Sianny Herawati
Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Published : 52 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PERBEDAAN KADAR HBA1C PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN DAN TANPA KEJADIAN KAKI DIABETIK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR Ni Nyoman Yuliantini; Sianny Herawati; A.A. Ngurah Subawa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.832 KB) | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i4.P11

Abstract

ABSTRAKDiabetes melitus (DM) tipe 2 yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai komplikasi, salah satunya kaki diabetik. HbA1c merupakan uji biokimia untuk mengetahuirerata glukosa darah dalam periode dua sampai tiga bulan. Pemantauan kadar glukosa darahmerupakan hal penting dalam pencegahan dan penatalaksanaan komplikasi DM tipe 2.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan bermakna dari kadarHbA1c pasien DM tipe 2 dengan dan tanpa kejadian kaki diabetik di RSUP Sanglah Denpasar.Rancangan penelitian menggunakan observasional analitik cross-sectional pada 100 penderitaDM tipe 2. Sampel dipilih dengan metode consecutive sampling. Sampel merupakan penderitaDM tipe 2 dengan dan tanpa kaki diabetik yang pada rekam medisnya mencantumkan hasilpemeriksaan HbA1c dan berobat di RSUP Sanglah Denpasar periode Maret 2015-Februari2016. Penelitian ini menggunakan SPSS 23 sebagai alat bantu analisis pada 44 pasien kakidiabetik dan 56 pasien tanpa kaki diabetik. Uji yang digunakan adalah uji Kolmogorov Smirnovyang menunjukkan data berdistribusi normal dengan nilai p untuk masing-masing kelompokadalah 0,200 (p>0,05), uji Lavene menunjukkan data mempunyai varian sama (homogen)dengan signifikansi 0,051 (sig>0,05), dan Independent t-test menunjukkan nilai p=0,000(p<0,05) dengan perbedaan rerata kadar HbA1c pada kedua kelompok adalah 1,084.Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermaknakadar HbA1c pasien DM tipe 2 dengan dan tanpa kaki diabetik di RSUP Sanglah Denpasar,dimana rerata kadar HbA1c pasien kaki diabetik lebih tinggi dibandingkan tanpa kaki diabetik,sehingga perlu dilakukan pengontrolan dan pemantauan glukosa darah yang teraturmenggunakan uji HbA1c agar komplikasi kaki diabetik dapat dihindari. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Kaki Diabetik, HbA1c
KARAKTERISTIK PENDERITA KETOASIDOSIS DIABETIK PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WANGAYA PERIODE?1 JANUARI 2017 – 31 DESEMBER 2019 Komang Vika Nariswari Ratna Kinasih; Anak Agung Ngurah Subawa; Sianny Herawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i12.P11

Abstract

Latar belakang : Diabetes Mellitus merupakan satu dari empat penyakit yang tidak menular yang menjadi target untuk ditangani dengan segera. Ketoasidosis Diabetik adalah komplikasi dari Diabetes Mellitus tipe 2 akibat penurunan kadar insulin dalam darah karena meningkatnya kadar glukosa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita Ketoasidosis Diabetik pada Pasien dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya periode 1 Januari 2017 – 31 Desember 2019. Metode : Metoda deskriptif studi potong lintang digunakan pada penelitian ini. Sampel dikumpulkan dengan menggunakan data sekunder dari rekam medik RSUD Wangaya dengan sampel penelitian sebanyak 33 orang dengan teknik total sampling dan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil : Sebagian besar kejadian kasus ditemukan pada perempuan dan pada kelompok usia 46 – 55 tahun. Pada sebagian besar kasus kadar gula darah sewaktu berkisar antara 451 mg/dL hingga 550 mg/dL. Kadar keton urin 1+, 2+, dan 3+ memiliki frekuensi yang sama. Kadar pH darah pada kasus sebagian besar berkisar antara 7 hingga 7,24 dan kadar serum bikarbonat (HCO3) pada kasus sebagian besar adalah kurang dari 10 mEq/L. Sebagian besar kasus memiliki derajat berat Ketoasidosis Diabetik. Kesimpulan : Sebagian besar kasus Diabetes Mellitus tipe 2 dengan Ketoasidosis Diabetik mengalami Ketoasidosis Diabetik derajat berat. Kata kunci : Ketoasidosis Diabetik, Diabetes Mellitus Tipe 2, Karakteristik
SERUM METHYLMALONIC ACID DAN HOMOCYSTEIN DALAM MENDIAGNOSIS ANEMIA MEGALOBLASTIK AKIBAT DEFISIENSI KOBALAMIN DAN FOLAT PADA TRAVEL MEDICINE Made Gian Indra Rahayuda; Sianny Herawati
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.474 KB)

Abstract

Anemia adalah salah satu masalah kesehatan global yang utama, terutama pada negara-negara berkembang.Anemia adalah kondisi dimana massa sel darah merah dan/atau massa hemoglobin yang beredar dalam tubuh menurun hingga dibawah kadar normal sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik dalam menyediakan oksigen untuk jaringan tubuh. Salah satu jenis yang banyak ditemukan adalah anemia megaloblastik.Anemia megaloblastik paling banyak disebabkan oleh kekurangan vitamin B12(kobalamin) dan folat.Salah satu penyebab anemia defisiensi kobalamin dan folat adalah tropical sprue.Anemia defisiensi kobalamin dan asam folat memberikan gambaran yang serupa namun pada defisiensi kobalamin terdapat gejala neuropati.Batas normal serum folat antara 3-15 ng/mL.Folat eritrosit batas normalnya dari 150 – 600 ng/mL.Pada defisiensi kobalamin, serum kobalamin menurun di bawah cut off point100pg/mL (normalnya 100- 400pg/mL).Pemeriksaan lain seperti homocystein, methylmalonic acid, atau formioglutamic acid(FIGLU) yang meningkat pada urin dapat memastikan diagnosis defisiensi kobalamindan asam folat. Belum ada konsensus mengenai cut off point Homocystein dan MMA. Homocysteine telah dianggap meningkat bila kadarnya di atas 12-14 µmol/L pada wanita dan di atas 14-15 µmol/L. Menurut penelitian yang dilakukan Robert et al pada kasus defisiensi kobalamin, kadar serum tHcy> 15.0 µmol/L.Kebanyakan penelitian menganggap peningkatan MMA pada defisiensi kobalamin adalah >0.28 µmol/L, tapi cut off point yang beredar bervariasi antara 0.21-0.48 µmol/L.Kadar MMA meningkat dalam serumdan urin pada defisiensi kobalamin, sedangkan pada defisiensi folat MMA normal.
PERBEDAAN KADAR GLUKOSA KONSENTRAT TROMBOSIT PADA PENYIMPANAN HARI I, III, V DI UNIT DONOR DARAH PMI PROVINSI BALI / RSUP SANGLAH DENPASAR Luh Putu Sukma Diyanti; Sianny Herawati; I Wayan Putu Sutirta Yasa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.727 KB)

Abstract

Stored platelets undergo a series of shape and functional modifications, which are commonly referred to as platelet storage lesions (PSLs). One of theparameters testedwereglucose. This study is to determinethe difference in averageglucose levelsof plateletconcentratesonthestorageI,III, V in  Unit Donor Darah PMI Privinsi Bali/ RSUP Sanglah Denpasar werepreparedJune-August 2014. The design isobservational analytic study. Samples weretaken usingsampling techniquesconsecutive sampling. Samplestested byClinical ChemistryEquipment(ROCHE, Cobas6000). From 18samples, obtained an averageglucose level on day I is 457.50 ± 37.57 g/dL. The averageglucose level on dayIII is 461.91±43.55 g/dLand the averageglucose levels on dayV is 460.91±40.56 g/dL. Data were analyzed usingOne WayANOVAshowedsignificantvalues(p-value) is 0.943, which means p>0.05. It showsthatH0 is acceptedthatthere is nodifference in averageglucose levelsof plateletconcentratesonthestorage on day I, III, and  V. Need futher research about factor affecting not significant differences from glucose level of platelet concentrate during storage
PENURUNAN JUMLAH LEUKOSIT PADA KASUS KANKER SERVIKS TIPE SQUAMOUS PASCA KEMOTERAPI PERTAMA DI RSUP SANGLAH DENPASAR Putu Purna Astika Utama; Sianny Herawati; A.A. Ngurah Subawa; Ida Ayu Putri Wirawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i6.P07

Abstract

Kanker ialah salah satu penyakit yang mematikan di dunia.Etiologi dari kanker serviks adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV).Salah satu penanganan kanker serviks adalah kemoterapi.Sebelum melakukan kemoterapi pasien diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan darah lengkap yang salah satunya adalah Leukosit.Penelitian bersifat deskriptif retrospektif dengan pendekatan longitudinal dari data sekunder pasien yang terdiagnosis kanker serviks tipe squamous sebelum dan pasca kemoterapi pertama yang didapat di Ruang Rekam Medis Rumah Sakit Umum Provinsi Sanglah Denpasar. Data yangdidapatkansebesar 57 kasus yang telah terinklusi dan tereksklusi.Data tersebut dianalisis secara deskriptif dan didapat penurunan Leukosit sebesar 5,46 x 103/µL, Neutrofil sebesar 5,24 x 103/µL, Limfosit sebesar 0,36 x 103/µL, Eosinofil sebesar 0,10 x 103/µL dan Basofil sebesar 0,02 x 103/µL. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pasien kanker serviks tipe squamous setelah dilakukan kemoterapi pertama mengalami penurunan nilai dari Leukosit, Neutrofil, Limfosit, Eosinofil dan Basofil. Kata Kunci :Kankerserviks, kemoterapi, leukosit, neutrofil, limfosit, eosinofil, basofil, RSUP Sanglah Denpasar
APLASTIC ANEMIA Ni Made Dharma Laksmi; Sianny Herawati; Wayan Putu Sutirta Yasa
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.386 KB)

Abstract

Aplastic Anemia describes a disorder of the clinical syndrome is marked by a deficiency of red blood cells, neutrophils, monocytes and platelets in the absence of other forms of bone marrow damage. Aplastic anemia is classified as a rare disease in developed countries the incidence of 3-6 cases / 1 million inhabitants / year. The exact cause of someone suffering from aplastic anemia also can not be established with certainty, but there are several sources of potential risk factors. Prognosis or course of the disease varies widely aplastic anemia, but without treatment generally gives a poor prognosis
GAMBARAN KADAR HBA1C PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RSUP SANGLAH PERIODE JULI-DESEMBER 2017 Ida Ayu Trisna Wulandari; Sianny Herawati; I Nyoman Wande
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.236 KB)

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kumpulan penyakit metabolik yang diakibatkan oleh adanya gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya sehingga memiliki karakteristik hiperglikemia. Kejadian penyakit ini masih mengalami peningkatan di Indonesia khususnya DM tipe II. Pengukuran hemoglobin terglikasi (HbA1c) merupakan kontrol glikemik terbaik untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah selama dua hingga tiga bulan terakhir. Diabetes Mellitus yang tidak terkontrol mengakibatkan berbagai komplikasi kronik baik itu komplikasi makrovaskular maupun mikrovaskular. Pasien yang memiliki kadar HbA1c >7% akan berisiko 2 kali lebih tinggi untuk mengalami komplikasi.Oleh karena itu, pemeriksaan kadar HbA1c sangat penting dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis, kontrol glikemik jangka panjang, manajemen, dan prognosis dari penyakit DM tipe II. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar HbA1c pada pasien diabetes mellitus tipe II di RSUP Sanglah periode Juli-Desember 2017 serta proporsinya berdasarkan jenis kelamin, usia, dan indeks massa tubuh. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif cross sectional. Sampel penelitian meliputi populasi terjangkau yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 100 sampel. Data penelitian berupa data sekuder yang diperoleh dari rekam medis pasien. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar HbA1c pada sampel didominasi oleh kelompok tidak terkontrol yaitu 64%. Proporsi kadar HbA1c tidak terkontrol lebih banyak ditemukan pada laki-laki (64,2%), usia 41-60 tahun (69,6%), dan IMT normal (68,1%). Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe II, Kadar HbA1c
Phytochemical Content and Protective Effect of Kleinhovia hospital Leaves Extract on Pancreatic Cytotoxicity in Hyperglycemic Rats Yuliana Yuliana; Sianny Herawati
Jurnal Veteriner Vol 17 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.008 KB)

Abstract

Diabetes mellitus is a wide problem nowadays. Many traditional plants are used to overcome thecomplication of this disease. One of them is paliasa (Kleinhovia hospital Linn) leaves. This study aimswere to investigate phytochemical contents and the protective effects of paliasa leaves extract on pancreaticcytotoxicitybased on microscopic lesion such as hemorrhagic score and necrotic appearances, in alloxaninducedhyperglycemic rats. Male Wistar rats (three months old) were divided into four groups consistedofseven rats each. Group I was diabetic control, Group II was diabetic groups, paliasa extract (300mg/kgBW) were given by sonde for a period of 14 days prior to alloxan injection (150 mg/kg intraperitoneal).Group III was diabetic rats given 600 mg/kg BW paliasa extract and group IV was diabetic rats given 900mg for 14 days. At the end of the study, rats were sacrificed. Tissue sample ofpancreaswas then processedfor slide preparation and was stain with hematoxylin eosin.Pancreas hemorrhagic score was divided intofour criteria, focal(score 1), multifocal (score 2), extensive (score 3), and difuse (most severe, score 4).Microscopic examination was done using binocular microscope, at Laboratory ofVeterinaryPathology,Disease Investigation Centre Denpasar, Bali. Data werethenanalyzed by using analysis ofvarians. Study showed that paliasa extract could lower hemorrhagic score on pancreas of diabetic rats,even though it was not significant compared to control group (p 0,205). Phytochemical analysis showedthat paliasa leaves extract contained alkaloid, terpenoid, and flavonoid. Necrotic appearances were variedfrom pycnosis, karyorheksis, karyolysis, and vacuolization. In conclusion, paliasa leave extract may haveprotective effect on pancreas cytotoxicity.
Soluble Transferrin Receptor and Soluble Transferrin Receptor/Log Ferritin Ratio are Correlated with Iron Status in Regular Hemodialysis Patients Yenny Kandarini; Gede Wira Mahadita; Sianny Herawati; Anak Agung Wiradewi Lestari; Ketut Suega; I Gde Raka Widiana
The Indonesian Biomedical Journal Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v13i2.1412

Abstract

BACKGROUND: Monitoring of iron status in chronic kidney disease patients is important, however inflammation may hinder its monitoring. Soluble transferrin receptor (sTfR) is an alternative parameter to overcome this issue, whereas ferritin play a part in the inflammation process. Hence, the correlation between the sTfR ratio and the sTfR/log ferritin ratio with conventional iron status parameters in regular hemodialysis patients is necessary to be evaluated.METHODS: A cross-sectional was conducted in the current study. As many as 5 mL of blood (2 mL for sTfR and 3 mL for serum iron and ferritin levels) was collected. sTfR level was the blood-soluble transferrin receptor level measured by the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). The amount of ferritin and serum iron was determined using the immunochemiluminescent process. To evaluate the correlation, the Pearson correlation test was used.RESULTS: A total of 80 subjects was included in this study. The mean of hemoglobin was 10.25±1.66 g/dL, serum iron was 58.19±26.56 g/dL, and the median ferritin was 520.4 (49.9-3606) ng/mL. The sTfR was significantly associated only with serum iron levels with a correlation coefficient of r=-0.242; p=0.031. The sTfR/log ferritin was significantly associated with serum iron l evels (InSI)(r=-0.255, p=0.022); and transferrin saturation (r=-0.295; p=0.008).CONCLUSION: sTfR/log ferritin has a negative and significant correlation with serum iron levels and transferrin saturation, while sTfR negatively correlated with serum iron levels. sTfR and sTfR/log ferritin may be considered as an alternative iron marker in inflammation setting such as CKD.KEYWORDS: sTfR/log ferritin, iron status, serum iron, ferritin, chronic kidney disease, hemodialysis
SARI CenTeLLA ASIATICA ASLI BALI MENINGKATKAN SEKRESI TuMouR neCRoSIS FACToR ALPHA (TNF-a) PADA MENCIT YANG DIINFEKSIKAN SALMoneLLA TYPHI I Nyoman Wande; Sianny Herawati; Ida Ayu Alit Widhiartini; I Wayan Putu Sutirta Yasa; Tjokorda Gede Oka; Ni Made Linawati
INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY Vol 20, No 3 (2014)
Publisher : Indonesian Association of Clinical Pathologist and Medical laboratory

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24293/ijcpml.v20i3.477

Abstract

Tumour necrosis factor alpha (TNF-α) is a cytokine produced by macrophages and other mononuclear cells, is a good antibacterial agent against Salmonella spp, especially Salmonella typhi. Centella asiatica is an alternative drug that is expected as an immunostimulant in patients with typhoid fever. Comparing the effectiveness of Centella asiatica extract the original Bali as an immunostimulant and without stimulants in mice infected Salmonella typhi in terms of TNF-α secretion. This study is an experimental study with a post test only with control group design. A total of 20 mice were divided into 4 groups. The first and second groups each given Centella asiatica extract 75 mg/20 g bw (0.5 cc) and without a given extract for 4 weeks. Both groups were inoculated orally Salmonella typhi 106 per mL of bacteria in the second week. The third and fourth groups were given thiamphenicol with Centella asiatica extract 75 mg/20 g bw (0.5 cc) and thiamphenicol without any extract for 4 weeks respectively. Both groups were inoculated orally Salmonella typhi 106 per mL of bacteria in the first day. All groups terminated on fourth week and examination levels of TNF-α by ELISA and gall culture. The mean levels of TNF-α in groups (1–4) is 86.10±2.67 pg/mL, 32.81±11.33 pg/mL, 35.87±3.90 pg/mL and 19.21±2.19 pg/mL respectively. Based on the examination of the gall cultures this study showed positive results in the first and second groups, while a negative result on the third and fourth groups. Based on the One way ANOVA analysis on levels of TNF-α, there are significant differences between the first group with the second group (p<0.05), and between the third and fourth groups also found significant differences (p<0.05) increased levels of TNF-α in mice with Salmonella typhi infection given Centella asiatica extract.
Co-Authors Agus Roy Rusly Hariantana Hamid Agustinus I Wayan Harimawan Anak Agung Ayu Lydia Prawita Anak Agung Ayu Lydia Prawita Anak Agung Ayu Lydia Prawita Anak Agung Ngurah Subawa Anak Agung Wiradewi Lestari Betti Bettavia Hartama Pardosi Cokorda Istri Dewiyani Pemayun Desak Gde Diah Dharma Santhi Desak Laksmi Dewa Ayu Putri Adnyani Dina Sophia Margina dinda Pradnya Paramitha Paturusi Ekarini Katharina Yunarti Nabu Ekarini Katharina Yunarti Nabu Ekarini Katharina Yunarti Nabu Ekarini Katharina Yunarti Nabu Fandy Wira Utama Gede Wira Mahadita Grace Inriani Rongre I Gde Raka Widiana I Gusti Putu Hendra Sanjaya I Gusti Putu Hendra Sanjaya I Kadek Septiawan I Made Kardana I Made Suka Adnyana I Made Tomik Nurya Wardana I Nyoman Hery Sumertayasa I Nyoman Wande I Putu Yuda Prabawa I Wayan Agus Surya Pradnyana I Wayan Niryana I Wayan Putu Sutirta Yasa I.A.A. Widhiartini Ida Ayu Putri Wirawati Ida Ayu Putri Wirawati Ida Ayu Trisna Wulandari Ida Bagus Wayan Kardika Ivan Master Worung J Nugraha Kadek Pipin Rahina Soethama Ketut Ariawati Ketut Suega Komang Satvika Yogiswara Komang Vika Nariswari Ratna Kinasih Luh Marina Wirahartari Luh Putu Rihayani Budi Luh Putu Sukma Diyanti M.Y. Probohoesodo Made Gian Indra Rahayuda Made Minarti Witarini Dewi Made Wulan Utami Dewi Made Yuliantari Dwi Astiti Michael Ferdinand N. K. Niti Susila, N. K. Ni Kadek Lestariyani Ni Kadek Mulyantari Ni Ketut Puspa Sari Ni Komang Krisnawati Ni Komang Krisnawati Ni Komang Krisnawati Ni Made Dharma Laksmi Ni Made Evitasari Dwitarini Ni Made Linawati Ni Nyoman Mahartini Ni Nyoman Mahartini Ni Nyoman Mahartini Ni Nyoman Yuliantini Nyoman Siska Ananda Prihatini . Putu Budhiastra Putu Purna Astika Utama Putu Putri Titamia Saraswati Putu Yudi Adnyani Stephanie Inge Wijanarko Teguh Triyono Tjokorda Gede Oka Usi Sukorini Wijaya Kusuma Yenny Kandarini Yuliana Yuliana