Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Ecogreen

KARAKTERISTIK MORFOMETRI MENENTUKAN KONDISI HIDROLOGI DAS RORAYA Kahirun Kahirun; La Baco S.; Umar Ode Hasani
Jurnal Ecogreen Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.173 KB)

Abstract

ABSTRAKKarakteristik morfometri DAS digunakan sebagai dasar dalam pengelolaan baik pencegahan  maupun  penanggulangan banjir.  Namun selama ini dalam penanganan banjir puncak tidak pernah memperhatikan morfometri DAS sebagai karakteristik dasar alami yang mempengaruhi perilaku air (hidrologi) sungai dalam suatu  DAS.  Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfometri  menentukan perilaku hidrologi sebagai dasar dalam pengelolaan sumberdaya air di DAS Roraya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Roraya  berdasarkan deliniasi peta administrasi skalaa 1:250.00, memiliki luas DAS Roraya adalah 1.455,97 km2, terbagi atas 5 Sub DAS. Karakteristik morfometri menunjukkan bahwa DAS Roraya berbentuk memanjang. Kerapatan drainase DAS Roraya tergolong kelas sedang dan indeks percabangan sungai berkisar antara 3-5 tergolong dalam kelas sedang.  Sehingga DAS Roraya tidak rawan banjir, namun apabila terjadi kondisi iklim yang ekstrim  maka menyebabkan DAS Roraya mengalami banjir besar, sehingga terjadi penggenangan air dalam waktu yang relatif lama. Upaya pengelolaan DAS Roraya berbasis karakteristik morfometri dengan memperhatikan beberapa Sub DAS dengan mempertahankan ketersediaan dan keberlanjutan air sepanjang tahun tetap ada, kebutuhan sumber daya air dapat dipenuhi. Secara fisik pada wilayah tengah  DAS/sub  DAS  Roraya dapat  dibangun dam pengendali (cekdam), embung dan/atau bendungan air yang dilengkapi pintu air yang dapat mengatur kontinuitas aliran sungai. Kata kunci: DAS, parameter morfometri, karakteristik hidrologi  ABSTRACTThe morphometry characteristics of watershed is used as the basis for flood management and mitigation. However, during peak flood handling, it has never considered watershed morphometry as a natural basic characteristic that affects river water (hydrological) behavior in a watershed. The objective of this research is to know the characteristic of morphometry to determine the hydrological behavior as the basis for the management of water resources in the Roraya watershed. The results showed that Roraya watershed based on delineation of administration map scale 1: 250.00, has wide Roraya watershed is 1.455,97 km2, divided into 5 sub-basins. Characteristics of morphometry show that  the shape of the Roraya watershed is elongated. Roraya watershed drainage density is medium class and river branch index (bifurcation ratio) ranges from 3 to 5 belonging to medium class. So that Roraya watershed is not prone to flooding, but if there is extreme climatic conditions then cause the Roraya watershed to flood large, resulting in waterlogging in a relatively long time. Efforts to manage Roraya watershed based on morphometric characteristics with respect to several sub watersheds by maintaining water availability and sustainability throughout the year, the need for water resources can be met. Physically in the middle area of the Roraya watershed/ sub watershed can be constructed dam (control), embung and / or water dam equipped with sluice gate that can regulate the continuity of river flow. Keywords: watershed, morphometric parameters, hydrological characteristics
ANALISIS KUALITAS AIR SUNGAI KONAWEHA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Umar Ode Hasani
Jurnal Ecogreen Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.505 KB)

Abstract

Perubahan penggunaan lahan dan bentang alam akan mengakibatkan pencemaran sungai yakni menurunnya kualitas air.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air sungai Konaweha baik secara fisika (terkait dengan kadar pH, TSS, BOD, COD dan DO), sifat kimia (terkait dengan kadar NO3, Fe,dan  Cl), dan sifat biologi (terkait kadar Coli Form)  berdasarkan baku mutu kualitas air sungai (PP Nomor 82 Tahun 2001) dan menganalisis beban pencemaran yang masuk ke sungai menggunakan metode indeks pencemaran (KeMenLH  Nomor 115 Tahun 2003).  Hasil penelitian kualitas air sungai Konaweha menunjukkan bahwa : (1) Kadar BOD, COD, dan Coli Tinja  air air sungai yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan kategori kriteria mutu air berdasarkan PP. Nomor 82 Tahun 2001 masuk kategori cemar ringan berdasarkan análisis storet (KepMenLH Nomor 115 tahun 2003), dan (2) Keberadaan konsentrasi TDS, TSS, DO, NO3, Fe, Cl, dan Coli Form cenderung meningkat di dalam air walaupun berdasarkan criteria mutu air (PP. Nomor 82 Tahun 2001) masih berada dibawah nilai kisaran baku mutu air sehingga masuk kategori kelas I dan memenuhi baku mutu air berdasarkan análisis storet (KepMenLH Nomor 115 tahun 2003).
ANALISIS TINGKAT BAHAYA EROSI DAN LAHAN KRITIS DI DAERAH ALIRAN SUNGAI RORAYA PROVINSI SULAWESI TENGGARA La Baco S. La Baco S.; Umar Ode Hasani; Kahirun Kahirun; Abdul Jalil
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.388 KB)

Abstract

ABSTRACTThe degree of erosion hazardand critical land has a link to affect soil conditions. Lands that have a heavy erosion rate tend to be critical which is characterized by low soil productivity. The purpose of this study was to analyze the degree of erosion hazard and critical land in the Roraya watershed. This research was conducted using survey method for primary and secondary datacollection. The results showed that soil erosion rates in the Roraya watershed were dominated by moderate erosion rates (15 - 59 ton/ha/year) and heavy erosion rates (180 - 460 ton/ha/year) of 48,295.10 hectares (33 , 17%) and 37,362.89 hectares (25.66% of the total area of the Roraya watershed). The critical land area in the Roraya watershed is 48,348.06 hectares or 33.21%, while the most critical land area is 1,504.58 hectares or 1.03% of the total area of the Roraya watershed. Keywords: erosion hazard, critical land, Roraya Watershed ABSTRAKTingkat bahaya erosi dan lahan kritis mempunyai keterkaitan untuk mempengaruhi kondisi tanah.  Tanah-tanah yang mempunyai tingkat erosi berat cenderung akan menjadi kritis yang dicirikan oleh produktivitas tanah rendah.  Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat bahaya erosi dan lahan kritis di DAS Roraya.  Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei untuk pengambilan data primer dan data sekunder.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat erosi tanah di DAS Roraya didominasi oleh tingkat erosi sedang (15 – 59 ton/ha/tahun) dan tingkat erosi berat (180 – 460 ton/ha/tahun)  masing-masing seluas seluas 48.295,10 hektar (33,17 %) dan 37.362,89 hektar (25,66 % dari total luas DAS Roraya). Luas lahan yang tergolong kritis di DAS Roraya adalah seluas 48.348,06hektaratau 33,21 %,sedangkan luas lahan sangat kritis adalah 1.504,58hektar atau 1,03 % dari total luas DAS Roraya. Kata Kunci: bahaya erosi, lahan kritis, Daerah Aliran Sungai Roraya
ANALISIS DAERAH RAWAN BANJIR DAN TANAH LONGSOR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI LATOMA PROVINSI SULAWESI TENGGARA La Baco S.; Kahirun Kahirun; Umar Ode Hasani
Jurnal Ecogreen Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.96 KB)

Abstract

ABSTRAKBanjir dan tanah longsor merupakan fenomena alam yang banyak terjadi bukan saja di Indonesia bahkan juga di luar negeri.  Banjir dan tanah longsor disebabkan oleh banyak faktor yang secara garis besar dibedakan atas faktor alam dan faktor manusia.  Tujuan penelitian ini adalah untuk  menganalisis daerah rawan banjir dan daerah rawan longsor di Daerah Aliran Sungai Latoma. Penelitian ini dilakukan di DAS Latoma dengan menggunakan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerawanan banjir dengan kategori sedang mencapai luas  40.645,62 ha atau sekitar 80,28 %, tidak rawan banjir mencapai 6.054,91 ha atau sekitar 11,96 % dan rawan banjir mencapai 3.931,55 ha atau sekitar 7,76 % dari total luas DAS Latoma. Daerah rawan longsor di DAS Latoma mencapai luas 43.768,52 ha atau 86,44 %, tidak rawan longsor di seluas 3.968,28 ha atau 7,84 %, dan tingkat kerawanan sedang adalah 2.895,29 ha atau sekitar 5,72 % dari total luas DAS Latoma. Kata Kunci: banjir, tanah longsor, daerah rawan banjir, daerah rawan longsor, DAS Latoma  ABSTRACTFlood and landslide is a natural phenomenon that many occur not only in Indonesia and even abroad. Floods and landslides are caused by many factors that are broadly distinguished over natural factors and human factors. The purpose of this research is to analyze flood susceptible areas and landslide susceptible areas in the Latoma watershed. This research was conducted in Latoma watershed using survey method. The results showed that flood vulnerability with moderate category reaches 40,645.62 hectares or about 80.28%, not flood susceptible reaches 6,054,91 hectares or about 11,96% and susceptible to flood reach 3,931,55 ha or about 7,76 % of the total area of Latoma watershed. The landslide susceptible areas in the Latoma watershed reached 43,768.52 ha or 86.44%, were not vulnerable to landslides of 3,968.28 ha or 7.84%, and moderate vulnerability was 2,895.29 ha or about 5.72% of the total extensive Latoma watershed. Keywords: flood, landslide, flood susceptible areas, landslide susceptible areas, Latoma watershed
STRATEGI PENGEMBANGAN HUTAN MANGROVE SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA DI TELUK KENDARI La Ode Agus Salim Mando; Umar Ode Hasani; Abdul Sakti
Jurnal Ecogreen Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.669 KB)

Abstract

ABSTRAKPenilitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan hutan mangrove sebagai kawasan ekowisata dengan menganalisis faktor internal dan eksternal. Lokasi penelitian berada di Kelurahan Lahundape Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari. Pengambilan data dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yakni pada bulan Oktober sampai November 2018. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan metode pendekatan gabungan (analisis kuantitatif dan kualitatif). Pengambilan responden ditentukan dengan metode purposive sampling dan accidental sampling yang terdiri dari perwakilan intansi terkait, perwakilan perguruan tinggi, perwakilan LSM, masyarakat lokal dan wisatawan. Teknik pengambilan data menggunakan instrument pengumpulan data non-test, yaitu; melalui wawancara terpimpin, observasi, dan studi pustaka. Data yang diperoleh kemudian dikelompokkan menjadi dua yakni kedalam faktor internal dan faktor eksternal. Selanjutnya, dianalisis dengan menggunakan matrik SWOT. Hasil penelitian yaitu, Strategi Pengembangan Ekowista : a) Mengkonservasi mangrove dengan menjadikan Kawasan Mangrove Lahundape Kota Kendari sebagai alternatif tempat ekowisata baru; b) Memanfaatkan dukungan modal dari pemerintah kota dan dinas-dinas terkait, untuk membangun sarana dan prasarana wisata, serta pelayanan dan pengawasan; c) Memanfaatkan keberadaan masyarakat di sekitar Kawasan Ekowisata Mangove Kelurahan Lahundape yang kooperatif; d) Melakukan promosi melalui media cetak maupun media elektronik; e) Memanfaatkan lembaga pendidikan, lemabaga swadaya masyarakat, instansi terkait, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Kendari sebagai mitra. Kata-kata Kunci: Hutan Mangrove, Kawasan Ekowisata, Strategi Pengembangan, Analisis SWOT ABSTRACT This study aims to formulate a strategy for developing mangrove forests as an ecotourism area by analyzing internal and external factors. The research location was in Lahundape Sub-District, West Kendari District, Kendari City. Data retrieval is carried out for 2 (two) months, namely from October to November 2018. The research method used in this study was descriptive with a combined approach method (quantitative and qualitative analysis). Retrieval of respondents was determined by purposive sampling method and accidental sampling consisting of relevant agency representatives, representatives of universities, representatives of NGOs, local communities and tourists. The data collection technique uses non-test data collection instruments, namely; through guided interviews, observations, and literature studies. The data obtained is then grouped into two namely into internal factors and external factors. Furthermore, it was analyzed using the SWOT matrix. The results of the study are, Ecotourism Development Strategy: a) Conserving mangroves by making the Lahundape Mangrove Area of Kendari City as an alternative place for new ecotourism; b) Utilizing capital support from the city government and related agencies, to build tourism facilities and infrastructure, as well as services and supervision; c) Utilizing the existence of a cooperative community around the area of Lahundape Village Mangrove Ecotourism; d) Promotion through print and electronic media; e) Utilizing educational institutions, non-governmental organizations, related institutions, Regional Representatives of Kendari City as partners. Key Words: Development Strategy, Mangrove Forest, Ecotourism Area, SWOT Analysis
ANALISIS DAERAH RAWAN BANJIR DAN TANAH LONGSOR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI LAHUMBUTI HULU PROVINSI SULAWESI TENGGARA La Baco; Sitti Marwah; kahirun kahirun; Umar Ode Hasani
Jurnal Ecogreen Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.578 KB)

Abstract

ABSTRACTFloods and landslides are a form of natural disaster that causes harm to humans. Floods and landslides are caused by many factors which are broadly distinguished by natural factors and human factors. The purpose of this study was to analyze flood susceptible areas and landslide susceptible areas in the Upper Lahumbuti watershed. This research was conducted in the Upper Lahumbuti watershed using the survey method. The results showed that the level of flood vulnerability in the Upper Lahumbuti watershed included a medium vulnerability level of 15,022.58 ha (65.22%), an area that was not susceptible to flooding reaching an area of 5,004.29 ha (21.73%), and an area of flood susceptible reaches 3,005.23 ha (13.05%). Areas susceptible to landslides in the Upper Lahumbuti watershed reached an area of 17,599.08 ha (76.41%), the area included in the rather landslide susceptible category was 2,997.19 ha (13.01%), while the area with medium vulnerable categories was 2,159.13 (9.37%). Keywords: flood, landslide, flood susceptible areas, landslide susceptible areas, Upper Lahumbuti watershed ABSTRAKBanjir dan tanah longsor merupakan bentuk bencana alam yang menyebabkan kerugian bagi manusia.  Banjir dan tanah longsor disebabkan oleh banyak faktor yang secara garis besar dibedakan atas faktor alam dan faktor manusia.  Tujuan penelitian ini adalah untuk  menganalisis daerah rawan banjir dan daerah rawan longsor di Daerah Aliran Sungai Lahumbuti Hulu. Penelitian ini dilakukan di DAS Lahumbuti Hulu dengan menggunakan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerawanan banjir di DAS Lahumbuti Hulu meliputi tingkat kerawanan sedang dengan luas 15.022,58 ha (65,22 %),  daerah yang tidak rawan banjir mencapai luas 5.004,29 ha (21,73 %), dan luas wilayah yang rawan banjir mencapai 3.005,23 ha (13,05 %). Daerah rawan longsor di DAS Lahumbuti Hulu mencapai luas 17.599,08 ha (76,41 %), wilayah yang termasuk kategori agak rawan longsor adalah 2.997,19 ha (13,01 %), sementara itu luas wilayah dengan kategori rawan sedang adalah seluas 2.159,13 (9,37 %). Kata Kunci: banjir, tanah longsor, daerah rawan banjir, daerah rawan longsor, DAS Lahumbuti Hulu
ANALISIS KETERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI RORAYA PROVINSI SULAWESI TENGGARA La Baco S.; Kahirun Kahirun; Umar Ode Hasani; Abdul Jalil
Jurnal Ecogreen Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.086 KB)

Abstract

The recent phenomenon associated with the existence of water resources is a decrease in water supply while water demand continues to increase over time which is a logical consequence of population growth and increased economic activity. The purpose of this study was to analyze the availability and demand of water in the Roraya watershed. The research method used is the collection and analysis of secondary data. The results showed that water supply in the Roraya watershed was 3.75 m3/sec or 324,000 m3/day. The total water demand is 326,897 m3/day which is the cumulative value of domestic water demand of 16,316 m3/day, the demand of non domestic water is 3,263 m3/day, the need of irrigation water is 283,738 m3/day and the industrial water demand is 23,580 m3/day. Most of the water demand in the Roraya watershed is irrigation water of 86.6% of the total water demand in the Roraya watershed, while the domestic water demand in the Roraya watershed is about 5.0%. Industrial water demand in the Roraya watershed reached 7.2%, while non-domestic water demand only reached 1% of the total water demand in the Roraya watershed. The balance of water supply and demand in the Roraya watershed shows that every day there will be a water deficit of 2,897 m3/day. Key Words: Water Supply, Water Demand
PERENCANAAN SISTEM USAHATANI LAHAN KERING DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BAU-BAU PULAU BUTON SULAWESI TENGGARA Umar Ode Hasani; Laode Agusalim Mando
Jurnal Ecogreen Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.444 KB)

Abstract

Perubahan penggunaan lahan dan penerapan pola tanam dan agroteknologi yang tidak sesuai dengan kelas kemampuan lahan menyebabkan perubahan kualitas sumberdaya  lahan di DAS Bau-Bau.  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian antara penggunaan lahan dan kelas kemampuan lahan di DAS Bau-bau, dan menyusun rekomendasi perencanaan pengelolaan lahan yang berkelanjutan.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode evaluasi penggunaan lahan, dan metode evaluasi pola tanam dan penggunaan agroteknologi serta analisis finasial usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua penggunaan lahan sudah sesuai dengan kelas kemampuan lahan.  Faktor penghambat utama yang dijumpai dalam pengelolaan lahan adalah kemiringan lereng berombak sampai agak curam.  Berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian penggunaan lahan dengan kelas kemampuan lahan dan pola tanam dan agroteknologi khusus pada lahan kelas I dan II, maka aplikasi pola tanam dan agroteknologi yang ditawarkan pada tegalan dan kebun campuran tersebut  adalah perbaikan penerapan pola tanam (multiple cropping), pemupukan, teknik konservasi tanah dan/atau dikombinasikan dengan ternak, sedangkan pada lahan kelas IV dan VI pada daerah semak belukar adalah :  Hutan sekunder untuk tanaman kehutanan diikuti dengan teknik konservasi tanah (teras gulud atau bangku , tanaman penutup lahan) dan/atau pengembalaan ternak. Dengan demikian, rekomendasi ini diharapkan dapat dijadikan dasar dalam menyusun perencanaan pengelolaan lahan sesuai potensi dan  kelas kemampuan lahan yang ada di seluruh daerah aliran sungai (DAS)  Bau-bau. Kata Kunci : Evaluasi Kesesuaian Lahan, Rencana Pengelolaan Lahan, DAS
PRIORITAS PENGELOLAAN SUB DAS BERDASARKAN KARAKTERISTIK MORFOMETRI DI DAS KONAWEHA Kahirun Kahirun; La Baco S.; Umar Ode Hasani
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.092 KB)

Abstract

ABSTRAKAnalisis kuantitatif parameter morfometri DAS merupakan suatu hal yang penting digunakan dalam mengevaluasi DAS Konaweha, dalam menentukan prioritas untuk konservasi tanah dan air dan pengelolaan sumberdaya alam dalam skala mikro pada level Sub DAS. Sebab peningkatan pengelolaan sumberdaya  lahan, tanah dan air pada suatu DAS, memerlukan data tentang karakteristik morfometri yang mengindikasikan tentang degradasi dan erosi tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (i) menghitung dan menganalisis karakteristik morfometri DAS Konaweha dan Sub DASnya, (ii) menganalisis dan menentukan skala ranking atau prioritas pengelolaan DAS pada semua Sub DAS di  DAS Konaweha. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa DAS Konaweha dengan karakteristik morfometri terdiri dari parameter  areal, linear dan bentuk  seperti kerapatan sungai, tingkat percabangan sungai, frekuensi sungai, rasio bentuk DAS, faktor bentuk, rasio membundar dan rasio memanjang, dapat disimpulkan bahwa DAS Konaweha dan semua Sub DAS nya umumnya merupakan DAS yang memanjang yang menunjukkan debit puncak banjir yang tidak terlalu cepat dengan waktu penurunan yang tidak terlalu lambat, air mempunyai banyak waktu tersimpan/terinfiltrasi ke dalam tanah.  DAS Konaweha tidak rawan banjir, namun apabila jika terjadi kondisi iklim yang ekstrim mengalami banjir besar, maka penggenangan karena banjir tersebut akan terjadi dalam waktu yang relatif lama, sehingga DAS Konaweha sangat peka terhadap banjir puncak (peak of discharge). Berdasarkan analisis karakteristik morfometri beberapa Sub DAS menunjukkan sebagai  prioritas utama untuk dilakukan pengelolaan seperti Sub DAS Konaweha Lahumbuti, Sub DAS Tinobu, Sub DAS Kokapi, Sub DAS Lembo dan Sub DAS Aloalo. Kata kunci: Sub DAS, Analisis Multivariat,  Korelasi Parameter Morfometri, Prioritas Pengelolaan.  ABSTRACTThe analysis of quantity watershed morfometric is most interesting used to evaluated Konaweha Watersheed  and to determine management priority soil and water conservation, and natural resources at micro watherseed or Sub Watersheed. Because improving management of land resources, soil and water in watersheed need data about  morphometry characteristics who indicate land degradation and errosion. The aims of research is: (i) to compute and analysis morphometry characteristics Konaweha Watersheed and their sub watersheed, ( ii) to analysis  and  determine ranking scale or priority of watersheed management of all sub watersheed in Konaweha Watersheed. The results of research showed that Konaweha Watersheed have morphometry characteristics i.e. linear, areal and shape parameter as area of watersheed,  perimeter watersheed, length of watersheed, bifurcation ratio, drainage density, stream frequency, form factor ratio, shape factor, circulatory ratio and elongation ratio, can be concluded that Konaweha Watersheed and all of their sub watersheds have shape elongation to show that peak discharge  not quickly with time of recession is not slowly, the water many time to recharge as infiltration water in soil. Konaweha Watersheed is not prone to flooding, but if there is extreme climatic conditions then cause the Konaweha Watershed to flood large, resulting in waterlogging in a relatively long time, so Konaweha Watersheed is very sensitive to peak discharge.  According analysis morphometry characteristics some sub watersheed show that as the first priority to manage i.e. Konaweha-Lahumbuti Sub Watersheed, Tinobu Sub Watersheed, Kokapi Sub Watersheed, Lembo Sub Watersheed and Aloalo Sub Watersheed. Key Words: Sub Watersheed, Multivariat Analysis, Correlation Morphometri Parameter, Priority of Management 
ALTERNATIF PEMBANGUNAN KEHUTANAN BERBASIS AGROFORESTRY MENGATASI EROSI TANAH DI DAS ONEWILA KABUPATEN KONAWE SELATAN SULAWESI TENGGARA Umar Ode Hasani; Sitti Marwah; La Ode Alwi
Jurnal Ecogreen Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.847 KB)

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitinan ini adalah : (1) Mengetahui tingkat erosi pada setiap penggunaan lahan di DAS Onewila dan (2) Merumuskan rekomendasi pembangunan kehutanan berbasis agroforestry di DAS Onewila. Hasil peneltian menunjukkan bahwa (1) Tingkat erosi pada kawasan hutan lebih rendah dari Etol, sedangkan tingkat erosi pada kawasan pertanian, semak belukar dan permukiman lebih besar dibandingkan dengan ETol dan (2) Rekomendasi pembangunan kehutanan berbasis agrofoestry di DAS Onewila khususnya di kawasan pertanian dan semak belukar adalah (a) Pengaturan pola tanam (tumpangsari, tumpang gilir, tumpang sisip) dan dengan mengkombinasikan tanaman kehutanan dan tanaman pertanian, (b) Pembuatan teras dan penanaman tanaman penguat teras searah kontur, serta (c) Penanaman tanaman penutup tanah dengan tanaman leguminose atau rumput pakan ternak untuk mencegah atau menekan erosi tanah yang terjadi sampai erosi yang dapat ditoleransikan pada musim hujan. Kata Kunci : Pembangunan, Agroforestry, Erosi Tanah, dan DAS