Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search
Journal : Proceeding Biology Education Conference

KETAHANAN SIMPAN IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastreiliger canagurta) MELALUI PERPADUAN FERMENTASI DAUN SELADA DAN BIJI KEPAYANG Permata Ika Hidayati; Utami Sri Hastuti; M. Ainur Yaqin
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 8, No 1 (2011): Prosiding Seminar Nasional VIII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Ikan Kembung Lelaki (Rastreiliger canagurta) merupakan salah satu spesies ikan yang banyak disukai oleh masyarakat karena mempunyai rasa gurih, daging tidak terasa asin dan tekstur yang tidak mudah hancur jika dimasak. Ikan tersebut merupakan sumber protein hewani dengan kadar protein yang tinggi yaitu 22 gram. Ikan pada umumnya mudah mengalami pembusukan sehingga mengakibatkan penurunan mutu. Salah satu upaya pengawetan ikan secara biologi ialah pengawetan ensiling, yaitu pengawetan dengan menggunakan sayuran, yaitu daun selada (Lactuca sativa) dan biji kepayang (Pangium edule Reinw.). Tujuan penelitian ini ialah: 1) untuk mengetahui pengaruh perbedaan lama penyimpanan terhadap Angka Lempeng Total koloni Bakteri pada ikan Kembung Lelaki yang diawetkan dengan perpaduan fermentasi ensiling selada dan biji kepayang, 2) untuk mengetahui pengaruh perbedaan lama penyimpanan terhadap hasil uji organoleptik terhadap ikan Kembung Lelaki yang diawetkan. Ikan Kembung Lelaki diperoleh dari pasar di kota Malang. Sampel diawetkan dengan cara perpaduan fermentasi ensiling daun selada dan biji kepayang kemudian disimpan selama 7 hari, 14 hari dan 21 hari. Sampel ikan Kembung Lelaki diambil sebanyak 25 gram yang dilarutkan dalam 225 ml larutan air pepton 0,1% sehingga diperoleh suspensi dengan tingkatan pengenceran 10-1. Selanjutnya dilakukan pengenceran suspensi sehingga diperoleh suspense dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 104, 10-5, dan 10-6. Masing-masing suspensi diinokulasikan sebanyak 0,1 ml pada permukaan medium PCA, lalu diinkubasikan pada suhu 370C selama 2x24 jam kemudian dilakukan penghitungan nilai Angka Lempeng Total Koloni Bakteri (ALT) dari masing-masing sampel. Tiap-tiap perlakuan diulang sebanyak 3 ulangan. Uji organoleptik meliputi: tekstur daging ikan, warna mata ikan, warna dinding perut, aroma dan rasa dilakukan pada tiap sampel oleh 15 panelis terlatih. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Ada pengaruh perbedaan lama penyimpanan terhadap angka lempeng total (ALT) koloni bakteri ikan Kembung Lelaki. Hasil penghitungan nilai ALT menunjukkan bahwa sampel ikan yang disimpan selama 7 hari ialah: 2,6 x 105 cfu/g, selama 14 hari ialah: 3x102 cfu/g; sedangkan selama 21 hari ialah 5,97x106 cfu/g. Adapun ketentuan dari DIRJEN POM, batas kelayakan konsumsi ialah: 5x105 cfu/g. Hal ini menunjukkan bahwa batas waktu simpan sampel ikan agar tetap layak konsumsi ialah 14 hari; 2) Ada pengaruh perbedaan lama penyimpanan terhadap uji organoleptik. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa nilai tekstur daging tertinggi yang disukai ialah tekstur kenyal, elastik terhadap tekanan jari, nilai warna mata tertinggi yang disukai ialah segar, biji mata cembung hitam, kornea jernih, warna dinding perut yang disukai ialah tidak ada perubahan warna pada dinding perut, aroma yang disukai ialah segar, khas ikan yang bersangkutan. Rasa yang disukai ialah manis, sesuai dengan rasa ikan yang bersangkutan.   Kata kunci: ketahanan simpan, ikan Kembung Lelaki, fermentasi daun selada, biji kepayang
Kualitas Yoghurt Dari Kulit Buah Naga Berdasarkan Variasi Spesies dan Macam Gula Ditinjau Dari Tekstur, Aroma, Rasa dan Kadar Asam Laktat W. F. Edi Hanzen; Utami Sri Hastuti; Betty Lukiati
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 13, No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan kulit buah naga menjadi yoghurt merupakan salah satu upaya diversifikasi pangan dan penanganan limbah kulit buah naga. Yoghurt adalah produk olahan makanan yang dihasilkan melalui fermentasi bakteri asam laktat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh spesis buah naga dan macam gula terhadap tekstur, aroma, rasa dankadar asam laktat yoghurt kulit buah naga. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen mengunakan rancangan acak lengkap (RAL) 2 faktor, faktor pertama yaitu spesies buah naga putih (hylocereus undatus) dan spesies buah naga merah (hylocereus polyrhizuz). Faktor kedua yaitu gula pasir, gula palem, dan gula siwalan dengan 4 kali ulangan. Tekstur, aroma, dan rasa diuji melalui uji organoleptik, sedangkan kadar asam laktat diukur mengunakan metode titrasi dengan titran NaOH 0,05 N. Hasil penelitian membuktikan bahwa: 1) Terdapat pengaruh spesies buah naga yang signifikan terhadap kadar asam laktat yoghurt; 2) Terdapat pengaruh macam gula yang signifikan terhadap tekstur, rasa dan kadar asam laktat yoghurt; 3) Tidak terdapat pengaruh interaksi antara spesies buah naga dan macam gula terhadap tekstur, aroma, rasa dan kadar asam laktat yoghurt kulit buah naga. Rerata kadar asam laktat yoghurt  kulit buah naga spesies merah  lebih tinggi dari kadar asam laktat yoghurt kulit buah naga putih yaitu secara berurutan  sebesar 1,238% dan 1,144%. Kedua hasil tersebut sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kadar asam laktat yoghurt yaitu sebesar 0,5% - 2,0%.Kata kunci: Yoghurt kulit buah naga, tekstur, aroma, rasa yoghurt dan kadar asam laktat yoghurt.
DAYA ANTIFUNGAL EKSTRAK ETANOL DAUN (Piper aduncum) DAN (Piperomia pellucida) TERHADAP PERTUMBUHAN (C. albicans) SECARA INVITRO Utami Sri Hastuti; Yunita Putri Irsadul Ummah; Henny Nurul Khasanah
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 11, No 1 (2014): Prosiding Seminar Nasional XI Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract - Sesuruhan plants (Piper aduncum) and messengers (Piperomia pellucida) is a species of Piperaceae familia members. Both of these plant species containing antifungal compounds include: tannins, flavonoids, and saponins. Candida albicans is a yeast causing vaginal discharge disease. Antifungal potential of ethanol extract of the plant, particularly against C. albicans in vitro testing needs. The purpose of this study is to: 1) examine the effect of ethanol extract of leaves sesuruhan in some sort of concentration on the inhibition of growth of C. albicans in vitro; 2) examine the effect of ethanol extract of leaves of messengers in some sort of concentration on the inhibition of growth of C. albicans in vitro; 3) determine the most effective concentration of the ethanol extract of leaves and leaf sesuruhan messengers in some kind of concentration to inhibit the growth of C. albicans in vitro. Extracts of both species was obtained by maceration method with 95% ethanol, followed by sterile filtration and evaporation of the filtrate thus obtained. Filtrate was diluted in 10 concentration levels, namely: 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, and 90%. Testing the two kinds of power antifungal leaf species was conducted using agar diffusion technique of pitting on Sabouraud Dextrose Agar medium that has been inoculated with C. albicans. Measurement of C. albicans growth inhibitory zone performed after an incubation period of 1x24 hours. The results of this study are: 1) There is no effect of ethanol extract of leaves sesuruhan in some sort of concentration on the inhibition of growth of C. albicans in vitro. The higher the concentration of the ethanol extract of the leaves sesuruhan increasing inhibition of growth of C. albicans; 2) There is no effect of ethanol extract of leaves of messengers in some sort of concentration on the inhibition of growth of C. albicans in vitro. The higher the concentration of the ethanol extract of the leaves of messengers increasing inhibition of growth of C. albicans; 3) Ethanol extract of leaves and leaf sesuruhan errand at a concentration of 80% was the most effective concentration to inhibit the growth of C. albicans in vitro.  Keywords: antifungal power, Piper aduncum leaves, leaf Piperomia pellucida, Candida albicans
Kualitas Nata dari Kulit Melon dengan Perbedaan Varietas Melon (Cucumis melo L.) dan Macam Gula Berdasarkan Tebal, Berat dan Kadar Serat Lely Hermawati; Utami Sri Hastuti; Agung Witjoro
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 15, No 1 (2018): Proceeding Biology Education Conference
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usually melon fruit consumed freshly or in the form of processed and the  melon skin oftenly become wastes. An utilization of melon skin is by using fornata production. It is an alternative for waste reduction and  food diversification. This research use two varieties of melon, i.e: Kanaya and Indorif. The sugar sort are: cane sugar, palm sugar and siwalan sugar. This research was done to (1) observe the effect of melon varieties towards nata qualities based on the thickness, weight, and fiber contents. (2) observe the effect sugar sorts towards nata qualities based on the thickness, weight, and fiber contents. (3) observe the effect of melon varieties and sugar sorts towards nata qualities based on the thickness, weight, and fiber contents. This research is an experimental research with factorial design. The research result shows: (1) There is no effect of melon varieties towards nata qualities based on the thick, weight, and fiber content, it is mean that the skin of Kanaya as well as Indorif melon could be useas material for nata production. (2) There is no effect of sugar sorts towards the natathickness. People can choose one of the three kinds of sugar for nata production. However,  sugar sort are significantly affected towards the nata quality based on the weight and fiber content. The palm sugar have the highest weight and fiber content .(3) there is no interaction effect of melon varieties and sugar sorts towards the thickness and weight. However, the interaction of melon varieties and sugar sorts significantly affected towards the fiber content. The best nata quality best on fiber content is nata that made kanaya melon with palm sugar
PENGEMBANGAN HANDOUT BIOTEKNOLOGI TENTANG PEMBUATAN NATA DE NIRA SIWALAN (Borassus flabellifer L.) SEBAGAI BAHAN AJAR BERBASIS POTENSI LOKAL BAGI SISWA KELAS XII MAN PAMEKASAN Chandra Kirana; Utami Sri Hastuti; Endang Suarsini
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 11, No 1 (2014): Prosiding Seminar Nasional XI Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.315 KB)

Abstract

Siwalan (Borassus flabellifer L.) is widespread in Pamekasan one in the village Kertagenah Laok Kadur district. Potential abundant palm still has the potential to be developed into a usefull and economically product one is nata de nira siwalan. Quality of nata can be influenced by the type and concentration of sugar. The result of this research could be developed into teaching materials in the form of handouts for class XII students MAN Pamekasan. Purpose of this study stated to produce Biotechnology handout for XII students of MAN Pamekasan. This research is conduc-ted by 2 step that is experimental research and developing handout based on the result of experimental study. Expe-rimental research is aim to assess the influence of type and concentration of sugar to the weight of nata de nira siwalan. Result of this research showed that there is significant effect of type and concentration of sugar on the quality of nata de nira siwalan by fiber content of nata layer. Biotechnology handout was fit for use in assisting the teaching and learning activity with the percentage <p> 96,96% by an Microbiology expert and 96,05% by teaching materials expert.Keywords : nata de nira siwalan, macam gula, handout, bioteknologi
Identifikasi Morfologi Kapang Endofit Cengkeh Afo dari Ternate Arini Zahrotun Nasichah; Utami Sri Hastuti; Endang Suarsini; Fatchur Rohman
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 13, No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman cengkeh Afo induk dari Pulau Ternate memiliki kapang endofit yang perlu diidentifikasi terlebih dahulu jenis-jenisnya sehingga dapat dieksplorasi kemanfaatannnya melalui penelitian lebih lanjut dari masing-masing jenis kapang yang terisolasi dan teridentifikasi tersebut. Penelitian ini bertujuan melakukan isolasi dan identifikasi morfologi kapang endofit yang hidup di dalam tanaman cengkeh Afo dari Pulau Ternate. Isolasi kapang endofit dilakukan dengan media Potato Dextrose Agar. Identifikasi dilakukan dengan metode slide culture dengan media Czapex Agar. Hasil penelitian ini berhasil mengidentifikasi 8 spesies kapang endofit, yaitu Rhizoctonia sp, Diplococcium sp, Geotricum candidum, Aspergillus nidulans, Eurotium repens, Eupenicillium javanicum, dan Penicillium frequentans.Keywords:        isolasi, identifikasi, kapang, endofit, cengkeh Afo
STUDI TENTANG PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KEANEKARAGAMAN KAPANG KONTAMINAN PADA TEPUNG TERIGU Henny Nurul Khasanah; Otavia Dewi; Safrudin M. Abidin; Utami Sri Hastuti
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung terigu merupakan komoditas pangan yang banyak digunakan oleh masyarakat. Penggunaan tepung terigu biasanya meliputi dalam proses pembuatan roti, makanan ringan dan aneka masakan. Dalam skala rumahtangga penggunaan terigu ini umumnya tidak digunakan sekaligus. Para konsumen biasanya menyimpan sisa penggunaan tepung terigu dalam jangka waktu yang lama  untuk digunakan secara berkala. Tujuan penelitian ini ialah: 1) untuk mengidentifikasi spesies-spesies kapang  kontaminan yang terdapat pada tepung terigu; 2) untuk meneliti pengaruh lama penyimpanan terhadap keanekaragaman spesies kapang kontaminan pada tepung terigu. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Sampel tepung terigu terdiri dari tiga macam merk yang disimpan dalam stoples kaca selama 0 hari, 7 hari dan 14 hari. Sampel tepung diperiksa kualitas mikrobiologinya berdasarkan Angka Lempeng Total Koloni Kapang. Sampel tepung terigu yang diperlakukan dengan lama penyimpanan diambil 25 gram kemudian dilarutkan dalam 225 ml larutan air pepton 0,1% sehingga diperoleh suspensi dengan tingkatan pengenceran 10-1. Selanjutnya dilakukan pengenceran suspensi  sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 104, 10-5, dan 10-6. Masing-masing suspensi diinokulasikan sebanyak 0,1 ml pada permukaan medium lempeng Czapek Agar (CA), lalu diinkubasikan pada suhu 25-270C selama 7x24 jam. Kapang kontaminan yang tumbuh diisolasi, dihitung jumlahnya dan diidentifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) ada 14 spesies kapang kontaminan yang tumbuh dalam tepung terigu yaitu Penicillium funiculosum, Aspergillus flavus, Penicillium paraherquei, Eupenicillium hirayamae  Paecilomyces fulva, Aspergillus oryzae, Penicillium rugulosum, Aspergillus niger, Stachybotrys chartarum, Paecilomyces variotii, Cladosporium sphaerospermum, Aspergillus fumigatus, Aspergillus penicilloides, dan Penicillium corylophilum; 2) pada hari ke-0 terdapat lima spesies, pada hari ke-7 terdapat sembilan spesies dan pada hari ke-14 terdapat 14 spesies kapang kontaminan yang tumbuh      Kata kunci : tepung terigu, lama penyimpanan, kapang kontaminan
Isolation and Identification of Contaminant Molds on Pumpkin Candy from Sumbawa Besar Utami Sri Hastuti; Linda Hapsari; Henny Nurul Khasanah
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 12, No 1 (2015): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pumpkin candy is a sort of pumpkin fruit processed products that is typical food from Sumbawa Besar. Pumpkin candy contains carbohydrates, fats, protein, fiber, and minerals. The mold can contaminate and degradate the pumpkin candy compounds, thus lowering the quality of the pumpkins candy. The purpose of this research were: 1) to identify the species of contaminant mold on candy pumpkin; 2) to determining the most dominant species on the pumpkins candy. The research were conducted at the Microbiology Laboratory, Departement of Biology, State University of Malang. The pumpkin candy sample was from Sumbawa Besar. The samples stored in a sterile jar for 8 days. The 25 grams of pumpkin candy were granded, then dissolved in 225 ml of 0,1% peptone to obtain a suspension with a dilution rate 10-1. Then the suspension is diluted again gradually in order to obtain a suspension with a dilution rate 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, and 10-6. The suspension on each level of dilution was inoculated on a medium plate Czapek Agar (CA), and then incubated at 25-27oC for 7x24 hours. Identification contaminant molds was done by observing the colony morfology and microscopic characteristic then referred to the book of mold identification. The results showed: 1) there are 11 species of contaminants mold that grow in pumpkin candy. The contaminant mold species  are Aspergillus terreus Thorn, Penicillium brevicompactum Dierckx, Penicillium paraherquei Abe ex G. Smith, Aspergillus niger Van Tieghem, Penicillium frequetans Westling, Aspergillus candidus Link, Cladosporium herbarum (Pers.) Link ex Gray, Cladosporium cladosporioides (Fres.) de Vries, Nigrospora oryzae, Penicillium verrucosum Dierckx var corymbeferum (Westling) Samson et al., and Penicillium camemberti Thorn; 2) the dominant contaminant mold species in pumpkin candy  samples is Cladosporium.
TEKNOLOGI PENGAWETAN IKAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KERAGAMAN MIKOFLORA SERTA SPESIES KAPANG KONTAMINAN DOMINAN PADA DENDENG IKAN Utami Sri Hastuti; Permata Ika Hidayati
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 8, No 1 (2011): Prosiding Seminar Nasional VIII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.641 KB)

Abstract

ABSTRAK Dendeng ikan dapat terkontaminasi oleh berbagai spesies kapang kontaminan. Dendeng ikan merupakan salah satu produk olahan ikan yang banyak disukai oleh masyarakat dan banyak diproduksi sebagai industri rumah tangga dalam rangka diversifikasi produk ikan. Apabila spesies-spesies kapang kontaminan dapat menghasilkan mikotoksin, maka dapat membahayakan kesehatan para konsumen dendeng Ikan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) meneliti spesies-spesies kapang kontaminan yang dapat bertahan hidup pada ikan yang telah diawetkan menjadi dendeng ikan 2) mengetahui jumlah koloni tiap spesies kapang kontaminan pada dendeng ikan; 3) mengetahui spesies kapang kontaminan yang paling dominan pada dendeng ikan. Sampel dendeng Ikan dibuat dengan menggunakan bahan baku ikan kembung lelaki (Rastreiliger canagurta). Dendeng ikan disimpan dalam suhu ruang selama 1-3 hari. Sampel dendeng ikan yang telah disimpan selama 6x24 jam sebanyak 10 gram dihaluskan dan dilarutkan dalam 90 ml larutan air pepton 0,1%, sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1 kemudian suspensi diencerkan lagi dalam larutan air pepton 0.1% pada tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, 10-6. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran dinokulasikan pada medium Czapek’s Agar sebanyak 0,1 ml dan diinkubasikan pada suhu 25°C selama 7x24 jam. Selanjutnya dilakukan penghitungan jumlah koloni tiap spesies kapang kontaminan, isolasi tiap spesies kapang kontaminan, pengamatan morfologi koloni, deskripsi ciri-ciri mikroskopis, serta identifikasi tiap spesies kapang kontaminan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, 1) Dalam sampel dendeng ikan yang diperiksa ditemukan 5 genus yang meliputi 17 spesies kapang. Kelima genus kapang tersebut ialah Aspergillus, Peniciilium. Fusarium, Cladosporium, dan Genicularia 2) Jumlah koloni tiap spesies kapang kontaminan pada dendeng ikan berkisar antara 0,13x104 cfu/g sampai 3,20x107 cfu/g sampel; 3) Spesies kapang kontaminan yang paling dominan pada dendeng ikan ialah Penicilium paraherquei yang berjumlah 3,20x10 cfu/gram sampel. Sehubungan dengan hal tersebut, maka keberadaan speies-spesies kapang kontaminan pada dendeng ikan perlu mendapat perhatian agar dendeng ikan tetap aman untuk dikonsumsi.   Kata kunci: Kapang kontaminan, dendeng ikan, mikoflor
Kajian Daya Antibakteri Beberapa Spesies Kapang Endofit yang Diisolasi dari Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum (Jag.) Gaertn) Utami Sri Hastuti; Indriana Rahmawati; Putri Moortiyani Al Asna
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 13, No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa spesies kapang endofit dapat memproduksi senyawa-senyawa bioaktif yang bersifat antimikroba, sehingga mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat. Melalui penelitian ini dilakukan pengujian daya antibakteri metabolit dari 7 spesies kapang endofit yang telah terisolasi dari daun dan ranting tanaman ginseng Jawa (Talinum paniculatum (Jag.) Gaertn). Tujuan penelitian ini ialah untuk : 1) menguji daya antibakteri metabolit kapang Colletotrichum acutatum, Colletotrichum coccodes,  Colletotrichum gloeosporioides, Xylohypha sp., Fusarium semitectum, Fusarium lateritium, Aspergillus candidus terhadap bakeri uji E. coli dan B. subtilis; 2) menentukan metabolit kapang endofit yang mempunyai daya antibakteri tertinggi terhadap E. coli; 3) menentukan metabolit kapang endofit yang mempunyai daya antibakteri tertinggi terhadap B. subtilis. Isolat masing-masing spesies kapang diinokulasikan ke dalam medium Potato Dextrose Broth (PDB) dan dikocok dengan shaker dengan kecepatan 120 rpm dalam waktu 7x24 jam, lalu disentrifugasi dengan kecepatan 300 rpm. Supernatan masing-masing spesies kapang diuji daya antibakterinya terhadap E. coli dan B. subtilis dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian membuktikan bahwa : 1) metabolit masing-masing spesies kapang mempunyai daya antibakteri baik terhadap E. coli maupun B. subtilis; 2) metabolit kapang Aspergillus candidus mempunyai daya antibakteri tertinggi terhadap E. coli; 3) metabolit kapang Aspergillus candidus mempunyai daya antibakteri tertinggi terhadap B. subtilis.Keywords: daya antibakteri, kapang endofit, ginseng jawa, E. coli, B. subtilis
Co-Authors Abdini, Aulia Abdul Fattah Noor Abdul Ghofur Abdul Gofur Abdul Gofur Abdul Gofur Abdul Gofur Agung Witjoro Ahmad Najib Ajeng Daniarsih Ali Mustofa Ana Syarifatun Nisa Anggia Oktantia Anindya Nirmala Permata Arif Rahman Arini Zahrotun Nasichah Ary Maf’ula Asna, Putri Moortiyani Al Aswal Salewangeng Aziz Tanama Balqis Balqis Betty Lukiati Chandra Kirana Chandra Kirana Chandra Kirana Choirunnisa, Hesti Nur Chomisatut Thoyibah Dina Istia’nah Dwi Listyorini Dwi Rahmawati Dwi Rahmawati Dwi Rakhmawati Dwi Rakhmawati Endang Suarsini Erna Wijayanti Faiza Nur Imawati Ningsih Fatchur Rohman Fatchur Rohman Fatchur Rohman Febriani Sarwendah Asri Nugraheni Febriani Sarwendah Asri Nugraheni Fitri, Rizka Diah Fitria Maulita Fitria Maulita Frida Kunti Setiowati Galina Istiqhfarini Gani, Abdul Rasyid Fakhrun Hadi Suwono Hamidah, Rodiah Amin Hanzen, W.F Edi Hendra Susanto Henny Nurul Khasanah Henny Nurul Khasanah Henny Nurul Khasanah Herawati Susilo Herdina Rahma Zalita Hesti Nur Choirunnisa Ibrohim Imam Mudakir Indah Sari Dewi Indriana Rahmawati Indriana Rahmawati Indriana Rahmawati Intan Rezki Kurniasari Istamar Syamsuri Izzalqurny, Tomy Rizky Izzatinnisa’ Izzatinnisa’ Khusnul Khotimah Kuniasari, Intan Rezki La Arlan Labibah, Sylvana Bilqis Lely Hermawati Linda Hapsari Linda Hapsari M. Ainur Yaqin M. Amin M. Nidhamul Maulana Mafluhah, Luluk Rofiatul Mahesti, Tika Maknuna, Durrotul Mareta Arisswara Edy Mariyanti Mariyanti Mashuri Saputra Mastika, Laily Maghfiro Kamil Maya Firdausi Prayudhani Muhammad Andry Prio Utomo Muhammad Syamsussabri Murni Sapta Sari Natalia Rosa Keliat Naufal Wima Al Fahri Ningsih, Husdiani Nugraheni, Febriani Sarwendah Asri Nursyahbani Saraha Nurul Yanuarsih Nuzalifa, Yossie Ulfa Otavia Dewi Permata Ika Hidayati Pratama, Ade Wahyu Pratama, Aris Yudha Puspitasari, Dela Reni Putri M. Al Asna Putri Moortiyani Al Asna Qorry Aulya Rohmana Rahel Natalia Saragih Munthe Rahmadyah Kusuma Putri Ria Yustika Sari Ria Yustika Sari Ria Yustika Sari Rina Kristina Maria Rizky, Mirza Yanuar Rofiqoh Lailatul Fitriyah Rozana, Kennis Safrudin M. Abidin Saidil Mursali Saidil Mursali Sari, Ria Yustika Siti Aisaroh Siti Annisaa&#039;ul Kariimah Siti Hartina Pratiwi Siti Zubaidah Siti Zubaidah Sitoresmi Prabaningtyas Sri Rahayu Lestari Sueb Sugeng Handiyanto Sugi Hartono Suhadi Suhadi Sulisetijono Sulisetijono Sundari, Syifa Syafitri, Nur Laila Umi Lestari Umu Fatonatul Hidayah W. F. Edi Hanzen W.F Edi Hanzen Wa Ode Nurhawa Yahmi Ira Setyaningrum Yessi Hermawati Yesy Maulina Nadhifah Yheni Sapitri Yulia Venicreata Dipu Yulia Venicreata Dipu Yunita Putri Irsadul Ummah Yunita Rakhmawati Zahida, Nadila Sekar