Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

RATOK SI BUNSU: INTERPRETASI ILAU KE KOMPOSISI PENDEKATAN TRADISI Fitri Rahmadhani; Asril Asril; M. Halim
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49076

Abstract

a tradition of the Solok people in the form of sadness or lamentation which can be found in the Kampai Tabu Karambia Village, Solok City. The function of the bailau was as a medium of information (notification) when a member of the community died overseas whose body could not be brought back to their hometown. Currently, bailau Ilau is only a performing art that is exhibited at certain traditional events so that it becomes bailau creations. Dendang ratok ilau is a source in the creation of new musical compositions, which has a musical phenomenon, namely there is a vocal technique called opmaat and also a tone mode which, if sequenced, can be found tones C, D, Dis, G, and A with intervals of 1, ½, 1 ½ , 1. Ratok Si Bunsu's work was worked on by the method of creating observation, discussion, exploration, realization, guidance, and completion using a traditional approach with the instruments saluang, rabab, canang, gong, ganto, karinding, and gandang tambua. The result of this work is that the creator divides the work into two parts. The first part of the artist's work on the dendang ratok ilau melody uses the principle of combining the two traditional vocals found in bailau art, but there are several tones used to enrich the form of the work. In the second part, the composer develops the melodies found in dendang ratok ilau into several forms of new melodies with vocals and melodic instruments and is reinforced with non-melodic instruments. It can be concluded that working on a composition based on traditional art is not an easy thing, but you have to study and understand the background of the traditional art itself.Keywords: ilau interpretation, ratok si bunsu. AbstrakIlau adalah tradisi masyarakat Solok berupa kesedihan atau ratapan yang bisa ditemui di Kelurahan Kampai Tabu Karambia Kota Solok. Fungsi bailau dahulunya sebagai media informasi (pemberitahuan) ketika salah seorang anggota masyarakat meninggal di perantauan yang jenazahnya tidak bisa dibawa pulang ke kampung halaman. Sekarang ini, bailau hanya sebagai seni pertunjukan yang dipertontonkan pada acara adat tertentu sehingga menjadi bailau kreasi. Dendang ratok ilau menjadi sumber dalam penggarapan komposisi musik baru, yang memiliki fenomena musikal yaitu terdapat teknik vokal yang disebut dengan opmaat dan juga modus nada yang jika diurutkan ditemui nada C, D, Dis, G, dan A dengan interval 1, ½, 1 ½, 1. Karya Ratok Si Bunsu digarap dengan metode penciptaan observasi, diskusi, eksplorasi, realisasi, bimbingan, dan penyelesaian menggunakan pendekatan tradisi dengan instrumen saluang, rabab, canang, gong, ganto, karinding, dan gandang tambua. Hasil dari karya ini adalah pengkarya membagi karya dalam dua bagian. Bagian pertama pengkarya menggarap melodi dendang ratok ilau menggunakan prinsip menggabungkan kedua vokal tradisi yang terdapat pada kesenian bailau, akan tetapi ada beberapa nada yang digunakan untuk memperkaya bentuk garapan. Pada bagian kedua, pengkarya mengembangkan melodi yang terdapat pada dendang ratok ilau menjadi beberapa bentuk melodi baru dengan vokal dan instrumen melodis serta diperkuat dengan instrumen non melodis. Dapat disimpulkan bahwa menggarap sebuah komposisi yang berangkat dari kesenian tradisi itu bukanlah hal yang mudah, melainkan harus mempelajari dan memahami latar belakang dari kesenian tradisi itu sendiri.Kata Kunci: interpretasi ilau, ratok si bunsu. Authors:Fitri Rahmadhani : Institut Seni Indonesia PadangpanjangAsril : Institut Seni Indonesia PadangpanjangM. Halim : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Arizal, A. (2023). œIstilah Ratok Si Bunsu. Hasil Wawancara Pribadi: 23 Januari 2023, Koto Baru Solok. Basrul, Y. (2023). œBailau di KTK Solok. Hasil Wawancara Pribadi: 22 Januari 2023, KTK Solok. Herdianto, F., Yusnelli, Y., & Antara, F. (2021). Komposisi Musik Badondong Baibo dalam Musik Instrmental. GORGA: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 115-124. https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/gorga/article/view/24912/15760Malik, C. (2018). Makna Ratok Ilau pada Pertunjukan Bailau di Kampai Tabu Karambia Kota Solok Sumatera Barat. https://lib.pasca.isi.ac.id/index.php?p=show_detail&id=4334Neng, N. (2023). œBailau di KTK Solok. Hasil Wawancara Pribadi: 22 Januari 2023, KTK Solok.Supanggah, R. (2007). Garap Bothekan Karawitan II. Surakarta: ISI Press Surakarta.Syofia, N. (2010). Tari Ilau sebagai Identitas dalam Kehidupan Masyarakat di Kelurahan Kampai Tabu Karambia Kota Solok Sumatera Barat. Tesis Program Pasca Sarjana ISI Padangpanjang.Tegar, K. (2023). Deskripsi dan Transkripsi Bailau pada Laman Youtube Andi Jagger dan Bidang Promosi dan Kebudayaan Dispar Kota Solok (Doctoral dissertation, Universitas Andalas).https://pustaka.fk.unand.ac.id/2016-04-11-15-04-06/skripsi-thesis-disertasi.
MANAGEMENT OF INTERNAL CULTURAL ARTS SANGGAR PENGHULU: OMPEK GANJI LIMO GONOK TRADITION FESTIVAL IN KIBUL VILLAGE Febra Muyusari; Asril Asril; Andar Indra Sastra
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.61735

Abstract

The purpose of this study is to ascertain how the Ompek Ganji Limo Gonok Oral Tradition festival (OGLG) in West Tabir District is processed by the Sanggar Seni Batin Penghulu. This study employed a qualitative approach, including observation, interviews, and recording; the presenting method was descriptive qualitative. Sanggar Seni Batin Penghulu combines traditional management and modern management. The results of OGLG oral tradition management consist of planning, organization, implementation, and supervision. The planning carried out by the Sanggar Seni Batin Penghulu included creating concepts, coordinating meetings, and dividing work tasks, administrative preparations, and making technical instructions. The organization carried out is the division of work tasks and preparing strategies and tactics to create a festival. The implementation carried out is applying everything that has been designed. This activity consists of an oral tradition competition, an oral tradition workshop, a culinary competition, and an oral tradition performance. The departments responsible for supervision are the Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, and the Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merangin. The ministry receives direct information on the finances and operations of Sanggar Seni Batin Penghulu Inner Culture.
Bentuk Penyajian dan Fungsi Musik Kompangan dalam Upacara Cukuran Anak di Desa Tenam Batanghari Jambi Abdul Rokhan; Asril Asril; Muhammad Zulfahmi
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v6i1.30918

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bentuk dan fungsi kompangan dalam upacara cukuran anak di Desa Tenam Kabupaten Batanghari Propinsi Jambi. Kompangan merupakan musik tradisi bernuansa Islam yang berkembang di Desa Tenam Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. Bentuk musik kompangan terdiri dari vokal dan instrumen berupa rebana yang disebut kompang, berupa alat musik pukul dari jenis membranofon yang dimainkan oleh sepuluh sampai lima belas orang pemusik. Kompangan oleh masyarakat Desa Tenam digunakan untuk cukuran anak, arak-arakan pengantin, tahun baru Islam, penyambutan tamu penting dan sebagainya. Kompangan dalam cukuran anak merupakan proses pemotongan rambut bayi yang berusia 3 sampai 7 bulan dengan iringan tabuhan kompang, pertunjukan dilakukan dengan berdiam di tempat mengiringi pemotongan rambut bayi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data secara observasi, dokumentasi, dan wawancara di lokasi kesenian kompangan untuk mendapatkan informasi. Hasil penelitian menunjukkan ada sepuluh fungsi yang terkait pada musik kompangan dalam upacara cukuran anak di Desa Tenam Kabupaten Batanghari Propinsi Jambi. 
BAKAYAT DALAM UPACARA MAMBILANG AGHI KA-100 DI NAGARI SILANTAI KECAMATAN SUMPUR KUDUS KABUPATEN SIJUNJUNG Ivan Alfimus; Yurnalis Yurnalis; Asril Asril
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 3, No 1 (2023): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v3i1.3793

Abstract

Silantai merupakan salah satu Nagari yang terletak di Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung Sumatera Barat yang memiliki beragam kesenian. Salah satunya adalah kesenian bakayat. Bakayat merupakan seni tutur berbentuk nyanyian dan dibawakan dengan dialek lokal yang termasuk ke dalam tradisi lisan yang biasanya hadir dalam upacara mambilang aghi ka-100. Bakayat disajikan di sela-sela istirahat dalam pelaksanaan mauluak dan sesudah manamat kaji. Penelitian pada pertunjukan bakayat menggunakan metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif sesuai dengan upacara yang dilaksanakan. Teori yang dipakai untuk membahas penelitian ini adalah teori bentuk yang dicetuskan oleh Bagus Susetyo dan teori struktur oleh Singer. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bakayat ditinjau dari bentuk, struktur dan aspek musikal yang dimilikinya, serta mendeskripsikan bentuk dari upacara mambilang aghi ka-100 yang ada di Nagari Silantai, yangbertujuan untuk mengetahui struktur dan aspek musikal dalam penyajian bakayat, sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam upaya pelestarian seni tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakayat bukan sebuah kesenian tunggal yang hadir dalam kegiatan mambilang aghi ka-100, melainkan pertujukan bakayat saling berkaitan satu sama lain dengan pelaksanaan mauluak dalam kegiatan mambilang aghi ka-100.
Aesthetics of the Babuai Dance and the Transformation of Tradition at the Singo Barantai Traditional Arts Institute, Padang Yosi Nofa; Yuliarni Yuliarni; Afrizal Harun; Asril Asril; Dede Pramayoza
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 2 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v27i2.5886

Abstract

Babuai dance is one of the traditional Minangkabau dances that developed at the Singo Barantai Padang Traditional Arts School. This dance is one of the unique traditional dances. Because the movements of this dance depict agility, softness, firmness and sharpness. In every movement is full of accents (movement jerks) besides that there is also acceleration and deceleration. This dance is used for body exercise for a silat athlete before they carry out silat training. The object of this research uses Dance as its formal object, "Babuai Dance" as its material object. This research uses a qualitative method with a descriptive analytical approach. This research was conducted at a silat school, namely the Singo Barantai Padang City Traditional Arts School, which is located in Lubuk Leetah, Kuranji District, Padang. Singo Barantai Traditional Arts College is one of the non-formal educational institutions engaged in the field of arts and culture, where the activities or materials taught at this College include traditional martial arts with the SilekPauh flow, randai, traditional dance, traditional Minangkabau music, and traditional pasambahan speeches. This journal examines the tradition of challenging change in the study of dance aesthetics. Babuai dance is viewed using aesthetic studies with the aim of revealing and exploring in depth everything related to the beauty of the Babuai Dance and changes in the development of the babuai dance at the Singo Barantai Traditional Arts College. In this study, the author was actively involved in the Singo Barantai Traditional Arts College, namely as a participant observer, which means that the author directly enters and is involved in the membership of the Singo Barantai College
Bentuk Pertunjukan dan Makna Teks Seni Tutur Bak'ba dalam Masyarakat Desa Simpang Parit Kabupaten Merangin Provinsi Jambi Lirna Viony; Asril Asril; Yurnalis Yurnalis
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 1 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v27i1.4661

Abstract

Bak’ba merupakan salah satu seni bertutur kata yang tumbuh dan berkembang di Desa Simpang Parit. Bak’ba termasuk pada jenis sastra lisan berupa pantun yang dinyanyikan dengan irama. Bak’ba berfungsi sebagai media menyampaikan pesan dan media hiburan. Awalnya, pertunjukan Bak’ba hanya diiringi dengan gendang Melayu. Seiring berjalannya waktu, Bak’ba mengalami perkembangan dalam bentuk penambahan alat musik seperti viul, gong, dan ketuk. Teks pantun yang disampaikan dalam Bak’ba menggunakan bahasa daerah Desa Simpang Parit yang mengandung makna tentang percintaan, kesedihan, kegembiraan, sindiran, nasihat-nasihat kehidupan maupun informasi teraktual yang ada di lingkungan masyarakat Desa Simpang Parit. Penelitian ini mengkaji tentang Bentuk Pertunjukan dan Makna Teks Seni Tutur Bak’ba dalam Masyarakat Desa Simpang Parit, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan dan makna teks seni tutur Bak’ba. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data secara observasi, dokumentasi, dan wawancara di lapangan untuk mendapatkan hasil penelitian sesuai konteks yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang bentuk pertunjukan meliputi unsur dan struktur pertunjukan dan makna yang terkandung pada teks seni tutur Bak’ba memiliki makna denotatif dan makna konotatif. Kata kunci: Bak’ba, Bentuk Pertunjukan, Makna Teks