Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Perbandingan antara Diabetes Melitus Terkontrol dan Diabetes Melitus Tidak Terkontrol terhadap Outcome Pasien Stroke Iskemik Pradana Ady Saputra; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Azma Rosida
Homeostasis Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.31 KB)

Abstract

Abstract: Diabetes Mellitus is one of major modifable risk factor that can lead pathogenesis of ischemic stroke. The aim of this study was to determine the comparison between controlled diabetes mellitus and uncontrolled diabetes mellitus with outcome in ischemic stroke patients. This research methode is an observational analitic study with cross-sectional method. In this study we found 30 ischemic stroke patients with inclusion criteria. DM were classified into two groups according to the level of HbA1c (controlled DM≤7.0% or uncontrolled DM>7.0%). Outcome status was measured by mRS stroke scale at 7th hospitalization (good outcome score<3 and poor outcome score≥3). The data result is analyze using chi-square method. The result demonstrated there were controlled DM 11 people (36.7%), and 19(63.3%) uncontrolled DM. 8 people (26.7%) with good outcome and 22(73.3%) poor outcome. Analysis chi-square test p=0.104. Based on the result of the analyze, we can conclude that, there were no significant differences outcome in stroke ischemic patients with controlled DM and uncontrolled DM at RSUD Ulin Banjarmasin. Keywords :    HbA1C, Ischemic Stroke, Diabetes Mellitus, outcome Abstrak: Diabetes melitus (DM) adalah salah satu faktor risiko yang berpengaruh pada proses terjadinya stroke iskemik dan merupakan faktor risiko yang dapat dikontrol. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan antara DM  terkontrol dan DM tidak terkontrol terhadap outcome pasien stroke iskemik. Metode yang digunakan  yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Telah didapatkan 30 pasien stroke iskemik yang memenuhi kriteria inklusi. DM diklasifikasikan menjadi dua kelompok berdasarkan kadar HbA1C (DM terkontrol ≤7% dan DM tidak terkontrol >7%). Penilaian outcome dilakukan setelah 7 hari perawatan di rumah sakit menggunakan skala stroke mRS (prognosis baik skor≤3 dan prognosis buruk skor>3). Analisis data dengan uji chi-square. Hasil penelitian didapatkan pasien DM terkontrol sebanyak 11 orang (36,7%) dan DM tidak terkontrol sebanyak 19 orang (63,3%), pasien dengan prognosis baik sebanyak 8 orang (26,7%) dan prognosis buruk 22 orang (73,3%). Analisis uji chi-square p=0,104. Didapat kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna dari perbandingan DM terkontrol dan DM tidak terkontrol terhadap outcome pasien stroke iskemik di RSUD Ulin Banjarmasin. Kata-kata kunci: HbA1C, Stroke Iskemik, Diabetes Melitus, outcome
Hubungan Letak Lesi dengan Fungsi Kognitif pada Pasien Stroke Iskemik di RSUD Ulin Banjarmasin Fuadi Rifqa Shafari; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Didik Dwi Sanyoto Sanyoto
Homeostasis Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.116 KB)

Abstract

Abstract: Ischemic stroke can cause motor loss, loss of communication, and cognitive impairment. Cognitive is a thought process, namely the ability of individuals to connect, assess, and consider a problem or conversation. Cognitive can be regulated by the location of the lesion. One instrument that can measure cognitive function is the Mini-Mental State Examination (MMSE) with a cognitive score that has a score range of 0-30. The purpose of this study was to analyze the relationship between cognitive function in stroke patients at MMSE in Ulin Hospital Banjarmasin. This research was observational analytic and cross-sectional analytic. MMSE examination is carried out after the respondents meet the inclusion and exclusion criteria. As many as 30 samples obtained by purposive sampling were obtained in cortical as many as 6 respondents, lesions in subcortical as many as 16 respondents, and lesions in basal ganglia as many as 8 respondents. MMSE values for respondents were found with the normal category of 10 respondents, the medium category was 12 respondents and the weight category was 8 respondents. Analysis using the Kormogorov-Smirnoff trial showed no significant value p = 0.841. Conclusions there is no the relationship between the location of the lesion with cognitive function in stroke patients at Ulin Hospital Banjarmasin.. Keywords: ischemic stroke, cognitive function, MMSE, location of lesion Abstrak: Stroke iskemik dapat menyebabkan kehilangan motorik, kehilangan komunikasi, dan gangguan kognitif. Kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu masalah atau percakapan. Kognitif dapat diatur oleh letak lesi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara fungsi kognitif pada penderita stroke di MMSE di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Instrumen yang digunakan berupa Mini-Mental State Examination (MMSE) dengan Skor kognitif yang memiliki rentang skor 0-30. Sebanyak 30 sampel diperoleh secara purposive sampling diperoleh pada kortikal sebanyak 6 responden, lesi pada subkortikal sebanyak 16 responden, dan lesi pada ganglia basalis sebanyak 8 responden. Nilai MMSE pada responden ditemukan dengan kategori normal 10 responden, kategori sedang 12 responden dan kategori berat 8 responden. Analisis menggunakan uji coba Kormogorov-Smirnoff menunjukkan nilai tidak signifikan p = 0,841. Kesimpulan tidak terdapat hubungan antara letak lesi dengan fungsi kognitif pada pasien stroke di RSUD Ulin Banjarmasin. Kata-kata kunci:     stroke iskemik, fungsi kognitif, MMSE, letak lesi  
Literature Review: Korelasi Kadar Malondialdehid Plasma dengan Insomnia pada Lanjut Usia Rahmat Dwi Kurniawan; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Eko Suhartono
Homeostasis Vol 4, No 3 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.978 KB)

Abstract

Abstract: One of the most common sleep disorders experienced by the elderly is insomnia, insomnia can be caused by an increase in hormone cortisol that can cause oxidative stress. Oxidative stress occurs whenever there is an imbalance between oxidant production and antioxidant defenses, one of the biomarkers of oxidative stress is an increase in malondialdehyde. Through this literature review, the authors would like to provide an explanation of the correlation between malondialdehyde and insomnia. Writing is done by analyzing related literature obtained from search results on medical journal databases, PubMed - MEDLINE and Google Scholar. Articles that included are in English and published in 2006-2020. A total of 7 articles were included in this literature review. Based on a literature review, it was found that insomnia is associated with oxidative stress, this is evidenced by the level of malondialdehyde. Keywords: Oxidative stress, malondialdehyde, insomnia, elderly Abstrak: Salah satu gangguan tidur yang paling banyak dialami terutama oleh lansia adalah insomnia, insomnia dapat disebabkan oleh peningkatan hormon kortisol yang dapat menyebabkan stres oksidatif. Stres oksidatif terjadi setiap kali ada ketidakseimbangan antara produksi oksidan dan pertahanan antioksidan, salah satu biomarker dari stres oksidatif ada peningkatan malondialdehid. Melalui tinjauan literatur ini, penulis ingin memberikan penjelasan mengenai korelasi malondialdehid dengan insomnia. Penulisan dilakukan dengan menganalisis literatur terkait yang didapatkan dari hasil pencarian pada database jurnal kedokteran, yaitu PubMed – MEDLINE dan Google Scholar. Artikel yang disertakan menggunakan bahasa Inggris dan dipublikasikan pada tahun 2006-2020. Sebanyak 7 artikel disertakan pada literature review ini. Berdasarkan literature review didapatkan insomnia berhubungan dengan stres oksidatif, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya kadar malondialdehid. Kata-kata kunci: stres oksidatif, malondialdehid, insomnia, lanjut usia
KORELASI VARIABILITAS GLIKEMIK DENGAN OUTCOME PASIEN STROKE ISKEMIK DI RSUD ULIN BANJARMASIN Muhammad Rajif Muttaqin; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Azma Rosida
Homeostasis Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Stroke is influenced by several factors, one of which is high blood glucose levels and blood glucose variability. In previous studies, variations in blood glucose levels affected outcomes in stroke patients. The purpose of this study was to determine the relationship of glycemic variability with the outcome of ischemic stroke patients in Ulin Hospital Banjarmasin. This study was observational analytic with a prospective cohort approach. There were 30 ischemic stroke patients included criteria in Ulin Hospital Banjarmasin. Patients were taken for blood glucose by glucose point of care testing (POCT) for 7 days constantly. After 7 days, patients were assessed for outcomes using a modified rankin scale (mRS) scale. Data analysis using the Spearman rho test and the results obtained p = 0.00 which shows a significant value between glycemic variability and mRS with the strength of the relationship r = 0.891, which means it has a very strong relationship. In conclusion there is a relationship between glycemic variability and the outcome of stroke patients in Ulin Hospital Banjarmasin. Keywords: ischemic stroke, glycemic variability, outcome Abstrak: Stroke dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya tingginya kadar glukosa dalam darah dan variabilitas glukosa darah. Pada penelitian sebelumnya, variasi kadar glukosa darah mempengaruhi outcome pada pasien stroke. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan variabilitas glikemik dengan outcome pasien stroke iskemik di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cohort prospectif. Didapatkan sebanyak 30 pasien stroke iskemik memenuhi kriteria inklusi di RSUD Ulin Banjarmasin. Pasien diambil glukosa darah dengan point of care testing (POCT) glukosa selama 7 hari secara konstan. Setelah 7 hari, pasien dinilai outcome dengan menggunakan skala modified rankin scale (mRS). Analisis data menggunakan uji Spearman’s rho dan didapatkan hasil p=0,00 yang menunjukan nilai yang bermakna antara variabilitas glikemik dengan mRS dengan kekuatan hubungan r=0,891, yang artinya memiliki hubungan yang sangat kuat. Kesimpulannya terdapat hubungan antara variabilitas glikemik dengan outcome pasien stroke di RSUD Ulin Banjarmasin. Kata-kata Kunci: Stroke Iskemik, variabilitas glikemik, outcome
Literature Review: Korelasi Kadar Malondialdehid Plasma dengan Depresi pada Lanjut Usia Yasril Ananta Zakariya; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Fujiati Fujiati
Homeostasis Vol 4, No 3 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.358 KB)

Abstract

Abstract: Depression in elderly is different from depression in general, it’s a little difficult to recognize because it shows different symptoms in younger people. Many factors can cause depression, which one is occurs by oxidative stress that marked by increasing levels of malondialdehyde (MDA). Writing this literature review aims to analyze the correlation between malondialdehyde levels and depression. Writing is done by analyzing related literature that is obtained from medical journal databases, PubMed-MEDLINE and Google Scholar using English language and published in 2000-2020. A total of 8 articles were included in this literature review. Based on the literature review, it was found that there was an corelation between MDA levels and depression, further research was needed to determine the direct relationship between MDA levels and depression in elderly. Keywords: oxidative stress, late life, malondialdehyde, depressive disorder, elderly. Abstrak: Depresi pada lanjut usia (lansia) berbeda dengan depresi pada umumnya, sedikit sulit untuk dikenali karena menunjukkan keluhan yang berbeda dengan orang yang lebih muda. Banyak faktor yang dapat menyebabkan depresi salah satunya terjadi stres oksidatif yang ditandai dengan meningkatnya kadar malondialdehid (MDA). Penulisan literature review ini bertujuan untuk menganalisis korelasi kadar MDA dengan depresi pada lansia. Penulisan dilakukan dengan menganalisis literatur terkait yang didapatkan dari pencarian pada database jurnal kedokteran, yaitu PubMed-MEDLINE dan Google Scholar menggunakan bahasa inggris dan dipublikasikan pada tahun 2000-2020. Sebanyak 8 artikel disertakan pada literature review ini. Berdasarkan literature review didapatkan korelasi antara kadar MDA dengan depresi pada lansia, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hubungan kadar MDA dengan depresi pada lansia secara langsung. Kata kunci: stres oksidatif, malondialdehid, depresi, lanjut usia.
Karakteristik Pasien Meningioma di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2018-2020 Faradila Hayuning Raharjanti; Agus Suhendar; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Ardik Lahdimawan; Istiana Istiana
Homeostasis Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.483 KB)

Abstract

Abstract: Meningioma are the most common primary tumors in the CNS. Although these tumors are benign, meningioma are a frequent cause of morbidity. This study aims to determine the characteristics of meningioma patients at General Ulin Hospital Banjarmasin in 2018-2020. This study used a retrospective descriptive method from the patient's medical record. The results of this study show that the number of meningioma patients in 2018 was 38 patients (40.4%), in 2019 was 42 patients (44.7%) and in 2020 was 14 patients (14.9%). The most common characteristics were 46-55 range of age (38.3%), female (84%), South Kalimantan (90.4%), Islam (96.8%), private employees (28.7%), BPJS patients (93.6%). All patients had no family history of the disease. Only one patient was recorded as having a history of hormonal treatment (1.1%). Most of the patients had no history of allergies (89.4%). Six patients were classified as class I meningioma (6.4%). The most common tumor location was supratentorial (89.3%). The most common tumor size occurred in the diameter range of 3-6 cm (33%). The most common clinical symptom that appeared was headache (57.4%). GCS scores pre and post operative the most, including mild-normal. The length of treatment for the most patients was more or equal to 10 days (54.3%). The most patient’s outcome was recovered (90.4%). Keywords: Meningioma, characteristics  Abstrak: Meningioma adalah tumor primer tersering di SSP. Meskipun tumor ini bersifat jinak, meningioma sering menjadi penyebab morbiditas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien meningioma di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2018-2020. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif dari rekam medis pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah pasien meningioma terbanyak terjadi tahun 2019 sebanyak 42 pasien (44,7%). Karakteristik terbanyak terjadi pada rentang usia 46-55 tahun (38,3%), jenis kelamin perempuan (84%), alamat asal Kalimantan Selatan (90,4%), agama Islam (96,8%), pekerjaan pegawai swasta (28,7%) dan jaminan kesehatan berupa BPJS (93,6%). Semua pasien tidak memiliki riwayat keluarga. Sebagian besar pasien tidak memiliki riwayat alergi (89,4%). Lokasi tumor terbanyak di supratentorial (89,3%). Ukuran tumor terbanyak adalah diameter 3-6 cm (33%). Gejala klinis terbanyak adalah nyeri kepala (57,4%). Skor GCS datang dan pulang terbanyak termasuk ringan-normal. Lama perawatan pasien terbanyak adalah ≥10 hari (54,3%). Luaran terbanyak adalah sembuh (90,4%). Kesimpulan penelitian ini adalah karakteristik terbanyak pasien meningioma terjadi pada rentang usia 46-55 tahun, jenis kelamin perempuan, alamat asal Kalimantan Selatan, agama Islam, pekerjaan pegawai swasta, pasien BPJS, tidak ada riwayat penyakit keluarga, lokasi tumor supratentorial, diameter 3-6 cm, gejala nyeri kepala, skor GCS ringan-normal, lama perawatan ≥10 hari, dan luaran terbanyak sembuh. Kata-kata kunci: karakteristik, meningioma
Literature Review: Korelasi Stres Oksidatif dengan Tekanan Darah pada Lanjut Usia Eleonora Armelia Tanjoto; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Eko Suhartono
Homeostasis Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.334 KB)

Abstract

Abstract: Elderly is a term for someone who is already 60 years old. Elderlies are people in their last phase of life and experience aging process. Aging process is caused by many factors such as oxidative stress. Elderlies also develop age-related diseases like hypertension. This literature review was intended to explain about the relationship between oxidative stress and blood pressure in elderlies. English articles were browsed on PubMed and Google Scholar which was published between the years 2005-2020. This literature reviewed 17 articles. This literature review showed that oxidative stress was found higher in the older group.  Elderlies also had higher hypertension incidences. Oxidative stress increased blood pressure by impairing vasodilatation function. In addition, oxidative stress was also caused by increased blood pressure. According to those articles, positive correlation was found between oxidative stress and blood pressure in elderlies. Keywords: oxidative stress, free radicals, blood pressure, hypertension, elderly, elders, olders Abstrak: Lanjut usia (lansia) adalah istilah bagi orang yang telah berusia 60 tahun. Lansia ialah kelompok orang yang berada dalam tahap terakhir kehidupan dan mengalami proses penuaan. Proses penuaan disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya stres oksidatif. Lansia juga mengalami penyakit yang berkaitan dengan usia seperti hipertensi. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan stres oksidatif dan tekanan darah pada lansia. Penelusuran artikel berbahasa Inggris dilakukan pada PubMed dan Google Scholar yang dipublikasi pada tahun 2005-2020. Tinjauan literatur ini menggunakan 17 artikel. Hasil dari tinjauan literatur ini ialah stres oksidatif didapatkan lebih tinggi pada kelompok lanjut usia. Lanjut usia mengalami insidensi hipertensi yang lebih tinggi. Stres oksidatif meningkatkan tekanan darah dengan mengganggu fungsi vasodilatasi. Selain itu, stres oksidatif juga dapat ditimbulkan oleh peningkatan tekanan darah. Berdasarkan artikel-artikel tersebut, ditemukan korelasi positif antara stres oksidatif dan tekanan darah pada lanjut usia. Kata-kata kunci: stres oksidatif, radikal bebas, tekanan darah, hipertensi, lanjut usiaAbstract: Elderly is a term for someone who is already 60 years old. Elderlies are people in their last phase of life and experience aging process. Aging process is caused by many factors such as oxidative stress. Elderlies also develop age-related diseases like hypertension. This literature review was intended to explain about the relationship between oxidative stress and blood pressure in elderlies. English articles were browsed on PubMed and Google Scholar which was published between the years 2005-2020. This literature reviewed 17 articles. This literature review showed that oxidative stress was found higher in the older group.  Elderlies also had higher hypertension incidences. Oxidative stress increased blood pressure by impairing vasodilatation function. In addition, oxidative stress was also caused by increased blood pressure. According to those articles, positive correlation was found between oxidative stress and blood pressure in elderlies. Keywords: oxidative stress, free radicals, blood pressure, hypertension, elderly, elders, olders Abstrak: Lanjut usia (lansia) adalah istilah bagi orang yang telah berusia 60 tahun. Lansia ialah kelompok orang yang berada dalam tahap terakhir kehidupan dan mengalami proses penuaan. Proses penuaan disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya stres oksidatif. Lansia juga mengalami penyakit yang berkaitan dengan usia seperti hipertensi. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan stres oksidatif dan tekanan darah pada lansia. Penelusuran artikel berbahasa Inggris dilakukan pada PubMed dan Google Scholar yang dipublikasi pada tahun 2005-2020. Tinjauan literatur ini menggunakan 17 artikel. Hasil dari tinjauan literatur ini ialah stres oksidatif didapatkan lebih tinggi pada kelompok lanjut usia. Lanjut usia mengalami insidensi hipertensi yang lebih tinggi. Stres oksidatif meningkatkan tekanan darah dengan mengganggu fungsi vasodilatasi. Selain itu, stres oksidatif juga dapat ditimbulkan oleh peningkatan tekanan darah. Berdasarkan artikel-artikel tersebut, ditemukan korelasi positif antara stres oksidatif dan tekanan darah pada lanjut usia. Kata-kata kunci: stres oksidatif, radikal bebas, tekanan darah, hipertensi, lanjut usia
HUBUNGAN VARIABILITAS GLIKEMIK DENGAN INGKAT KEPARAHAN KLINIS PASIEN STROKE SKEMIK DI RSUD ULIN BANJARMASIN Muhammad Ervin; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Triawanti Triawanti
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.833 KB)

Abstract

Abstract: Stroke is a state of sudden loss of brain function resulting from a disruption in the cerebral blood supply with symptoms lasting at least 24 hours or resulting in death. This study aims to analyze the relationship between glycemic variability and the clinical severity of ischemic stroke patients in Ulin Hospital Banjarmasin. This study was observational analytic with cohort design. The population in this study were all patients diagnosed with ischemic stroke in Ulin Banjarmasin Hospital in August-November 2018. The patient's glycemic variability value will be obtained by determining the mean and standard deviation of the patient's glycemia levels taken for 7 days and the patient's clinical value by using the National Institute Health of Stroke Scale (NIHSS) questionnaire on the first day and day 7 the patients were hospitalized. The sample size for this study is 30 people. The results of this study were that the incidence of ischemic stroke was found to occur most in the age group> 45 years (96.7%), and in patients with hypertension (76.7%). The results of bivariate analysis showed that the glycemic variability variable had a significant correlation with the patient's clinical variable (R = 0.767 **). The conclusion of this study is that there is a relationship between glycemic variability and the clinical severity of ischemic stroke patients in Ulin Hospital Banjarmasin Keywords: ischemic stroke, glycemic variability, National Institute Health of Stroke Scale (NIHSS)  Abstrak: Stroke adalah keadaan hilangnya fungsi otak secara tiba-tiba akibat dari gangguan pada suplai darah serebral dengan gejala yang berlangsung minimal 24 jam atau mengakibatkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara variabilitas glikemik dengan tingkat keparahan klinis pasien stroke iskemik di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain cohort. Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien yang didiagnosis stroke iskemik di RSUD Ulin Banjarmasin pada bulan Agustus-November 2018. Nilai variabilitas glikemik pasien akan didapat dengan menentukan mean dan standar deviasi dari kadar glikemia pasien yang di ambil selama 7 hari dan klinis dari pasien akan dinilai dengan menggunakan kuisioner National Institute Health of Stroke Scale (NIHSS) pada hari pertama dan hari ke-7 pasien di rawat inap. Besar sampel pada penilitan ini adalah 30 orang. Hasil dari penelitian ini adalah kejadian stroke iskemik ditemukan paling banyak terjadi pada kelompok usia >45 tahun (96,7%), dan pada penderita hipertensi (76,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel variabilitas glikemik memiliki korelasi yang signifikan dengan variabel klinis pasien (p=0,00) dan (r=0,767**). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara variabilitas glikemik dengan tingkat keparahan klinis pasien stroke iskemik di RSUD Ulin Banjarmasin. Kata-kata kunci: Stroke iskemik, variabilitas glikemik, National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS)
Literature Review: Korelasi Kadar Glukosa dengan Kadar Karbonil pada Lansia yang Memiliki Diabetes Muhammad Geraldy Isfandiary; Eko Suhartono; Fakhrurrazy Fakhrurrazy
Homeostasis Vol 4, No 3 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.445 KB)

Abstract

Abstract: Elderly are closely related increased susceptibility to diseases due to continuous exposure to free radicals. Free radicals have an important role in various physiological conditions and their implications in various symptoms, one of which is hyperglicemia. Excessive or deficient blood sugar levels will cause health problems in the body. Blood sugar levels during capillary blood examination were low <90 mg / dl), normal (90-199 mg / dl), high (≥200 mg / dl). High glucose levels cause oxidation and glycolysis processes that produce ROS and AGEs which in turn induce oxidative damage to produce carbonyl compounds. Carbonyl compounds increase with age and high glucose levels. The purpose of this literature review is to explain the relationship between glucose levels and carbonyl levels in the elderly. The search was carried out on English-language articles published between 2010-2020 on the PubMed database, ScienceDirect and google scholar. The keywords used in the search for the article were glucose level, protein carbonyl, ROS, oxidative stress, and elderly. Based on the search of the article, the selection was made based on the title and abstract, in order to obtain 20 articles. The same article was excluded from all suitable articles through objective analysis, topic suitability resulting into 14 articles. Based on the literature review, it was found there is a relationship between glucose levels and plasma carbonyl levels. Keywords: glucose levels, carbonyl protein, oxidative stress, ROS, elderly Abstrak: Lansia berhubungan dengan peningkatan kerentanan tubuh terhadap penyakit akibat paparan radikal bebas terus-menerus. Penuaan terjadi karena hilangnya homeostasis akibat stres oksidatif kronis. Radikal bebas memiliki peran penting dalam berbagai kondisi fisiologis serta implikasinya dalam beragam gejala penyakit salah satunya hiperglikemi. Kadar gula darah yang berlebihan atau kekurangan akan menimbulkan masalah kesehatan pada tubuh.  Kadar gula darah sewaktu pada pemeriksaan darah kapiler, rendah (<90 mg/dl), normal (90-199 mg/dl), tinggi (≥200 mg/dl). Kadar glukosa tingggi menyebabkan proses oksidasi dan glikolisis yang menghasilkan ROS dan AGEs selanjutnya menginduksi kerusakan oksidatif residu asam amino menghasilkan senyawa karbonil. Senyawa karbonil meningkat seiring bertambahnya usia dan tingginya kadar glukosa. Tujuan dari literature review untuk menjelaskan hubungan antara kadar glukosa dan kadar karbonil pada lansia. Penelusuran dilakukan pada artikel berbahasa Inggris yang diterbitkan antara tahun 2010-2020 pada database PubMed, ScienceDirect dan google scholar. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel adalah kadar glukosa, protein karbonil, ROS, stres oksidatif, dan lansia. Berdasarkan pencarian artikel tersebut dilakukan pemilihan berdasarkan judul dan abstrak, sehingga diperoleh sebanyak 20 artikel. Artikel yang sama dieksklusi dari keseluruhan artikel yang sesuai melalui analisis tujuan, kesesuaian topik sehingga didapatkan 14 artikel. Berdasarkan literature review didapatkan hubungan antara kadar glukosa dengan kadar karbonil plasma. Kata – kata kunci: kadar glukosa, protein karbonil, stres okdidatif, ROS, lansia
Literature Review: Korelasi Kadar Karbonil Plasma dengan Nilai Mini-Mental State Examination pada Lanjut Usia Ananda Rosalinda; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Fujiati Fujiati
Homeostasis Vol 4, No 3 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.858 KB)

Abstract

Abstract: Elderly is defined as a 60 years old or older person. Elderly is closely related to aging process and diseases. Cognitive impairment frequently found in older people are likely to develop public health problems since the incident keep increasing. One of the mechanisms which play important role in cognitive impairment in elderly is oxidative stress. The literature review was written with the aim of giving explanation about the involment of oxidative stress towards cognitive impairment in elderly. Research method using literature review was done through searched published articles about relationship between oxidative stress and cognitive function in elderly using MMSE. The literature searching was done on October – December 2020 on database PubMed-MEDLINE, Science Direct, and Google Scholar. This review used articles in English published between 2005-2020. Review of 10 published articles evidenced oxidative stress (methylglyoxal/MG in plasma carbonyl) generated cognitive impairment in elderly. Keywords: elderly, aging, methylglyoxal, cognitive, MMSE Abstrak: Lanjut usia (lansia) merupakan individu yang berusia 60 tahun atau lebih. Lansia erat kaitannya dengan proses penuaan dan penyakit. Gangguan kognitif yang sering terjadi pada lansia dapat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat karena jumlahnya yang terus meningkat. Salah satu mekanisme yang berperan penting dalam terjadinya gangguan kognitif pada lansia ialah stres oksidatif. Penulisan literature review ini dilakukan untuk memberikan penjelasan mengenai keterlibatan stres oksidatif terhadap timbulnya gangguan kognitif pada lansia. Metode review dilakukan melalui literature review dengan mencari artikel terkait hubungan stres oksidatif dengan fungsi kognitif pada lansia menggunakan MMSE yang sudah dipublikasikan dalam jurnal-jurnal. Penelusuran literatur dilakukan pada bulan Oktober – Desember 2020 melalui database PubMed-MEDLINE, Science Direct, dan Google scholar. Artikel yang digunakan merupakan artikel berbahasa Inggris yang diterbitkan antara tahun 2005-2020. Hasil tinjauan terhadap 10 artikel yang sudah dipublikasi menunjukkan stres oksidatif (karbonil plasma dalam bentuk metilglioksal/MG sebagai oksidan) menimbulkan gangguan kognitif pada lansia. Kata-kata kunci: lansia, penuaan, metilglioksal, kognitif,  MMSE