terdapat 3 prioritas lokasi yang dilihat dari akumulasi skor tertinggi, yaitu adalah lokasi tanah aset yang berada di (1) Jl. Nginden VI-I; (2) Jl. Babatan Pantai Timur; (3)Jl. Keputih Gang Makam.
Kriteria Livability pada Permukiman yang Dikembangkan oleh Informal Land Subdividers Like Daniela Thalia Siagian; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69949

Abstract

Aktivitas pengembangan permukiman yang dilakukan oleh informal land subdividers dilakukan tanpa mengikuti kerangka peraturan yang ada sehingga mengarah pada permukiman yang tidak layak huni. Sementara pada kondisi idealnya, permukiman seharusnya menyediakan ruang yang nyaman dimana livability merupakan bentuk pencapaiannya. Untuk itu, diperlukan adanya kebijakan yang dapat mengakomodasi peningkatan livability pada permukiman yang dikembangkan oleh informal land subdividers. Sebagai masukan terhadap terhadap penyusunan kebijakan tersebut, pada penelitian ini dilakukan perumusan kriteria livability permukiman yang dikembangkan oleh informal land subdividers. Metode pengumpulan data dalam perumusan kriteria tersebut dilakukan dengan studi pustaka yang selanjutnya dikonfirmasi dengan in-depth interview kepada para ahli untuk mengumpulkan pendapat para ahli terkait variabel yang tepat dalam menilai livability pada permukiman yang dikembangkan oleh informal land subdividers. Hasil in-depth interview tersebut kemudian dianalisis dengan metode quantitative content analysis. Dari hasil analisis tersebut, didapatkan rumusan kriteria livability permukiman yang dikembangkan informal land subdividers sejumlah 28 kriteria yang terbagi dalam 8 aspek diantaranya: jangkauan fasilitas umum; kondisi prasarana; kualitas utilitas; keselamatan dan keamanan; kondisi fisik bangunan; kondisi lingkungan; kondisi perekonomian masyarakat penghuni; dan aksesibilitas transportasi umum dan supermarket.