Claim Missing Document
Check
Articles

Integrasi Karakter Peduli Sosial dalam Pembelajaran IPAS pada Kelas IV SD Negeri 125 Pekanbaru Dhifa Dinika Putri; Elpri Darta Putra
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10721

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan integrasi karakter peduli sosial dalam pembelajaran IPAS pada peserta didik kelas IV SD Negeri 125 Pekanbaru. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman serta praktik pembelajaran yang berlangsung di kelas. Informan penelitian terdiri atas guru kelas IV, peserta didik kelas IV, dan kepala sekolah sebagai sumber data utama. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter peduli sosial peserta didik berkembang dengan baik dan tercermin melalui sikap empati, kerja sama, saling membantu, kepedulian terhadap teman, serta kemampuan menghargai perbedaan selama proses pembelajaran. Integrasi karakter peduli sosial dilaksanakan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, penguatan, dan penilaian pembelajaran secara berkelanjutan. Pada tahap perencanaan, guru mengintegrasikan nilai peduli sosial ke dalam modul ajar, tujuan pembelajaran, dan kegiatan belajar. Pada tahap pelaksanaan, guru menerapkan pembelajaran kontekstual dan kolaboratif yang mendorong interaksi positif antarpeserta didik. Penguatan karakter dilakukan melalui pembiasaan, keteladanan, pemberian motivasi, serta refleksi terhadap perilaku sosial yang ditunjukkan peserta didik. Penilaian sikap dilakukan selama proses pembelajaran untuk memantau perkembangan karakter peduli sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar melalui pengalaman yang kontekstual, bermakna, dan berorientasi pada kehidupan sehari hari. Selain itu, keterlibatan aktif peserta didik dalam diskusi kelompok dan kegiatan bersama membantu membangun tanggung jawab sosial serta kepedulian berkelanjutan secara konsisten. Dengan demikian, pembelajaran IPAS berperan efektif dalam menumbuhkan dan memperkuat karakter peduli sosial peserta didik di lingkungan sekolah.
Strategi Guru dalam Mengatasi Perilaku Bullying untuk Membentuk Karakter Positif Siswa Kelas VI di SD Negeri 143 Pekanbaru Meylina Hazalia; Elpri Darta Putra
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10723

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya perilaku bullying di lingkungan sekolah yang dapat memengaruhi kenyamanan belajar, perkembangan sosial, serta pembentukan karakter siswa. Perilaku bullying yang terjadi secara berulang berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi korban maupun pelaku sehingga diperlukan upaya penanganan yang tepat dari guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam mengatasi perilaku bullying untuk membentuk karakter positif siswa kelas VI di SD Negeri 143 Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas guru, siswa, dan pihak sekolah yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku bullying masih ditemukan dalam bentuk verbal, seperti mengejek, memberi julukan yang tidak pantas, berkata kasar, dan mempermalukan teman, serta dalam bentuk nonverbal atau fisik, seperti memukul, mendorong, mengganggu, dan mengucilkan teman dari kelompok pergaulan. Strategi guru dalam mengatasi perilaku tersebut dilakukan melalui pemberian pemahaman dan nasihat, teguran dan bimbingan, pengawasan di dalam maupun di luar kelas, kerja sama dengan orang tua, serta penanaman nilai-nilai karakter melalui berbagai kegiatan pembelajaran dan pembiasaan. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya dampak positif berupa meningkatnya sikap saling menghargai, tumbuhnya empati dan kepedulian sosial, berkembangnya kemampuan mengendalikan diri, serta berkurangnya perilaku bullying pada siswa. Dengan demikian, strategi guru berperan penting dalam membentuk karakter positif siswa sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, kondusif, serta mendukung proses pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan bagi seluruh warga sekolah secara optimal.
Implementasi Budaya Literasi dalam Membentuk Karakter Siswa Kelas 3 di SD Negeri 58 Pekanbaru Intan Ramatari Putri; Elpri Darta Putra
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10888

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya budaya literasi sebagai upaya meningkatkan kemampuan membaca sekaligus membentuk karakter siswa di sekolah dasar. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kondisi faktual budaya literasi, pelaksanaan budaya literasi, serta peran budaya literasi dalam membentuk karakter siswa kelas III SD Negeri 58 Pekanbaru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumentasi. Sumber data terdiri atas kepala sekolah, guru kelas III, dan siswa kelas III SD Negeri 58 Pekanbaru. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai implementasi budaya literasi di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya literasi telah diterapkan melalui berbagai kegiatan dan fasilitas pendukung, seperti membaca selama 15–20 menit sebelum pembelajaran, kegiatan literasi setiap hari Kamis, perpustakaan, pojok baca, serta penyediaan beragam sumber bacaan yang menarik bagi siswa. Pelaksanaan budaya literasi mendapat dukungan dari kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua sehingga program dapat berjalan secara berkelanjutan, meskipun masih ditemukan kendala berupa rendahnya minat membaca pada sebagian siswa. Budaya literasi berkontribusi dalam pembentukan karakter siswa yang meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Dengan demikian, budaya literasi di SD Negeri 58 Pekanbaru tidak hanya berperan dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa, tetapi juga mendukung pembentukan karakter positif yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan kebiasaan siswa sehari-hari di lingkungan sekolah serta masyarakat.