Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

GAMBARAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DALAM MENCEGAH KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA DI POLIKLINIK JIWA RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SAMBANG LIHUM BANJARMASIN saputra, mharis; marwansyah, marwansyah; rachmadi, Agus
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.361 KB)

Abstract

Di zaman era globalisasi ini banyak sekali masyarakat yang mengalami gangguan jiwa dan biasanya pasien yang telah mengalami gangguan jiwa sering mengalami kekambuhan. Dukungan sosial yang diberikan keluarga terhadap penderita skizofrenia menjadi hal penting dalam proses penyembuhan penderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dukungan sosial keluarga dalam mencegah kekambuhan pasien skizofrenia di poliklinik jiwa rumah sakit jiwa daerah Sambang Lihum Banjarmasin.Penelitian ini menggunakanmetode deskriptif dengan pendekatan cross sectional, menggunakan teknik pengambilan sample Purposive Samplingdengan metode analisa data rata-rata pada setiap dukungan keluarga, variabel pada penelitian ini adalah variabel mandiri yaitu dukungan sosial keluarga dan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dari Deni Suwardiman yang merupakan hasil pengembangan dari teori Friedman, kepada 110 orang dari keluarga penderita skizofrenia.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan dukungan social keluarga pada pasien skizofrenia masuk dalam kategori cukup yaitu sebanyak 52 responden (47,2%). Hal ini berarti belum maksimalnya pemberian dukungan sosial dalam perawatan penderita skizofrenia meliputi dukungan emosional 42,7%, dukungan informasi 39,1%, dukungan instrumental 49,1%, dukungan penilaian 61,8% dan 44,6% responden memberikan dukungan sosial dalam perawatan penderita skizofrenia dengan baik.Hal ini menunjukan bahwa umumnya dukungan sosial keluarga yang diberikan keluarga pasien skizofrenia adalah cukup, hasil tersebut menunjukkan belum maksimalnya fungsi keluarga klien skizofrenia terutama fungsi afektif sebagai fungsi internal keluarga untuk memenuhi kebutuhan fisikososial anggota keluarga. Rekomendasi hasil penelitian kepada rumah sakit dan tenaga perawat agar meningkatkan lagi pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada keluarga
PELAKSANAAN TUGAS KESEHATAN KELUARGA DALAM PERAWATAN DAN PENGOBATAN TB PARU PADA PENDERITA TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI BESAR BANJARBARU Marwansyah, Marwansyah
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 4, No 1 (2016): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.182 KB)

Abstract

ABSTRAK Peneliti :Marwansyah, Yeni Mulyani, Khairir RizaniJurusan Keperawatan Poltekkes Banjarmasin Penyembuhan  TB paru membutuhkan waktu yang cukup lama, oleh karena itu peran keluarga dalam perawatan penderita sangat penting. Permasalahan kesehatan maupun keperawatan yang dialami oleh keluarga  dapat teratasi jika keluarga mempunyai kemampuan dalam melaksanakan ke lima tugas kesehatan keluarga. Penelitian ini bertujuan mengetahui pelaksanaan tugas kesehatan  keluarga dalam perawatan dan pengobatan TB paru terhadap penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Sungai Besar.Penelitian  merupakan penelitian deskriptif , dengan rancangan Crossectional. Penelitian dilaksanakan pada wilayah kerja Puskesmas Sungai Besar Banjarbaru. Waktu pelaksanaan penelitian mulai penyusunan proposal sampai penyajian laporan penelitian selama 8 bulan (bulan Januari s.d Juli 2015). Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang mempunyai penderita TB paru, terdaftar dan sedang menjalani program pengobatan pada periode bulan Januari  sampai dengan Desember 2014 yang berada di wilayah kerja Puskesmas Sungai Besar Banjarbaru berjumlah 41 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah semua keluarga yang mempunyai anggota keluarga menderita TB paru yang sedang menjalani pengobatan pada bulan Januari s.d Desember 2014. Teknik sampling menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dengan variabel penelitian Pelaksanaan tugas kesehatan keluarga. Data kemudian dianalisis secara deskriptif  dan disajikan berupa tabel  distribusi frekuensi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran tugas keluarga dalam mengenal masalah kesehatan sebagaian besar dalam katagori cukup  63,4%, mengambil keputusan untuk tindakan yang tepat  sebagian besar dalam katagori cukup 63,4%, memberi perawatan kepada anggota yang sakit katagori tinggi 85,4%, mempertahankan lingkungan fisik rumah yang menunjang kesehatan katagori tinggi 68,3% dan menggunakan fasilitas kesehatan katagori tinggi 97,6 %.Puskesmas sebagai pelaksana pelayanan primer hendaknya lebih mengoptimalkan upaya pemberdayaan keluarga dalam melaksanakan lima tugas kesehatan keluarga khususnya pada aspek kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan TB Paru dan perawatannya.
KARAKTERISTIK MAHASISWA, PERAN PEMBIMBING AKADEMIK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DI POLTEKKES KEMENKES BANJARMASIN TAHUN AJARAN 2013/2014 Mulyani, Yeni; Ilmi, Bahrul; Marwansyah, Marwansyah
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 2, No 2 (2014): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.549 KB)

Abstract

Penurunan Motivasi belajar  mahasiswa berdampak rendahnya pencapaian prestasi belajar sampai akhirnya mahasiswa mengundurkan diri bahkan drop out akibat terlampauinya batas waktu studi,  karena itu motivasi belajar perlu dijaga dan ditingkatkan secara kontinyu. Sehingga dibutuhkan peran Pembimbing Akademik (PA), karena PA mendapat kewenangan memantau perkembangan akademik dan perilaku mahasiswa yang dibimbingnya. Tujuan penelitian ingin mengetahui karakteristik mahasiswa, dan hubungan peran PA dengan motivasi belajar di Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Tahun Ajaran 2013/2014.Desain korelasional menggunakan metode inferensial dengan pendekatan  Cross Sectional.  Populasi 1.362 mahasiswa  pada 6 jurusan, 12 program studi. besar sampel 310 mahasiswa, teknik sampling Stratified Random Sampling. Variabel penelitian  dependen peran pembimbing akademik dan variabel independen yaitu motivasi belajar. Data dianalisis dengan uji Chi Square.Hasil penelitian Peran PA kategori baik 84,19%, motivasi belajar mahasiswa sebesar 99% kategori tinggi. Hasil uji statistic nilai p (0,242) lebih besar dari α  (0,05) berarti tidak ada hubungan  peran PA dengan Motivasi Belajar Mahasiswa di Poltekkes  Kemenkes Banjarmasin. Disarankan: Institusi membuat Pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan PA, serta meningkatkan ketersediaan fasilitas kegiatan kemahasiswaan antara lain kegiatan ekstrakurikuler, dan untuk Pembimbing Akademik agar membuat agenda kegiatan bimbingan minimal tiga kali dalam satu semester serta mengidentifikasi secara dini masalah serta potensi mahasiswa yang dibimbingnya. Kata Kunci :  Peran, motivasi belajar,  pembimbing akademik, mahasiswa
GAMBARAN PERILAKU CARING DAN FAKTOR PERILAKU CARING PERAWAT TERHADAP PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RSUD BANJARBARU TAHUN 2016 jannah, fitriatul; Rizani, Akhmad; marwansyah, marwansyah
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.931 KB)

Abstract

Perilaku caring merupakan suatu sikap, rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain. Perilaku caring perawat dapat memberikan dampak bagi pasien maupun perawat. Kesembuhan pasien akan menjadi kepuasan tersendiri bagi perawat yang merawatnya. Namun, dalam melakukan perilaku caring perawat terhadap pasien, bisa saja terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya diantaranya ialah beban kerja, lingkungan kerja, pengetahuan dan pelatihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku caring dan faktor perilaku caring perawat terhadap pasien di ruang rawat inap RSUD Banjarbaru. Penelitian ini mengunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sampel yang digunakan pada penelitian ini ada dua yaitu, sampel pasien untuk pengukuran perilaku caring berjumlah 30 orang dan sampel perawat untuk pengukuran faktor perilaku caring berjumlah 63 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan perilaku caring perawat terhadap pasien di ruang rawat inap RSUD Banjarbaru terbanyak dengan kategori baik yaitu 21 responden (70 %). Beban kerja perawat di ruang rawat inap RSUD Banjarbaru terbanyak dengan kategori berat yaitu 55 responden (87,3 %). Lingkungan kerja perawat di ruang rawat inap RSUD Banjarbaru terbanyak dengan kategori kondusif yaitu 54 responden (85,7 %), dan pengetahuan perawat di ruang rawat inap RSUD Banjarbaru tentang caring terbanyak dengan kategori baik yaitu 57 responden (90,5 %). Diharapkan perawat dapat mempertahankan perilaku caring yang dinilai pasien dengan tetap mempertahankan atau menyempatkan diri tetap kontak langsung kepada pasien dalam setiap melakukan asuhan keperawatan, walaupun dengan beban kerja yang berat.
Analisis Kejenuhan Kerja Perawat High Care Unit (HCU) Marwansyah Marwansyah; Adi Isworo; Wahyudi Wahyudi
JURNAL KEPERAWATAN MERSI Vol 10, No 2: Oktober 2021
Publisher : Prodi Keperawatan Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jkm.v10i2.8146

Abstract

Background: Burnout experienced by many social workers, especially nurses. Nurses in the HCU have patients with critical conditions and are fully dependent. This may impact on the decrease in the quality of care by nurse HCU. This study aims to determine the factors associated with burnout in HCU nurses. These factors include internal factors (age, gender, length of service, marital status, education level and personality factors) and external factors (management factors, professional factors and social factors).Method: This research uses analytical research design with a Cross Sectional approach. The sample of this research is all nurse HCU had 80 respondents. Data collection was conducted on 17 June to 30 July 2017 using Maslach Burnout Inventory (MBI), Work Locus of Control (WLCS) and for eksternal factor questionnaire research instrument. Data analysis was univariate analysis, bivariate using chi square and multivariate.The results: showed most (53,8%) of HCU nurses had high burnout. There is a significant relationship between personality factors, management factors and social factors premises burnout. there is no significant relationship between age factor, sex, work period, marital status, education level and professional factor.Conclusion: The dominant factor in this research is social factors where HCU nurses with social factor problems are more likely to experience high burnout. Hospital management provides efforts to provide personal counseling and peer sharing activities, provide socialization about nurse’s legal protection  at work and rewarding nurses.
Perubahan Kadar Saturasi Oksigen pada Pasien Dewasa yang Dilakukan Tindakan Suction Endotrakeal Tube di Ruang ICU RSUD Ulin Banjarmasin Hammad Hammad; M. Ichwan Rijani; Marwansyah Marwansyah
Bima Nursing Journal Vol 1, No 2 (2020): Mei
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.744 KB) | DOI: 10.32807/bnj.v1i2.466

Abstract

Handling for airway obstruction due to excessive accumulation of secretions can be done with suction, suction is done by inserting suction catheter tube into endotracheal tube or tracheostomy which aims to liberate airway. Endotracheal suction in critically ill patients can cause increased intracranial pressure, brain swelling and systemic hypoxemia may even lead to death. The easiest way to find out hypoxemia is by looking at the patient's oxygen saturation of peripheral oxygen saturation is a presentation of hemoglobin binds with oxygen in the arteries with normal values between 95-100%.This research aims to analyze changes in oxygen saturation levels of patients before, during and after the suction endotracheal tube performed in Intensive Care Unit Ulin Banjarmasin Hospital. This research method is quantitative with comparative design. The population in this research are all patients who had endotracheal tube and suction was done, the sample in the research are 25 respondents with Probability sampling technique, analyzed by paired T test.The results of this research at the time of 1 "-3" average oxygen saturation change of 0-1%, while 4"- 6" on average by 2-3% and at 7 "-10" on average by 2-5% . Paired T-test results showed there was a change in oxygen saturation level in adult patients performed endotracheal tube suction in Intensive Care Unit Ulin Banjarmasin Hospital.
Pengaruh Pengaruh Pemberian Cairan Hangat Peroral Sebelum Latihan Batuk Efektif Dalam Upaya Pengeluaran Sputum Pasien COPD Marwansyah Marwansyah Marwansyah
JURNAL KEPERAWATAN SUAKA INSAN (JKSI) Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI)
Publisher : STIKES Suaka Insan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51143/jksi.v4i2.175

Abstract

Latar Belakang : Beberapa pasien sering mengalami kesulitan dalam mengeluarkan sputum walaupun sudah dilakukan latihan batuk efektif karena sputum yang berada pada jalan napas lengket dan kental sehingga menyebabkan pasien terstimulasi untuk terus batuk. Tujuan penelitian ingin mengetahui pengaruh pemberian cairan hangat peroral sebelum latihan batuk efektif dalam upaya kemampuan pengeluaran sputum pasien COPD di rumah sakit. Metode penelitian : Jenis penelitian Quasi eksperimen, rancangan One Group Pra-Post Test Design. Menggunakan teknik Accidental sampling. Data dianalisis dengan uji Paire t-test. Hasil : Rata-rata volume sputum yang dikeluarkan sebelum pemberian cairan hangat peroral pada pasien COPD adalah 1,81 ml, rata-rata volume sputum yang dikeluarkan sesudah pemberian cairan hangat peroral pada pasien COPD adalah 2,32 ml, hasil uji statistik Pair t test menunjukkan nilai signifikan 0,009 (p<0,05), terdapat perbedaan volume sputum yang bermakna antara sebelum pemberian cairan hangat peroral dengan sesudah pemberian cairan hangat peroral pasien COPD. Kesimpulan: Pemberian cairan hangat peroral sebelum latihan batuk efektif dapat membantu meningkatkan sekresi sputum sehingga penelitian ini dapat menjadi bahan acuan untuk sumber informasi, alternatif terapi nonfarmakologis yang mudah dan ekonomis untuk kelancaran jalan nafas serta mencegah akumulasi sekret berlebih pada pasien COPD.
KORELASI PERILAKU MEROKOK DENGAN DERAJAT HIPERTENSI PADA PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN BANJARBARU Yeni Mulyani; Zaenal Arifin; Marwansyah Marwansyah
Jurnal Skala Kesehatan Vol 5 No 2 (2014): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.862 KB) | DOI: 10.31964/jsk.v5i2.21

Abstract

Penyakit degeneratif yang paling banyak menimbulkan kematian adalah penyakit kardiovaskuler menduduki urutan pertama penyebab kematian di Indonesia. Hampir 25% dari seluruh kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit ini. Hipertensi merupakan faktor risiko utama kematian karena gangguan kardiovaskuler terdapat pada 14% penduduk Indonesia. Banyak faktor risiko yang menimbulkan hipertensi diantaranya kebiasaan atau gaya hidup seperti merokok, minum alkohol, makanan berlemak. Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ingin mengetahui korelasi antara  perilaku merokok dengan derajat hipertensi pada penderita Hipertensi di Puskesmas Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Banjarbaru.Penelitian  merupakan penelitian korelasional, dengan rancangan Crossectional .Variabel penelitian ini adalah perilaku merokok dan derajat Hipertensi. Subjek penelitian penderita hipertensi yang berobat di Puskesmas wilayah kerja Dinkes Banjarbaru yang memenuhi kriteria yaitu terdiagnosis Hipertensi setelah dilakukan pengukuran tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau  diastolic ≥90 mmHg, berusia di atas 21-50 tahun. Sampling menggunakan teknik aksidental sampling. Pengumpulan data  untuk mengukur perilaku merokok   menggunakan Kuesioner sedangkan derajat hipertensi dilakukan  melalui pengukuran biofisiologis. Data dianalisis secara deskriptif analitik. Data univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi sedangkan  data bivariat menggunakan uji Chi SquareHasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku merokok pada penderita Hipertensi di Puskesmas wilayah kerja Dinkes Banjarbaru menunjukkan bahwa sebagian besar dalam kategori tidak merokok 62,35% dengan derajat hipertensi sebagian besar dalam kategori sedang (Tekanan Darah antara 160-179 untuk Sistole dan  100-109 untuk Diastole) yaitu 47,06%. Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan antara perilaku merokok dengan peningkatan derajat hipertensi.Diperlukan sosialisasi tentang gejala, faktor resiko, pengobatan hipertensi  dan pencegahan komplikasi melalui media cetak maupun elektronik kepada masyarakat khususnya di wilayah kerja Dinkes Banjarbaru.Kata Kunci: Perilaku Merokok, Derajat Hipertensi 
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN HIPERTENSI DENGAN KOMPLIKASI DAN NON KOMPLIKASI DI RUANG POLI KLINIK RSUD BANJARBARU Hairul rizal; Akhmad Rizani; Marwansyah marwansyah
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 6 No 1 (2018): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.97 KB) | DOI: 10.31964/jck.v6i1.106

Abstract

Kecemasan adalah suatu keadaan aprehensip atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa suatu yang buruk akan segera terjadi. Hipertensi adalah desakan darah terhadap dinding-dinding arteri ketika darah tersebut dipompa dari jantung ke jaringan, pada pasien hipertensi telah merasakan beberapa perubahan fisik seperti jantung berdebar-debar, kekakuan dan sesak nafas tentu akan merasa cemas dengan perubahan yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien hipertensi dengan komplikasi dan non komplikasi di ruang poli klinik RSUD Banjarbaru. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan cross-sectional, sampel di ambil dengan teknik accidental sampling dengan jumlah 30 responden selama 2 minggu. Hasil penelitian menunjukan banyak pasien hipertensi yang mengalami kecemasan. Dari 30 responden, 12 (40%) responden dengan komplikasi selurunya mengalami kecemasan berat. 18 (60%) responden dengan non komplikasi, 10 (33,3%) responden mengalami kecemasan berat, 2 (6,7%) responden mengalami kecemasan sedang, 2 (6,7%) responden mengalami kecemasan ringan dan 4 (13,3%) responden tidak mengalami kecemasan. Diperlukan pelayanan kesehatan untuk menekan kejadian hipertensi melalui usaha pencegahan faktor-faktor yang dapat menyebabkan hipertensi.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Salam (Syzygium Polyanthum) Terhadap Penyembuhan Luka Insisi Pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus Strain Wistar) Marwansyah marwansyah; Ainun Sajidah
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 8 No 1 (2020): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.946 KB) | DOI: 10.31964/jck.v8i1.135

Abstract

Latar belakang : Daun salam bisa dimanfaatkan untuk pengobatan luka dengan menempelkannya ditempat luka. Salah satu kandungan dari daun salam adalah sebagai anti bakteri yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri sehingga dapat menyembuhkan penyakit infeksi dan mencegah adanya peradangan. Tujuan penelitian untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Daun Salam (Syzygium polyanthum) terhadap penyembuhan Luka Sayat pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus Strain Wistar). Metoda : Jenis penelitian True eksperimental dengan Postest Only Control Group Design, menggunakan hewan coba tikus putih (Rattus norvegicus strain wistar), teknik sampling dengan simple random sampling, terdiri 4 kelompok yaitu 2 kelompok dengan perlakuan pemberian ekstrak daun salam masing-masing 15% dan 30%, 1 kelompok kontrol positif dengan pemberian cairan iodine povidone dan 1 kelompok kontrol negatif tanpa diberikan bahan apapun. Data dianalisa menggunakan analisis deskriptif, uji normalitas data dengan Shapiro Wilk, Uji komparasi Kruskall Wallis Test. Hasil : Kelompok perlakuan dengan Ekstrak Daun Salam 15% rata-rata lama penyembuhan yaitu 8,8 hari. Ekstrak Daun Salam 30% rata-rata 11 hari dan povidon iodine 10% rata-rata 9,2 hari sedangkan untuk kontrol rata-rata 15,6 hari. Hasil uji Kruskall-Wallis menunjukkan nilai Asymp. Sig < 0,05 menunjukkan ada perbedaan pemberian ekstrak daun salam dengan lama penyembuhan luka insisi. Kesimpulan : Dosis penggunaan yang memberikan efek terbaik untuk mempercepat proses penyembuhan luka insisi adalah ekstrak daun salam dengan konsentrasi 15%. Diperlukan uji toksisitas, untuk mengetahui efek bahan yang terdapat di dalam ekstrak daun salam (Syzygium Polyanthum). Masyarakat sebaiknya menggunakan ekstrak daun salam (Syzygium Polyanthum) sebagai alternatif untuk bahan penyembuhan luka bersih