Claim Missing Document
Check
Articles

PENGUATAN PEMASARAN VIRTUAL ECOTOURISM BAGI KELOMPOK SADAR WISATA DI DESA PATAAN, KABUPATEN LAMONGAN Aly, M. Nilzam; Kristanto, Damar; Aji, Gagas Gayuh; Sinulingga, Rizky Amalia; Firdaus, Aji Akbar; Kirana, Angkita Wasito; Suharto, Bambang
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i1.26232

Abstract

Perkembangan teknologi informasi memberi perubahan bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin beragam dan mudah informasi yang didapatkan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi semakin pesat. Teknologi informasi saat ini tentu membutuhkan sebuah jaringan internet. Sebagian besar masyarakat era 4.0 sekarang ini sudah mengikuti perkembangan teknologi yang pesat, sehingga semua aspek kehidupan dominan mengunakan tekonologi yang canggih khususnya di bidang pariwisata. Tetapi kondisi ini perlu disikapi dengan tetap mengedepankan aspek pengembangan sumber daya manusia dalam memanfaatkan teknologi. Upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia dalam mencapai Visi Indonesia Emas 2045 menjadi fokus kebijakan pemerintah. Hal ini tercermin Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2023, yaitu “Peningkatan SDM untuk Pertumbuhan Berkualitas”. Tema ini sangat didukung oleh civitas perguruan tinggi dengan melakukan kegiatan pengabdian masyarakat melalui pelatihan penguatan pemasaran pariwisata virtual untuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pataan di Kabupaten Lamongan. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk Peningkatan kualitas anggota pokdarwis dalam hal pembuatan konten pariwisata virtual dengan daya tarik ekowisata di Desa Pataan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan tentang pemasaran digital dan pendampingan penggunaan drone dan handphone untuk pembuatan konten virtual. Hasil dari kegiatan ini adalah peserta mampu secara terstruktur dan konsisten membuat konten virtual di media sosial milik pokdarwis Desa Pataan
Representasi Kepemimpinan Transformasional Karakter Joy dalam Film “Inside Out (2015)” Herlambang, Iqbal Septiyan Putra; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Sinungga, Rizki Amalia; Aji, Gagas Gayuh
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.3497

Abstract

Kepemimpinan transformasional menjadi gaya kepemimpinan yang relevan dalam menciptakan perubahan positif dan memberdayakan individu melalui inspirasi, motivasi, perhatian individual, serta stimulasi intelektual. Film animasi Inside Out (2015) menawarkan peluang pembelajaran kontekstual tentang kepemimpinan kompleks melalui narasi visual yang mudah dipahami. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis representasi kepemimpinan transformasional melalui karakter Joy dalam film tersebut serta mengeksplorasi bagaimana empat dimensi kepemimpinan transformasional ditampilkan dalam interaksi antar karakter. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan yang menganalisis konten visual. Populasi penelitian adalah film Inside Out (2015), sedangkan sampel adalah adegan-adegan spesifik menunjukkan interaksi kepemimpinan Joy dengan emosi-emosi lain seperti Fear, Anger, Disgust, dan Sadness. Instrumen penelitian adalah peneliti sebagai human instrument dengan pedoman observasi berdasarkan empat dimensi kepemimpinan transformasional Shalahuddin. Teknik analisis data menggunakan analisis konten dikombinasikan dengan analisis tematik model Miles dan Huberman dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, didukung triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan keempat dimensi kepemimpinan transformasional yakni motivasi inspirasional, pertimbangan individual, stimulasi intelektual, dan pengaruh ideal terepresentasi integral dan saling melengkapi dalam perilaku Joy. Joy menampilkan motivasi inspirasional dengan mengubah perspektif negatif menjadi peluang positif, pertimbangan individual melalui pembagian tugas sesuai kapasitas unik setiap emosi, stimulasi intelektual dengan membuka ruang kreativitas kolektif, dan pengaruh ideal melalui konsistensi optimisme serta kepercayaan diri. Penelitian menyimpulkan film animasi mampu merepresentasikan kepemimpinan kompleks secara akurat dan multidimensional, kepemimpinan transformasional relevan dalam dinamika relasional intim dengan menekankan pembelajaran berkelanjutan, serta sejalan dengan SDG 16 tentang Peace, Justice, and Strong Institutions dalam membangun kepercayaan dan kolaborasi inklusif.
Representasi Kepemimpinan Paternalistik dalam Film 1 Kakak 7 Ponakan Maysura, Suci Qaulan; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Aji, Gagas Gayuh; Sinulingga, Rizky Amalia
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.3112

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi kepemimpinan paternalistik dalam konteks keluarga yang digambarkan dalam film 1 Kakak 7 Ponakan. Fokus utama penelitian adalah mengidentifikasi peran kepemimpinan tokoh utama sebagai figur sentral keluarga, menganalisis pengaruh kepemimpinan paternalistik terhadap perkembangan karakter para keponakan, serta menilai bagaimana dinamika kepemimpinan tersebut direpresentasikan melalui alur cerita dan visual film. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode naratif, yang menekankan pada analisis mendalam terhadap fenomena sosial dan perilaku manusia dalam lingkungan keluarga. Populasi penelitian mencakup seluruh elemen naratif dan visual film yang berkaitan dengan praktik kepemimpinan paternalistik. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih adegan-adegan yang dianggap paling relevan dan representatif terhadap tema kepemimpinan. Instrumen pengumpulan data berupa dokumentasi dan observasi, dengan memanfaatkan tangkapan layar serta transkrip dialog dari adegan-adegan kunci yang dianalisis secara sistematis. Analisis data dilakukan melalui analisis naratif yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan paternalistik yang ditandai oleh nilai kebaikan, moralitas, dan otoritas memiliki pengaruh positif terhadap prestasi akademik, kemandirian, serta penguatan ikatan emosional dalam keluarga. Namun demikian, kontrol yang berlebihan berpotensi memunculkan resistensi dan konflik internal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keseimbangan antara otoritas dan kasih sayang menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, harmonis, dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Dampak Pola Asuh pada Tokoh Awan dalam Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Navelsa Angraeni; Erindah Dimisyqiyani; Gagas Gayuh Aji; Rizky Amalia Sinulingga; Amaliyah Amaliyah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5534

Abstract

Kepemimpinan bukan hanya mmapu untuk memimpin orang lain, tetapi juga kemampuan untuk mengeloladiri sendiri, mengambil keputusan secara mandiri, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Bahkanketika menghadapi tekanan dalam keluarga, individu juga perlu mengembangkan keterampilankepemimpinan. Dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin harus mampu memotivasi, menginspirasi, danmemberikan perhatian pribadi kepada orang lain agar dapat mencapai tujuannya. Namun, ini tidak selalumudah dilaksanakan terutama dalam situasi yang penuh tantangan dan tekanan. Tujuan penelitian ini adalahuntuk menentukan apakah tekanan dan tuntutan dari orang tua dapat mempengaruhi perkembangan psikologisdalam kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan film sebagai objek pengamatanmelalui perilaku dan dialog. Pengamatan dilakukan melalui studi literatur dan pengamatan melalui film, NantiKita Cerita Tentang Hari Ini (We'll Talk About Today Later). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaseorang pemimpin bernama Awan berhasil memberikan perhatian pribadi, memotivasi, dan menginspirasikeluarganya untuk berani menghadapi perubahan. Awan berhasil mengatasi konflik keluarga yangdisebabkan oleh gaya pengasuhan otoriter yang diterapkan orang tuanya kepadanya dan dua saudarakandungnya yang lebih tua. Keterampilan kepemimpinan transformasional Awan mengingatkan kita bahwasetiap orang harus siap menghadapi perubahan. Leadership is not only the ability to lead others, but also the ability to manage oneself, make independentdecisions, and take responsibility for one's life choices. Even when facing pressure within the family,individuals also need to develop leadership skills. It can be said that a leader must be able to motivate,inspire, and give personal attention to others in order to achieve their goals. However, this is not always easyto do, especially in challenging and stressful situations. The purpose of this study is to determine whetherpressure and demands from parents can affect psychological development in leadership. This study uses aqualitative method with film as the object of observation through behavior and dialogue. Observations weremade through literature studies and observations through the film, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (We'llTalk About Today Later). The results of this study show that a leader named Awan succeeded in givingpersonal attention, motivating, and inspiring his family to dare to face change. Awan managed to overcomefamily conflicts caused by the authoritarian parenting style applied by his parents to him and his two oldersiblings. Awan's transformational leadership skills remind us that everyone must be prepared to face change.
Representasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Tokoh Oh Gu Tak Dalam Film The Bad Guys: Reign Of Chaos Indri Mustika Dewi; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5537

Abstract

Kepemimpinan yang efektif sangat penting bagi keberhasilan organisasi, namun masih diperlukanpemahaman mendalam tentang implementasi kepemimpinan transformasional dalam konteks kehidupansehaari-hari. Film sebagai media populer dapat menjadi sarana eksplorasi konsep kepemimpinan yangrelevan dengan dunia nyata. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gaya kepemimpinan transformasionalkarakter Oh Gu-tak dalam film "The Bad Guys: Reign of Chaos" (2019) dan menganalisis relevansiimplementasinya dalam konteks organisasi. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui kombinasi studiliteratur dan analisis konten film. Adegan-adegan kunci yang menggambarkan praktik kepemimpinan OhGu-tak dianalisis berdasarkan empat dimensi kepemimpinan transformasional. Oh Gu-takmendemonstrasikan keempat dimensi kepemimpinan transformasional: inspirational motivation(memberikan insentif dan mengaitkan misi dengan aspirasi), intellectual stimulation (mendorong pemikirankritis), individual consideration (bertindak sebagai mentor), dan idealized influence (menjadi teladan moralmelalui pengorbanan diri). Kepemimpinan transformasional Oh Gu-tak berhasil menciptakan tim yang soliddan termotivasi. Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional efektif dalam membangunsolidaritas tim dan dapat menjadi inspirasi praktis bagi pemimpin organisasi. Effective leadership is crucial to organizational success, but a deeper understanding of the implementationof transformational leadership in everyday life is still needed. Film, as a popular medium, can be a means ofexploring leadership concepts that are relevant to the real world. This study aims to explore thetransformational leadership style of the character Oh Gu-tak in the film “The Bad Guys: Reign of Chaos”(2019) and analyze the relevance of its implementation in an organizational context. A qualitative approachwas used through a combination of literature study and film content analysis. Key scenes depicting Oh Gutak'sleadership practices are analyzed based on the four dimensions of transformational leadership. Oh Gutakdemonstrates all four dimensions of transformational leadership: inspirational motivation (providingincentives and linking the mission to aspirations), intellectual stimulation (encouraging critical thinking),individual consideration (acting as a mentor), and idealized influence (being a moral role model through selfsacrifice).Oh Gu-tak's transformational leadership successfully created a solid and motivated team. Thesefindings confirm that transformational leadership is effective in building team solidarity and can be apractical inspiration for organizational leaders.
Gaya Kepemimpinan Situasional dalam Menghadapi Konflik Tim (Serial Money Heist) Bagus Nurchidayah Muhammad; Amaliyah Ria Triwastuti; Erindah Dimisyqiyani; Rizki Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5540

Abstract

Penelitian ini menganalisis implementasi kepemimpinan situasional dan gaya manajemen konflik yangditunjukkan oleh karakter The Professor dalam serial televisi Money Heist. Menggunakan pendekatankualitatif deskriptif, penelitian ini menerapkan teori kepemimpinan situasional Hersey-Blanchard danmodel manajemen konflik Thomas-Kilmann. Temuan menunjukkan bahwa The Professor secara efektifmengadopsi empat gaya kepemimpinan: mengarahkan, melatih, mendukung, dan mendelegasikanberdasarkan tingkat kematangan dan kebutuhan spesifik tim. Fleksibilitas ini memungkinkannya untuksecara efektif mengelola konflik internal, yang sering kali berasal dari perbedaan emosional danstrategis. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa kepemimpinan adaptif adalah "pedang bermatadua": sebuah keunggulan kompetitif yang memfasilitasi penyelesaian konflik dan optimalisasi sumberdaya manusia, tetapi juga merupakan sumber potensial konflik internal dan krisis otentisitas bagipemimpin itu sendiri. Studi ini sejalan dengan prinsip-prinsip SDG's 16 tentang penguatan institusi danpengambilan keputusan yang inklusif, menyoroti pentingnya kepemimpinan yang adil dan adaptif. This study analyzes the implementation of situational leadership and conflict management styles asdemonstrated by the character The Professor in the television series Money Heist. Using a descriptivequalitative approach, the research applies the Hersey-Blanchard situational leadership theory and theThomas-Kilmann conflict management model. The findings show that The Professor effectively adoptsfour leadership styles directing, coaching, supporting, and delegating based on the team's maturitylevel and specific needs. This flexibility allows him to effectively manage internal conflicts, which oftenstem from emotional and strategic differences. However, this study also finds that adaptive leadershipis a "double-edged sword": a competitive advantage that facilitates conflict resolution and humanresource optimization, but also a potential source of internal conflict and an authenticity crisis for theleader themselves. The study aligns with SDG’s 16 principles on strengthening institutions and inclusivedecision-making, highlighting the importance of fair and adaptive leadership.
Peran Motivasi Meraih Impian Bermusik Tokoh Miguel Dalam Film “Coco” Nayla Lisda Amalia; Navelsa Angraeni; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Gagas Gayuh Aji; Rizky Amalia Sinulingga
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5544

Abstract

Setiap individu berusaha mencapai tujuan hidup, tetapi jalan ini sering terhambat oleh konflik dalam lingkungansosialnya. Studi ini mengkaji karakter Miguel dalam film Coco untuk menganalisis motivasinya melalui HirarkiKebutuhan Maslow. Pendekatan yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif, di mana adegan-adegankunci dalam film dipetakan ke setiap tingkat kebutuhan Maslow. Analisis ini mengungkap sebuah perjalananmotivasi yang sistematis. Kebutuhan dasar Miguel akan rasa aman dalam keluarga pembuat sepatu berfungsisebagai fondasi. Namun, penolakan keluarganya terhadap musik menciptakan konflik dengan kebutuhannya akancinta dan rasa memiliki. Untuk mengatasi hal ini, ia mencari pengakuan yang memenuhi kebutuhan harga dirinyadalam sebuah kompetisi musik. Puncak dari perjalanannya adalah aktualisasi diri, di mana ia tidak hanya menjadiseorang musisi tetapi juga menggunakan bakatnya untuk menyatukan kembali keluarganya. Studi inimenyimpulkan bahwa motivasi seseorang untuk mengaktualisasikan diri sangat dipengaruhi oleh dukungan danvalidasi dari lingkungan sosialnya. Temuan-temuan ini menawarkan wawasan berharga untuk pendidikankarakter. Penelitian di masa depan dapat melakukan studi perbandingan dengan menggunakan teori motivasi lain,seperti Teori Dua Faktor atau Teori Kebutuhan McClelland, untuk memperluas analisis motivasi dalam narasifilm. Every individual strives to achieve life goals, but this path is often hampered by conflicts in their socialenvironment. This study examines the character of Miguel in the film Coco to analyze his motivation throughMaslow's Hierarchy of Needs. The approach used is descriptive qualitative analysis, where key scenes in the filmare mapped to each of Maslow's levels of needs. The analysis reveals a systematic motivational journey. Miguel'sbasic need for security within a shoemaker family serves as a foundation. However, his family's rejection of musiccreates a conflict with his needs for love and belonging. To overcome this, he seeks recognition that fulfills hisself-esteem needs in a music competition. The culmination of his journey is self-actualization, where he not onlybecomes a musician but also uses his talent to reunite his family. This study concludes that a person's motivationto self-actualize is strongly influenced by support and validation from their social environment. These findingsoffer valuable insights for character education. Future research may conduct comparative studies using othermotivational theories, such as the Two-Factor Theory or McClelland’s Needs Theory, to broaden the analysis ofmotivation in film narratives.
Pembentukan Karakter Kepemimpinan Melalui Konflik Identitas dalam Film Enola Holmes Nawra Aqila Husna; Navelsa Angraeni; Erindah Dimisyqiyani; Rizky Amalia; Gagas Gayuh Aji; Amaliyah Amaliyah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5548

Abstract

Kepemimpinan bukan hanya peran resmi, itu adalah kemampuan esensial untuk menciptakan dampakpositif dan memberdayakan orang. Namun, unsur-unsur sosial dan budaya seringkali memengaruhikepemimpinan, termasuk bias gender yang membatasi peluang perempuan untuk menjadi pemimpin.Masalah ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 5 yang menyorotikesetaraan gender dalam peran kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuanuntuk menganalisis bagaimana konflik identitas memengaruhi pembentukan karakter kepemimpinandalam film Enola Holmes (2020). Studi ini menggunakan metodologi kualitatif dengan kerangkadeskriptif, menekankan pengamatan langsung terhadap film disertai tinjauan literatur. Datadikumpulkan dari percakapan, penggambaran visual, dan transkrip yang menampilkan perjuanganidentitas dan kualitas kepemimpinan protagonis. Hasil menunjukkan bahwa perjuangan Enola denganidentitasnya berasal dari konflik antara nilai-nilai pribadi seperti kemandirian, keberanian, dankreativitas dengan pengaruh eksternal, termasuk norma sosial, budaya patriarki, dan ekspektasikeluarga. Konflik-konflik ini mendorongnya untuk merenung, mengambil tindakan berani, danmempertahankan keyakinannya. Pada akhirnya, Enola menyadari identitasnya dan menunjukkankepemimpinan sejati berdasarkan integritas pribadi. Penelitian ini menekankan bahwa kepemimpinanautentik dapat muncul dari perjuangan individu melawan batasan-batasan sosial. Studi masa depanmungkin dapat menyelidiki penggambaran kepemimpinan perempuan dalam film-film lain atau budayayang berbeda. Leadership is not just an official role, it is an essential ability for creating positive impact and enablingpeople. Nonetheless, social and cultural elements frequently influence leadership, including gender biasthat limits women's chances of becoming leaders. This issue aligns with the Sustainable DevelopmentGoals (SDGs) number 5 which highlights gender equality in leadership and decision making roles. Thisresearch seeks to examine how identity conflict influences the formation of leadership characters in themovie Enola Holmes (2020). The study utilized a qualitative methodology with a descriptive framework,emphasizing direct observation of the film alongside a literature review. Data were gathered fromconversations, visual depictions, and transcripts showcasing both identity struggles and leadershipqualities of the protagonist. The results demonstrate that Enola’s struggle with her identity stems fromconflicts between her personal values like independence, bravery and creativity and outside influences,including societal norms, patriarchal culture and familial expectations. These disputes prompted herto contemplate, take bold actions, and uphold her beliefs. In the end, Enola recognizes her identity andexhibits genuine leadership based on personal integrity. This research emphasizes that authenticleadership can arise from individual battles with societal limitations. Future studies might investigate the portrayal of female leadership in different films or cultural settings to expand views on how identityconflict influences leadership growth
Representasi Kepemimpinan Karismatik Thomas Shelby dan Loyalitas Kelompok dalam Serial “Peaky Blinders” Sony Wijaya Nurcholis; Navelsa Angraeni; Amaliyah Amaliyah; Erindah Dimisyqiyani; Rizky Amalia; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5551

Abstract

Serial televisi Peaky Blinders (2013–2022) telah menjadi fenomena budaya global karena kompleksitaskarakter utamanya, Thomas Shelby, sehingga penelitian ini bertujuan melakukan analisis mendalammengenai bagaimana narasi sinematik dalam serial tersebut merepresentasikan kepemimpinankarismatik dan dinamika loyalitas kelompok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatifdeskriptif dengan model analisis interaktif Miles & Huberman, serta menerapkan kerangka teoretisotoritas karismatik Max Weber dan Teori Identitas Sosial untuk membedah sumber kepemimpinan danmekanisme terbentuknya loyalitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karisma Thomas Shelbydibangun dari tiga pilar utama: konstruksi mitos pribadi sebagai pahlawan perang, visi transformatifuntuk mengangkat status keluarganya, serta kemampuan strategisnya yang luar biasa, yang secarakolektif menumbuhkan loyalitas emosional yang kuat dari para pengikutnya. Akan tetapi, penelitian inijuga menyoroti dualisme dari kepemimpinan tersebut, di mana loyalitas absolut yang dituntut seringkali menjadi sumber konflik internal dan memaksa anggota kelompok melakukan kompromi moral.Dengan demikian, studi ini relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 16 tentangperdamaian dan kelembagaan yang tangguh, karena berfungsi sebagai studi kasus alegoris yangmenggarisbawahi bahaya dari kekuasaan karismatik yang tidak terkendali (unchecked power) yangdapat merusak tatanan sosial yang adil. The television series Peaky Blinders (2013–2022) has become a global cultural phenomenon due to thecomplexity of its main character, Thomas Shelby; therefore, this study aims to conduct an in-depthanalysis of how the cinematic narrative represents charismatic leadership and group loyalty dynamics.This research employs a qualitative descriptive approach with the Miles & Huberman interactiveanalysis model, applying the theoretical frameworks of Max Weber's charismatic authority and SocialIdentity Theory to dissect the sources of leadership and the mechanisms of loyalty formation. Thefindings indicate that Thomas Shelby's charisma is built on three main pillars: the construction of apersonal myth as a war hero, a transformative vision to elevate his family's status, and his extraordinarystrategic abilities, which collectively foster a powerful emotional loyalty from his followers. However,the study also highlights the dualism of this leadership, where the absolute loyalty demanded oftenbecomes a source of internal conflict and forces group members into moral compromises.Consequently, this study is relevant to Sustainable Development Goal (SDG) 16 concerning peace andstrong institutions, as it serves as an allegorical case study highlighting the dangers of uncheckedcharismatic power, which can undermine a just social order.
Representasi Kepemimpinan Transformasional Tokoh Genta dalam Perjalanan Pendakian Gunung Semeru pada Film 5 cm Muhammad Kelvin Akbar Al Majid; Navelsa Angraeni; Amaliyah Ria Triwastuti; Erindah Dimisyqiyani; Rizky Amalia; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5552

Abstract

Kepemimpinan tidak hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga tentang kemampuan untukmemotivasi, menginspirasi dan memberikan visi yang dapat mempengaruhi tindakan kolektif. Seorangpemimpin harus mampu membangun semangat tim, menanamkan kepercayaan dan memperhatikankebutuhan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan studi ini adalah menganalisis bagaimanakepemimpinan transformasional tercermin dalam film 5 cm. Studi ini menggunakan metode kualitatif,dengan film sebagai objek pengamatan, dijelaskan melalui perilaku dan dialog karakter dalam adeganadegankunci. Proses observasi menggabungkan tinjauan literatur dan analisis adegan langsung untukmengidentifikasi dimensi kepemimpinan transformasional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwakarakter utama berhasil menunjukkan kepemimpinan transformasional dengan memotivasi danmenginspirasi teman-temannya selama perjalanan mereka mendaki Gunung Semeru. Ia memberikandorongan, membangun solidaritas dan memperkuat optimisme ketika kelompok menghadapi tantanganfisik dan mental. Kepemimpinan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional juga dapatmuncul dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam organisasi formal. Leadership is not only about leading others, but also about the ability to motivate, inspire, and provide avision that can influence collective action. A leader must be able to build team spirit, instill trust, and payattention to the needs of others to achieve common goals. The purpose of this study is to analyze howtransformational leadership is portrayed in the film 5 cm. This study used a qualitative method, with thefilm as the object of observation, explained through the behavior and dialogue of characters in key scenes.The observation process used literature review and direct scene analysis to identify the dimensions oftransformational leadership. The results of this study indicate that the main character successfullydemonstrated transformational leadership by motivating and inspiring his friends during their journey upMount Semeru. He provided encouragement, built solidarity, and strengthened optimism when the groupfaced physical and mental challenges. This leadership demonstrates that transformational leadership canalso emerge in everyday life, not only in formal organizations.
Co-Authors Afifah Hidayatul Hanifah Alifian Sukma, Alifian Aly, Muhammad Nilzam Amak Mohamad Yaqoub Amalia Sinulingga, Rizqy Amaliya Sinulingga, Rizky Amaliyah Amaliyah Ria Triwastuti Amaliyah, Amaliyah Amara Bilqis Kinanti Ameziziana, Ameziziana Anatasya Permatha Bayu, Jezicka Anggita Dwi Yuniati Arlinda Dwi Ariyani, Diva Assita, Rodhatul Astri Dewayani Astriani Wahyuningati Az Zahra Hasoloan, Hanifah Bagus Nurchidayah Muhammad Bambang Suharto Bilqis Kinanti, Amara Bintang Adi Chandra Calista, Ellysia Dea Catur Wulandari Chandika Maharani, Vannesya Dewa Rizky Nugroho Dian Prawitasari Dimisqiyani, Erindah ERINDAH DIMISQIYANI Erindah Dimisyqiyani Erindah Dimisyqiyani Fahria Herlambang, Ivan Fajar Arrasyid, Mohammad Fardana, Valdavi Rachma Otta Ferdian, Fina Ayu Ferdinandus, Euvanggelia Dwilda Firdaus, Aji Akbar Firdaus, Faidzatul Ganjar Ndaru Aji Ghaitsaa Zurike Amalia Gilang Gusti Aji Hanifah Az Zahra Hasoloan Hanifah, Afifah Hidayatul Herlambang, Iqbal Septiyan Putra Herlyanto Doni Wicaksono Hidan Razan Anwar Imam Mubaligh Gaffar, Muhammad Indah Dwi Ariani, Novita Indah Fahmiyah Indri Mustika Dewi Kirana, Angkita Wasito Kristanto, Damar Kristanto, Damar Labibul Hilmi, Harun Marischa Resmana, Sheila Mauludina, Nadiya Maurisia Putri Permatasari Maysura, Suci Qaulan Muhammad Ainur Rizky Hidayatullah Al Huda Muhammad Fadhila Rasyid As Syafi’i Muhammad Fikri Muhammad Fikri Muhammad Kelvin Akbar Al Majid Muhammad Madyan, Muhammad Nanda Rachmad Putra Gofur Navelsa Anggraeni Navelsa Angraeni Nawal Aqilah Nawra Aqila Husna Nayla Lisda Amalia Niza Unnavi, Ningrum Novi Dwi Anggraeni Novian Abdi Firdausi Novita Indah Dwi Ariani Nurul, Mochammad Octavia Trisukma Ayu, Linda Prawitasari, Dian Primavera Rizka Nalarsari Putri Nia Rahmadani Putri Ramadhani, Dinar Rahma, Dinda Aulia Ratu Hemas Titalya Ananda Lutfitami Ria Triwastuti, Amaliyah Ridila Novita Rintaati Putri, Allea Rizki Amalia Sinulingga Rizki Putra Prastio Rizky Amalia Rizky Amalia Rizqi Faradisa, Adinda Rizqy Amalia Sinulingga Sinulingga Rodik Wahyu Indrawan Romadhoni Sasongko, Nandamar Salman Alfarisi Seisha Hariono, Emely Septian Puji Rahayu Sinta Rahmah Auliya Sinulingga, Rizky Amalia Sinungga, Rizki Amalia Siti Khaerunnisa Sofiah, Amila Soleh, Mochammad Sony Wijaya Nurcholis Sriani, Dewi Subagyo, Mauliza Putri Suharno, Novianto Edi Syafira Devani Putri Wafiq Luthfiya Tahta Salsabila Wardani, Nazhifah Widodo, Suko Wishelda Izdihar, Damara Yankel Sena