Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

SOSIALISASI PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI KONVENSIONAL SEBAGAI SUMBER BELAJAR SAINS PADA LAMAN YOUTUBE Muhamad Imaduddin; Dewi Suharningsih; Faricha Asniya Aufa; Atmim Nurona; Putri Handayani; Ririn Melati; Wisnu Bayu Murti
Buletin Udayana Mengabdi Vol 19 No 4 (2020): Buletin Udayana Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.379 KB)

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk mensosialisasikan aplikasi sains dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini memberi alternatif menyediakan sumber belajar sains pada jenjang SMP/MTs sesuai dengan kompetensi dasar yang ada. Tema berkaitan dengan bioteknologi konvensial yaitu produksi tape ketan dan yogurt kedelai. Pelaksanaan berlangsung selama masa pandemi Covid-19 sehingga kegiatan mengoptimalkan media sosial. Sosialisasi melalui beberapa tahap yaitu (1) Penulisan naskah vlog; (2) Penyiapan alat dan bahan praktikum; (3) Pelaksanaan praktik bioteknologi (proses); (4) Cek produk hasil fermentasi; dan (5) Unggah dan analsis tanggapan. Analisis tanggapan dilakukan dengan cek laman YouTube Studio yang mencakup viewer, like, durasi tonton, dan komentar. Analisis dilaksanakan pada durasi 2 minggu setelah proses pengunggahan. Hasil menunjukkan pada video “Bioteknologi Konvensional: Fermentasi Tape Ketan” memiliki 565 kali penayangan, persentase like sebesar 100%, dan durasi tonton rata-rata selama 1:27 menit. Adapun video “Yoghurt dari Susu Kedelai (Menghempaskan Kolesterol Jahat)” memiliki 337 kali penanyangan dengan persentase like sebanyak 100%, dan durasi tonton rata-rata selama 1:37 menit. Hasil analisis komentar menunjukkan kebermanfaatan dari sosialisasi melalui laman YouTube.
The usage of market vegetable waste in the production of electricity through microbial fuel cells Muhamad Imaduddin; Hermawan Hermawan; Hadiyan Hadiyan
Jurnal Sains Dasar Vol 3, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924 KB) | DOI: 10.21831/jsd.v3i2.4168

Abstract

Keberadaan sampah sayur pasar begitu melimpah. Pemanfaatan sampah sayur salah satunya diolahmenjadi kompos. Hasil kompos mengalami kesulitan dalam pemasarannya sehingga hanya digunakan dalam skalakecil dan juga berdampak ke lingkungan seperti asidifikasi dan eutrofikasi. Di sisi lain, ancaman krisis energi danbahan bakar menjadikan kegiatan terkait dengan energi baru terbarukan menjadi sesuatu yang mendesak untuksegera dilakukan. Salah satu energi alternatif terbarukan ini adalah Microbial Fuel Cells . MFCs merupakan jenisutama dari bioelectrochemical system yang mengonversi biomassa secara spontan menjadi listrik melalui aktivitasmetabolisme mikroorganisme. Tujuan penelitian adalah menerapkan teknologi MFCs sebagai aplikasi sel voltadalam memproduksi listrik dengan substrat fase slurry sampah sayur. Variasi dilakukan pada perbandingan faseslurry yaitu 1:2; 1:1, dan 2:1 serta penambahan EM4. Pengoperasian reaktor dilakukan selama 21 hari. Voltaseyang dihasilkan paling besar pada reaktor R1+ (1:2 dan penambahan EM4) yaitu mencapai 1180 mV, arus listriksebesar 5,1 μA, dan daya listrik sebesar 6,02 mWatt, serta kerapatan daya sebesar 462,92 mWatt/m2. Keberadaanair pada MFCs berperan dalam mekanisme degradasi sampah sayur. Kecenderungan naiknya energi listrik yangdihasilkan pada awal pengoperasian reaktor menunjukkan adanya peningkatan sintesis seluler mikroorganisme.Penurunan energi listrik dipengaruhi pH lingkungan hidup mikroorganisme serta proses terbentuknya media lekatpada elektroda.Kata kunci: sampah sayur pasar, listrik, microbial fuel cells
ANALISIS MISKONSEPSI SUBMIKROSKOPIK KONSEP LARUTAN PADA CALON GURU KIMIA Muhamad Imaduddin
Edu Sains: Jurnal Pendidikan Sains & Matematika Vol 6, No 2 (2018): VOLUME 6 NOMOR 2 DESEMBER 2018
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.776 KB) | DOI: 10.23971/eds.v6i2.983

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis miskonspsi submikroskopik tentang konsep larutan pada calon guru kimia. Cakupan konsep berkenaan dengan komponen larutan, konsentrasi, serta sifat asam basa pada larutan berair. Penelitian ini melibatkan 36 calon guru kimia tahun pertama di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Jawa Tengah. Metode pengumpulan data menggunakan Tes Analisis Miskonsepsi Submikroskopik (TAMS) serta wawancara terstrukstur. Teknik analisis TAMS mengunakan pengkategorian interpretasi, sedangkan analisis wawancara dilakukan melalui transkripsi, reduksi respon, serta pengkodean sesuai dengan miskonsepsi yang terjadi pada aspek makroskopik, submikroskopik, dan simbolik merujuk pada konsep kimia larutan. Hasil menunjukkan masih banyak partisipan calon guru yang mengalami kesulitan untuk menghubungkan konsep level makroskopik (larutan) dengan level submikroskopik (pemodelan larutan), maupun kaitannya dengan level simbolik yaitu konsentrasi atau molaritas larutan. Hanya satu calon guru yang mampu merepresentasikan jumlah partikel dan penyusunan partikel dalam gambar dengan tepat secara keseluruhan, serta dapat mengkonfirmasi hasilnya. Kondisi tidak terhubungnya level representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik pada calon guru dikarenakan pemahaman konsep pada level sekolah dan perkuliahan sebelumnya belum komprehensif. Dengan demikian, diperlukan perbaikan proses belajar dan mengajarkan kimia bagi calon guru agar tidak terjadi miskonsepsi lanjutan pada siswa dalam memahami konten kimia di masa mendatang.
Upaya Diversifikasi Makanan Diet Penderita Diabetes Mellitus melalui Pemanfaatan Umbi Suweg dalam Program “Konyaku Njowo” Muhamad Imaduddin; Irna Maekawati; Nur Mei Fitriati; Aris Bagus Pradana
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 10, No 1 (2019): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v10i1.2436

Abstract

Program “Konyaku Njowo” dilatarbelakangi oleh kurang optimalnya pemanfaatan umbi Suweg yang keberadaanya melimpah di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Suweg (Amorpophalus sp.) ini begitu potensial bahkan sebagai alternatif makanan diet bagi penderita Diabetes Mellitus. Nama “Konyaku” diambil merujuki pada nama makanan Jepang yang terbuat dari umbi konjac yang masuk ke dalam genus Amorphophallus. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan umbi suweg serta upaya diversifikasi makanan diet. Program ini berfokus pada kelompok masyarakat dampingan yaitu ibu-ibu PKK RW 05 dan RW 06, Kelurahan Bringin, Ngaliyan. Rangkaian program ini terdiri dari empat tahapan (1) sosialisasi dan pemberian materi tentang tanaman suweg; (2) pelatihan pembuatan tepung suweg; (3) pelatihan pembuatan aneka produk olahan; dan (4) sosialisasi materi gizi, Diabetes Mellitus dan wirausaha. Adapun keberlanjutan program ini berupa pemantauan dan pendampingan kerja dilakukan tim bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk dinas pertanian dan kantor ketahanan pangan kota Semarang. Dari keempat tahap dapat disimpulkan rata-rata ketercapaian target luaran sebesar 76,43%. Program “Konyaku Njowo” merupakan serangkaian program untuk memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan umbi suweg baik secara teoritis mapun praktis. Dengan program ini, keberadaan umbi suweg yang melimpah dapat termanfaatkan lebih optimal.
DISKRIPSI KETERAMPILAN PROSES SAINS CALON GURU KIMIA BERBASIS INQUIRY PADA PRAKTIKUM KIMIA DASAR Fitria Fatichatul Hidayah; Muhamad Imaduddin
JURNAL PENDIDIKAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG Vol 3, No 1 (2015): JURNAL PENDIDIKAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
Publisher : Pendidikan Kimia Unimus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jps.3.1.2015.8-12

Abstract

Pendekatan inquiry merupakan kegiatan merumuskan masalah, mengumpulkan data, membuat hipotesis, melakukan percobaan, menjelaskan konsep yang terkait materi, dan menganalisis hasiltemuan. Pendekatan inuiry ini diintegrastikan dengan ketrerampilan proses sains calon guru kimia sehingga sesuai dengan kompetensi lulusan calon guru kimia. Dengan demikian, praktikum kimia dasar yang dilakukan akan lebih bermakna dan mengena bagi calon guru kimia. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi keterampilan proses sains melalui perkuliahan praktikum Kimia Dasar berbasis inquiry. Penalitian ini menggunakan metode action riset. Dan teknik pengumpulan datamelalui angket, lebar observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian dihasilkan perbedan yang mencolok antara sesi praktikum dengan pendekatan inquiry dengan praktikum konvensional.Pendekatan inquiry mampu menghantarkan calon guru kimia menyajikan percobaan lebih bersifat eksploratif. Calon guru dituntut untuk mendesain kegiatan praktikum berdasarkan kasus-kasus yang diberikan kepada mereka. Kasus yang diberikan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang terintegrasi dengan keterampilan proses sains.penggunaan pendekatan inquiry mampu menggeser keterampilan proses sanis oleh calon guru kimia. Calon guru mapu menghasilkan desain praktikum, mampu megembangkan desain praktikum tersebut menjadi lebih bermanfaat dan bermakna. Respon calon guru sangat baik dan motivasi belajar calon guru terjadi peningkatan.Kata kunci: Berbasis Inquiry, Keterampilan Proses Sains, Praktikum Kimia Dasar
DESKRIPSI PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE GURU KIMIA MENGGUNAKAN KOMPONEN MODEL PENTAGON Muhamad Imaduddin; Fitria Fatichatul Hidayah; Andari Puji Astuti
JURNAL PENDIDIKAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG Vol 2, No 1 (2014): JURNAL PENDIDIKAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
Publisher : Pendidikan Kimia Unimus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jps.2.1.2014.26-35

Abstract

Salah satu tugas guru sains termasuk guru kimia adalah membantu siswa untuk memahami tentang konten pengetahuan sains. Pedagogical Content Knowledge (PCK) merupakan pengetahuan khusus yang dimiliki oleh guru mengenai bagaimana mengajarkan konten tertentu kepada peserta didik dengan strategi yang mempumengarahkan menuju pemahaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kemampuan pengetahuan konten pedagogik menggunakan komponen PCK pada model pentagon. Komponen PCK pada model pentagon terdiri dari K1 (orientasi dalam mengajar kimia), K2 (pengetahuan akan pemahaman siswa dalam kimia), K3 (pengetahuan akan kurikulum kimia), K4 (pengetahuan terhadap strategi dan representasi pembelajaran untuk mengajarkan kimia), dan K5 (pengetahuan akan assesmen). Penelitian ini merupakan penelitian multiple case study dengan informan tiga guru yang mengajar di sekolah yang sama. Dengan mengetahui komponen-komponen PCK, diharapkan terjadi perbaikan dalam proses pembelajaran kimia. Perbaikan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui dokumen CoRe dan PaP-eR. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi pada beberapa komponen PCK yang dimiliki oleh informan guru. Dengan demikian, untuk memperbaiki kualitas pembelajaran kimia, diperlukan strategi yang berbeda pada masing-masing informan guru.Kata kunci: Pedagogical Content Knowledge, Model Pentagon, CoRe dan PaPeR.
MODUL Q-SETS SEBAGAI REKAYASA BAHAN AJAR KIMIA YANG BERMUATAN QUANTUM LEARNING DAN BERVISI SALINGTEMAS Muhamad Imaduddin Imaduddin
JURNAL PENDIDIKAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG Vol 1, No 1 (2013): JURNAL PENDIDIKAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
Publisher : Pendidikan Kimia Unimus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jps.1.1.2013.26-36

Abstract

Melihat cakupan materi mata pelajaran kimia yang luas tersebut, tentu saja diperlukan waktu  pembelajan kimia yang tidak singkat untuk mencapai ketuntasan belajar. Guru dituntut untuk memaksimalkan pembelajaran padahal mata pelajaran kimia seharusnya tidak hanya diajarkan secara eoritis tetapi juga praktis. Untuk mengatasi keterbatasan ruang dan waktu tersebut, maka guru harus dapat menyusun suatu bahan ajar efektif untuk pembelajaran. Modul merupakan salah satu jenis bahan ajar serta sebagai media pembelajaran cetak. Cara dan gaya belajar merupakan kunci untuk mengembangkan kinerja seseorang termasuk siswa di sekolah. Quantum learning mencakup aspekaspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Oleh karena itu, pengembangan bahan ajar modul menggunakan pendekatan quantum learning diharapkan dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Terkait dengan quantum earning adalah perumusan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku). Wujud perumusan tersebut diwujudkan dalam bentuk visi salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat). Berdasarkan latar belakang di atas, muncul beberapa masalah antara lain bagaimana menyusun modul Q-SETS sebagai bahan ajar kimia yang bermuatan quantum learning dan bervisi salingtemas, serta dakah pengaruh penggunaan modul Q-SETS pada materi pokok reaksi oksidasi dan reduksi terhadap hasil belajar siswa. Aplikasi quantum learning bervisi salingtemas dalam modul Q-SETS dapat berupa kegiatan pencarian gaya belajar diri sendiri, peta konsep, penemuan AMBAK melalui analisis SETS, dan konsep TANDUR. Hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan desain modul Q-SETS adalah modul sebagai bahan ajar siswa harus mampu melayani kebutuhan siswa dengan modalitas visual, auditorial, maupun kinestetik sehingga informasi dalam modul dapat diserap dengan mudah. Alternatif desain modul dapat berupa penyajian strategi pembelajaran dalam media cetak modul. Penyajian strategi pembelajaran yang bermuatan quantum learning dan visi SETS terdiri dari:pembelajaran pendahuluan, penyampaian materi pembelajaran, memancing penampilan, pemberian umpan balik dan kegiatan tindak lanjut. Pembelajaran menggunakan modul Q-SETS berpengaruh erhadap hasil belajar kimia siswa. Besarnya pengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa sesuai dengan koefisien korelasi sebesar 0,506 dan koefisien determinasi 25,56% dengan kriteria pengaruh adalah sedang.
INFUSING ISLAMIC VALUES AND SUSTAINABLE DEVELOPMENT INTO CHEMISTRY FOR PRE-SERVICE ISLAMIC ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS Muhamad Imaduddin
JURNAL PENDIDIKAN SAINS (JPS) Vol 7, No 1 (2019): JURNAL PENDIDIKAN SAINS (JPS)
Publisher : Pendidikan Kimia Unimus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jps.7.1.2019.47-54

Abstract

This paper discusses the designs in infusing Islamic values and sustainable development and how challenges must be faced in the training for pre-service Islamic elementary school teachers. The subjects of this study consisted of 77 primary school educational candidates who contracted "Simple Chemistry" lectures The instrument was The Chemical Essay Test Integrated Sustainable Development Aspects (CET-SD) containing Islamic discourse. Based on pedagogical planning, lesson plans are divided into four stages, consisting of (1) phase of contact; (2) phase of curiosity and planning; (3) phase of elaboration; and (4) phase of deepening and networking. The link between Islamic values and chemistry and the environment was well understood by pre-service teachers. Some challenges in teaching chemical content were found regarding with (1) difficulties with the relation between macro domain and submicro domain; (2) difficulties with the relation between symbolic domain and macro or submicro domain; (3) difficulties with models.
Ayo Belajar IPA dari Ulama: Pembelajaran Berbasis Socio-Scientific Issues di Abad ke-21 Muhamad Imaduddin; Zaenal Khafidin
THABIEA : JOURNAL OF NATURAL SCIENCE TEACHING Vol 1, No 2 (2018): THABIEA : JOURNAL OF NATURAL SCIENCE TEACHING
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/thabiea.v1i2.4439

Abstract

Perubahan mindset pendidik IPA harus didasarkan pada keterampilan apa saja yang dibutuhkan peserta didik agar mencapai partisipasi penuh di masyarakat. Salah satu strategi potensial adalah pembelajaran berbasis Socio-Scientific Issues (SSI). Sejalan dengan isu-isu yang berkembang, Fatwa MUI hadir sebagai keputusan yang diberikan oleh ulama-ulama tentang permasalahan umat Islam didasarkan Al-Qur’an, Hadis, Ijma’, Qiyas, dan dalil lain yang muktabar. Implementasi media Fatwa MUI adalah wujud Islamisasi sains yang mengarah pada bagaimana sains dapat meningkatkan iman dan taqwa. Kajian ini bertujuan mengungkap Fatwa MUI apa saja yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran IPA, serta bagaimana implementasinya. Metode library research digunakan melalui penggalian informasi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pada struktur kurikulum IPA, serta kumpulan fatwa MUI. Hasil menunjukkan bahwa terdapat beberapa KD yang dapat dikaitkan dengan Fatwa MUI seperti zat aditif, zat adiktif-psikotropika, dan pencemaran lingkungan. Implementasi dapat dilakukan dengan desain pembelajaran bervisi SETS (Science-Environment-Technology-Society) dan berpondasi aspek Islami. Domain kognitif, afektif, dan budaya sosial dalam keterampilan abad ke-21 dapat ditumbuhkan seiring dengan tumbuhnya domain spiritual. Implikasi mengarah pada uji coba desain pembelajaran berbasis SSI dengan Fatwa MUI bidang POM, IPTEK dan lingkungan.
Islamic Science Camp: Program Pembelajaran IPA yang Menyenangkan dengan Konsep Islami dan Kecintaan pada Alam Ro’i Khatul Jannah; Muhamad Imaduddin; Muhammad Fathurriza; Muhammad Ali Sofyan; Helmi Auliya; Atmim Nurona; Izzatul Ulya; Abu Choir
Journal of Natural Science and Integration Vol 4, No 1 (2021): Journal of Natural Science and Integration
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jnsi.v4i1.11466

Abstract

This study aims to reveal how the concept of learning program design at the Islamic Science Camp (ISC), as well as to show the impressions of children and parents on the various ISC activities. This research consists of three stages, namely define, design and development. The trial subjects came from 11 elementary school (Islamic) institutions consisting of 28 students. The data were collected using (1) observation checklists; (2) documentation; (3) field notes sheets; and (4) impression sheets. Data analysis used tabulation techniques, narrative descriptions, and word cloud analysis. The science topics tested were related to (1) changes in the form of substances; (2) the concept of force and pressure; (3) matter and its classification; (4) the concept of energy; (5) aquatic ecosystems; and (6) plant morphology. Islamic values are emphasized in directing children's habituation activities, as well as providing children's motivation through Islamic figures in the fields of science and technology. Science projects include (1) a rotary ice cream making project; (2) launching a water rocket project; (3) making air freshener; (4) studying Islamic science; (5) building a ship and launching it; (6) river tracing and fishing; (7) making key chains from resin; and (8) making ecoprinting using pounding technique. Various positive impressions were obtained from the children and parents involved, and on the sustainability aspect, it was shown that there were repetitions and follow-up experiments by children outside the ISC program.Keywords: islamic science camp, science learning, love of nature, islamic science concept. ABSTRAK Kajian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana konsep desain program pembelajaran pada Islamic Science Camp (ISC), serta menunjukkan kesan anak dan orang tua pada ragam akivitas ISC. Riset ini terdiri dari tiga tahapan yaitu define, design, dan development. Subyek uji coba berasal dari 11 instansi SD/MI yang terdiri dari 28 siswa. Pengumpulan data menggunakan (1) daftar cek observasi, (2) dokumentasi, (3) lembar catatan lapangan, dan (4) lembar kesan. Analisis data menggunakan teknik tabulasi, deskripsi naratif, serta word cloud analyisis. Topik IPA yang diujicobakan berkaitan dengan (1) perubahan wujud zat; (2) konsep gaya dan tekanan; (3) materi dan klasifikasinya; (4) konsep energy; (5) ekosistem perairan; dan (6) morfologi tumbuhan. Nilai-nilai Islam ditekankan pada pengarahan kegiatan habituasi anak, serta pemberian motivasi anak melaui tokoh-tokoh Islam bidang sains dan teknologi. Proyek sains mencakup (1) proyek pembuatan es krim putar; (2) proyek meluncurkan roket air; (3) pembuatan pengharum ruangan; (4) kajian sains islami; (5) proyek pembuatan kapal dan meluncurkannya; (6) susur sungai dan tangkap ikan; (7) pembuatan gantungan kunci dari resin; dan (8) pembuatan ecoprinting dengan teknik pounding. Beragam kesan positif diperoleh dari anak dan orang tua yang terlibat, serta pada aspek keberlanjutan ditunjukkan adanya repetisi dan eksperimen lanjutan oleh anak di luar program ISC. Kata kunci: Islamic Science Camp, pembelajaran IPA, cinta alam, konsep islami sains.