Claim Missing Document
Check
Articles

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA NOTASI ANGKA SECARA VOKAL DENGAN METODE DRILL PADA SISWA SMP Ela, Leonila; istiandini, Winda; Muniir, asfar
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa Vol 8, No 7 (2019): JULI 2019
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to improve students' skills in reading vowel notation through the drill method. The form of this study is classroom action research. The subject of this research were 34 students of class VII B. This study was conducted in 2 cycles. Each cycle consists of 4 stages, namely, planning, implementation, observation, and reflection. The research instruments were in the form of observation sheets and skill test sheets. The results of the research in the first cycle of students have not been right to read the number notation according to the indicator. While reading the number notation there are still many students who say the solmization is not in accordance with the not symbol. Students do not correctly place the fis chromatic pitch height. Students have not been able to read notes according to the high and low notes on the picth indicator. Then students have not been right to ring according to the not value indicator. In cycle II students show changes in reading numeric notation with the accuracy of reading the solmization according to the symbol of the not, can place chromatic tones according to the level, can sound the tone according to the pitch and pitch, and students have been able to sound the number notation according to the note. It can be concluded that through the drill method can improve students' skills in reading number notation. Keyword: Improvement, Number Notation, Vocals, Drill Method.  
ANALISIS POLA IKAT PADA TARI JEPIN TALI BUI KELURAHAN BATU LAYANG KECAMATAN PONTIANAK UTARA Novitasari, Dewi; Istiandini, Winda; Syahrani, Agus
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini dilatar belakangi karena kurangnya penulisan mengenai pola ikat pada suatu tarian Jepin Tali Bui, serta kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah terhadap kebudayaan tari tradisional daerah setempat yang mengalami kepunahan. Satu diantara tari tradisi tersebut ialah Tari Jepin Tali Bui yang berada di Batu Layang Kota Pontianak Kalimantan Barat. Bentuk metode yang digunakan adalah deskriptif dengan bentuk kualitatif bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskriptifkan yang terdapat pada pola ikat tari JepinTaliBui serta menganalisisnya. Pendekatan yang digunakan etnokoreologi.Data penelitian berupa hasil dari wawancara, video, dan foto tari Jepin Tali Bui sesuai dengan masalah penelitian yang dipaparkan. Teknik pengumpulan data berupa teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik menguji keabsahan data berupa teknik perpanjangan pengamatan dan teknik triangulasi. Adapun rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut: 1) Bagaimana pola ikat pada tari Jepin Tali Bui? 2) Bagaimana keterkaitan gerak tari dalam proses pola ikat pada tari Jepin Tali Bui? 3) Bagaimana rancangan implementasipembelajaran seni budaya kelas VII pada materi pola ikat tari Jepin Tali Bui terhadap seni tari?.   Kata Kunci: Pola Ikat, Jepin Tali Bui, Kelurahan Batu Layang.   Abstract:This research is motivated lack of research on the ligament pattern on a bui rope dance jepin, and lack of public awareness and government against the local traditional dance cultures that experienced extinction. One among the traditional dance is jepin rope dance bui who are in the Batu Layang city of Pontianak in west Kalimantan overpass. As for the formulation of research problems is: 1) how patterns strap fastening on the dance belt strap jepin bui? 2) how linkages dance movement in the patterns on the dance belt strap jepin bui? 3) how to learning design the implementation of cultural arts class VII the material the patterns on the dance belt strap jepin bui to dance?   Key words : Pattern Bunch, Rope Jepin Bui, Kelurahan Batu Layang.
Pembelajaran Model Connected Tari Beskalan sebagai Stimulus Kreasi Siswa Kelas Xi Sma Negeri Rancakalong Sumedang Istiandini, Winda
Jurnal Visi Ilmu Pendidikan Vol 8, No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jvip.v8i1.17576

Abstract

Penelitian ini memfokuskan pada kajian konsep model Connected melalui bahan ajar tari Beskalan dalam pembelajaran seni tari. Lokasi penelitian adalah di SMA Negeri Rancakalong Sumedang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan konsep model pembelajaran Connected tari Beskalan melalui proses dan hasil pembelajaran Seni Budaya. Penelitian  tindakan (Action Research) merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini, dimana peneliti berperan sebagai ovserver partisipan yang berperan sebagai pelaku tindakan yang terlibat dalam proses penelitian dari awal dan melaporkan hasil penelitiannya. Penelitian dilakukan dalam dua siklus yang terdiri atas kegiatan apresiasi dan kreasi yang setiap siklusnya melalui empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, angket, dan studi dokumentasi.Hasil penelitian ini adalah temuan tentang konsep Connected dalam pembelajaran seni tari dan musik, yang diawali dengan kegiatan apresiasi mengenai materi pola ritme musik dan tari beskalan, siswa mempraktekkan gerak tari dan mengimitasi pola permainan beberaa instrumen gamelan yang mengiringinya yaitu kethuk, kenong, kempul, gong, dan kendang. Hasil dari kegiatan apresiasi tersebut mereka kembangkan dan dijadikan stimulus dalam kegiatan kreasi membuat kreasi gerak tari dan iringan musiknya melalui tahap eksplorasi.Katakunci: Model Connected, musik, tari beskalan, kreasi
Sosialisasi Multimedia Interaktif Tari Pinggan Bagi MGMP Seni Tingkat SMP Kabupaten Mempawah Winda Istiandini
Dikmas: Jurnal Pendidikan Masyarakat dan Pengabdian Vol 2, No 2 (2022): June
Publisher : Magister Pendidikan Nonformal Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/dikmas.2.2.357-366.2022

Abstract

Pentingnya kehadiran media dalam proses pembelajaran seni, melatarbelakangi penulis mensosialisasikan materi tari Pinggan dalam bentuk multimedia interaktif yang merupakan produk penelitian pengembangan sebelumnya. Tujuan kegiatan sosialisasi ini ialah peserta dapat menambah pengetahuan terkait tari tradisi dan mengaplikasikannya dalam pembelajaran di kelas. Metode kegiatan yaitu dengan cara Ceramah dimana Dosen memberikan sosialisasi multimedia interaktif Tari Pinggan dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Kegiatan ini diikuti 20 orang guru Seni Budaya yang merupakan anggota MGMP Seni tingkat SMP Kabupaten Mempawah secara daring. Hasil dari kegiatan ini yaitu meningkatkan wawasan dan pengetahuan guru tentang Tari Pinggan yang dapat dijadikan referensi materi ajar di kelas.
PRAWIRA WATANG DANCE: A DEPICTION OF THE MOVEMENT BOLDNESS AND PROWESS OF A WARRIOR Mega Cantik putri Aditya; Aline Rizky Oktaviari Satrianingsih; winda Istiandini
Cinematology: Journal Anthology of Film and Television Studies Vol 2, No 3 (2022): Volume 2 - Issue 3 : Cinematology: Journal Anthology of Film and Television Stud
Publisher : Program Studi Film dan Televisi, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ftv-upi.v2i3.55257

Abstract

AbstractPrawira Watang Dance is one of subjects on dance learning of Surakarta’s Gagah dance in Institut Seni Indonesia Surakarta (Indonesia Institute of Arts Surakarta). The dance is included in the warriorship dance genre that depicts the boldness and the prowess of the warriors’ movement. This dance owns the interesting attributes, in addition to the dance movement that mostly adopted from the Silat, the dance also uses the Watang property (long bamboo) that made the dance has its own difficulty level for its dancer. The dancers are demanded to possess the capability to organize the watang property. This research aims to comprehensively study the performance form of Prawira Watang Dance. This research uses a qualitative method with collection data technique including observation, interview, literature review, and documentation. This research found that Prawira Watang Dance is composed in some sections including maju beksan, beksan, and mundur beksan. Maju beksan is the initial movement of the dance. There are various arts of beksan or the main part of the dance. Meanwhile, mundur beksan contains some closing movements that marks the ending of the dance. 
Sosial Media Instagram Sebagai Media Belajar dan Media Eksistensi Aline Rizky Oktaviari Satrianingsih; Mega Cantik Putri Aditya; Winda Istiandini
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v8i2.21792

Abstract

Perkembangan IPTEK semakin mendorong upaya pembaruan kreatifitas manusia dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi, satu diantaranya adalah dengan menggunakan media sosial sebagai salah satu bahan belajar mengajar. Instagram menjadi salah satu platform media sosial yang bisa digunakan dalam proses pembelajaran karena di dalamnya terdapat berbagai fitur untuk menyalurkan informasi baik dalam bentuk foto, video, maupun real time story. Instagram merupakan aplikasi yang cukup populer dan sering digunakan sebagai media menyebarkan konten positif termasuk pembelajaran praktek seni tari. Fenomena munculnya content creator dan dance challenge di media sosial instagram tentang gerak dasar tari nusantara juga memberikan dampak positif bagi mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kombinasi dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sasaran penelitian yaitu mahasiswa seni tari di Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu angket tertutup dengan tujuan dapat menjaring banyak data dalam waktu 1 bulan sesuai dengan kebutuhan. Peneliti juga melakukan observasi dan wawancara kepada responden, sehingga data yang didapatkan lebih komrehensif. Penyajian data penelitian dengan memakai diagram dan dilengkapi dengan deskripsi hasilnya. Hasil penelitian ini yaitu Instagram menjadi platform yang memberikan pengalaman belajar dalam meningkatkan eksistensi dan keterampilan mahasiswa seni tari Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan.
REPRESENTASI GONG DALAM TARI NGERUAI KENEMIAK (ANALISIS POLA DUA ESTETIKA PARADOKS) Regaria Tindarika; Winda Istiandini; Ahadi Sulissusiawan
Joged Vol 22, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v22i2.11275

Abstract

ABSTRAKTari Ngeruai Kenemiak memiliki keunikan tersendiri yaitu terdapatpenggunaan alat musik Gong sebagai properti tarinya. Gong ini dimainkan selama pertunjukan tari berlangsung. Adapun cara memainkannya dengan dipegang, diayunkan ke atas dan bawah, diinjak, dan diduduki. Dengan menggunakan teori estetika paradoks oleh Jakob Sumarjo, penelitian ini akan dianalisis berdasarkan bentuk properti, cara penggunaannya dalam upacara maupun tari Ngeruai Kenemiak. Metode yangdigunakan adalah deskriptif dan bentuk penelitian ini adalah kualitatif. Data dianalisis melalui pendekatan semiotik. Teknik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi danstudi pustaka. Melalui tari Ngeruai Kenemiak tergambar jelas bahwa tari ini mendapat inspirasi dari prosesiadat Ngeruai Kenemiak yang merupakan upacara kelahiran bayi suku Dayak Kantu’. Gong yang setelah dianalisis menggunakan pola dua menggunakan estetika paradoks merupakan representasi dari dunia, siklus kehidupan, serta peran manusia di dalamnya sangat terikat oleh hungungan antar sesama manusia, alam sekitarnya dan juga Petara atau Tuhan.ABSTRACTThis research is motivated by Ngeruai Kenemiak dance which has its own uniqueness, namely the use of Gongmusical instruments as dance properties. This gong is played during the dance performance. As for how to playit, it is to be held, swinging up and down, being stepped on, and being occupied. Using the paradoxical aesthetic theory by Jakob Sumarjo, this research will be analyzed based on the shape of the property, the way it is used in ceremonies and Ngeruai Kenemiak dance. The method used is descriptive and the form of this research is qualitative. The data are analyzed through a semiotic approach. The techniques carried out in this study are observation, interviews, documentation and literature studies. Through the Ngeruai Kenemiak dance, it is clearly illustrated that this dance draws inspiration from the traditional procession of Ngeruai Kenemiak whichis the birth ceremony of the baby of the Dayak Kantu tribe'. Gong, which after analysis using pattern two usingparadoxical aesthetics, is a representation of the world, the cycle of life, and the role of humans in it is very much bound by the relationship between fellow humans, the surrounding nature and also Petara or God.
Development of Interactive Multimedia of Dayak Mualang Pinggan Dance to Support Continuing Education Istiandini, Winda
EDUTEC : Journal of Education And Technology Vol 7 No 4 (2024): June 2024
Publisher : STAI Miftahul Ula Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29062/edu.v7i4.949

Abstract

Conventional learning models that lack multimedia components have made the learning process less engaging. This issue arises from the evolving mindset of children in accordance with technological advancements, which necessitates the integration of innovative products in educational settings. This research focuses on the importance of multimedia in teaching dance, leading to the development of interactive multimedia for traditional local dance material, specifically Pinggan dance. The research modifies Borg and Gall’s development procedure to fit the context of time and location, involving stages such as information gathering, initial product preparation, expert evaluation, large group trials, product revisions, small group trials, and final product formulation. The subjects of the study included art teachers, tenth-grade students of SMAN 3 Pontianak, and three experts. Data from expert reviews and field trials indicated several product revisions, including script amendments, filming techniques, and multimedia display enhancements. The final product is an interactive multimedia application in Adobe Flash format, featuring dance movement tutorials, make-up and costume guides, accompanying music, dance props, and stage preparation for Pinggan dance.
EKSISTENSI TARI LIKURAI SUKU BELU DI DESA BHAKTI JAYA KECAMATAN MELIAU KABUPATEN SANGGAU Nahak, Innocentia Marta Abuk; Istiandini, Winda; Tindarika, Regaria
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK) Vol 12, No 2 (2023): Februari 2023
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jppk.v12i2.62030

Abstract

PROVINSI KALIMANTAN BARAT dan Nahak Marta Abuk, Innocentia. 2022. The purpose of conducting this research is describing the existence of Likurai dance. The study case is about the development and the starting point of the existence of Likurai traditional dance of Belu Tribe in Bhakti Jaya Village, district of Meliau, the regency of Sanggau, West Kalimantan Province. Descriptive methodology in a form of qualitative research and using an anthropology approach. The sources of data were collected using observation, interview, and documentation, with key sources namely, Mr. Dominikus Nahak, Mr. Muhammad Iwanie and Miss Ursula Uluk. Techniques to test validity using extension of observation and Triangulating of compiled data sources was systematically analyzed. Likurai dance is a traditional dance that was originally came from a village called Kereana, Botin Leobele district, the regency of Malaka, East Nusa Tenggara. The dance was introduced by a transmigrant society that was migrated from East Nusa Tenggara to Bhakti Jaya Village, the district of Meliau, Sanggau regency, West Kalimantan in the year of 1992. The dance started to develop and became well-known since 1998 until 2019. The uniformity of the transmigrant society is one of the main reasons behind the sustainability of Likurai dance in Bhakti Jaya Village. On the other, there is a risk that this traditional dance would be fading away due to the lack of the dance personnel and lack of interest in the younger generation as well as lack of assistance and motivation from the local government is feared to be an obstacle to the development of Likurai Dance.
MAKNA SIMBOL PROPERTI PADA SAJIAN TARI PINGAN SUKU DAYAK MUALANG DESA MENAWAI TEKAM Agustina, Paula; Istiandini, Winda; Ramdani, Deden
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK) Vol 12, No 7 (2023): Juli, 2023
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jppk.v12i7.67434

Abstract

This research is motivated to know about the meaning of the symbol of property on the dish dance Pingan Dayak tribe Mualang Village Menawai Tekam Sekadau District. The method used is descriptive method with qualitative form and using approach of ethnokoreologi, with source data of John Roberto Panurian, Lusi, Gansi who know about the symbol of property at dish Pingan dance. Data obtained from observation, interview, and documentation. Pingan dance is a dance that created as legitimation (validation) of a person for his ability to complete martial arts / martial arts learned to fight against the enemy. The first property is Pingan which symbolizes the offering of public gratitude to Petara (God) has the meaning as an inspiration medium to build the relationship between man and God. Pingan is not only used as a mere aesthetic tool but rather the fulfillment of the pleasures of the human senses and soul. The second property of Tincin which became the symbol of sound has the meaning as the delivery of human soul to Petara (God). This has the meaning that sound represents human language which is not conveyed directly through words or utterances