Claim Missing Document
Check
Articles

Penilaian Tingkat Kelayakhunian pada Kawasan yang Mengalami Proses Studentifikasi di Sukolilo Surabaya Adinia Nurusyifa Kaesi; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.77768

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kelayakhunian kawasan yang mengalami studentifikasi di Sukolilo, Surabaya. Penilaian tingkat kelayakhunian ini dilakukan berdasarkan persepsi masyarakat. Langkah pertama adalah mengidentifikasi kriteria dan indikator kelayakhunian kawasan yang mengalami studentifikasi menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA). Langkah kedua adalah mengidentifikasi kelayakhunian kawasan menggunakan Importance-Performance Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, berdasarkan persepsi masyarakat terdapat 4 kriteria dan 19 indikator kelayakhunian kawasan. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kualitas layanan secara keseluruhan berada pada kategori sedang. Selain itu, berdasarkan hasil identifikasi indikator prioritas untuk penanganan,terdapat itu 6 dari 19 indikator kelayakhunian meliputi, kondisi tingkat pendapatan, ketersediaan lapangan pekerjaan, kondisikebisingan, kualitas kesehatan masyarakat, kualitas udara, dankondisi keamanan. Hal itu disebabkan oleh yang kondisi kinerja enam indikator tersebut dibawah rata-rata sementara harapan/ekspektasi masyarakat mengenai performanya tinggi.
Preferensi Pemerintah dan Badan Usaha dalam Pengembangan Lyn sebagai Angkutan Umum Feeder Di Surabaya Melalui Skema Kerjasma Pemerintah dan Badan Usaha (Studi Kasus : Angkutan Lyn Rute S dan Rute G Surabaya) Adhisty Syamshabrina; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.787 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25846

Abstract

Rencana pengembangan angkutan lyn di Surabaya sebagai angkutan feeder  melalui skema Kerjasama Pemerintah Dan Badan Usaha (KPBU) telah direncanakan sejak tahun 2008. Rencana tersebut dilandasi oleh kebutuhan yang berkaitan antara pihak pemerintah dan badan organda lyn dalam mengembangkan sistem pelayanan angkutan lyn, sehingga tercipta sistem transportasi umum yang terintegrasi di Surabaya. Beberapa penyebabnya adalah kebutuhan pemerintah untuk menyediakan layanan angkutan pengumpan  yang layak bagi rencana angkutan massal cepat, serta terjadinya fenomena penurunan tingkat penggunaan lyn yang disebabkan oleh buruknya kualitas pelayanan angkutan lyn di Surabaya dan adanya  persaingan dari kendaraan umum individu. Hal ini berakibat pada penurunan tingkat pendapatan badan organda lyn.Melihat urgensi diatas, maka rencana kerjasama harus segera dilaksanakan. Untuk mempercepat pelaksanaannya, maka dibutuhkan penelitian yang bertujuan untuk melihat preferensi dari pihak pemerintah dan pihak badan usaha selaku pelaku kerjasama. Sehingga sasaran yang digunakan ini adalah : (1) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi KPBU dalam mengembangkan lyn sebagai angkutan feeder di Surabaya berdasarkan preferensi pemerintah. (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi KPBU dalam mengembangkan lyn sebagai angkutan feeder di Surabaya berdasarkan preferensi badan usaha. (3) menyusun faktor prioritas yang mendorong keberhasilan KPBU. Sasaran pertama dan kedua menggunakan alat analisis AHP (Analytical Hierarchy Prosess) untuk memberikan bobot pada tiap faktor menurut besaran pengaruhnya. Sasaran ketiga menggunakan alat analisis Kuadran untuk menyusun faktor  prioritas pendorong keberhasilan KPBU berdasarkan hasil preferensi pemerintah dan badan usaha.Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa faktor yang paling berpengaruh dalam mendorong keberhasilan KPBU dalam pengembangan lyn sebagai angkutan feeder di Surabaya, berdasarkan preferensi pemerintah dan badan usaha adalah faktor Bentuk dan Pola Kerjasama.
Evaluasi Penerapan Konsep Universal Design di Stasiun Surabaya Gubeng Aissyah Nabila Anjani; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65510

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan konsep universal design di Stasiun Surabaya Gubeng. Untuk mencapai tujuan tersebut, terlebih dahulu dilakukan identifikasi kriteria prinsip universal design yang dapat diterapkan di Stasiun Surabaya Gubeng dengan menggunakan alat analisis AHP (Analytical Hierarchy Process). Selanjutnya dilakukan penilaian penerapan konsep universal design di Stasiun Surabaya Gubeng berdasarkan penilaian kualitas pelayanan oleh pengguna, yang kemudian dianalisis menggunakan analisis skoring. Dari penelitian yang telah dilakukan, prinsip universal design yang menjadi prioritas kriteria untuk diterapkan di Stasiun Surabaya Gubeng adalah Low Physical Effort dan Tolerance of Error. Dimana pada indikator Low Physical Effort, yang menjadi sub-kriteria prioritas yaitu Posisi Tubuh, dan pada indikator Tolerance of Error, yang menjadi sub-kriteria prioritas yaitu Pelayanan Keamanan dan Kesehatan. Sedangkan berdasarkan penilaian pengguna, fasilitas yang masih memerlukan pengembangan yaitu fasilitas pada variabel Metode Penggunaan dan Penyampaian Informasi. Fasilitas pada kedua variabel tersebut belum mengakomodasi kebutuhan pengguna berkategori difabel dengan baik. Dengan adanya pengembangan fasilitas pada kedua variabel tersebut diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan dan memberikan kemudahan aksesibilitas kepada seluruh pengguna.
Penentuan Nilai Insentif dan Disinsentif Pada Pajak Bumi dan Bangunan Sebagai Instrumen Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian di Sidoarjo Ichsanul Karim; Putu Gde Ariastita
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.435 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.21068

Abstract

Alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo dari tahun 2009-2015, yang semula 23,539 Ha, menjadi 19,544 Ha, artinya pada rentan waktu 5 tahun lahan di Kabupaten Sidoarjo telah mengalami penyusutan sekitar 4,995 Ha. Pajak Bumi dan Bangunan dapat berpotensi menekan laju alih fungsi lahan pertanian karena berpeluang mempengaruhi petani untuk mempertahankan lahannya dan berpotensi menghambat pihak lain untuk mengalih fungsikan lahan pertanian melalui skema insentif dan disinsentif. Namun di Sidoarjo belum ada insentif dan disinsentif Pajak Bumi dan Bangunan. Oleh karena itu tujuan penelitian adalah menentukan nilai insentif dan disinsentif pada Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang dapat menjadi instrumen untuk mengendalikan alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo. Sasaran yang disusun dalam penelitian ini adalah menentukan tipologi LP2B di Kabupaten Sidoarjo dengan teknik overlay menggunakan software ArcGIS. Berdasarkan hasil tipologi tersebut maka akan dirumuskan nilai insentif dan disinsentif dari Pajak Bumi dan Bangunan untuk dapat mempertahankan lahan pertanian berdasarkan tipologi di Kabupaten Sidoarjo menggunakan teknik analisa Probit Logit. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan analisis probit , nilai insentif yang dapat mempertahankan lahan pertanian pada tipologi  1 adalah dengan nilai pajak sebesar 0% dengan presentase 93% pemilik lahan akan mempertahankan lahannya sedangkan disinsentifnya dengan nilai pajak sebesar 10%. Nilai insentif untuk tipologi 2 yaitu dengan nilai pajak sebesar 0% dengan presentase 90% pemilik lahan mempertahankan lahannya sedangkan disinsentifnya dengan kenaikan pajak menjadi 8,75%. Nilai insentif untuk tipologi 3 yaitu sebesar 0% dengan presentase pemilik lahan mempertahankan lahannya sebesar 90.70% dan untuk disinsentifnya dengan kenaikan pajak menjadi 10%. Nilai insentif untuk tipologi 4 yaitu sebesar 0% dengan prosentase pemilik lahan mempertahankan lahannya adalah 90% dan disinsentif nya sebesar 10% sehingga dapat mempertahankan lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo.
Arahan Optimasi Penggunaan Lahan Melalui Pendekatan Telapak Ekologis di Kabupaten Gresik Achmad Ghozali; Putu Gde Ariastita
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.649 KB) | DOI: 10.14710/jwl.1.1.67-78

Abstract

Environmental capacity in Gresik Regency is imbalance condition in accommodating every increase of activity due to population growth and intensive land use change. It is marked by the disproportion between environmental capacity and nature resource consumption where the land use change in Gresik Regency gave impact to ecological damage such as land productivity degradation, water scarcity, flood, and environmental pollution. This research aims to determine the carrying capacity components in the optimization of land use in Gresik Regency. The method used is through ecological footprint approach that can be used to measure nature resource consumption rate and land capability in providing that needs in global hectare land (gha) unit. The result of this research showed that Gresik biocapacity reached 319.179,6 gha that is widely spread in the peri-urban area. The highest biocapacity percentage is on agricultural land with 53,92%. However, that biocapacity is not comparable to the ecological footprint consumption that reached 1,63 million gha especially in urban area due to the high population and activity intensity. This worsen the imbalance of carrying capacity in Gresik Regency that has been already experienced ecological deficit for 1,04 gha/capita. Every land types is experiencing deficit condition and only ranch farm land that has surplus of 0,05 gha/capita. The mapping result showed that land use optimization is needed by implementing compact city development so that it can be easier to control and create energy use efficiency. Besides of that, agropolitan system implementation is needed to increase land productivity in peri-urban area as major resources in Gresik Regency.
In the face of gentrification : a case study of social capital in supporting community efforts to form a collective action Azka Nur Medha; Putu Gde Ariastita
IPTEK The Journal of Engineering Vol 3, No 3 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23378557.v3i3.a3208

Abstract

Gentrification is believed to be an urban phenomenon that has a negative impact on neighborhood society. Therefore, the neighborhood community becomes an important study object in order to understand the process of gentrification itself. This study observes the community in Medokan Semampir community group, Surabaya, that raised a case study in which they made collective action to face gentrification. Collective action can be viewed as a solution in order to facilitate the common interests of a gentrified community. The aim of this paper is to explain the collective action process in the context of social capital, and how communities can keep the capital as collective assets to prevent gentrification processes anguish its members.
Pemanfaatan Aplikasi Virtusee Dalam Pemetaan Prasarana Transportasi Berbasis GIS Di Wilayah UPT Surabaya Putu Gde Ariastita; Pande K Yokarmana
IPTEK Journal of Proceedings Series No 2 (2018): The 2nd Conference on Innovation and Industrial Applications (CINIA 2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2018i1.3366

Abstract

Tulisan ini disusun dari hasil kajian pemetaan prasarana transportasi berbasis GIS di wilayah UPT Surabaya, Jawa Timur. Langkah awal dalam pemetaan adalah identifikasi prasarana transportasi. Pemetaan ini penting, untuk mengetahui kondisi dan karakteristik prasarana saat ini, sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan pengembangannya di masa mendatang. Adapun tujuan dari tulisan ini adalah menjelaskan proses penyusunan data base dari hasil identifikasi prasarana transportasi di UPT LLAJ Surabaya. Proses penyusunan data base dari hasil identifikasi prasarana transportasi merupakan kegiatan yang kompleks, mengingat prasarana transportasi relatif beraneka ragam, baik di matra darat, laut, dan udara. Keberagaman ini tentunya memerlukan teknik yang khusus, sehingga proses identifikasinya berjalan dengan efisien dan efektif. Untuk itu, dalam proses identifikasi ini digunakan aplikasi virtusee yang kemudian diintegrasikan dengan Geographic Information System (GIS), untuk menghasilkan data base prasarana transportasi. Hasil kajian menunjukkan, aplikasi virtusee dapat mendukung proses identifikasi prasarana transportasi dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan memberikan kemudahan bagi surveyor dalam menginput data secara paperless, real time, terintegrasi dengan map, dan termonitor oleh kordinator. Data yang masuk secara real time memudahkan untuk koreksi, sehingga bilamana terjadi kesalahan, bisa segera diperbaiki di lapangan. Proses kompilasi dan analisis dapat juga dilakukan secara paralel dengan survey, sehingga dapat mempercepat pelaporan. Pada akhirnya output data base prasarana transportasi dapat tersusun dengan valid dan visual yang manarik serta mudah dipahami.
LAHAN KOSONG: POTENSI KONFLIK PERTANAHAN DI PERKOTAAN DAN RESOLUSINYA Putu Gde Ariastita
Jurnal Penataan Ruang Vol 3, No 1 (2008): Jurnal Penataan Ruang 2008
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v3i1.2232

Abstract

Pada kenyataannya, pemanfaatan lahan di perkotaan belumlah optimal. Salah satu indikasinya adanya lahan kosong hal ini adalah persil lahan yang sama sekali belum dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya atau persil lahan yang tidak lahan merelokasi kegiatannya. Fenomena ini menjadi permasalahan yang peru mendapat perhatian karena keberadaan lahan kosong menunjukkan adanya inefisiensi pemantaatan lahan di perkotaan. Di samping itu, lahan kosong pada akhimya akan menimbulkan konflik pertanahan di perkotaan. Konflik pertanahan akibat keberadaan lahan kosong menimbulkan persoalan yang serius. Berdasarkan analisis pemetaan konflik yang dilakukan, keberadaan lahan kosong temyata dapat menimbulkan konflik horizontal (antar masyarakat) maupun vertical (masyarakat dengan pemerintah). Dan analisis pohon konflik diperoleh hasil bahwa situasi-situasi pemasalahan yang dirasakan permukaan adala adanya akuisisi lahan oleh sekelompok orang, perebutan lahan, hingga pada tindakan kekerasan seperti penggusuran secara paksa. Inti dari persoalan ini adalah penguasaan dan pemanfaatan lahan. Sementara itu, penyebab dari lahan kosong dikarenakan substansi peraturan yang ada belum membenkan skema insentif dan disinsentif yang relevan. Rekomendasi yang dirawarkan untuk meresolusi konflik akibat lahan kosong ini adalah dengan memperbaiki substansi regulasi yang terkait dengan Dengan demikian, pemerintah akan memiliki acuan yang tepat dalam mengatasi lahan kosong.
PEMINTAKAN KAWASAN PENGEMBANGAN BANGUNAN TINGGI DI WILAYAH SURABAYA TIMUR Heru Purwadio; Putu Gde Ariastita; Haryo Sulistyarso
Jurnal Penataan Ruang Vol 9, No 1 (2014): Jurnal Penataan Ruang 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v9i1.2349

Abstract

Pembangunan bangunan-bangunan bertingkat terutama bangunan bertingkat tinggi di Wilayah Surabaya Timur menimbulkan masalah bagi keselamatan penerbangan karena lokasinya berada dalam cakupan KKOP Bandara Juanda. Di sisi lain, pembangunan pada lokasi lahan belum terbangun memberi kontribusi terjadinya penurunan tanah rata-rata  14 mm/tahun. Dengan posisi wilayah Surabaya timur di pesisir laut, intrusi air asin diindikasikan mempengaruhi korosi pada sub struktur. Ini membahayakan struktur bangunan. Masalah lainnya adalah terjadinya kemacetan lalu lintas oleh munculnya bangunan-bangunan bertingkat di sepanjang periferi koridor. Lebih jauh lagi, pemerintah kota Surabaya belum mempunyai permintakan kawasan pengembangan bangunan tinggi di Wilayah Surabaya Timur sebagai pedoman pengendalian pengembangan kawasan bangunan gedung bertingkat.Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang diidentfikasikan, penelitian ini bertujuan untuk membuat pemintatakan kawasan pengembangan bangunan bertingkat di Wilayah Surabaya Timur. Metoda yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan bangunan tinggi; AHP untuk menganalisis faktor—faktor prioritas pengembangan bangunan tinggi; Arc GIS untuk menyusun pemintakan kawasan pengembangan bangunan tinggiHasil penelitian ini berupa pemintakatan yang menunjukan persebaran zona bangunan bertingkat sedang dan bertingkat tinggi. Bangunan bertingkat sedang tersebar hampir di seluruh Wilayah Surabaya Timur,  dan bangunan bertingkat tinggi terkosentrasi di sepanjang Middle Eastern Ring Road (MERR) dan sebagian lahan belum terbangun.
Selecting The Best Route for Aerial Ladder Truck to Speed Up Response Time in High-Rise Buildings Located in Unprotected and High Fire Risk Areas I Dewa Made Frendika Septanaya; Putu Gde Ariastita; Fendy Firmansyah; Faradhyba Rizky Ramadhana
Jurnal Penataan Ruang Vol 16, No 2 (2021): Jurnal Penataan Ruang 2021
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v16i2.9916

Abstract

Fire outbreaks on high-rise buildings require specific techniques and equipment; one of such equipment is aerial ladder trucks. Firefighters in aerial ladder trucks must ideally arrive at the location of the fire within the ideal response time constraint in the context of fire emergency management to minimize collateral damage, be it of human lives or properties. This study aims to discover the best route traversable by aerial ladder trucks to achieve the ideal response time should a fire occur in high-rise buildings, particularly stated buildings located within unprotected and high fire risk areas in Sidoarjo Regency. The best routes were selected through a simulation using the closest facility in GIS Network Analyst based on proximal distance and travel time. The study results show that the aerial ladder trucks can traverse the recommended routes to the high-rise buildings within the ideal response time. However, the majority of these results only occur during off-peak hours. Hence, the addition of new fire stations, whose locations are within 5 km of the high-rise buildings, and the improvement or addition of street networks as an alternative to increase the fulfillment of the ideal response time of aerial ladder trucks, especially during peak hours, are recommended.