Claim Missing Document
Check
Articles

Estetika dan Penyajian Tari Ronggeng Warak pada Ajang Internasional Water World Forum (WWF) di Bali Zidni Elma Nafia; Restu Lanjari
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Juni–Juli 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i2.1073

Abstract

Penelitian ini membahas penyajian Tari Ronggeng Warak dalam perhelatan internasional Water World Forum di Bali sebagai bentuk strategi pelestarian dan promosi budaya lokal pada tingkat global. Tari Ronggeng Warak merupakan karya tari kreasi tradisi khas Kota Semarang yang terinspirasi dari tradisi Dugderan, dengan ciri khas gerak enerjik, penggunaan topeng Warak, dan properti kembang manggar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk penyajian dan kekuatan visual yang ditampilkan serta nilai budaya yang diangkat dalam pertunjukan tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa analisis video pertunjukan yang diunggah di platform digital serta dokumentasi dari media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyajian tari Ronggeng Warak berhasil menghadirkan sinergi antara kearifan lokal dan estetika pertunjukan global melalui koreografi ekspresif, iringan musik yang menggugah, serta kostum dan rias yang mencolok secara visual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tari Ronggeng Warak memiliki potensi besar sebagai media diplomasi budaya dan perlu dikembangkan melalui strategi digital agar lebih kompetitif dalam panggung internasional.
Manajemen Pembelajaran Seni Tari di Sanggar Tari Kalyana Kabupaten Brebes Najwa Karunia Bahar; Restu Lanjari
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Agustus - September 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i3.1130

Abstract

Manajemen pembelajaran seni tari memiliki peranan penting dalam membentuk karakter, keterampilan, dan kreativitas anak sejak usia dini. Sanggar Tari Kalyana sebagai lembaga pendidikan nonformal telah memberikan kontribusi nyata dalam upaya pelestarian budaya lokal melalui pendidikan seni tari yang terstruktur. Dengan sistem pembelajaran yang disesuaikan berdasarkan usia dan karakter anak, serta perencanaan, metode, dan evaluasi yang dilakukan secara konsisten, sanggar ini menjadi tempat yang strategis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif data yang digunakan yaitu data primer. Metode yang digunakan yaitu studi kasus dan etnografi untuk mengkaji manajemen pembelajaran seni tari di Sanggar Tari Kalyana. Penelitian dilakukan pada Juni 2025, dengan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap narasumber utama, Ibu Dyah Krisna Yulistiani. Hasil dan pembahasan penelitian ini yaitu sistem manajemen yang baik sangat berperan dalam keberlanjutan sebuah sanggar. Mengacu pada teori Manajemen menurut Prof. Jazuli, yang mencakup perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengendalian (controlling), Sanggar Tari Kalyana menerapkan sistem manajemen yang terstruktur secara metode, dan tujuan disusun secara menarik agar peserta didik merasa nyaman dan aktif dalam proses latihan. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan melalui observasi, dengan tujuan membimbing anak menyempurnakan gerakan tanpa tekanan, sekaligus hanya melatih motorik anak, tetapi juga membentuk karakter, menumbuhkan ekspresi, dan meningkatkan kemampuan sosial melalui kerja sama dalam kelompok.
Bentuk Pertunjukan Ebeg Mekar Kencana Budaya di Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap Nigita Afriliana Putri; Restu Lanjari
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Agustus - September 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i3.1211

Abstract

Ebeg merupakan kesenian tradisional yang menggunakan properti kuda kepang. Grup ebeg Mekar Kencana Budaya menjadi salah satu Grup ebeg yang aktif dalam melestarikan kesenian ebeg. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan Bentuk Pertunjukan Ebeg Mekar Kencana Budaya di Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap. Pertunjukan ebeg Mekar Kencana Budaya dibagi menjadi tiga babak, yaitu babak pembuka, babak inti, dan babak penutup dan unsur-unsur dalam pertunjukan yang meliputi tema, gerak, penari/pelaku pertunjukan, busana, rias, iringan, panggung, properti, dan pencahayaan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui teknik observasi langsung, wawancara dengan narasumber, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan Pertunjukan ebeg Mekar Kencana Budaya dibagi menjadi 3 babak, babak pertama budal prajuritan 1, babak ke dua budal prajuritan 2, babak ketiga budal prajuritan 3 dan terjadi mendem masal. Iringan musik menggunakan kendang, demung, saron, slompret, gong, drum, campur, dan keyboard. Kesimpulanya, pertunjukan ebeg Mekar Kencana Budaya masih mempertahankan bentuk tradisi, tetapi juga menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Metode Pelatihan Tari Soreng Kridho Wargo Budhoyo Desa Lemahireng Kabupaten Semarang Resti Mareska Putri; Restu Lanjari
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Agustus - September 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i3.1221

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode pelatihan Tari Soreng di Paguyuban Soreng Kridho Wargo Budhoyo yang terletak di Desa Lemahireng. Berdasarkan teori sosialkonstruktivisme Vygotsky, pembelajaran efektif terjadi melalui interaksi sosial dalam Zone of Proximal Development (ZPD). Dalam praktiknya, pelatihan Tari Soreng di paguyuban ini menerapkan empat metode utama, yaitu metode tutor sebaya, demonstrasi dan imitasi, refleksi, serta scaffolding. Keempat metode tersebut mendukung proses belajar yang komunikatif, bertahap, dan sesuai kemampuan penari, sehingga membantu penari memahami gerakan secara mendalam, meningkatkan keterampilan motorik, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi metode-metode tersebut efektif untuk meningkatkan kualitas latihan dan penguasaan Tari Soreng di kalangan anggota paguyuban.
Innovative Strategy for Sundanese Dance Learning Based on Experiential Learning in Outcome-Based Education Curriculum to Achieve Quality Education Arsih, Utami; Lanjari, Restu; Hutagalung, Fonny Dameaty
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol. 25 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v25i2.20929

Abstract

This study aims to develop a Sundanese dance learning model based on Experiential Learning in the Outcome-Based Education curriculum, to enhance the quality of arts education. The urgency of this study stems from the limited exploration of the integration between Outcome-Based Education, Experiential Learning, and cultural preservation in Sundanese dance learning, despite its importance in achieving quality education goals in accordance with Sustainable Development Goal. The method employed is a mixed approach (qualitative and quantitative), utilizing data collection techniques that include interviews, observations, and surveys of students, lecturers, and dance teachers. The results indicate that the application of this model can enhance student engagement, creativity, and cultural understanding, with a statistically significant average increase of 35.35%. This model also strengthens the preservation of Sundanese cultural values through direct learning experiences. Research recommendations include the adoption of similar models in other art study programs, the development of a more responsive curriculum, and the use of digital technology to support innovative and sustainable learning. 
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN STEAM DALAM MANAJEMEN PERTUNJUKAN SENI: STUDI KASUS TATA CAHAYA DAN PROPERTI SENDRATARI DI SMAN 10 BANDAR LAMPUNG Muharam, Rd Agus; Kristianingsih, Evi; Ismail, Hasnaa Auliya Putri; Wardaya, Fortunatus Yosa; Hartono, Hartono; Lanjari, Restu
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 9 No. 2 (2026): Vol. 9 No. 2 Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v9i2.58531

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji implementasi model pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) dalam pengelolaan pertunjukan seni, khususnya pada aspek tata cahaya dan properti sendratari di SMAN 10 Bandar Lampung. Kurikulum nasional mata pelajaran seni budaya fase F mengharuskan siswa menampilkan karya seni di hadapan publik sebagai wujud capaian pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap guru seni budaya dan siswa, serta analisis dokumentasi produksi. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model STEAM berhasil mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam satu proyek pertunjukan: sains diterapkan pada pengelolaan tata cahaya, teknologi pada pembuatan desain publikasi, rekayasa pada konstruksi properti panggung, seni pada pementasan, dan matematika pada penghitungan anggaran produksi. Pengelolaan tata cahaya yang efektif terbukti mampu membangun dimensi dramatik pertunjukan, sementara pengelolaan properti yang terencana berkontribusi pada koherensi visual dan naratif. Disimpulkan bahwa manajemen pertunjukan seni berbasis STEAM tidak hanya memenuhi tuntutan kurikuler, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan karakter siswa secara bersamaan.
Adaptive Management of Private Music Lessons within Nonformal Education in Manado, Indonesia Stefanny Mersiany Pandaleke; Restu Lanjari; Rahina Nugrahani; Berdinata Massang
Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Musik FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/musikolastika.v8i1.355

Abstract

Objective: This study aims to examine the management of private music lessons in Manado as a response to the limitations of formal education in accommodating diverse musical interests, goals, and learning backgrounds. Method: A qualitative approach with a case study design was employed, involving interviews with eight instructors, observations of learning activities, and analysis of relevant documents and social media content related to private music courses. Results and Discussion: The findings reveal that private music courses in Manado implement adaptive nonformal education management that is flexible and student-centered. Key strategies include flexibility in scheduling, location, materials, methods, and student engagement, enabling courses to respond effectively to learner diversity. Independent development of courses has fostered a management model emerging from practical experience, situational responsiveness, and pedagogical knowledge, distinguishing it from formal institutions and organized nonformal courses. Conclusion: This study confirms that private music courses serve as individualized pedagogical spaces and as adaptive nonformal arts education entities, requiring ongoing managerial reflection to maintain the quality and relevance of music learning in the contemporary era.
Synergy between Wayang Orang Ngesti Pandowo and higher education in supporting sustainable education program Restu Lanjari Lanjari; Eny Kusumastuti; Utami Arsih
Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol. 45 No. 2 (2026): Cakrawala Pendidikan (June 2026)
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v45i2.94877

Abstract

This research examines the synergy between the Wayang Orang Ngesti Pandowo performing arts and higher education in supporting sustainable development (SDG 4), with a focus on integrating local wisdom to foster social cohesion among university students. As a cultural heritage form rich in moral values such as gotong royong, tolerance, and respect for tradition, Wayang Orang Ngesti Pandowo has excellent potential to build students’ social awareness and cultural identity. This research employs qualitative methods, utilizing data collection techniques such as in-depth interviews, observation, and document analysis, to explore how this performing art can be integrated into the higher education curriculum. The results showed that students’ involvement in Wayang Orang performances significantly increased their sense of community, social interaction, and understanding of local wisdom values while creating an inclusive learning environment. Students’ participation in the creative process, from rehearsal to performance, also positively impacted their communication, cooperation, and leadership skills. In addition, the collaboration between students and Wayang Orang artists strengthened social ties in the academic community and wider society. This research recommends that higher education institutions systematically integrate local wisdom-based performing arts into their curriculum through workshops, training, and collaboration with arts communities, as well as encouraging the government to support the preservation of local culture through educational policies. Thus, this research makes a significant contribution to the development of local culture-based education theory and practice, serving as a model for future similar initiatives that support social cohesion and sustainable education.
Tata Kelola Pameran Seni di Perguruan Tinggi: Studi Manajemen, Kuratorial, dan Partisipasi Publik Bangkit Sanjaya; Restu Lanjari; Rahina Nugrahani
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 12, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v12i1.19507

Abstract

Pameran telah menjadi tradisi dan ajak eksis yang berfungsi sebagai ruang eksperimen artistik dan sosial. Mahasiswa tidak sebatas menampilkan karya, tetapi mempraktikkan peran sebagai pengelola pameran, kurator, dan agen publik yang menjembatani karya seni dengan masyarakat luas. Mengkaji pameran seni dari aspek manajemen dan kuratorial dalam menjaring partisipasi publik. Metode menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui observasi pameran, wawancara dengan pengelola mahasiswa dan dosen pembimbing, serta analisis dokumentasi pameran, menyoroti praktik tata kelola pameran sebagai pembelajaran kuratorial dan manajerial di pendidikan tinggi. Hasil penelitian tata kelola pameran: (1) perencanaan dan operasi manajerial mahasiswa; (2) kuratorial mulai dari pemilihan karya, kurasi ruang hingga komunikasinya; dan (3) pelibatan publik melalui aktivitas kunjungan, diskusi karya, dan media sosial kampus. Namun, terdapat tantangan seperti anggaran, kurangnya SDM khusus, dan kualitas partisipasi publik. Bahasan penelitian tentang rekomendasi bagaimana model tata kelola pameran yang lebih sistematis, kolaborasi antar-stakeholder kampus dan masyarakat, penguatan aspek komunikasi dan evaluasi bagi pengunjung. Simpulannya, tata kelola pameran seni di lingkungan perguruan tinggi merupakan bagian dari ekosistem pendidikan seni dan praktik produksi kreatif. Praktik cukup baik dari sisi manajemen, kuratorial, dan partisipasi publik, dengan mahasiswa sebagai pelaku utama. Terdapat kendala keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan kuratorial formal, dan partisipasi publik yang belum maksimal.Governance of Art Exhibitions in Higher Education: Management, Curatorial and Public Participation Studies ABSTRACT Exhibitions have become a tradition and an invitation to exist, serving as spaces for artistic and social experimentation. Students are not limited to displaying works but also practice the roles of exhibition managers, curators, and public agents who bridge works of art and the wider community. Examining art exhibitions from a management and curatorial aspect in gathering public participation. The method uses a qualitative-descriptive approach through exhibition observation, interviews with student managers and supervisors, and analysis of exhibition documentation, highlighting exhibition governance practices as curatorial and managerial learning in higher education. The results of the exhibition governance research: (1) student managerial planning and operations; (2) curatorial, starting from the selection of works, curating space to communication; and (3) public involvement through visiting activities, work discussions, and campus social media. However, there are challenges such as budget, lack of specialized human resources, and the quality of public participation. The research discussion is about recommendations for a more systematic exhibition governance model, collaboration between campus stakeholders and the community, and strengthening communication and evaluation aspects for visitors. The conclusion is the governance of art exhibitions in the university environment as part of the arts education ecosystem and creative production practices. Practices are quite good in terms of management, curatorial, and public participation, with students as the primary actors. There are challenges such as limited resources, a lack of formal curatorial training, and suboptimal public participation.
PRODUKSI MUSIK DIY (DO-IT-YOURSELF) SECARA DARING DENGAN INSPIRASI BUNYI LOKAL Septian Okky Pradana; Azfar, Adimas Akma Danish; Bonggan Aditya; Favian Hassan Mulyatama; Muhammad Syafi'; Hartono; Restu Lanjari
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.48241

Abstract

Advances in digital technology have brought new developments in the practice of Do-It-Yourself (DIY) music production, enabling independent musicians to independently create, record, process, and distribute their work through online media. This paper examines DIY music production, utilizing local sounds as a source of creative inspiration, connecting modern technology with cultural identity. A variety of local sounds, such as traditional instruments, environmental sounds, and everyday atmospheres, are processed through sampling, field recording, audio editing, and sound design techniques to produce distinctive musical colors. DIY music production practices not only reflect artistic independence but also serve as a medium for cultural revitalization through the combination of traditional and electronic elements in hybrid compositions. On the other hand, the presence of digital platforms opens up broader opportunities for the distribution of works, online collaboration, and the strengthening of independent music community networks. However, this practice still faces various challenges, such as technical limitations, issues of cultural ethics, and the potential commodification of tradition. Therefore, a critical approach and respect for cultural values ​​are needed so that DIY music production based on local sounds can become a space for artistic innovation and an effort to preserve culture in the digital era.